Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior Dimana Ini dan Itu Diharamkan namun Ideologi KORUP justru DIhalalkan
Dosa-Dosa pun Dikorupsi, Ideologi KORUP Bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN
/ PENEBUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA”
Question: Mengapa di Buddhis, aturan larangan bagi umatnya longgar sekali, hanya ada lima buah larangan (pancasila)?
Brief
Answer: Tidak ada “larangan”
dalam Buddhisme, yang ada ialah “aku bertekad untuk berlatih menghindari
pembunuhan, mengambil barang yang tidak diberikan, berkata bohong, aktivitas
seksuil yang keliru, mengonsumsi barang madat yang dapat melemahkan kesadaran. Namun
umat awam juga dapat memilih untuk mengambil delapan sila, sepuluh sila, atau
memilih untuk menundukkan diri dalam aturan monastik-kebikkhuan yang terdiri dari
ratusan sila.
Sebaliknya,
dalam agama samawi dimana “ini dan itu dilarang”, “ini dan itu disebut haram”, “ini
dan itu disebut larangan”—seolah-olah sebagai kaum paling superior—akan tetapi kemudian
dinegasikan lewat dogma “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” dimana dosa-dosa
pun dikorupsi sehingga menjelma “KORUPTOR DOSA”. Berbuat dosa adalah satu
kesalahan, namun disikapi dengan membuat kekeliruan yang lebih fatal sifatnya sebagai
reaksinya, dimana hanya seorang pengecut yang butuh iming-iming KORUP semacam “abolition
of sins” alih-alih berani mengambil tanggung-jawab (lawan kata dari “PENGHAPUSAN
DOSA”), menjadikan umat agama samawi sebagai kasta paling rendah, hina,
dangkal, serta tercela, yakni kasta “PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—sejatinya
hanyalah kaum pengecut dan pecundang kehidupan.
PEMBAHASAN:
Bila memang agama samawi se-superior itu, mengapa puluhan nabinya gagal
total memusnahkan satu buah pun maksiat paling primitif yang telah dikenal
dalam sejarah peradaban umat manusia purbakala sejak era zaman batu seperti
mencuri, berkata dusta, memerkosa, berzina, meminum alkohol, membunuh, merampok,
dan lain sebagainya? Agama samawi justru memelihara dan melestarikan dosa dan
maksiat-maksiat demikian, semata agar umatnya dapat mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN
/ PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”—antara “MEMBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan
“PENGAMPUNAN DOSA” saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling
komplomenter tanpa dapat dipisahkan.
Yang ditekankan atau mendapat bobot dalam latihan Buddhistik, ialah kebebasan
pikiran serta kebebasan melalui kebijaksanaan, sebagaimana khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
75 (5) Migasālā
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta,
Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, pada suatu pagi, Yang Mulia Ānanda
merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan pergi ke rumah umat awam
perempuan bernama Migasālā, di mana ia duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuknya.
Kemudian umat awam Migasālā mendatangi Yang Mulia Ānanda, bersujud kepadanya,
duduk di satu sisi, dan berkata:
“Bhante Ānanda, bagaimanakah ajaran [138] Sang Bhagavā ini seharusnya
dipahami, di mana seorang yang hidup selibat dan seorang yang tidak hidup
selibat keduanya memiliki alam tujuan kelahiran yang persis sama dalam
kehidupan mereka berikutnya? Ayahku Purāṇa menjalani hidup selibat, hidup terpisah,
menghindari hubungan seksual, praktik orang-orang biasa. Ketika ia meninggal dunia,
Sang Bhagavā menyatakan: ‘Ia mencapai tingkat yang-kembali-sekali dan telah
terlahir kembali di kelompok [para deva] Tusita.’ Pamanku dari pihak ayah
bernama Isidatta tidak hidup selibat melainkan hidup menikah yang memuaskan.
Ketika ia meninggal dunia, Sang Bhagavā juga menyatakan: ‘Ia mencapai tingkat
yang-kembali-sekali dan telah terlahir kembali di kelompok [para deva] Tusita.’
Bhante Ānanda, bagaimanakah ajaran Sang Bhagavā ini seharusnya dipahami, di
mana seorang yang hidup selibat dan seorang yang tidak hidup selibat keduanya
memiliki alam tujuan kelahiran yang persis sama dalam kehidupan mereka berikutnya?”
“Persis seperti demikianlah, saudari, Sang Bhagavā menyatakannya.”
Kemudian, ketika Yang Mulia Ānanda telah menerima dana makanan di rumah
Migasālā, ia bangkit dari duduknya dan pergi. Setelah makan, ketika kembali
dari perjalanan menerima dana makanan, ia mendatangi Sang Bhagavā, bersujud
kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata: “Di sini, Bhante, di pagi hari,
aku merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahku, dan pergi ke rumah umat awam
perempuan Migasālā … [139] [seluruhnya seperti di atas, hingga] … Ketika ia
menanyakan hal ini kepadaku, aku menjawab: ‘Persis demikianlah, Saudari, Sang
Bhagavā menyatakannya.’”
[Sang Bhagavā berkata:] “Siapakah sesungguhnya umat awam perempuan
Migasālā ini, seorang perempuan yang dungu dan tidak kompeten dengan kecerdasan
seorang perempuan? Dan siapakah mereka [yang memiliki] pengetahuan tentang
orang-orang lain sebagai tinggi dan rendah?
“Ada, Ānanda, sepuluh jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah sepuluh
ini?
(1) “Di sini, Ānanda, ada seorang yang tidak bermoral dan ia tidak
memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui
kebijaksanaan, di mana ketidak-bermoralannya lenyap tanpa sisa. Dan ia tidak
mendengarkan [ajaran-ajaran], tidak menjadi terpelajar [di dalam ajaran-ajaran
itu], tidak menembus [ajaran-ajaran itu] melalui pandangan, dan ia tidak mencapai
kebebasan sementara. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah
menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran; ia adalah seorang yang pergi menuju
kemerosotan, bukan menuju keluhuran.
[Kitab Komentar : Dussīlyaṃ aparisesaṃ nirujjhati. Di sini, kelima jenis ketidak-bermoralan ditinggalkan melalui jalan
memasuki-arus; sepuluh [jalan kamma tidak bermanfaat], ditinggalkan melalui
jalan Kearahattaan. Pada momen buah semua itu dikatakan telah ditinggalkan. Nirujjhati
pada teks ini merujuk pada momen buah.
Seorang kaum duniawi melanggar perilaku bermoral
dalam lima cara: dengan melakukan pelanggaran pārājika, dengan
meninggalkan latihan, bergabung dengan sekte lain, mencapai Kearahattaan, dan
kematian. Tiga pertama mengarah pada mundurnya pengembangan, yang ke empat mengarah
pada kemajuannya, dan ke lima tidak mengarah pada kemunduran maupun kemajuan.
Tetapi bagaimanakah perilaku bermoral dilanggar
dengan mencapai Kearahattaan? Karena seorang kaum duniawi dapat memiliki
perilaku bermoral bermanfaat yang luar biasa, tetapi jalan menuju Kearahattaan
mengarah pada hancurnya kamma bermanfaat dan tidak bermanfaat; dengan demikian dihancurkan
dengan cara itu.
Hal ini, harus disebutkan, dijelaskan dari sudut
pandang Abhidhamma, yang menjelaskan perbuatan-perbuatan seorang Arahant,
karena hanya sebagai aktivitas (kiriya) tanpa akibat kamma, tidak
dikelompokkan sebagai apakah bermanfaat atau tidak bermanfaat. Akan tetapi,
dalam bahasa sutta, hal ini dijelaskan sebagai luar biasa bermanfaat.]
(2) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang tidak bermoral namun ia
memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan,
[140] di mana ketidak-bermoralannya lenyap tanpa sisa. Dan ia telah
mendengarkan [ajaran-ajaran], menjadi terpelajar [di dalam ajaran-ajaran itu], menembus
[ajaran-ajaran itu] melalui pandangan, dan ia mencapai kebebasan sementara. Dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan; ia adalah seorang yang pergi menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan.
“Ānanda, mereka yang bersikap
menghakimi akan
memberikan penilaian demikian tentang orang-orang lain: ‘Orang ini memiliki kualitas
yang sama dengan yang lainnya. Mengapakah yang satu menjadi lebih rendah dan
yang lain lebih tinggi?’ [Penilaian] mereka yang demikian sesungguhnya akan
mengarah pada bahaya dan penderitaan mereka untuk waktu yang lama.
“Di antara mereka, Ānanda, seorang yang tidak bermoral, dan yang memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
ketidak-bermoralannya lenyap tanpa sisa; yang telah mendengarkan
[ajaran-ajaran], menjadi terpelajar [di dalam ajaran-ajaran itu], menembus
[ajaran-ajaran itu] melalui pandangan, dan yang mencapai kebebasan sementara,
adalah melampaui dan mengungguli orang lainnya. Karena alasan apakah?
Karena arus-Dhamma membawanya serta. Tetapi siapakah yang dapat mengetahui
perbedaan ini selain Sang Tathāgata?
“Oleh karena itu, Ānanda, jangan
bersikap menghakimi sehubungan dengan orang-orang. Jangan memberikan penilaian atas orang-orang.
Mereka yang memberikan penilaian atas orang-orang telah membahayakan diri
mereka sendiri. Aku sendiri, atau seorang yang sepertiKu, yang boleh memberikan
penilaian atas orang-orang. [141]
(3) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang bermoral namun ia tidak memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
perilaku-bermoralnya lenyap tanpa sisa. Dan ia tidak mendengarkan
[ajaran-ajaran] … ia tidak mencapai kebebasan sementara. Dengan hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran;
ia adalah seorang yang pergi menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran.
(4) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang bermoral dan ia memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
perilaku-bermoralnya lenyap tanpa sisa. Dan ia telah mendengarkan
[ajaran-ajaran] … dan ia mencapai kebebasan sementara. Dengan hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju keluhuran, bukan menuju kemerosotan;
ia adalah seorang yang pergi menuju keluhuran, bukan menuju kemerosotan.
“Ānanda, mereka yang bersikap menghakimi akan memberikan penilaian
demikian tentang orang-orang lain … Aku sendiri, atau seorang yang sepertiKu,
yang boleh memberikan penilaian atas orang-orang.
(5) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang sangat rentan pada nafsu
dan ia tidak memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui
kebijaksanaan, di mana nafsunya lenyap tanpa sisa. Dan ia tidak mendengarkan
[ajaran-ajaran] … ia tidak mencapai kebebasan sementara. Dengan hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran;
ia adalah seorang yang pergi menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran.
(6) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang sangat rentan pada nafsu namun
ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui
kebijaksanaan, di mana nafsunya lenyap tanpa sisa. Dan ia mendengarkan
[ajaran-ajaran] … dan ia mencapai kebebasan sementara. [142] Dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan; ia adalah seorang yang pergi menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan.
“Ānanda, mereka yang bersikap menghakimi akan memberikan penilaian
demikian tentang orang-orang lain … Aku sendiri, atau seorang yang sepertiKu,
yang boleh memberikan penilaian atas orang-orang.
(7) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang sangat rentan pada kemarahan
dan ia tidak memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui
kebijaksanaan, di mana kemarahannya lenyap tanpa sisa. Dan ia tidak
mendengarkan [ajaran-ajaran] … ia tidak mencapai kebebasan sementara. Dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju kemerosotan, bukan
menuju keluhuran; ia adalah seorang yang pergi menuju kemerosotan, bukan menuju
keluhuran.
(8) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang sangat rentan pada kemarahan namun
ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui
kebijaksanaan, di mana kemarahannya lenyap tanpa sisa. Dan ia telah
mendengarkan [ajaran-ajaran] … ia mencapai kebebasan sementara. Dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan; ia adalah seorang yang pergi menuju keluhuran, bukan menuju
kemerosotan.
“Ānanda, mereka yang bersikap menghakimi akan memberikan penilaian
demikian tentang orang-orang lain … Aku sendiri, atau seorang yang sepertiKu,
yang boleh memberikan penilaian atas orang-orang.
(9) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang gelisah dan ia tidak memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
kegelisahannya lenyap tanpa sisa. Dan ia tidak mendengarkan [ajaran-ajaran] …
ia tidak mencapai kebebasan sementara. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia mengarah menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran; ia adalah seorang yang
pergi menuju kemerosotan, bukan menuju keluhuran.
(10) “Kemudian, Ānanda, ada seorang yang gelisah namun ia memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
kegelisahannya lenyap tanpa sisa. Dan ia telah mendengarkan
[ajaran-ajaran], menjadi terpelajar [di dalam ajaran-ajaran itu], menembus
[ajaran-ajaran itu] melalui pandangan, [143] dan ia mencapai kebebasan
sementara. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mengarah menuju keluhuran,
bukan menuju kemerosotan; ia adalah seorang yang pergi menuju keluhuran, bukan
menuju kemerosotan.
“Ānanda, mereka yang bersikap menghakimi akan memberikan penilaian
demikian tentang orang-orang lain: ‘Orang ini memiliki kualitas yang sama
dengan yang lainnya. Mengapakah yang satu menjadi lebih rendah dan yang lain
lebih tinggi?’ [Penilaian] mereka yang demikian sesungguhnya akan mengarah pada
bahaya dan penderitaan mereka untuk waktu yang lama.
“Di antara mereka, Ānanda, seorang yang gelisah, dan yang memahami
sebagaimana adanya kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan, di mana
kegelisahannya lenyap tanpa sisa; yang telah mendengarkan [ajaran-ajaran],
menjadi terpelajar [di dalam ajaran-ajaran itu], menembus [ajaran-ajaran itu]
melalui pandangan, dan yang mencapai kebebasan sementara, adalah melampaui dan
mengungguli orang lainnya. Karena alasan apakah? Karena arus-Dhamma membawanya
serta. Tetapi siapakah yang dapat mengetahui perbedaan ini selain Sang
Tathāgata?
“Oleh karena itu, Ānanda, jangan bersikap menghakimi sehubungan dengan
orang-orang. Jangan memberikan penilaian atas orang-orang. Mereka yang
memberikan penilaian atas orang-orang telah membahayakan diri mereka sendiri.
Aku sendiri, atau seorang yang sepertiKu, yang boleh memberikan penilaian atas orang-orang.
“Siapakah sesungguhnya umat awam perempuan Migasālā ini, seorang
perempuan yang dungu dan tidak kompeten dengan kecerdasan seorang perempuan?
Dan siapakah mereka [yang memiliki] pengetahuan tentang orang-orang lain
sebagai tinggi dan rendah?
“Ini adalah kesepuluh jenis orang itu yang terdapat di dunia.
“Ānanda, jika Isidatta memiliki perilaku bermoral yang sama dengan yang
dimiliki oleh Purāṇa, maka Purāṇa bahkan tidak dapat mengetahui alam tujuan
kelahiran Isidatta. [144] Dan jika Purāṇa memiliki kebijaksanaan yang sama dengan yang
dimiliki oleh Isidatta, maka Isidatta bahkan tidak dapat mengetahui alam tujuan
kelahiran Purāṇa. demikianlah, Ānanda, kedua orang ini masing-masing
kurang dalam satu aspek.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]