Terhindari dari Perbuatan ataupun Tidak Berbuat yang Akan Kita Sesali Sendiri di Kemudian Hari, Itulah Pertolongan Dhamma dan Manfaat Berlindung kepada Dhamma
Question : Orang muslim sering bilang, “Hanya kepadanya-lah, Allah, kami meminta pertolongan.” Bukankah itu konyol, mengingat para muslim yang mengadu atau melapor kepada Allah karena dijadikan korban kejahatan, semisal disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim lainnya, lantas pelakunya dimasukkan ke surga oleh Allah, alih-alih dilempar ke neraka, semata karena sang pelaku kejahatan dihapus dosa-dosanya oleh Allah karena rajin solat, dosa setahun dihapuskan karena puasa ramadhan meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan disamping ajang minta dihormati, juga dosa-dosa sebelumnya dihapus setelah umroh atau haji ke Mekkah di Arab Saudi. Pertanyaannya, meminta pertolongan semacam apakah, yang dimaksudkan oleh para muslim tersebut, pertolongan bagi korban kejahatan ataukah justru pertolongan bagi penjahat-pendosa pelaku kejahatan?
Brief
Answer : Pertolongan dan perlindungan
paling utama dalam Buddhisme, ialah ajaran Sang Buddha, yakni Dhamma, dengan cara
mempraktekkannya, yaitu tidak melakukan kejahatan dan senantiasa melakukan
kebajikan agar kita terlindungi oleh perbuatan kita sendiri. Dengan demikian, perlindungan
dalam Buddhisme sifatnya ialah internal-diri. Sebaliknya, perlindungan dalam
agama samawi, mengandalkan sosok diluar diri mereka, yakni faktor
eksternal-diri. Banyak umat muslim yang mengklaim bahwa zikir adalah “meditasinya
islam”. Untuk itu, Sang Buddha pernah bersabda:
“Sang
Bhagavā, Brahmana, tidak memuji segala jenis meditasi, juga tidak mencela
segala jenis meditasi. Jenis meditasi apakah yang tidak dipuji oleh Sang
Bhagavā? Di sini, Brahmana, seseorang berdiam dengan pikirannya dikuasai oleh
nafsu indria, mangsa bagi nafsu indria, dan ia tidak memahami sebagaimana
adanya jalan membebaskan diri dari nafsu indria yang telah muncul. Sementara ia
memendam nafsu indria dalam batinnya, ia bermeditasi, mengulangi meditasi,
melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru. Ia berdiam dengan pikirannya dikuasai oleh
permusuhan, mangsa bagi permusuhan … dengan pikirannya dikuasai oleh kelambanan
dan ketumpulan, mangsa bagi kelambanan dan ketumpulan … dengan pikirannya
dikuasai oleh kegelisahan dan penyesalan, mangsa bagi kegelisahan dan
penyesalan … dengan pikirannya dikuasai oleh keragu-raguan, mangsa bagi
keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri
dari keragu-raguan yang telah muncul. Sementara ia memendam keragu-raguan dalam
batinnya, ia bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan
bermeditasi secara keliru. Sang Bhagavā tidak memuji jenis meditasi ini.”
PEMBAHASAN:
Perihal
“Dhamma sebagai pelindung”, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
108
Gopakamoggallāna
Sutta : Kepada Gopaka Moggallāna
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai, tidak lama setelah Sang
Bhagavā mencapai Nibbāna akhir.
[Kitab Komentar : Setelah relik-relik Sang Buddha
dibagikan, Yang Mulia Ānanda datang ke Rājagaha untuk membacakan Dhamma (pada
Sidang Saṅgha pertama).]
2. Pada saat itu Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha membentengi
Rājagaha karena mencurigai Raja Pajjota.
[Kitab Komentar : Raja Pajjota adalah sahabat Raja
Bimbisāra dari Magadha, yang telah dibunuh oleh puteranya, Ajātasattu. Menurut Kitab
Komentar, Ajātasattu berpikir bahwa Raja Pajjota mungkin akan menuntut balas
atas pembunuhan sahabatnya.]
3. Kemudian, pada suatu pagi, Yang Mulia Ānanda merapikan jubah, dan
membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Rājagaha untuk menerima dana
makanan. Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir: “Masih terlalu pagi untuk
menerima dana makanan di Rājagaha. Bagaimana jika aku mendatangi Brahmana Gopaka
Moggallāna di tempat kerjanya.”
4. Maka Yang Mulia Ānanda mendatangi Brahmana Gopaka Moggallāna di tempat
kerjanya. Dari kejauhan Brahmana Gopaka Moggallāna melihat kedatangan Yang
Mulia Ānanda dan berkata kepadanya: “Silahkan Guru Ānanda datang! Selamat
datang Guru Ānanda! Sudah lama sejak Guru Ānanda berkesempatan untuk datang ke
sini. Silahkan Guru Ānanda duduk; tempat duduk telah tersedia.” Yang Mulia
Ānanda duduk di tempat yang telah dipersiapkan. [8] Brahmana Gopaka mengambil
bangku rendah, duduk di satu sisi, dan bertanya kepada Yang Mulia Ānanda:
5. “Guru Ānanda, adakah
satu saja bhikkhu yang memiliki semua kualitas yang dimiliki oleh Guru Gotama,
yang sempurna dan tercerahkan sempurna?”
“Tidak
ada satu bhikkhu pun, Brahmana, yang memiliki semua kualitas yang dimiliki oleh
Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Karena Sang Bhagavā
adalah pembangun jalan yang belum dibangun, pembuat jalan yang belum dibuat,
pengungkap jalan yang belum terungkapkan; Beliau adalah pengenal Sang Jalan,
penemu Sang Jalan, seorang yang terampil dalam Sang Jalan. Tetapi para siswaNya sekarang berdiam dengan
mengikuti jalan itu dan menjadi memilikinya setelah itu.”
6. Tetapi diskusi antara Yang Mulia Ānanda dan Brahmana Gopaka Moggallāna
terhenti; karena saat itu Brahmana Vassakāra, perdana menteri Magadha, sewaktu
mengawasi perkerjaan di Rājagaha, mendatangi Yang Mulia Ānanda di tempat kerja
Brahmana Gopaka Moggallāna. Ia bertukar sapa dengan Yang Mulia Ānanda, dan
ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Yang
Mulia Ānanda:
[Kitab Komentar : Tentang Brahmana Vassakāra,
perdana menteri Magadha, baca Dīgha Nikāya 16.1.2-5 / iii.72-76.]
“Untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini saat ini, Guru
Ānanda? Dan diskusi apakah yang terputus tadi?”
“Brahmana, Brahmana Gopaka Moggallāna bertanya kepadaku: ‘Guru Ānanda,
adakah satu saja bhikkhu yang memiliki semua kualitas yang dimiliki oleh Guru
Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna?’ Aku menjawab Brahmana Gopaka Moggallāna:
‘Tidak ada satu bhikkhu pun, Brahmana, yang memiliki semua kualitas yang
dimiliki oleh Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Karena Sang
Bhagavā adalah pembangun jalan yang belum dibangun [9] ... Tetapi para siswaNya
sekarang berdiam dengan mengikuti jalan itu dan menjadi memilikinya setelah
itu.’ Ini adalah diskusi kami yang terputus ketika engkau datang.”
7. “Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang ditunjuk oleh Guru Gotama
sebagai berikut: ‘Ia
akan menjadi perlindungan bagi kalian ketika Aku meninggal dunia,’ dan yang
kepadanya kalian memohon bantuan?”
“Tidak
ada seorang bhikkhu, Brahmana, yang ditunjuk oleh Sang Bhagavā yang mengetahui
dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, sebagai berikut: ‘Ia akan
menjadi perlindungan bagi kami ketika Sang Bhagavā meninggal dunia,’ dan yang
kepadanya kami memohon bantuan.”
8. “Tetapi, adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang telah dipilih oleh
Saṅgha dan ditunjuk oleh sejumlah bhikkhu senior sebagai berikut: ‘Ia akan menjadi
perlindungan bagi kami ketika Sang Bhagavā meninggal dunia,’ dan yang kepadanya
kalian memohon bantuan?”
“Tidak
ada seorang bhikkhu, Brahmana, yang telah dipilih oleh Saṅgha dan ditunjuk oleh
sejumlah bhikkhu senior sebagai berikut: ‘Ia akan menjadi perlindungan bagi
kami ketika Sang Bhagavā meninggal dunia,’ dan yang kepadanya kami memohon bantuan.”
9. “Tetapi jika engkau tidak memiliki perlindungan, Guru Ānanda,
apakah penyebab dari kerukunan kalian?”
“Kami
bukannya tanpa perlindungan, Brahmana. Kami memiliki perlindungan; kami
memiliki Dhamma sebagai perlindungan kami.”
10. “Tetapi ketika engkau ditanya: ‘Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu
yang ditunjuk oleh Guru Gotama sebagai berikut: “Ia akan menjadi perlindungan
bagi kalian ketika Aku meninggal dunia,” dan yang kepadanya kalian memohon bantuan?’
Engkau menjawab: ‘Tidak ada seorang bhikkhu … yang kepadanya kami memohon
bantuan.’ Ketika engkau ditanya: ‘Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang
telah dipilih oleh Saṅgha dan ditunjuk oleh sejumlah bhikkhu senior sebagai
berikut: “Ia akan menjadi perlindungan bagi kami ketika Sang Bhagavā meninggal
dunia,” dan yang kepadanya kalian memohon bantuan?’ Engkau menjawab: ‘Tidak ada
seorang bhikkhu, … [10] … yang kepadanya kami memohon bantuan.’ Ketika engkau
ditanya: ‘Tetapi jika kalian tidak memiliki perlindungan, Guru Ānanda, apakah
penyebab dari kerukunan kalian?’ Engkau menjawab: ‘Kami bukannya tanpa
perlindungan, Brahmana. Kami memiliki perlindungan; kami memiliki Dhamma sebagai
perlindungan kami.’ Sekarang bagaimanakah makna dari pernyataan-pernyataan ini
dipahami, Guru Ānanda?”
“Brahmana, Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna,
telah menetapkan aturan latihan bagi para bhikkhu dan Beliau telah menetapkan Pātimokkha. Pada hari Uposatha kami semua yang hidup dengan bergantung
pada satu desa tertentu berkumpul bersama, dan ketika kami berkumpul kami
memohon pada seseorang yang menguasai Pātimokkha untuk membacakannya. Jika
seorang bhikkhu mengingat suatu pelanggaran ketika Pātimokhha sedang dibacakan,
maka kami menindaknya sesuai dengan Dhamma, sesuai dengan instruksi. Bukan para mulia yang
menyuruh kami menindaknya; adalah Dhamma yang menyuruh kami menindaknya.”
[Kitab Komentar : Inti
dari pernyataan ini adalah bahwa Saṅgha
tidak diatur oleh penilaian pribadi anggota-anggotanya melainkan oleh Dhamma
dan aturan Disiplin yang ditetapkan oleh Sang Buddha. Dalam hal ini para bhikkhu mengikuti instruksi
terakhir Sang Buddha: “Apa yang telah Kuajarkan dan Kujelaskan kepada
kalian sebagai Dhamma dan Disiplin akan menjadi guru kalian setelah Aku
meninggal dunia.” (Dīgha Nikāya 16.6.1 / ii.154).]
11. “Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang sekarang kalian hormati,
kalian hargai, kalian puja, dan kalian muliakan, dan yang kepadanya kalian
hidup dengan bergantung dengan menghormati dan menghargainya?”
“Ada seorang bhikkhu, Brahmana, yang sekarang kami hormati, kami hargai,
kami puja, dan kami muliakan, dan yang kepadanya kami hidup dengan bergantung
dengan menghormati dan menghargainya.”
12. “Tetapi ketika engkau ditanya: ‘Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu
yang ditunjuk oleh Guru Gotama …?’ Engkau menjawab: ‘Tidak ada seorang bhikkhu
… Ketika engkau ditanya: ‘Adakah, Guru Ānanda, seorang bhikkhu yang telah
dipilih oleh Saṅgha …?’ [11] Engkau menjawab: ‘Tidak ada seorang
bhikkhu …’ Ketika engkau ditanya: ‘Adakah seorang bhikkhu yang sekarang kalian
hormati, kalian hargai, kalian puja, dan kalian muliakan, dan yang kepadanya
kalian hidup dengan bergantung dengan menghormati dan menghargainya?’ Engkau
menjawab: ‘Ada seorang bhikkhu, yang sekarang kami hormati, kami hargai, kami
puja, dan kami muliakan, dan yang kepadanya kami hidup dengan bergantung
padanya dengan menghormati dan menghargainya.’ Sekarang bagaimanakah makna dari
pernyataan-pernyataan ini dipahami, Guru Ānanda?”
13. “Ada,
Brahmana, sepuluh kualitas yang menginspirasi keyakinan yang telah dinyatakan
oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.
Jika kesepuluh kualitas ini terdapat dalam diri salah satu di antara kami, maka
kami menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakannya, dan hidup dengan
bergantung padanya dengan menghormati dan menghargainya. Apakah sepuluh ini?
14. (1) “Di sini, Brahmana, seorang bhikkhu memiliki moralitas, ia berdiam dengan terkendali oleh pengendalian
Pātimokkha, ia sempurna dalam perbuatan dan tempat yang dikunjungi,
dan melihat dengan takut bahkan dalam pelanggaran yang terkecil, ia melatih
dirinya dengan menjalankan aturan-aturan latihan.
15. (2) “Ia banyak
belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan menggabungkan apa yang telah
ia pelajari.
Ajaran-ajaran yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan
makna dan kata-kata yang benar, yang menegaskan kehidupan suci yang
sungguh-sungguh murni dan sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia
pelajari, ia ingat, ia hafalkan, ia selidiki dengan pikiran, dan ia tembus
dengan baik melalui pandangan.
16. (3) “Ia puas dengan jubahnya, makanannya, tempat tinggalnya, dan
obat-obatannya.
17. (4) “Tanpa kesulitan atau kesusahan menurut kehendaknya ia mencapai keempat jhāna
yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan memberikan kediaman yang nyaman di sini dan
saat ini.
18. (5) “Ia mengerahkan
berbagai jenis kekuatan batin: dari satu, ia menjadi banyak; dari banyak, ia menjadi satu; ia muncul dan
lenyap; ia berjalan tanpa halangan menembus dinding, menembus tembok, menembus
gunung, seolah-olah menembus ruang kosong; ia menyelam masuk ke dalam dan
keluar dari dalam tanah seolah-olah di air; ia berjalan di air tanpa tenggelam seolah-olah
di atas tanah; [12] dengan duduk bersila, ia bepergian di angkasa bagaikan
burung; dengan tangannya ia menyentuh bulan dan matahari begitu kuat dan
perkasa; ia mengerahkan kekuatan jasmani bahkan hingga sejauh alam Brahma.
19. (6) “Dengan unsur mata
dewa, yang murni
dan melampaui manusia, ia mendengar kedua jenis suara, suara surgawi dan manusia,
yang jauh maupun dekat.
20. (7) “Ia memahami
pikiran makhluk-makhluk lain, pikiran orang-orang lain, dengan melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya.
Ia memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai terpengaruh nafsu dan
pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai tidak terpengaruh nafsu; ia
memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai terpengaruh kebencian dan pikiran
yang tidak terpengaruh kebencian sebagai tidak terpengaruh kebencian; ia
memahami pikiran yang terpengaruh delusi sebagai terpengaruh delusi dan pikiran
yang tidak terpengaruh delusi sebagai tidak terpengaruh delusi; ia memahami
pikiran yang mengerut sebagai mengerut dan pikiran yang kacau sebagai kacau; ia
memahami pikiran luhur sebagai luhur dan pikiran tidak luhur sebagai tidak
luhur; ia memahami pikiran yang terbatas sebagai terbatas dan pikiran tidak
terbatas sebagai tidak terbatas; ia memahami pikiran terkonsentrasi sebagai
terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi;
ia memahami pikiran yang terbebaskan sebagai terbebaskan dan pikiran yang tidak
terbebaskan sebagai tidak terbebaskan.
21. (8) “Ia mengingat
banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran,
lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran,
empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu
kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa
pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana
aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku
seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku
seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah beserta aspek-aspek dan ciri-cirinya ia
mengingat banyak kehidupan lampau.
22. (9) “Dengan mata
dewa yang murni
dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul
kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami
bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka sebagai
berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan,
dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak
pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam
kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia,
berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang
bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan
melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul
kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia
memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.
23. (10) “Dengan
menembus bagi dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini
memasuki dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan
yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda.
“Ini, Brahmana, adalah sepuluh kualitas yang menginspirasi keyakinan yang
telah dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna
dan tercerahkan sempurna. Jika kesepuluh kualitas ini terdapat dalam diri salah
satu di antara kami, maka kami menghormati, menghargai, memuja, dan
memuliakannya, dan hidup dengan bergantung padanya dengan menghormati dan
menghargainya.” [13]
24. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Vassakāra, menteri Magadha,
berkata kepada Jenderal Upananda: “Bagaimana menurutmu, Jenderal? Ketika para mulia ini
menghormati seseorang yang seharusnya dihormati, menghargai seseorang yang
seharusnya dihargai, memuja seseorang yang seharusnya dipuja, dan memuliakan
seseorang yang seharusnya dimuliakan, tentu saja mereka menghormati seseorang
yang layak dihormati … dan memuliakan seseorang yang layak dimuliakan. Karena jika para mulia ini tidak menghormati,
menghargai, memuja, dan memuliakan orang seperti itu, maka siapa lagikah yang
mereka hormati, mereka hargai, mereka puja, dan mereka muliakan, dan kepada
siapakah mereka dapat hidup dengan bergantung dengan menghormati dan
menghargai?”
25. “Kemudian Brahmana Vassakāra, menteri Magadha, berkata kepada Yang
Mulia Ānanda: “Di manakah Guru Ānanda menetap sekarang?”
“Sekarang aku menetap di Hutan Bambu, Brahmana.”
“Kuharap, Guru Ānanda, Hutan Bambu itu menyenangkan, tenang dan tidak
terganggu oleh suara-suara, dengan atmosfir kesunyian, jauh dari orang-orang,
sesuai untuk melatih diri.”
“Sesungguhnya, Brahmana, Hutan Bambu itu menyenangkan … sesuai untuk
melatih diri berkat para pelindung seperti dirimu.”
“Sesungguhnya, Guru Ānanda, Hutan Bambu itu menyenangkan … sesuai untuk
melatih diri berkat para mulia yang adalah para meditator dan berlatih
meditasi. Para mulia adalah para meditator dan berlatih meditasi. Pada suatu
ketika, Guru Ānanda, Guru Gotama sedang menetap di Vesālī di Aula Beratap
Lancip di Hutan Besar. Kemudian aku datang ke sana dan menghadap Guru Gotama,
dan dalam berbagai cara Beliau memberikan khotbah tentang meditasi. Guru Gotama
adalah seorang meditator dan berlatih meditasi, dan Beliau memuji segala jenis
meditasi.”
26. “Sang
Bhagavā, Brahmana, tidak memuji segala jenis meditasi, juga tidak mencela
segala jenis meditasi. Jenis meditasi [14] apakah yang tidak dipuji oleh Sang
Bhagavā? Di sini, Brahmana, seseorang berdiam dengan pikirannya dikuasai oleh nafsu
indria, mangsa bagi nafsu indria, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya
jalan membebaskan diri dari nafsu indria yang telah muncul. Sementara ia
memendam nafsu indria dalam batinnya, ia bermeditasi, mengulangi meditasi,
melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru. Ia berdiam dengan pikirannya
dikuasai oleh permusuhan, mangsa bagi permusuhan … dengan pikirannya dikuasai
oleh kelambanan dan ketumpulan, mangsa bagi kelambanan dan ketumpulan … dengan
pikirannya dikuasai oleh kegelisahan dan penyesalan, mangsa bagi kegelisahan
dan penyesalan … dengan pikirannya dikuasai oleh keragu-raguan, mangsa bagi
keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri
dari keragu-raguan yang telah muncul. Sementara ia memendam keragu-raguan dalam
batinnya, ia bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan
bermeditasi secara keliru. Sang Bhagavā tidak memuji jenis meditasi ini.
[Kitab Komentar : Perihal “bermeditasi secara keliru”,
Jhāyanti pajjhāyanti nijjhāyanti apajjhāyanti. Walaupun kata kerja ini secara
berdiri sendiri tidak memiliki makna negatif, rangkaian ini jelas dimaksudkan
sebagai penurunan. Pada Majjhima Nikāya 108.26, empat kata kerja ini digunakan
untuk menggambarkan meditasi seseorang yang pikirannya dikuasai oleh lima
rintangan.]
27. “Dan
jenis meditasi apakah yang dipuji oleh Sang Bhagavā? Di sini, Brahmana, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari keterasingan. Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan
keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya
sukacita, ia berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh
kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia
memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh
perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan
sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke
empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian
perhatian karena keseimbangan. Sang Bhagavā memuji jenis meditasi ini.”
28. “Tampaknya,
Guru Ānanda, bahwa Guru Gotama mencela jenis meditasi yang layak dicela dan
memuji jenis meditasi yang layak dipuji. Dan sekarang, Guru Ānanda, kami pergi. Kami sibuk dan
banyak yang harus dilakukan.”
“Silahkan engkau pergi, Brahmana.” [15]
Kemudian Brahmana Vassakāra, menteri Magadha, dengan merasa puas dan
gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Ānanda, bangkit dari duduknya dan pergi.
29. Kemudian, segera setelah ia pergi, Brahmana Gopaka Moggallāna berkata
kepada Yang Mulia Ānanda: “Guru Ānanda belum menjawab apa yang kami tanyakan.”
“Bukankah kami telah memberitahukan kepadamu, Brahmana: ‘Tidak ada satu
bhikkhupun, Brahmana, yang memiliki semua kualitas yang dimiliki oleh Sang
Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Karena Sang Bhagavā adalah pembangun
jalan yang belum dibangun, pembuat jalan yang belum dibuat, pengungkap jalan
yang belum terungkapkan; Beliau adalah pengenal Sang Jalan, penemu Sang Jalan,
seorang yang terampil dalam Sang Jalan. Tetapi para siswaNya sekarang berdiam
dengan mengikuti jalan itu dan menjadi memilikinya setelah itu’?”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, silahkan Anda nilai
sendiri, adakah diantara umat muslim yang memiliki moralitas, yang berdiam
dengan terkendali oleh pengendalian-diri, yang sempurna dalam perbuatan dan
tempat yang dikunjungi, yang melihat dengan takut bahkan dalam pelanggaran yang
terkecil, yang melatih dirinya dengan menjalankan aturan-aturan latihan?—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” memiliki pikiran yang terpengaruh nafsu
ataukah pikiran yang tidak terpengaruh nafsu; memiliki pikiran yang terpengaruh
kebencian ataukah pikiran yang tidak terpengaruh kebencian; memiliki pikiran
yang terpengaruh delusi ataukah pikiran yang tidak terpengaruh delusi; dimana
kita tidak perlu menghormati seseorang yang tidak seharusnya dihormati, tidak menghargai
seseorang yang seharusnya tidak dihargai, tidak memuja seseorang yang tidak seharusnya
dipuja, dan tidak memuliakan seseorang yang seharusnya tidak dimuliakan; dimana
tidak ada yang istimewa dari sang “nabi rasul Allah” mengingat seluruh muslim sanggup
dan mampu menjelma PENDOSA PECANDU-BERAT “PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip
dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]