Tidak Ada “Tuhan” yang lebih Dungu, daripada yang Memberikan Surga kepada PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA
Manusia Sampah, Tempatnya di Tong Sampah, bukan di Surga—kecuali “Surga”
merupakan Tong Sampah dimana para PENDOSA Dijejali Masuk bak Ikan Sarden
Question: Mengapa harus jadi orang baik, bila jadi orang jahat saja ternyata banyak yang bisa hidup panjang umur, sukses, beruntung, kebal hukum, makmur, tidak kunjung celaka, serta dimasukkan ke surga setelah matinya lewat rituan pengampunan dosa?
Brief
Answer: Agar kita “berinvestasi” untuk
masa depan, dan mereka yang bersikap baik
pada kita pun akan mendapatkan Karma Baik dengan melimpah. Begitupula tugas
mulia bhikkhu monastik, menyucikan diri agar bisa menjadi “ladang subur untuk
menanam jasa” bagi umat awam yang hendak menanam Karma Baik di “ladang yang
subur”. Tiada yang lebih sia-sia, daripada memberikan dana berupa makanan
kepada para muslim yang menjalani “puasa ramadhan”. Atas alasan apakah? Karena para
pendosa tersebut berlomba-lomba “puasa ramadhan” (namun konsumsi meningkat)
dengan motif atau motivasi untuk “DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN” (evil motive).
Kabar gembira
bagi pendosa, sama artinya kabar buruk bagi kalangan korban dari para pendosa
tersebut. Sama seperti Allah yang justru merampas hak korban atas keadilan, dengan
mengampuni dosa-dosa sang pendosa. Eksekutor hukuman mati, hanya mendapatkan Karma
Buruk yang minim karena mengeksekusi mati seorang penjahat berat, karena
moralitas sang tereksekusi lebih buruk daripada “hewan”. Sebaliknya, menyakiti
seorang suciwan yang terlatih dalam disiplin diri yang ketat bernama “self-control”,
mengakibatkan pelakunya mendapatkan buah Karma Buruk yang sangat-teramat besar.
Karena itulah,
berdana kepada orang-orang baik maupun kepada orang-orang suci, merupakan “ladang
menanam jasa” yang tiada taranya. Karena itulah, kita perlu bersikap “selektif”,
dalam artian “pada orang yang tepat”. Lebih baik memberikan dana makanan kepada
seekor anjing yang jinak dan mampu menghibur manusia, daripada memberikan makan
seorang bandar obat-obatan terlarang, sebagai contohnya. Jangan lupa juga untuk
mempertanyakan : Mengapa juga Allah memberikan tempat di surga kepada “manusia
sampah” semacam pengecut pecandu “PENGAMPUNAN DOSA” yang lebih layak menghuni “tong
sampah”?
PEMBAHASAN:
Mengenai “menjadi ladang yang subur untuk menanam jasa”, dapat kita
jumpai lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
III. Harapan
71 (1) Harapan
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta,
Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para
bhikkhu: “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, jadilah
pelaksana perilaku bermoral dan pelaksana Pātimokkha. Berdiamlah dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki
perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam
pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerimanya, berlatihlah di dalam
aturan-aturan latihan.
(1) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku menyenangkan dan
disukai oleh teman-temanku para bhikkhu, dihormati dan dihargai oleh mereka,’
biarlah ia memenuhi perilaku bermoral, menekuni ketenangan pikiran internal,
tidak mengabaikan jhāna-jhāna, memiliki pandangan terang, dan mendatangi
gubuk-gubuk kosong.
(2) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku memperoleh jubah,
makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit,’
biarlah ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk kosong.
(3) “Jika
seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga pelayanan dari mereka yang memberikan
kepadaku jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi
yang sakit dapat berbuah dan bermanfaat besar bagi mereka,’ biarlah ia memenuhi
perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk kosong.
(4) “Jika
seorang bhikkhu mengharapkan: [132] ‘Ketika sanak saudara dan anggota
keluargaku, setelah meninggal dunia, mengingatku dengan penuh keyakinan dalam
pikiran mereka, semoga hal ini berbuah dan bermanfaat besar bagi mereka,’
biarlah ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk kosong.
(5) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku puas dengan segala
jenis jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi
yang sakit,’ biarlah ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk
kosong.
(6) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku dapat dengan sabar
menahankan dingin dan panas; lapar dan haus; kontak dengan lalat, nyamuk,
angin, panas matahari, dan ular; dan gaya bicara yang kasar dan menyinggung.
Semoga aku mampu menahankan perasaan jasmani yang telah muncul yang menyakitkan,
mencelakai, tajam, menusuk, menyiksa, melemahkan vitalitas seseorang,’ biarlah
ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk kosong.
(7) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga
aku menjadi seorang yang menaklukkan ketidak-puasan dan kesenangan, dan semoga
ketidak-puasan dan kesenangan tidak menaklukkan aku. Semoga aku mengatasi
ketidak-puasan dan kesenangan kapan pun munculnya,’ biarlah ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi
gubuk-gubuk kosong.
(8) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga
aku menjadi seorang yang menaklukkan ketakutan dan kegentaran, dan semoga
ketakutan dan kegentaran tidak menaklukkan aku. Semoga aku mengatasi ketakutan
dan kegentaran kapan pun munculnya,’ biarlah ia memenuhi perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk
kosong.
(9) “Jika seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku memperoleh sesuai
kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran
yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini,’ biarlah ia memenuhi
perilaku bermoral … dan mendatangi gubuk-gubuk kosong.
(10) “Jika
seorang bhikkhu mengharapkan: ‘Semoga aku, dengan hancurnya noda-noda,
merealisasikan untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam
kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui
kebijaksanaan, [133] dan setelah memasukinya, aku berdiam di dalamnya,’ biarlah
ia memenuhi perilaku bermoral, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak
mengabaikan jhāna-jhāna, memiliki pandangan terang, dan mendatangi gubuk-gubuk
kosong.
“Ketika dikatakan: ‘Para bhikkhu, jadilah pelaksana perilaku bermoral dan
pelaksana Pātimokkha. Berdiamlah dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki
perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam
pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerimanya, berlatihlah di dalam
aturan-aturan latihan,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]