Tidak Perlu Menunggu Kematian untuk Merasakan Aktualnya Surga maupun Neraka
Question: Bila “state of mind” adalah surga atau neraka, maka mudah sekali membuat Allah mencicipi api neraka, yakni semudah membuat Allah merasa marah, murka, kesal, cemburu, benci, geram, gerah, kecewa, sedih, emosian, mengingat sosok Allah dipersonifikasi selayaknya emosi seorang manusia biasa. Bukankah artinya, dengan membuat Allah menjadi marah, kita sebagai manusia sudah berhasil mendikte dan menyetir emosi Allah, yang secara sendirinya Allah terbakar oleh api kemarahan?
Brief
Answer: Itulah bukti tidak
terbantahkan, bahwa umat manusia lebih berkuasa daripada Allah, dimana Allah tidak
benar-benar berkuasa karena masih dapat didikte serta disetir emosinya oleh
umat manusia. Untuk itu, Sang Buddha pernah bersabda:
-
Seorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah itu?
(1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela.
(2) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yang layak
dipuji. (3) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mempercayai sesuatu
yang mencurigakan. (4) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
mencurigai sesuatu yang seharusnya dipercaya.
- Seorang ditempatkan di surga seolah-olah dibawa
ke sana. Apakah itu? (1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia
mencela seorang yang layak dicela. (2) Setelah menyelidiki dan setelah
memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji. (3) Setelah
menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang mencurigakan. (4) Setelah
menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang seharusnya
dipercaya.
PEMBAHASAN:
Dalam sutta, Sang Buddha pernah menyebutkan bahwa adanya kondisi dimana
kita “berbahagia dalam moralitas”. Orang-orang dengan moralitas yang buruk,
cenderung tidak bahagia dan tidak puas atas hidupnya, sebagaimana khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
145 (5) Neraka
“Para bhikkhu, seseorang yang memiliki lima kualitas ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? Ia membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan,
melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan meminum minuman keras,
anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan.
Seseorang yang memiliki kelima kualitas ini ditempatkan di neraka seolah-olah
dibawa ke sana. [171]
“Para bhikkhu, seseorang yang memiliki lima kualitas [lainnya] ditempatkan di surga
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? Ia menghindari membunuh, menghindari mengambil apa
yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah, menghindari
berbohong, dan menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman
memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Seseorang yang memiliki
kelima kualitas ini ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.”
115 (5) Kikir
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? Ia kikir dengan tempat kediamannya,
keluarga-keluarganya, perolehan, pujian, atau Dhamma. Dengan memiliki kelima
kualitas ini, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana.
[Kitab Komentar : Ia kikir sehubungan dengan tempat
kediamannya (āvāsamaccharinī) dan tidak tahan jika orang lain menetap di
sana. Ia kikir sehubungan dengan keluarga-keluarga (kulamaccharinī) yang
menyokongnya dan tidak tahan jika orang lain mendatangi mereka [demi sokongan].
Ia kikir sehubungan dengan perolehan (lābhamaccharinī) dan tidak tahan
jika orang lain mendapatkannya. Ia kikir sehubungan dengan moralitasnya (gunamaccharinī)
dan tidak tahan mendengar tentang moralitas orang lain. Dan ia kikir sehubungan
dengan Dhamma (dhammamaccharinī) dan tidak ingin berbagi dengan orang
lain.]
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang bhikkhunī
ditempatkan di
surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? Ia tidak kikir dengan tempat kediamannya, keluarga-keluarganya,
perolehan, pujian, dan Dhamma. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang
bhikkhunī ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.”
116 (6) Pujian
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? (1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
memuji seorang yang layak dicela. (2) Tanpa menyelidiki dan tanpa
memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji. (3) Tanpa menyelidiki
dan tanpa memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang mencurigakan. (4) Tanpa
menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang seharusnya
dipercaya. (5) Ia menghambur-hamburkan pemberian yang diberikan dengan
penuh keyakinan. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang bhikkhunī
ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana.
[Kitab Komentar : Ketika ia diberikan dana makanan oleh
orang lain dengan penuh keyakinan, tanpa mengambil bagian atasnya (untuk
dirinya sendiri), ia memberikannya kepada orang lain.
Aturan yang melarang menghambur-hamburkan pemberian
yang diberikan dengan penuh keyakinan terdapat pada Vinaya Pitaka I 298,1-3: “Para
bhikkhu, sebuah pemberian yang diberikan dengan penuh keyakinan tidak boleh
dihambur-hamburkan. Bagi yang menghambur-hamburkannya, maka ia melakukan
pelanggaran perbuatan salah” (na ca bhikkhave saddhādeyyaṃ vinipātetabbaṃ; yo vinipāteyya, āpatti dukkaṭassa).
Ini adalah pelanggaran karena memperlihatkan sikap
tidak hormat atas kedermawanan orang lain. Akan tetapi, setelah mengambil
bagian atas untuk dirinya sendiri, ia boleh membagi sisanya kepada orang-orang
lain. Sang Buddha juga memberikan kelonggaran khusus bagi kaum monastik untuk memberikan
dana makanan, kain, dan perolehan lainnya kepada orangtuanya jika mereka
membutuhkan.]
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang bhikkhunī
ditempatkan di
surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? (1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela
seorang yang layak dicela. (2) Setelah menyelidiki dan setelah
memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji. [140] (3) Setelah
menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencurigai sesuatu yang mencurigakan.
(4) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mempercayai sesuatu yang
seharusnya dipercaya. (5) Ia tidak menghambur-hamburkan pemberian yang
diberikan dengan penuh keyakinan. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang
bhikkhunī ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.”
117 (7) Iri
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? (1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
memuji seorang yang layak dicela. (2) Tanpa menyelidiki dan tanpa
memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji. (3) Ia iri-hati (4) dan
kikir. (5) Ia menghambur-hamburkan pemberian yang diberikan dengan penuh keyakinan.
Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana.
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang bhikkhunī
ditempatkan di
surga seolah-olah dibawa ke sana. (1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang
layak dicela. (2) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji
seorang yang layak dipuji. (3) Ia bebas dari sifat iri-hati (4) dan dari
kekikiran. (5) Ia tidak menghambur-hamburkan pemberian yang diberikan dengan
penuh keyakinan. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang bhikkhunī
ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.”
118 (8) Pandangan
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka
seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? (1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
memuji seorang yang layak dicela. (2) Tanpa menyelidiki dan tanpa
memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji. (3) Ia menganut
pandangan salah (4) dan memiliki kehendak salah. (5) Ia menghambur-hamburkan
pemberian yang diberikan dengan penuh keyakinan. Dengan memiliki kelima
kualitas ini, seorang bhikkhunī ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke
sana. [141]
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang bhikkhunī
ditempatkan di
surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini? (1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela
seorang yang layak dicela. (2) Setelah menyelidiki dan setelah
memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji. (3) Ia menganut
pandangan benar (4) dan memiliki kehendak benar. (5) Ia tidak
menghambur-hamburkan pemberian yang diberikan dengan penuh keyakinan. Dengan
memiliki kelima kualitas ini, seorang bhikkhunī ditempatkan di surga
seolah-olah dibawa ke sana.”
119 (9) Ucapan
[Seperti pada 5:118], tetapi dengan menggantikan kualitas ke tiga dan ke
empat yang mengarah
pada neraka dan surga berturut-turut sebagai berikut:]
“… (3) Ia memiliki ucapan salah dan (4) perbuatan salah …
“… (3) Ia memiliki ucapan benar dan (4) perbuatan benar …”
120 (10) Usaha
[Seperti pada 5:118], tetapi dengan menggantikan kualitas ke tiga dan ke
empat yang mengarah
pada neraka dan surga berturut-turut sebagai berikut:]
“… (3) Ia memiliki usaha salah dan (4) perhatian salah … [142]
“… (3) Ia memiliki usaha benar dan (4) perhatian benar …”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]