Tiada yang Lebih KONSISTEN daripada Ajaran Sang Buddha, dan Tidak Ada yang Lebih INKONSISTEN daripada Dogma-Dogma Agama Samawi

Buddhisme : Berbuat Satu Buah Kejahatan adalah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kebaikan ialah Terlampau Sedikit—Ada “HUKUM KARMA”!

Agama Samawi-Abrahamik : Berbuat Satu Buah Kebajikan ialah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kejahatan adalah Terlampau Sedikit—Ada “PENGHAPUSAN DOSA”!

Sejauh, Selebar, dan Sedalam apakah Perbedaan / Disparitas antara Agama Buddha dan Agama Samawi-Abrahamik?

Question : Dalam agama samawi, ini dan itu disebut “haram”, ini dan itu disebut “dosa”, ini dan itu disebut “dilarang Tuhan”. Tapi, ujung-ujungnya, dinegasikan oleh dogma agama samawi itu sendiri yang mengajarkan ritual “penghapusan dosa”, sehingga alhasil apapun menjadi “halal hukumnya” dalam agama samawi, dan tidak heran bila umat pengikutnya kemudian diberitakan menjadi koruptor ataupun penjahat-busuk-tercela. Buat apa mengharam-haramkan segala sesuatunya, bila pada muaranya mabuk dan kecanduan “penghapusan dosa”, selain sekadar delusi rasa superior yang semu dan konyol. Bagaimana dengan di agama Buddha, apakah konsisten ada sesuatu yang seharusnya dihindari dan apa yang seharusnya dilakukan?

Brief Answer : Adalah ironis yang tidak terbantahkan, bahwa selama ini umat agama samawi diajarkan untuk “berlatih dan dilatih untuk rajin mengoleksi serta menimbun dosa-dosa maupun maksiat” alih-alih “berlatih untuk bebas dari segala dosa maupun maksiat” maupun “berlatih untuk bertanggung-jawab dengan cara berani menghadapi konsekuensinya”. Ketika seseorang berbuat kebajikan, maka ia sejatinya sedang “berlatih kebajikan”. Sebaliknya, seseorang yang berbuat kejahatan maupun keburukan, sejatinya sedang “berlatih keburukan”, sebelum kemudian sifat-sifat jahat menguasai dirinya.

Bagi Buddhisme, berbuat satu buah kejahatan adalah terlampau banyak dan berbuat seribu kebaikan ialah terlampau sedikit. Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, bagi agama samawi yang mana umatnya diajarkan dan dibiasakan untuk mencandu-berat ideologi korup bernama “PENGHAPUSAN DOSA” (“PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, abolition of sins), berbuat satu buah kebajikan ialah terlampau banyak dan berbuat seribu kejahatan adalah terlampau sedikit. Mengapa demikian? Karena “dogma PENGHAPUSAN DOSA” butuh “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”, karenanya para umat agama samawi bernama muslim maupun nasrani, berbondong-bondong dan berlomba-lomba memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam samudera dosa, agar tidak ”merugi”.

Untuk bisa mabuk dan kecanduan-berat “PENGHAPUSAN DOSA”, jadilah para umatnya tergila-gila bagai kesetanan berbuat segala jenis kejahatan mulai dari menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak ataupun makhluk hidup lainnya, sembari berdelusi masuk surga setelah ajal menjemput para “KORUPTOR DOSA” tersebut—dimana dosa-dosa pun mereka korupsi. Karenanya, tiada yang lebih menyesatkan daripada agama samawi, mengingat ideologi semacam komun!sme sekalipun tidak mengajarkan kepada umat pengikutnya untuk mencandu dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”.

Adapun dalam Buddhisme, terdapat isitlah “salah satu atau yang lainnya”, yang bermakna bahwa terdapat distingsi pembeda atau dikotomi pemisah yang tegas antara apa yang “boleh” dan yang “tidak boleh” dilakukan. Sebaliknya, dalam agama samawi, segalanya menjelma “halal dan boleh hukumnya”, karena “PENGHAPUSAN DOSA” di-halal-kan bahkan dijadikan “halal lifestyle”, sekalipun kita mengetahui dan menyadari bahwa dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” butuh “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”—tiada “salah satu atau yang lainnya”, semuanya “halal”, termasuk mencandu dan kecanduan “DOSA-DOSA” serat “PENGHAPUSAN DOSA”.

Karenanya pula, menjadi tidak mengherankan bila “objek-objek pikiran” umat agama samawi ialah motivasi untuk “berbuat DOSA-DOSA sebanyak mungkin untuk kemudian mabuk candu-ritual ‘PENGHAPUSAN DOSA’”. Itulah sebabnya, “nabi rasul Allah”, umat muslim, maupun Allah itu sendiri, merupakan orang-orang yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya, sehingga “tidak boleh dianut ataupun dipraktekkan”.

PEMBAHASAN:

Ajaran maupun teladan-hidup Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Tipitaka, bersifat konsisten, tanpa “standar-ganda”. Salah satunya ialah perihal “yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih”, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 114

Sevitabbāsevitabba Sutta : Yang Harus Dilatih dan Tidak Boleh Dilatih

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian sebuah khotbah tentang apa yang harus dilatih dan apa yang tidak boleh dilatih. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(PEMBABARAN PERTAMA)

3. “Para bhikkhu, Perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya. Perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya. Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. Kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. [46] Perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya. Perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya. Perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.”

[Kitab Komentar : Paragraf pertama ini sekadar memberikan “daftar isi” yang akan dijelaskan dalam batang tubuh sutta ini. Aññamañña, ”salah satu atau yang lainnya”. kedua ini bersifat saling eksklusif, dan tidak ada cara untuk menganggapnya sebagai yang lain.]

(PENJELASAN PERTAMA)

4. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut:

5. “‘Para bhikkhu, perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku jasmani yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku jasmani yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup; ia adalah pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasih pada makhluk-makhluk hidup. Ia mengambil apa yang tidak diberikan; ia mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Ia melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, dan bahkan dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku jasmani demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk hidup, dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, lembut dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; ia tidak mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara mencuri. Dengan meninggalkan perbuatan salah dalam kenikmatan indria, ia menghindari perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, atau dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku jasmani demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.’

6. “‘Para bhikkhu, perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku ucapan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku ucapan yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang mengucapkan kebohongan; ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, [48] atau di depan sanak saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat’; dengan penuh kesadaran ia mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Ia mengucapkan fitnah; ia mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, atau ia mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang memecah-belah mereka yang rukun, seorang pembuat perpecahan, yang menikmati perselisihan, bergembira dalam perselisihan, bersenang dalam perselisihan, pengucap kata-kata yang menciptakan perselisihan. Ia berkata kasar; ia mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, menyakiti orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang konsentrasi. Ia adalah seorang penggosip; ia berbicara di waktu yang salah, mengatakan apa yang bukan fakta, mengatakan hal yang tidak berguna, mengatakan yang berlawanan dengan Dhamma dan Disiplin; pada waktu yang salah ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, melampaui batas, dan tidak bermanfaat. Perilaku-perilaku ucapan demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang, dengan meninggalkan kebohongan, menghindari ucapan salah; ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, atau di depan sanak saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat’; [49] ia tidak dengan penuh kesadaran mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Dengan meninggalkan fitnah, ia menghindari fitnah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga ia tidak mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menciptakan kerukunan. Dengan meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang merupakan fakta, mengatakan apa yang baik, membicarakan Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat. Perilaku-perilaku ucapan demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.’

7. “‘Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perilaku pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisikondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang bersifat tamak; ia tamak pada kekayaan dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku!’ Atau ia memiliki pikiran permusuhan dan niat membenci [50] sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini dibunuh dan disembelih, semoga mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!’ Perilaku-perilaku pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak; ia tidak tamak terhadap kekayaan dan kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku!’ Pikirannya tanpa permusuhan dan ia memiliki kehendak yang bebas dari kebencian sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini bebas dari pertentangan, penderitaan, dan ketakutan! Semoga mereka hidup berbahagia!’ Perilaku-perilaku pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’

[Kitab Komentar : Walaupun pandangan salah dan pandangan benar biasanya termasuk dalam perilaku pikiran, dalam sutta ini diperlihatkan secara terpisah dalam paragraf nomor ke-10 sebagai “perolehan pandangan.”]

8. “‘Kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, kecenderungan pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat [51] dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi kecenderungan pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tamak dan berdiam dengan pikiran penuh ketamakan; ia memiliki permusuhan dan berdiam dengan pikiran penuh permusuhan; ia kejam dan berdiam dengan pikiran penuh kekejaman.1072 Kecenderungan pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

[Kitab Komentar : Sementara ketamakan dan permusuhan pada paragraf nomor ke-7 memiliki kekuatan dari keseluruhan perbuatan (kammapatha), dalam bagian ini tentang kecenderungan pikiran (cittuppāda) diperlihatkan dalam tahap awal sebagai sekadar watak yang masih belum berkembang menjadi kehendak yang berkuasa.]

“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak dan berdiam dengan pikiran terlepas dari ketamakan; ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan pikiran terlepas dari permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan pikiran terlepas dari kekejaman. Kecenderungan pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’

9. “‘Perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perolehan persepsi yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan persepsi yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tamak dan berdiam dengan persepsi penuh ketamakan; ia memiliki permusuhan dan berdiam dengan persepsi penuh permusuhan; ia kejam dan berdiam dengan persepsi penuh kekejaman. Perolehan persepsi demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang tidak tamak dan berdiam dengan persepsi terlepas dari ketamakan; ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan persepsi terlepas dari permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan persepsi terlepas dari kekejaman. Perolehan persepsi demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya.’ [52]

10. “‘Perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, perolehan pandangan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan pandangan yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan demikian adalah penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang dipersembahkan, ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini dan ada dunia lain; ada ibu dan ada ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya.’

11. “‘Perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

[Kitab Komentar : “Perolehan kepribadian” (attabhāvapailābha) di sini merujuk pada cara kelahiran kembali.]

“Yang Mulia, [53] perolehan kepribadian yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan kepribadian yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk suatu perolehan kepribadian yang tunduk pada penderitaan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat bertambah dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang dalam dirinya, menghalanginya dari pencapaian kesempurnaan.

[Kitab Komentar : Apariniṭṭhitabhāvāya. Ungkapan ini mungkin khas pada sutta ini. Penerjemah lain mengemasnya menjadi bhavāna apariniṭṭhitabhāvāya dan menjelaskan: ada empat cara keberadaan individu “yang tunduk pada penderitaan” (sabyābajjhattabhāvā). Yang pertama adalah kaum duniawi yang tidak mampu mencapai kesempurnaan kehidupan dalam kehidupan itu; baginya, sejak saat terlahir kembali, kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat bertambah dan kondisi-kondisi yang bermanfaat berkurang, dan ia menghasilkan suatu kepribadian yang disertai oleh penderitaan. Demikian pula pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali. Bahkan para yang-tidak-kembali masih belum meninggalkan ketagihan pada penjelmaan, dan dengan demikian masih belum mencapai kesempurnaan. Individu-individu [yang disebutkan di bawah dalam teks ini] yang memperoleh kehidupan pribadi “yang bebas dari penderitaan” (abyābajjhattabhāvā) adalah empat yang sama ketika mereka memasuki kehidupan terakhir di mana mereka mencapai Kearahantaan. Bahkan kaum duniawi dalam kehidupan terakhirnya mampu menyempurnakan kehidupannya, seperti halnya kisah Angulimāla dalam sutta lain dari Majjhima Nikāya. Kehidupan mereka dikatakan bebas dari penderitaan, dan mereka dikatakan mencapai kesempurnaan.]

“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk suatu perolehan kepribadian yang bebas dari penderitaan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah dalam dirinya, memungkinkannya pencapaian kemuliaan.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.’

12. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN PERTAMA)

13. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

14-20. [54,55] (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor ke-5 sampai dengan paragraf ke-11, dengan menggantikan “Yang Mulia” menjadi “Sāriputta” dan “oleh Sang Bhagavā” menjadi “olehKu.”)

21. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

(PEMBABARAN KE DUA)

22. “Sariputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Bau-bauan yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.”

[Kitab Komentar : Klausa “Bentuk-bentuk adalah salah satu atau yang lainnya” tidak digunakan di sini karena perbedaannya bukan terletak dalam objeknya melainkan dalam pendekatannya pada objek itu. Bagi seseorang nafsu dan kekotoran muncul terhadap suatu bentuk tertentu, tetapi orang lain mengembangkan kebosanan dan ketidak-terikatan sehubungan dengan bentuk yang sama.]

(PENJELASAN KE DUA)

23. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terprinci, sebagai berikut:

24. “‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

25. “‘Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada dua jenis, Aku katakan’ …

26. “‘Bau-bauan yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan’ … [57]

27. “‘Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada dua jenis, Aku katakan’ …

28. “‘Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku katakan’ …

29. “‘Objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

30. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN KE DUA)

31. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

32-37. (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor ke-24 sampai dengan paragraf nomor ke-29, dengan penggantian kata seperlunya.)

38. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

(PEMBABARAN KE TIGA)

39. “Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Makanan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Tempat tinggal ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Desa ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Pemukiman ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Kota ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Wilayah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.” [59]

40. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut:

41. “‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, jubah yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi jubah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

42. “‘Makanan ada dua jenis, Aku katakan’ …

43. “‘Tempat tinggal ada dua jenis, Aku katakan’ …

44. “‘Desa ada dua jenis, Aku katakan’ …

45. “‘Pemukiman ada dua jenis, Aku katakan’ …

46. “‘Kota ada dua jenis, Aku katakan’ …

47. “‘Wilayah ada dua jenis, Aku katakan’ …

48. “‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Yang Mulia, [pergaulan dengan] orang-orang yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi [pergaulan dengan] orang-orang yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.

“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā mengatakan: ‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’

49. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, seperti demikian.”

(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN KE TIGA)

50. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, sebagai berikut.

51-58. (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor ke-41 sampai dengan paragraf nomor ke-48, dengan penggantian kata seperlunya.) [60]

59. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, harus dipahami demikian.

(PENUTUP)

60. “Sariputta, jika seluruh para mulia memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika seluruh para brahmana … seluruh para pedagang … seluruh para pekerja memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, memahami makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia ini untuk waktu yang lama.” [61]

[Kitab Komentar : Mereka yang mempelajari teks dan komentar atas sutta ini tanpa berlatih sesuai sutta ini tidak dapat dikatakan “memahami makna terperinci.” Hanya mereka yang melatihnya yang dapat dikatakan demikian.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi justru diajarkan untuk menganut pandangan bahwa tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk, suatu “perolehan pandangan” sebagai penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya, membentuk suatu “perolehan kepribadian” yang tunduk pada penderitaan yang menghalanginya dari pencapaian kesempurnaan—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” terbebas dari perilaku pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam dirinya yang melatihnya? Ia bersifat tamak, ia tamak pada urusan “selangkangan” maupun terhadap hal-hal dangkal-rendah-tercela seperti “penghapusan dosa-dosa” dan merampas hak-hak para korbannya atas keadilan. ia memiliki pikiran permusuhan dan niat membenci sebagai berikut: “Semoga kafir-kafir ini dibunuh dan disembelih, semoga mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!”. Ia serakah dan berdiam dengan pikiran penuh keserakahan; ia memiliki niat jahat dan berdiam dengan pikiran penuh kekejaman; ia keji dan berdiam dengan pikiran penuh “pertumpahan darah” serta intoleran yang melampaui kekerasan fisik. Begitupula perilaku jasmani, perilaku ucapan, maupun Kecenderungan pikirannya, tercela serta rendahan, kecondongannya ialah ke alam rendah—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]