Buddhisme : Berbuat Satu Buah Kejahatan adalah Terlampau Banyak dan
Berbuat Seribu Kebaikan ialah Terlampau Sedikit—Ada “HUKUM KARMA”!
Agama Samawi-Abrahamik : Berbuat Satu Buah Kebajikan ialah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kejahatan adalah Terlampau Sedikit—Ada “PENGHAPUSAN DOSA”!
Sejauh, Selebar, dan Sedalam apakah Perbedaan / Disparitas antara Agama
Buddha dan Agama Samawi-Abrahamik?
Question : Dalam agama samawi, ini dan itu disebut “haram”, ini dan itu disebut “dosa”, ini dan itu disebut “dilarang Tuhan”. Tapi, ujung-ujungnya, dinegasikan oleh dogma agama samawi itu sendiri yang mengajarkan ritual “penghapusan dosa”, sehingga alhasil apapun menjadi “halal hukumnya” dalam agama samawi, dan tidak heran bila umat pengikutnya kemudian diberitakan menjadi koruptor ataupun penjahat-busuk-tercela. Buat apa mengharam-haramkan segala sesuatunya, bila pada muaranya mabuk dan kecanduan “penghapusan dosa”, selain sekadar delusi rasa superior yang semu dan konyol. Bagaimana dengan di agama Buddha, apakah konsisten ada sesuatu yang seharusnya dihindari dan apa yang seharusnya dilakukan?
Brief
Answer : Adalah ironis yang tidak terbantahkan,
bahwa selama ini umat agama samawi diajarkan untuk “berlatih dan dilatih untuk rajin
mengoleksi serta menimbun dosa-dosa maupun maksiat” alih-alih “berlatih untuk
bebas dari segala dosa maupun maksiat” maupun “berlatih untuk bertanggung-jawab
dengan cara berani menghadapi konsekuensinya”. Ketika seseorang berbuat kebajikan,
maka ia sejatinya sedang “berlatih kebajikan”. Sebaliknya, seseorang yang
berbuat kejahatan maupun keburukan, sejatinya sedang “berlatih keburukan”,
sebelum kemudian sifat-sifat jahat menguasai dirinya.
Bagi Buddhisme,
berbuat satu buah kejahatan adalah terlampau banyak dan berbuat seribu kebaikan
ialah terlampau sedikit. Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, bagi
agama samawi yang mana umatnya diajarkan dan dibiasakan untuk mencandu-berat ideologi
korup bernama “PENGHAPUSAN DOSA” (“PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, abolition
of sins), berbuat satu buah kebajikan ialah terlampau banyak dan berbuat seribu
kejahatan adalah terlampau sedikit. Mengapa demikian? Karena “dogma PENGHAPUSAN DOSA”
butuh “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”, karenanya para umat agama samawi bernama muslim maupun nasrani, berbondong-bondong
dan berlomba-lomba memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan
berkubang dalam samudera dosa, agar tidak ”merugi”.
Untuk bisa
mabuk dan kecanduan-berat “PENGHAPUSAN DOSA”, jadilah para umatnya tergila-gila
bagai kesetanan berbuat segala jenis kejahatan mulai dari menyakiti, melukai,
maupun merugikan pihak-pihak ataupun makhluk hidup lainnya, sembari berdelusi
masuk surga setelah ajal menjemput para “KORUPTOR DOSA” tersebut—dimana dosa-dosa
pun mereka korupsi. Karenanya, tiada yang lebih menyesatkan daripada agama samawi,
mengingat ideologi semacam komun!sme sekalipun tidak mengajarkan kepada umat
pengikutnya untuk mencandu dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN /
PENEBUSAN DOSA”.
Adapun dalam
Buddhisme, terdapat isitlah “salah satu atau yang lainnya”, yang bermakna bahwa
terdapat distingsi pembeda atau dikotomi pemisah yang tegas antara apa yang “boleh”
dan yang “tidak boleh” dilakukan. Sebaliknya, dalam agama samawi, segalanya
menjelma “halal dan boleh hukumnya”, karena
“PENGHAPUSAN DOSA” di-halal-kan bahkan dijadikan “halal lifestyle”, sekalipun kita mengetahui dan menyadari bahwa dogma
KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” butuh “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”—tiada “salah
satu atau yang lainnya”, semuanya “halal”, termasuk mencandu dan kecanduan “DOSA-DOSA”
serat “PENGHAPUSAN DOSA”.
Karenanya
pula, menjadi tidak mengherankan bila “objek-objek pikiran” umat agama samawi
ialah motivasi untuk “berbuat
DOSA-DOSA sebanyak mungkin untuk kemudian mabuk candu-ritual ‘PENGHAPUSAN DOSA’”. Itulah sebabnya, “nabi rasul Allah”, umat muslim,
maupun Allah itu sendiri, merupakan orang-orang yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya, sehingga “tidak boleh dianut ataupun
dipraktekkan”.
PEMBAHASAN:
Ajaran maupun teladan-hidup Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Tipitaka,
bersifat konsisten, tanpa “standar-ganda”. Salah satunya ialah perihal “yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih”, dapat kita simak dalam
“Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”,
Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of
the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
114
Sevitabbāsevitabba
Sutta : Yang Harus Dilatih dan Tidak Boleh Dilatih
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian sebuah khotbah
tentang apa
yang harus dilatih dan apa yang tidak boleh dilatih. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Aku
katakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata
sebagai berikut:
(PEMBABARAN PERTAMA)
3. “Para bhikkhu, Perilaku
jasmani ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya. Perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.
Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang
lainnya. Kecenderungan
pikiran ada dua jenis,
Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan
pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. [46] Perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah satu atau yang
lainnya. Perolehan
pandangan ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya. Perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang
lainnya.”
[Kitab Komentar : Paragraf pertama ini sekadar
memberikan “daftar isi” yang akan dijelaskan dalam batang tubuh sutta ini. Aññamaññaṁ, ”salah satu atau yang lainnya”. kedua ini bersifat saling eksklusif,
dan tidak ada cara untuk menganggapnya sebagai yang lain.]
(PENJELASAN PERTAMA)
4. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terperinci, sebagai berikut:
5. “‘Para bhikkhu, perilaku
jasmani ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, perilaku
jasmani yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku jasmani yang menjadi penyebab
bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup; ia adalah pembunuh, bertangan
darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas
kasih pada makhluk-makhluk hidup. Ia mengambil apa yang tidak diberikan;
ia mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara
mencuri. Ia melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia melakukan
hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu
dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang
memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, dan bahkan dengan mereka yang
mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku
jasmani demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya.
“Dan perilaku jasmani yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, ia
menghindari pembunuhan makhluk hidup, dengan tongkat pemukul dan senjata
disingkirkan, lembut dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada
semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang
tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan;
ia tidak mengambil harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan dengan cara
mencuri. Dengan meninggalkan perbuatan salah dalam kenikmatan indria, ia
menghindari perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia tidak melakukan
hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu
dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang
memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, atau dengan mereka yang mengenakan
kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Perilaku-perilaku
jasmani demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah
satu atau yang lainnya.’
6. “‘Para bhikkhu, perilaku
ucapan ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, perilaku
ucapan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku ucapan yang menjadi penyebab
bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang mengucapkan kebohongan; ketika dipanggil oleh pengadilan, atau
dalam suatu pertemuan, [48] atau di depan sanak saudaranya, atau oleh
perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, dan ditanya sebagai
seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan, katakanlah apa yang engkau
ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan,
‘aku tidak tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’ atau melihat, ia
mengatakan, ‘aku tidak melihat’; dengan penuh kesadaran ia mengatakan
kebohongan demi keselamatan dirinya sendiri, atau demi keselamatan orang lain,
atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi. Ia mengucapkan fitnah;
ia mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan
untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, atau ia mengulangi
kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan
untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia
adalah seorang yang memecah-belah mereka yang rukun, seorang pembuat
perpecahan, yang menikmati perselisihan, bergembira dalam perselisihan,
bersenang dalam perselisihan, pengucap kata-kata yang menciptakan perselisihan.
Ia berkata kasar; ia mengucapkan kata-kata yang kasar, keras,
menyakiti orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak menunjang
konsentrasi. Ia adalah seorang penggosip; ia berbicara di waktu
yang salah, mengatakan apa yang bukan fakta, mengatakan hal yang tidak berguna,
mengatakan yang berlawanan dengan Dhamma dan Disiplin; pada waktu yang salah
ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, melampaui batas,
dan tidak bermanfaat. Perilaku-perilaku
ucapan demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri
seseorang yang melatihnya.
“Dan perilaku ucapan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang, dengan meninggalkan kebohongan, menghindari ucapan salah;
ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, atau di depan
sanak saudaranya, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga
kerajaan, dan ditanya sebagai seorang saksi sebagai berikut: ‘Baiklah, tuan,
katakanlah apa yang engkau ketahui,’ tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku
tidak tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu’; tidak melihat, ia mengatakan,
‘aku tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat’; [49] ia
tidak dengan penuh kesadaran mengatakan kebohongan demi keselamatan dirinya
sendiri, atau demi keselamatan orang lain, atau demi hal-hal remeh yang
bersifat duniawi. Dengan meninggalkan fitnah, ia menghindari fitnah;
ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan
tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga ia
tidak mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain
dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah
ia adalah seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur
persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam
kerukunan, pengucap kata-kata yang menciptakan kerukunan. Dengan
meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan
kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk
dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan
meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang
tepat, mengatakan apa yang merupakan fakta, mengatakan apa yang baik,
membicarakan Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan
kata-kata yang layak diingat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat. Perilaku-perilaku ucapan
demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri
seseorang yang melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah
satu atau yang lainnya.’
7. “‘Perilaku
pikiran ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, perilaku
pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perilaku pikiran yang menjadi penyebab
bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisikondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang bersifat tamak; ia tamak pada kekayaan dan kemakmuran orang
lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi
milikku!’ Atau ia memiliki pikiran permusuhan dan niat membenci [50]
sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini dibunuh dan disembelih, semoga
mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!’ Perilaku-perilaku
pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya.
“Dan perilaku pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang tidak tamak; ia tidak tamak terhadap kekayaan dan
kemakmuran orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang menjadi milik
orang lain menjadi milikku!’ Pikirannya tanpa permusuhan dan ia memiliki
kehendak yang bebas dari kebencian sebagai berikut: ‘Semoga
makhluk-makhluk ini bebas dari pertentangan, penderitaan, dan ketakutan! Semoga
mereka hidup berbahagia!’ Perilaku-perilaku
pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah
satu atau yang lainnya.’
[Kitab Komentar : Walaupun pandangan salah dan
pandangan benar biasanya termasuk dalam perilaku pikiran, dalam sutta ini
diperlihatkan secara terpisah dalam paragraf nomor ke-10 sebagai “perolehan
pandangan.”]
8. “‘Kecenderungan
pikiran ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, kecenderungan
pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat [51] dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi kecenderungan pikiran yang menjadi
penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang tamak dan berdiam dengan pikiran penuh ketamakan; ia memiliki permusuhan
dan berdiam dengan pikiran penuh permusuhan; ia kejam dan berdiam dengan
pikiran penuh kekejaman.1072 Kecenderungan
pikiran demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri
seseorang yang melatihnya.
[Kitab Komentar : Sementara ketamakan dan permusuhan
pada paragraf nomor ke-7 memiliki kekuatan dari keseluruhan perbuatan (kammapatha),
dalam bagian ini tentang kecenderungan pikiran (cittuppāda)
diperlihatkan dalam tahap awal sebagai sekadar watak yang masih belum
berkembang menjadi kehendak yang berkuasa.]
“Dan kecenderungan pikiran yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang tidak tamak dan berdiam dengan pikiran terlepas dari ketamakan;
ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan pikiran terlepas dari
permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan pikiran terlepas dari
kekejaman. Kecenderungan
pikiran demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan:
yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan kecenderungan pikiran
adalah salah satu atau yang lainnya.’
9. “‘Perolehan
persepsi ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perolehan persepsi adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, perolehan
persepsi yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan persepsi yang menjadi penyebab
bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang tamak dan berdiam dengan persepsi penuh ketamakan; ia memiliki
permusuhan dan berdiam dengan persepsi penuh permusuhan; ia kejam dan
berdiam dengan persepsi penuh kekejaman.
Perolehan persepsi demikian adalah penyebab bertambahnya kondisi-kondisi yang
tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri
seseorang yang melatihnya.
“Dan perolehan persepsi yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang tidak tamak dan berdiam dengan persepsi terlepas dari ketamakan;
ia tidak memiliki permusuhan dan berdiam dengan persepsi terlepas dari
permusuhan; ia tidak kejam dan berdiam dengan persepsi terlepas dari
kekejaman. Perolehan
persepsi demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan persepsi ada dua jenis, Aku katakan: yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan persepsi adalah salah
satu atau yang lainnya.’ [52]
10. “‘Perolehan
pandangan ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perolehan pandangan adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, perolehan
pandangan yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan pandangan yang menjadi
penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan
bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya adalah harus dilatih.
“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan,
tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah
atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada
dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang
terlahir kembali secara spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik
dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan
langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan
demikian adalah penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya.
“Dan perolehan pandangan yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Di sini
seseorang menganut pandangan sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang
dipersembahkan, ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari perbuatan
baik dan buruk; ada dunia ini dan ada dunia lain; ada ibu dan ada ayah; ada
makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan
brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri
dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Perolehan pandangan
demikian adalah penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang
yang melatihnya.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan pandangan ada dua jenis, Aku katakan: yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan pandangan adalah
salah satu atau yang lainnya.’
11. “‘Perolehan
kepribadian ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan
perolehan kepribadian adalah salah satu atau yang lainnya.’ Demikianlah dikatakan
oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
[Kitab Komentar : “Perolehan kepribadian” (attabhāvapaṭilābha) di sini
merujuk pada cara kelahiran kembali.]
“Yang Mulia, [53] perolehan
kepribadian yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi perolehan kepribadian yang menjadi penyebab bagi berkurangnya
kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang
bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.
“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk
suatu perolehan kepribadian yang tunduk pada penderitaan, maka kondisi-kondisi
tidak bermanfaat bertambah dan kondisi-kondisi bermanfaat berkurang dalam
dirinya, menghalanginya dari pencapaian kesempurnaan.
[Kitab Komentar : Apariniṭṭhitabhāvāya. Ungkapan ini
mungkin khas pada sutta ini. Penerjemah lain mengemasnya menjadi bhavānaṁ apariniṭṭhitabhāvāya dan menjelaskan: ada empat cara keberadaan individu “yang tunduk pada
penderitaan” (sabyābajjhattabhāvā). Yang pertama adalah kaum duniawi
yang tidak mampu mencapai kesempurnaan kehidupan dalam kehidupan itu; baginya,
sejak saat terlahir kembali, kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat bertambah
dan kondisi-kondisi yang bermanfaat berkurang, dan ia menghasilkan suatu
kepribadian yang disertai oleh penderitaan. Demikian pula pemasuk-arus,
yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali. Bahkan para yang-tidak-kembali
masih belum meninggalkan ketagihan pada penjelmaan, dan dengan demikian masih
belum mencapai kesempurnaan. Individu-individu [yang disebutkan di bawah dalam
teks ini] yang memperoleh kehidupan pribadi “yang bebas dari penderitaan” (abyābajjhattabhāvā)
adalah empat yang sama ketika mereka memasuki kehidupan terakhir di mana mereka
mencapai Kearahantaan. Bahkan kaum duniawi dalam kehidupan terakhirnya mampu
menyempurnakan kehidupannya, seperti halnya kisah Angulimāla dalam sutta lain
dari Majjhima Nikāya. Kehidupan mereka dikatakan bebas dari penderitaan, dan
mereka dikatakan mencapai kesempurnaan.]
“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi
berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk
suatu perolehan kepribadian yang bebas dari penderitaan, maka kondisi-kondisi
tidak bermanfaat berkurang dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah dalam
dirinya, memungkinkannya pencapaian kemuliaan.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Para bhikkhu, perolehan kepribadian ada dua jenis, Aku katakan:
yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perolehan kepribadian
adalah salah satu atau yang lainnya.’
12. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terperinci, seperti demikian.”
(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN PERTAMA)
13. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara
terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan
maknanya secara terperinci, sebagai berikut.
14-20. [54,55] (Dalam
paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor
ke-5 sampai dengan paragraf ke-11, dengan menggantikan “Yang Mulia” menjadi
“Sāriputta” dan “oleh Sang Bhagavā” menjadi “olehKu.”)
21. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara
ringkas, harus dipahami demikian.
(PEMBABARAN KE DUA)
22. “Sariputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis,
Aku katakan: [56] yang
harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada
dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Bau-bauan
yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih
dan yang tidak boleh dilatih. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada
dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek
sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus
dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Objek-objek pikiran yang dikenali oleh
pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh
dilatih.”
[Kitab Komentar : Klausa “Bentuk-bentuk adalah salah
satu atau yang lainnya” tidak digunakan di sini karena perbedaannya bukan
terletak dalam objeknya melainkan dalam pendekatannya
pada objek itu. Bagi
seseorang nafsu dan kekotoran muncul terhadap suatu bentuk tertentu, tetapi
orang lain mengembangkan kebosanan dan ketidak-terikatan sehubungan dengan
bentuk yang sama.]
(PENJELASAN KE DUA)
23. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terprinci, sebagai berikut:
24. “‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis, Aku
katakan: [56] yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah
dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, bentuk-bentuk
yang dikenali oleh mata yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam
diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata
yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya adalah harus dilatih.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Sāriputta, bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata ada dua jenis,
Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’
25. “‘Suara-suara yang dikenali oleh telinga ada dua jenis, Aku katakan’
…
26. “‘Bau-bauan yang dikenali oleh hidung ada dua jenis, Aku katakan’ …
[57]
27. “‘Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ada dua jenis, Aku katakan’ …
28. “‘Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan ada dua jenis, Aku
katakan’ …
29. “‘Objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku
katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah
dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, objek-objek
pikiran yang dikenali oleh pikiran yang menjadi penyebab bagi bertambahnya
kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat
dalam diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi objek-objek pikiran yang dikenali oleh
pikiran yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri
seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran ada dua jenis, Aku
katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’
30. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terperinci, seperti demikian.”
(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN KE DUA)
31. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara
terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan
maknanya secara terperinci, sebagai berikut.
32-37. (Dalam
paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor
ke-24 sampai dengan paragraf nomor ke-29, dengan penggantian kata seperlunya.)
38. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara
ringkas, harus dipahami demikian.
(PEMBABARAN KE TIGA)
39. “Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih. Makanan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus
dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Tempat tinggal ada dua jenis, Aku
katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Desa ada dua jenis,
Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Pemukiman ada dua
jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Kota ada
dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih.
Wilayah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh
dilatih. Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang
tidak boleh dilatih.” [59]
40. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terperinci, sebagai berikut:
41. “‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: [56] yang harus
dilatih dan yang tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, jubah
yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat
dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang
melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi jubah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam
diri seseorang yang melatihnya adalah harus dilatih.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Sāriputta, jubah ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih
dan yang tidak boleh dilatih.’
42. “‘Makanan ada dua jenis, Aku katakan’ …
43. “‘Tempat tinggal ada dua jenis, Aku katakan’ …
44. “‘Desa ada dua jenis, Aku katakan’ …
45. “‘Pemukiman ada dua jenis, Aku katakan’ …
46. “‘Kota ada dua jenis, Aku katakan’ …
47. “‘Wilayah ada dua jenis, Aku katakan’ …
48. “‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang
tidak boleh dilatih.’ Demikianlah dikatakan oleh Sang Bhagavā. Dan sehubungan
dengan apakah hal ini dikatakan?
“Yang Mulia, [pergaulan
dengan] orang-orang yang menjadi penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat dan berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam
diri seseorang yang melatihnya adalah tidak boleh dilatih. Tetapi [pergaulan dengan] orang-orang yang
menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya adalah
harus dilatih.
“Demikianlah, adalah sehubungan dengan hal ini maka Sang Bhagavā
mengatakan: ‘Orang-orang ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan
yang tidak boleh dilatih.’
49. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang
Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara
terperinci, seperti demikian.”
(PENYETUJUAN DAN RANGKUMAN KE TIGA)
50. “Bagus, bagus, Sāriputta! Bagus sekali engkau memahami makna secara
terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas tanpa menjelaskan
maknanya secara terperinci, sebagai berikut.
51-58. (Dalam
paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari paragraf nomor
ke-41 sampai dengan paragraf nomor ke-48, dengan penggantian kata seperlunya.)
[60]
59. “Sāriputta, makna terperinci dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara
ringkas, harus dipahami demikian.
(PENUTUP)
60. “Sariputta, jika seluruh para mulia memahami makna secara terperinci
demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu akan menuntun
menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang lama. Jika
seluruh para brahmana … seluruh para pedagang … seluruh para pekerja memahami
makna secara terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara
ringkas, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka
untuk waktu yang lama. Jika
dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama
dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, memahami makna secara
terperinci demikian dari ucapanKu, yang Kusampaikan secara ringkas, maka itu
akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia ini untuk waktu yang
lama.” [61]
[Kitab Komentar : Mereka yang mempelajari teks dan
komentar atas sutta ini tanpa
berlatih sesuai sutta ini tidak
dapat dikatakan “memahami makna terperinci.” Hanya mereka yang melatihnya
yang dapat dikatakan demikian.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Sāriputta
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi justru
diajarkan untuk menganut pandangan bahwa tidak
ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk, suatu “perolehan pandangan” sebagai penyebab bagi
bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan berkurangnya
kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya, membentuk
suatu “perolehan kepribadian” yang tunduk pada penderitaan yang menghalanginya
dari pencapaian kesempurnaan—kesemuanya dikutip dari Hadis
Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda sendiri,
apakah sang “nabi rasul Allah” terbebas dari perilaku pikiran yang menjadi
penyebab bagi bertambahnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan
berkurangnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam dirinya yang melatihnya? Ia
bersifat tamak, ia tamak pada urusan “selangkangan” maupun terhadap hal-hal dangkal-rendah-tercela
seperti “penghapusan dosa-dosa” dan merampas hak-hak para korbannya atas keadilan.
ia memiliki pikiran permusuhan dan niat membenci sebagai berikut: “Semoga kafir-kafir
ini dibunuh dan disembelih, semoga mereka dipotong, musnah, atau dibasmi!”. Ia serakah
dan berdiam dengan pikiran penuh keserakahan; ia memiliki niat jahat dan
berdiam dengan pikiran penuh kekejaman; ia keji dan berdiam dengan pikiran
penuh “pertumpahan darah” serta intoleran yang melampaui kekerasan fisik. Begitupula
perilaku jasmani, perilaku ucapan, maupun Kecenderungan pikirannya, tercela
serta rendahan, kecondongannya ialah ke alam rendah—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]