Kasta Nabi dan Kasta Umat dalam Agama Samawi Bersifat DILAHIRKAN, Bukan
Dicapai Lewat Usaha Meritokrasi Egaliter
Diskriminasi yang Dilahirkan Bukan Lagi Sekadar Melahirkan Diskriminasi,
Ketidakadilan Agama Samawi
Seseorang menjadi Mulia, karena Perbuatan dan Perjuangannya, bukan karena Kelahiran, Itulah Ajaran Sang Buddha
Question : Alasan mengapa saya tidak cocok, bahkan alergi, terhadap agama samawi, karena ada yang dilahirkan sebagai nabi dan ada yang dilahirkan sebagai umat-pengikut atau orang biasa. Itu adalah diskriminasi yang dilahirkan. Itu sama seperti mereka hendak berkata bahwa bila ada seserang diberi kasta sebagai kasta budak, maka budak dilahirkan ataupun melahirkan budak, tanpa bisa dibebaskan dari perbudakan generasi demi generasi. Bila ada kasta bangsawan, maka bisa jadi ia memang bangsawan sejak dilahirkan dan karena dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, namun apakah ia selamanya stagnan, tidak bisa merosot-menurun ataupun menapak ke tingkat derajat yang lebih tinggi? Sama seperti orang miskin, mungkin ia terlahir miskin, namun apakah artinya ia akan miskin selamanya? Itu menegasikan peran perjuangan. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah Buddha juga dilahirkan sifatnya?
Brief
Answer : Ada seseorang yang secara
mendadak mengklaim dirinya sebagai “nabi utusan Tuhan” (the messenger).
Bukankah itu adalah pertanda “Tuhan” yang patut dikasihani, karena butuh
“penyambung lidah” ataupun semacam “pengantar pos”? Ada juga yang membuat klaim
sepihak bahwa dirinya adalah “the Son of Light”, semata karena
dilahirkan demikian maka ia menuntut dihormati dan dimuliakan oleh orang lain.
Untuk itu, Sang Buddha telah pernah bersabda:
“Pada
manusia tidak ada perbedaan kelahiran yang menjadi tanda khususnya.”
Mereka
semua “minta dihormati” bukan karena usaha pribadi mereka, bukan juga karena
pencapaian ataupun prestasi mereka, bukan juga buah dari perjuangan /
pengabdian mereka, namun semata karena klaim “dilahirkan” demikian, dilahirkan
sebagai “nabi”, sebagai “anak Tuhan”, dan klaim-klaim sepihak lainnya yang
tiada validitas pembuktian. Berdasarkan asas meritokrasi-egaliter, seseorang
dihormati karena hasil perjuangannya, bukan karena “dilahirkan”. Lebih lanjut
lagi, Sang Buddha juga bersabda dengan kutipan syair berikut:
“Yang
meninggalkan semua belenggu manusia
Dan
telah melepaskan belenggu surgawi,
Terlepas
dari segala belenggu di manapun:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
“Yang
meninggalkan kesenangan dan ketidak-puasan,
Yang
sejuk dan tanpa perolehan,
Pahlawan
yang telah melampaui seluruh alam:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
“Yang
tanpa rintangan sama sekali,
Di
depan, di belakang, atau di tengah,
Yang
tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
“Karena
nama dan kasta diberikan
Sebagai
sekadar sebutan di dunia ini;
Berasal-mula
dari konvensi,
Yang
diberikan di sana-sini.
“Bagi
mereka yang tidak mengetahui fakta ini,
Pandangan
salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka;
Tanpa
mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:
‘Ia
adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’
“Seseorang
bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,
Juga
bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana
Seseorang
menjadi brahmana melalui perbuatan,
Seseorang
menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.
“Karena
orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,
Dan
melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli;
Dan
orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka,
Dan
juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.
Dan
orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka,
Dan
melalui perbuatan mereka menjadi prajurit;
Dan
orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,
Dan
juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa.
“Perbuatan
menyebabkan dunia berputar,
Perbuatan
menyebabkan generasi berganti.
Makhluk-makhluk
hidup terikat oleh perbuatan
Bagaikan
roda kereta terikat oleh porosnya.
“Pertapaan,
kehidupan suci,
Pengendalian-diri
dan latihan batin –
Dengan
ini seseorang menjadi brahmana,
Dalam
ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.”
PEMBAHASAN:
Buddha
bukanlah dilahirkan, itu adalah tingkatan-pencapaian keluhuran tertinggi, yang
sempurna, yang bisa dicapai oleh setiap pribadi yang memang memiliki tekad dan
komitmen untuk terlepas dari segala kenikmatan indria maupun keinginan penjelmaan
(keinginan untuk terlahir kembali di alam manapun). Pangeran Siddhatta Gotama
tidak terlahir sebagai seorang Buddha; namun melalu perbuatan, Beliau
merealisasi ke-Buddha-an. Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
98
Vāseṭṭha Sutta : Kepada Vāseṭṭha
[115] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala.
[Kitab Komentar : Teks dari sutta ini tidak termasuk
dalam Majjhima Nikāya edisi Pāli Text Society, karena identik dengan sutta
dengan judul yang sama dalam Sutta Nipata, yang diterbitkan dalam dua versi
yang berbeda oleh Pāli Text Society. Oleh karena itu nomor halaman dalam kurung
siku merujuk pada edisi Sn dari Anderson-Smith.]
2. Pada saat itu sejumlah brahmana kaya dan terkenal sedang menetap di
Icchānangala, yaitu, Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti,
Brahmana Jāṇussoṇi, Brahmana Todeyya, dan para brahmana kaya dan
terkenal lainnya.
3. Kemudian, sewaktu murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan untuk berolah-raga, diskusi berikut
ini terjadi antara mereka: “Bagaimanakah
seseorang disebut seorang brahmana?” Murid brahmana Bhāradvāja berkata: “Jika ia berasal dari kelahiran
baik pada kedua pihak, keturunan dari ibu dan ayah yang murni hingga tujuh
generasi sebelumnya, tidak dapat dibantah dan tanpa cela dalam hal kelahiran,
maka ia adalah seorang brahmana.” Murid brahmana Vāseṭṭha berkata: “Jika
ia bermoral dan mematuhi peraturan-peraturan, maka ia adalah seorang brahmana.”
4. Tetapi murid brahmana Bhāradvāja tidak dapat [116] meyakinkan murid
brahmana Vāseṭṭha, juga murid brahmana Vāseṭṭha tidak dapat meyakinkan murid brahmana Bhāradvāja.
5. Kemudian murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada murid brahmana Bhāradvāja: “Tuan,
Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya,
sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala. Sekarang
suatu berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut:
‘Bahwa Sang
Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati
dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi
orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Marilah, Bhāradvāja, kita pergi menemui Petapa Gotama
dan menanyakan kepada Beliau sehubungan dengan persoalan ini. Sebagaimana
Beliau menjawabnya, demikianlah kita akan mengingatnya.” – “Baik, Tuan,” murid
brahmana Bhāradvāja menjawab.
6. Kemudian kedua murid brahmana itu, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan murid
brahmana Vāseṭṭha berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair sebagai
berikut:
7. Vāseṭṭha
1. “Kami berdua diakui memiliki
Pengetahuan Tiga Veda,
Karena aku adalah murid Pokkharasāti
Dan ia adalah murid Tārukkha.
2. Kami telah mencapai penguasaan penuh
Atas segala yang diajarkan oleh para ahli Veda;
Mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa
Kami setara dengan guru-guru kami dalam hal pembacaan. [117]
3. Perselisihan muncul di antara kami, Gotama,
Sehubungan dengan pertanyaan tentang kelahiran
dan kasta:
Bhāradvāja
mengatakan seseorang adalah brahmana melalui kelahiran,
Sedangkan
aku mengatakan seseorang adalah brahmana melalui perbuatan.
[Kitab Komentar : Di sini kata “kamma” harus dipahami sebagai
perbuatan atau tindakan sekarang, dan bukan perbuatan lampau yang menghasilkan
akibat sekarang sebagai buahnya.]
Ketahuilah hal ini, O Petapa, sebagai perdebatan kami.
4. Karena kami tidak bisa saling meyakinkan satu sama lain,
Atau membuatnya melihat sudut pandang yang lain,
Kami telah mendatangiMu, Tuan,
Yang termasyhur sebagai seorang Buddha.
5. Seperti halnya orang-orang merangkapkan tangannya
Menyembah bulan ketika bulan mulai mengembang,
Demikian pula di dunia ini mereka memuliakan Engkau
Dan menyembah Engkau, Gotama.
6. Maka sekarang kami bertanya kepadaMu, Gotama,
Pembuka mata di dunia ini:
Apakah
seseorang menjadi brahmana melalui kelahiran atau perbuatan?
Jelaskanlah
kepada kami yang tidak mengetahui
Bagaimana
kami seharusnya mengenali seorang brahmana.”
8. Buddha
7. “Aku akan mengajarkan engkau secara berurutan sebagaimana adanya, Vāseṭṭha,” Sang Bhagavā berkata,
“Pengelompokan umum makhluk-makhluk hidup;
Karena banyak jenis kelahiran.
8. Pertama-tama ketahuilah rumput dan pepohonan:
Walaupun tidak memiliki kesadaran-diri,
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
9. Berikutnya adalah ngengat dan kupu-kupu
Dan seterusnya hingga semut dan rayap:
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
10. Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki empat
[dari berbagai jenisnya] baik kecil maupun besar:
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
11. Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya,
Yaitu, kelompok ular berbadan panjang:
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
12. Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air
Habitatnya adalah alam cair:
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
13. Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya
Ketika terbang di angkasa raya:
Kelahirannya adalah tanda khususnya;
Karena banyak jenis kelahiran.
9. 14. “Sementara dalam kelahiran-kelahiran ini
perbedaan-perbedaan
Kelahiran menjadi tanda khususnya,
Pada
manusia tidak ada perbedaan kelahiran
Yang
menjadi tanda khususnya.
15. Tidak di rambut juga tidak di kepala
Tidak di telinga juga tidak di mata
Tidak di mulut juga tidak di hidung
Tidak di bibir juga tidak di kening;
16. Juga tidak di bahu atau di leher
Juga tidak di perut atau di punggung
Juga tidak di bokong atau di dada
Juga tidak di organ kelamin atau cara berhubungan seksual
17. Tidak di tangan juga tidak di kaki
Juga tidak di jari tangan atau di kuku
Tidak di lutut juga tidak di paha
Juga tidak dalam warna kulit atau dalam suara
Di sini kelahiran tidak memiliki tanda khusus
Seperti halnya dengan jenis kelahiran lainnya. [119]
18. Pada tubuh manusia
Tidak ada tanda khusus dapat ditemukan
Perbedaan di antara manusia
Hanyalah
sebutan verbal
[Kitab Komentar : Sāmaññā, hanyalah sebutan
verbal. Di antara binatang-binatang, keberagaman bentuk dari bagian-bagian
tubuh mereka ditentukan oleh spesiesnya (yoni), tetapi hal itu
(perbedaan spesies) tidak terdapat pada tubuh para brahmana dan kasta-kasta
manusia lainnya. Oleh karena itu, perbedaan antara brahmana, khattiya, dan
sebagainya, hanyalah sebutan verbal; diucapkan hanya sekadar sebagai ungkapan
konvensional.]
10. 19. “Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
[Kitab Komentar : Hingga pada titik ini Sang
Buddha telah mengkritik pernyataan Bhāradvāja bahwa kelahiran menjadikan
seseorang sebagai brahmana. Sekarang
Beliau akan mendukung pernyataan Vāseṭṭha bahwa perbuatan menjadikan seseorang sebagai
brahmana. Karena para brahmana masa lampau dan para bijaksana lainnya di dunia
ini tidak akan mengakui kebrahmanaan seseorang yang cacat dalam penghidupan,
moralitas, dan perilaku.]
Melalui pertanian, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang petani, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
20. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
Melalui berbagai keahlian, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang ahli, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
21. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
Melalui barang-barang dagangan, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang pedagang, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
22. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
Dengan melayani orang-orang lain, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang pelayan, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
23. Siapa
yang berpenghidupan di antara manusia
Dengan
mencuri, engkau seharusnya mengetahui
Disebut
seorang perampok, Vāseṭṭha;
Ia
bukanlah seorang brahmana.
24. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
Melalui keterampilan memanah, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang prajurit, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
25. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia
Melalui keterampilan religius, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang pandita, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
26. Siapapun juga yang memerintah di antara manusia
Pemukiman dan kerajaan, engkau seharusnya mengetahui
Disebut seorang penguasa, Vāseṭṭha;
Ia bukanlah seorang brahmana.
11. 27. “Aku
menyebutnya bukan seorang brahmana
Karena
asal-usul dan silsilahnya
Jika
rintangan masih bersembunyi dalam dirinya,
Ia hanyalah seorang yang mengatakan ‘Tuan.’
[Kitab Komentar : Bhavādi. Bho, “Tuan,” adalah cara menyapa yang
biasanya digunakan di antara para brahmana. Mulai titik ini dan seterusnya Sang
Buddha akan mengidentifikasikan brahmana sejati sebagai Arahant. Bait 27-54 di
sini identik dengan Dhammapada 396-423, kecuali pada bait tambahan dalam
Dhammapada 423.]
Siapapun
yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
28. Yang
telah memotong semua belenggu
Dan
tidak lagi terguncang oleh kesedihan,
Yang
telah mengatasi segala ikatan, terlepas:
Ia
Kusebut seorang brahmana. [120]
29. Yang
telah memotong tali pengikat
Juga
tali kendali dan tali kekang,
Yang
palang penghalangnya telah diangkat, yang tercerahkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
30. Yang
menahankan tanpa jejak kebencian
Hinaan,
kekerasan, dan juga penindasan.
Dengan
kekuatan kesabaran tertata baik:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
31. Yang
tidak terbakar oleh kemarahan,
Patuh,
bermoral, dan rendah-hati,
Lembut,
membawa jasmani terakhirnya:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
32. Siapapun
juga, yang bagaikan hujan di atas daun seroja,
[Komentar : Seroja adalah teratai, yang daunnya tidak terbasahi oleh air
hujan karena air tidak melekat pada permukaan daun teratai.]
Atau
biji mostar di atas ujung jarum,
Sama
sekali tidak melekat pada kenikmatan indria
Ia
Kusebut seorang brahmana.
33. Yang
mengetahui di sini di dalam dirinya sendiri
Hancurnya
segala penderitaan
Dengan
beban diturunkan, dan terlepas:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
34. Yang
dengan pemahaman mendalam, bijaksana,
Dapat
mengetahui sang jalan dan bukan sang jalan
Dan
telah mencapai tujuan tertinggi:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
35. Jauh dari para perumah-tangga
Dan mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah,
Yang mengembara tanpa rumah atau keinginan:
Ia Kusebut seorang brahmana.
36. Yang
telah menyingkirkan tongkat pemukul
Terhadap
semua makhluk lemah ataupun kuat,
Yang
tidak membunuh atau menyebabkan makhluk lain terbunuh:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
[Komentar : Bandingkan dengan kisah Ibrahim /
Abraham terhadap puteranya, Ismail / Ishaq, yang tega menyembelih dan
menumpahkan darah (merampas nyawa) sang anak demi sang ayah bisa
bersenang-senang masuk surga. Pengorbanan dalam Buddhisme bersifat “TANPA
DARAH”.]
37. Yang
tidak melawan di antara para lawannya.
Damai
di antara mereka yang terbiasa melakukan kekerasan,
Yang
tidak melekat di antara mereka yang melekat:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
38. Yang
telah menjatuhkan segala nafsu dan kebencian,
Menurunkan
keangkuhan dan sikap meremehkan,
Bagaikan
biji mostar di ujung jarum:
Ia
Kusebut seorang brahmana. [121]
39. Yang
mengucapkan kata-kata yang bebas dari kekasaran,
Penuh
makna, senantiasa jujur,
Yang
tidak menghina siapapun:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
40. Yang
di dunia ini tidak akan pernah mengambil
Apa
yang tidak diberikan, panjang atau pendek,
Kecil
atau besar atau indah atau menjijikkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
41. Yang
tidak lagi memiliki kerinduan
Sehubungan
dengan alam ini dan alam mendatang,
Yang
hidup tanpa kerinduan dan terlepas:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
42. Yang
tidak lagi memiliki kegemaran
Tidak
ada lagi kebingungan karena ia mengetahui;
Yang
telah memperoleh pijakan kokoh dalam Tanpa-Kematian:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
43. Yang
telah melampaui segala ikatan di sini
Dari
perbuatan baik dan buruk,
Tanpa
kesedihan, tanpa noda, dan murni:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
44. Yang,
murni bagaikan bulan tanpa noda,
Bersih
dan jernih, dan yang padanya
Kesenangan
dan penjelmaan telah dihancurkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
45. Yang
telah menyeberangi rawa,
Lumpur,
saṁsāra, segala delusi,
Yang
telah menyeberang ke pantai seberang
Dan
bermeditasi dalam jhāna-jhāna,
Tidak
terganggu dan tidak bingung,
Mencapai
Nibbāna melalui ketidak-melekatan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
46. Yang
telah meninggalkan kenikmatan-kenikmatan indria
Dan
mengembara di sini tanpa rumah
Dengan
keinginan indria dan penjelmaan dihancurkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
47. Yang
juga telah meninggalkan ketagihan,
Dan
mengembara di sini tanpa rumah
Dengan
ketagihan dan penjelmaan dihancurkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
48. Yang
meninggalkan semua belenggu manusia
Dan
telah melepaskan belenggu surgawi,
Terlepas
dari segala belenggu di manapun:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
49. Yang
meninggalkan kesenangan dan ketidak-puasan,
Yang
sejuk dan tanpa perolehan,
Pahlawan
yang telah melampaui seluruh alam:
Ia
Kusebut seorang brahmana. [122]
50. Yang
mengetahui bagaimana makhluk-makhluk meninggal dunia
Untuk
muncul kembali dalam banyak cara,
Ia
tidak mencengkeram, mulia, sadar:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
51. Yang
tujuannya tidak diketahui
Oleh
para dewa, hantu, dan manusia,
Seorang
Arahant dengan noda-noda dihancurkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
52. Yang
tanpa rintangan sama sekali,
Di
depan, di belakang, atau di tengah,
Yang
tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
53. Pemimpin
kelompok, pahlawan sempurna,
Petapa
besar yang kemenangannya telah diraih,
Tanpa
gangguan, dimurnikan, tercerahkan:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
54. Yang
mengetahui banyak kehidupan lampaunya
Dan
melihat alam-alam surga dan alam sengsara,
Yang
telah mencapai hancurnya kelahiran:
Ia
Kusebut seorang brahmana.
12. 55. “Karena
nama dan kasta diberikan
Sebagai
sekadar sebutan di dunia ini;
Berasal-mula
dari konvensi,
Yang
diberikan di sana-sini.
56. Bagi
mereka yang tidak mengetahui fakta ini,
Pandangan
salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka;
Tanpa
mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:
‘Ia
adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’
57. Seseorang
bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,
Juga
bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana
Seseorang
menjadi brahmana melalui perbuatan,
Seseorang
menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.
58. Karena
orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,
[Kitab Komentar : Melalui perbuatan kehendak sekarang yang menyelesaikan
pekerjaan bertani, dan sebagainya.]
Dan
melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli;
Dan
orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka,
Dan
juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.
59. Dan
orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka,
Dan
melalui perbuatan mereka menjadi prajurit;
Dan
orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,
Dan
juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa. [123]
13. 60. “Maka
demikianlah bagaimana yang sungguh bijaksana
Melihat
perbuatan sebagaimana adanya,
Yang
melihat kemunculan bergantungan,
Terampil
dalam perbuatan dan akibatnya.
[Kitab Komentar : Dengan bait ini kata “kamma”
mengalami pergeseran makna yang ditandai oleh kata “kemunculan bergantungan.” “Kamma”
di sini bukan lagi hanya berarti perbuatan sekarang yang menentukan status
sosial seseorang, melainkan perbuatan dalam makna khusus kekuatan yang mengikat
makhluk-makhluk pada lingkaran kehidupan. Pemikiran yang sama ini menjadi lebih
jelas pada bait berikutnya.]
61. Perbuatan
menyebabkan dunia berputar,
Perbuatan
menyebabkan generasi berganti.
Makhluk-makhluk
hidup terikat oleh perbuatan
Bagaikan
roda kereta terikat oleh porosnya.
62. Pertapaan,
kehidupan suci,
Pengendalian-diri
dan latihan batin –
Dengan
ini seseorang menjadi brahmana,
Dalam
ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.
[Kitab Komentar : Bait di atas dan yang berikutnya
sekali lagi merujuk pada Arahant. Akan tetapi, di sini, perbedaannya tidak
terletak pada perbedaan Arahant sebagai seorang yang menjadi suci melalui
perbuatannya dan brahmana melalui kelahiran yang tidak layak menyandang sebutan
itu, melainkan pada perbedaan antara Arahant sebagai seorang yang terbebaskan
dari belenggu perbuatan dan akibat, dan semua makhluk lainnya yang masih
terikat oleh perbuatan mereka pada lingkaran kelahiran dan kematian.]
63. Seseorang
yang memiliki tiga pengetahuan,
Damai,
dengan segala penjelmaan dihancurkan:
Kenalilah
ia demikian, O Vāseṭṭha,
Sebagai
Brahmā dan Sakka bagi mereka yang memahami.”
14. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama!
Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai
cara, bagaikan
menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan
jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar
mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma
dan pada Saṅgha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama
mengingat kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur
hidup.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, apakah umat agama samawi
mampu mengakui sebagaimana adanya, yang terampil dalam perbuatan dan akibatnya,
yang kehidupannya suci, yang penuh pengendalian-diri dan latihan batin, ataukah
sebaliknya, patut dijuluki sebagai “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” alias
kasta paling rendah dan paling hina, manusia-setan yang kesetanan, calon
penghuni neraka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Melalui
perilaku yang mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”, para umat muslim seharusnya menyadari
serta mengetahui bahwa sang “nabi rasul allah” disebut seorang pemabuk dan “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, Ia bukanlah seorang suciwan terlebih seorang yang
bersih dan mulia—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]