Level Tingkat Pencapaian Kultivasi dalam Buddhisme Vs. Kadar Mabuk Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA dalam Agama Samawi-Abrahamik

Nabi Rasul Allah merupakan Pecandu-Berat Dogma KORUP “PENGHAPUSAN DOSA”

Question: Di agama-agama samawi, level tingkatan para umat pemeluknya ialah mulai dari “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 1”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 2”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 3”, dan seterusnya, yakni kadar mabuk dan kecanduan sang umat yang semakin tebal kekotoran batin, kejahatan-kejahatan, serta kemelekatannya terhadap dogma iming-iming “Penghapusan Dosa”. Singkatnya, semakin mereka mendalami agama samawi, semakin tergila-gila yang bersangkutan terhadap dogma korup tersebut, bagaikan hal memabukkan yang adiktif, pemabuk-ringan yang menjelma pemabuk kelas berat. Bagaimana dengan di Agama Buddha, kabarnya ada yang unik dalam Agama Buddha, yakni semacam tingkatan level kultivasi kesucian?

Brief Answer: Sang Buddha mencela kemerosotan, dan hanya memuji peningkatan berupa pencapaian kesucian dan kemurnian batin, yang sifatnya bertahap dan butuh komitmen seorang “pejuang” karena sifatnya “melawan arus”—mengingat fondasi paling awal-dasarnya ialah “terasing dari kenikmatan indria”, barulah pencapaian-pencapaian berupa perkembangan tingkat kemurnian spiritual dapat diraih dan dicapai sebelum menapak ke tingkatan tahap selanjutnya yang lebih tinggi.

PEMBAHASAN:

Tingkatan pencapaian pemurnian-batin (kesucian) dalam Buddhisme, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 106

Āneñjasappāya Sutta : Jalan menuju Ketanpa-gangguan

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama Kammāsadhamma. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

[Kitab Komentar : Āneñja (BBS); ānañja (PTS). Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian meditatif dari jhāna ke-empat melalui empat pencapaian tanpa materi. Tetapi karena dua pencapaian tanpa materi yang tertinggi dibahas secara terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini hanya jhāna ke-empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.” Di sini juga, kata “ketanpa-gangguan” tampaknya hanya merujuk pada jhāna ke-empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah.]

2. “Para bhikkhu, kenikmatan indria adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, [262] persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya, kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan, permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini.

[Kitab Komentar : Konteks yang dimaksudkan “kenikmatan indria”, ialah objek kenikmatan indria dan objek kekotoran indria.]

(KETANPA-GANGGUAN)

3. “Di sana, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang … merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini. Bagaimana jika aku berdiam dengan pikiran berlimpah dan luhur, setelah melampaui dunia dan bertekad kuat dalam pikiran. Ketika aku melakukan demikian, tidak akan ada kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat dalam diriku, dan dengan ditinggalkannya kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat itu maka pikiranku akan menjadi tidak terbatas, tidak terukur, dan terkembang dengan baik.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara pertama yang mengarah pada ketanpa-gangguan.

[Kitab Komentar : “berdiam dengan pikiran berlimpah dan luhur, setelah melampaui dunia dan bertekad kuat dalam pikiran” dapat juga dimaknai sebagai : “setelah melampaui alam-indria dan setelah bertekad dalam pikiran dengan jhāna sebagai objeknya.”

Kitab Komentar menjelaskan frasa “pikirannya memperoleh keyakinan dalam landasan ini” berarti bahwa ia mencapai pandangan terang yang ditujukan pada pencapaian Kearahantaan atau akses pada jhāna ke-empat. Jika ia mencapai akses pada jhāna ke-empat, ini menjadi landasannya untuk mencapai “ketanpa-gangguan,” yaitu, jhāna ke-empat itu sendiri. Tetapi jika ia memperoleh pandangan-terang, maka “ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan” dengan memperdalam pandangan-terang untuk mencapai Kearahantaan. Ungkapan “tekad dengan kebijaksanaan” dapat menjelaskan mengapa ada begitu banyak bagian-bagian berikutnya dari sutta ini, walaupun yang memuncak pada pencapaian sepanjang skala konsentrasi, diungkapkan dalam frasa yang sesuai bagi pengembangan pandangan-terang.

Potensi “kesadaran yang berkembang” bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan, menjelaskan proses kelahiran kembali dari seseorang yang tidak mampu mencapai Kearahantaan setelah mencapai jhāna ke-empat.

“Kesadaran yang berkembang” (savattanika viññāa) adalah kesadaran hasil yang dengannya seseorang terlahir kembali, dan ini memiliki sifat ketanpa-gangguan yang sama dengan kesadaran formatif secara kamma yang dicapai pada jhāna ke-empat. Karena kesadaran jhāna ke-empat yang menentukan kelahiran kembali, orang ini akan terlahir kembali dalam satu alam luhur yang bersesuaian dengan jhāna ke-empat.]

4. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang; apapun bentuk-bentuk materi [yang ada], segala bentuk materi adalah empat unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan dari empat unsur utama.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke-dua yang mengarah pada ketanpa-gangguan. [263]

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa itu adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai jhāna ke-empat. Karena ia memasukkan bentuk materi di antara hal-hal yang harus dilampaui, jika ia mencapai ketanpa-gangguan maka ia mencapai landasan “ruang tanpa batas”, dan jika ia tidak mencapai Kearahantaan maka ia terlahir kembali di alam “ruang tanpa batas”.]

5. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah tidak kekal. Apa yang tidak kekal adalah tidak layak disenangi, tidak layak disambut, tidak layak digenggam.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke-tiga yang mengarah pada ketanpa-gangguan.

[Kitab Komentar mengatakan bahwa itu adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai landasan “ruang tanpa batas”. Jika ia mencapai ketanpa-gangguan, maka ia mencapai landasan “kesadaran tanpa batas” dan ia terlahir kembali di alam itu jika ia tidak mencapai Kearahantaan.’

(LANDASAN KEKOSONGAN)

6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, dan persepsi-persepsi ketanpa-gangguan – semuanya adalah persepsi. Di mana persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang luhur, yaitu, landasan kekosongan.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke pertama yang mengarah pada landasan kekosongan.

[Kitab Komentar : Itu adalah perenungan dari seseorang yang telah mencapai landasan “kesadaran tanpa batas” dan bertujuan untuk mencapai landasan “kekosongan”.]

7. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mempertimbangkan sebagai berikut: ‘ini adalah kosong dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke dua yang mengarah pada landasan kekosongan.

[Kitab Komentar menyebutkan itu sebagai kekosongan dua sisi – ketiadaan “aku” dan “milikku” – dan mengatakan bahwa ajaran landasan kekosongan ini dijelaskan lebih melalui pendangan-terang daripada konsentrasi, pendekatan ini digunakan pada bagian sebelumnya. Pada Majjhima Nikāya 43.33, perenungan ini dikatakan mengarah menuju kebebasan pikiran melalui kehampaan.]

8. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah sesuatu yang menjadi milik siapapun di manapun, [264] juga tidak ada apapun yang dimiliki olehku dalam diri siapapun di manapun.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke-tiga yang mengarah pada landasan kekosongan.

[Kitab Komentar menyebut itu sebagai kehampaan empat sisi dan menjelaskan sebagai berikut: (i) ia tidak melihat dirinya di manapun; (ii) ia tidak melihat dirinya sendiri yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dimiliki oleh orang lain, misalnya, saudara, teman, pelayan, dan sebagainya; (iii) ia tidak melihat diri orang lain; (iv) ia tidak melihat diri orang lain yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang dimilikinya. Terdapat catatan dalam Ms oleh Ñm: “Ungkapan-ungkapan ini [dalam paragraf ini dan paragraf berikutnya] sepertinya adalah slogan atau penggambaran stereotip dari pencapaian kekosongan dan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, terutama bagi non-Buddhis, dan kadang-kadang digunakan sebagai landasan bagi pandangan jasmani-yang-ada [=identitas].” Baca catatan 19 pada Visuddhimagga XXI, 53 oleh Ñm untuk pembahasan lebih lanjut dan referensi lainnya.]

(LANDASAN BUKAN PERSEPSI JUGA BUKAN BUKAN-PERSEPSI)

6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan dan persepsi landasan kekosongan – semuanya adalah persepsi. Di mana persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang luhur, yaitu, landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara yang mengarah pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.”

(NIBBĀNA)

10. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, di sini seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Yang Mulia, apakah bhikkhu itu mencapai Nibbāna?”

[Kitab Komentar memaknai “memperoleh keseimbangan” sebagai “Jika lingkaran kamma belum terakumulasi olehku, maka sekarang tidak ada bagiku lingkaran akibat; jika lingkaran kamma tidak terakumulasi olehku sekarang, maka di masa depan tidak akan ada lingkaran akibat.” “Apa yang ada, apa yang telah terjadi” adalah kelima kelompok unsur kehidupan. Bagian pertama dari formula ini sekali lagi tampaknya adalah formulasi singkat dari pandangan yang dianut oleh non-Buddhis. Beberapa sutta mengidentifikasikan ini sebagai suatu ungkapan bagi pandangan pemusnahan, yang diadaptasi oleh Sang Buddha dengan memberikan makna baru. Untuk kemunculan formula ini di tempat lainnya, baca Sayutta Nikāya iii.55-56, 99, 183, 206; Anguttara Nikāya iv.69-72, v.63. Kitab Komentar menjelaskan bahwa ia memperoleh keseimbangan pandangan terang, tetapi dari paragraf nomor ke-11 sepertinya bahwa yang dimaksudkan adalah juga keseimbangan dari landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.]

Seorang bhikkhu di sini, Ānanda, mungkin mencapai Nibbāna, bhikkhu lainnya di sini mungkin tidak mencapai Nibbāna.

“Apakah sebab dan alasannya, Yang Mulia, mengapa seorang bhikkhu di sini mungkin mencapai Nibbāna, sedangkan seorang bhikkhu lainnya di sini mungkin tidak mencapai Nibbāna?”

“Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, [265] apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia bersenang di dalam keseimbangan itu, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya. Ketika ia melakukan itu, kesadarannya menjadi bergantung padanya dan melekat padanya. Seorang bhikkhu yang melekat, Ānanda, tidak mencapai Nibbāna.”

[Kitab Komentar : Terdapat permainan-kata di sini yang tidak dapat dengan sempurna dipadankan dalam terjemahan. Kata kerja parinibbāyati, diterjemahkan “mencapai Nibbāna,” juga berlaku pada “padamnya api”. Dengan demikian pencapaian Nibbāna adalah “padamnya” api nafsu, kebencian, dan delusi. Upādāna, “kemelekatan,” juga disebut sebagai bahan bakar yang dibutuhkan oleh api itu. Demikianlah kesadaran berlanjut dalam lingkaran kelahiran kembali selama disokong oleh bahan bakar kemelekatan. Ketika kekotoran-kekotoran padam, maka tidak ada lagi bahan bakar bagi kesadaran yang dapat dibakar, dan dengan demikian bhikkhu yang tanpa kemelekatan “padam” oleh pencapaian Nibbāna. Demikianlah bahan bakar paling halus, yaitu objek kemelekatan yang paling halus (seperti yang diperlihatkan dalam percakapan berikutnya), adalah landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.]

11. “Tetapi, Yang Mulia, ketika bhikkhu itu melekat, pada apakah ia melekat?

Pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Ānanda.”

Ketika bhikkhu itu melekat, Yang Mulia, tampaknya ia melekat pada [objek] kemelekatan yang terbaik.”

“Ketika bhikkhu itu melekat, Ānanda, ia melekat pada [objek] kemelekatan yang terbaik; karena ini adalah [objek] kemelekatan yang terbaik, yaitu, landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

[Kitab Komentar : Itu dikatakan dengan merujuk pada kelahiran kembali dari seseorang yang mencapai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Artinya adalah bahwa ia terlahir kembali dalam alam kehidupan yang terbaik, tertinggi.]

12. “Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia tidak bersenang di dalam keseimbangan itu, tidak menyambutnya, dan tidak terus-menerus menggenggamnya. Karena ia tidak melakukan itu, kesadarannya menjadi tidak bergantung padanya dan tidak melekat padanya. Seorang bhikkhu yang tidak melekat, Ānanda, mencapai Nibbāna.

13. “Mengagumkan, Yang Mulia, menakjubkan! Sang Bhagavā, sungguh, telah menjelaskan kepada kami cara menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya. Tetapi, Yang Mulia, apakah pembebasan mulia?”

[Kitab Komentar : Nissāya nissāya oghassa nittharaā, “cara menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya”.  Sang Buddha telah menjelaskan menyeberangi banjir bagi seorang bhikkhu yang menggunakan segala pencapaian dari jhāna ke-tiga hingga pencapaian tanpa materi ke-empat sebagai landasan (untuk mencapai Kearahantaan).

Pertanyaan Ānanda dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan dari Sang Buddha tentang praktik dari meditator pandangan-terang tanpa jhāna (sukkhavipassaka), yang mencapai Kearahantaan tanpa bergantung pada pencapaian jhāna.]

“Di sini, Ānanda, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan, persepsi landasan kekosongan, dan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – ini adalah identitas sejauh jangkauan identitas. Ini adalah Tanpa-Kematian, yaitu, kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan.’1023

[Kitab Komentar : Esa sakkāyo yāvatā sakkāyo, “identitas sejauh jangkauan identitas”. ini adalah identitas pribadi secara keseluruhan – lingkaran tiga alam kehidupan; tidak ada identitas pribadi di luar ini.

Kitab Komentar mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan” adalah Kearahantaan dari meditator pendangan terang tanpa jhāna. Kitab Komentar menambahkan bahwa Kearahantaan disebut “Tanpa-Kematian” karena memiliki rasa Tanpa-Kematian, karena dicapai dengan berlandaskan Nibbāna Tanpa-Kematian.]

14. “Demikianlah, Ānanda, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada ketanpa-gangguan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan kekosongan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Aku telah mengajarkan menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya, Aku telah mengajarkan pembebasan mulia.

15. “Apa yang seharusnya dilakukan bagi para siswanya demi belas kasih oleh seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan dan memiliki belas kasih terhadap mereka, [266] telah Aku lakukan untukmu, Ānanda. Ada bawah pepohonan ini, gubuk-gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ānanda, jangan menunda, agar engkau tidak menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepadamu.”

[Komentar : Dengan demikian, pencapaian tingkat kemurnian batin bersifat tahapan, tiada jalan pintas maupun jalan instan. Setelah Sang Buddha menunjukkan “Sang Jalan”, pada gilirannya tetap saja sang Siswa yang harus berjuang mencapai dengan usahanya sendiri masing-masing.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi diajarkan untuk terus-menerus melekat pada kekotoran-batinnya, hidup di “selokan berlumpur” bagaikan tikus kotor yang gemar hidup di dalam selokan gelap. Mereka merosot, merosot, dan kian merosot sebagai satu-satunya kemungkinan bagi para pemeluk agama samawi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Mengapa para umat agama samawi tersebut, kian merosot dan semakin kian merosot? Karena mereka meneladani “sang nabi” yang kadar atau derajat kemerosotan-moralnya telah tergolong “berat”, dan berupaya meniru “prestasi-kemerosotan”-nya. Silahkan nilai dengan nurani Anda sendiri, kadar mabuk dan kecanduan sang “nabi rasul allah”, apakah belum tergolong sebagai pecandu-berat, pemabuk-berat, serta pendosa-berat sehingga begitu tergila-gila pada dogma KORUP berupa iming-iming “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun dikorupsi)—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]