Nabi Rasul Allah merupakan Pecandu-Berat Dogma KORUP “PENGHAPUSAN DOSA”
Question: Di agama-agama samawi, level tingkatan para umat pemeluknya ialah mulai dari “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 1”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 2”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 3”, dan seterusnya, yakni kadar mabuk dan kecanduan sang umat yang semakin tebal kekotoran batin, kejahatan-kejahatan, serta kemelekatannya terhadap dogma iming-iming “Penghapusan Dosa”. Singkatnya, semakin mereka mendalami agama samawi, semakin tergila-gila yang bersangkutan terhadap dogma korup tersebut, bagaikan hal memabukkan yang adiktif, pemabuk-ringan yang menjelma pemabuk kelas berat. Bagaimana dengan di Agama Buddha, kabarnya ada yang unik dalam Agama Buddha, yakni semacam tingkatan level kultivasi kesucian?
Brief
Answer: Sang Buddha mencela
kemerosotan, dan hanya memuji peningkatan berupa pencapaian kesucian dan
kemurnian batin, yang sifatnya bertahap dan butuh komitmen seorang “pejuang”
karena sifatnya “melawan arus”—mengingat fondasi paling awal-dasarnya ialah “terasing
dari kenikmatan indria”, barulah pencapaian-pencapaian berupa perkembangan tingkat
kemurnian spiritual dapat diraih dan dicapai sebelum menapak ke tingkatan tahap
selanjutnya yang lebih tinggi.
PEMBAHASAN:
Tingkatan pencapaian pemurnian-batin (kesucian)
dalam Buddhisme, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
106
Āneñjasappāya
Sutta : Jalan menuju Ketanpa-gangguan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama
Kammāsadhamma. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut:
“Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
[Kitab Komentar : Āneñja (BBS); ānañja
(PTS). Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian meditatif dari jhāna
ke-empat melalui empat pencapaian tanpa materi. Tetapi karena dua pencapaian tanpa
materi yang tertinggi dibahas secara terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini
hanya jhāna ke-empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah
yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.” Di sini juga, kata
“ketanpa-gangguan” tampaknya hanya merujuk pada jhāna ke-empat dan dua
pencapaian tanpa materi yang lebih rendah.]
2. “Para bhikkhu, kenikmatan
indria adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah
ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan
indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, [262] persepsi indria di sini dan
saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya
adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya,
kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan,
permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa
mulia yang dalam latihan di sini.
[Kitab Komentar : Konteks yang dimaksudkan “kenikmatan
indria”, ialah objek kenikmatan indria dan objek kekotoran indria.]
(KETANPA-GANGGUAN)
3. “Di sana, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang … merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang
dalam latihan di sini. Bagaimana
jika aku berdiam dengan pikiran berlimpah dan luhur, setelah melampaui dunia
dan bertekad kuat dalam pikiran. Ketika aku melakukan demikian, tidak akan ada
kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat dalam diriku, dan dengan
ditinggalkannya kondisi-kondisi pikiran buruk yang tidak bermanfaat itu maka
pikiranku akan menjadi tidak terbatas, tidak terukur, dan terkembang dengan
baik.’ Ketika
ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya
memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh,
ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan
kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah
mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali]
di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara pertama yang
mengarah pada ketanpa-gangguan.
[Kitab Komentar : “berdiam dengan pikiran berlimpah
dan luhur, setelah melampaui dunia dan bertekad kuat dalam pikiran” dapat juga
dimaknai sebagai : “setelah melampaui alam-indria dan setelah bertekad dalam
pikiran dengan jhāna sebagai objeknya.”
Kitab Komentar menjelaskan frasa “pikirannya
memperoleh keyakinan dalam landasan ini” berarti bahwa ia mencapai pandangan
terang yang ditujukan pada pencapaian Kearahantaan atau akses pada jhāna
ke-empat. Jika ia mencapai akses pada jhāna ke-empat, ini menjadi
landasannya untuk mencapai “ketanpa-gangguan,” yaitu, jhāna ke-empat itu
sendiri. Tetapi jika ia memperoleh pandangan-terang, maka “ia bertekad [untuk
mencapainya] dengan kebijaksanaan” dengan memperdalam pandangan-terang untuk
mencapai Kearahantaan. Ungkapan “tekad dengan kebijaksanaan” dapat menjelaskan
mengapa ada begitu banyak bagian-bagian berikutnya dari sutta ini, walaupun
yang memuncak pada pencapaian sepanjang skala konsentrasi, diungkapkan dalam
frasa yang sesuai bagi pengembangan pandangan-terang.
Potensi “kesadaran yang berkembang” bisa berlanjut
[pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan, menjelaskan proses
kelahiran kembali dari seseorang yang tidak mampu mencapai Kearahantaan setelah
mencapai jhāna ke-empat.
“Kesadaran yang berkembang” (saṁvattanikaṁ viññāṇaṁ) adalah kesadaran hasil yang dengannya seseorang
terlahir kembali, dan ini memiliki sifat ketanpa-gangguan yang sama dengan
kesadaran formatif secara kamma yang dicapai pada jhāna ke-empat.
Karena kesadaran jhāna ke-empat yang menentukan kelahiran kembali, orang
ini akan terlahir kembali dalam satu alam luhur yang bersesuaian dengan jhāna
ke-empat.]
4. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan
persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang; apapun bentuk-bentuk materi
[yang ada], segala bentuk materi adalah empat unsur utama dan bentuk materi
yang diturunkan dari empat unsur utama.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara
ini dan sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan
ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia
bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut
[pada kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu,
dinyatakan sebagai cara
ke-dua yang mengarah pada ketanpa-gangguan. [263]
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa itu adalah
perenungan dari seseorang yang telah mencapai jhāna ke-empat. Karena ia
memasukkan bentuk materi di antara hal-hal yang harus dilampaui, jika ia
mencapai ketanpa-gangguan maka ia mencapai landasan “ruang tanpa batas”, dan
jika ia tidak mencapai Kearahantaan maka ia terlahir kembali di alam “ruang
tanpa batas”.]
5. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan
persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini
dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang,
persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada
kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya
adalah tidak kekal. Apa yang tidak kekal adalah tidak layak disenangi, tidak
layak disambut, tidak layak digenggam.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian,
pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan
penuh, ia mencapai ketanpa-gangguan saat ini atau ia bertekad [untuk
mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada
kelahiran kembali] di dalam ketanpa-gangguan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan
sebagai cara
ke-tiga yang mengarah pada ketanpa-gangguan.
[Kitab Komentar mengatakan bahwa itu adalah
perenungan dari seseorang yang telah mencapai landasan “ruang tanpa batas”.
Jika ia mencapai ketanpa-gangguan, maka ia mencapai landasan “kesadaran tanpa
batas” dan ia terlahir kembali di alam itu jika ia tidak mencapai Kearahantaan.’
(LANDASAN KEKOSONGAN)
6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan
persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi di sini
dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan mendatang,
persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi bentuk-bentuk pada
kehidupan-kehidupan mendatang, dan persepsi-persepsi ketanpa-gangguan – semuanya adalah
persepsi. Di mana
persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang luhur, yaitu,
landasan kekosongan.’ Ketika
ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian, pikirannya
memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan penuh, ia
mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan
kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa
kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam
landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke pertama yang
mengarah pada landasan kekosongan.
[Kitab Komentar : Itu adalah perenungan dari
seseorang yang telah mencapai landasan “kesadaran tanpa batas” dan bertujuan
untuk mencapai landasan “kekosongan”.]
7. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia, pergi ke hutan atau ke
bawah pohon atau ke gubuk kosong, mempertimbangkan sebagai berikut: ‘ini adalah kosong dari
diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan sering berdiam demikian,
pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini. Begitu ada keyakinan
penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia bertekad [untuk
mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali]
di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke dua
yang mengarah pada landasan kekosongan.
[Kitab Komentar menyebutkan itu sebagai kekosongan
dua sisi – ketiadaan “aku” dan “milikku” – dan mengatakan bahwa ajaran landasan
kekosongan ini dijelaskan lebih melalui pendangan-terang daripada konsentrasi,
pendekatan ini digunakan pada bagian sebelumnya. Pada Majjhima Nikāya 43.33,
perenungan ini dikatakan mengarah menuju kebebasan
pikiran melalui kehampaan.]
8. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Aku
bukanlah sesuatu yang menjadi milik siapapun di manapun, [264] juga tidak ada
apapun yang dimiliki olehku dalam diri siapapun di manapun.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan
sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini.
Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan kekosongan saat ini atau ia
bertekad [untuk mencapainya] dengan kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, adalah mungkin bahwa kesadaran yang berkembang bisa berlanjut
[pada kelahiran kembali] di dalam landasan kekosongan. Ini, para bhikkhu,
dinyatakan sebagai cara
ke-tiga yang mengarah pada landasan kekosongan.
[Kitab Komentar menyebut itu sebagai kehampaan empat
sisi dan menjelaskan sebagai berikut: (i) ia tidak melihat dirinya di manapun;
(ii) ia tidak melihat dirinya sendiri yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu
yang dapat dimiliki oleh orang lain, misalnya, saudara, teman, pelayan, dan
sebagainya; (iii) ia tidak melihat diri orang lain; (iv) ia tidak melihat diri
orang lain yang dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang dimilikinya. Terdapat
catatan dalam Ms oleh Ñm: “Ungkapan-ungkapan ini [dalam paragraf ini dan
paragraf berikutnya] sepertinya adalah slogan atau penggambaran stereotip dari
pencapaian kekosongan dan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, terutama
bagi non-Buddhis, dan kadang-kadang digunakan sebagai landasan bagi pandangan
jasmani-yang-ada [=identitas].” Baca catatan 19 pada Visuddhimagga XXI, 53
oleh Ñm untuk pembahasan lebih lanjut dan referensi lainnya.]
(LANDASAN BUKAN PERSEPSI JUGA BUKAN BUKAN-PERSEPSI)
6. “Kemudian, para bhikkhu, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini
dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk
materi di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan
mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi
bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan dan
persepsi landasan kekosongan – semuanya
adalah persepsi. Di mana persepsi-persepsi ini lenyap tanpa sisa, yang damai, yang
luhur, yaitu, landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Ketika ia mempraktikkan dengan cara ini dan
sering berdiam demikian, pikirannya memperoleh keyakinan di dalam landasan ini.
Begitu ada keyakinan penuh, ia mencapai landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi saat ini atau ia bertekad [untuk mencapainya] dengan
kebijaksanaan. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, adalah mungkin bahwa
kesadaran yang berkembang bisa berlanjut [pada kelahiran kembali] di dalam
landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini, para bhikkhu,
dinyatakan sebagai cara
yang mengarah pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.”
(NIBBĀNA)
10. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, di sini seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada,
dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa
yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Yang
Mulia, apakah bhikkhu itu mencapai Nibbāna?”
[Kitab Komentar memaknai “memperoleh keseimbangan”
sebagai “Jika lingkaran kamma belum terakumulasi olehku, maka sekarang
tidak ada bagiku lingkaran akibat; jika lingkaran kamma tidak
terakumulasi olehku sekarang, maka di masa depan tidak akan ada lingkaran
akibat.” “Apa yang ada, apa yang telah terjadi” adalah kelima kelompok unsur
kehidupan. Bagian pertama dari formula ini sekali lagi tampaknya adalah
formulasi singkat dari pandangan yang dianut oleh non-Buddhis. Beberapa sutta
mengidentifikasikan ini sebagai suatu ungkapan bagi pandangan pemusnahan, yang
diadaptasi oleh Sang Buddha dengan memberikan makna baru. Untuk kemunculan
formula ini di tempat lainnya, baca Saṁyutta Nikāya iii.55-56, 99, 183, 206; Anguttara
Nikāya iv.69-72, v.63. Kitab Komentar menjelaskan bahwa ia memperoleh
keseimbangan pandangan terang, tetapi dari paragraf nomor ke-11 sepertinya
bahwa yang dimaksudkan adalah juga keseimbangan dari landasan bukan persepsi
juga bukan bukan-persepsi.]
“Seorang
bhikkhu di sini, Ānanda, mungkin mencapai Nibbāna, bhikkhu lainnya di sini
mungkin tidak mencapai Nibbāna.”
“Apakah sebab dan alasannya, Yang Mulia, mengapa seorang bhikkhu di sini
mungkin mencapai Nibbāna, sedangkan seorang bhikkhu lainnya di sini mungkin
tidak mencapai Nibbāna?”
“Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya
tidak ada, dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada
bagiku. Apa yang ada, [265] apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’
Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia bersenang di dalam keseimbangan itu,
menyambutnya, dan
terus-menerus menggenggamnya. Ketika ia melakukan itu, kesadarannya menjadi bergantung padanya dan
melekat padanya. Seorang bhikkhu yang melekat, Ānanda, tidak mencapai Nibbāna.”
[Kitab Komentar : Terdapat permainan-kata di sini
yang tidak dapat dengan sempurna dipadankan dalam terjemahan. Kata kerja parinibbāyati,
diterjemahkan “mencapai Nibbāna,” juga berlaku pada “padamnya api”. Dengan
demikian pencapaian Nibbāna adalah “padamnya” api nafsu, kebencian, dan delusi.
Upādāna, “kemelekatan,” juga disebut
sebagai bahan bakar yang dibutuhkan oleh api itu. Demikianlah kesadaran berlanjut dalam lingkaran
kelahiran kembali selama disokong oleh bahan bakar kemelekatan. Ketika kekotoran-kekotoran padam,
maka tidak ada lagi bahan bakar bagi kesadaran yang dapat dibakar, dan dengan
demikian bhikkhu yang tanpa kemelekatan “padam” oleh pencapaian Nibbāna. Demikianlah bahan bakar paling halus, yaitu
objek kemelekatan yang paling halus (seperti yang diperlihatkan dalam
percakapan berikutnya), adalah landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi.]
11. “Tetapi,
Yang Mulia, ketika bhikkhu itu melekat, pada apakah ia melekat?”
“Pada
landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, Ānanda.”
“Ketika
bhikkhu itu melekat, Yang Mulia, tampaknya ia melekat pada [objek] kemelekatan
yang terbaik.”
“Ketika bhikkhu itu melekat, Ānanda, ia melekat pada [objek] kemelekatan
yang terbaik; karena ini adalah [objek] kemelekatan yang terbaik, yaitu,
landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.
[Kitab Komentar : Itu dikatakan dengan merujuk pada
kelahiran kembali dari seseorang yang mencapai landasan bukan persepsi juga
bukan bukan-persepsi. Artinya adalah bahwa ia terlahir kembali dalam alam
kehidupan yang terbaik, tertinggi.]
12. “Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Sebelumnya tidak ada,
dan sebelumnya tidak ada bagiku; tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku. Apa
yang ada, apa yang telah terjadi, itu yang aku tinggalkan.’ Demikianlah ia memperoleh keseimbangan. Ia
tidak bersenang di dalam keseimbangan itu, tidak menyambutnya, dan tidak
terus-menerus menggenggamnya. Karena
ia tidak melakukan itu, kesadarannya menjadi tidak bergantung padanya dan tidak
melekat padanya. Seorang bhikkhu yang tidak melekat, Ānanda, mencapai Nibbāna.”
13. “Mengagumkan, Yang Mulia, menakjubkan! Sang Bhagavā, sungguh, telah
menjelaskan kepada kami cara menyeberangi banjir dengan bergantung pada
dukungan seseorang atau orang lainnya. Tetapi, Yang Mulia, apakah pembebasan mulia?”
[Kitab Komentar : Nissāya nissāya oghassa
nittharaṇā, “cara menyeberangi banjir dengan bergantung pada dukungan seseorang
atau orang lainnya”. Sang Buddha telah
menjelaskan menyeberangi banjir bagi seorang bhikkhu yang menggunakan segala
pencapaian dari jhāna ke-tiga hingga pencapaian tanpa materi ke-empat
sebagai landasan (untuk mencapai Kearahantaan).
Pertanyaan Ānanda dimaksudkan untuk mendapatkan
penjelasan dari Sang Buddha tentang praktik dari meditator pandangan-terang
tanpa jhāna (sukkhavipassaka), yang mencapai Kearahantaan tanpa
bergantung pada pencapaian jhāna.]
“Di sini, Ānanda, seorang siswa mulia mempertimbangkan sebagai berikut:
‘Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada
kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi-persepsi indria di sini dan saat ini
dan persepsi-persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, bentuk-bentuk materi
di sini dan saat ini dan bentuk-bentuk materi pada kehidupan-kehidupan
mendatang, persepsi bentuk-bentuk di sini dan saat ini dan persepsi
bentuk-bentuk pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi ketanpa-gangguan,
persepsi landasan kekosongan, dan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi – ini
adalah identitas sejauh jangkauan identitas. Ini
adalah Tanpa-Kematian, yaitu, kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan.’1023
[Kitab Komentar : Esa sakkāyo yāvatā sakkāyo,
“identitas sejauh jangkauan identitas”. ini adalah identitas pribadi secara
keseluruhan – lingkaran tiga alam kehidupan; tidak ada identitas pribadi di
luar ini.
Kitab Komentar mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan
“kebebasan pikiran melalui ketidak-melekatan” adalah Kearahantaan dari
meditator pendangan terang tanpa jhāna. Kitab Komentar menambahkan bahwa
Kearahantaan disebut “Tanpa-Kematian” karena memiliki rasa Tanpa-Kematian,
karena dicapai dengan berlandaskan Nibbāna Tanpa-Kematian.]
14. “Demikianlah, Ānanda, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada
ketanpa-gangguan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan
kekosongan, Aku telah mengajarkan cara yang mengarah pada landasan bukan
persepsi juga bukan bukan-persepsi, Aku telah mengajarkan menyeberangi banjir
dengan bergantung pada dukungan seseorang atau orang lainnya, Aku telah
mengajarkan pembebasan mulia.
15. “Apa yang seharusnya dilakukan bagi para siswanya demi belas kasih
oleh seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan dan memiliki belas kasih
terhadap mereka, [266] telah Aku lakukan untukmu, Ānanda. Ada bawah
pepohonan ini, gubuk-gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Ānanda, jangan menunda,
agar engkau tidak menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepadamu.”
[Komentar : Dengan demikian, pencapaian tingkat
kemurnian batin bersifat tahapan, tiada jalan pintas maupun jalan instan. Setelah
Sang Buddha menunjukkan “Sang Jalan”, pada gilirannya tetap saja sang Siswa
yang harus berjuang mencapai dengan usahanya sendiri masing-masing.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi diajarkan
untuk terus-menerus melekat pada kekotoran-batinnya, hidup di “selokan
berlumpur” bagaikan tikus kotor yang gemar hidup di dalam selokan gelap. Mereka
merosot, merosot, dan kian merosot sebagai satu-satunya kemungkinan bagi para
pemeluk agama samawi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Mengapa
para umat agama samawi tersebut, kian merosot dan semakin kian merosot? Karena mereka
meneladani “sang nabi” yang kadar atau derajat kemerosotan-moralnya telah
tergolong “berat”, dan berupaya meniru “prestasi-kemerosotan”-nya. Silahkan nilai
dengan nurani Anda sendiri, kadar mabuk dan kecanduan sang “nabi rasul allah”,
apakah belum tergolong sebagai pecandu-berat, pemabuk-berat, serta pendosa-berat
sehingga begitu tergila-gila pada dogma KORUP berupa iming-iming “PENGHAPUSAN
DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun dikorupsi)—juga masih dikutip
dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]