Pandangan Salah dan Keyakinan Keliru, adalah yang Paling Tercela dan Berbahaya dari Segala Hal

Ngakunya Agama “CINTA DAMAI”, tapi Isi Ajarannya “BUNUH”, “PERANGI”, “PENGGAL”, “PANCUNG”, “TUMPAHKAN DARAH”

Question: Bila ajaran semacam berikut ini disebut “cinta dsmai”, maka yang disebut ajaran “teror!s” akan seperti apakah wujudnya? Hadist Tirmidzi No. 2533 : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”

Brief Answer: Sang Buddha telah pernah bersabda : “pandangan salah adalah yang paling tercela dari segala hal.” Orang dungu, akan condong kepada agama bodoh yang melestarikan pembodohan sifat dungu para umatnya, bagaikan air yang alamiahnya mengalir ke arah BAWAH; dan berlaku pula prinsip sebaliknya. Kontras dengan agama samawi, dikutip dari Sutta Pitaka, Buddhisme mengajarkan:

“Yang Mulia, suatu ketika terdapat seorang brahmana yang sudah tua, jompo, dan terbebani dengan tahun demi tahun, dan ia memiliki istri seorang brahmana muda yang sedang hamil dan menjelang persalinan. Kemudian ia berkata kepada suaminya: ‘Pergilah, brahmana, belilah seekor monyet muda di pasar dan bawa pulang untukku sebagai teman bermain bagi anakku.’ Ia menjawab: ‘Tunggulah, istriku, hingga engkau melahirkan anak. Jika engkau melahirkan anak laki-laki, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor monyet jantan muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu; tetapi jika engkau melahirkan anak perempuan, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor monyet betina muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu.’ Untuk ke dua kalinya ia mengajukan permohonan yang sama dan menerima jawaban yang sama. Untuk ke tiga kalinya ia mengajukan permohonan yang sama. Maka, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia pergi ke pasar, membeli seekor monyet jantan muda, membawanya pulang, dan berkata kepada istrinya: ‘Aku telah membeli monyet jantan muda ini di pasar [385] dan membawanya pulang kepadamu sebagai teman bermain bagi anakmu.’ Kemudian istrinya berkata kepadanya: ‘Pergilah, brahmana, bawalah monyet jantan muda ini kepada Rattapāi putera pencelup kain dan katakan padanya: “Rattapāi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.”’ Kemudian, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia membawa monyet jantan muda itu kepada Rattapāi putera seorang pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, monyet jantan muda ini akan menerima celupan, tetapi bukan pukulan atau penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin para Nigaṇṭha bodoh akan memberikan kegembiraan pada orang-orang bodoh namun bukan pada orang-orang bijaksana, dan tidak akan bertahan terhadap ujian atau penghalusan.

“Kemudian, Yang Mulia, pada kesempatan lain brahmana itu membawa sepasang pakaian baru kepada Rattapāi putera pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāi, aku ingin agar sepasang pakaian baru ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, sepasang pakaian baru ini akan menerima celupan, dan pukulan dan penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, akan memberikan kegembiraan pada orang-orang bijaksana namun bukan pada orang-orang bodoh, dan akan bertahan terhadap ujian dan penghalusan.”

PEMBAHASAN:

Bila Sang Buddha masih hidup, ada umat agama samawi mencoba menantang berdebat Sang Buddha, maka Sang Buddha akan sering berkata kepada mereka akibat dogma-dogma internal agama samawi yang penuh kontradiksi : “Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan.”, sebagaimana dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 56

Upāli Sutta : Kepada Upāli

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nāandā di Hutan Mangga Pāvārika.

2. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang berada di Nāandā bersama sekumpulan besar para Nigaṇṭha. Kemudian, ketika seorang Nigaṇṭha [bernama] Dīgha Tapassī telah menerima dana makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan ia pergi ke Hutan Mangga Pāvārika untuk menemui Sang Bhagavā. [372] Ia saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan ketika ramah-tamah ini selesai, ia berdiri di satu sisi. Ketika berdiri di sana, Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, Tapassī, duduklah jika engkau menginginkan.”

[Kitab Komentar : “Dīgha Tapassī” berarti “Petapa Tinggi,” nama yang diberikan kepadanya karena tinggi badannya.]

3. Ketika hal ini dikatakan, Dīgha Tapassī mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Tapassī, berapa banyakkah jenis perbuatan yang digambarkan oleh Nigaṇṭha Nātaputta sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”

“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta tidak menggunakan penggambaran ‘perbuatan, perbuatan’; Nigaṇṭha Nātaputta biasanya menggunakan penggambaran ‘tongkat, tongkat.’”

[Kitab Komentar : Daṇḍa, tongkat, aslinya berarti potongan kayu atau batang, memperoleh makna tongkat sebagai alat penghukum, dan selanjutnya menjadi bermakna hukuman atau penderitaan itu sendiri, bahkan tanpa merujuk pada suatu alat. Penggunaannya di sini menyiratkan bahwa para Jain menganggap aktivitas jasmani, ucapan, dan pikiran sebagai alat-alat yang dengannya seseorang menyengsarakan dirinya sendiri dengan memperlama belenggunya dalam sasāra dan menyengsarakan makhluk lain dengan menimbulkan kemalangan pada mereka.

Jainisme merupakan paham yang mengajarkan bahwa ada pluralitas entitas jiwa yang terperangkap dalam materi melalui pertalian kamma lampau dan bahwa jiwa itu harus dibebaskan dengan menghabiskan pertalian kamma melalui praktik keras menyiksadiri.]

“Kalau begitu, Tapassī, berapa banyakkah jenis tongkat yang digambarkan oleh Nigaṇṭha Nātaputta sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”

“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan tiga jenis tongkat sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk; yaitu, tongkat jasmani, tongkat ucapan, dan tongkat pikiran.”

[Kitab Komentar : Para Nigaṇṭha menganut bahwa kedua “tongkat” pertama menghasilkan kamma secara tidak bergantung pada keterlibatan pikiran (acittaka) seperti halnya, ketika angin bertiup, dahan-dahan berayun dan dedaunan bergemerisik tanpa adanya inisiatif pikiran.]

“Bagaimanakah, Tapassī, apakah tongkat jasmani adalah satu hal, tongkat ucapan adalah hal lainnya, dan tongkat pikiran adalah hal lainnya lagi?”

“Tongkat jasmani adalah satu hal, Guru Gotama, tongkat ucapan adalah hal lainnya, dan tongkat pikiran adalah hal lainnya lagi.”

“Dari ketiga jenis tongkat ini, Tapassī, yang dianalisa dan dibedakan sedemikian, jenis yang manakah yang oleh Nigaṇṭha Nātaputta digambarkan sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk: tongkat jasmani atau tongkat ucapan atau tongkat pikiran?”

“Dari ketiga jenis tongkat ini, Teman Gotama, yang dianalisa dan dibedakan sedemikian, Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan tongkat jasmani sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”

“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”

“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”

“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”

“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”

“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”

Demikianlah Sang Bhagavā membuat Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mempertahankan pernyataannya sampai tiga kali. [373]

4. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī bertanya kepada Sang Bhagavā: “Dan Engkau, Teman Gotama, berapa banyakkah jenis tongkat yang digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”

“Tapassī, Sang Tathāgata tidak menggunakan penggambaran ‘tongkat, tongkat’; Sang Tathāgata biasanya menggunakan penggambaran ‘perbuatan, perbuatan.’”

“Kalau begitu, Teman Gotama berapa banyakkah jenis perbuatan yang digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”

“Tapassī, Aku menggambarkan tiga jenis perbuatan sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk; yaitu, perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran.”

“Bagaimanakah, Teman Gotama, apakah perbuatan jasmani adalah satu hal, perbuatan ucapan adalah hal lainnya, dan perbuatan pikiran adalah hal lainnya lagi?”

“Perbuatan jasmani adalah satu hal, Tapassī, perbuatan ucapan adalah hal lainnya, dan perbuatan pikiran adalah hal lainnya lagi.”

“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Teman Gotama, yang dianalisa dan dibedakan sedemikian, jenis yang manakah yang olehMu digambarkan sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk: perbuatan jasmani atau perbuatan ucapan atau perbuatan pikiran?”

“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Tapassī, yang dianalisa dan dibedakan sedemikian, Aku menggambarkan perbuatan pikiran sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan perbuatan jasmani dan perbuatan ucapan tidak terlalu tercela.”

[Kitab Komentar : Sang Buddha mengatakan hal tersebut, karena dalam ajaranNya kehendak (cetanā), suatu faktor batin, adalah unsur kamma yang paling penting, dan dengan ketiadaannya – yaitu, dalam kasus aktivitas jasmani atau ucapan yang tidak disengaja – tidak ada kamma yang dihasilkan. Akan tetapi, terdapat juga pendapat bahwa Sang Buddha mengatakan hal ini dengan merujuk pada pandangan salah dengan akibat pasti (niyatā micchā diṭṭhi), dan mengutip Anguttara Nikāya 1:18.3/i.33 sebagai dukungan: “Para bhikkhu, Aku tidak melihat apapun yang begitu tercela seperti halnya pandangan salah. Pandangan salah adalah yang paling tercela dari segala hal.” Jenis-jenis pandangan salah ini dijelaskan dalam Majjhima Nikāya 60.5, 13 dan 21.]

“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”

“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”

“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”

“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”

“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”

“Aku mengatakan perbuatan pikiran, Tapassī.”

Demikianlah Nigaṇṭha Dīgha Tapassī membuat Sang Bhagavā mempertahankan pernyataanNya sampai tiga kali, dan setelah itu ia bangkit dari duduknya dan pergi menghadap Nigaṇṭha Nātaputta.

5. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang duduk bersama sejumlah besar umat awam dari Bālaka yang dipimpin oleh Upāli. Dari kejauhan Nigaṇṭha Nātaputta melihat kedatangan Nigaṇṭha Dīgha Tapassī dan bertanya kepadanya: “Dari manakah engkau datang di siang hari ini, Tapassī?”

“Aku datang dari kediaman Petapa Gotama, Yang Mulia.”

“Apakah engkau berbincang-bincang dengan Petapa Gotama, Tapassī?” [374]

“Aku berbincang-bincang dengan Petapa Gotama, Yang Mulia.”

“Seperti apakah perbincanganmu dengan Beliau, Tapassī?”

Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī menceritakan kepada Nigaṇṭha Nātaputta keseluruhan pembicaraannya dengan Sang Bhagavā.

6. Ketika hal ini dikatakan Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Bagus, bagus, Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

7. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Bagus, bagus, Yang Mulia, [di pihak] Dīgha Tapassī! Yang Mulia Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela. Sekarang, Yang Mulia, aku akan pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Jika Petapa Gotama di hadapanku mempertahankan apa yang Beliau pertahankan di hadapan Yang Mulia Dīgha Tapassī, maka bagaikan seorang kuat mencengkeram seekor domba jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat dapat melemparkan sebuah saringan minuman besar ke dalam tangki air yang dalam, dan dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat dapat memegang tepi saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan mengguncangnya ke segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa Gotama ke bawah [375] dan mengguncang Beliau ke atas dan mengguncang Beliau ke segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun akan mencebur ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Yang Mulia, aku akan pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini.”

[Kitab Komentar : Perihal “bagaikan seorang kuat”, seperti pada Majjhima Nikāya 35.5.]

“Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Karena apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”

8. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”

Untuk ke dua kalinya ... Untuk ke tiga kalinya, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah doktrin Petapa Gotama.”

9. “Baik, Yang Mulia,” perumah-tangga Upāli menjawab, dan ia bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Nigaṇṭha Nātaputta, dengan Nigaṇṭha Nātaputta di sisi kanannya, ia pergi mendatangi Sang Bhagavā di Hutan Mangga Pāvārika. [376] Di sana, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, apakah tadi Nigaṇṭha Dīghā Tapassī datang ke sini?”

“Tadi Nigaṇṭha Dīgha Tapassī datang ke sini, perumah-tangga.”

“Yang Mulia, apakah Engkau berbincang-bincang dengannya?”

“Aku berbincang-bincang dengannya, perumah-tangga.”

“Seperti apakah perbincanganMu dengannya, Yang Mulia?”

Kemudian Sang Bhagavā menceritakan kepada perumah-tangga Upāli keseluruhan pembicaraanNya dengan Nigaṇṭha Dīgha Tapassī.

10. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli berkata kepada Sang Bhagavā: “Bagus, bagus, Yang Mulia, di pihak Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

“Perumah-tangga, jika engkau akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, maka kita mungkin akan terlibat dalam perbincangan mengenai hal ini.”

“Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.”

11. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Di sini beberapa Nigaṇṭha mungkin mengalami kesusahan, menderita, dan sakit keras [dengan penyakit yang membutuhkan perawatan dengan air dingin, yang tidak diperbolehkan oleh sumpahnya] dan ia akan menolak air dingin [walaupun menginginkannya] dan hanya menggunakan air panas [yang diperbolehkan dan dengan demikian menjaga sumpahnya secara jasmani dan ucapan]. Karena tidak mendapatkan air dingin maka ia akan mati. Sekarang, perumah-tangga, di manakah Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan kelahiran kembalinya [terjadi]?”

“Yang Mulia, ada para dewa yang disebut ‘pikiran-terikat’; ia akan terlahir kembali di sana. Mengapakah? Karena ketika ia mati ia masih terikat [oleh kemelekatan] dalam pikiran.”

[Kitab Komentar : Penambahan dalam kurung pada paragraf sebelumnya, disisipkan oleh Bhikkhu Ñāamoli. Bhikkhu Ñāamoli menyimpulkan argumen ini sebagai berikut: Para Nigaṇṭha tidak diperbolehkan menggunakan air dingin (karena mereka menganggapnya mengandung makhluk hidup). Dengan menolak air dingin melalui jasmani dan ucapan ia menjaga perilaku jasmani dan ucapannya tetap murni, tetapi jika dalam pikirannya ia menginginkan air dingin maka perilaku pikirannya tidak murni, dan dengan demikian ia terlahir kembali di antara “para dewa dengan pikiran-terikat” (manosattā devā).]

Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”

“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

[Kitab Komentar : Pada paragraf nomor ke-15, Upāli mengakui bahwa pada momen saat Sang Buddha menyatakan “perhatikanlah bagaimana engkau menjawab!”, ia telah berkeyakinan pada Sang Buddha. Akan tetapi, ia terus membantahNya karena ia ingin mendengarkan berbagai solusi dari Sang Buddha atas persoalan itu.]

12. “Bagaimana menurutmu, [377] perumah-tangga? Di sini beberapa Nigaṇṭha mungkin terkendali dengan empat pengawasan – terkekang oleh segala pengekangan, terjepit oleh segala pengekangan, tercuci oleh segala pengekangan, dan dituntut oleh segala pengekangan - namun ketika berjalan maju dan mundur ia menyebabkan kehancuran banyak makhluk hidup. Apakah akibat yang dijelaskan oleh Nigaṇṭha Nātaputta terhadapnya?”

[Kitab Komentar : Pernyataan “empat pengawasan” berupa “segala pengekangan”, pada Dīgha Nikāya 2.29 / i.57, dianggap berasal dari Nigaṇṭha Nātaputta sendiri sebagai formula doktrin Jain. Bhikkhu Ñāamoli menunjukkan bahwa ini melibatkan permainan kata pada vāri, yang dapat bermakna “air” juga bermakna “mengekang” (dari vāreti, menghalau). Dalam terjemahan penerjemah atas Sāmaññaphala Sutta, The Discourse on the Fruits of recluseship, p.24. penerjemah menerjemahkannya dengan berdasarkan pada komentar Dīgha sebagai berikut: “Seorang Nigaṇṭha terkendali sehubungan dengan segala jenis air; ia memiliki penghindaran segala kejahatan; ia dibersihkan oleh penghindaran segala kejahatan; ia diliputi dengan penghindaran segala kejahatan.” Walaupun pernyataan ini menyampaikan sesuatu mengenai kemurnian moral, namun penekannya berbeda dengan ajaran Buddha.]

“Yang Mulia, Nigaṇṭha Nātaputta tidak menjelaskan apa yang tidak disengaja sebagai sangat tercela.”

Tetapi jika orang itu sengaja, perumah-tangga?

Maka itu adalah sangat tercela, Yang Mulia.”

“Tetapi dalam kelompok manakah [dari ketiga tongkat] Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan kehendak, perumah-tangga?”

Dalam tongkat pikiran, Yang Mulia.”

[Kitab Komentar : Sang Buddha menunjukkan suatu kontradiksi antara ajaran-ajaran Jain bahwa, bahkan dengan tidak adanya kehendak, “tongkat jasmani” merupakan yang paling tercela dibandingkan dengan yang lainnya, dan penegasan mereka bahwa adanya kehendak banyak mengubah karakter moral dari suatu perbuatan.]

Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”

“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

13. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Apakah pemukiman Nāandā ini berhasil dan makmur, apakah ramai dan penuh dengan orang?”

“Benar, Yang Mulia, demikianlah.”

“Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seseorang datang dengan mengacungkan pedang dan berkata: ‘Dalam sesaat, dalam sekejap, aku akan menjadikan seluruh makhluk hidup di pemukiman Nāanda ini menjadi satu tumpukan daging, menjadi satu gunung daging.’ Bagaimana menurutmu, perumah-tangga, mampukah orang itu melakukan hal itu?”

“Yang Mulia, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan lima puluh orang tidak akan mampu menjadikan seluruh makhluk hidup di pemukiman ini menjadi satu tumpukan daging, menjadi satu gunung daging dalam sesaat atau sekejap, apalagi hanya satu orang?”

Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seorang petapa atau brahmana yang memiliki kekuatan batin dan mencapai penguasaan pikiran datang dan berkata: ‘Aku akan menghancurkan pemukiman Nāanda ini menjadi abu dengan satu perbuatan pikiran membenci.’ Bagaimana menurutmu, perumah-tangga, dapatkah petapa atau brahmana itu melakukan hal tersebut?” [378]

Yang Mulia, seorang petapa atau brahmana demikian yang memiliki kekuatan batin dan mencapai penguasaan pikiran akan mampu menghancurkan sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan lima puluh Nāanda menjadi abu dengan satu perbuatan pikiran membenci, apalagi hanya satu Nāanda?

Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”

“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”

14. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Pernahkah engkau mendengar bagaimana hutan-hutan Daṇḍaka, Kālinga, Mejjha, dan Mātanga menjadi hutan?” – “Pernah, Yang Mulia.” – “Karena engkau pernah mendengarnya, bagaimanakah terjadinya hutan-hutan itu?” – “Yang Mulia, aku mendengar bahwa hutan-hutan itu terjadi melalui perbuatan pikiran membenci dari para petapa.”

[Kitab Komentar : Kisah tentang hutan-hutan tersebut, baca Jātaka iii.463, v.133ff., 267; v.144; vi.389; v.267; v.114, 267; Milindapañha 130.]

Perumah-tangga, perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya, juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan. Namun engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”

15. “Yang Mulia, aku merasa puas dan senang sejak perumpamaan Bhagavā yang pertama. Namun demikian, aku pikir aku harus membantah Sang Bhagavā seperti itu karena aku ingin mendengarkan dari Sang Bhagavā berbagai solusi atas permasalahan. Mengagumkan, Yang Mulia! Mengagumkan, Yang Mulia! Sang Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā [379] dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

16. “Selidikilah dengan saksama, perumah-tangga. Baik sekali bagi orang terkenal seperti engkau untuk menyelidiki dengan saksama.”

“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Karena sekte-sekte lain, ketika mendapatkan aku sebagai siswa mereka, akan membawa panji ke seluruh Nāanda mengumumkan: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa kami.’ Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā memberitahukan: ‘Selidikilah dengan saksama, perumah-tangga. Baik sekali bagi orang terkenal seperti engkau untuk menyelidiki dengan saksama.’ Jadi untuk ke dua kalinya, Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

[Komentar : Keyakinan pada Dhamma, dibangun atas hasil penyelidikan, bukan meyakini secara membuta. Demikianlah Sang Buddha mengajarkan kepada para murid-Nya, agar melakukan penyelidikan agar merealisasi untuk dirinya sendiri suatu “pengetahuan secara langsung”. Adapun keyakinan diluar Buddhisme, dibangun atas landasan “apriori”, sebelum melihat maupun menyelidiki keadaan yang sebenarnya.]

17. “Perumah-tangga, keluargamu telah lama menyokong para Nigaṇṭha dan engkau harus mempertimbangkan bahwa dana harus diberikan kepada mereka ketika mereka datang.”

“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Yang Mulia, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengatakan sebagai berikut: ‘Persembahan harus diberikan hanya kepadaKu; persembahan tidak boleh diberikan kepada orang lain. Persembahan harus diberikan hanya kepada para siswaKu; persembahan tidak boleh diberikan kepada para siswa orang lain. Hanya persembahan yang diberikan kepadaKu yang menghasilkan buah, bukan apa yang diberikan kepada orang lain. Hanya persembahan yang diberikan kepada para siswaKu yang menghasilkan buah, bukan apa yang diberikan kepada para siswa orang lain.’ Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā menganjurkan untuk memberikan persembahan kepada para Nigaṇṭha. Bagaimanapun juga kami akan mengetahui waktunya untuk itu, Yang Mulia. Jadi untuk ke tiga kalinya, Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

18. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan kepada perumah-tangga Upāli instruksi bertingkat, yaitu, khotbah tentang memberi, khotbah tentang moralitas, khotbah tentang alam surga; Beliau menjelaskan bahaya, kemunduran, dan kekotoran dalam kenikmatan indria dan berkah dari pelepasan keduniawian. Ketika Beliau mengetahui bahwa pikiran perumah-tangga Upāli [380] telah siap, dapat menerima, bebas dari rintangan, gembira, dan berkeyakinan, Beliau membabarkan kepadanya ajaran yang khas para Buddha: penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan [menuju lenyapnya penderitaan]. Bagaikan sehelai kain bersih dengan semua noda disingkirkan akan dapat menerima warna dengan merata, demikian pula, selagi perumah-tangga Upāli duduk di sana, penglihatan Dhamma yang sangat bersih tanpa noda muncul dalam dirinya: “Segala sesuatu yang tunduk pada kemunculan juga tunduk pada kelenyapan.” Kemudian perumah-tangga Upāli melihat Dhamma, mencapai Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma; ia menyeberang melampaui keragu-raguan, menyingkirkan kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak tergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Sekarang, Yang Mulia, kami harus pergi. Kami sibuk dan banyak urusan yang harus dikerjakan.”

[Kitab Komentar : Penglihatan Dhamma (dhammacakkhu), yang ditandai dengan realisasi pengetahuan langsung “Segala sesuatu yang tunduk pada kemunculan juga tunduk pada kelenyapan”, adalah jalan memasuki-arus. Frasa “Segala sesuatu yang tunduk pada kemunculan juga tunduk pada kelenyapan” menunjukkan modus yang mana sang jalan muncul. Sang jalan menggunakan lenyapnya (Nibbāna) sebagai objeknya, tetapi fungsinya adalah menembus segala kondisi yang terkondisi sebagai tunduk pada kemunculan dan kelenyapan.

 “Dhamma” yang kali ini dirujuk oleh sang perumah-tangga, adalah Empat Kebenaran Mulia. Setelah melihat kebenaran-kebenaran ini untuk dirinya sendiri; ia telah memotong belenggu keragu-raguan dan sekarang memiliki “pandangan yang mulia dan membebaskan dan (yang) menuntun seseorang yang mempraktikkan dengan selaras dengannya menuju kehancuran total penderitaan” (Majjhima Nikāya 48.7).]

“Silakan engkau pergi, perumah-tangga.”

19. Kemudian perumah-tangga Upāli, setelah merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau di sisi kanannya, ia kembali ke rumahnya. Di sana ia memanggil penjaga pintunya sebagai berikut: “Penjaga pintu, mulai hari ini dan seterusnya aku menutup pintuku untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan aku membuka pintuku untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang Bhagavā. Jika ada Nigaṇṭha datang, katakan pada mereka sebagai berikut: ‘Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.’” – “Baik, Tuan,” penjaga pintu itu menjawab.

20. Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendengar: “Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama.” Kemudian ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, aku telah mendengar sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama.’”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli.” [381]

Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:

“Yang Mulia, aku telah mendengar sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama.’”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi …”

“Yang Mulia, haruskah aku pergi dan mencari tahu apakah perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak?”

“Pergilah, Tapassī, dan cari tahu apakah ia telah menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak.”

21. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendatangi rumah perumah-tangga Upāli. Dari jauh penjaga pintu melihatnya datang dan memberitahunya: “Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.”

“Aku tidak membutuhkan persembahan, teman,” ia berkata, dan ia kembali menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, sangat benar bahwa perumahtangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Yang Mulia, engkau tidak menyetujui ketika aku memberitahukan kepadamu: ‘Yang Mulia, aku tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.’ Dan sekarang, Yang Mulia, perumah-tangga Upāli telah dialihkan keyakinannya oleh Petapa Gotama dengan sihir pengalihan keyakinannya!”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli.“

Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:

“Yang Mulia, sangat benar bahwa perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama [382] ... dengan sihir pengalihan keyakinannya!”

“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi … dapat terjadi bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Sekarang aku akan pergi sendiri dan mencari tahu apakah ia telah menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak.”

22. Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan sejumlah besar para Nigaṇṭha mendatangi rumah perumah-tangga Upāli. Dari jauh Penjaga pintu melihatnya datang dan memberitahunya:

“Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini; mereka akan membawakannya untukmu di sini.”

“Penjaga pintu, pergilah temui perumah-tangga Upāli dan katakan kepadanya: ‘Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di gerbang luar bersama sejumlah besar para Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.’”

“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia pergi menemui perumah-tangga Upāli dan memberitahukan kepadanya: ” Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di gerbang luar bersama sejumlah besar para Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.”

“Kalau begitu, penjaga pintu, persiapkan tempat-tempat duduk di aula di pintu tengah.”

“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan setelah ia mempersiapkan tempat-tempat duduk di aula di pintu tengah, ia kembali menghadap perumah-tangga Upāli dan memberitahunya: “Tuan, tempat-tempat duduk telah dipersiapkan di aula di pintu tengah. Silahkan Tuan datang.”

23. Kemudian perumah-tangga Upāli [383] memasuki aula di pintu tengah dan duduk di tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia yang ada di sana. Kemudian ia memberitahu si penjaga pintu: “Sekarang, penjaga pintu, temuilah Nigaṇṭha Nātaputta dan beritahukan kepadanya: ‘Yang Mulia, perumah-tangga Upāli berkata: “Silahkan masuk, Yang Mulia.”’”

“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, perumah-tangga Upāli berkata: ‘Silahkan masuk, Yang Mulia.’” Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan sejumlah besar para Nigaṇṭha memasuki aula di pintu tengah.

24. Sebelumnya, ketika perumah-tangga Upāli dari kejauhan melihat kedatangan Nigaṇṭha Nātaputta, ia biasanya keluar untuk menemuinya, membersihkan tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia yang ada di sana dengan jubah luarnya, dan setelah menata seluruhnya, ia mempersilahkannya duduk di tempat duduk tersebut. Tetapi sekarang, sambil duduk di tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia, ia berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, ada tempat-tempat duduk; duduklah jika kalian menghendaki.”

25. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Perumah-tangga, engkau gila, engkau bodoh. Engkau pergi dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, aku akan membantah doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah kembali dengan terjebak oleh jaring besar ajaranNya. Bagaikan seseorang yang pergi untuk mengebiri orang lain dan kembali dengan dirinya sendiri yang dikebiri, bagaikan seseorang yang pergi untuk mencungkil mata orang lain dan kembali dengan matanya sendiri tercungkil; demikian pula engkau, perumah-tangga, pergi dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, aku akan membantah doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah kembali dengan terjebak oleh jaring besar ajaranNya. Perumah-tangga, engkau telah teralihkan oleh Petapa Gotama dengan sihir pengalihannya!”

26. “Sungguh menguntungkan sekali sihir pengalihan itu, Yang Mulia, sungguh baik sekali sihir pengalihan itu! Yang Mulia, jika sanak saudara dan kerabatku teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan sanak saudara dan kerabatku untuk waktu yang lama. Jika semua para mulia teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan para mulia itu untuk waktu yang lama. [384] Jika semua brahmana ... semua pedagang ... semua pekerja teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan para pekerja itu untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia untuk waktu yang lama. Sehubungan dengan hal ini, Yang Mulia, aku akan memberikan perumpamaan kepadamu; karena beberapa orang bijaksana di sini memahami makna suatu pernyataan melalui perumpamaan.

[Kitab Komentar : Upāli mengatakan “Sungguh menguntungkan sekali sihir pengalihan itu, Yang Mulia, sungguh baik sekali sihir pengalihan itu!” dengan merujuk pada jalan memasuki-arus yang telah ia tembus sebelumnya.]

27. “Yang Mulia, suatu ketika terdapat seorang brahmana yang sudah tua, jompo, dan terbebani dengan tahun demi tahun, dan ia memiliki istri seorang brahmana muda yang sedang hamil dan menjelang persalinan. Kemudian ia berkata kepada suaminya: ‘Pergilah, brahmana, belilah seekor monyet muda di pasar dan bawa pulang untukku sebagai teman bermain bagi anakku.’ Ia menjawab: ‘Tunggulah, istriku, hingga engkau melahirkan anak. Jika engkau melahirkan anak laki-laki, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor monyet jantan muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu; tetapi jika engkau melahirkan anak perempuan, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor monyet betina muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu.’ Untuk ke dua kalinya ia mengajukan permohonan yang sama dan menerima jawaban yang sama. Untuk ke tiga kalinya ia mengajukan permohonan yang sama. Maka, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia pergi ke pasar, membeli seekor monyet jantan muda, membawanya pulang, dan berkata kepada istrinya: ‘Aku telah membeli monyet jantan muda ini di pasar [385] dan membawanya pulang kepadamu sebagai teman bermain bagi anakmu.’ Kemudian istrinya berkata kepadanya: ‘Pergilah, brahmana, bawalah monyet jantan muda ini kepada Rattapāi putera pencelup kain dan katakan padanya: “Rattapāi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.”’ Kemudian, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia membawa monyet jantan muda itu kepada Rattapāi putera seorang pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, monyet jantan muda ini akan menerima celupan, tetapi bukan pukulan atau penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin para Nigaṇṭha bodoh akan memberikan kegembiraan pada orang-orang bodoh namun bukan pada orang-orang bijaksana, dan tidak akan bertahan terhadap ujian atau penghalusan.

“Kemudian, Yang Mulia, pada kesempatan lain brahmana itu membawa sepasang pakaian baru kepada Rattapāi putera pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāi, aku ingin agar sepasang pakaian baru ini diberi warna yang disebut kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, sepasang pakaian baru ini akan menerima celupan, dan pukulan dan penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, akan memberikan kegembiraan pada orang-orang bijaksana namun bukan pada orang-orang bodoh, dan akan bertahan terhadap ujian dan penghalusan.”

28, “Perumah-tangga, masyarakat dan raja mengenalmu sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli adalah seorang siswa dari Nigaṇṭha Nātaputta.’ Siswa siapakah engkau harus kami anggap?”

Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli bangkit dari duduknya, dan merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, [386] ia merangkapkan tangannya sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:

29. “Dalam hal ini, Yang Mulia, dengarlah siswa siapa aku ini:

Beliau adalah Sang Bijaksana yang telah menyingkirkan delusi,

Telah meninggalkan belantara dalam pikiran, pemenang dalam peperangan;

[Kitab Komentar : Perihal “belantara dalam pikiran”, baca Majjhima Nikāya 16.3-7.]

Beliau tidak menderita, dengan pikiran seimbang yang sempurna,

Matang dalam moralitas, berkebijaksanaan mulia;

Melampaui segala godaan, Beliau adalah tanpa noda:

[Kitab Komentar : Teks Pāi versi lainnya ada menuliskan vessantarassa; namun penerjemah menerjemahkan dari teks Pāi vesamantarassa, “melampaui segala godaan”. Sebagian penerjemah mendukung versi teks Pāi yang pertama. Adapun penerjemah lain menjelaskan: “Beliau telah melampaui ketidakbajikan (visama) dari nafsu, dan seterusnya.”]

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Bebas dari kebingungan, Beliau berdiam dalam kepuasan,

Menolak perolehan duniawi, wadah kegembiraan;

Seorang manusia yang telah menyelesaikan tugas pertapaan,

Seorang yang membawa jasmani terakhirnya;

Beliau sama sekali tanpa tanding dan sama sekali tanpa noda:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Beliau bebas dari keragu-raguan dan terampil,

Pendisiplin dan pemimpin yang unggul.

Tidak seorangpun melampaui kualitas-kualitasnya yang gilang-gemilang;

Tanpa bimbang, Beliau adalah penerang;

Setelah mematahkan keangkuhan, Beliau adalah pahlawan:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Sang Pemimpin kelompok, Beliau tidak terukur,

Kedalamamnya tidak terukur, Beliau mencapai keheningan;

[Kitab Komentar : Monapattassa, “mencapai keheningan”. “Keheningan” adalah kebijaksanaan, berhubungan dengan muni, sang bijaksana hening.]

Pemberi keamanan, pemilik pengetahuan,

Beliau berdiri dalam Dhamma, dengan batin terkendali;

Setelah mengatasi segala belenggu, Beliau terbebaskan:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Gajah yang bersih tanpa noda, hidup di tempat terpencil,

Dengan belenggu-belenggu seluruhnya dihancurkan, sepenuhnya terbebas;

Terampil dalam berdiskusi, penuh dengan kebijaksanaan,

Panjinya telah diturunkan, Beliau tidak lagi bernafsu;

[Kitab Komentar : “Panji” adalah keangkuhan berupa pandangan keliru tentang adanya “aku” atau “milik-ku”. Baca Majjhima Nikāya 22.35.]

Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tidak lagi berproliferasi:

[Kitab Komentar : Nippapañcassa, berproliferasi. Interpretasi atas paragraf yang tersamar ini berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā. Bhikkhu Ñāamoli menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā- sankhā sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.”

Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman akibat faktor subjektivitas seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.

Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāananda menjelaskan papañca sebagai “proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari Bhikkhu Ñāamoli menjadi “proliferasi.”

Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku.” Karenanya, pengalaman seseorang dapat begitu personal akibat subjektivitas.

Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”. Kata Pali “menganggap” (maññati), yang berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang – pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan.

Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh “menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap” diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).

Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang bertolak-belakang [dengan kenyataan].”

Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif, lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.

Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).

Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.

Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif, dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.

Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek “anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi, karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.

Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek “penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.

Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum memasukkan kata saññā.

Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca ataupun papañca itu sendiri. Penerjemah sependapat dengan Ñāananda dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan (“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.

Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar tanpa keraguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.”

Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada kekotoran-kekotoran akan berakhir.]

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.                    

Yang terbaik di antara para petapa, tanpa rencana curang,

[Kitab Komentar : Isisattamassa, “Yang terbaik di antara para petapa”. Itu dapat diinterpretasikan sebagai bermakna “petapa ke tujuh” – selaras dengan konsepsi tujuh resi dalam konsepsi brahmanis – dan menganggapnya sebagai merujuk pada status Gotama sebagai Buddha ke tujuh setelah Vipassī (baca Dīgha Nikāya 14.1.4/ii.2). Akan tetapi, lebih masuk akal, bahwa sattama di sini adalah bentuk superlatif dari kata sad, dan dengan demikian kata majemuk itu berarti “yang terbaik di antara para petapa”.]

Memperoleh tiga pengetahuan, mencapai kesucian;

Batinnya dibersihkan, seorang ahli khotbah,

Beliau selalu hidup dalam ketenangan, penemu pengetahuan;

Yang pertama dari semua pemberi, Beliau selalu mampu:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Beliau adalah Yang Mulia, terkembang dalam pikiran,

Yang telah mencapai tujuan dan membabarkan kebenaran;

Memiliki perhatian dan pandangan terang penembusan,

Beliau tidak condong ke depan maupun ke belakang;

[Kitab Komentar : Itu merujuk pada tidak adanya keterikatan dan kejijikan.]

Bebas dari gangguan, mencapai kemahiran:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Beliau telah mengembara dengan benar dan berdiam dalam meditasi,

Tidak terkotori dalam batin, sempurna dalam kemurnian;

Beliau tidak bergantung dan sama sekali tanpa takut,

Hidup terasing, mencapai puncak;

Setelah menyeberang oleh diri sendiri, Beliau menuntun kami menyeberang:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Yang memiliki ketenangan tertinggi, dengan kebijaksanaan luas,

Seorang dengan kebijaksanaan tinggi, hampa dari segala keserakahan;

Beliau adalah Sang Tathāgata, Beliau adalah Yang Termulia,

Seorang yang tanpa tandingan, tidak ada yang menyamaiNya;

Beliau pemberani, terampil dalam segala hal:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

Beliau telah mematahkan ketagihan dan menjadi Yang Tercerahkan,

Menghalau segala kabut, sepenuhnya tanpa noda;

Yang paling layak menerima persembahan, makhluk yang paling perkasa,

Orang yang paling sempurna, melampaui perkiraan;

Terbaik dalam kemegahan, mencapai puncak keagungan:

Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.”

30. “Kapankah engkau menggubah syair pujian kepada Petapa Gotama itu, perumah-tangga?”

“Yang Mulia, misalkan terdapat timbunan berbagai jenis bunga, [387] dan kemudian seorang pembuat kalung bunga yang cerdas atau muridnya ingin merangkainya menjadi kalung bunga berwarna-warni; demikian pula, Yang Mulia, Sang Bhagavā memiliki banyak kualitas yang patut dipuji, ratusan kualitas yang patut dipuji. Siapakah, Yang Mulia, yang tidak akan memuji yang patut dipuji?

31. Kemudian, karena Nigaṇṭha Nātaputta tidak mampu menahankan penghormatan yang diberikan kepada Sang Bhagavā, ia memuntahkan darah panas dari mulutnya di sana dan pada saat itu juga.

[Kitab Komentar : Dukacita yang berat muncul dalam dirinya karena kehilangan penyokong awamnya, dan ini menghasilkan gangguan pada jasmaninya yang mengakibatkan ia memuntahkan darah panas. Setelah memuntahkan darah panas, hanya sedikit makhluk yang dapat bertahan hidup. Demikianlah mereka membawanya ke Pāvā dengan menggunakan tandu, dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, kini tengoklah ajaran agama samawi, dimana letak “suci”-nya selain sekadar nama “Agama SUCI” alih-alih mengaku sebagai “Agama DOSA” karena mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat. Menjelma “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun dikorupsi, disebut “Agama SUCI” dan “SUCIWAN”?—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai dengan akal-sehat serta pikiran jernih Anda sendiri, dimana letak suci dan mulianya sang “nabi rasul allah” yang oleh ibu-ibu pengajian dipuja-puji setinggi langit sebagai manusia paling sempurna, paling baik, paling suci, paling luhur, paling agung, paling terpuji, dan paling bersih untuk diteladani dan dijunjung? Bila “standar moral”-nya ialah makhluk penuh dosa yang kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, maka apakah yang dapat diharapkan dari moralitas para umat pengikutnya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]