Keberuntungan pun Sifatnya DITANAM, bukan Diminta ataupun Diberikan juga Bukan Jatuh dari Langit Tanpa Adanya Sebab yang Mendahului
Beruntung adalah Akibat, Bukan Sebab. Sebabnya ialah Menanam Kebaikan
Question: Dalam perspektif dogma agama samawi, kelebihan dan kekurangan seseorang sifatnya ialah pemberian dari langit, Tuhan, suatu “taken for granted” yang tidak dapat kita tolak juga tidak kita minta. Begitupula menjadi kaya atau miskin, cantik maupun tidak rupawan, lamban dalam kemampuan berpikir maupun cerdas-jenius, ataupun yang punya kecenderungan berpikir jahat maupun yang pola berpikirnya baik-altruistik, kesemua itu adalah “nasib” yang sudah ditakdirkan dari sananya tanpa dapat kita pilih. Bahkan kita sendiri tidak pernah memilih ataupun meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana dengan pandangan dalam Buddhisme?
Brief
Answer: Dari banyak
khotbah-khotbah Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Sutta Pitaka, telah
ternyata sifat-sifat seorang manusia, seperti kelebihan dan kekurangan,
kesucian maupun kejahatan, terpuji maupun tercela, kecerdasan maupun kebodohan,
kerajinan maupun kemalasan, kesemua itu bukanlah pemberian maupun diberikan
oleh pihak eksternal manapun, namun adalah muara dari apa yang kita tanam
sendiri. Kita bukan hanya mewarisi buah dari perbuatan kita, namun juga
mewarisi sifat-sifat kita yang masih terbawa dari kehidupan lampau.
Ada yang
harus kita munculkan, upayakan, tumbuhkan, raih, usahakan, berdayakan,
timbulkan, tanamkan, budidayakan, kelola, bangkitkan, latih, menyalakan,
memulainya, barulah hal-hal positif yang bermanfaat dapat terbentuk dan
terjadi, karenanya tidak terjadi secara sendirinya ataupun “dari sananya”.
Menjadi masuk akal, ketika seseorang di kehidupan lampaunya rajin
mendisiplinkan dirinya, akan terlahir kembali dengan turut mewarisi sifat-sifat
warisan dari kehidupan sebelumnya. Begitupula pencapaian meditasi atau
talenta-terlatih dari kehidupan lampau, akan cenderung diwarisi dalam kehidupan
berikutnya.
Ibarat
aliran air, secara alamiahnya mengalir ke arah BAWAH, bukan ke arah atas. Tanpa
keseriusan, komitmen, dan kesadaran, pikiran benar, pandangan benar, perhatian
benar, konsentrasi benar, perbuatan benar, maupun usaha benar, kita akan
cenderung lengah, sehingga merosot, sebelum kemudian terjerumus dan terjebak.
Contoh sederhananya, Sang Buddha dalam Sutta Pitaka menyebutkan bahwa
mengonsumsi sesuatu zat yang melemahkan kesadaran (memabukkan), dapat membuat
yang bersangkutan kehilangan sifat-sifat baik. Karenanya, sifat-sifat
baik, perlu dirawat dan ditumbuh-kembang-sehatkan. Sebaliknya, sifat-sifat
buruk, perlu dipangkas hingga ke akarnya. Kesemua itu membutuhkan pandangan,
kesadaran, dan perhatian yang benar, disamping perbuatan serta usaha benar.
PEMBAHASAN:
Karena suatu pencapaian bisa dilatih dari sebelumnya tanpa pencapaian
apapun, maka sesuatu kecacatan-karakter pun dapat dikoreksi lewat latihan dan
disiplin-diri serta komitmen berkesinambungan. Meraih pencapaian, stagnan, atau
merosot, itulah tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada seseorang individu
dalam perjalanan hidupnya. Sebaliknya, sesuatu
yang sifatnya adalah “pemberian” dari langit, tidaklah dapat diraih bila tidak
“diberikan”, juga tidaklah dapat merosot sifatnya setelah “diberikan”. Itulah yang membedakan antara “pandanga benar” dan
“pandangan (yang) tidak benar”.
Kita, tanpa terkecuali, punya potensi benih kejahatan untuk dibangkitkan,
dan juga punya potensi benih kebajikan untuk dimuncul-hidupkan. Karenanya,
hidup adalah persoalan “pilihan”, pilihan untuk “mengikuti arus” ataukah
“melawan arus”. Bila sesuatu sifatnya bukanlah “diberikan”
juga bukan “pemberian”, maka kita dapat memperbaiki diri serta meningkatkan
diri,
sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
65
Bhaddāli
Sutta : Kepada Bhaddāli
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” – mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, Aku
makan satu kali sehari. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan
penderitaan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, makanlah satu kali sehari.
Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan penderitaan,
dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”
[Kitab Komentar : “Makan satu kali sehari”, merujuk
pada praktik Sang Buddha dalam hal makan satu kali sehari, hanya sebelum siang.
Menurut Pātimokkha, para bhikkhu dilarang makan dari tengah hari hingga fajar
keesokan harinya, walaupun praktik makan satu kali sehari dianjurkan, namun
bukan keharusan, dimana banyak bhikkhu monastik yang makan dua kali dalam
sehari dalam kurun waktu fajar hingga sebelum siang tengah hari.]
3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Bhaddāli berkata kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, Aku tidak mau makan satu kali sehari; karena jika aku
melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”
[Kitab Komentar : Ia menjadi cemas dan khawatir
apakah ia mampu menjalani kehidupan suci selama seumur hidupnya.]
“Kalau begitu, Bhaddāli, makanlah pada satu bagian di sana di mana engkau
diundang dan bawalah pulang satu bagian untuk dimakan. Dengan memakan demikian,
[438] engkau akan memelihara tubuhmu.”
“Yang Mulia, Aku tidak mau makan dengan cara itu juga; karena jika aku
melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”
[Kitab Komentar : Kecemasannya tetap ada karena ia
masih harus menyelesaikan makanan yang tersisa sebelum tengah hari.]
4. Kemudian, ketika aturan latihan ini ditetapkan oleh Sang Bhagavā,
ketika Sangha para bhikkhu sedang menjalani latihan, Yang Mulia Bhaddāli
menyatakan penolakannya [untuk mematuhi peraturan]. Kemudian Yang Mulia
Bhaddāli tidak menghadap Sang Bhagavā selama tiga bulan [masa vassa], seperti
yang terjadi pada seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang
Guru.
[Kitab Komentar : Itu adalah peraturan yang melarang
makan di luar batas waktu yang selayaknya. Baca Vinaya Pāc 37/iv.35.]
5. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang terlibat dalam pembuatan jubah
untuk Sang Bhagavā, dengan berpikir: “Setelah jubah ini selesai, di akhir tiga
bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan.”
6. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli mendatangi para bhikkhu itu dan saling
bertukar sapa dengan mereka, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia duduk di
satu sisi. Ketika ia telah melakukan hal itu, mereka berkata kepadanya: “Teman
Bhaddāli, jubah ini dibuat untuk Sang Bhagavā. Setelah jubah ini selesai, di
akhir tiga bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan. Mohon,
teman Bhaddāli, perhatikanlah nasihat ini. Jangan biarkan hal ini mempersulitmu
kelak.”
7. “Baik, teman-teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan
setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia,
suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang dungu, bingung, dan bodoh,
ketika suatu peraturan
latihan ditetapkan
oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani
latihan, aku
menyatakan penolakanku [untuk mematuhi peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang
Mulia memaafkan pelanggaranku yang terlihat demikian demi pengendalian di
masa depan.”
8. “Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang
dungu, bingung, dan bodoh, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu,
ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu
[untuk mematuhi peraturan].
9. “Bhaddāli, situasi ini tidak engkau sadari: ‘Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī, dan Sang Bhagavā akan mengenalku sebagai berikut: “Bhikkhu
bernama Bhaddāli ini adalah seorang yang tidak memenuhi latihan dalam
Pengajaran Sang Guru.”’ Situasi ini tidak engkau sadari.
“Juga, situasi ini tidak engkau sadari: ‘Banyak [439] bhikkhu telah
menetap di Sāvatthī selama masa vassa, dan mereka juga akan mengenalku sebagai
berikut: “Bhikkhu bernama Bhaddāli ini adalah seorang yang tidak memenuhi
latihan dalam Pengajaran Sang Guru.”’ Situasi ini juga tidak engkau sadari.
“Juga, situasi ini tidak engkau sadari: ‘Banyak bhikkhunī telah menetap
di Sāvatthī selama masa vassa, dan mereka juga akan mengenalku sebagai berikut:
“Bhikkhu bernama Bhaddāli ini adalah seorang yang tidak memenuhi latihan dalam
Pengajaran Sang Guru.”’ Situasi ini juga tidak engkau sadari.
“Juga, situasi ini tidak engkau sadari: ‘Banyak umat awam laki-laki ...
banyak umat awam perempuan sedang menetap di Sāvatthī, dan mereka juga akan
mengenalku sebagai berikut:
“Bhikkhu bernama Bhaddāli ini adalah seorang yang tidak memenuhi latihan
dalam Pengajaran Sang Guru.”’ Situasi ini juga tidak engkau sadari.
“Juga, situasi ini tidak engkau sadari: ‘Banyak petapa dan brahmana sekte
lain telah menetap di Sāvatthī selama masa vassa, dan mereka juga akan
mengenalku sebagai berikut:
“Bhikkhu bernama Bhaddāli ini, seorang siswa senior dari Petapa Gotama
adalah seorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.”’
Situasi ini juga tidak engkau sadari.
10. “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang
dungu, bingung, dan bodoh, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan oleh Sang
Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku menyatakan
penolakanku [untuk mematuhi peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia
memaafkan pelanggaranku yang terlihat demikian demi pengendalian di masa depan.”
[Komentar : Sifat positif-bermanfaat yang belum
dimiliki, dapat ditanam, dimunculkan, dan dibangkitkan serta dikembangkan.]
“Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang
dungu, bingung, dan bodoh, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu,
ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu
untuk mematuhi peraturan.
11. “Bagaimana menurutmu, Bhaddāli? Misalkan seorang bhikkhu di sini
adalah seorang yang terbebaskan-dalam-kedua-cara, dan Aku berkata kepadanya:
‘Mari, bhikkhu, jadilah papan bagiKu untuk menyeberangi lumpur.’ Akankah ia menyeberang
sendiri, atau akankah ia melakukan sebaliknya, atau akankah ia mengatakan
‘Tidak’?”
[Kitab Komentar : “Seorang yang
terbebaskan-dalam-kedua-cara” dan yang disebut dalam paragraf berikutnya,
merujuk pada tujuh kelompok individu mulia. Dijelaskan pada Majjhima Nikāya
70.14-21.
Perihal “menyeberang sendiri”, beberapa penerjemah
menganggap sankameyya di sini berarti bahwa bhikkhu itu membuat dirinya
menjadi papan, yaitu, berbaring di atas lumpur. Akan tetapi, ini berlawanan
dengan jawaban negatif Bhaddāli. Dengan demikian sepertinya lebih tepat
menganggap kata kerja ini berarti bahwa ia menyeberang sendiri (seperti makna
literal kata kerja itu), dalam mengabaikan perintah Sang Buddha. Kitab Komentar
menunjukkan bahwa Sang Buddha tidak akan pernah memberikan perintah seperti itu
kepada para siswaNya, tetapi hanya mengatakan ini untuk menekankan sikap keras
kepala Bhaddāli.]
“Tidak, Yang Mulia.”
“Bagaimana menurutmu, Bhaddāli? Misalkan seorang bhikkhu di sini adalah
seorang yang terbebaskan-melalui-kebijaksanaan ... seorang saksi-tubuh ...
seorang yang-mencapai-pandangan ... seorang yang-terbebaskan-melalui-keyakinan
... seorang pengikut-Dhamma ... seorang pengikut-keyakinan, dan Aku berkata
kepadanya: ‘Mari, bhikkhu, jadilah papan bagiKu untuk menyeberangi lumpur.’
Akankah ia menyeberang sendiri, atau akankah ia melakukan sebaliknya, atau
akankah ia mengatakan ‘Tidak’?”
“Tidak, Yang Mulia.”
12. “Bagaimana menurutmu, Bhaddāli? Apakah engkau pada saat itu adalah
seorang yang terbebaskan-dalam-kedua-cara atau [440] seorang yang
terbebaskan-melalui-kebijaksanaan atau seorang saksi-tubuh atau seorang
yang-mencapai-pandangan atau seorang yang-terbebaskan-melalui-keyakinan atau
seorang pengikut-Dhamma atau seorang pengikut-keyakinan?”
“Bukan, Yang Mulia.”
“Bhaddāli, pada saat itu tidakkah engkau kosong, hampa, dan keliru?”
13. “Benar, Yang Mulia. Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku,
seperti seorang dungu, bingung, dan bodoh, ketika suatu peraturan latihan
ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku
menyatakan penolakanku untuk mematuhi peraturan. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia
memaafkan pelanggaranku yang terlihat demikian demi pengendalian di masa
depan.”
“Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang
dungu, bingung, dan bodoh, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu,
ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu
untuk mematuhi peraturan. Tetapi karena engkau melihat pelanggaranmu seperti
demikian dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma, maka kami memaafkan engkau;
karena adalah
kemajuan dalam Disiplin Yang-Mulia ketika seseorang melihat pelanggaran seperti
demikian dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma dengan menjalani pengendalian di
masa depan.
14. “Di sini, Bhaddāli, seorang bhikkhu tidak memenuhi latihan dalam
Pengajaran Sang Guru. Ia merenungkan sebagai berikut: ‘Misalkan aku pergi ke
tempat tinggal terpencil: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng
gunung, pekuburan, belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami – mungkin aku dapat mencapai
kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia.’ Ia pergi ke tempat-tempat tinggal tersebut. Sewaktu ia menetap di sana
dengan terasing demikian, Sang Guru mencelanya, teman-temannya yang bijaksana
dalam kehidupan suci yang telah melakukan penyelidikan mencelanya, para dewa
mencelanya, dan ia mencela dirinya sendiri. Karena dicela demikian oleh Sang Guru,
oleh teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci, oleh para dewa, dan
oleh dirinya sendiri, ia tidak mencapai kondisi melampaui manusia, tidak
mencapai keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Mengapakah?
Itu adalah bagaimana seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran
Sang Guru.
15. “Di sini, Bhaddāli, seorang bhikkhu memenuhi latihan dalam Pengajaran
Sang Guru. Ia merenungkan sebagai berikut: ‘Misalkan aku pergi ke tempat
tinggal terpencil: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung,
pekuburan, belantara, [441] ruang terbuka, tumpukan jerami – mungkin aku dapat
mencapai kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia.’ Ia pergi ke tempat-tempat tinggal tersebut. Sewaktu ia menetap di
sana dengan terasing demikian, Sang Guru tidak mencelanya, teman-temannya yang
bijaksana dalam kehidupan suci yang telah melakukan penyelidikan tidak
mencelanya, para dewa tidak mencelanya, dan ia tidak mencela dirinya sendiri.
Karena tidak dicela demikian oleh Sang Guru, oleh teman-temannya yang bijaksana
dalam kehidupan suci, oleh para dewa, dan oleh dirinya sendiri, ia mencapai
kondisi melampaui manusia, mencapai keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia.
[Komentar : Sekalipun berlatih di tempat terasing,
namun mereka yang berlatih harus memandang bahwa Sang Guru, para siswa lainnya,
serta para dewa, dengan “mata dewa” dapat memantau atau menyelidiki perilaku
dan ada atau tidaknya perkembangan dalam latihan yang bersangkutan. Tidak
terkecuali dirinya sendiri mengawasi dan menilai perilaku maupun latihan
dirinya sendiri, apakah berkembang ataukah merosot.]
16. “Dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari keterasingan.
Mengapakah? Itu adalah bagaimana seseorang yang memenuhi latihan dalam
Pengajaran Sang Guru.
[Komentar : Petunjuk dari Sang Buddha tersebut, “Dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama”, petunjuk mana juga
disebutkan dalam sutta-sutta lainnya, sangat jarang dibahas / diungkap oleh
para guru meditasi saat kini. Meditasi, butuh pengkondisian berupa pra-kondisi
seperti yang disebutkan oleh Sang Buddha.]
17. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya sukacita ... ia masuk dan
berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan
... ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat ... Mengapakah? Itu adalah bagaimana
seseorang yang memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.
18. “Ketika pikirannya
yang terkonsentrasi sedemikian murni dan cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat
banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran,
lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran,
empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu
kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak
kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia:
‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku
seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti
itu, [348] umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia
mengingat banyak kehidupan lampau. Mengapakah? Itu
adalah bagaimana [442] seseorang yang memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang
Guru.
19 “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni dan cerah,
tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai
kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan
kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan
mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin. Ia memahami
bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka sebagai
berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak
pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam
kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku
baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan
benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia,
bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui
manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina
dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana
makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka. Mengapakah? Itu adalah bagaimana
seseorang yang memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.
20. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni dan cerah,
tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai
kondisi tanpa-gangguan, ia
mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; ia memahami
sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula
noda-noda’; ia memahami
sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
21. “Ketika
ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan
muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan,
kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak
akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Mengapakah? Itu adalah bagaimana seseorang yang
memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.”
22. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli bertanya: “Yang Mulia, apakah penyebab,
apakah alasan, mengapa mereka mengambil tindakan pada seorang bhikkhu di sini
dengan berulang-ulang menegurnya? Apakah penyebab, apakah alasan, mengapa mereka
tidak mengambil tindakan pada seorang bhikkhu di sini dengan berulang-ulang
menegurnya?”
23. “Di sini, Bhaddāli, seorang bhikkhu adalah seorang pelanggar
peraturan yang melanggar peraturan secara rutin dengan banyak pelanggaran. Ketika
ia dikoreksi oleh para bhikkhu, ia berbicara berputar-putar, mengalihkan
pembicaraan, menunjukkan ketergangguan, kebencian, dan ketidak-senangan; ia
tidak melanjutkan dengan benar, ia tidak menurut, ia tidak membersihkan diri,
ia tidak mengatakan: ‘Aku akan bertindak sedemikian sehingga Sangha puas.’
[443] Para bhikkhu, dengan mempertimbangkan hal ini, berpikir: ‘Baik sekali
jika para mulia memeriksa bhikkhu ini sedemikian sehingga jalannya perkara terhadapnya
tidak diselesaikan terlalu cepat.’ Dan para bhikkhu memeriksa bhikkhu ini
sedemikian sehingga jalannya perkara terhadapnya tidak diselesaikan terlalu
cepat.
24. “Tetapi di sini seorang bhikkhu adalah seorang pelanggar peraturan
yang melanggar peraturan secara rutin dengan banyak pelanggaran. Ketika ia
dikoreksi oleh para bhikkhu, ia tidak berbicara berputar-putar, tidak
mengalihkan pembicaraan, dan tidak menunjukkan ketergangguan, kebencian, dan
ketidaksenangan; ia melanjutkan dengan benar, ia menurut, ia membersihkan diri,
ia mengatakan: ‘Aku akan bertindak sedemikian sehingga Sangha puas.’ Para
bhikkhu, dengan mempertimbangkan hal ini, berpikir: ‘Baik sekali jika para
mulia memeriksa bhikkhu ini sedemikian sehingga jalannya perkara terhadapnya
diselesaikan dengan cepat.’ Dan para bhikkhu memeriksa bhikkhu ini sedemikian
sehingga jalannya perkara terhadapnya diselesaikan dengan cepat.
25. “Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang pelanggar peraturan yang
melanggar peraturan secara tidak sengaja dengan sedikit pelanggaran. Ketika
ia dikoreksi oleh para bhikkhu, ia berbicara berputar-putar, mengalihkan
pembicaraan, menunjukkan ketergangguan, kebencian, dan ketidak-senangan; ia
tidak melanjutkan dengan benar, ia tidak menurut, ia tidak membersihkan diri,
ia tidak mengatakan: ‘Aku akan bertindak sedemikian sehingga Sangha puas.’
[443] Para bhikkhu, dengan mempertimbangkan hal ini, berpikir: ‘Baik sekali
jika para mulia memeriksa bhikkhu ini sedemikian sehingga jalannya perkara
terhadapnya tidak diselesaikan terlalu cepat.’ Dan para bhikkhu memeriksa
bhikkhu ini sedemikian [444] sehingga jalannya perkara terhadapnya tidak
diselesaikan terlalu cepat.
26. “Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang pelanggar peraturan yang
melanggar peraturan secara tidak sengaja dengan sedikit pelanggaran. Ketika
ia dikoreksi oleh para bhikkhu, ia tidak berbicara berputar-putar, tidak
mengalihkan pembicaraan, dan tidak menunjukkan ketergangguan, kebencian, dan
ketidaksenangan; ia melanjutkan dengan benar, ia menurut, ia membersihkan diri,
ia mengatakan: ‘Aku akan bertindak sedemikian sehingga Sangha puas.’ Para
bhikkhu, dengan mempertimbangkan hal ini, berpikir: ‘Baik sekali jika para
mulia memeriksa bhikkhu ini sedemikian sehingga jalannya perkara terhadapnya
diselesaikan dengan cepat.’ Dan para bhikkhu memeriksa bhikkhu ini sedemikian
sehingga jalannya perkara terhadapnya diselesaikan dengan cepat.
27. “Di sini seorang bhikkhu maju selangkah dalam keyakinan dan cinta
kasih. Dalam hal ini para bhikkhu mempertimbangkan sebagai berikut:
‘Teman-teman, bhikkhu ini maju selangkah dalam keyakinan dan cinta kasih.
Jangan sampai ia kehilangan kemajuan dalam keyakinan dan cinta kasih itu,
seperti yang akan terjadi jika kita berulang-ulang menegurnya.’ Misalkan
seseorang hanya memiliki satu mata; maka teman-teman dan sahabatnya, sanak
saudara dan kerabatnya, akan menjaga matanya, dengan berpikir: ‘Jangan sampai
ia kehilangan mata satu-satunya.’ Demikian pula, seorang bhikkhu maju selangkah
dalam keyakinan dan cinta kasih … Jangan sampai ia kehilangan kemajuan dalam
keyakinan dan cinta kasih itu, seperti yang akan terjadi jika kita berulang-ulang
menegurnya.
[Kitab Komentar : ”Seorang bhikkhu maju selangkah
dalam keyakinan dan cinta kasih”, merujuk pada mereka yang memelihara dirinya
dengan keyakinan duniawi dan cinta kasih duniawi terhadap penahbis dan gurunya.
Karena para bhikkhu lain membantunya, ia bertahan dalam kehidupan tanpa rumah
dan mungkin akhirnya menjadi seorang bhikkhu besar yang mencapai pengetahuan
langsung.]
28. “Ini adalah penyebab, ini adalah alasan, mengapa mereka mengambil
tindakan terhadap para bhikkhu di sini dengan berulang-ulang menegurnya. Ini
adalah penyebab, ini adalah alasan, mengapa mereka tidak mengambil tindakan
pada seorang bhikkhu di sini dengan berulang-ulang menegurnya.”
29. “Yang Mulia, apakah
penyebab, apakah alasan, mengapa sebelumnya terdapat [445] lebih sedikit aturan
latihan dan lebih banyak bhikkhu yang mencapai pengetahuan akhir? Apakah penyebab,
apakah alasan, mengapa sekarang terdapat lebih banyak aturan latihan dan lebih
sedikit bhikkhu yang mencapai pengetahuan akhir?”
30. “Demikianlah, Bhaddāli. Ketika
makhluk-makhluk merosot dan Dhamma sejati memudar, maka terdapat lebih banyak
aturan latihan dan lebih sedikit bhikkhu yang mencapai pengetahuan akhir. Sang Guru tidak menetapkan aturan latihan untuk
para siswa hingga hal-hal tertentu yang menjadi landasan bagi noda-noda terbentuk
di sini di dalam Sangha; tetapi
ketika hal-hal tertentu yang menjadi landasan bagi noda-noda telah terbentuk di
sini di dalam Sangha, maka Sang Guru menetapkan aturan latihan bagi para siswa untuk
menghalau hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda.
[Kitab Komentar : “Sang Guru tidak menetapkan aturan
latihan untuk para siswa hingga hal-hal tertentu” merujuk pada prinsip pasti
bahwa Sang Buddha tidak menetapkan aturan latihan hingga sebuah kasus muncul
yang memerlukan penetapan aturan latihan yang sesuai. Baca Vinaya Pār
1/iii.9-10.]
31. “Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda tidak
terbentuk di sini di dalam Sangha hingga Sangha telah membesar; tetapi ketika
Sangha telah membesar, maka hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi
noda-noda terbentuk di sini di dalam Sangha, dan kemudian Sang Guru
menetapkan aturan latihan bagi para siswa untuk menghalau hal-hal tersebut yang
menjadi landasan bagi noda-noda.
“Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda tidak terbentuk di
sini di dalam Sangha hingga Sangha telah mencapai puncak perolehan duniawi;
tetapi ketika Sangha telah mencapai puncak perolehan duniawi, maka hal-hal
tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda terbentuk di sini di dalam
Sangha, dan kemudian Sang Guru menetapkan aturan latihan bagi para siswa untuk
menghalau hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda.
“Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda tidak terbentuk di
sini di dalam Sangha hingga Sangha telah mencapai puncak kemasyhuran; tetapi
ketika Sangha telah mencapai puncak kemasyhuran, maka hal-hal tersebut yang
menjadi landasan bagi noda-noda terbentuk di sini di dalam Sangha, dan kemudian
Sang Guru menetapkan aturan latihan bagi para siswa untuk menghalau hal-hal
tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda.
“Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda tidak terbentuk di
sini di dalam Sangha hingga Sangha telah banyak belajar; tetapi ketika Sangha
telah banyak belajar, maka hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi
noda-noda terbentuk di sini di dalam Sangha, dan kemudian Sang Guru menetapkan
aturan latihan bagi para siswa untuk menghalau hal-hal tersebut yang menjadi
landasan bagi noda-noda.
“Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda tidak terbentuk di
sini di dalam Sangha hingga Sangha telah mencapai kemasyhuran karena telah lama
berdiri; tetapi ketika Sangha telah mencapai kemasyhuran karena telah lama
berdiri, maka hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi noda-noda terbentuk
di sini di dalam Sangha, dan kemudian Sang Guru menetapkan aturan latihan bagi
para siswa untuk menghalau hal-hal tersebut yang menjadi landasan bagi
noda-noda.
32. “Beberapa kali engkau hadir, Bhaddāli, ketika Aku mengajarkan
penjelasan Dhamma melalui perumpamaan kuda muda dari keturunan murni. Ingatkah
engkau akan hal itu, Bhaddāli?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Karena alasan apakah?”
“Yang Mulia, aku telah lama menjadi seorang yang tidak memenuhi
latihan di dalam Pengajaran Sang Guru.”
“Itu
bukan sebab satu-satunya atau alasan satu-satunya. Tetapi, dengan pikiranKu
melingkupi pikiranmu, aku telah tahu sejak lama sebagai berikut: ‘Ketika Aku
sedang mengajarkan Dhamma, orang sesat ini tidak menyimak, tidak memperhatikan,
tidak mencurahkan segenap pikirannya, tidak mendengarkan Dhamma dengan
sungguh-sungguh.’ Namun, Bhaddāli, Aku akan tetap mengajarkan kepadamu
penjelasan Dhamma melalui perumpamaan kuda muda dari keturunan murni. Dengarkan
dan perhatikanlah [446] pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia.” Yang Mulia Bhaddāli menjawab. Sang Bhagavā berkata
sebagai berikut:
33. “Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang cerdas memperoleh
seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama ia membuatnya
terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan
tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya,
ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui
pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam
tindakan tersebut.
[Kitab Komentar : Tasmiṁ ṭhāne parinibbāyati, “menjadi
tenang dalam tindakan tersebut”. Kata kerja yang digunakan di sini adalah
bentuk verbal dari parinibbāna, dan mungkin secara literal, walaupun
salah, diterjemahkan, “Ia mencapai Nibbāna akhir dalam perbuatan itu.”]
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan itu, sang
pelatih kuda lebih jauh membuatnya terbiasa mengenakan perlengkapan kuda. Sewaktu
kuda muda itu dibiasakan mengenakan perlengkapan kuda, karena ia melakukan
sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan,
menggeliat, dan memberontak, namun
melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan itu, sang
pelatih kuda lebih jauh membuatnya terlatih dalam melangkah, dalam berlari
berputar, dalam mengangkat kedua kaki depannya, dalam menderap, dalam
menyerang, dalam kualitas-kualitas kerajaan, dalam budaya kerajaan, dalam kecepatan
tertinggi, dalam ketangkasan tertinggi, dalam kelembutan tertinggi. Sewaktu
kuda muda itu dibiasakan melakukan hal-hal ini, karena ia melakukan sesuatu
yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat,
dan memberontak, namun
melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika
kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan-tindakan itu, sang pelatih
kuda lebih jauh menghadiahinya dengan pijatan dan perawatan. Ketika seekor kuda
muda jantan dari keturunan murni memiliki sepuluh faktor ini, ia layak menjadi
milik raja, layak melayani raja, dan dianggap sebagai salah satu faktor seorang
raja.
34. “Demikian pula, Bhaddāli, ketika seorang bhikkhu memiliki sepuluh
kualitas, ia layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima
persembahan, layak menerima penghormatan, ladang menanam jasa yang tiada
taranya di dunia. Apakah
sepuluh ini? Di sini,
Bhaddāli, seorang
bhikkhu memiliki pandangan benar seorang yang melampaui latihan, kehendak benar
seorang yang melampaui latihan, ucapan benar seorang yang melampaui latihan,
perbuatan benar seorang yang melampaui latihan, penghidupan benar seorang yang
melampaui latihan, usaha benar seorang yang melampaui latihan, [447] perhatian
benar seorang yang melampaui latihan, konsentrasi benar seorang yang melampaui
latihan, pengetahuan benar seorang yang melampaui latihan, dan kebebasan benar
seorang yang melampaui latihan. Ketika seorang bhikkhu memiliki sepuluh kualitas, ia layak menerima
pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima
penghormatan, ladang menanam jasa yang tiada taranya di dunia.”
[Kitab Komentar : “Seorang yang melampaui latihan” (asekha)
adalah seorang Arahant. Kitab Komentar menjelaskan kesepuluh faktor tersebut merupakan
unsur-unsur dari buah Kearahantaan.
“Pengetahuan benar” (sammā ñāṇa) adalah pengetahuan yang
berhubungan dengan buah Kearahantaan, “kebebasan benar” (sammā vimutti)
adalah kebebasan Arahant dari segala kekotoran.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Bhaddāli
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, yang
ditawarkan dalam agama samawi ialah hanya sebatas KEMEROSOTAN, divonis hidup
dan matinya menjelma sebagai “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi,
merendahkan martabatnya sendiri menjelma manusia hina-rendahan yang tercela
serta dangkal—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan para pembaca nilai sendiri dengan akal sehat dan pikiran jernih, apakah
sang “nabi rasul allah” berikut di bawah ini, merupakan seseorang yang
melampaui latihan, yang layak menerima pemberian, layak menerima keramahan,
layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, ladang menanam jasa
yang tiada taranya di dunia?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]