Wahai Allah, Kapankah Kami Pernah Minta untuk Dilahirkan ataupun Diciptakan ke Dunia Ini? Mengapa Engkau Bersikap Seolah-Olah Kami Pernah Memintanya?

Allah adalah Impoten, Bukan “Maha Kuasa”

Kita adalah KORBAN KELAHIRAN, PENUAAN, dan KEMATIAN (PENJELMAAN). Kita Semua merupakan Kurbannya Tuhan Sang Pencipta

Question: Banyak sekali kontradiktif dalam dogma-dogma agama samawi. Anehnya, mereka, para umat agama samawi, tampak begitu dungu, memakannya begitu saja tanpa dipertanyakan, sekalipun dogma-dogmanya satu sama lain saling kontradiktif. Kita ambil contoh dogma agama samawi yang menyatakan bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah, dimana bahkan mereka mengklaim bahwa detak jantung kita setiap detiknya pun diatur oleh Allah. Kalau memang begitu adanya, mengapa orang-orang yang dituduh mencuri atau berzina, harus dihukum oleh manusia lainnya (oleh sesama manusia) dengan dipotong tangan atau dirajam, alih-alih Allah sendiri yang lewat kuasanya membuat mereka jatuh sakit karena stroke atau penghasilannya menjadi berkurang sebagai hukumannya?

Itu saja sudah bukti nyata terjadinya “contradictio in terminis”, yakni dua proposisi yang saling menegasikan atau bertolak-belakang satu sama lainnya. Terus, ayam di rumah si Dani akan bertelur berapa butir pada hari ini, bebek si Rini akan bertelur dan menetas berapa butir pada hari esok, begitupula berapa jumlah daun yang akan menguning dan meranggas pada esok lusa, diatur juga oleh Allah yang tidak boleh tidur ataupun pensiun sekalipun telah menciptakan hukum alam? Itu berarti Tuhan-nya para pemeluk agama samawi lebih dungu daripada programmer yang bisa membuat program autopilot, Tuhan yang “kurang kerjaan”.

Brief Answer: Berkat “Tuhan Sang Pencipta” yang “kesepian” dan “kurang kerjaan”, jadilah kita para manusia korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; kita semua adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Apakah karenanya, kita patut berterimakasih dan bersyukur kepada “Tuhan Sang Pencipta”, maka menyembah dan memuja-mujinya ataukah sebaliknya, berjuang melawan penjelmaan (samsara, tumimbal-lahir) tersebut?

PEMBAHASAN:

Kita adalah KORBAN-nya Tuhan Sang Pencipta—fakta tidak terbantahkan bahwa kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan ataupun diciptakan oleh Tuhan—selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 67

Cātumā Sutta: Di Cātumā

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Cātumā di hutan kemloko (myrobalan, penj.).

2. Pada saat itu lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna datang ke Cātumā untuk menemui Sang Bhagavā. Sewaktu para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para bhikkhu tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan menyimpan mangkuk-mangkuk dan jubah luar mereka, mereka sangat ribut dan gaduh.

3. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Ānanda sebagai berikut: “Ānanda, siapakah orang-orang yang ribut dan gaduh ini? Seseorang akan menganggap mereka adalah para nelayan yang sedang menjajakan ikan.”

[Kitab Komentar : Kevaṭṭā maññe macchavilope. nelayan yang sedang menjajakan ikan. Penerjemah lain memberikan dua penjelasan: yang satu sesuai dengan terjemahan di atas, yang lain menyiratkan “nelayan yang sedang mengangkut ikan.”]

“Yang Mulia, mereka adalah lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna datang ke Cātumā untuk menemui Sang Bhagavā. Dan sewaktu para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para bhikkhu tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan menyimpan mangkuk-mangkuk dan jubah luar mereka, mereka sangat ribut dan gaduh.”

4. “Kalau begitu, Ānanda, beritahu para bhikkhu itu atas namaKu bahwa Sang Guru memanggil para mulia itu.”

“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia mendatangi para bhikkhu itu dan memberitahu mereka: “Sang Guru memanggil para mulia.”

“Baik, teman,” mereka [457] menjawab, dan mereka menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Ketika mereka telah melakukan itu, Sang Bhagavā berkata kepada mereka: “Para bhikkhu, mengapa kalian begitu ribut dan gaduh? Seseorang akan menganggap kalian adalah para nelayan yang sedang menjajakan ikan.”

“Yang Mulia, kami adalah lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna, datang ke Cātumā untuk menemui Sang Bhagavā. Dan sewaktu kami, para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para bhikkhu tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan menyimpan mangkuk-mangkuk dan jubah luar kami, kami sangat ribut dan gaduh.”

5. “Pergilah, para bhikkhu, Aku membubarkan kalian. Kalian tidak boleh menetap di dekatKu.”

“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab, dan mereka bangkit dari duduk mereka, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau di sisi kanan mereka, mereka meletakkan barang-barang di tempat tinggal, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luar, mereka pergi.

6. Pada saat itu para Sakya di Cātumā sedang berkumpul di aula pertemuan mereka untuk suatu urusan. Dari jauh melihat kedatangan para bhikkhu, mereka mendatangi para bhikkhu itu dan bertanya: “Kemana kalian akan pergi, Para Mulia?”

“Teman-teman, Sangha para bhikkhu telah dibubarkan oleh Sang Bhagavā.”

“Kalau begitu silahkan para mulia duduk sebentar. Mungkin kami mampu mengembalikan kepercayaanNya.”

“Baik, teman-teman,” mereka menjawab.

7. Kemudian para Sakya dari Cātumā mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan berkata:

“Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā membantu Sangha para bhikkhu saat ini seperti yang biasa Beliau lakukan di masa lalu. Yang Mulia, terdapat para bhikkhu baru di sini, baru saja meninggalkan keduniawian, baru saja mendatangi Dhamma dan Disiplin ini. Jika mereka tidak berkesempatan untuk menemui Sang Bhagavā, maka mungkin akan terjadi perubahan atau peralihan dalam diri mereka. Yang Mulia, seperti halnya sebatang tunas muda yang tidak mendapatkan air maka akan terjadi perubahan dan peralihan pada tunas itu, demikian pula, Yang Mulia, terdapat [458] para bhikkhu baru di sini, baru saja meninggalkan keduniawian, baru saja mendatangi Dhamma dan Disiplin ini. Jika mereka tidak berkesempatan untuk menemui Sang Bhagavā, maka mungkin akan terjadi perubahan atau peralihan dalam diri mereka. Yang Mulia, seperti halnya seekor anak sapi yang tidak melihat induknya maka akan terjadi perubahan dan peralihan dalam dirinya, demikian pula, Yang Mulia, terdapat para bhikkhu baru di sini, baru saja meninggalkan keduniawian, baru saja mendatangi Dhamma dan Disiplin ini. Jika mereka tidak berkesempatan untuk menemui Sang Bhagavā, maka mungkin akan terjadi perubahan atau peralihan dalam diri mereka. Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā membantu Sangha para bhikkhu saat ini seperti yang biasa Beliau lakukan di masa lalu.”

8. Kemudian dengan pikirannya Brahmā Sahampati mengetahui pikiran Sang Bhagavā, maka secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, ia lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan Sang Bhagavā. Kemudian ia merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, dan merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā, ia berkata:

[Kitab Komentar : Makhluk Brahmā dari alam Brahmā tersebut, adalah Brahmā Sahampati yang memohon kepada Sang Buddha yang baru tercerahkan untuk mengajarkan Dhamma kepada dunia. Baca Majjhima Nikāya 26.20.]

9. “Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; ... (seperti pada paragraf nomor ke-7) ... [459] seperti yang biasa Beliau lakukan di masa lalu.”

10. Orang-orang Sakya dari Cātumā dan Brahmā Sahampati berhasil mengembalikan kepercayaan Sang Bhagavā dengan perumpamaan tunas dan anak sapi.

11. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Bangkitlah, teman-teman, ambil mangkuk dan jubah luar kalian. Kepercayaan Sang Bhagavā telah dipulihkan oleh orang-orang Sakya dari Cātumā dan Brahmā Sahampati dengan perumpamaan tunas dan anak sapi.”

12. “Baik, teman,” mereka menjawab dan, bangkit dari duduk mereka, dengan membawa mangkuk dan jubah luar, mereka menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta: “Bagaimana menurutmu, Sāriputta, ketika Sangha para bhikkhu Kububarkan?”

“Yang Mulia, aku berpikir sebagai berikut: ‘Sangha para bhikkhu telah dibubarkan oleh Sang Bhagavā. Sang Bhagavā sekarang akan berdiam dengan tidak melakukan apa-apa, menekuni kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini; dan kami juga sekarang akan berdiam dengan tidak melakukan apa-apa, menekuni kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.”

“Hentikan, Sāriputta, hentikan! Jangan engkau memunculkan pikiran seperti itu lagi.”

[Kitab Komentar : Dalam hal ini YM. Sāriputta bersalah karena tidak menyadari tanggung-jawabnya, karena Sangha adalah tanggung jawab kedua siswa utama. Demikianlah Sang Buddha menegurnya tetapi memuji YM. Moggallāna, yang menyadari tanggung-jawabnya.]

13. Kemudian Sang Bhagavā bertanya kepada Yang Mulia Mahā Moggallāna: “Bagaimana menurutmu, Moggallāna, ketika Sangha para bhikkhu Kububarkan?”

“Yang Mulia, aku berpikir sebagai berikut: ‘Sangha para bhikkhu telah dibubarkan oleh Sang Bhagavā. Sang Bhagavā sekarang akan berdiam dengan tidak melakukan apa-apa, menekuni kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini. Sekarang Yang Mulia Sāriputta dan aku akan mengasuh Sangha para bhikkhu.’”

“Bagus, bagus, Moggallāna! Apakah Aku sendiri yang mengasuh Sangha para bhikkhu atau Sāriputta dan Moggallāna yang melakukannya.”

14. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, ada empat jenis ketakutan ini yang muncul pada mereka yang masuk ke air. Apakah empat ini? Yaitu: takut ombak, takut buaya, takut pusaran air, dan takut hiu. Ini adalah empat jenis ketakutan yang muncul pada mereka yang masuk ke air.

[Kitab Komentar : Sang Buddha mengangkat ajaran ini untuk menunjukkan bahwa terdapat empat ketakutan (atau bahaya, bhaya) dalam Pengajaran ini. Mereka yang mampu mengatasi empat ketakutan ini akan maju dalam Pengajaran ini, yang lainnya tidak akan maju.]

15. “Demikian pula, para bhikkhu, ada empat jenis ketakutan ini yang muncul pada mereka yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Disiplin ini. Apakah [460] empat ini? Yaitu: takut ombak, takut buaya, takut pusaran air, dan takut hiu.

16. “Apakah, para bhikkhu, takut ombak? Di sini seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian setelah ia meninggalkan keduniawian demikian, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihati dan memberikan instruksi kepadanya sebagai berikut: ‘Engkau harus berjalan maju dan mundur seperti ini; engkau harus melihat ke depan dan ke belakang seperti ini; engkau harus menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuh seperti ini; engkau harus mengenakan jubah luar bertambalan, mangkuk, dan jubah seperti ini.’ Kemudian ia berpikir: ‘Sebelumnya, ketika kami menjalani kehidupan rumah tangga, kami menasihati dan memberikan instruksi kepada orang lain, dan sekarang [para bhikkhu] ini, yang sepertinya dapat menjadi putera atau cucu kami, berpikir bahwa mereka dapat menasihati dan memberikan instruksi kepada kami.’ Dan demikianlah ia meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah karena ia takut ombak. Sekarang ‘takut ombak’ adalah sebutan bagi kemarahan dan kekesalan.

17. “Apakah, para bhikkhu, takut buaya? Di sini seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia meninggalkan keduniawian demikian, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihati dan memberikan instruksi kepadanya sebagai berikut: ‘Ini boleh dikonsumsi olehmu, ini tidak boleh dikonsumsi olehmu; ini boleh dimakan olehmu, ini tidak boleh dimakan olehmu; ini boleh dikecap olehmu, ini tidak boleh dikecap olehmu; ini boleh diminum olehmu, ini tidak boleh diminum olehmu. Engkau boleh mengonsumsi apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh mengonsumsi apa yang tidak diperbolehkan; engkau boleh memakan apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh memakan apa yang tidak diperbolehkan; engkau boleh mengecap apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh mengecap apa yang tidak diperbolehkan; engkau boleh meminum apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh meminum apa yang tidak diperbolehkan; engkau boleh makan dalam batas waktu yang selayaknya, engkau tidak boleh makan di luar batas waktu yang selayaknya; engkau boleh mengecap makanan dalam batas waktu yang selayaknya, engkau tidak boleh mengecap makanan di luar batas waktu yang selayaknya; engkau boleh minum dalam batas waktu yang selayaknya, engkau tidak boleh minum di luar batas waktu yang selayaknya.’ [461]

[Kitab Komentar : Bahasa Pali menggunakan dua kata yang berbeda untuk menunjukkan jenis-jenis makanan yang berbeda: khādaniya, “makanan untuk dikonsumsi,” termasuk semua jenis sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, umbi-umbian, dan sebagainya; bhojanīya, “makanan untuk dimakan,” termasuk makanan yang terbuat dari padi, daging, dan ikan. Makanan-makanan untuk dikecap (sāyitabba) termasuk kudapan ringan.

Adapun perihal “batas waktu selayaknya”, adalah dari fajar hingga tengah hari, di luar itu hanya cairan yang boleh diminum.]

“Kemudian ia berpikir: ‘Sebelumnya, ketika kami menjalani kehidupan rumah tangga, kami mengonsumsi apa yang kami sukai dan tidak mengonsumsi apa yang tidak kami sukai; kami memakan apa yang kami sukai dan tidak memakan apa yang tidak kami sukai; kami mengecap apa yang kami sukai dan tidak mengecap apa yang tidak kami sukai; kami meminum apa yang kami sukai dan tidak meminum apa yang tidak kami sukai. Kami mengonsumsi apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan; kami memakan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan; kami mengecap apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan; kami meminum apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan. Kami mengonsumsi makanan di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya; kami memakan makanan di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya; kami mengecap makanan di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya; kami minum di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya. Sekarang, ketika para perumah-tangga yang berkeyakinan memberikan kepada kami berbagai jenis makanan-makanan baik selama siang hari di luar batas waktu yang selayaknya, sepertinya [para bhikkhu] ini mengenakan berangus pada mulut kami.’ Dan demikianlah ia meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah karena ia takut buaya. Sekarang ‘takut buaya’ adalah sebutan bagi kerakusan.

18. “Apakah, para bhikkhu, takut pusaran air? Di sini seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia meninggalkan keduniawian demikian, pada pagi hari ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa atau pemukiman untuk menerima dana makanan dengan jasmaninya tidak terjaga, dengan ucapannya tidak terjaga, dengan perhatian tidak ditegakkan, dan dengan organ-organ indria tidak terkendali. Ia melihat seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga yang memiliki lima utas kenikmatan indria dan sedang menikmatinya. Kemudian ia berpikir: ‘Sebelumnya, ketika kami menjalani kehidupan rumah tangga, kami memiliki lima utas kenikmatan indria dan menikmatinya. Keluargaku kaya; aku dapat menikmati kekayaan sekaligus melakukan kebajikan.’ Dan demikianlah ia meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah karena ia takut pusaran air. Sekarang ‘takut pusaran air’ adalah sebutan bagi kelima utas kenikmatan indria.

19. “Apakah, para bhikkhu, takut hiu? Di sini [462] seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia meninggalkan keduniawian demikian, pada pagi hari ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa atau pemukiman untuk menerima dana makanan dengan jasmaninya tidak terjaga, dengan ucapannya tidak terjaga, dengan perhatian tidak ditegakkan, dan dengan organ-organ indria tidak terkendali. Ia melihat seorang perempuan dengan kain yang minim, dengan pakaian yang minim. Ketika ia melihat seorang perempuan demikian, nafsu mempengaruhi pikirannya. Karena pikirannya telah terpengaruh nafsu, ia meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah karena ia takut hiu. Sekarang ‘takut hiu’ adalah sebutan bagi perempuan.

20. “Para bhikkhu, ini adalah keempat jenis ketakutan yang muncul pada mereka yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Disiplin ini.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Tidak ada kesekarahan yang lebih kasar dan lebih vulgar daripada dogma iming-iming KORUP bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, dimana dosa-dosa pun masih juga dikorupsi akibat “rakus”. Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, inilah yang diajarkan oleh agama samawi kepada para umat pengikutnya, menjadi para PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, simaklah betapa “rakusnya” sang “nabi rasul allah” yang masih juga ingin merampas hak-hak korbannya atas keadilan setelah disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh sang “nabi PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”. Telah ternyata tidak ada yang lebih adiktif daripada mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”, “nabi takut hiu” mana justru sibuk memberikan teladan-sesat-tercela kepada para umat pengikutnya untuk turut menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi alih-alih sibuk bertanggung-jawab kepada para korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]