Allah adalah Impoten, Bukan “Maha Kuasa”
Kita adalah KORBAN KELAHIRAN, PENUAAN, dan KEMATIAN (PENJELMAAN). Kita
Semua merupakan Kurbannya Tuhan Sang Pencipta
Question: Banyak sekali kontradiktif dalam dogma-dogma agama samawi. Anehnya, mereka, para umat agama samawi, tampak begitu dungu, memakannya begitu saja tanpa dipertanyakan, sekalipun dogma-dogmanya satu sama lain saling kontradiktif. Kita ambil contoh dogma agama samawi yang menyatakan bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah, dimana bahkan mereka mengklaim bahwa detak jantung kita setiap detiknya pun diatur oleh Allah. Kalau memang begitu adanya, mengapa orang-orang yang dituduh mencuri atau berzina, harus dihukum oleh manusia lainnya (oleh sesama manusia) dengan dipotong tangan atau dirajam, alih-alih Allah sendiri yang lewat kuasanya membuat mereka jatuh sakit karena stroke atau penghasilannya menjadi berkurang sebagai hukumannya?
Itu saja sudah bukti nyata terjadinya “contradictio in terminis”,
yakni dua proposisi yang saling menegasikan atau bertolak-belakang satu sama
lainnya. Terus, ayam di rumah si Dani akan bertelur berapa butir pada hari ini,
bebek si Rini akan bertelur dan menetas berapa butir pada hari esok, begitupula
berapa jumlah daun yang akan menguning dan meranggas pada esok lusa, diatur
juga oleh Allah yang tidak boleh tidur ataupun pensiun sekalipun telah
menciptakan hukum alam? Itu berarti Tuhan-nya para pemeluk agama samawi lebih
dungu daripada programmer yang bisa membuat program autopilot, Tuhan yang “kurang
kerjaan”.
Brief
Answer: Berkat “Tuhan Sang
Pencipta” yang “kesepian” dan “kurang kerjaan”, jadilah kita para manusia korban
kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan,
kesedihan, dan keputus-asaan; kita semua adalah korban penderitaan, mangsa bagi
penderitaan. Apakah karenanya, kita patut berterimakasih dan bersyukur kepada “Tuhan
Sang Pencipta”, maka menyembah dan memuja-mujinya ataukah sebaliknya, berjuang
melawan penjelmaan (samsara, tumimbal-lahir) tersebut?
PEMBAHASAN:
Kita adalah
KORBAN-nya Tuhan Sang Pencipta—fakta tidak terbantahkan bahwa kita tidak pernah
meminta untuk dilahirkan ataupun diciptakan oleh Tuhan—selengkapnya dapat kita
simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
67
Cātumā
Sutta: Di Cātumā
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Cātumā di hutan kemloko (myrobalan, penj.).
2. Pada saat itu lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Mulia
Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna datang ke Cātumā untuk menemui Sang
Bhagavā. Sewaktu para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para bhikkhu
tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan menyimpan mangkuk-mangkuk
dan jubah luar mereka, mereka sangat ribut dan gaduh.
3. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Ānanda sebagai berikut: “Ānanda,
siapakah orang-orang yang ribut dan gaduh ini? Seseorang akan menganggap mereka
adalah para nelayan yang sedang menjajakan ikan.”
[Kitab Komentar : Kevaṭṭā maññe macchavilope. nelayan
yang sedang menjajakan ikan. Penerjemah lain memberikan dua penjelasan: yang
satu sesuai dengan terjemahan di atas, yang lain menyiratkan “nelayan yang
sedang mengangkut ikan.”]
“Yang Mulia, mereka adalah lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang
Mulia Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna datang ke Cātumā untuk menemui
Sang Bhagavā. Dan sewaktu para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para
bhikkhu tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan
menyimpan mangkuk-mangkuk dan jubah luar mereka, mereka sangat ribut dan
gaduh.”
4. “Kalau begitu, Ānanda, beritahu para bhikkhu itu atas namaKu bahwa
Sang Guru memanggil para mulia itu.”
“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia mendatangi para bhikkhu itu dan
memberitahu mereka: “Sang Guru memanggil para mulia.”
“Baik, teman,” mereka [457] menjawab, dan mereka menghadap Sang Bhagavā,
dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Ketika mereka telah
melakukan itu, Sang Bhagavā berkata kepada mereka: “Para bhikkhu, mengapa
kalian begitu ribut dan gaduh? Seseorang akan menganggap kalian adalah para
nelayan yang sedang menjajakan ikan.”
“Yang Mulia, kami adalah lima ratus bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Mulia
Sāriputta dan Yang Mulia Mahā Moggallāna, datang ke Cātumā untuk menemui Sang
Bhagavā. Dan sewaktu kami, para bhikkhu tamu saling bertukar sapa dengan para bhikkhu
tuan rumah, dan sedang mempersiapkan tempat-tempat tinggal dan menyimpan
mangkuk-mangkuk dan jubah luar kami, kami sangat ribut dan gaduh.”
5. “Pergilah, para bhikkhu, Aku membubarkan kalian. Kalian tidak boleh
menetap di dekatKu.”
“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab, dan mereka bangkit dari duduk
mereka, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau di sisi kanan
mereka, mereka meletakkan barang-barang di tempat tinggal, dan dengan membawa
mangkuk dan jubah luar, mereka pergi.
6. Pada saat itu para Sakya di Cātumā sedang berkumpul di aula pertemuan
mereka untuk suatu urusan. Dari jauh melihat kedatangan para bhikkhu, mereka
mendatangi para bhikkhu itu dan bertanya: “Kemana kalian akan pergi, Para
Mulia?”
“Teman-teman, Sangha para bhikkhu telah dibubarkan oleh Sang Bhagavā.”
“Kalau begitu silahkan para mulia duduk sebentar. Mungkin kami mampu
mengembalikan kepercayaanNya.”
“Baik, teman-teman,” mereka menjawab.
7. Kemudian para Sakya dari Cātumā mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah
bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan berkata:
“Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu; Yang
Mulia, mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā
membantu Sangha para bhikkhu saat ini seperti yang biasa Beliau lakukan di masa
lalu. Yang Mulia, terdapat para bhikkhu baru di sini, baru saja meninggalkan
keduniawian, baru saja mendatangi Dhamma dan Disiplin ini. Jika mereka tidak
berkesempatan untuk menemui Sang Bhagavā, maka mungkin akan terjadi perubahan
atau peralihan dalam diri mereka. Yang Mulia, seperti halnya sebatang tunas
muda yang tidak mendapatkan air maka akan terjadi perubahan dan peralihan pada
tunas itu, demikian pula, Yang Mulia, terdapat [458] para bhikkhu baru di
sini, baru saja meninggalkan keduniawian, baru saja mendatangi Dhamma dan Disiplin
ini. Jika mereka tidak berkesempatan untuk menemui Sang Bhagavā, maka mungkin
akan terjadi perubahan atau peralihan dalam diri mereka. Yang Mulia, seperti
halnya seekor anak sapi yang tidak melihat induknya maka akan terjadi perubahan
dan peralihan dalam dirinya, demikian pula, Yang Mulia, terdapat para
bhikkhu baru di sini, baru saja meninggalkan keduniawian, baru saja mendatangi
Dhamma dan Disiplin ini. Jika mereka tidak berkesempatan untuk menemui Sang
Bhagavā, maka mungkin akan terjadi perubahan atau peralihan dalam diri mereka.
Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu; Yang Mulia,
mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; Yang Mulia, mohon Bhagavā membantu
Sangha para bhikkhu saat ini seperti yang biasa Beliau lakukan di masa lalu.”
8. Kemudian dengan pikirannya Brahmā
Sahampati mengetahui
pikiran Sang Bhagavā, maka secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang
tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, ia lenyap dari alam Brahma dan
muncul di hadapan Sang Bhagavā. Kemudian ia merapikan jubah atasnya di salah
satu bahunya, dan merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā,
ia berkata:
[Kitab Komentar : Makhluk Brahmā dari alam Brahmā tersebut,
adalah Brahmā Sahampati yang memohon kepada Sang Buddha yang baru tercerahkan
untuk mengajarkan Dhamma kepada dunia. Baca Majjhima Nikāya 26.20.]
9. “Yang Mulia, mohon Bhagavā bergembira di dalam Sangha para bhikkhu;
Yang Mulia, mohon Bhagavā menyambut Sangha para bhikkhu; ... (seperti pada paragraf nomor ke-7) ... [459]
seperti yang biasa Beliau lakukan di masa lalu.”
10. Orang-orang Sakya dari Cātumā dan Brahmā Sahampati berhasil
mengembalikan kepercayaan Sang Bhagavā dengan perumpamaan tunas dan anak sapi.
11. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada para bhikkhu
sebagai berikut: “Bangkitlah, teman-teman, ambil mangkuk dan jubah luar kalian.
Kepercayaan Sang Bhagavā telah dipulihkan oleh orang-orang Sakya dari Cātumā
dan Brahmā Sahampati dengan perumpamaan tunas dan anak sapi.”
12. “Baik, teman,” mereka menjawab dan, bangkit dari duduk mereka, dengan
membawa mangkuk dan jubah luar, mereka menghadap Sang Bhagavā, dan setelah
bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepada Yang
Mulia Sāriputta: “Bagaimana menurutmu, Sāriputta, ketika Sangha para bhikkhu
Kububarkan?”
“Yang Mulia, aku berpikir sebagai berikut: ‘Sangha para bhikkhu telah
dibubarkan oleh Sang Bhagavā. Sang Bhagavā sekarang akan berdiam dengan tidak
melakukan apa-apa, menekuni kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini;
dan kami juga sekarang akan berdiam dengan tidak melakukan apa-apa, menekuni
kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.”
“Hentikan, Sāriputta, hentikan! Jangan engkau memunculkan pikiran seperti
itu lagi.”
[Kitab Komentar : Dalam hal ini YM. Sāriputta
bersalah karena tidak menyadari tanggung-jawabnya, karena Sangha adalah
tanggung jawab kedua siswa utama. Demikianlah Sang Buddha menegurnya tetapi
memuji YM. Moggallāna, yang menyadari tanggung-jawabnya.]
13. Kemudian Sang Bhagavā bertanya kepada Yang Mulia Mahā Moggallāna:
“Bagaimana menurutmu, Moggallāna, ketika Sangha para bhikkhu Kububarkan?”
“Yang Mulia, aku berpikir sebagai berikut: ‘Sangha para bhikkhu telah
dibubarkan oleh Sang Bhagavā. Sang Bhagavā sekarang akan berdiam dengan tidak
melakukan apa-apa, menekuni kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini. Sekarang
Yang Mulia Sāriputta dan aku akan mengasuh Sangha para bhikkhu.’”
“Bagus, bagus, Moggallāna! Apakah Aku sendiri yang mengasuh Sangha
para bhikkhu atau Sāriputta dan Moggallāna yang melakukannya.”
14. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu, ada empat jenis ketakutan ini yang muncul pada mereka yang masuk ke
air. Apakah empat ini? Yaitu: takut ombak, takut buaya, takut pusaran air, dan
takut hiu. Ini adalah empat
jenis ketakutan yang muncul pada mereka yang masuk ke air.
[Kitab Komentar : Sang Buddha mengangkat ajaran ini
untuk menunjukkan bahwa terdapat empat ketakutan (atau bahaya, bhaya)
dalam Pengajaran ini. Mereka yang mampu mengatasi empat ketakutan ini akan maju
dalam Pengajaran ini, yang lainnya tidak akan maju.]
15. “Demikian pula, para bhikkhu, ada empat jenis ketakutan ini yang
muncul pada mereka yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Disiplin ini. Apakah [460]
empat ini? Yaitu: takut ombak, takut buaya, takut pusaran air, dan takut hiu.
16. “Apakah, para bhikkhu, takut ombak? Di sini seorang anggota keluarga
meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku
adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa
bagi penderitaan. Akhir
dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian
setelah ia meninggalkan keduniawian demikian, teman-temannya dalam kehidupan
suci menasihati dan memberikan instruksi kepadanya sebagai berikut: ‘Engkau
harus berjalan maju dan mundur seperti ini; engkau harus melihat ke depan dan
ke belakang seperti ini; engkau harus menekuk dan merentangkan bagian-bagian
tubuh seperti ini; engkau harus mengenakan jubah luar bertambalan, mangkuk, dan
jubah seperti ini.’ Kemudian ia berpikir: ‘Sebelumnya, ketika kami menjalani
kehidupan rumah tangga, kami menasihati dan memberikan instruksi kepada orang
lain, dan sekarang [para bhikkhu] ini, yang sepertinya dapat menjadi putera
atau cucu kami, berpikir bahwa mereka dapat menasihati dan memberikan instruksi
kepada kami.’ Dan demikianlah ia meninggalkan latihan dan kembali kepada
kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali
kepada kehidupan rendah karena ia takut ombak. Sekarang
‘takut ombak’ adalah sebutan bagi kemarahan dan kekesalan.
17. “Apakah, para bhikkhu, takut buaya? Di sini seorang anggota keluarga
meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian,
korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah
korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia meninggalkan keduniawian
demikian, teman-temannya dalam kehidupan suci menasihati dan memberikan
instruksi kepadanya sebagai berikut: ‘Ini boleh dikonsumsi olehmu, ini tidak
boleh dikonsumsi olehmu; ini boleh dimakan olehmu, ini tidak boleh dimakan
olehmu; ini boleh dikecap olehmu, ini tidak boleh dikecap olehmu; ini boleh diminum
olehmu, ini tidak boleh diminum olehmu. Engkau boleh mengonsumsi apa yang
diperbolehkan, engkau tidak boleh mengonsumsi apa yang tidak diperbolehkan;
engkau boleh memakan apa yang diperbolehkan, engkau tidak boleh memakan apa
yang tidak diperbolehkan; engkau boleh mengecap apa yang diperbolehkan, engkau
tidak boleh mengecap apa yang tidak diperbolehkan; engkau boleh meminum apa
yang diperbolehkan, engkau tidak boleh meminum apa yang tidak diperbolehkan; engkau
boleh makan dalam batas waktu yang selayaknya, engkau tidak boleh makan di luar
batas waktu yang selayaknya; engkau boleh mengecap makanan dalam batas waktu
yang selayaknya, engkau tidak boleh mengecap makanan di luar batas waktu yang
selayaknya; engkau boleh minum dalam batas waktu yang selayaknya, engkau tidak
boleh minum di luar batas waktu yang selayaknya.’ [461]
[Kitab Komentar : Bahasa Pali menggunakan dua kata
yang berbeda untuk menunjukkan jenis-jenis makanan yang berbeda: khādaniya,
“makanan untuk dikonsumsi,” termasuk semua jenis sayuran, kacang-kacangan,
buah-buahan, umbi-umbian, dan sebagainya; bhojanīya, “makanan untuk
dimakan,” termasuk makanan yang terbuat dari padi, daging, dan ikan.
Makanan-makanan untuk dikecap (sāyitabba) termasuk kudapan ringan.
Adapun perihal “batas waktu selayaknya”, adalah dari
fajar hingga tengah hari, di luar itu hanya cairan yang boleh diminum.]
“Kemudian ia berpikir: ‘Sebelumnya, ketika kami menjalani kehidupan rumah
tangga, kami mengonsumsi apa yang kami sukai dan tidak mengonsumsi apa yang
tidak kami sukai; kami memakan apa yang kami sukai dan tidak memakan apa yang tidak
kami sukai; kami mengecap apa yang kami sukai dan tidak mengecap apa yang tidak
kami sukai; kami meminum apa yang kami sukai dan tidak meminum apa yang tidak
kami sukai. Kami mengonsumsi apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan;
kami memakan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan; kami
mengecap apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan; kami meminum apa
yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan. Kami mengonsumsi makanan
di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya;
kami memakan makanan di dalam batas waktu yang selayaknya dan di luar batas waktu
yang selayaknya; kami mengecap makanan di dalam batas waktu yang selayaknya dan
di luar batas waktu yang selayaknya; kami minum di dalam batas waktu yang
selayaknya dan di luar batas waktu yang selayaknya. Sekarang, ketika para
perumah-tangga yang berkeyakinan memberikan kepada kami berbagai jenis
makanan-makanan baik selama siang hari di luar batas waktu yang selayaknya,
sepertinya [para bhikkhu] ini mengenakan berangus pada mulut kami.’ Dan
demikianlah ia meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah. Ia
disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah
karena ia takut buaya. Sekarang
‘takut buaya’ adalah sebutan bagi kerakusan.
18. “Apakah, para bhikkhu, takut pusaran air? Di sini seorang anggota
keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran,
penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan;
Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan
kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia
meninggalkan keduniawian demikian, pada pagi hari ia merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan dengan jasmaninya tidak terjaga, dengan ucapannya
tidak terjaga, dengan perhatian tidak ditegakkan, dan dengan organ-organ indria
tidak terkendali. Ia
melihat seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga yang memiliki lima
utas kenikmatan indria dan sedang menikmatinya. Kemudian ia berpikir:
‘Sebelumnya, ketika kami menjalani kehidupan rumah tangga, kami memiliki lima
utas kenikmatan indria dan menikmatinya. Keluargaku kaya; aku dapat menikmati
kekayaan sekaligus melakukan kebajikan.’ Dan demikianlah ia meninggalkan latihan dan
kembali kepada kehidupan rendah. Ia disebut seorang yang meninggalkan latihan dan
kembali kepada kehidupan rendah karena ia takut pusaran air. Sekarang ‘takut pusaran
air’ adalah sebutan bagi kelima utas kenikmatan indria.
19. “Apakah, para bhikkhu, takut hiu? Di sini [462] seorang anggota
keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran,
penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan;
Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan
kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Kemudian, setelah ia
meninggalkan keduniawian demikian, pada pagi hari ia merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan dengan jasmaninya tidak terjaga, dengan ucapannya
tidak terjaga, dengan perhatian tidak ditegakkan, dan dengan organ-organ indria
tidak terkendali. Ia
melihat seorang perempuan dengan kain yang minim, dengan pakaian yang minim.
Ketika ia melihat seorang perempuan demikian, nafsu mempengaruhi pikirannya. Karena
pikirannya telah terpengaruh nafsu, ia meninggalkan latihan dan kembali kepada
kehidupan rendah. Ia
disebut seorang yang meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah
karena ia takut hiu. Sekarang
‘takut hiu’ adalah sebutan bagi perempuan.
20. “Para bhikkhu, ini adalah keempat jenis ketakutan yang muncul pada
mereka yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan Disiplin ini.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Tidak ada kesekarahan yang lebih kasar dan lebih vulgar daripada dogma iming-iming
KORUP bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, dimana dosa-dosa pun
masih juga dikorupsi akibat “rakus”. Berkebalikan secara kontras dengan
Buddhisme, inilah yang diajarkan oleh agama samawi kepada para umat pengikutnya,
menjadi para PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
simaklah betapa “rakusnya” sang “nabi rasul allah” yang masih juga ingin merampas
hak-hak korbannya atas keadilan setelah disakiti, dilukai, maupun dirugikan
oleh sang “nabi PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”. Telah ternyata tidak ada yang lebih
adiktif daripada mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”, “nabi takut hiu” mana justru
sibuk memberikan teladan-sesat-tercela kepada para umat pengikutnya untuk turut
menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi alih-alih sibuk
bertanggung-jawab kepada para korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]