Tidak Perlu Terobsesi untuk Memberikan Pelajaran bagi Sang Pelaku Kejahatan, Efek Jera bagi Sang Pelaku akan Hadir secara Sendirinya, karena Ciri-Ciri Seseorang akan Menentukan Nasib Hidupnya
Bersikap seperti Iblis, Nasibnya ialah Nasib yang Sama dengan yang Dialami
Iblis. Bersikap seperti Setan, Nasibnya Tidak Ubahnya Nasib yang Dihadapi Setan.
Bersikap seperti Hewan, Nasibnya Sama seperti Seekor Hewan
Question: Ada orang jahat, yang jahatnya bagaikan iblis atau manusia-setan. Dilaporkan ke polisi pun, tidak membuahkan hasil, tidak tersentuh hukum ataupun dihukum tetap kembali mengulangi perbuatannya menjadi seorang residivis. Kita, sebagai korban, harus bersikap seperti apa lagi? Bila tidak ada yang menghukum orang jahat semacam itu, nanti bagaimana bila mereka merajalela sehingga korban-korbannya akan lebih banyak dan kembali berjatuhan?
Brief
Answer: Tidak perlu terobsesi
“membalas dendam”, bila tidak / belum punya kemampuan untuk memberikan “pelajaran”
maupun “efek jera” bagi sang pelaku agar tiada lagi jatuh korban oleh perbuatan
pelaku yang sama. Ciri-ciri hidupnya seseorang, menentukan nasib orang dengan
ciri-ciri bersangkutan. Seoang manusia yang kelakuannya mirip “setan” (makhluk
rendah dari “alam tanpa kebahagiaan”), yang belum mati saja sudah menyerupai
“setan” sifat dan sikapnya, maka nasib hidupnya pun tidak ubahnya makhluk
rendah-tercela demikian, yakni “tanpa kebahagiaan”.
PEMBAHASAN:
Menjadi
orang dungu, nasibnya ialah nasib orang dungu. Ciri-ciri menentukan nasib
hidup, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
25
Nivāpa
Sutta : Umpan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, pemburu
rusa tidak meletakkan umpan bagi kelompok-kelompok rusa dengan niat: ‘Semoga
kelompok-kelompok rusa itu menikmati umpan yang kuletakkan ini dan dengan
demikian dapat berumur panjang dan indah dan bertahan lama.’ Pemburu
rusa meletakkan umpan bagi kelompok-kelompok rusa dengan niat:
‘kelompok-kelompok rusa itu akan memakan makanan ini dengan tanpa kewaspadaan
dengan langsung mendatangi umpan yang telah kuletakkan ini; dengan melakukan
hal itu, rusa-rusa itu akan menjadi mabuk; ketika mabuk, rusa-rusa itu akan
menjadi lengah; ketika lengah, aku dapat melakukan apapun yang kuinginkan
terhadap mereka berkat umpan ini.’
3. “Sekarang rusa kelompok pertama memakan makanan itu dengan tanpa
kewaspadaan dengan langsung mendatangi umpan yang telah diletakkan oleh pemburu
rusa itu; dengan melakukan hal itu, rusa-rusa itu menjadi mabuk; ketika mabuk, rusa-rusa
itu menjadi lengah; ketika lengah, pemburu rusa itu melakukan apapun yang ia
inginkan terhadap mereka berkat umpan ini. Demikianlah bagaimana rusa kelompok pertama
itu tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa
itu.
4. “Sekarang rusa kelompok ke dua memperhitungkan: ‘Rusa kelompok pertama, karena bertindak tanpa
kewaspadaan, [152] tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan
pemburu rusa itu. Bagaimana jika kami semuanya menghindari makanan umpan itu;
dengan menghindari kenikmatan yang menakutkan itu, kami akan pergi ke dalam
hutan belantara dan menetap di sana.’ Dan mereka melakukan hal itu. Tetapi
pada bulan terakhir musim panas ketika rerumputan dan air sudah habis, badan
mereka menjadi sangat kurus; mereka kehilangan kekuatan dan tenaga mereka; ketika
mereka telah kehilangan tenaga dan kekuatan, mereka kembali ke umpan yang sama
yang diletakkan oleh si pemburu rusa. Mereka memakan makanan itu dengan tanpa
kewaspadaan dengan langsung mendatangi umpan itu; dengan melakukan hal itu,
rusa-rusa itu menjadi mabuk; ketika mabuk, rusa-rusa itu menjadi lengah; ketika
lengah, pemburu rusa itu melakukan apapun yang ia inginkan terhadap mereka
berkat umpan ini. Demikianlah bagaimana rusa
kelompok ke dua itu tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan
pemburu rusa itu.
5. “Sekarang rusa kelompok ke tiga memperhitungkan: ‘Rusa kelompok pertama, karena bertindak tanpa
kewaspadaan, tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan
pemburu rusa itu. Rusa kelompok ke dua, setelah memperhitungkan kegagalan rusa
kelompok pertama, dan dengan perencanaan hati-hati untuk menetap di dalam hutan
belantara, juga gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa
itu. Bagaimana jika kami bertempat tinggal di dekat umpan pemburu itu. [153]
Kemudian, setelah melakukan hal itu, kami akan memakan makanan dengan waspada
dan tidak langsung mendatangi umpan yang diletakkan oleh pemburu rusa itu;
dengan melakukan demikian kami tidak akan menjadi mabuk; jika kami tidak mabuk,
kami tidak akan menjadi lengah; jika kami tidak lengah, pemburu rusa itu tidak
akan dapat melakukan apa yang ia inginkan terhadap kami berkat umpan itu.’
Dan mereka melakukannya.
“Tetapi kemudian pemburu rusa itu dan para pengikutnya
mempertimbangkan: ‘Rusa-rusa kelompok ke tiga ini licik dan cerdik bagaikan
tukang sihir. Mereka memakan umpan yang diletakkan tanpa kami mengetahui
bagaimana mereka datang dan pergi. Bagaimana jika kami mengelilingi umpan ini
lebih luas dengan pagar dari dahan-dahan; kemudian mungkin kami dapat menemukan
tempat tinggal rusa kelompok ke tiga ini, ke mana mereka bersembunyi.’
Demikianlah mereka melakukan hal itu, dan mereka melihat tempat tinggal rusa kelompok
ke tiga, ke mana mereka bersembunyi. Dan demikianlah bagaimana rusa kelompok ke tiga
itu tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa
itu.
6. “Sekarang rusa kelompok ke empat memperhitungkan: ‘Rusa kelompok pertama, karena bertindak tanpa
kewaspadaan, tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan pemburu
rusa itu. Rusa kelompok ke dua, setelah memperhitungkan kegagalan rusa
kelompok pertama, dan dengan perencanaan hati-hati untuk menetap di dalam
hutan belantara, juga gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan
pemburu rusa itu. Dan rusa dari kelompok ke tiga, setelah memperhitungkan
kegagalan rusa kelompok pertama [154] dan juga kegagalan rusa kelompok ke dua,
dan dengan perencanaan hati-hati untuk bertempat tinggal di dekat umpan, juga
gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa itu. Bagaimana jika kami
bertempat tinggal di tempat di mana pemburu rusa dan para pengikutnya tidak
dapat mendatanginya. Kemudian, setelah melakukan hal itu, kami akan memakan
makanan dengan waspada dan tidak langsung mendatangi umpan yang diletakkan oleh
pemburu rusa itu; dengan melakukan demikian kami tidak akan menjadi mabuk; jika
kami tidak mabuk, kami tidak akan menjadi lengah; jika kami tidak lengah, [155]
pemburu rusa itu tidak akan dapat melakukan apa yang ia inginkan terhadap kami
berkat umpan itu.’ Dan
mereka melakukannya.
“Tetapi kemudian pemburu rusa itu dan para pengikutnya
mempertimbangkan: ‘Rusa-rusa kelompok ke empat ini licik dan cerdik
bagaikan tukang sihir. Mereka memakan umpan yang diletakkan tanpa kami
mengetahui bagaimana mereka datang dan pergi. Bagaimana jika kami mengelilingi
umpan ini lebih luas dengan pagar dari dahan-dahan; kemudian mungkin kami dapat
menemukan tempat tinggal rusa kelompok ke empat ini, ke mana mereka
bersembunyi.’ Demikianlah mereka melakukan hal itu, tetapi mereka tidak
menemukan tempat tinggal rusa kelompok ke empat, ke mana mereka bersembunyi. Kemudian si pemburu rusa dan para pengikutnya
mempertimbangkan: ‘Jika
kami menakuti rusa kelompok ke empat ini, karena ketakutan mereka akan
memperingatkan yang lain, dan karenanya kelompok-kelompok rusa akan
meninggalkan umpan yang telah kami letakkan. Bagaimana jika kami membiarkan
rusa kelompok ke empat ini.’ Mereka melakukan hal itu. Dan demikianlah bagaimana rusa kelompok ke empat
itu berhasil terbebaskan dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa itu.
7. “Para bhikkhu, Aku memberikan perumpamaan ini untuk menyampaikan
sebuah makna. Maknanya adalah sebagai berikut:
‘Umpan’ adalah sebutan bagi kelima utas kenikmatan indria. ‘Pemburu rusa’
adalah sebutan bagi Māra si Jahat. ‘Para pengikut pemburu rusa’ adalah sebutan
bagi para pengikut Māra. ‘Kelompok rusa’ adalah sebutan bagi para petapa dan
brahmana.
8. “Sekarang para
petapa dan brahmana jenis pertama memakan makanan dengan tanpa kewaspadaan dan
langsung mendatangi umpan dan benda-benda materi duniawi yang diletakkan oleh
Māra; [156] dengan melakukan hal itu mereka menjadi mabuk, mereka menjadi
lengah; ketika mereka lengah, Māra melakukan apa yang ia inginkan terhadap
mereka berkat umpan dan benda-benda materi duniawi tersebut. Demikianlah bagaimana para petapa dan brahmana
jenis pertama gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Para
petapa dan brahmana itu, Aku katakan, adalah serupa dengan rusa-rusa kelompok
pertama.
9. “Sekarang para petapa dan brahmana jenis ke dua memperhitungkan:
‘Para petapa dan brahmana jenis pertama, karena
bertindak tanpa kewaspadaan, gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan
Māra. Bagaimana
jika kami sepenuhnya menghindari umpan makanan dan benda-benda materi duniawi;
dengan menghindari kenikmatan yang menakutkan itu, kami akan masuk ke hutan
belantara dan menetap di sana.’ Dan mereka melakukan hal itu. Mereka adalah pemakan
sayur-sayuran dan jawawut atau beras liar atau kupasan kulit atau lumut atau
kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Mereka
hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan, mereka memakan buah-buahan yang
jatuh.
“Tetapi pada bulan terakhir musim panas ketika rerumputan dan air sudah
habis, badan mereka menjadi sangat kurus; mereka kehilangan kekuatan dan tenaga
mereka; ketika mereka telah kehilangan tenaga dan kekuatan, mereka menjadi kehilangan kebebasan
pikiran; dengan
hilangnya kebebasan pikiran, mereka kembali ke umpan yang sama yang diletakkan
oleh Māra dan benda-benda materi duniawi itu; mereka memakan makanan dengan
tanpa kewaspadaan dengan langsung mendatangi umpan itu; dengan melakukan hal
itu, mereka menjadi mabuk; ketika mabuk, mereka menjadi lengah; ketika
lengah, Māra melakukan apapun yang ia inginkan terhadap mereka berkat umpan dan
benda-benda materi duniawi itu. Demikianlah bagaimana para petapa dan
brahmana jenis ke dua itu tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan
kekuasaan Māra. [157] Para petapa dan brahmana itu, Aku katakan, adalah serupa
dengan rusa-rusa kelompok ke dua.
[Kitab Komentar : Cetovimutti, “kebebasan
pikiran”. Dijelaskan bahwa mereka hanya meninggalkan tekad mereka untuk menetap
dalam hutan, walaupun ini juga dapat dianggap bahwa para petapa itu telah
mencapai – dan kehilangan – delapan pencapaian meditatif yang biasanya
disiratkan oleh kata cetovimutti.]
10. “Sekarang para petapa dan brahmana jenis ke tiga memperhitungkan:
‘para petapa dan brahmana jenis pertama, karena bertindak tanpa kewaspadaan,
tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Para petapa
dan brahmana jenis ke dua, setelah memperhitungkan kegagalan para petapa dan
brahmana jenis pertama, dan dengan perencanaan hati-hati untuk menetap di dalam
hutan belantara, juga gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Bagaimana jika kami
bertempat tinggal di dekat umpan yang diletakkan Māra dan benda-benda materi
duniawi. Kemudian, setelah
melakukan hal itu, kami akan memakan makanan dengan waspada dan tidak langsung
mendatangi umpan yang diletakkan Māra dan benda-benda materi duniawi; dengan
melakukan demikian kami tidak akan menjadi mabuk; jika kami tidak mabuk, kami
tidak akan menjadi lengah; jika kami tidak lengah, Māra tidak akan dapat
melakukan apa yang ia inginkan terhadap kami berkat umpan dan benda-benda
materi duniawi itu.’ Dan mereka melakukannya.
“Tetapi kemudian mereka menganut pandangan-pandangan seperti ‘dunia
adalah abadi’ dan ‘dunia adalah tidak abadi’ dan ‘dunia adalah terbatas’ dan
‘dunia adalah tidak terbatas’ dan ‘jiwa dan badan adalah sama’ dan ‘jiwa adalah
satu hal dan badan adalah hal lainnya’ dan ‘Sang Tathāgata ada setelah
kematian’ dan ‘Sang Tathāgata tidak ada setelah kematian’ dan ‘Sang Tathāgata
ada dan juga tidak ada setelah kematian’ dan ‘Sang Tathāgata bukan ada juga
bukan tidak ada setelah kematian.’
[Kitab Komentar : Itu adalah sepuluh pandangan
spekulatif yang diperdebatkan oleh para petapa filsuf pada masa Sang Buddha.
Semuanya ditolak oleh Sang Buddha, dengan alasan tidak berhubungan dengan
dasar-dasar kehidupan suci dan tidak mendukung kebebasan dari penderitaan.
Baca Majjhima Nikāya 63, Majjhima Nikāya 72.]
[158] Demikianlah bagaimana para
petapa dan brahmana jenis ke tiga itu tidak berhasil membebaskan diri dari
kekuatan dan kekuasaan Māra. Para petapa dan brahmana itu, Aku katakan, adalah serupa dengan
rusa-rusa kelompok ke tiga.
[Komentar : Peringatan di atas memberikan kita
petunjuk implisit agar kita tidak meremehkan kekotoran-batin, karena bila
demikian, dapat dipastikan Māra akan menjerat kita saat mengalami
kekenduran-kewaspadaan dan menjadi lengah. Itulah sebabnya, dalam banyak sutta,
Sang Buddha selalu mengarahkan agar para siswa-Nya mengasingkan diri dari
kenikmatan indria, sehingga secara tidak langsung akan terasing dari jangkauan Māra.]
11. “Sekarang para petapa dan brahmana jenis ke empat memperhitungkan:
‘para petapa dan brahmana jenis pertama, karena bertindak tanpa kewaspadaan,
tidak berhasil membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Para petapa
dan brahmana jenis ke dua, setelah memperhitungkan kegagalan para petapa dan
brahmana jenis pertama, dan dengan perencanaan hati-hati untuk menetap di dalam
hutan belantara, juga gagal membebaskan diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Dan
para petapa dan brahmana jenis ke tiga, setelah memperhitungkan kegagalan para
petapa dan brahmana jenis pertama dan juga kegagalan para petapa dan brahmana jenis
ke dua, dan dengan perencanaan hati-hati untuk bertempat tinggal di dekat umpan
yang diletakkan Māra dan benda-benda materi duniawi, juga gagal membebaskan
diri dari kekuatan dan kekuasaan Māra. Bagaimana
jika kami bertempat tinggal di tempat di mana Māra dan para pengikutnya tidak
dapat mendatanginya. Kemudian, setelah melakukan hal itu, kami akan memakan
makanan dengan waspada dan tidak langsung mendatangi umpan yang diletakkan oleh
Māra dan benda-benda materi duniawi; dengan melakukan demikian kami tidak akan
menjadi mabuk; jika kami tidak mabuk, kami tidak akan menjadi lengah; jika kami
tidak lengah, Māra tidak akan dapat melakukan apa yang ia inginkan terhadap
kami karena umpan dan benda-benda materi duniawi itu.’ Dan mereka melakukannya. [159] Dan demikianlah
bagaimana para petapa dan brahmana itu berhasil terbebas dari kekuatan dan
kekuasaan Māra. Para petapa dan brahmana itu, Aku katakan, adalah serupa
dengan rusa-rusa kelompok ke empat.
12. “Dan di
manakah Māra dan pengikutnya tidak dapat mendatangi? Di sini, dengan cukup
terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang
disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Bhikkhu ini dikatakan telah
membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra
dari kesempatannya.
[Kitab Komentar : Delapan pencapaian meditatif di
sini harus dipahami, sebagai landasan bagi pandangan terang. Ketika seorang
bhikkhu telah memasuki jhāna demikian, Māra tidak dapat melihat
bagaimana pikirannya bekerja. Akan tetapi, kekebalan dari pengaruh Māra ini
hanya bersifat sementara.]
13. “Kemudian, dengan
menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan
pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan
Māra …
14. “Kemudian, dengan
meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh
perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia
berdiam dalam kenyamanan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’
Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …
15. “Kemudian, dengan
meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas
kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke
empat, yang memiliki bukan kesakitan juga bukan kenikmatan dan kemurnian
perhatian karena keseimbangan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …
16. “Kemudian, dengan
sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria,
dengan tanpa perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah
tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa
batas. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …
17. “Kemudian, dengan
sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran
adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran
tanpa batas. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …
18. “Kemudian, dengan sepenuhnya
melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [160] menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Bhikkhu ini
dikatakan telah membutakan Māra …
19. “Kemudian, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Bhikkhu ini dikatakan
telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut
mata Māra dari kesempatannya.
20. “Kemudian, dengan
sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan
noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Bhikkhu
ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat
dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya, dan telah menyeberang melampaui
kemelekatan terhadap dunia.”
[Kitab Komentar : Bhikkhu kriteria terakhir ini, dengan
menghancurkan noda-noda, telah menjadi bukan hanya tidak terlihat oleh Māra
secara sementara namun secara permanen tidak terjangkau oleh Māra.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”,
dimana dosa-dosa
pun dikorupsi, menjelma “KORUPTOR DOSA”. Para umat agama samawi dalam
keseharian dan sepanjang hidupnya mencari uang dengan cara menipu, merampok,
mencuri, meminjam tanpa dikembalikan, memeras, menggelapkan, merampas hak-hak
orang lain, dan disaat bersamaan menikmati, ketagihan, mabuk, serta kecanduan
“PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Silahkan
para pembaca nilai sendiri, apakah sang “nabi rasul allah” adalah “korban”
ataukah “sang pemburu” yang memasang “umpan”, orang suci ataukah Māra si jahat—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]