Pikiran Sempit, Picik, dan Naif, Bukan Diakibatkan Jarang Berkomunikasi dengan Orang Lain
Question: Sering saya mengamati, seseorang yang perilaku kesehariannya begitu jahat, namun ia aktif dan suka berbincang-bincang dengan orang lain. Telah ternyata aktif berkomunikasi dengan orang lain, tidak identik dengan mencerahkan dan tercerahkan; pikirannya tetap saja sempit dan tidak terbuka. Apakah artinya seorang pendiam maupun para kaum introvert, sukar tercerahkan semata karena jarang berkomunikasi dengan orang lain? Tengok saja kaum koruptor, jejaring pergaulan dan koneksinya begitu luas, suka bersilahturami, namun tetap saja korupsi, bahkan korupsi berjemaah.
Brief
Answer: Sekalipun seumur hidupnya
aktif dan banyak berbincang-bincang dengan orang lain, namun isi pikirannya
penuh dengan niat jahat maupun rencana jahat, tetap saja yang bersangkutan
ialah jahat adanya. Begitupula seseorang yang seumur hidupnya sibuk memperbincangkan
“omong kosong”, tetap saja yang bersangkutan adalah dangkal dan kerdil adanya. Dua
orang atau lebih saling berdiskusi, namun isi pembicaraannya ialah pemufakatan
jahat, maka topik dialog mereka ialah perihal rencana dan niat jahat. Bersenang-senang
dalam perbincangan yang tidak bermanfaat yang tiada faedahnya, tidak ubahnya aktivitas
yang “membuang-buang waktu” “wasting time). Itulah sebabnya, Sang Buddha
mengimbau para siswa-Nya agar memanfaatkan waktu / usia hidup yang terbatas sifatnya
untuk memdiskusikan Dhamma bila berjumpa dengan orang lain, atau tetap fokus
pada kesadaran terhadap objek meditasi mereka masing-masing, tidak menyia-nyiakan
waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Yang juga perlu mulai kita pahami, bahwa
kita tidak akan secara sendirinya menjadi murni dan suci dengan mengutuk,
mencela, mengkritik orang-orang jahat maupun iblis. Seorang petapa, meski hidup
terasing, mereka berpotensi tinggi merealisasi pencerahan karena mampu berdialog
dengan dirinya sendiri dan terkoneksi dengan alam semesta. Psikolog legendaris
seperti Carl Jung maupun Victor Frank, bahkan berhasil mengungkap teori psikologi
yang masih tetap termasyur hingga saat kini, yang mereka telurkan saat
mengucilkan diri dari pergaulan sosial, karena ia aktif menggali ke dalam
personalitas manusia saat dalam pengucilan diri dan keterasingan dari dunia.
PEMBAHASAN:
Isi perbincangan
dua orang agung yang mulia, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
24
Rathavinīta
Sutta: Barisan Kereta
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
2. Kemudian sejumlah bhikkhu yang berasal dari negeri asal [Sang
Bhagavā], yang melewatkan musim hujan di sana, menghadap Sang Bhagavā, dan
setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya
kepada mereka: “Para bhikkhu, siapakah yang di negeri asal[Ku] yang dihormati
oleh para bhikkhu di sana, oleh teman-temannya dalam kehidupan suci, sebagai
berikut: ‘Memiliki sedikit keinginan, ia berbicara kepada para bhikkhu tentang
keinginan yang sedikit; puas terhadap dirinya sendiri, ia berbicara kepada para
bhikkhu tentang kepuasan; hidup
terasing, ia
berbicara kepada para bhikkhu tentang keterasingan; jauh dari pergaulan, ia
berbicara kepada para bhikkhu tentang menjauhi pergaulan; bersemangat, ia berbicara kepada para bhikkhu
tentang membangkitkan semangat; mencapai moralitas, ia berbicara kepada para
bhikkhu tentang pencapaian moralitas; mencapai konsentrasi, ia berbicara kepada
para bhikkhu tentang pencapaian konsentrasi; mencapai
kebijaksanaan, ia berbicara kepada para bhikkhu tentang pencapaian
kebijaksanaan; mencapai kebebasan, ia
berbicara kepada para bhikkhu tentang pencapaian kebebasan; mencapai
pengetahuan dan penglihatan kebebasan, ia berbicara kepada para bhikkhu tentang
pencapaian pengetahuan dan penglihatan kebebasan; ia adalah seorang yang menasihati, memberitahu, memberi
instruksi, mendorong, [146] membangkitkan, dan menggembirakan teman-temannya
dalam kehidupan suci’?”
[Kitab Komentar : Tanah asal Sang Buddha adalah
Kapilavatthu, di kaki Pegunungan Himalaya.
Kelima hal tentang pencapaian yang disebut terakhir,
membentuk suatu kumpulan yang disebut lima kelompok unsur Dhamma (dhammakkhandhā).
“Kebebasan” diidentifikasikan sebagai buah mulia, “pengetahuan dan penglihatan
kebebasan” dengan pengetahuan peninjauan.]
“Yang Mulia, Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta sangat dihormati di negeri asal [Sang
Bhagavā] oleh para bhikkhu di sana, oleh teman-temannya dalam kehidupan suci.”
[Kitab Komentar : YM. Puṇṇa Mantāṇiputta
berasal dari keluarga brahmana dan ditahbiskan oleh YM. Aññā Kodañña di
Kapilavatthu, yang mana ia terus menetap di sana hingga ia memutuskan untuk
mengunjungi Sang Buddha di Sāvatthī. Ia belakangan dinyatakan oleh Sang Buddha
sebagai bhikkhu yang paling menonjol di antara para pembabar Dhamma.]
3. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta sedang duduk di dekat Sang Bhagavā.
Kemudian Yang Mulia Sāriputta berpikir: “Suatu keuntungan bagi Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta, suatu keuntungan besar baginya bahwa
teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci memujinya dalam segala hal
di hadapan Sang Guru. Mungkin suatu saat kami dapat bertemu dengan Yang Mulia
Puṇṇa Mantāṇiputta dan berbincang-bincang dengannya.”
4. Kemudian, ketika Sang Bhagavā telah menetap di Rājagaha selama yang
Beliau inginkan, Beliau melakukan perjalanan secara bertahap menuju Sāvatthī.
Dengan mengembara secara bertahap, Beliau akhirnya sampai di Sāvatthī, dan di
sana Beliau menetap di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
5. Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta mendengar: “Sang Bhagavā telah tiba di
Sāvatthī dan menetap di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.” Kemudian Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta merapikan tempat kediamannya, dan membawa
jubah luar dan mangkuknya, melakukan perjalanan secara bertahap menuju Sāvatthī.
Dengan melakukan perjalanan secara bertahap, ia akhirnya sampai di Sāvatthī dan
pergi ke Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika, untuk menjumpai Sang Bhagavā. Setelah bersujud
pada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan Sang Bhagavā memberikan instruksi,
menasihati, membangkitkan semangat, dan mendorongnya dengan khotbah Dhamma. Kemudian
Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta, setelah menerima instruksi, didorong,
dibangkitkan semangatnya, dan digembirakan oleh khotbah Dhamma dari Sang
Bhagavā, senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari
duduknya, dan setelah bersujud pada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya,
ia pergi ke Hutan Orang Buta untuk melewatkan hari itu.
6. Kemudian seorang bhikkhu mendatangi Yang Mulia Sāriputta dan berkata
kepadanya: “Teman Sāriputta, Bhikkhu Puṇṇa Mantāṇiputta yang sering engkau puji [147] baru saja diberi
instruksi, didorong, dibangkitkan semangatnya, dan digembirakan oleh Sang
Bhagavā dengan khotbah Dhamma; setelah senang dan gembira mendengar kata-kata
Sang Bhagavā, ia bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud pada Sang Bhagavā,
dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi ke Hutan Orang Buta untuk
melewatkan hari.”
7. Kemudian Yang Mulia Sāriputta segera mengambil alas duduk dan
mengikuti persis di belakang Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta, dengan tetap mempertahankan kepalanya dalam jarak
pandangan. Kemudian Yang Mulia Puṇna Mantāṇiputta memasuki Hutan Orang Buta dan duduk di bawah
sebatang pohon untuk melewatkan hari. Yang Mulia Sāriputta juga memasuki Hutan
Orang Buta dan duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.
8. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari
meditasi, mendatangi Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta, dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika
ramah tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia
Puṇṇa Mantāṇiputta:
9. “Apakah kehidupan suci dijalankan di bawah Sang Bhagavā kita, teman?”
– “Benar, teman.” – “Tetapi, teman, apakah demi pemurnian moralitas maka
kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?” – “Bukan, teman.” – “Kalau
begitu apakah demi pemurnian pikiran maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang
Bhagavā?” – “Bukan, teman.” - “Kalau begitu apakah demi pemurnian pandangan
maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?” – “Bukan, teman.” - “Kalau
begitu apakah demi pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan maka kehidupan suci
dijalani di bawah Sang Bhagavā?” – “Bukan, teman.” - “Kalau begitu apakah demi
pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan atas apa yang merupakan jalan dan
apa yang bukan jalan maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?” – “Bukan,
teman.” - “Kalau begitu apakah demi pemurnian melalui pengetahuan dan
penglihatan terhadap sang jalan maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang
Bhagavā?” – “Bukan, teman.” - “Kalau begitu apakah demi pemurnian melalui pengetahuan
dan penglihatan maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?” – “Bukan,
teman.”
[Kitab Komentar : Walaupun ketujuh pemurnian (satta
visuddhi) ini disebutkan di tempat lain dalam Kanon Pali (dalam Dīgha
Nikāya iii.288, dengan dua tambahan: pemurnian melalui kebijaksanaan dan
pemurnian melalui kebebasan), yang mengherankan adalah bahwa kedua tambahan ini
tidak dianalisa sebagai satu kelompok di manapun dalam Nikāya; dan hal ini
menjadi semakin mengherankan ketika kedua siswa besar ini sepertinya
mengenalinya sebagai satu kelompok pembagian ajaran. Bagaimanapun juga, ketujuh
skema ini membentuk kerangka bagi keseluruhan Visuddhimagga, yang mendefinisikan
perbedaan tahapan melalui tradisi komentar yang lengkap tentang meditasi
konsentrasi dan pandangan terang.
Singkatnya, “pemurnian
moralitas” (sīlavisuddhi)
adalah ketaatan tanpa terputus pada aturan-aturan moral yang dijalani seseorang,
dijelaskan oleh Visuddhimagga dengan merujuk pada latihan moral dari seorang
bhikkhu sebagai “empat pemurnian moralitas.”
“Pemurnian
pikiran” (cittavisuddhi)
adalah mengatasi kelima rintangan melalui pencapaian konsentrasi awal dan jhāna-jhāna.
“Pemurnian
pandangan” (diṭṭhivisuddhi) adalah
pemahaman yang mendefinisikan sifat dari kelima kelompok unsur kehidupan yang
menyusun sesosok makhluk hidup.
“Pemurnian
dengan mengatasi keragu-raguan” (kankhāvitaraṇavisuddhi) adalah memahami kondisionalitas.
“Pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan pada apa yang merupakan jalan dan apa yang
bukan jalan” (maggāmaggañāṇadassanavisuddhi) adalah
pembedaan benar antara jalan pertapaan yang keliru berupa pengalaman
menggembirakan dan menyenangkan dan jalan pandangan yang benar ke dalam ketidak-kekalan,
penderitaan, dan bukan-diri.
“Pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan pada sang jalan” (paṭipadāñāṇadassanavisuddhi) membentuk rangkaian meningkat dari pengetahuan pandangan terang hingga
jalan lokuttara.
Dan “Pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan” (ñāṇadassanavisuddhi) adalah jalan lokuttara.]
10. “Teman, ketika ditanya: ‘Tetapi, teman, apakah demi pemurnian
moralitas maka kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?’ engkau menjawab:
‘Bukan, teman.’ Ketika ditanya: ‘Kalau begitu apakah demi pemurnian pikiran …
pemurnian pandangan … pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan … pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan atas apa yang merupakan jalan dan apa yang
bukan jalan … pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan
… pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan maka kehidupan suci dijalani di
bawah Sang Bhagavā?’ engkau menjawab: ‘Bukan, teman.’ Kalau begitu demi apakah,
teman, [148] kehidupan suci dijalani di bawah Sang Bhagavā?”
“Teman, adalah
demi Nibbāna akhir yang tanpa kemelekatan maka kehidupan suci dijalani di bawah
Sang Bhagavā.”
[Kitab Komentar : Penerjemah lain mengemas anupādā
parinibbāna sebagai appacayaparinibbāna, “Nibbāna akhir yang tanpa
kondisi,” menjelaskan bahwa upādāna memiliki dua makna: genggaman (gahaṇa), seperti dalam kalimat
biasa tentang empat jenis kemelekatan dan kondisi (paccaya), seperti
diilustrasikan oleh paragraf ini. Para komentator menjelaskan “Nibbāna akhir
tanpa kemelekatan” adalah sebagai buah Kearahantaan; karena tidak dapat
digenggam oleh satu dari empat jenis kemelekatan; atau sebagai Nibbāna, yang
tidak terkondisi, karena tidak muncul melalui kondisi apapun.]
11. “Tetapi, teman, apakah pemurnian moralitas adalah Nibbāna akhir tanpa
kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau begitu apakah pemurnian pikiran adalah
Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau begitu apakah pemurnian
pandangan adalah Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau
begitu apakah pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan adalah Nibbāna akhir
tanpa kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau begitu apakah pemurnian melalui
pengetahuan dan penglihatan atas apa yang merupakan jalan dan apa yang bukan
jalan adalah Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau
begitu apakah pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan
adalah Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Kalau begitu
apakah pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan adalah Nibbāna akhir tanpa
kemelekatan?” – “Bukan, teman.” – “Tetapi,
teman, apakah Nibbāna akhir tanpa kemelekatan dicapai tanpa kondisi-kondisi ini?” – “Tidak,
teman.”
12. “Ketika ditanya: ‘Tetapi, teman, apakah pemurnian moralitas adalah
Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?’ engkau menjawab: ‘Bukan, teman.’ Ketika
ditanya: ‘Kalau begitu apakah pemurnian pikiran … pemurnian pandangan …
pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan … pemurnian melalui pengetahuan dan
penglihatan atas apa yang merupakan jalan dan apa yang bukan jalan … pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan … pemurnian melalui pengetahuan
dan penglihatan adalah Nibbāna akhir tanpa kemelekatan?’ engkau menjawab:
‘Bukan, teman.’ Tetapi bagaimanakah, teman, makna dari pernyataan-pernyataan
ini dipahami?”
13. “Teman, jika Sang Bhagavā menjelaskan pemurnian moralitas sebagai
Nibbāna akhir tanpa kemelekatan, maka Beliau menjelaskan apa yang masih
disertai dengan kemelekatan sebagai Nibbāna akhir tanpa kemelekatan. Jika
Sang Bhagavā menjelaskan pemurnian pikiran … pemurnian pandangan … pemurnian
dengan mengatasi keragu-raguan … pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan
atas apa yang merupakan jalan dan apa yang bukan merupakan jalan … pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan … pemurnian melalui
pengetahuan dan penglihatan sebagai Nibbāna akhir tanpa kemelekatan, maka
Beliau juga menjelaskan apa yang masih disertai dengan kemelekatan sebagai
Nibbāna akhir tanpa kemelekatan. Dan jika
Nibbāna akhir tanpa kemelekatan dicapai tanpa kondisi-kondisi ini, maka seorang
biasa juga mencapai Nibbāna akhir, karena orang biasa tidak memiliki kondisi-kondisi
ini.
[Kitab Komentar : Dapat dijelaskan bahwa enam
tingkat pertama adalah “disertai kemelekatan” dalam makna dikondisikan dan
dalam makna ada dalam diri seseorang yang masih menggenggam; tingkat ke
tujuh, karena lokuttara, hanya dalam makna terkondisikan.]
14. “Sehubungan dengan hal tersebut, teman, aku akan memberikan sebuah
perumpamaan, karena orang-orang bijaksana memahami makna dari suatu
pernyataan melalui perumpamaan. Misalkan bahwa Raja Pasenadi dari Kosala sewaktu
menetap di Sāvatthī [149] menghadapi suatu urusan yang harus diselesaikan
segera di Sāketa, dan bahwa antara Sāvatthī dan Sāketa tujuh kereta telah
dipersiapkan untuknya. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala, meninggalkan
Sāvatthī melalui pintu istana dalam, menaiki kereta pertama, dan dengan mengendarai
kereta pertama ia akan tiba di kereta ke dua; kemudian ia akan turun dari
kereta pertama dan naik ke kereta ke dua, dan dengan mengendarai kereta ke dua,
ia akan tiba di kereta ke tiga … dengan mengendarai kereta ke tiga, ia akan
tiba di kereta ke empat … dengan mengendarai kereta ke empat, ia akan tiba di
kereta ke lima … dengan mengendarai kereta ke lima, ia akan tiba di kereta ke
enam … dengan mengendarai kereta ke enam, ia akan tiba di kereta ke tujuh, dan
dengan mengendarai kereta ke tujuh, ia akan tiba di pintu istana dalam di Sāketa.
Kemudian, ketika ia telah sampai di pintu istana dalam, teman-teman dan
kenalannya, kerabat dan sanak saudaranya, akan bertanya: ‘Baginda, apakah
engkau datang dari Sāvatthī dengan mengendarai kereta ini?’ Bagaimanakah
seharusnya Raja Pasenadi dari Kosala menjawabnya dengan benar?”
“Untuk menjawab dengan benar, teman, ia harus menjawab sebagai berikut:
‘Di sini, sewaktu menetap di Sāvatthī aku menghadapi suatu urusan yang harus
diselesaikan segera di Sāketa, dan antara Sāvatthī dan Sāketa tujuh kereta
telah dipersiapkan untukku. Kemudian, meninggalkan Sāvatthī melalui pintu
istana dalam, aku menaiki kereta pertama, dan dengan mengendarai kereta pertama
aku tiba di kereta ke dua; kemudian aku turun dari kereta pertama dan naik ke
kereta ke dua, dan dengan mengendarai kereta ke dua, aku tiba di kereta ke tiga
… ke empat … ke lima … ke enam … kereta ke tujuh, dan dengan mengendarai kereta
ke tujuh, aku tiba di pintu istana dalam di Sāketa.’ Untuk menjawabnya dengan
benar ia harus menjawab demikian.”
15. “Demikian pula, teman,
pemurnian moralitas adalah demi untuk mencapai pemurnian pikiran; pemurnian
pikiran adalah demi untuk mencapai pemurnian pandangan; pemurnian pandangan
adalah demi untuk mencapai pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan; pemurnian
dengan mengatasi keraguraguan [150] adalah demi untuk mencapai pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan atas apa yang merupakan jalan dan apa yang
bukan jalan; pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan atas apa yang
merupakan jalan dan apa yang bukan jalan adalah demi untuk mencapai pemurnian
melalui pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan; pemurnian melalui
pengetahuan dan penglihatan terhadap sang jalan adalah demi untuk mencapai
pemurnian melalui pengetahuan dan penglihatan; pemurnian melalui pengetahuan
dan penglihatan adalah demi untuk mencapai Nibbāna akhir tanpa kemelekatan. Adalah
demi untuk mencapai Nibbāna akhir tanpa kemelekatan inilah kehidupan suci
dijalani di bawah Sang Bhagavā.”
16. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta bertanya kepada Yang
Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta: “Siapakah nama Yang Mulia, dan bagaimanakah
teman-temannya dalam kehidupan suci mengenali Yang Mulia?”
[Kitab Komentar menyebutkan bahwa Sāriputta
menanyakan ini hanya sebagai cara untuk menyapa Puṇṇa Mantāṇiputta
karena ia telah mengetahui namanya. Akan tetapi, Puṇṇa, belum
pernah bertemu dengan Sāriputta sebelumnya dan karena itu ia pasti
sungguh-sungguh terkejut bertemu dengan siswa utama itu.]
“Namaku adalah Puṇṇa, teman, dan teman-temanku dalam kehidupan suci
mengenalku sebagai Mantāṇiputta.”
“Sungguh menakjubkan, teman, sungguh mengagumkan! Semua pertanyaan yang
mendalam telah dijawab, pokok demi pokok, oleh Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta sebagai seorang siswa terpelajar yang
memahami Ajaran Sang Guru dengan benar. Suatu keuntungan bagi teman-temannya
dalam kehidupan suci, suatu keuntungan besar bagi mereka bahwa mereka berkesempatan
untuk bertemu dan memberi hormat kepada Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta. Bahkan jika dengan membawa Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta di atas alas duduk di atas kepala mereka agar
teman-temannya dalam kehidupan suci memperoleh kesempatan untuk bertemu dan
memberi hormat kepadanya, itu adalah keuntungan bagi mereka, keuntungan besar
bagi mereka. Dan adalah keuntungan bagi kami, keuntungan besar bagi kami bahwa
kami berkesempatan untuk bertemu dan memberi hormat kepada Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta.”
17. Ketika ini dikatakan, Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta:
“Siapakah nama Yang Mulia, dan bagaimanakah teman-temannya dalam kehidupan suci
mengenali Yang Mulia?”
“Namaku adalah Upatissa, teman, dan teman-temanku dalam kehidupan suci
mengenalku sebagai Sāriputta.”
“Sungguh, teman, kami tidak mengetahui bahwa kami sedang berbicara dengan
Yang Mulia Sāriputta, siswa yang menyamai Sang Guru sendiri. Jika kami
mengetahui sebelumnya bahwa engkau adalah Yang Mulia Sāriputta, maka kami tidak
akan berbicara begitu banyak. Sungguh menakjubkan, teman, sungguh mengagumkan!
Semua pertanyaan yang mendalam telah diajukan, pokok demi pokok, oleh Yang
Mulia Sāriputta sebagai seorang siswa terpelajar yang memahami Ajaran Sang Guru
dengan benar. Suatu keuntungan bagi teman-temannya dalam kehidupan suci, suatu
keuntungan besar bagi mereka bahwa mereka berkesempatan untuk bertemu dan
memberi hormat kepada Yang Mulia Sāriputta. Bahkan jika dengan membawa Yang
Mulia Sāriputta di atas alas duduk di atas kepala mereka agar teman-temannya
dalam kehidupan suci memperoleh kesempatan untuk bertemu dan memberi hormat
kepadanya, [151] itu adalah keuntungan bagi mereka, keuntungan besar bagi mereka.
Dan adalah keuntungan bagi kami, keuntungan besar bagi kami bahwa kami
berkesempatan untuk bertemu dan memberi hormat kepada Yang Mulia Sāriputta.”
[Kitab Komentar : Satthukappa, siswa yang
menyamai Sang Guru sendiri. Itu adalah pujian tertinggi yang dapat diucapkan bagi
pencapaian seorang siswa.]
Demikianlah kedua manusia agung itu bergembira mendengar kata-kata baik
masing-masing.
Berkebalikan dengan Buddhisme yang topik perbincangannya sebatas
pemurnian dan pensucian, berikut inilah, isi perbincangan dua orang PENDOSAWAN—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Nabi-nya
kaum PENDOSAWAN, tidaklah kalah BERDOSAnya dengan umat pengikutnya, para “KORUPTOR
DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, menyemangati para PENDOSAWAN untuk tetap
produktif memproduksi “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]