Allah Bersikap Kompromistik terhadap Penjahat, namun Intoleran terhadap Kaum NON

“Surga” yang Isinya justru Dihuni para PENJAHAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, Don’t Judge the Realm by the NAME

Question: Apakah tidak ada diantara mereka yang merasa heran, allah digambarkan begitu toleran terhadap penjahat dengan memasukkan para manusia sampah dan beracun tersebut ke surga untuk disatukan dengan allah, akan tetapi disaat bersamaan allah juga digambarkan sebagai sosok yang begitu jahat dan pendendam dengan memasukkan ke api neraka orang-orang yang sekalipun wataknya baik namun adalah kaum “non” atau sekadar karena ateis?

Brief Answer: Allah dilukiskan oleh dogma-dogma agama samawi sebagai sama sekali tidak toleran terhadap kaum NON. Salah satunya dapat dicerminkan dalam ayat berikut : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan  TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”  [Hadist Tirmidzi No. 2533].

Namun tidak ada “Tuhan” sebodoh Allah yang justru menyesaki alam surga dengan menjejali para “PENDOSA PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” ke dalamnya. Kita dapat mengukur sependek apa selera Allah, dengan membuat penilaian terhadap gaya berpikir Allah (profiling), salah satunya lewat ayat berikut: Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

PEMBAHASAN:

Dimanapun kita berada, ada pernyataan yang khas diucapkan terlontar keluar dari mulut-mulut para umat nasrani yang sedang berbincang dengan umat nasrani lainnya : “Umat Buddhist, orangnya baik sih. Tapi karena mereka tidak meyakini yesus kristus, maka mereka masuk neraka.” Sebaliknya, yesus memasukkan dua orang penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus. Artinya, umat agama nasrani ter-demotivasi untuk menjadi orang baik, terlebih untuk menjadi kaum ksatria yang berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatan buruk mereka sendiri; dan disaat bersamaan termotivasi untuk berlomba-lomba mengoleksi segudang dosa-dosa sembari berdelusi memonopoli alam surgawi untuk bersatu dengan yesus yang lebih PRO terhadap penjahat.

Telah ternyata, Allah tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang terpuji dan tercela, serta manakah manusia yang luhur serta manusia yang jauh dari kata mulia. Apakah patut, kita menyembah serta memasrahkan nasib kita ke tangan “Tuhan” yang buta dan otoriter semacam itu? Sebaliknya, Buddhisme hanya mengajarkan untuk berbuat kebaikan dan tidak berbuat kejahatan, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

34 (3)

Seorang brahmana mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Apakah yang Guru Gotama ajarkan, apakah yang Beliau nyatakan?”

“Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak-berbuat.”

[Kitab Komentar : Istilah operatif di sini adalah kiriyavāda dan akiriyavāda. Untuk kritik Buddhis atas akiriyavāda, suatu doktrin yang menyangkal kebenaran perbedaan etika,]

“Tetapi dengan cara bagaimanakah Guru Gotama mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak-berbuat?”

“Aku mengajarkan tidak-berbuat sehubungan dengan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan tidak berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas buruk yang tidak bermanfaat. Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas baik yang bermanfaat. Adalah dengan cara ini, Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak berbuat.”

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Sagha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

~0~

35 (4)

Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, [63] bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:

“Siapakah di dunia ini, Bhante, yang layak menerima persembahan, dan ke manakah suatu pemberian diberikan?”

“Ada, perumah tangga, dua di dunia ini yang layak menerima persembahan: yang masih berlatih dan yang melampaui latihan. Ini adalah dua di dunia ini yang layak menerima persembahan, dan ke mana suatu pemberian diberikan.”

[Kitab Komentar : Pelajar (sekha) merujuk pada tujuh individu yang masih berlatih (dari individu yang berada pada jalan memasuki-arus hingga seorang yang berada pada jalan Kearahattaan). Tetapi kaum duniawi yang bermoral (sīlavantaputthujjana) juga dapat dimasukkan dalam kelompok pemasuk-arus.]

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan ini, Yang Sempurna, Sang Guru, lebih jauh lagi mengatakan sebagai berikut:

“Di dunia ini, yang masih berlatih dan yang melampaui latihan

adalah layak menerima pemberian dari mereka yang

mempraktikkan kedermawanan;

jujur dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,

mereka adalah lahan bagi mereka yang mempraktikkan kedermawanan;

apa yang diberikan kepada mereka menghasilkan buah besar.”

~0~

36 (5)

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”

[Kitab Komentar : Rombongan umat awam Sāvatthī secara spontan berkumpul di Taman Timur untuk mendengar Sāriputta berbicara. Para deva juga, menyadari bahwa Sāriputta hendak membabarkan khotbah penting, datang dari berbagai alam surga dan dari ribuan sistem dunia untuk mendengarkan. Sāriputta mengerahkan kekuatan batin sedemikian sehingga bahkan mereka yang berada di belakang kerumunan, dan para deva di tepi sistem dunia, dapat dengan jelas melihat dan mendengarkan suaranya.]

“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, aku akan mengajarkan kepada kalian tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Dengarkan dan perhatikanlah, aku akan berbicara.”

[Kitab Komentar : Orang yang terbelenggu secara internal (ajjhattasayojanapuggala): ‘internal’ (ajjhatta) adalah kehidupan alam indria; ‘eksternal’ (bahiddhā) adalah kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk. Keinginan dan nafsu pada ‘internal,’ yang terdapat dalam kehidupan alam indria, disebut belenggu internal. Keinginan dan nafsu pada ‘eksternal,’ yang terdapat dalam kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk, disebut belenggu eksternal. Atau, dengan kata lain, kelima belenggu yang lebih rendah adalah belenggu internal, dan lima belenggu yang lebih tinggi adalah belenggu eksternal.

Orang-orang yang dibicarakan sebagai terbelenggu secara internal dan terbelenggu secara eksternal bukanlah kaum duniawi yang masih terikat pada lingkaran kehidupan, melainkan para siswa mulia – pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali - yang dibedakan dalam dua cara melalui modus penjelmaan mereka.]

“Baik, Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Dan siapakah, teman-teman, orang yang terbelenggu secara internal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara internal, yang adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali pada kondisi makhluk ini. [64]

[Kitab Komentar : Yang kembali pada kondisi makhluk ini (āgantā itthatta): ia kembali pada kondisi kelima kelompok unsur kehidupan manusia. Atau jika tidak, ia tidak terlahir kembali di alam surga tersebut atau di alam yang lebih tinggi, melainkan kembali ke alam rendah. Melalui faktor ini, apa yang dibahas adalah kedua jalan dan buah yang lebih rendah [dari memasuki-arus dan yang-kembali-sekali] yang dicapai oleh seorang bhikkhu yang adalah meditator pandangan terang kering dengan menggunakan elemen-elemen sebagai subjek meditasi (sukkhavipassakassa dhātukammaṭṭhānikabhikkhuno).]

“Dan siapakah, teman, seorang yang terbelenggu secara eksternal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Setelah memasuki suatu kebebasan pikiran tertentu yang damai, ia berdiam di dalamnya.

[Kitab Komentar : Kebebasan pikiran tertentu yang damai (aññatara santacetovimutti): jhāna ke empat di antara delapan pencapaian meditatif; itu adalah damai karena menenangkan kekotoran-kekotoran yang melawannya, dan adalah kebebasan pikiran karena terbebaskan dari kekotoran-kekotoran itu.]

Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.

[Kitab Komentar : Ia terlahir kembali dalam kelompok para deva di alam-alam murni (suddhāvāsa). Ia tidak kembali pada kondisi kelima kelompok unsur kehidupan manusia, juga tidak terlahir kembali di alam rendah. Apakah ia terlahir kembali di alam yang lebih tinggi atau ia mencapai nibbāna akhir di sana. Melalui faktor ini, apa yang dibahas adalah ketiga jalan dan buah [hingga yang-tidak-kembali] dari seorang bhikkhu yang melatih konsentrasi (samādhikammikassa bhikkhuno).]

”Kemudian, teman-teman, seorang bhikkhu adalah bermoral … Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ia mempraktikkan kekecewaan pada kenikmatan indria, mempraktikkan kebosanan terhadapnya, dan mempraktikkan lenyapnya.

[Kitab Komentar : Pada titik ini, apa yang dibahas adalah pandangan terang dari pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali (yang dijalankan) untuk menghancurkan nafsu pada kelima objek kenikmatan indria dan (untuk mencapai) jalan yang-tidak-kembali (anāgāmimaggavipassanā).]

Ia mempraktikkan kekecewaan pada kondisi-kondisi penjelmaan, mempraktikkan kebosanan terhadapnya, dan mempraktikkan lenyapnya.

[Kitab Komentar : Melalui ini, apa yang dibahas adalah pandangan terang yang-tidak-kembali (yang dijalankan) untuk menghancurkan nafsu pada penjelmaan dan untuk mencapai jalan Kearahattaan (arahattamaggavipassanā).]

Ia mempraktikkan hancurnya ketagihan. Ia mempraktikkan hancurnya keserakahan.

[Kitab Komentar : praktik untuk penghancuran ketagihan (tahākkhaya) sekali lagi sebagai merujuk pada pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali untuk mencapai jalan yang-tidak-kembali, dan praktik untuk penghancuran keserakahan (lobhakkhaya) sekali lagi sebagai merujuk pada pandangan terang yang-tidak-kembali untuk mencapai jalan Kearahattaan. Agak aneh jika pembedaan itu yang dimaksudkan di sini. Karena baik ketagihan (ta) dan keserakahan (lobha) dapat merujuk pada keinginan pada kehidupan yang berkesinambungan (bhavata, bhavarāga), dan karena tampaknya tidak mungkin bahwa, setelah menyinggung realisasi tertinggi, Sāriputta kemudian kembali ke tingkat yang lebih rendah, kalimat ini mungkin hanyalah kelanjutan dari penjelasan tentang seorang yang berlatih untuk mencapai Kearahattaan.]

Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk ini.”

[Kitab Komentar : Sāriputta membahas pandangan terang dalam enam kelompok: (1) dua jalan dan buah yang lebih rendah dari meditator pandangan terang kering yang menggunakan elemen-elemen sebagai subjek meditasinya; (2) tiga jalan dan buah dari seorang yang berusaha dalam konsentrasi; (3) pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali untuk menghancurkan nafsu indria (dan mencapai) jalan yang-tidak-kembali; (4) pandangan terang yang-tidak-kembali untuk menghancurkan nafsu pada penjelmaan (dan mencapai) jalan Kearahattaan; (5) pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali demi ‘hancurnya ketagihan’ – yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria – dan untuk mencapai jalan yang-tidak-kembali; dan (6) pandangan terang yang-tidak-kembali demi ‘hancurnya keserakahan’ – yaitu, keserakahan pada penjelmaan – dan (untuk mencapai) jalan Kearahattaan. Pada bagian penutup dari khotbah ini, para dewa yang berjumlah ratusan ribu koi (satu koi = sepuluh juta) mencapai Kearahattaan, dan tidak terhitung banyaknya yang menjadi pemasuk-arus dan seterusnya.]

Kemudian sejumlah para dewa yang berpikiran sama mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta sedang mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi belas kasihan.”265

[Kitab Komentar : Mereka disebut ‘berpikiran sama’ karena kemiripan dalam kehalusan pikiran mereka (cittassa sukhumabhāvasamatāya samacittā); karena mereka menciptakan tubuh mereka dengan pikiran yang kehalusannya sama (sukhume cittasarikkhake katvā). Penerjemah lain dari Bahasa Pali, memberikan penjelasan lain atas samacittā, tetapi semuanya mengartikan maknanya sebagai “dengan pikiran yang sama.” Akan tetapi Bhikkhu Bodhi menyebutkan, bahwa meski demikian, ungkapan santindriyā dan santamānasā menjelang akhir sutta, yang keduanya berhubungan dengan Sansekerta śama, menyiratkan bahwa makna aslinya mungkin bermakna “pikiran yang damai,” kecuali jika ambivalensi ini memang disengaja.

Anukampa upādāya. Bukan demi belas kasihan kepada Sāriputta, karena pada saat itu tidak diperlukan untuk menunjukkan belas kasihan kepada Bhikkhu [Sāriputta] … yang telah mencapai kesempurnaan pengetahuan seorang siswa. Sebaliknya, mereka memohon Sang Bhagavā untuk pergi demi belas kasihan kepada para deva dan manusia lainnya yang telah berkumpul di sana.

Terlepas dari komentar, sepertinya para deva itu benar-benar menginginkan Sang Buddha untuk mendatangi Sāriputta demi dirinya. Sāriputta mungkin tidak memiliki kesaktian untuk melihat kumpulan para deva yang berkumpul di sana untuk mendengarkannya berbicara dan karena itu Sang Buddha harus memberitahunya. Pada sutta terpisah, Sāriputta mengatakan bahwa ia bahkan tidak melihat sesosok hantu lumpur (maya pan’etarahi pasupisācakampi na passāma).]

Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian, bagaikan seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sang Bhagavā lenyap dari Hutan Jeta dan muncul kembali di Istana Migāramātā di Taman Timur di hadapan Yang Mulia Sāriputta. Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Yang Mulia Sāriputta [65] bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Sāriputta.

“Di sini, Sāriputta, sejumlah para dewa yang berpikiran sama mendatangiKu, bersujud kepadaKu, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta sedang mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi belas kasihan.’

“Para dewa itu – berjumlah sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, dan bahkan enam puluh – berdiri di suatu bidang yang berukuran sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain. Mungkin, Sāriputta, engkau berpikir:

‘Pasti, di sana para dewa itu mengembangkan pikiran mereka sedemikian sehingga sepuluh … dan bahkan berjumlah enam puluh berdiri di satu bidang sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain.’ Tetapi hal ini tidak boleh dianggap demikian. Sebaliknya, adalah di sini para dewa itu yang terkembang pikirannya sedemikian sehingga sepuluh … dan bahkan berjumlah enam puluh berdiri di satu bidang sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama lain.

[Kitab Komentar : Adalah di sini (idh’eva): Adalah di alam manusia ini dan di bawah ajaran ini para dewa itu telah mengembangkan pikiran mereka sedemikian sehingga mereka terlahir kembali di alam berbentuk yang damai. Setelah datang dari sana, mereka telah menciptakan tubuh halus. Walaupun para dewa itu mungkin telah mencapai tiga jalan dan buah pada masa ajaran Buddha Kassapa, karena semua Buddha memiliki ajaran yang sama, namun dengan kata ‘di sini’ Beliau merujuk pada ajaran sebagai kesatuan. Paralel China lebih eksplisit daripada Pāli: “Adalah di masa lampau ketika mereka adalah manusia para dewa berpikiran sama itu mengembangkan pikiran bermanfaat demikian, pikiran yang sangat luas dan luar biasa demikian.”]

“Oleh karena itu, Sāriputta, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran yang damai.’

[Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah dari Bahasa Pali, menyebutkan : “Santindriyā bhavissāma santamānasā. Seperti tertulis dalam catatan Sebelumnya di atas, penggunaan kata santa yang berulang di sini dan persis di bawah menyiratkan bahwa samacittā, sehubungan dengan para dewa itu, dapat bermakna ‘pikiran yang damai’ – terlepas dari kesesuaian antara terjemahan oleh penerjemah lain dan sutta versi Bahasa China-Mandarin yang memiliki terjemahan ‘berpikiran sama.’”]

Dengan cara demikianlah engkau harus berlatih. Ketika engkau memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran-pikiran yang damai, maka perbuatan jasmanimu akan menjadi damai, perbuatan ucapanmu akan menjadi damai, dan perbuatan pikiranmu akan menjadi damai. [Dengan berpikir:] ‘Kami akan memberikan hanya pelayanan yang damai kepada teman-teman kami para bhikkhu,’ dengan cara demikianlah, Sāriputta, engkau harus berlatih. Sāriputta, para pengembara sekte lain yang tidak mendengar khotbah Dhamma ini sungguh telah tersesat.”

Alih-alih berbuat kebaikan, umat agama samawi justru diajarkan dan dibiasakan untuk meminta, memohon, dan mengemis sesuatu dijatuhkan dari langit, alias kaum pemalas. Alih-alih sibuk bertanggung-jawab atas perbuatan mereka sendiri, umat agama samawi justru dididik serta didorong untuk berkelit dan menghindar dari konsekuensi atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, alias kaum pengecut. Bung, hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Babi disebut sebagai “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” justru dikampanyekan sebagai “halal lifestyle”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]