“Surga” yang Isinya justru Dihuni para PENJAHAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, Don’t Judge the Realm by the NAME
Question: Apakah tidak ada diantara mereka yang merasa heran, allah digambarkan begitu toleran terhadap penjahat dengan memasukkan para manusia sampah dan beracun tersebut ke surga untuk disatukan dengan allah, akan tetapi disaat bersamaan allah juga digambarkan sebagai sosok yang begitu jahat dan pendendam dengan memasukkan ke api neraka orang-orang yang sekalipun wataknya baik namun adalah kaum “non” atau sekadar karena ateis?
Brief Answer: Allah dilukiskan oleh dogma-dogma agama samawi sebagai
sama sekali tidak toleran terhadap kaum NON. Salah satunya dapat dicerminkan
dalam ayat berikut : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga
mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN
SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan
sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal
tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No. 2533].
Namun tidak ada “Tuhan” sebodoh Allah yang justru menyesaki alam surga
dengan menjejali para “PENDOSA PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” ke dalamnya. Kita
dapat mengukur sependek apa selera Allah, dengan membuat penilaian terhadap
gaya berpikir Allah (profiling), salah satunya lewat ayat berikut: Aku
mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang
meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab:
‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
PEMBAHASAN:
Dimanapun kita berada, ada pernyataan yang khas
diucapkan terlontar keluar dari mulut-mulut para umat nasrani yang sedang
berbincang dengan umat nasrani lainnya : “Umat Buddhist, orangnya baik sih. Tapi
karena mereka tidak meyakini yesus kristus, maka mereka masuk neraka.” Sebaliknya,
yesus memasukkan dua orang penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus. Artinya,
umat agama nasrani ter-demotivasi untuk menjadi orang baik, terlebih untuk
menjadi kaum ksatria yang berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatan buruk
mereka sendiri; dan disaat bersamaan termotivasi untuk berlomba-lomba mengoleksi
segudang dosa-dosa sembari berdelusi memonopoli alam surgawi untuk bersatu
dengan yesus yang lebih PRO terhadap penjahat.
Telah ternyata, Allah tidak mampu membedakan mana
yang baik dan buruk, mana yang terpuji dan tercela, serta manakah manusia yang
luhur serta manusia yang jauh dari kata mulia. Apakah patut, kita menyembah
serta memasrahkan nasib kita ke tangan “Tuhan” yang buta dan otoriter semacam
itu? Sebaliknya, Buddhisme hanya mengajarkan untuk berbuat kebaikan dan tidak
berbuat kejahatan, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
34 (3)
Seorang brahmana mendatangi Sang Bhagavā dan saling
bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia
duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:
“Apakah yang Guru Gotama ajarkan, apakah yang Beliau
nyatakan?”
“Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan
doktrin tidak-berbuat.”
[Kitab Komentar : Istilah
operatif di sini adalah kiriyavāda dan akiriyavāda. Untuk kritik Buddhis
atas akiriyavāda, suatu doktrin yang menyangkal kebenaran perbedaan
etika,]
“Tetapi dengan cara bagaimanakah Guru Gotama
mengajarkan doktrin perbuatan dan doktrin tidak-berbuat?”
“Aku mengajarkan tidak-berbuat sehubungan dengan perbuatan buruk melalui
jasmani, ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan tidak berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas
buruk yang tidak bermanfaat. Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan perbuatan baik melalui jasmani,
ucapan, dan pikiran; Aku mengajarkan berbuat sehubungan dengan banyak jenis kualitas baik yang
bermanfaat. Adalah dengan cara ini, Brahmana, Aku mengajarkan doktrin perbuatan dan
doktrin tidak berbuat.”
“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru
Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan
apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada
orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan
baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama,
kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha
para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang
telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”
~0~
35 (4)
Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā,
[63] bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
“Siapakah di dunia ini, Bhante, yang layak menerima persembahan,
dan ke manakah suatu pemberian diberikan?”
“Ada, perumah tangga, dua di dunia ini yang layak
menerima persembahan: yang masih berlatih dan yang melampaui latihan. Ini
adalah dua di dunia ini yang layak menerima persembahan, dan ke mana suatu
pemberian diberikan.”
[Kitab Komentar : Pelajar (sekha)
merujuk pada tujuh individu yang masih berlatih (dari individu yang berada pada
jalan memasuki-arus hingga seorang yang berada pada jalan Kearahattaan). Tetapi
kaum duniawi yang bermoral (sīlavantaputthujjana) juga dapat dimasukkan
dalam kelompok pemasuk-arus.]
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Setelah mengatakan ini, Yang Sempurna, Sang Guru, lebih jauh lagi mengatakan
sebagai berikut:
“Di dunia ini, yang masih berlatih dan yang
melampaui latihan
adalah layak menerima pemberian dari mereka yang
mempraktikkan kedermawanan;
jujur dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
mereka adalah lahan bagi mereka yang mempraktikkan
kedermawanan;
apa yang diberikan kepada mereka menghasilkan buah
besar.”
~0~
36 (5)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia
Sāriputta sedang menetap di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Di
sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para
bhikkhu!”
[Kitab Komentar : Rombongan
umat awam Sāvatthī secara spontan berkumpul di Taman Timur untuk mendengar
Sāriputta berbicara. Para deva juga, menyadari bahwa Sāriputta hendak membabarkan
khotbah penting, datang dari berbagai alam surga dan dari ribuan sistem dunia
untuk mendengarkan. Sāriputta mengerahkan kekuatan batin sedemikian sehingga
bahkan mereka yang berada di belakang kerumunan, dan para deva di tepi sistem dunia,
dapat dengan jelas melihat dan mendengarkan suaranya.]
“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia
Sāriputta berkata sebagai berikut:
“Teman-teman, aku akan mengajarkan kepada kalian
tentang orang yang terbelenggu secara internal dan orang yang terbelenggu
secara eksternal. Dengarkan dan perhatikanlah, aku akan berbicara.”
[Kitab Komentar : Orang yang
terbelenggu secara internal (ajjhattasaṃyojanaṃ puggalaṃ): ‘internal’ (ajjhattaṃ) adalah kehidupan alam indria;
‘eksternal’ (bahiddhā) adalah kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk.
Keinginan dan nafsu pada ‘internal,’ yang terdapat dalam kehidupan alam indria,
disebut belenggu internal. Keinginan dan nafsu pada ‘eksternal,’ yang terdapat
dalam kehidupan alam berbentuk dan tanpa bentuk, disebut belenggu eksternal.
Atau, dengan kata lain, kelima belenggu yang lebih rendah adalah belenggu internal,
dan lima belenggu yang lebih tinggi adalah belenggu eksternal.
Orang-orang yang dibicarakan
sebagai terbelenggu secara internal dan terbelenggu secara eksternal bukanlah
kaum duniawi yang masih terikat pada lingkaran kehidupan, melainkan para siswa mulia
– pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, dan yang-tidak-kembali - yang dibedakan
dalam dua cara melalui modus penjelmaan mereka.]
“Baik, Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia
Sāriputta berkata sebagai berikut:
“Dan siapakah, teman-teman, orang yang terbelenggu
secara internal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali
oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat
bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima
aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu.
Meninggal dunia dari sana, ia adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali
pada kondisi makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara internal, yang
adalah seorang yang-kembali, seorang yang kembali pada kondisi makhluk ini.
[64]
[Kitab Komentar : Yang kembali
pada kondisi makhluk ini (āgantā itthattaṃ): ia kembali pada kondisi
kelima kelompok unsur kehidupan manusia. Atau jika tidak, ia tidak terlahir
kembali di alam surga tersebut atau di alam yang lebih tinggi, melainkan
kembali ke alam rendah. Melalui faktor ini, apa yang dibahas adalah kedua jalan
dan buah yang lebih rendah [dari memasuki-arus dan yang-kembali-sekali] yang
dicapai oleh seorang bhikkhu yang adalah meditator pandangan terang kering
dengan menggunakan elemen-elemen sebagai subjek meditasi (sukkhavipassakassa
dhātukammaṭṭhānikabhikkhuno).]
“Dan siapakah, teman, seorang yang terbelenggu
secara eksternal? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali
oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat
bahaya bahkan dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima aturan-aturan
latihan, ia berlatih di dalamnya. Setelah memasuki suatu kebebasan pikiran
tertentu yang damai, ia berdiam di dalamnya.
[Kitab Komentar : Kebebasan
pikiran tertentu yang damai (aññataraṃ santaṃ cetovimuttiṃ): jhāna ke empat di antara
delapan pencapaian meditatif; itu adalah damai karena menenangkan kekotoran-kekotoran
yang melawannya, dan adalah kebebasan pikiran karena terbebaskan dari
kekotoran-kekotoran itu.]
Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana,
ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi
makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah
seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk
ini.
[Kitab Komentar : Ia terlahir
kembali dalam kelompok para deva di alam-alam murni (suddhāvāsa). Ia
tidak kembali pada kondisi kelima kelompok unsur kehidupan manusia, juga tidak
terlahir kembali di alam rendah. Apakah ia terlahir kembali di alam yang lebih
tinggi atau ia mencapai nibbāna akhir di sana. Melalui faktor ini, apa yang
dibahas adalah ketiga jalan dan buah [hingga yang-tidak-kembali] dari seorang bhikkhu
yang melatih konsentrasi (samādhikammikassa bhikkhuno).]
”Kemudian, teman-teman, seorang bhikkhu adalah
bermoral … Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ia mempraktikkan
kekecewaan pada kenikmatan indria, mempraktikkan kebosanan terhadapnya, dan
mempraktikkan lenyapnya.
[Kitab Komentar : Pada titik
ini, apa yang dibahas adalah pandangan terang dari pemasuk-arus dan
yang-kembali-sekali (yang dijalankan) untuk menghancurkan nafsu pada kelima
objek kenikmatan indria dan (untuk mencapai) jalan yang-tidak-kembali (anāgāmimaggavipassanā).]
Ia mempraktikkan kekecewaan pada kondisi-kondisi penjelmaan, mempraktikkan
kebosanan terhadapnya, dan mempraktikkan lenyapnya.
[Kitab Komentar : Melalui ini,
apa yang dibahas adalah pandangan terang yang-tidak-kembali (yang dijalankan)
untuk menghancurkan nafsu pada penjelmaan dan untuk mencapai jalan Kearahattaan
(arahattamaggavipassanā).]
Ia mempraktikkan hancurnya ketagihan. Ia mempraktikkan hancurnya
keserakahan.
[Kitab Komentar : praktik untuk
penghancuran ketagihan (taṇhākkhaya) sekali lagi sebagai merujuk
pada pandangan terang pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali untuk mencapai jalan
yang-tidak-kembali, dan praktik untuk penghancuran keserakahan (lobhakkhaya)
sekali lagi sebagai merujuk pada pandangan terang yang-tidak-kembali untuk
mencapai jalan Kearahattaan. Agak aneh jika pembedaan itu yang dimaksudkan di
sini. Karena baik ketagihan (taṇhā) dan keserakahan (lobha)
dapat merujuk pada keinginan pada kehidupan yang berkesinambungan (bhavataṇhā, bhavarāga), dan karena
tampaknya tidak mungkin bahwa, setelah menyinggung realisasi tertinggi,
Sāriputta kemudian kembali ke tingkat yang lebih rendah, kalimat ini mungkin
hanyalah kelanjutan dari penjelasan tentang seorang yang berlatih untuk
mencapai Kearahattaan.]
Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
terlahir kembali dalam kelompok para deva tertentu. Meninggal dunia dari sana,
ia adalah seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi
makhluk ini. Ia disebut orang yang terbelenggu secara eksternal, yang adalah
seorang yang-tidak-kembali, seorang yang tidak kembali pada kondisi makhluk
ini.”
[Kitab Komentar : Sāriputta
membahas pandangan terang dalam enam kelompok: (1) dua jalan dan buah yang
lebih rendah dari meditator pandangan terang kering yang menggunakan
elemen-elemen sebagai subjek meditasinya; (2) tiga jalan dan buah dari seorang
yang berusaha dalam konsentrasi; (3) pandangan terang pemasuk-arus dan
yang-kembali-sekali untuk menghancurkan nafsu indria (dan mencapai) jalan
yang-tidak-kembali; (4) pandangan terang yang-tidak-kembali untuk menghancurkan
nafsu pada penjelmaan (dan mencapai) jalan Kearahattaan; (5) pandangan terang
pemasuk-arus dan yang-kembali-sekali demi ‘hancurnya ketagihan’ – yaitu, ketagihan
pada kenikmatan indria – dan untuk mencapai jalan yang-tidak-kembali; dan (6)
pandangan terang yang-tidak-kembali demi ‘hancurnya keserakahan’ – yaitu,
keserakahan pada penjelmaan – dan (untuk mencapai) jalan Kearahattaan. Pada
bagian penutup dari khotbah ini, para dewa yang berjumlah ratusan ribu koṭi (satu koṭi = sepuluh juta) mencapai
Kearahattaan, dan tidak terhitung banyaknya yang menjadi pemasuk-arus dan
seterusnya.]
Kemudian sejumlah para dewa yang berpikiran sama mendatangi
Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada
Beliau: “Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta
sedang mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara
internal dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik
sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi
belas kasihan.”265
[Kitab Komentar : Mereka disebut
‘berpikiran sama’ karena kemiripan dalam kehalusan pikiran mereka (cittassa
sukhumabhāvasamatāya samacittā); karena mereka menciptakan tubuh mereka
dengan pikiran yang kehalusannya sama (sukhume cittasarikkhake katvā). Penerjemah
lain dari Bahasa Pali, memberikan penjelasan lain atas samacittā, tetapi
semuanya mengartikan maknanya sebagai “dengan pikiran yang sama.” Akan tetapi
Bhikkhu Bodhi menyebutkan, bahwa meski demikian, ungkapan santindriyā dan
santamānasā menjelang akhir sutta, yang keduanya berhubungan dengan Sansekerta śama,
menyiratkan bahwa makna aslinya mungkin bermakna “pikiran yang damai,” kecuali
jika ambivalensi ini memang disengaja.
Anukampaṃ upādāya. Bukan demi belas kasihan
kepada Sāriputta, karena pada saat itu tidak diperlukan untuk menunjukkan belas
kasihan kepada Bhikkhu [Sāriputta] … yang telah mencapai kesempurnaan
pengetahuan seorang siswa. Sebaliknya, mereka memohon Sang Bhagavā untuk pergi
demi belas kasihan kepada para deva dan manusia lainnya yang telah berkumpul di
sana.
Terlepas dari komentar,
sepertinya para deva itu benar-benar menginginkan Sang Buddha untuk mendatangi
Sāriputta demi dirinya. Sāriputta mungkin tidak memiliki kesaktian untuk
melihat kumpulan para deva yang berkumpul di sana untuk mendengarkannya
berbicara dan karena itu Sang Buddha harus memberitahunya. Pada sutta terpisah,
Sāriputta mengatakan bahwa ia bahkan tidak melihat sesosok hantu lumpur (mayaṃ pan’etarahi paṃsupisācakampi na passāma).]
Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian,
bagaikan seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk
lengannya yang terentang, Sang Bhagavā lenyap dari Hutan Jeta dan muncul
kembali di Istana Migāramātā di Taman Timur di hadapan Yang Mulia Sāriputta. Beliau
duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Yang Mulia Sāriputta [65] bersujud
kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata
kepada Yang Mulia Sāriputta.
“Di sini, Sāriputta, sejumlah para dewa yang
berpikiran sama mendatangiKu, bersujud kepadaKu, berdiri di satu sisi, dan berkata:
‘Bhante, di Istana Migāramātā di Taman Timur, Yang Mulia Sāriputta sedang
mengajarkan kepada para bhikkhu tentang orang yang terbelenggu secara internal
dan orang yang terbelenggu secara eksternal. Kumpulan itu tergetar. Baik
sekali, Bhante, jika Sang Bhagavā sudi mendatangi Yang Mulia Sāriputta demi
belas kasihan.’
“Para dewa itu – berjumlah sepuluh, dua puluh, tiga
puluh, empat puluh, lima puluh, dan bahkan enam puluh – berdiri di suatu bidang
yang berukuran sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama
lain. Mungkin, Sāriputta, engkau berpikir:
‘Pasti, di sana para dewa itu mengembangkan pikiran
mereka sedemikian sehingga sepuluh … dan bahkan berjumlah enam puluh berdiri di
satu bidang sekecil ujung jarum namun tidak saling bersinggungan satu sama
lain.’ Tetapi hal ini tidak boleh dianggap demikian. Sebaliknya, adalah di sini
para dewa itu yang terkembang pikirannya sedemikian sehingga sepuluh … dan
bahkan berjumlah enam puluh berdiri di satu bidang sekecil ujung jarum namun
tidak saling bersinggungan satu sama lain.
[Kitab Komentar : Adalah di
sini (idh’eva): Adalah di alam manusia ini dan di bawah ajaran ini para
dewa itu telah mengembangkan pikiran mereka sedemikian sehingga mereka terlahir
kembali di alam berbentuk yang damai. Setelah datang dari sana, mereka telah
menciptakan tubuh halus. Walaupun para dewa itu mungkin telah mencapai tiga
jalan dan buah pada masa ajaran Buddha Kassapa, karena semua Buddha memiliki
ajaran yang sama, namun dengan kata ‘di sini’ Beliau merujuk pada ajaran
sebagai kesatuan. Paralel China lebih eksplisit daripada Pāli: “Adalah di
masa lampau ketika mereka adalah manusia para dewa berpikiran sama itu
mengembangkan pikiran bermanfaat demikian, pikiran yang sangat luas dan luar
biasa demikian.”]
“Oleh karena itu, Sāriputta, engkau harus berlatih
sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran
yang damai.’
[Bhikkhu Bodhi selaku
penerjemah dari Bahasa Pali, menyebutkan : “Santindriyā bhavissāma
santamānasā. Seperti tertulis dalam catatan Sebelumnya di atas, penggunaan
kata santa yang berulang di sini dan persis di bawah menyiratkan bahwa samacittā,
sehubungan dengan para dewa itu, dapat bermakna ‘pikiran yang damai’ – terlepas
dari kesesuaian antara terjemahan oleh penerjemah lain dan sutta versi Bahasa China-Mandarin
yang memiliki terjemahan ‘berpikiran sama.’”]
Dengan cara demikianlah engkau harus berlatih. Ketika
engkau memiliki organ-organ indria yang damai dan pikiran-pikiran yang damai,
maka perbuatan jasmanimu akan menjadi damai, perbuatan ucapanmu akan menjadi
damai, dan perbuatan pikiranmu akan menjadi damai. [Dengan berpikir:] ‘Kami akan
memberikan hanya pelayanan yang damai kepada teman-teman kami para bhikkhu,’
dengan cara demikianlah, Sāriputta, engkau harus berlatih. Sāriputta, para
pengembara sekte lain yang tidak mendengar khotbah Dhamma ini sungguh telah
tersesat.”
Alih-alih berbuat kebaikan, umat agama samawi
justru diajarkan dan dibiasakan untuk meminta, memohon, dan mengemis sesuatu
dijatuhkan dari langit, alias kaum pemalas. Alih-alih sibuk bertanggung-jawab
atas perbuatan mereka sendiri, umat agama samawi justru dididik serta didorong
untuk berkelit dan menghindar dari konsekuensi atas perbuatan-perbuatan buruk
mereka sendiri, alias kaum pengecut. Bung, hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN
DOSA”—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH
GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut
putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA
dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Babi disebut
sebagai “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”
justru dikampanyekan sebagai “halal lifestyle”—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]