Peng-Kurban-an Ibrahim / Abraham terhadap Putera Tunggalnya, Ismail / Ishaq, Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH
Question: Di dalam agama samawi-abrahamik, Ibrahim mengkurbankan nyawa hidup anak kandungnya untuk disembelih, Ismail. Namun, Ibrahim tidak bersedia mengkurbankan harta miliknya yang terbesar, yakni nyawanya sendiri untuk disembelih, karena Ibrahim telah dibutakan oleh EGO yang tergila-gila oleh mimpi bersenang-senang dan bersetubuh dengan puluhan bidadari di sorga. Jika Sang Buddha, apakah wujud pengorbanannya, apakah ada kisah hidup Sang Buddha yang relevan dengan kisah kurban-mengkurbankan anak kandung?
Brief
Answer: Pangeran Siddhatta
Gotama, sebelum melepaskan takhta kerajaan, memiliki seorang putera tunggal bernama
Rāhula. Pengorbanan Sang Buddha, ialah pengorbanan “TANPA DARAH”, berkebalikan
dengan ajaran agama samawi yang pengkurbanannya “HAUS DAN PENUH PERTUMPAHAN
DARAH”, dimana juga Sang Buddha terlebih dahulu meng-kurban-kan dirinya sendiri
terlebih dahulu.
PEMBAHASAN:
Agama samawi dibangun diatas fondasi keropos dan semu bernama “KEBOHONGAN”.
Karenanya, para umatnya maupun nabi junjungan mereka berakhir menjelma “KORUPTOR
DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi lewat mabuk-kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,
bagi PENDOSAWAN tentunya. Bagaimana mungkin agama yang mempromosikan iming-iming
KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis
dari dosa maupun maksiat, diklaim sebagai “Agama SUCI” alih-alih berterus-terang
sebagai “Agama DOSA”? Sang Buddha telah pernah berkata
“Demikian pula, Rāhula, jika seseorang
tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku
katakan, yang tidak akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut:
‘Aku tidak akan
mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan.’”
Adapun kisah peng-kurban-an Sang Buddha atas putera tunggalNya, selengkapnya
dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit
DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
61
Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta : Nasihat
kepada Rāhula di Ambalaṭṭhika
[414] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
2. Pada saat itu Yang Mulia Rāhula sedang menetap di Ambalaṭṭhika. Kemudian pada suatu malam, Sang Bhagavā bangkit dari meditasiNya
dan mendatangi Yang Mulia Rāhula di Ambalaṭṭhikā. Dari jauh Yang Mulia Rāhula melihat kedatangan
Sang Bhagavā dan mempersiapkan tempat duduk dan menyediakan air untuk mencuci
kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan mencuci kakiNya.
Yang Mulia Rāhula bersujud kepada Beliau dan duduk di satu sisi.
[Kitab Komentar : Rāhula adalah putera tunggal Pangeran
Siddhatta Gotama, dilahirkan pada hari yang sama ketika ayahnya meninggalkan
istana untuk mencari pencerahan. Pada usia tujuh tahun ia ditahbiskam menjadi
seorang samaṇera oleh Yang Mulia Sāriputta pada peristiwa kunjungan pertama Sang
Buddha Gotama ke Kapilavatthu setelah pencerahanNya. Sang Buddha menyatakannya
sebagai siswa terunggul di antara para siswa yang menyukai latihan.
Peng-kurban-an Sang Buddha, ialah peng-kurban-an “tanpa pertumpahan dasar”. Sang Buddha membimbing Rāhula, sehingga melepaskan
keduniawian maupun takhta kerajaan, setelah sang ayah terlebih dahulu meng-kurban-kan
dirinya sendiri dengan melepaskan takhta kerajaan. Kontras dengan ajaran agama samawi-abrahamik,
dimana Ibrahim mengatas-namakan peng-kurban-an, memiliki niat batin untuk
menyembelih dan “menumpahkan darah” putera kandungnya sendiri, tanpa sang ayah
sendiri bersedia untuk disembelih sebelum maupun sesudahnya.
Menurut Kitab Komentar, khotbah ini diajarkan kepada
Rāhula ketika ia berumur tujuh tahun, dengan demikian tidak lama setelah
penahbisannya. Pada Majjhima Nikāya 147, ia mencapai Kearahantaan setelah
mendengarkan khotbah dari Sang Buddha tentang pengembangan pandangan terang.]
3. Kemudian Sang Bhagavā menyisakan sedikit air di dalam wadah air dan
bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat sedikit air
ini dalam wadah air ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Rāhula,
hanya sedikit pertapaan dari mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang
disengaja.”
4. Kemudian Sang Bhagavā membuang sedikit air yang tersisa itu dan
bertanya kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat air yang
dibuang itu?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian
pula, Rāhula, mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja
telah membuang pertapaan mereka.”
5. Kemudian Sang Bhagavā membalikkan wadah air itu dan bertanya kepada
Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat wadah air yang dibalikkan
ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian
pula, Rāhula, mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang disengaja
telah membalikkan pertapaan mereka.”
6. Kemudian Sang Bhagavā menegakkan kembali wadah air itu dan bertanya
kepada Yang Mulia Rāhula: “Rāhula, apakah engkau melihat wadah air yang cekung
ini, wadah air yang kosong ini?” – “Ya, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Rāhula, cekung
dan kosong pertapaan mereka yang tidak malu mengucapkan kebohongan yang
disengaja .”
7. “Misalkan, Rāhula, ada seekor gajah besar dengan gading sepanjang
tiang kereta, dewasa dalam posturnya, dari keturunan yang baik, dan terbiasa
dalam pertempuran. Dalam pertempuran ia akan melakukan tugasnya dengan kaki
depan dan kaki belakangnya, dengan bagian tubuh depan dan bagian tubuh belakangnya,
dengan kepala dan kupingnya, dengan gading dan ekornya, [415] namun ia akan
menyembunyikan belalainya. Kemudian penunggangnya akan berpikir: ‘Gajah
besar ini dengan gading sepanjang tiang kereta ... melakukan tugasnya dengan kaki
depan dan kaki belakangnya ... namun ia menyembunyikan belalainya. Ia belum
mempertaruhkan nyawanya.’ Tetapi ketika gajah besar itu ... melakukan
tugasnya dengan kaki depan dan kaki belakangnya, dengan bagian tubuh depan dan
bagian tubuh belakangnya, dengan kepala dan kupingnya, dengan gading dan ekornya,
dan juga dengan belalainya, maka penunggangnya akan berpikir: ‘Gajah
besar ini dengan gading sepanjang tiang kereta ... melakukan tugasnya dengan
kaki depan dan kaki belakangnya ... dan juga dengan belalainya. Ia telah
mempertaruhkan nyawanya. Sekarang
tidak ada apapun yang tidak akan dilakukan oleh gajah besar ini.’ Demikian pula, Rāhula, jika seseorang tidak malu mengucapkan
kebohongan yang disengaja, maka tidak ada kejahatan, Aku katakan, yang tidak
akan ia lakukan. Oleh karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai
berikut: ‘Aku
tidak akan mengucapkan kebohongan bahkan sebagai suatu gurauan.’
8. “Bagaimana menurutmu, Rāhula? Apakah
gunanya cermin?”
“Untuk
merefleksikan, Yang Mulia.”
“Demikian
pula, Rāhula, suatu perbuatan melalui jasmani harus dilakukan setelah
direfleksikan berulang-ulang; suatu perbuatan melalui ucapan harus dilakukan
setelah direfleksikan berulang-ulang; suatu perbuatan melalui pikiran harus
dilakukan setelah direfleksikan berulang-ulang.
9. “Rāhula, ketika
engkau ingin melakukan suatu perbuatan melalui jasmani, engkau harus
merefleksikan perbuatan jasmani yang sama itu sebagai berikut: ‘Apakah
perbuatan yang ingin kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada penderitaanku,
atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya? Apakah ini
adalah perbuatan jasmani dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang
menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan
yang ingin kulakukan melalui jasmani ini akan mengarah pada penderitaanku, atau
pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan keduanya; ini adalah
perbuatan jasmani tidak bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil
yang menyakitkan,’ maka engkau tidak boleh melakukan perbuatan melalui jasmani
itu. [416] Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui:
‘Perbuatan yang ingin kulakukan melalui jasmani ini tidak akan mengarah pada
penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan jasmani bermanfaat dengan akibat yang menyenangkan,
dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau boleh melakukan perbuatan melalui
jasmani itu.
[Komentar : Perbedaan antara paragraf di atas dan
paragraf di bawah, paragraf di atas konteksnya ialah refleksi untuk masa
kedepan berupa “akan mengarah”, sehingga bila mengarah pada yang tidak
bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, maka “tidak
boleh dilakukan”. Adapun paragraf
di bawah, penekanan konteksnya ialah “perbuatan yang sedang dilakukan”, yang bilamana perbuatan mana adalah tidak
bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan, maka “harus
dihentikan”.]
10. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan suatu perbuatan melalui
jasmani, engkau harus merefleksikan perbuatan jasmani yang sama itu sebagai
berikut: ‘Apakah perbuatan yang sedang kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada
penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya? Apakah ini adalah perbuatan jasmani dengan akibat yang menyakitkan,
dengan hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui:
‘Perbuatan yang sedang kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada
penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan jasmani tidak bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan,
dengan hasil yang menyakitkan,’ maka engkau harus menghentikan perbuatan
melalui jasmani itu. Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau
mengetahui: ‘Perbuatan yang sedang kulakukan melalui jasmani ini tidak
mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan jasmani bermanfaat dengan akibat yang
menyenangkan, dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau boleh melanjutkan
perbuatan melalui jasmani itu.
11. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu perbuatan melalui
jasmani, engkau harus merefleksikan perbuatan jasmani yang sama itu sebagai
berikut: ‘Apakah perbuatan
yang telah kulakukan melalui jasmani ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain,
atau pada penderitaan keduanya? Apakah ini adalah perbuatan jasmani dengan
akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau
merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui
jasmani ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain,
atau pada penderitaan keduanya; ini adalah perbuatan jasmani tidak bermanfaat
dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan,’ maka engkau harus mengakui
perbuatan melalui jasmani itu, mengungkapkannya, dan menceritakannya kepada guru
atau temanmu yang bijaksana dalam kehidupan suci. Setelah mengakuinya,
mengungkapkannya, dan menceritakannya, [417] engkau harus menjalani
pengendalian di masa depan. Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan
melalui jasmani ini tidak
mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada
penderitaan keduanya; ini adalah perbuatan jasmani bermanfaat dengan akibat
yang menyenangkan, dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau dapat berdiam dengan
bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
[Kitab Komentar : Mengakui perbuatan salah dan
menjalankan pengendalian di masa depan, mengarah pada perkembangan dalam
disiplin Para Mulia. Baca Majjhima Nikāya 65.13
12. “Rāhula, ketika engkau ingin melakukan suatu perbuatan melalui ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-9, dengan menggantikan “jasmani”
menjadi “ucapan”) ... maka engkau boleh melakukan perbuatan
melalui ucapan itu.
13. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan suatu perbuatan melalui
ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-10, dengan menggantikan “jasmani”
menjadi “ucapan”) [418] ... maka engkau boleh melanjutkan
perbuatan melalui ucapan itu.
14. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu perbuatan melalui ucapan ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-11, dengan menggantikan “jasmani”
menjadi “ucapan”) ... maka engkau dapat berdiam dengan bahagia
dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
15. “Rāhula, ketika engkau ingin melakukan suatu perbuatan melalui
pikiran ... (lengkap
seperti pada paragraf nomor ke-9, dengan menggantikan “jasmani” menjadi “pikiran”) [419] ... maka engkau boleh melakukan
perbuatan melalui pikiran itu.
16. “Juga, Rāhula, ketika engkau sedang melakukan suatu perbuatan melalui
pikiran ... (lengkap seperti pada paragraf nomor ke-10, dengan menggantikan
“jasmani” menjadi “pikiran”) ... maka engkau boleh melanjutkan perbuatan
melalui pikiran itu.
17. “Juga, Rāhula, setelah engkau melakukan suatu perbuatan melalui pikiran, engkau harus merefleksikan perbuatan pikiran yang
sama itu sebagai berikut: ‘Apakah perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran
ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada
penderitaan keduanya? Apakah ini adalah perbuatan pikiran dengan akibat yang
menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan?’ Ketika engkau merefleksikan, jika
engkau mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran ini mengarah
pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan pikiran tidak bermanfaat dengan akibat yang
menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan,’ maka engkau harus merasa
terpukul, malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu. Setelah menjadi
terpukul, malu, dan jijik oleh perbuatan pikiran itu, engkau harus menjalani
pengendalian di masa depan. Tetapi ketika engkau merefleksikan, jika engkau
mengetahui: ‘Perbuatan yang telah kulakukan melalui pikiran ini tidak mengarah
pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk lain, atau pada penderitaan
keduanya; ini adalah perbuatan pikiran bermanfaat dengan akibat yang
menyenangkan, dengan hasil yang menyenangkan,’ maka engkau dapat berdiam dengan
bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
[420]
[Kitab Komentar : Untuk konteks perbuatan jasmani
dan perbuatan ucapan yang buruk, “maka engkau harus mengakui perbuatan
melalui jasmani itu ... dan menceritakannya”; sementara dalam konteks
perbuatan pikiran yang buruk : “maka engkau harus merasa terpukul, malu, dan
jijik oleh perbuatan pikiran itu. Setelah menjadi terpukul, malu, dan jijik
oleh perbuatan pikiran itu”. Penggantian ini dibuat karena pikiran-pikiran
tidak bermanfaat, tidak seperti pelanggaran jasmani dan ucapan, tidak
memerlukan pengakuan sebagai cara untuk terbebas dari kesalahan. Baik Horner maupun
Bhikkhu Ñāṇamoli, tidak memasukkan variasi ini.]
18. “Rāhula, petapa
dan brahmana manapun di masa lampau yang telah memurnikan perbuatan jasmani,
perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka, semuanya melakukannya dengan merefleksikan
berulang-ulang seperti demikian. Petapa dan brahmana manapun di masa depan yang akan memurnikan perbuatan
jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka, semuanya akan
melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. Petapa dan
brahmana manapun di masa sekarang yang memurnikan perbuatan jasmani, perbuatan
ucapan, dan perbuatan pikiran mereka, semuanya melakukannya dengan
merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. Oleh
karena itu, Rāhula, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan
memurnikan perbuatan jasmani kami, perbuatan ucapan kami, dan perbuatan pikiran
kami dengan merefleksikannya berulang-ulang.’”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Rāhula merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, perhatikan bagaimana umat
agama samawi begitu miskin, karena tidak memiliki “cermin untuk merefleksikan”.
Karenanya, perbuatan melalui jasmani tidak mereka lakukan setelah direfleksikan
berulang-ulang; suatu perbuatan melalui ucapan tidak mereka lakukan setelah
direfleksikan berulang-ulang; suatu perbuatan melalui pikiran tidak mereka lakukan
setelah direfleksikan berulang-ulang. Muaranya, mereka menjelma “KORUPTOR DOSA”—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
perhatikan ketika sang “nabi rasul allah” hendak melakukan suatu perbuatan
melalui jasmani, apakah ia merefleksikan perbuatan jasmani yang sama itu
sebagai berikut: “Apakah perbuatan yang ingin / sedang / telah kulakukan
melalui jasmani ini mengarah pada penderitaanku, atau pada penderitaan makhluk
lain, atau pada penderitaan keduanya? Apakah ini adalah perbuatan jasmani
dengan akibat yang menyakitkan, dengan hasil yang menyakitkan?” Karena sang “nabi
rasul allah” tidak punya cermin untuk bercermin-diri, maka ia tidak menyadari
bahwa perbuatan jasmaninya tidak bermanfaat dengan akibat yang menyakitkan,
dengan hasil yang menyakitkan, sehingga ia tetap melakukan perbuatan melalui
jasmani itu dan gagal untuk menjalani pengendalian di masa depan.
Pertanyaannya,
mengapa sang “nabi rasul allah” justru tidak merasa terpukul, malu, dan jijik
oleh pikiran KORUP yang hendak lari dari tanggung-jawab maupun konsekuensi atas
perbuatan-perbuatan buruknya sendiri baik yang besar maupun yang kecil? Apakah sang
“nabi rasul allah” sedang mengarah pada perkembangan dalam disiplin Para Mulia,
ataukah menuju NERAKA yang diberi merek-label “surga”? Seseorang yang “kehausan”
akibat meminum “air laut”, sejatinya sedang merasakan secara langsung derita NERAKA.
Inikah yang disebut oleh sang “nabi rasul allah” sebagai memurnikan perbuatan
jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran?—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]