Agama DUNGU untuk Orang DUNGU, Agama DOSA bagi PENDOSA-PENGECUT yang Berdelusi Masuk Surga Setelah Melakukan Banyak Perbuatan Jahat namun Minim Tanggung-Jawab
Tidak Ada “Kembali ke Fitri” Setelah Mencandu
“PENGHAPUSAN DOSA” (Ideologi KORUP), yang Ada justru Menjelma “KORUPTOR DOSA”
Question: Itu orang-orang muslim, yang memeluk agama “bumi datar”, apa tidak pernah belajar pelajaran geografi di sekolah? Kan ada yang namanya globe, yakni miniatur bola dunia yang bundar bentuknya. Ketika kita memutar 180 derajat baik secara melintang maupun membujur, kita akan menemukan titik lokasi dimana sisi sebaliknya dari telak kabbah yang disembah sujud oleh para muslim. Namun, dimana pun para muslim berada di penjuru dunia, tetap saja, ketika kepala mereka sujud ke arah kabbah, bokong mereka disaat bersamaan menghadap kabah juga, karena dunia ini BUNDAR. Bukankah itu bukti, islam bertentangan dengan sains, dan bahwa nabi pencipta agama islam itu berdelusi bahwa planet bernama bumi ini adalah datar atau flat seperti piring?
Brief Answer: Itulah bukti konyolnya sosok Allah yang disembah
kaum muslim, dimana Allah mereka bahkan tidak tahu apa yang ia klaim sebagai
ciptaannya sendiri, bahwa Planet Bumi ini bentuknya ialah datar menyerupai
piring, bukan bundar. Ketika kita berlayar atau terbang mengudara dari sisi Barat
ke sisi Timur, ujungnya kita akan kembali ke titik semula tempat keberangkatan
kita. Berangkat dari logika tersebut saja, kita mengetahui bahwa ketika para
muslim melakukan ritual solat dengan kepala sujud menghadap arah kabbah berisi
batu hitam hajar aswad yang berbentuk “kelamin wanita” (simbol kesuburan, klaim
para muslim, namun dicium meski bekas air liur jutaan muslim), maka bokong mereka
disaat bersamaan juga menghadap kabbah.
PEMBAHASAN:
Berikut sumber otentik dogma
dalam agama islam, yang mempromosikan ritual “cium batu hitam” sebagai “ibadah”—alih-alih
menjadikan berbuat kebaikan, menghindari kejahatan, dan memurnikan pikiran
sebagai praktek ibadah yang lebih berfaedah, dimana tidak ada agama seperti
penyembah patung sapi sekalipun yang sampai mencium-cium objek “berhala”
demikian:
“Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan
apa yang dilihatnya. Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan,
Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah
maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah
mencium kau, aku tidak akan menciummu.” [Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor
680]
Lebih jauh lagi, agama islam
mengajarkan dan membiasakan para umatnya untuk “MENIPU DIRI SENDIRI” lewat praktek
omomg-kosong (“too good to be true” dimana sejatinya “truth always bitter”)
bernama ritual doa permohonan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” (abolition of
sins)—bagi KORUPTOR DOSA, tentunya—sehingga para muslim menjelma “PENDOSA
PECUNDANG PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang tidak berani membayar, menanggung,
dan menghadapi konsekuensi dari perbuatan-perbuatan buruknya sendiri yang telah
pernah atau masih sedang sibuk menyakiti, merugikan, maupun melukai pihak-pihak
lainnya.
Terhadap dosa dan maksiat, para
muslim dan muslimah begitu kompromistik. Namun terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, para umat agama islam begitu intoleran. Karenanya, orang baik dalam
islam, adalah “oknum”. Sebaliknya, orang jahat dalam Buddhisme, barulah disebut
“oknum”, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
9 (9) Nanda
“Para bhikkhu, (1) seseorang yang berkata benar akan
mengatakan tentang Nanda bahwa ia adalah seorang anggota keluarga, (2) bahwa ia
kuat, (3) bahwa ia anggun, dan (4) bahwa ia sangat rentan pada nafsu. Bagaimana
lagi Nanda dapat menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni jika (5)
ia tidak menjaga pintu-pintu indrianya, (6) tidak menjalankan praktik makan
secukupnya, (7) tidak condong pada keawasan, dan (8) tidak memiliki perhatian
dan pemahaman jernih?
[Kitab Komentar : Nanda, adik
sepupu Sang Buddha, jelas memiliki keinginan indriawi yang kuat. Setelah ia
menjadi seorang bhikkhu, ia terus-menerus memikirkan tunangannya dan kelak
berharap dapat terlahir di antara para bidadari surgawi.]
“Para bhikkhu, beginilah Nanda menjaga pintu-pintu indrianya:
[167] Jika ia harus melihat ke arah timur, ia melakukannya setelah ia
mempertimbangkan hal itu dan memahaminya dengan jernih sebagai berikut: ‘Ketika
aku melihat ke arah timur, kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa
kerinduan dan kesedihan tidak akan mengalir masuk dalam diriku.’ Jika ia harus
melihat ke arah barat … ke arah utara … ke arah selatan … ke atas … ke bawah …
mengamati arah-arah di antaranya, ia melakukannya setelah ia mempertimbangkan
hal itu dan memahaminya dengan jernih sebagai berikut: ‘Ketika aku melihat ke
arah-arah di antaranya, kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa
kerinduan dan kesedihan tidak akan mengalir masuk dalam diriku.’ Ini adalah bagaimana
Nanda menjaga pintu-pintu indrianya.
“Beginilah Nanda menjalankan praktik makan
secukupnya: Di sini, setelah merefleksikan dengan seksama, Nanda
mengkonsumsi makanan bukan untuk kesenangan juga bukan untuk kemabukan juga
bukan demi kecantikan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya untuk mendukung
pemeliharaan tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan
spiritual, dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan menghentikan perasaan
lama dan tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan
tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Ini adalah bagaimana Nanda
menjalankan praktik makan secukupnya.
“Beginilah Nanda condong pada keawasan: [168] Selama
siang hari, ketika berjalan mondar-mandir dan duduk, Nanda
memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang menghalangi. Pada jaga pertama malam hari,
ketika berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari
kualitas-kualitas yang menghalangi. Pada jaga pertengahan malam hari, ia
berbaring pada sisi kanan dalam postur singa dengan satu kaki di atas kaki
lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikirannya
gagasan untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga terakhir malam hari, ketika
berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari
kualitas-kualitas yang menghalangi. Ini adalah bagaimana Nanda condong
pada keawasan.
“Beginilah perhatian dan pemahaman jernih Nanda: Nanda
mengetahui perasaan-perasaan ketika perasaan-perasaan itu muncul, ketika
perasaan-perasaan itu berlangsung, ketika perasaan-perasaan itu lenyap; ia
mengetahui persepsi-persepsi ketika persepsi-persepsi itu muncul, ketika
persepsi-persepsi itu berlangsung, ketika persepsi-persepsi itu lenyap; ia
mengetahui pemikiran-pemikiran ketika pemikiran-pemikiran itu muncul, ketika pemikiran-pemikiran
itu berlangsung, ketika pemikiran-pemikiran itu lenyap. Ini adalah bagaimana perhatian
dan pemahaman jernih Nanda.
[Kitab Komentar : ini disebut
pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih.]
“Bagaimana lagi, para bhikkhu, Nanda
dapat menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni jika ia tidak
menjaga pintu-pintu indrianya, jika ia tidak menjalankan praktik makan secukupnya,
jika ia tidak condong pada keawasan, dan jika ia tidak memiliki perhatian dan
pemahaman jernih?”
Ketika seorang muslim yang
agamais melakukan korupsi, itu bukan “oknum”, justru itulah muslim sejatinya
yang menjalankan praktek ritual “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”, dimana antara “DOSA-DOSA
UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA” sifatnya ialah saling
bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi. Adapun kaum NONmuslim, para muslim
menyebut mereka sebagai kaum yang “merugi”, karena tidak bsia menikmati betapa
candunya ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA”.
Babi, disebut “haram”. Namun,
ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN
DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat
agama islam, seolah mereka tidak bisa hidup dengan menjadi orang baik, pribadi
yang tidak merampas hak orang lain, individu yang berjiwa ksatria, maupun seseorang
yang mau bertanggung-jawab ketika masih bisa berbuat keliru dalam kesehariannya—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli
alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka
pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi
berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul,
berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN
PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]