Mengagumkan dan Menakjubkannya Kelahiran dan Masa Hidup Buddha Gotama, Umat Buddhist Patut Merasa Bersyukur dan Bangga

Memprihatinkan dan Memalukannya Kelahiran maupun Kematian Yesus, Umat Nasrani Patut Merasa Malu dan Hina

Question : Bukankah mengherankan, bila ada seseorang yang mengaku dulunya umat Buddhis, lalu beralih atau pindah agama menjadi pemeluk agama samawi, entah karena faktor perkawinan atau pergaulan. Bila kita baca kisah kehidupan Buddha Gotama, Beliau bahkan tidak pernah merasa inferior sejak saat kelahirannya. Mengapa bisa ada umat Buddhis yang merasa rendah diri, lalu pindah ke agama lain?

Persaingan Usaha Tidak Sehat Agama Samawi : Berlomba-Lomba Mengumbar dan Obral HAPUS DOSA Demi Merekrut Umat (Pendosa-Penjahat) Sebanyak-Banyaknya

Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Bentukan Apapun sebagai KEKAL. Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Bentukan Apapun sebagai MENYENANGKAN. Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Apa Pun Sebagai DIRI

Adalah Mungkin bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Suatu Bentukan sebagai KEKAL. Adalah Mungkin Bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Suatu Bentukan sebagai MENYENANGKAN. Adalah Mungkin bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Sesuatu sebagai DIRI

Question : Setelah saya evalusi, agama-agama yang kini menjadi hegemoni yang mendominasi dunia, telah ternyata adalah agama samawi yang mengobral penghapusan dosa. Mulai dari nasrani yang menjadikan dogma “penebusan dosa” sebagai marketing-gimmick utamanya untuk membuat para pendosa berdelusi dapat masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya mengoleksi segudang dosa tanpa tanggung-jawab kepada korban-korban yang pernah mereka sakiti, lukai, maupun rugikan. Begitupula agama islam yang menjadikan “pengampunan dosa” sebagai jualan utamanya, dimana ada “demand” berupa pendosa yang berharap masuk surga sekalipun seumur hidupnya memproduksi segunung dosa, maka ada “supply” bernama iming-iming “pengampunan dosa” sehingga sang muslim bisa menyelam sembari minum air, yakni rajin dan sibuk berbuat dosa namun tidak perlu perlu bertanggung-jawab ataupun membayar konsekuensinya, terjamin masuk surga setelah ajal menjemputnya. Bukankah itu merupakan nyata-nyata praktek persaingan usaha tidak sehat, berupa obral penghapusan dosa dan mengumbarnya, mengeksploitasi sifat-sifat pengecut dan tamak manusia yang telah ataupun yang akan menjadi umat pemeluknya?

Memberantas Dosa, Nyambi Mencandu Dosa dan Maksiat, Itulah Wajah Bopeng Agama Samawi : Menyembah Tuhan, namun Disaat Bersamaan Bersekutu dengan Iblis

Berbuat Dosa dan Maksiat, artinya Bersekutu dengan IBLIS. Mana Mungkin Tuhan akan Menghapus Dosa-Dosa Manusia yang Kecanduan Dosa dan Maksiat alias Bersekutu dengan IBLIS

Question : Ada nabi di agama samawi, yang hendak menghakimi dan menggurui pendosa lainnya, sementara ia sendiri mabuk dan kecanduan-berat ritual doa “pengampunan dosa”. Bukankah antara “berbuat dosa-dosa” dan “ritual pengampunan dosa” sifatnya saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter tanpa dapat dipisahkan?

Kasta, Rasis, dan Fasisme yang Didebat oleh Sang Buddha

Kasta Suciwan yang Higienis dari Kejahatan, Kasta Ksatria yang Berani Bertanggung-Jawab, dan Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA. Anda yang Mana?

Question : Umat muslim sering buat klaim, bahwa umat nonmuslim adalah kaum yang “merugi”. Maksud mereka itu apa, berkata bahwa nonmuslim adalah kaum yang “merugi”?

Tawar-Menawar dengan Dosa, Menyerupai Tawar-Menawar dengan Kematian, Sekonyol Badut, “Agama Badut” Bernama Samawi

Mengapa Orang Indonesia Rata-Rata KORUP Meskipun AGAMAIS? Karena DOSA-DOSA PUN MEREKA KORUPSI, KORUPTOR-DOSA!

Agama DOSA yang Menyaru Memakai Merek / Nama “Agama SUCI”, Itulah Kemunafikan yang Paling Munafik

Question : Umat muslim sering mengatakan bahwa “Allah membenci orang munafik”. Memangnya, yang menciptakan orang munafik lengkap dengan sifat munafiknya, siapa jika bukan Tuhan Sang Pencipta itu sendiri? Bukankah itu mirip seperti menampar wajah sendiri telah ia gagal menciptakan produk yang sempurna? Menciptakan produk yang sengaja tidak sempurna, lalu produk ciptaannya berbuat keliru, siapa yang mau dipersalahkan? Kalau memang membencinya, mengapa diciptakan? Tengok sifat dan sikap korup sang “nabi rasul Allah” yang mabuk dan kecanduan berat “penghapusan dosa”, itu apa bukan munafik namanya, menghakimi dan menggurui orang lain namun dirinya sendiri gagal ia didik maupun kendalikan?

Makin Panjang Umur / Usia Kalangan Penjahat, Makin Pendek Usia Harapan Hidup Kalangan Korban

Spekulasi para Spekulan Bernama Umat Agama Samawi : Orang Jahat Lebih Beruntung dan Panjang Umur karena Diberi Kesempatan oleh Tuhan untuk Bertobat—Namun Tuhan Disaat Bersamaan, Kian Menyempitkan Ruang Nafas bagi Kalangan Korban

Kabar Gembira bagi Pendosa (Penjahat), Sama artinya Kabar Duka bagi Kalangan Korban

Question : Umat agama samawi paling gemar berspekulasi. Mereka membuat asumsi spekulatif, bahwa orang jahat lebih cenderung beruntung dan panjang usia hidupnya, karena Allah memberi kesempatan kepada si jahat untuk bertobat. Bukankah itu argumentasi yang lucu dan kekenakan, sebab itu sama artinya membuat para korban maupun calon korbannya menjadi “pendek umur” karena menjadi korban dari si jahat. Itu apa bedanya dengan merampas usia hidup dan kebahagiaan korban-korban, dengan memberikan panjang-usia maupun kemakmuran bagi si jahat yang justru kian merajela tanpa penjeraan apapun, dengan tetap “business as usual”, bahkan kejahatan dan sifat jahatnya kian berkembang lebih tidak terkontrol lagi alias menjadi-jadi?

Kenikmatan Indria adalah Umpan “Māra si Jahat”, yang Melekat dan Gagal Melihat Bahaya Dibalik Kenikmatan Indria maupun Keinginan Kenikmatan Indria akan Terjerat Jaring “Māra si Jahat”

Mengapa Meng-Haram-kan Kenikmatan Indria yang Allah Ciptakan dan Halal-kan? Para Umat Agama Samawi pun Terjebak dalam Kemelekatan dan menjadi Budak Kenikmatan Indria yang Semakin Haus Akan Kenikmatan Indria yang Menenggelamkan dan Menjerumuskan

Ada, Sukacita dan Kenikmatan yang Muncul dari “Keterasingan dari Kenikmatan Indria”

Truth, Always BITTER. Kebenaran, Selalu PAHIT

Question : Banyak umat agama samawi, terjebak oleh dogma agamanya sendiri, bahwa kenikmatan duniawi maupun kenikmatan indria adalah pemberian “nikmat” dari Allah, sehingga mengapa di-haram-kan? Jadilah mereka tidak pernah mampu melihat adanya bahaya dibalik kenikmatan indria, lalu melekat padanya, memiliki kerinduan terhadapnya, keinginan secara serakah ingin memiliki / menguasainya, demam terhadapnya, hingga taraf kecanduan, dimana bahkan racun-adiktif paling beracun berupa dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” dipandang sebagai “halal” serta dipromosikan sebagai “halal lifestyle”.

Seorang Bayi yang “Harmless” Masih Lebih Suci daripada Umat Muslim maupun Nabi Rasul Allah yang Mencandu-Berat PENGHAPUSAN DOSA

Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian, kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.” [SANG BUDDHA]

Question : Ketika ada seorang ayah kandung, memerkosa puteri kandungnya sendiri, maka sang ayah akan dipidana penjara dan dihukum sanksi sosial oleh masyarakat. Alasannya, karena nyawa dan hidup sang anak, bukanlah milik sang ayah. Namun, mengapa logika yang sama, seolah tidak belaku dalam kasus penyembelihan oleh Ibrahim terhadap putera kandungnya, Ismail. Atau sebaliknya, mengapa logika dibalik peristiwa penyembelihan oleh Ibarhim terhadap Ismail, tidak diterapkan dalam konstruksi peristiwa pemerkosaan oleh seorang ayah terhadap puteri kandungnya?

Kodratnya Pendosa, ya MASUK NERAKA. Agama DOSA dengan Dogma KORUP Iming-Iming “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSAWAN, tentunya), mencoba Menyimpangi Kodrat

Kodratnya KORUPTOR-DOSA—dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi—Jelas MASUK NERAKA

Kodratnya Korban para Pendosa tersebut, ialah Mendapatkan Keadilan dengan Hukuman bagi yang Berdosa

Question : Para muslim kerap sok agamais dan juga merasa paling superior, seolah “polisi moral” yang berhak menghakimi maupun menceramahi pihak lain perihal akhlak, moral, maupun larangan dosa. Misalnya mereka melarang fenomena sosial semacam homoseksual maupun lesbian. Itu melanggar kodrat manusia, kata mereka. Bahkan mereka seolah hendak berkata, bhikkhu monastik yang hidup selibat, adalah juga melanggar kodrat manusia. Pernah terjadi di Indonesia, ada anggota militer yang lewat putusan pengadilan, diizinkan berganti gender karena hasil uji penelitian genetiknya membuktikan bahwa yang yang bersangkutan adalah seorang dengan gender yang berbeda dari penampakan tubuh fisiknya.