Level Tingkat Pencapaian Kultivasi dalam Buddhisme Vs. Kadar Mabuk Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA dalam Agama Samawi-Abrahamik

Nabi Rasul Allah merupakan Pecandu-Berat Dogma KORUP “PENGHAPUSAN DOSA”

Question: Di agama-agama samawi, level tingkatan para umat pemeluknya ialah mulai dari “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 1”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 2”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 3”, dan seterusnya, yakni kadar mabuk dan kecanduan sang umat yang semakin tebal kekotoran batin, kejahatan-kejahatan, serta kemelekatannya terhadap dogma iming-iming “Penghapusan Dosa”. Singkatnya, semakin mereka mendalami agama samawi, semakin tergila-gila yang bersangkutan terhadap dogma korup tersebut, bagaikan hal memabukkan yang adiktif, pemabuk-ringan yang menjelma pemabuk kelas berat. Bagaimana dengan di Agama Buddha, kabarnya ada yang unik dalam Agama Buddha, yakni semacam tingkatan level kultivasi kesucian?

Berbuat Jahat, artinya Meremehkan Hukum Karma. Masuk Agama Samawi, artinya Meremehkan Neraka

Mualaf artinya MENJERUMUSKAN DIRI Menjelma KORUPTOR DOSA dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi—Kesempurnaan Penuh dari Tingkatan si Dungu

Mualaf Identik dengan Kaum Hina yang PEMALAS dan PENGECUT, Begitu PEMALAS untuk Menanam Benih-Benih Karma Baik untuk Dipetik Sendiri di Masa Depan serta Begitu PENGECUT untuk Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-perbuatan Buruk Mereka di Masa Lampau

Terdapat sebuah kisah, dimana seorang muslim dengan nada yang membanggakan agamanya dan seolah merupakan kaum yang paling superior, bertanya kepada seorang umat Buddhist, dengan cuplikan dialog singkat berikut:

Wahai Allah, Kapankah Kami Pernah Minta untuk Dilahirkan ataupun Diciptakan ke Dunia Ini? Mengapa Engkau Bersikap Seolah-Olah Kami Pernah Memintanya?

Allah adalah Impoten, Bukan “Maha Kuasa”

Kita adalah KORBAN KELAHIRAN, PENUAAN, dan KEMATIAN (PENJELMAAN). Kita Semua merupakan Kurbannya Tuhan Sang Pencipta

Question: Banyak sekali kontradiktif dalam dogma-dogma agama samawi. Anehnya, mereka, para umat agama samawi, tampak begitu dungu, memakannya begitu saja tanpa dipertanyakan, sekalipun dogma-dogmanya satu sama lain saling kontradiktif. Kita ambil contoh dogma agama samawi yang menyatakan bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah, dimana bahkan mereka mengklaim bahwa detak jantung kita setiap detiknya pun diatur oleh Allah. Kalau memang begitu adanya, mengapa orang-orang yang dituduh mencuri atau berzina, harus dihukum oleh manusia lainnya (oleh sesama manusia) dengan dipotong tangan atau dirajam, alih-alih Allah sendiri yang lewat kuasanya membuat mereka jatuh sakit karena stroke atau penghasilannya menjadi berkurang sebagai hukumannya?

Diraih dan Dicapai, Bukan Diberikan ataupun Pemberian dari Langit / Tuhan

Keberuntungan pun Sifatnya DITANAM, bukan Diminta ataupun Diberikan juga Bukan Jatuh dari Langit Tanpa Adanya Sebab yang Mendahului

Beruntung adalah Akibat, Bukan Sebab. Sebabnya ialah Menanam Kebaikan

Question: Dalam perspektif dogma agama samawi, kelebihan dan kekurangan seseorang sifatnya ialah pemberian dari langit, Tuhan, suatu “taken for granted” yang tidak dapat kita tolak juga tidak kita minta. Begitupula menjadi kaya atau miskin, cantik maupun tidak rupawan, lamban dalam kemampuan berpikir maupun cerdas-jenius, ataupun yang punya kecenderungan berpikir jahat maupun yang pola berpikirnya baik-altruistik, kesemua itu adalah “nasib” yang sudah ditakdirkan dari sananya tanpa dapat kita pilih. Bahkan kita sendiri tidak pernah memilih ataupun meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana dengan pandangan dalam Buddhisme?

Ciri-Ciri Hidup Seseorang, akan Menentukan Nasib Hidup Orang tersebut. Ciri-Ciri Hidup merupakan Jalan Hidup, yang Mengarahkannya kepada sebuah Muara Bernama Nasib Hidup

Tidak Perlu Terobsesi untuk Memberikan Pelajaran bagi Sang Pelaku Kejahatan, Efek Jera bagi Sang Pelaku akan Hadir secara Sendirinya, karena Ciri-Ciri Seseorang akan Menentukan Nasib Hidupnya

Bersikap seperti Iblis, Nasibnya ialah Nasib yang Sama dengan yang Dialami Iblis. Bersikap seperti Setan, Nasibnya Tidak Ubahnya Nasib yang Dihadapi Setan. Bersikap seperti Hewan, Nasibnya Sama seperti Seekor Hewan

Question: Ada orang jahat, yang jahatnya bagaikan iblis atau manusia-setan. Dilaporkan ke polisi pun, tidak membuahkan hasil, tidak tersentuh hukum ataupun dihukum tetap kembali mengulangi perbuatannya menjadi seorang residivis. Kita, sebagai korban, harus bersikap seperti apa lagi? Bila tidak ada yang menghukum orang jahat semacam itu, nanti bagaimana bila mereka merajalela sehingga korban-korbannya akan lebih banyak dan kembali berjatuhan?

Seseorang Tidak Akan Disucikan / Dimurnikan dengan Banyak Bicara, Ceramah, Berbincang-Bincang, ataupun dengan Mengutuk Iblis

Pikiran Sempit, Picik, dan Naif, Bukan Diakibatkan Jarang Berkomunikasi dengan Orang Lain

Question: Sering saya mengamati, seseorang yang perilaku kesehariannya begitu jahat, namun ia aktif dan suka berbincang-bincang dengan orang lain. Telah ternyata aktif berkomunikasi dengan orang lain, tidak identik dengan mencerahkan dan tercerahkan; pikirannya tetap saja sempit dan tidak terbuka. Apakah artinya seorang pendiam maupun para kaum introvert, sukar tercerahkan semata karena jarang berkomunikasi dengan orang lain? Tengok saja kaum koruptor, jejaring pergaulan dan koneksinya begitu luas, suka bersilahturami, namun tetap saja korupsi, bahkan korupsi berjemaah.

Kita Tidak Butuh “Kondisi yang SEMPURNA / IDEAL” untuk Memulai Sesuatu dan Melanjutkan HIdup

Kebebasan Tidak Identik dengan Sifat Positif. Hanya Kebebasan-Benar yang Positif Sifatnya, sementara Kebebasan-Salah adalah Negatif

Mabuk dan Kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”. Alih-alih Padam, Kekotoran-Batin justru Kian Membara dan Menyala-Besar, Kekotoran mana Bersarang dan Lestari dalam Diri, Mencengkeram-Erat si Dungu

Question: Terkadang, bahkan seringkali terjadi, saat kesadaran saya menyadari bahwa “kondisi yang ada tidak sempurna adanya” atau “kondisi yang ada jauh dari kata ‘ideal’”, mendadak tubuh dan pikiran saya menjadi “beku-lumpuh” (freeze-paralyze). Apakah itu hanya dialami oleh saya seorang?

Si Dungu Boleh saja Selamanya Melakukan Ritual “Pengampunan Dosa”, namun Tidak Akan Menyucikan Perbuatan Gelap Mereka

Ritual “Pengampunan Dosa”, Melekat pada Kekotoran Batin dan Memeliharanya, Produktif Melakukan “Dosa-dosa untuk Dihapuskan”

Question: Umat muslim setiap harinya kecanduan ritual “pengampunan dosa”. Setiap tahunnya, mereka mabuk pesta-pora ritual “konsumsi meningkat namun dosa-dosa setahun dihapuskan”. Ketika matinya pun, doa sanak-keluarga sang almarhum pendosawan ialah “semoga dosa-dosa almarhum diampuni oleh Allah”. Mengapa tidak pernah sekalipun, mereka memikirkan kepentingan korban dan mendoakan kalangan korban-korban mereka, ataupun lebih sibuk untuk mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri yang telah pernah atau masih sedang menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya?

Pengorbanan dalam Buddhisme Vs. Pengorbanan dalam Islam, Saling Bertolak-Belakang : Pengorbanan TANPA DARAH Vs. Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH

Mengapa Umat Muslim “HAUS DARAH” (Suka Menyelesaikan Setiap Masalah dengan Kekerasan Fisik)? Ajaran Islam yang “HAUS PERTUMPAHAN DARAH” adalah Akar Muasal Penyebabnya

Semua Muslim adalah “Juru Sembelih Halal”, HALAL MENUMPAHKAN DARAH NONMUSLIM dan MERAMPAS HARTA MEREKA

Mereka yang Melakukan Pembunuhan dan Mereka yang Menghindari Pembunuhan, Nasibnya akan Berbeda. Ciri-Ciri Hidup Seseorang, Menentukan Nasib Hidupnya.

Question: Selalu saya merasa bahwa islam adalah agama primitif bagi orang-orang primitif, baik otak maupun budayanya. Para muslim beralibi, hewan diciptakan oleh Allah untuk dimakan oleh manusia. Kalau begitu, mengapa hewan-hewan ternak tersebut tidak disiksa saja sebelum disembelih, toh hanya objek “pemuas nafsu manusia”? Apakah hewan-hewan malang tersebut di alam baka harus berkata kepada yang menyembelih mereka, “Terus, kami harus bilang ‘terimakasih’ gitu, karena kami tidak disiksa seumur hidup sampai mati tua di kandang, namun harta terbesar kami, yakni NYAWA kami, dirampas lewat disembelih?”

Si Dungu Melihat dan Menilai Kulit, si Bijak Mengamati Esensi

HERY SHIETRA, Si Dungu Melihat Kulit, si Bijak Melihat Esensi

Seseorang yang pandai bicara,

Namun sampah,

Tetap saja orang sampah.

Seseorang yang serba kikuk,

Namun mulia,

Tetap saja orang yang mulia.

Muslim, adalah Penyelidik yang BURUK dan BUTA-TULI

Nabi Rasul Allah Mabuk dan Kecanduan PENGAMPUNAN DOSA-DOSA, namun para Muslim Menyebut sang Nabi sebagai Manusia Paling Sempurna

Question: Itu para muslim yang setiap harinya kecanduan “pengampunan dosa”, motivasinya apa saat setiap harinya mereka ritual doa untuk memohon “pengampunan dosa”, apakah dilandasi oleh niat baik ataukah niat buruk?

Sang Buddha, Guru bagi Umat Manusia dan Guru bagi PARA DEWA (MAKHLUK DEWATA). Sakka, Raja para Dewata pun Menghormat kepada Buddha

Allah hanyalah Sekecil Kutu di Hadapan Buddha

Allah yang Butuh Manusia—Bukan Sebaliknya—karenanya Allah Mengobral Sorga bagi PENDOSAWAN dengan Iming-Iming PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, Demi Punya Umat dan Disembah

Question: Seseorang yang soliter, tidak butuh validasi dari orang lain, karenanya mereka yang berjiwa soliter tidak merasa butuh pengakuan maupun dukungan dari orang lain untuk melanjutkan dan menjalankan hidupnya. Mereka juga tidak butuh izin maupun pendapat dari orang lain. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka berani untuk “tidak disukai” serta tidak merendahkan dirinya sendiri di hadapan pihak eksternal. Dengan perspektif yang sama, ketika Allah menjadi murka karena tidak disembah, yesus memasukkan ke neraka umat manusia semata karena tidak mengakui dirinya, maka pertanyaan relevannya ialah : Siapa yang sedang membutuh siapa, Allah atau yesus yang butuh umat, ataukah sebaliknya manusia yang butuh Allah maupun yesus?

Allah Melanggar Peraturan dan Larangannya Sendiri, Semuanya jadi Halal Lewat Dogma PENGAMPUNAN DOSA

Babi, Haram. PENGAMPUNAN DOSA, HALAL?!

Hanya Orang Kerdil yang Menyembah “Tuhan yang Kerdil” Bernama Allah

Question: Apakah layak dan patut, kita menghormat kepada sosok semacam Allah yang justru lebih memihak kepada penjahat (pendosa) dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut? Apakah juga layak dan patut, Allah menuntut dihormati sekalipun sikapnya ialah lebih PRO terhadap pendosa dengan menghapus dosa-dosa para pendosa, dan disaat bersamaan merampas hak kalangan korban atas keadilan? Mengapa kita harus menyembah dan berlindung kepada tiran semacam itu?

Mengapa Penting menjadi Orang Baik dan mengapa Kita Perlu Berbuat Baik kepada Orang-Orang Baik

Tidak Ada “Tuhan” yang lebih Dungu, daripada yang Memberikan Surga kepada PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA

Manusia Sampah, Tempatnya di Tong Sampah, bukan di Surga—kecuali “Surga” merupakan Tong Sampah dimana para PENDOSA Dijejali Masuk bak Ikan Sarden

Question: Mengapa harus jadi orang baik, bila jadi orang jahat saja ternyata banyak yang bisa hidup panjang umur, sukses, beruntung, kebal hukum, makmur, tidak kunjung celaka, serta dimasukkan ke surga setelah matinya lewat rituan pengampunan dosa?

Dilahirkan ke Dunia oleh “Tuhan yang PRO terhadap PENDOSA”, ialah Dukkha

Kelahiran Kembali adalah Dukkha dan Tidak Terlahir Kembali adalah Kebahagiaan, Atas Alasan apakah?

Bila Anda Benar-Benar Mencintai Putera dan Puteri Anda, maka Jangan Pernah Lahirkan Seorang pun dari Mereka, Calon Anak-Anak Anda

Question: Bila setiap hari, setiap tahunnya, bahkan sampai akhir hayatnya, isi doanya ialah minta dihapus dosa-dosanya, maka bukankah itu adalah sebuah pola (pattern), yakni pola pertanda tidak jera dan tidak pernah kapok kembali melakukan dosa-dosa serupa sejak dahulu kala hingga seterusnya?