Kebebasan Berpikir adalah Kekuatan yang dapat Membuat Umat Manusia Tidak Terjajah oleh Allah dan Terbebas dari Tumimbal-Lahir (Dukkha “Kelahiran Kembali”, “Sakit Kembali”, dan “Meninggal Kembali”)

Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Bisa Hidup Tanpa menjadi PENGECUT (PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)

KORUPTOR DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi, AGAMA DOSA

Question: Mengapa saya merasa, bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia adalah berwatak pesimistik, terlihat dari doa-doa dan ritual mereka yang secara vulgar, bahkan mempromosikannya tanpa rasa malu ataupun tabu lewat pengeras suara ke publik luas, yang terkesan “tidak bisa hidup tanpa mencandu dan mabuk pengampunan dosa”? Apakah tidak bisa, kita hidup secara bertanggung-jawab dan berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk, juga baik perbuatan yang kecil maupun yang besar?

Melanggar Larangan adalah Dosa, namun Dinegasikan Lewat Dogma “PENGHAPUSAN DOSA” = Tidak Ada Larangan Sama Sekali, Bebas Berbuat Dosa maupun Maksiat Sebebas-Bebasnya

Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior Dimana Ini dan Itu Diharamkan namun Ideologi KORUP justru DIhalalkan

Dosa-Dosa pun Dikorupsi, Ideologi KORUP Bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA”

Question: Mengapa di Buddhis, aturan larangan bagi umatnya longgar sekali, hanya ada lima buah larangan (pancasila)?

Cara Mudah Menyetir dan Mendikte Allah yang Memiliki Personifikasi Emosi seorang Manusia yang Masih dapat Merasa Marah, Murka, Geram, dan Emosian

Tidak Perlu Menunggu Kematian untuk Merasakan Aktualnya Surga maupun Neraka

Question: Bila “state of mind” adalah surga atau neraka, maka mudah sekali membuat Allah mencicipi api neraka, yakni semudah membuat Allah merasa marah, murka, kesal, cemburu, benci, geram, gerah, kecewa, sedih, emosian, mengingat sosok Allah dipersonifikasi selayaknya emosi seorang manusia biasa. Bukankah artinya, dengan membuat Allah menjadi marah, kita sebagai manusia sudah berhasil mendikte dan menyetir emosi Allah, yang secara sendirinya Allah terbakar oleh api kemarahan?

Pikiran adalah PELOPOR

Pengakuan Bersalah di Pengadilan Negeri Vs. Pengakuan Berdosa di Agama Samawi, manakah yang Lebih Adil bagi KORBAN?

Gali Motif serta Motivasi Dibalik suatu Sikap, akan Kita Temukan Wajah Asli Dibaliknya

Question: Di dalam kitab hukum pidana, ada istilah “pengakuan bersalah”. Apakah itu sama, dengan konsep “pengakuan dosa” dalam agama samawi?

Tidak Punya Waktu Sejentikkan Jari Sekalipun bagi Setan Penggoda dan Tidak Ruang Setitik pun bagi Setan Penggoda

Ketika Setan Berhasil Menggoda Manusia, artinya Allah Tidak Benar-Benar Maha Kuasa

Setan Lebih Berkuasa daripada Allah, Buktinya Puluhan Nabi Rasul Allah GAGAL TOTAL MEMBUAT PUNAH SATUPUN KEJAHATAN PALING PRIMITIF DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

Umat Agama Samawi (PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA) adalah Pelanggan Tetap “Setan Penggoda” yang Selalu Berhasil Digoda serta Tergoda Memproduksi Segudang Dosa dan Maksiat

Question: Diceritakan bahwa setan menggodai manusia, atau seperti ular menggoda Adam dan Hawa sehingga memakan “buah terlarang”. Pertanyaannya, mengapa Allah hanya mendiamkan setan dan si ular dengan bebas dan leluasa untuk tempo waktu yang panjang menggodai manusia? Bila setan dan si ular berhasil menggoda manusia, bukankah itu artinya sesuatu bisa terjadi diluar kehendak maupun rencana dan diluar kuasa Allah? Bukankah katanya, Allah “Maha Tahu”? Buat apa juga Allah menciptakan “ranjau darat” semacam “buah terlarang”?

Bukankah Allah juga, yang menciptakan rasa penasaran dalam diri Adam dan Hawa? Bila dosa sifatnya diteruskan atau diwariskan kepada keturunan selanjutnya (dosa warisan), maka kemana semua jasa-jasa baik Adam dan Hawa (harta warisan)? Mengapa pula Allah membiarkan si setan dan si ular berkeliaran mencari mangsa untuk digoda, bahkan terkesan dilestarikan dan dipelihara oleh Allah? Mengapa dogma-dogma agama samawi justru lebih banyak melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak terjawab alih-alih menjawab pertanyaan hidup?

Saya telah sampai pada satu puncak kecurigaan, bahwa Allah itu sendirilah yang memang tidak menghendaki kepunahan kejahatan-kejahatan yang sudah dikenal sejak zaman prasejarah umat manusia, mulai dari pencurian, membunuh, merampok, memerkosa, menipu, menggelapkan, dan kejahatan lain sebagainya. Tujuan Allah melestarikan dosa maupun maksiat, hanya satu, yakni agar umat manusia menjelma “pecandu pengampunan / penebusan dosa” dimana harga yang harus mereka bayarkan ialah jiwa yang digadaikan menjadi budak sembah-sujud Allah, seolah Allah sirna dari dunia ini bila tidak disembah.

Keadilan adalah “Hak Asasi Korban” yang Tidak dapat Dirampas Sekalipun oleh Allah

Ketika Hakim di Pengadilan Meniru dan Meneladani Sifat Allah yang Lebih PRO / Berpihak kepada Penjahat (PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)

Yang Dibutuhkan Kreditor, Bukanlah sang “Nabi Kolor” yang Sudah Mati Lebih dari Dua Ribu Tahun yang Lampau, Akan Tetapi Piutangnya Dibayarkan Hingga Lunas. Penebusan Dosa, apanya yang Ditebus?

Question: Yang tidak saya mengerti, di putusan hakim pengadilan, ada tulisan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Ketika kita renungkan, seperti apakah sifat Tuhan? Jawabannya ialah Tuhan lebih berpihak terhadap penjahat dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut yang rajin ibadah ritual sembah-sujud maupun koor nyanyian paduan suara, ataupun seperti berpuasa ramadhan meski konsumsi meningkat. Jika hakim di pengadilan benar-benar meniru atau meneladani sifat Tuhan, mengapa justru penjahat divonis pidana penjara sebagai sanksinya, alih-alih dibebaskan untuk kembali berkeliaran mencari mangsa?

Tuhan tidak pernah bertanya kepada korban, aspirasi apa yang menjadi keinginan korban, semisal diberi kesempatan untuk mengekspresikan tuntutan keadilan atau menceritakan derita yang mereka alami, namun seketika menghapus dosa-dosa para penjahat yang telah menyakiti ataupun merugikan korban-korbannya. Lalu, mengapa juga hakim di pengadilan masih memanggil pihak korban untuk didengar keterangannya di pengadilan? Mengapa hakim manusia ini, seolah hendak lebih adil daripada Tuhan yang katanya sudah bergelar “Maha Adil”?

Dahsyat dan Agung-nya Khotbah SANG BUDDHA, Kerdil dan Dangkalnya Dogma Agama Samawi

Ketika Orang Bijak Berkata Tegas “Karma Buruk Tidak dapat Dihapuskan” dan “Orang Jahat Kodratnya Masuk Neraka”, maka ia Tidaklah Jahat Kepada Anda, namun justru Berwelas-Asih Memberikan Nasehat agar Anda Tidak Menyesali Hidup Anda

Yang Pahit, Jangan Langsung Dibuang. Yang Manis, Jangan Langsung Ditelan

Dokter di Indonesia, sedikit-dikit meresepkan atau memberikan obat kepada setiap pasien yang datang ke rumah sakit, namun bukan artinya dokter di Indonesia betul-betul baik dan perduli terhadap kesehatan sang pasien. Sebaliknya, di Belanda, dokter paling anti dan paling “kikir” untuk memberikan resep obat-obatan kepada pasien mereka, akan tetapi bukan berarti dokter di Belanda adalah jahat dan kejam terhadap pasien mereka.

Kondisi Batin yang Menyerupai Surga maupun Neraka

Dogma Agama Samawi Ibarat Bensin yang Menyulut Api Nafsu yang Kian Menguasai dan Menjerat

Question: Jika kita melihat orang-orang yang dikuasai oleh nafsu sehingga melakukan praktek poligami, atau bahkan melakukan kejahatan pemerkosaan, “jajan wanita” ke tempat hiburan malam, dikendalikan keserakahan yang tidak kenal kata “puas”, kesetanan sehingga tega merampok, gila kuasa, mabuk otoritas, terbudaki oleh kekayaan materi dengan terus mengejar uang tanpa akhir atau bahkan merampas nasi dari piring milik orang yang lebih miskin, maka bukankah itu adalah “neraka dunia”? Bila “state of mind” yang menyerupai terbakar oleh api neraka yang bernama nafsu, gagal untuk dikontrol, bahkan dikontrol oleh keserakahan diri sendiri, maka atas dasar apakah mereka berdelusi akan masuk ke alam surgawi setelah kematian?

Arogansi Religius PENDOSA Pemeluk Agama DOSA, Delusi Superioritas Semu Orang Dungu

Siapa yang Mau jadi Korban dari PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA?

Siapa yang Mau Punya Tuhan yang lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA?

Question: Ketika yesus menyatakan bahwa kedua penjahat yang turut disalib bersamanya, masuk surga setelah mati di kayu salib, tidak ada tercantum dalam teks-teks nasrani bahwa yesus bertanya terlebih dahulu kepada seluruh korban dari kedua penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus, semisal apakah korban-korbannya telah memafkan sang penjahat, apakah sang penjahat telah bertobat dan menyesali perbuatannya, apakah sang penjahat telah berupaya mengobati dan memulihkan kerugian maupun luka korban-korbannya, apakah korban-korbannya sudah sembuh, dan sebagainya.

Bahkan, yesus tidak menyatakan bahwa para korban dimasukkan ke surga sehingga kembali dipertemukan dengan para penjahat yang telah menjahati mereka, untuk kemudian kembali dijahati untuk kali-keduanya. Atas dasar apakah, yesus merampas keadilan dan penghukuman yang merupakan hak dari kalangan korban? Mengapa yang ditolong oleh yesus, bukan orang-orang baik dan kalangan korban, justru menolong kalangan penjahat? Delusi apakah yang dipertontonkan oleh yesus, yang bahkan tidak mampu dan gagal menyelamatkan dirinya sendiri sehingga disalib di atas kayu salib dengan sangat hina, dicatat dalam sejarah hanya dengan mengenakan celana dalam?

Menikmati Toleransi, namun Disaat Bersamaan Memberangus Toleransi yang Para Muslim Nikmati di Negara-Negara Nonmuslim

Ketika Masih Minoritas, para Muslim Menuntut serta Menikmati Toleransi Berkeyakinan. Namun, ketika Islam Menjelma Mayoritas, para Muslim Hendak Menghapus Praktek Toleransi yang Dahulu Mereka Nikmati

STANDAR BERGANDA, Tipikal Khas Kaum Muslim

Question: Apakah kita sebaiknya, tidak memberi toleransi apapun terhadap kaum muslim, agar mereka tidak “besar kepala” dan lebih sibuk menghakimi keyakinan orang lain daripada mengurusi keyakinan mereka sendiri? DI Inggris, dewasa ini, para muslim membangun komunitas “polisi syariah” yang gaib-nya justru menghakimi kaum nonmuslim di ruang-ruang publik yang notabene warga asli lokal Inggris yang nonmuslim. Para muslim di Inggris, yang rata-rata imigran, diberi toleransi, namun kemudian para muslim tersebut nyata-nyata secara berjemaah dan masif berupaya menghakimi kehidupan masyarakat lokal di Inggris lewat razia “polisi syariah” seperti melarang warga memakan babi, atau bahkan memaksa mereka untuk ikut berpuasa ramadhan, dimana kini mereka juga membangun pengadilan khusus penegakan dan penindakan “hukum syariah” sehingga menyerupai “negara di dalam negara”. Apakah negara-negara tersebut, tidak belajar dari kejadian di Nusantara sebagaimana tertuang di Kitab Jawa DHARMO GHANDUL?

Hak Asasi KORBAN Vs. Dogma PENGAMPUNAN DOSA bagi Penjahat (Pendosa)

Allah Merampas HAK KORBAN Atas Keadilan dengan Memasukkan ke Surga para Penjahat

Question: Ini dan itu, disebut haram. Ini dan itu, disebut dilarang. Namun, ujung-ujungnya justru pendosa dan penjahat yang dimasukkan ke surga oleh Allah. Terus, apa yang disisakan bagi korban, hanya bisa “gigit jari” dilecehkan oleh si penjahat-pendosa lalu masih juga dirampas haknya atas keadilan oleh Allah. Ini kok aneh, orang buat jahat secara sembunyi-sembunyi, tapi ini jadi “koruptor dosa” dengan terang-terangan mempertontonkan candu pengampunan dosa, bahkan mempromosikan ideologi korup semacam pengampunan dosa lewat pengeras suara ke publik secara vulgar dan rasa bangga, alih-alih merasa malu ataupun tabu?

Petaka Ramadhan : DOSA-DOSA SETAHUN PARA MUSLIM DIHAPUSKAN, KORBAN HANYA BISA “GIGIT JARI”

Berani Berbuat, namun Tidak Berani Bertanggung-Jawab, alias Mencandu PENGAMPUNAN DOSA bagi Pengecut dan Pecundang Kehidupan

Kecanduan dan Mencandu Ideologi Korup semacam “PENGAMPUNAN DOSA”, adalah Kamma (Perbuatan) Buruk Itu Sendiri

Menghindari Perbuatan Buruk dan Berani Bertanggung-Jawab, adalah Kamma (Perbuatan) Baik itu Sendiri

Question: Bagi para pendosa, ramadhan adalah keajaiban, karena dosa-dosa para muslim selama setahun penuh akan dihapuskan oleh allah. Namun, bukankah itu artinya menjadi berita duka bagi kalangan korban yang selama ini disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim tersebut, karena keadilan dirampas dari mereka oleh allah yang katanya “maha adil”? Tapi mungkin yang paling korup ialah dogma agama nasrani, “penebusan dosa” yang menyerupai “minta maaf terlebih dahulu, sebelum kemudian bebas sebebas-bebasnya berbuat kejahatan”.

Taubat dalam Perspektif Agama Samawi = Tobat dari Tidak Mencandu & Kecanduan PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA

Business as Usual” Umat Agama Samawi : PRODUKSI SEGUDANG DOSA & RITUAL PENGHAPUSAN DOSA

Question: Bila setiap harinya dan setiap hari raya keagamaannya, isi doa dan ritualnya ialah permohonan penghapusan dosa (dogma pengampunan maupun penebusan dosa), maka dimana letak “taubat”-nya, bukankah itu justru menjadi motivasi untuk “business as usual” yakni untuk terus produktif berlomba-lomba mencetak segudang dosa-dosa untuk kemudian dihapuskan, dan disaat bersamaan menjadi demotivasi untuk berhenti serta tidak lagi berbuat dosa maupun maksiat?

Nikmatilah Kehidupan Spiritual, bukan Mabuk dan Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA (Ideologi Korup bagi KORUPTOR DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi)

Muslim yang Tidak Radikal (Muslim Moderat) adalah OKNUM yang Membangkan Perintah Allah untuk Bersikap Radikal dan Intoleran

Muslim yang Radikal, Intoleran, dan Ekstremis, adalah Muslim yang Sejati, BUKAN OKNUM

Para Muslim TUNDUK pada CANDU “PENGHAPUSAN DOSA” dan Memberi Makan KEKOTORAN BATIN, Pecundang Kehidupan

Question: Bukankah anak Sekolah Dasar saja tahu, apa jadinya bila teknologi nuklir sampai jatuh ke tangan pemeluk ajaran radikal berikut, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan  TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No. 2533]”?

DOSA ASAL? Memangnya Kita Pernah Minta Diciptakan oleh Allah?

Tidak Ada “DOSA ASAL MANUSIA”, yang Ada ialah “DOSA ASAL ALLAH”

Mengapa Allah Bersikap seolah-olah Kita, Umat Manusia, Pernah Meminta untuk Dilahirkan maupun Diciptakan ke Dunia ini?

Question: Konsep “dosa asal” yang dikemukakan oleh agama nasrani, dilengkapi dengan ideologi korup semacam “penebusan dosa”, bukankah artinya “lengkap sudah”, vonisnya hidup dan mati sebagai “lahirnya berdosa sebagai pendosa” dan “matinya sebagai KORUPTOR DOSA” yang mana dosa-dosa pun dikorupsi lewat dogma “minta maaf terlebih dahulu, baru kemudian berbuat kejahatan dengan bebas” alias “bebas berbuat jahat”?

Allah MALPRAKTEK terhadap Umat Muslim

Mukzijat Penyembuhan dari Sakit ala Nasrani adalah Mukzijat yang Percuma, Tidak Benar-Benar Menolong secara Permanen

Question: Dalam ajaran islam, Allah menyebutkan bahwa tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya kecuali penyakit kepikunan. Begitupula dalam nasrani, iman disebut sebagai obat penyembuh. Namun yang menjadi pertanyaan terbesar saya ialah, mengapa untuk penyakit suka mabuk dan kecanduan berbuat dosa dan maksiat yang begitu adiktif, justru ialah diajarkan doa dan ritual penghapusan dosa alih-alih mengajarkan untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korban para muslim tersebut yang menderita luka ataupun kerugian oleh perbuatan mereka? Itu mirip menyiram bensin ke api, semakin besar api tersebut membara dan membakar. Mereka bermulut besar bicara mengenai agama, kitab, ayat-ayat, dogma, Tuhan, nabi, namun miskin dari sikap bertanggung-jawab.