Please, Jangan Pernah Katakan “God bless you” kepada Saya!

Jenis Hiburan yang Dungu bagi Orang Dungu : Dogma PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bagi PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bernama Umat Agama Samawi

Biarlah Saya Terasing dari Allah yang Lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA, dan Biarkanlah Saya Memurnikan Diri dengan “Melawan Arus”, Melawan “Kehendak Allah”

Untuk Apa juga Kita Bangga dan Mau Dirahmati atau Diberkahi oleh “Tuhan yang Lebih PRO terhadap PENJAHAT / PENDOSA”?

Question: Apakah tidak ada yang mempertanyakan atau setidaknya merasa heran dan janggal, kita sadar bahwa hidup adalah duka (pain atau suffer). Namun mengapa mereka selalu dengan percaya diri merasa bahwa orang lain akan merasa senang ketika mereka berkata “God bless you”, seolah-olah kita akan memilih untuk pernah dilahirkan ke dunia ini bila boleh memilih?

Umat Agama Samawi Memiliki dan Memelihara DURI dalam Diri Mereka, yang dapat Melukai Diri Sendiri maupun Orang Lain

Khotbah Sang Buddha tentang “TANPA DURI”

Dogma KORUP Semacam PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA adalah DURI bagi Jalan Kesucian yang Penuh Pengendalian Diri maupun DURI bagi Jiwa Ksatria yang Penuh Tanggung-Jawab

Question: Agama islam mengatakan bahwa manusia terlahir ibarat selembar kain yang putih bersih alias murni. Namun mengapa nabi rasul allah junjungan para muslim, beranjak pada usia dewasanya justru menjelma pendosa pecandu pengampunan dosa dan mabuk pada adiksi pengampunan dosa, alih-alih semakin tua semakin bijaksana? Bukankah antara “berbuat dosa-dosa untuk dihapuskan” dan “pengampunan dosa” sifatnya saling bundling alias komplomenter satu sama lainnya tanpa dapat dipisahkan?

Menghapus Dosa Penjahat Bukanlah Belas-Kasihan, namun Membuat Korban “Patah-Hati” karena Haknya Atas Keadilan Dirampas Allah

Perbedaan antara EGO dan Welas-Asih

Question: Bagaimanakah ciri-ciri orang yang memiliki belas-kasih atau welas-asih?

Mencela Iblis, Tidak Membuat Seseorang menjadi Suciwan. Perilaku Mulia-Murni yang Membuat Seseorang menjadi Bersih-Suci

Pandai dan Gemar Mengomentari dan Meng-kritik maupun Mencela Orang Lain, Belum Tentu dan Bukan Jaminan yang Bersangkutan Lebih Baik Perialkunya

Lebih Baik Terampil dan Terlatih dalam Kewaspadaan (Mawas-Diri) daripada Sibuk Mengomentari dan Mencela Pihak Lain

Dalam usia yang telah hampir mencapai separuh abad lamanya lahir dan tumbuh besar di Indonesia, kerapkali penulis jumpai fenomena sosial dimana anggota masyarakat kita begitu pandai dan gemar mengomentari, menggurui, mencerca, menghardik, meng-kritik, mencela, menghakimi, serta meng-kritisi pihak lain, akan tetapi telah ternyata diri yang bersangkutan senantiasa memelihara “standar ganda”, yakni : orang lain tidak boleh demikian, namun dirinya sendiri boleh demikian. Alhasil, penulis cenderung untuk tidak menanggapi apapun orang-orang yang bersikap kritis terhadap orang lain—karena belum tentu yang bersangkutan berbeda sikap dan sifatnya dari orang lain yang ia cela, kritik, serta hakimi.

Hak Korban Atas Keadilan, dapat Pupus di Tingkat Pengadilan Negeri ketika Hakim Memutus “Bebas” ataupun ketika Hakim Memberi Vonis “Pemaafan Hakim” kepada Pihak Pelaku (Terdakwa)

Nasib Korban, Tanpa Kepastian dimana Keadilan Terasa Demikian Tidak Terjangkau

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang Terbit Tahun 2025 lebih PRO terhadap Terdakwa, Kabar Gembira bagi Pelaku Kejahatan dan Kabar Duka bagi Kalangan Korban

Question: Ada hal “mengganjalkan” yang cukup membuat kami bingung saat dipikirkan sebanyak apapun, yakni pihak Jaksa atau Penuntut Umum (JPU) tidak boleh mengajukan upaya hukum Kasasi ke Mahkamah Agung terhadap Terdakwa yang diputus “bebas” atau “diberikan pe-maaf-an” oleh hakim di pengadilan. Pertanyaannya, bukankah disini juga ada kepentingan kami selaku Korban-Pelapor, dimana pihak Kejaksaan mendakwa dan menuntut dalam rangka mewakili kepentingan pihak Korban? Mengapa terkesan ada hak yang berdisparitas atau diskriminasi antara kepentingan Korban dan kepentingan seorang Terdakwa, serta dimanakah letak “equality before the law”-nya? Yang terlebih janggal, bila Korban tidak memaafkan (perbuatan) sang pelaku, atas dasar hak apakah hakim di pengadilan melakukan “fetakompli” terhadap hak prerogatif Korban untuk memaafkan atau tidaknya pihak Terdakwa yang nyata-nyata telah terbukti bersalah sebagaimana dirinci dalam dakwaan JPU?

Puisi tentang Dua Tipe Kepribadian Manusia yang Saling Berseberangan

HERY SHIETRA, Puisi tentang Dua Tipe Kepribadian Manusia yang Saling Berseberangan

Semua orang sanggup mengikuti arus,

Namun tidak semua orang sanggup melawan arus.

Semua orang sanggup “tabrak lari”,

Namun tidak semua orang sanggup bertanggung-jawab.

Semua orang sanggup berbuat jahat,

Namun tidak semua orang sanggup berbuat kebaikan.

Islam dan Muslim adalah AKAR PERSELISIHAN (Biang Keladi-nya)

Kaum Muslim, Ibarat Buruk Wajah (tapi) Cermin (yang) Dibelah

Standar Ganda Kaum Muslim yang Serba Mau Menang Sendiri

Question: Saya sering mengamati, betapa kaum muslim maunya “menang sendiri” secara membuta, parsial, serta berstandar-ganda. Kaum muslim beralibi, bahwa Israel membuat serangan-balasan secara tidak proporsional. Pertanyaannya, Israel adalah negara yang teritori luas tanahnya sangat amat kecil, lalu dikeroyok oleh Hamas, Iran, dan Yaman, dan sejak dahulu kala berita mewartakan kabar bahwa Israel yang diserang terlebih dahulu oleh mereka lewat rudal peledak. Bagaimana mungkin, negara dengan teritori kecil, disebut membuat serangan-balasan secara tidak proposional terhadap negara-negara yang mengeroyokinya? Menabuh genderang peperangan, salah siapa jika yang kemudian “babak-belur” ialah si penabuh genderang perang? Mereka tidak mau belajar dengan selalu mengulangi hal serupa, seolah menyerang negara orang lain ialah “iseng-iseng berhadiah” tanpa kosekuensi apapun, lalu “cengeng” dengan bermain “playing victim”.