OVERDOSIS CANDU PENGHAPUSAN DOSA, Umat Muslim dan Nabi Rasul Allah adalah PENDOSA-BERAT & PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA

Hanya PENDOSA-BERAT, yang KECANDUAN-BERAT DOGMA PENGHAPUSAN DOSA

Mabuk dan Kecanduan-Berat Dogma Korup “PENGHAPUSAN DOSA” karena Dosa-Dosanya telah Menggunung “Too Big to Fall

Question : Setiap harinya, umat muslim ritual doa penghapusan dosa. Setiap tahunnya, umat muslim puasa ramadhan dimana konsumsi meningkat drastis dan kerja malas-malasan namun berdelusi “dosa setahun dihapuskan”, liburan ke Mekkah (haji ataupun umroh) dengan harapan dosa-dosa sebelumnya terhapuskan, lalu saat meninggal dunia sanak-keluarga almarhum sang pendosawan tersebut berdoa memohon agar almarhum dihapuskan dosa-dosanya semasa hidup. Tidak pernah sekalipun mereka memikirkan kepentingan korban-korban mereka yang telah pernah mereka sakiti, lukai, maupun rugikan.

Melampaui Rasa Takut dan Tetap Bersikap Tenang, sebuah Puisi Inspiratif

HERY SHIETRA, Melampaui Rasa Takut dan Tetap Bersikap Tenang

Ada seseorang,

Orang biasa,

Ketika ditanya,

Kamu takut?

Ia menjawab,

Tidak.

Ia tetap bersikap tenang,

Dan menghadapi apa yang harus ia hadapi.

Sang Buddha Tidak Memuji “Meditasi Nafsu Indria” semacam “Zikir HAPUS DOSA”

Terhindari dari Perbuatan ataupun Tidak Berbuat yang Akan Kita Sesali Sendiri di Kemudian Hari, Itulah Pertolongan Dhamma dan Manfaat Berlindung kepada Dhamma

Question : Orang muslim sering bilang, “Hanya kepadanya-lah, Allah, kami meminta pertolongan.” Bukankah itu konyol, mengingat para muslim yang mengadu atau melapor kepada Allah karena dijadikan korban kejahatan, semisal disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim lainnya, lantas pelakunya dimasukkan ke surga oleh Allah, alih-alih dilempar ke neraka, semata karena sang pelaku kejahatan dihapus dosa-dosanya oleh Allah karena rajin solat, dosa setahun dihapuskan karena puasa ramadhan meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan disamping ajang minta dihormati, juga dosa-dosa sebelumnya dihapus setelah umroh atau haji ke Mekkah di Arab Saudi. Pertanyaannya, meminta pertolongan semacam apakah, yang dimaksudkan oleh para muslim tersebut, pertolongan bagi korban kejahatan ataukah justru pertolongan bagi penjahat-pendosa pelaku kejahatan?

Kenikmatan Indria-Duniawi di Alam Surgawi? TIDAK NYAMBUNG!

Para Muslim akan Terlahir-Kembali di “Alam SELANGKANGAN”, Alam yang Lebih Rendah daripada Alam Hewan

Question : Para muslim belum mati saja, sudah selingkuh dengan tergila-gila bermimpi dan mengimpikan bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga. Itu surga ataukah rumah bord!l tempat pelacuran? Bila mau mencari tempat “lokalisasi”, mengapa mencarinya ke alam surga, bukankah di dunia manusia juga banyak? Mengapa kenikmatan surgawi justru digambarkan sebagai kenikmatan duniawi, seperti persetubuhan tubuh fisik yang kasar?

Peng-Kurban-an dalam Buddhisme, TANPA PERTUMPAHAN DARAH, namun Melepaskan Sang Anak untuk Hidup BEBAS—Bukan Milik ataupun Hak Orangtua untuk Menentukan Nasib Hidup Anak

Korupsi adalah Sifat Kekanak-Kanakan, seolah Tumpukan Harta dan Kekayaan akan Mereka Bawa Mati

Question : Pernah terjadi, saya salah menghitung tagihan lalu klien memberi teguran. Ternyata benar, saya salah menghitung tagihan yang saya tagihankan kepada klien. Sebagai responnya, saya ucapkan terimakasih banyak kepada pihak klien, karena telah menegur saya, sehingga saya “TERHINDAR DARI KORUPSI”. Tapi mengapa ya, orang Indonesia yang rata-rata muslim dan rajin ibadah, justru merasa tersinggung atau bahkan sampai marah ketika ditegur saat mereka mencoba memeras maupun menyalah-gunakan wewenangnya agar kita tidak dipersulit oleh mereka, seolah mereka bekerja tidak digaji dari pajak yang dibayar oleh masyarakat?

Meyakini secara Membuta artinya PANTANG MENYELIDIKI ataupun MEMPERTANYAKAN. Hanya SATAN-IBLIS yang Melarang Anda Menyelidiki dan Mempertanyakan “Kebenaran”

Buddhisme, Tidak hanya Bermula ataupun Berakhir pada Keyakinan, namun juga Menyelidiki

Agama Samawi, Bermula dan Berakhir Semata hanya kepada Satu Hal, yakni Keyakinan Membuta—TANPA MENYELIDIKI

“Aku Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah”? Pembual yang Mewarisi Bualan para Pembual Sebelumnya, Generasi Demi Generasi

Question : Ketika ada agama yang membuat klaim, bahwa hanya dogma atau agamanya yang benar, ajaran agama yang lainnya adalah salah. Masalahnya, semua agama membuat klaim serupa. Mustahil ada dua “kebenaran” yang saling kontradiktif satu sama lainnya, alias dua “kebenaran” yang saling tidak sejalan dan saling bertabrakan atau tumpang-tindih satu sama lainnya, tidak linear juga tidak konvergen. Maka, bagaimana cara mengenali manakah kebenaran yang sejati?

Pada Akhirnya, Kita hanya dapat Mengandalkan Diri Kita Sendiri

HERY SHIETRA, Pada Akhirnya, Kita hanya dapat Mengandalkan Diri Kita Sendiri

Para dewa,

Memiliki mata-dewa,

Dapat melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia manusia,

Perbuatan-perbuatan jahat oleh sesama manusia,

Maupun perbuatan-perbuatan jahat oleh roh jahat terhadap umat manusia,

Perbuatan-perbuatan yang terang-terangan,

Maupun perbuatan-perbuatan yang tersembunyi.

Namun,

Para makhluk dewata tersebut,

Membiarkan segala jenis kejahatan terjadi,

Agama Samawi Bukanlah Agama yang Normal, namun MENORMALISASI YANG MENYIMPANG

MULUT-BESAR para Muslim yang Notabene PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA, “KORUPTOR DOSA” yang Hendak Menceramahi Kaum Lain tentang Hidup Jujur, Bersih, dan Lurus?

Delusi Kaum Muslim yang Paling Delusif, Bangga Memamerkan Bobrok-Moral “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih Merasa Malu dan Tabu Bersikap PENGECUT yang Tidak Berani Mengambil Tanggung-Jawab / Konsekuensi Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri

Question : Banyak umat muslim, yang mengklaim dengan penuh kebanggaan, bahwa norma agama mereka, yakni islam, lebih tinggi derajatnya daripada norma hukum. Adapun sepengetahuan saya ialah, dogma-dogma agama islam menghalalkan segala jenis kejahatan (dosa-dosa) maupun maksiat, karena meski “ini dan itu disebut haram”, “ini dan itu disebut dilarang”, “ini dan itu disebut dosa”, akan tetapi kemudian dinegasikan sendiri oleh dogma agama islam itu sendiri lewat iming-iming korup semacam “pengampunan dosa”, “dosa-dosa setahun dihapuskan lewat puasa-ramadhan (meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan)”, “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan bila berangkat umroh / haji ke Mekkah”.

Tiada yang Lebih KONSISTEN daripada Ajaran Sang Buddha, dan Tidak Ada yang Lebih INKONSISTEN daripada Dogma-Dogma Agama Samawi

Buddhisme : Berbuat Satu Buah Kejahatan adalah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kebaikan ialah Terlampau Sedikit—Ada “HUKUM KARMA”!

Agama Samawi-Abrahamik : Berbuat Satu Buah Kebajikan ialah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kejahatan adalah Terlampau Sedikit—Ada “PENGHAPUSAN DOSA”!

Sejauh, Selebar, dan Sedalam apakah Perbedaan / Disparitas antara Agama Buddha dan Agama Samawi-Abrahamik?

Question : Dalam agama samawi, ini dan itu disebut “haram”, ini dan itu disebut “dosa”, ini dan itu disebut “dilarang Tuhan”. Tapi, ujung-ujungnya, dinegasikan oleh dogma agama samawi itu sendiri yang mengajarkan ritual “penghapusan dosa”, sehingga alhasil apapun menjadi “halal hukumnya” dalam agama samawi, dan tidak heran bila umat pengikutnya kemudian diberitakan menjadi koruptor ataupun penjahat-busuk-tercela. Buat apa mengharam-haramkan segala sesuatunya, bila pada muaranya mabuk dan kecanduan “penghapusan dosa”, selain sekadar delusi rasa superior yang semu dan konyol. Bagaimana dengan di agama Buddha, apakah konsisten ada sesuatu yang seharusnya dihindari dan apa yang seharusnya dilakukan?

Agama Samawi adalah Agama KEKANAK-KANAKAN bagi Anak-Anak yang Belum Lulus Sekolah Dasar

Berbuat Dosa Sebelum Kemudian Mabuk dan Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA, merupakan Bentuk Watak KEKANAK-KANAKAN Paling Ekstrem dan Lebih Kekanakan daripada Anak-anak Taman Kanak-Kanak

Question : Bukankah hanya seorang anak-anak, yang berpikir bahwa berbohong bisa menyelesaikan masalahnya dan seolah ia tidak pernah melakukan kesalahan? Bukankah hanya anak-anak yang belum dewasa, yang tidak punya kemauan maupun keberanian untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri?

Ajaran Buddha Bersifat Ahiṁsaka, “TANPA-BAHAYA”. Ajaran Islam Bersifat Hiṁsaka, “BERBAHAYA”

Sang Buddha Menjinakkan Manusia TANPA KEKERASAN, sementara Nabi Rasul Allah Menaklukkan Manusia Lewat PEDANG dan PERTUMPAHAN DARAH

Question : Mencermati fakta bahwa nabinya umat islam memiliki pedang, senjata tajam, ayat-ayat dalam alquran yang penuh “pertumpahan darah”, maupun dari Kitab Jawa Dharmo Ghandul, kita jadi tahu bahwa islam disebarkan lewat kekerasan, ancaman senjata tajam, pembunuhan berdarah, pertumpahan darah dimana anak kandung sendiri disembelih semata demi memuaskan nafsu-ego sang bapak yang ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga (kisah Ibrahim menyembelih Ismail yang dijadikan teladan oleh para muslim), serta kebencian dan permusuhan. Bagaimana pandangan Buddhisme, tentang ajaran yang justru mengkampanyekan dan melestarikan kekerasan dalam penyebaran suatu ideologi?

Agama Samawi Penuh DISKRIMINASI, bahkan dari Sejak Manusia Dilahirkan, Terlahir sebagai Kasta Umat Vs. Kasta Nabi

Kasta Nabi dan Kasta Umat dalam Agama Samawi Bersifat DILAHIRKAN, Bukan Dicapai Lewat Usaha Meritokrasi Egaliter

Diskriminasi yang Dilahirkan Bukan Lagi Sekadar Melahirkan Diskriminasi, Ketidakadilan Agama Samawi

Seseorang menjadi Mulia, karena Perbuatan dan Perjuangannya, bukan karena Kelahiran, Itulah Ajaran Sang Buddha

Question : Alasan mengapa saya tidak cocok, bahkan alergi, terhadap agama samawi, karena ada yang dilahirkan sebagai nabi dan ada yang dilahirkan sebagai umat-pengikut atau orang biasa. Itu adalah diskriminasi yang dilahirkan. Itu sama seperti mereka hendak berkata bahwa bila ada seserang diberi kasta sebagai kasta budak, maka budak dilahirkan ataupun melahirkan budak, tanpa bisa dibebaskan dari perbudakan generasi demi generasi. Bila ada kasta bangsawan, maka bisa jadi ia memang bangsawan sejak dilahirkan dan karena dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, namun apakah ia selamanya stagnan, tidak bisa merosot-menurun ataupun menapak ke tingkat derajat yang lebih tinggi? Sama seperti orang miskin, mungkin ia terlahir miskin, namun apakah artinya ia akan miskin selamanya? Itu menegasikan peran perjuangan. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah Buddha juga dilahirkan sifatnya?

KORUPSI MORAL seorang KORUPTOR DOSA, Dosa-Dosa pun DIkorupsi

Makna KORUPSI MORAL, Moral pun Dikorupsi

Question : Yang dimaksud dengan “korupsi moral”, itu artinya seperti apakah?

Dahsyatnya Ajaran SANG BUDDHA : Boleh Mempertanyakan dan Bebas Mengkritisi

Miskin-Keringnya Ajaran Agama Samawi : Haram Hukumnya Mempertanyakan dan Memakai Otak untuk Berpikir Kritis

Question : Yang namanya junjungan atau teladan, harusnya lebih baik standar-moralnya ketimbang yang menjadi pengikut atau umat. Tapi di islam berbeda, nabi yang para muslim junjung, justru lebih mabok, lebih tergila-gila, lebih demam, dan lebih kecanduan “pengampunan dosa” daripada para umatnya. Artinya, nabi para muslim itu dosa-dosanya lebih menggunung daripada dosa-dosa para muslim yang menjadi pengikutnya. Sebenarnya para muslim itu hendak meneladani kebusukan-moral sang nabi, ataukah apa? Bukankah menjadi tidak mengherankan, bila kemudian kita menemukan kabar berita maupun realita keseharian dimana para muslim yang melakukan aksi kejahatan maupun korupsi?

Peng-Kurban-an Sang Buddha terhadap Putera TunggalNya, Rāhula, Pengorbanan TANPA DARAH

Peng-Kurban-an Ibrahim / Abraham terhadap Putera Tunggalnya, Ismail / Ishaq, Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH

Question: Di dalam agama samawi-abrahamik, Ibrahim mengkurbankan nyawa hidup anak kandungnya untuk disembelih, Ismail. Namun, Ibrahim tidak bersedia mengkurbankan harta miliknya yang terbesar, yakni nyawanya sendiri untuk disembelih, karena Ibrahim telah dibutakan oleh EGO yang tergila-gila oleh mimpi bersenang-senang dan bersetubuh dengan puluhan bidadari di sorga. Jika Sang Buddha, apakah wujud pengorbanannya, apakah ada kisah hidup Sang Buddha yang relevan dengan kisah kurban-mengkurbankan anak kandung?

Pandangan Salah dan Keyakinan Keliru, adalah yang Paling Tercela dan Berbahaya dari Segala Hal

Ngakunya Agama “CINTA DAMAI”, tapi Isi Ajarannya “BUNUH”, “PERANGI”, “PENGGAL”, “PANCUNG”, “TUMPAHKAN DARAH”

Question: Bila ajaran semacam berikut ini disebut “cinta dsmai”, maka yang disebut ajaran “teror!s” akan seperti apakah wujudnya? Hadist Tirmidzi No. 2533 : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”

Agama Buddha IS and ALWAYS THE BEST, namun mengapa Minoritas?

Menikmati dan Mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” artinya Menikmati serta Kecanduan “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”

Membenci Tanpa Alasan, semata karena Diharuskan demikian oleh Kitab Agama Samawi, Ciri Agama KEBENCIAN

Question: Dari penilaian saya secara jujur dan objektif, hukum karma atau hukum sebab-akibat, merupakan sistem merit egaliter yang paling adil dan paling ideal. Pertanyaannya, mengapa banyak orang yang justru memilih menjadi umat nonBuddhis? Kita ambil contoh lainnya, Ibrahim menyembelih Ismail, anak kandungnya, disebutkan oleh umat agama samawi sebagai bentuk pengorbankan-diri, yakni mengorbankan apa yang paling dikasihi oleh Ibrahim. Itu penilaian orang yang buta nuraninya.

Yang paling dicintai oleh Ibrahim, ialah nyawa hidupnya sendiri, bukan nyawa sang anak. Bila betul Ibrahim hendak berkurban dan mengorbankan apa yang PALING IA CINTAI, maka semestinya ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menebus nyawa sang anak, bukan sebaliknya, mengorbankan nyawa sang anak demi kesenangan sang ayah yang ingin bersetubuh dengan bidadari di surga. Alih-alih memilih masuk neraka demi menyelamatkan sang anak, Ibrahim yang tergila-gila ingin bersenang-senang dengan bidadari di surga, secara sadar memilih untuk mengorbankan apa yang TIDAK LEBIH PENTING dari nyawa maupun EGO dirinya sendiri, yakni nyawa milik sang anak.