Mengapa Orang Indonesia Rata-Rata KORUP Meskipun AGAMAIS? Karena DOSA-DOSA
PUN MEREKA KORUPSI, KORUPTOR-DOSA!
Agama DOSA yang Menyaru Memakai Merek / Nama “Agama SUCI”, Itulah Kemunafikan yang Paling Munafik
Question : Umat muslim sering mengatakan bahwa “Allah membenci orang munafik”. Memangnya, yang menciptakan orang munafik lengkap dengan sifat munafiknya, siapa jika bukan Tuhan Sang Pencipta itu sendiri? Bukankah itu mirip seperti menampar wajah sendiri telah ia gagal menciptakan produk yang sempurna? Menciptakan produk yang sengaja tidak sempurna, lalu produk ciptaannya berbuat keliru, siapa yang mau dipersalahkan? Kalau memang membencinya, mengapa diciptakan? Tengok sifat dan sikap korup sang “nabi rasul Allah” yang mabuk dan kecanduan berat “penghapusan dosa”, itu apa bukan munafik namanya, menghakimi dan menggurui orang lain namun dirinya sendiri gagal ia didik maupun kendalikan?
Orang-orang muslim menyebutnya sebagai “ikhtiar”, buat dosa lalu disikapi
dengan ritual doa “penghapusan dosa” alih-alih introspeksi diri dan mengambil tanggung-jawab
atas konsekuensi perbuatan buruknya sendiri. Mana ada orang yang mau bertobat,
bila tidak ada konsekuensi buruk terhadap perbuatan buruk mereka? Sinonim dari kata
“taubat”, ialah “TIDAK lari dari tanggung-jawab dan siap-berani menghadapi
konsekuensi”. Adapun lawan katanya, ialah “penghapusan dosa”. Dosa-dosa pun dikorupsi,
koruptor-dosa. Tanpa malu ataupun rasa takut, mereka mengkampanyekan “penghapusan
dosa” alih-alih mempromosikan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat
ataupun sikap ksatria dengan berani bertanggung-jawab bila masih dapat berbuat keliru,
itu “Agama SUCI” ataukah “Agama DOSA”?
Brief
Answer : Satu hari terlewatkan
dengan menjadi seorang “Koruptor-Dosa”, maka satu hari telah ia sia-siakan dengan
tidak menjadi seseorang yang higienis dari kekotoran-batin. Sehingga, sejatinya
ia telah kehilangan kesempatan satu hari yang berharga. Satu tahun ia
melewatkan kesempatan untuk menjadi orang baik, dengan mencandu dan kecanduan ideologi
KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, maka satu tahun ia telah
menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan menanam kebaikan.
Ironisnya,
sepanjang hayatnya, para umat agama samawi telah mem-vonis dirinya sendiri
hidup dan mati dengan status sebagai “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA”. Mereka
merosot, alih-alih meningkat, bagaikan mengikuti arus air yang secara
alamiahnya bergerak ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Orang suci atau kaum ksatria
manakah, yang butuh iming-iming KORUP “too good to be true” demikian? Mereka,
adalah kasta paling rendah, hina, kotor, korup, tercela, busuk, serta dangkal,
namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang merasa berhak menghakimi kaum
lainnya, yakni “Kasta PENDOSAWAN”.
Terhadap
dosa dan maksiat, mereka demikian kompromistik. Akan tetapi terhadap kaum yang
berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran. Mereka adalah para pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang
begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka
sendiri, baik perbuatan besar maupun perbuatan-perbuatan kecil. Mereka menyia-nyiakan
kesempatan sepanjang hayat hidupnya, dengan mabuk serta kecanduan-berat delusi “PENGHAPUSAN
DOSA” dan melarat bersama dengan delusinya tersebut yang kian berkuasa mencengkeram
atas dirinya.
PEMBAHASAN:
Tidak ada tawar-menawar dengan kematian, karenanya jangan sia-siakan waktu
yang ada dan berharga ini untuk kesia-siaan. Selengkapnya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~
SUTTA 134 ~
Lomasakangiyabhaddekaratta
Sutta: Lomasakangiya dan Satu Malam Yang Baik
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Lomasakangiya sedang menetap di negeri
Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.
[Kitab Komentar : Menurut Komentar Theragāthā, Yang
Mulia Lomasakangiya telah menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kassapa. Setelah
Buddha Kassapa membabarkan Bhaddekaratta Sutta, seorang bhikkhu tertentu
menyampaikannya kepada Lomasakangiya. Karena tidak mampu memahaminya, ia berseru:
“Di masa depan, semoga aku mampu mengajarkan sutta ini kepadamu!” Yang lain
menjawab: “Semoga aku dapat menanyakannya kepadamu!” Pada masa sekarang
Lomasakangiya terlahir di sebuah keluarga Sakya di Kapilavatthu, sedangkan
bhikkhu lainnya itu menjadi Dewa Candana.]
2. Kemudian, pada larut malam, Candana, dewa muda berpenampilan indah
yang menerangi seluruh Taman Nigrodha, mendekati Yang Mulia Lomasakangiya.
Sambil berdiri di satu sisi, Candana si dewa muda berkata kepadanya:
“Bhikkhu, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang yang
telah melewatkan satu malam yang baik’?” [200]
“Teman, aku tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah
Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat ringkasan
dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Bhikkhu, aku juga tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang
Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Bhikkhu, apakah engkau ingat
syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Teman, aku tidak ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu
Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang
Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”
“Bhikkhu, aku ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam
Yang Baik.’”
“Tetapi, Teman, bagaimanakah syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu
Malam Yang Baik yang engkau ingat’?”
“Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di antara para dewa di
alam surga Tiga Puluh Tiga, di atas batu pualam merah di bawah pohon
Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan dari
‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik kepada para dewa di alam
surga Tiga Puluh Tiga:
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini terjadi pada
tahun ke tujuh setelah Pencerahan Sang Buddha, pada saat Beliau melewatkan tiga
bulan masa vassa di alam surga Tiga Puluh Tiga mengajarkan Abhidhamma kepada
para dewa dari sepuluh ribu sistem dunia yang berkumpul di sana.]
3.
‘Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu
Atau
membangun harapan di masa depan;
Karena
masa lalu telah ditinggalkan
Dan
masa depan belum dicapai.
Melainkan
lihatlah dengan pandangan terang
Tiap-tiap
kondisi yang muncul saat ini;
Ketahuilah
hal itu dan yakinlah pada hal itu,
Dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
Hari
ini usaha harus dilakukan;
Besok
mungkin kematian datang, siapa yang tahu?
Tidak
ada tawar-menawar dengan Kematian
Yang
dapat menjauhkannya dan gerombolannya,
Tetapi
seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,
Tanpa
mengendur, siang dan malam –
Adalah
ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,
Yang
telah melewati satu malam yang baik.’
4. “Bhikkhu, aku ingat syair ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang
Baik’ seperti demikian. Bhikkhu, pelajarilah ringkasan dan penjelasan dari
‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, kuasailah
ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’
Bhikkhu, hafalkanlah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati
Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang
Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ adalah bermanfaat, dan merupakan dasar-dasar
kehidupan suci.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Candima si dewa muda, yang setelah itu
lenyap seketika.
5. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Lomasakangiya
merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya,
melakukan perjalanan menuju Sāvatthī. Ia [201] akhirnya sampai di Sāvatthī, dan
menghadap Sang Bhagavā di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi, memberitahukan
kepada Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi, dan berkata: “Baik sekali,
Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku ringkasan dan
penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”
6. “Bhikkhu, apakah engkau mengenal dewa muda itu?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Bhikkhu, dewa muda itu bernama Candana. Ia menekuni Dhamma,
memperhatikan, menyimaknya dengan seluruh pikirannya, mendengarkannya dengan
sungguh-sungguh. Maka, Bhikkhu, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Lomasakangiya menjawab Sang Bhagavā. Sang
Bhagavā berkata sebagai berikut:
7. “Janganlah
seseorang menghidupkan kembali masa lalu
Atau
membangun harapan di masa depan;
[Kitab Komentar : Secara lebih literal kedua baris pertama dapat
diterjemahkan: “Janganlah seseorang kembali ke masa lampau atau hidup dalam
pengharapan di masa depan.” Makna ini akan lebih jelas dalam paragraf
penjelasan di dalam sutta ini.]
Karena
masa lalu telah ditinggalkan
Dan
masa depan belum dicapai.
Melainkan
lihatlah dengan pandangan terang
Tiap-tiap
kondisi yang muncul saat ini;
[Kitab Komentar : Ia harus merenungkan tiap-tiap kondisi yang muncul saat
ini, tepat di mana munculnya, melalui tujuh perenungan pandangan terang
(pandangan terang ke dalam ketidak-kekalan, penderitaan, tanpa-diri,
kekecewaan, kebosanan, lenyapnya, lepasnya.)]
Ketahuilah
hal itu dan yakinlah pada hal itu,
Dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
[Kitab Komentar : Asaṁhīraṁ asankuppaṁ, “dengan
tak terkalahkan, tak tergoyahkan”. Kitab Komentar menjelaskan bahwa sutta ini
dikatakan bertujuan untuk menunjukkan pandangan terang dan lawan pandangan
terang dimana dalam sutta terpisah Sang Buddha menyatakan “Tetapi apapun
juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk
pada lenyapnya.”; karena pandangan terang adalah “tak terkalahkan, tak
tergoyahkan” karena tidak terkalahkan atau tergoyahkan oleh nafsu dan kekotoran
lainnya.
Di tempat lain ungkapan “tak terkalahkan, tak
tergoyahkan” digunakan untuk menggambarkan Nibbāna (yaitu, Sn v.1149) atau
menggambarkan pikiran yang terbebaskan (misalnya, Theragāthā v.649), tetapi di
sini tempaknya merujuk pada tingkatan dalam pengembangan pandangan terang.
Kemunculan kembali bentuk kata kerja saṁhirati pada paragraf nomor ke-12 dan ke-13 menyiratkan bahwa makna yang
dimaksudkan adalah perenungan saat ini tanpa tersesat ke dalam pandangan diri.]
Hari
ini usaha harus dilakukan;
Besok
mungkin kematian datang, siapa yang tahu?
Tidak
ada tawar-menawar dengan Kematian
Yang
dapat menjauhkannya dan gerombolannya,
Tetapi
seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,
Tanpa
mengendur, siang dan malam –
Adalah
ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,
[Kitab Komentar : Sang “Bijaksana Damai” (santo muni) adalah Sang
Buddha.]
Yang
telah melewati satu malam yang baik.
8. “Bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang menghidupkan
kembali masa lalu?
Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk
materi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa
lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki
bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan
di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu
adalah bagaimana seseorang menghidupkan kembali masa lalu.
[Kitab Komentar : Seseorang “menemukan kesenangan”
dengan membawa ketagihan atau pandangan yang berhubungan dengan ketagihan di
masa lalu. Harus dipahami bahwa ini bukanlah sekadar perenungan masa lalu
melalui ingatan yang menyebabkan belenggu, tetapi menghidupkan kembali
pengalaman masa lalu dengan pikiran-pikiran ketagihan. Sehubungan dengan hal
ini ajaran Sang Buddha sangat jauh berbeda dengan ajaran Krishnamurti, yang
tampaknya menganggap bahwa ingatan itu sendiri sebagai penjahat di belakang
layar.]
9. “Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang tidak menghidupkan
kembali masa lalu?
Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki
bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana
dengan berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia tidak
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian
di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku
memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia tidak
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian
di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak menghidupkan kembali masa
lalu.
[Kitab Komentar : Sintaksis dari Bahasa Pāli
memperbolehkan kalimat “Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’”
diinterpretasikan dalam dua cara, sebagai menyebutkan bahwa seseorang berpikir,
“Aku memiliki bentuk demikian di masa lalu,” namun tidak menemukan kesenangan
dalam pikiran itu; atau bahwa seseorang tidak menemukan kesenangan di masa lalu
dengan memikirkan pikiran demikian. Horner, Ñāṇananda (dalam Ideal Solitude), dan Bhikkhu Ñāṇamoli menafsirkan
kalimat ini dalam cara pertama; Bhikkhu Bodhi mempertahankan terjemahan Bhikkhu
Ñāṇamoli dalam edisi pertama. Setelah mempertimbangkan, sekarang Bhikkhu
Bodhi percaya bahwa interpretasi ke dua adalah lebih tepat menyampaikan makna
teks tersebut. Ini juga berkaitan, secara lebih baik, dengan syair itu sendiri,
yang menginstruksikan agar siswa tidak berdiam di masa lalu dan di masa depan
melainkan merenungkan “tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini” seperti yang
disampaikan oleh syair itu sendiri.]
10. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang membangun harapan di
masa depan? Seseorang
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk
materi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di
masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku
memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia memelihara
kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di
masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang membangun harapan di masa depan.
[Kitab Komentar : Dalam edisi pertama, kalimat “Seseorang
memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk
materi demikian di masa depan!’” diterjemahkan: “Dengan berpikir, ‘Aku akan
memiliki bentuk materi demikian di masa depan,’ seseorang menemukan kesenangan
di dalam itu.” Setelah merenungkan kembali, sekarang bagi Bhikkhu Bodhi selaku
penerjemah dari Bahasa Pāli tampaknya bahwa kalimat itu mengungkapkan seruan
harapan di masa depan.]
11. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak membangun harapan
di masa depan? Seseorang
tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki
bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana
dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia
tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki
persepsi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan
berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa
depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku
memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang
tidak membangun harapan di masa depan.
12. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang terkalahkan sehubungan
dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak
terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak
disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak
terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk
materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk
materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia
menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan
sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia menganggap
persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau bentuk materi
sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia menganggap
bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan
[kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri
sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia menganggap kesadaran sebagai
diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam
diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang terkalahkan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.
[Kitab Komentar : Kata kerja mulai dari kalimat “terkalahkan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini” dan dalam paragraf
berikutnya, saṁhirati, merujuk kembali pada baris dalam syair, “tak terkalahkan, tak
tergoyahkan.” Kitab Komentar mengemas: “Seseorang diseret oleh ketagihan dan
pandangan karena ketiadaan pandangan terang.”]
13. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak terkalahkan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang
terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma
mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam
Dhamma mereka, tidak
menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk
materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam
bentuk materi. Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai
memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di
dalam perasaan. Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai
memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di
dalam persepsi. Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri,
atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan
[kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan
[kehendak]. Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai
memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di
dalam kesadaran. Itu
adalah bagaimana seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi
yang muncul saat ini.
14. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu ... Yang telah
melewati satu malam yang baik.” [202]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Lomasakangiya
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi sungguh
telah menyia-nyiakan dan mencampakkan hidupnya bagai “sampah tidak berharga”
dengan menjelma sebagai “KORUPTOR DOSA”—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah”, yang alih-alih tidak melewatkan hari
yang baik untuk berbuat kebaikan maupun untuk bertanggung-jawab kepada korban-korbannya
setelah melakukan kesalahan, justru lebih sibuk ritual doa “PENGHAPUSAN DOSA”
hingga taraf yang melampaui kecanduan adiktif berat—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]