Tawar-Menawar dengan Dosa, Menyerupai Tawar-Menawar dengan Kematian, Sekonyol Badut, “Agama Badut” Bernama Samawi

Mengapa Orang Indonesia Rata-Rata KORUP Meskipun AGAMAIS? Karena DOSA-DOSA PUN MEREKA KORUPSI, KORUPTOR-DOSA!

Agama DOSA yang Menyaru Memakai Merek / Nama “Agama SUCI”, Itulah Kemunafikan yang Paling Munafik

Question : Umat muslim sering mengatakan bahwa “Allah membenci orang munafik”. Memangnya, yang menciptakan orang munafik lengkap dengan sifat munafiknya, siapa jika bukan Tuhan Sang Pencipta itu sendiri? Bukankah itu mirip seperti menampar wajah sendiri telah ia gagal menciptakan produk yang sempurna? Menciptakan produk yang sengaja tidak sempurna, lalu produk ciptaannya berbuat keliru, siapa yang mau dipersalahkan? Kalau memang membencinya, mengapa diciptakan? Tengok sifat dan sikap korup sang “nabi rasul Allah” yang mabuk dan kecanduan berat “penghapusan dosa”, itu apa bukan munafik namanya, menghakimi dan menggurui orang lain namun dirinya sendiri gagal ia didik maupun kendalikan?

Orang-orang muslim menyebutnya sebagai “ikhtiar”, buat dosa lalu disikapi dengan ritual doa “penghapusan dosa” alih-alih introspeksi diri dan mengambil tanggung-jawab atas konsekuensi perbuatan buruknya sendiri. Mana ada orang yang mau bertobat, bila tidak ada konsekuensi buruk terhadap perbuatan buruk mereka? Sinonim dari kata “taubat”, ialah “TIDAK lari dari tanggung-jawab dan siap-berani menghadapi konsekuensi”. Adapun lawan katanya, ialah “penghapusan dosa”. Dosa-dosa pun dikorupsi, koruptor-dosa. Tanpa malu ataupun rasa takut, mereka mengkampanyekan “penghapusan dosa” alih-alih mempromosikan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat ataupun sikap ksatria dengan berani bertanggung-jawab bila masih dapat berbuat keliru, itu “Agama SUCI” ataukah “Agama DOSA”?

Brief Answer : Satu hari terlewatkan dengan menjadi seorang “Koruptor-Dosa”, maka satu hari telah ia sia-siakan dengan tidak menjadi seseorang yang higienis dari kekotoran-batin. Sehingga, sejatinya ia telah kehilangan kesempatan satu hari yang berharga. Satu tahun ia melewatkan kesempatan untuk menjadi orang baik, dengan mencandu dan kecanduan ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, maka satu tahun ia telah menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan menanam kebaikan.

Ironisnya, sepanjang hayatnya, para umat agama samawi telah mem-vonis dirinya sendiri hidup dan mati dengan status sebagai “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA”. Mereka merosot, alih-alih meningkat, bagaikan mengikuti arus air yang secara alamiahnya bergerak ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Orang suci atau kaum ksatria manakah, yang butuh iming-iming KORUP “too good to be true” demikian? Mereka, adalah kasta paling rendah, hina, kotor, korup, tercela, busuk, serta dangkal, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang merasa berhak menghakimi kaum lainnya, yakni “Kasta PENDOSAWAN”.

Terhadap dosa dan maksiat, mereka demikian kompromistik. Akan tetapi terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran. Mereka adalah para pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, baik perbuatan besar maupun perbuatan-perbuatan kecil. Mereka menyia-nyiakan kesempatan sepanjang hayat hidupnya, dengan mabuk serta kecanduan-berat delusi “PENGHAPUSAN DOSA” dan melarat bersama dengan delusinya tersebut yang kian berkuasa mencengkeram atas dirinya.

PEMBAHASAN:

Tidak ada tawar-menawar dengan kematian, karenanya jangan sia-siakan waktu yang ada dan berharga ini untuk kesia-siaan. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~ SUTTA 134 ~

Lomasakangiyabhaddekaratta Sutta: Lomasakangiya dan Satu Malam Yang Baik

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Lomasakangiya sedang menetap di negeri Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.

[Kitab Komentar : Menurut Komentar Theragāthā, Yang Mulia Lomasakangiya telah menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kassapa. Setelah Buddha Kassapa membabarkan Bhaddekaratta Sutta, seorang bhikkhu tertentu menyampaikannya kepada Lomasakangiya. Karena tidak mampu memahaminya, ia berseru: “Di masa depan, semoga aku mampu mengajarkan sutta ini kepadamu!” Yang lain menjawab: “Semoga aku dapat menanyakannya kepadamu!” Pada masa sekarang Lomasakangiya terlahir di sebuah keluarga Sakya di Kapilavatthu, sedangkan bhikkhu lainnya itu menjadi Dewa Candana.]

2. Kemudian, pada larut malam, Candana, dewa muda berpenampilan indah yang menerangi seluruh Taman Nigrodha, mendekati Yang Mulia Lomasakangiya. Sambil berdiri di satu sisi, Candana si dewa muda berkata kepadanya:

“Bhikkhu, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang yang telah melewatkan satu malam yang baik’?” [200]

“Teman, aku tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Bhikkhu, aku juga tidak ingat ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Bhikkhu, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Teman, aku tidak ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Tetapi, Teman, apakah engkau ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’?”

“Bhikkhu, aku ingat syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”

“Tetapi, Teman, bagaimanakah syair dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik yang engkau ingat’?”

“Bhikkhu, suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di antara para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, di atas batu pualam merah di bawah pohon Pāricchattaka. Di sana Sang Bhagavā membabarkan ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik kepada para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga:

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini terjadi pada tahun ke tujuh setelah Pencerahan Sang Buddha, pada saat Beliau melewatkan tiga bulan masa vassa di alam surga Tiga Puluh Tiga mengajarkan Abhidhamma kepada para dewa dari sepuluh ribu sistem dunia yang berkumpul di sana.]

3. ‘Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu

Atau membangun harapan di masa depan;

Karena masa lalu telah ditinggalkan

Dan masa depan belum dicapai.

Melainkan lihatlah dengan pandangan terang

Tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini;

Ketahuilah hal itu dan yakinlah pada hal itu,

Dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan.

Hari ini usaha harus dilakukan;

Besok mungkin kematian datang, siapa yang tahu?

Tidak ada tawar-menawar dengan Kematian

Yang dapat menjauhkannya dan gerombolannya,

Tetapi seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,

Tanpa mengendur, siang dan malam –

Adalah ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,

Yang telah melewati satu malam yang baik.’

4. “Bhikkhu, aku ingat syair ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ seperti demikian. Bhikkhu, pelajarilah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, kuasailah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, hafalkanlah ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’ Bhikkhu, ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik’ adalah bermanfaat, dan merupakan dasar-dasar kehidupan suci.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Candima si dewa muda, yang setelah itu lenyap seketika.

5. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Lomasakangiya merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, melakukan perjalanan menuju Sāvatthī. Ia [201] akhirnya sampai di Sāvatthī, dan menghadap Sang Bhagavā di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi, memberitahukan kepada Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi, dan berkata: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku ringkasan dan penjelasan dari ‘Seorang Yang Telah Melewati Satu Malam Yang Baik.’”

6. “Bhikkhu, apakah engkau mengenal dewa muda itu?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Bhikkhu, dewa muda itu bernama Candana. Ia menekuni Dhamma, memperhatikan, menyimaknya dengan seluruh pikirannya, mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Maka, Bhikkhu, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Lomasakangiya menjawab Sang Bhagavā. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

7. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu

Atau membangun harapan di masa depan;

[Kitab Komentar : Secara lebih literal kedua baris pertama dapat diterjemahkan: “Janganlah seseorang kembali ke masa lampau atau hidup dalam pengharapan di masa depan.” Makna ini akan lebih jelas dalam paragraf penjelasan di dalam sutta ini.]

Karena masa lalu telah ditinggalkan

Dan masa depan belum dicapai.

Melainkan lihatlah dengan pandangan terang

Tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini;

[Kitab Komentar : Ia harus merenungkan tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini, tepat di mana munculnya, melalui tujuh perenungan pandangan terang (pandangan terang ke dalam ketidak-kekalan, penderitaan, tanpa-diri, kekecewaan, kebosanan, lenyapnya, lepasnya.)]

Ketahuilah hal itu dan yakinlah pada hal itu,

Dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan.

[Kitab Komentar : Asahīra asankuppa, “dengan tak terkalahkan, tak tergoyahkan”. Kitab Komentar menjelaskan bahwa sutta ini dikatakan bertujuan untuk menunjukkan pandangan terang dan lawan pandangan terang dimana dalam sutta terpisah Sang Buddha menyatakan “Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.”; karena pandangan terang adalah “tak terkalahkan, tak tergoyahkan” karena tidak terkalahkan atau tergoyahkan oleh nafsu dan kekotoran lainnya.

Di tempat lain ungkapan “tak terkalahkan, tak tergoyahkan” digunakan untuk menggambarkan Nibbāna (yaitu, Sn v.1149) atau menggambarkan pikiran yang terbebaskan (misalnya, Theragāthā v.649), tetapi di sini tempaknya merujuk pada tingkatan dalam pengembangan pandangan terang. Kemunculan kembali bentuk kata kerja sahirati pada paragraf nomor ke-12 dan ke-13 menyiratkan bahwa makna yang dimaksudkan adalah perenungan saat ini tanpa tersesat ke dalam pandangan diri.]

Hari ini usaha harus dilakukan;

Besok mungkin kematian datang, siapa yang tahu?

Tidak ada tawar-menawar dengan Kematian

Yang dapat menjauhkannya dan gerombolannya,

Tetapi seseorang yang berdiam demikian dengan tekun,

Tanpa mengendur, siang dan malam –

Adalah ia, yang dikatakan oleh Sang Bijaksana damai,

[Kitab Komentar : Sang “Bijaksana Damai” (santo muni) adalah Sang Buddha.]

Yang telah melewati satu malam yang baik.

8. “Bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang menghidupkan kembali masa lalu? Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang menghidupkan kembali masa lalu.

[Kitab Komentar : Seseorang “menemukan kesenangan” dengan membawa ketagihan atau pandangan yang berhubungan dengan ketagihan di masa lalu. Harus dipahami bahwa ini bukanlah sekadar perenungan masa lalu melalui ingatan yang menyebabkan belenggu, tetapi menghidupkan kembali pengalaman masa lalu dengan pikiran-pikiran ketagihan. Sehubungan dengan hal ini ajaran Sang Buddha sangat jauh berbeda dengan ajaran Krishnamurti, yang tampaknya menganggap bahwa ingatan itu sendiri sebagai penjahat di belakang layar.]

9. “Dan bagaimanakah, Para bhikkhu, seseorang tidak menghidupkan kembali masa lalu? Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki perasaan demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki persepsi demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa lalu.’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki kesadaran demikian di masa lalu.’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak menghidupkan kembali masa lalu.

[Kitab Komentar : Sintaksis dari Bahasa Pāli memperbolehkan kalimat “Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Aku memiliki bentuk materi demikian di masa lalu.’” diinterpretasikan dalam dua cara, sebagai menyebutkan bahwa seseorang berpikir, “Aku memiliki bentuk demikian di masa lalu,” namun tidak menemukan kesenangan dalam pikiran itu; atau bahwa seseorang tidak menemukan kesenangan di masa lalu dengan memikirkan pikiran demikian. Horner, Ñāananda (dalam Ideal Solitude), dan Bhikkhu Ñāamoli menafsirkan kalimat ini dalam cara pertama; Bhikkhu Bodhi mempertahankan terjemahan Bhikkhu Ñāamoli dalam edisi pertama. Setelah mempertimbangkan, sekarang Bhikkhu Bodhi percaya bahwa interpretasi ke dua adalah lebih tepat menyampaikan makna teks tersebut. Ini juga berkaitan, secara lebih baik, dengan syair itu sendiri, yang menginstruksikan agar siswa tidak berdiam di masa lalu dan di masa depan melainkan merenungkan “tiap-tiap kondisi yang muncul saat ini” seperti yang disampaikan oleh syair itu sendiri.]

10. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang membangun harapan di masa depan? Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang membangun harapan di masa depan.

[Kitab Komentar : Dalam edisi pertama, kalimat “Seseorang memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’” diterjemahkan: “Dengan berpikir, ‘Aku akan memiliki bentuk materi demikian di masa depan,’ seseorang menemukan kesenangan di dalam itu.” Setelah merenungkan kembali, sekarang bagi Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah dari Bahasa Pāli tampaknya bahwa kalimat itu mengungkapkan seruan harapan di masa depan.]

11. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak membangun harapan di masa depan? Seseorang tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentuk materi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki perasaan demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki persepsi demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki bentukan-bentukan [kehendak] demikian di masa depan!’ Ia tidak memelihara kesenangan di sana dengan berpikir: ‘Semoga aku memiliki kesadaran demikian di masa depan!’ Itu adalah bagaimana seseorang tidak membangun harapan di masa depan.

12. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.

[Kitab Komentar : Kata kerja mulai dari kalimat “terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini” dan dalam paragraf berikutnya, sahirati, merujuk kembali pada baris dalam syair, “tak terkalahkan, tak tergoyahkan.” Kitab Komentar mengemas: “Seseorang diseret oleh ketagihan dan pandangan karena ketiadaan pandangan terang.”]

13. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, tidak menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri, atau diri sebagai memiliki perasaan, atau perasaan sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam perasaan. Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki persepsi, atau persepsi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam persepsi. Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentukan-bentukan [kehendak], atau bentukan-bentukan [kehendak] sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentukan-bentukan [kehendak]. Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Itu adalah bagaimana seseorang tidak terkalahkan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang muncul saat ini.

14. “Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu ... Yang telah melewati satu malam yang baik.” [202]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Lomasakangiya merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi sungguh telah menyia-nyiakan dan mencampakkan hidupnya bagai “sampah tidak berharga” dengan menjelma sebagai “KORUPTOR DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah”, yang alih-alih tidak melewatkan hari yang baik untuk berbuat kebaikan maupun untuk bertanggung-jawab kepada korban-korbannya setelah melakukan kesalahan, justru lebih sibuk ritual doa “PENGHAPUSAN DOSA” hingga taraf yang melampaui kecanduan adiktif berat—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]