Ritual “Pengampunan Dosa”, Melekat pada Kekotoran Batin dan Memeliharanya, Produktif Melakukan “Dosa-dosa untuk Dihapuskan”
Question: Umat muslim setiap harinya kecanduan ritual “pengampunan dosa”. Setiap tahunnya, mereka mabuk pesta-pora ritual “konsumsi meningkat namun dosa-dosa setahun dihapuskan”. Ketika matinya pun, doa sanak-keluarga sang almarhum pendosawan ialah “semoga dosa-dosa almarhum diampuni oleh Allah”. Mengapa tidak pernah sekalipun, mereka memikirkan kepentingan korban dan mendoakan kalangan korban-korban mereka, ataupun lebih sibuk untuk mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri yang telah pernah atau masih sedang menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya?
Brief
Answer: Jika kita tidak
mengucapkan kebohongan, tidak bekerja dengan mencelakai makhluk-makhluk
hidup, juga tidak mengambil apa yang tidak diberikan, mengapa kita perlu ritual
“pengampunan dosa”? Dan jika kita tidak
mengucapkan kebohongan, juga tidak bekerja dengan mencelakai makhluk-makhluk
hidup, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, mengapa engkau perlu menghadapkan
ataupun memohon “pengampunan dosa”? Si dungu boleh saja selamanya melakukan
ritual “pengampunan dosa”, namun tidak akan menyucikan perbuatan gelap mereka. Apakah
yang dapat dibersihkan oleh “ritual”? doa-doa memohon “pengampunan dosa” tidak
dapat memurnikan pelaku-kejahatan, sseeorang yang telah melakukan
perbuatan-perbuatan kejam dan kasar.
PEMBAHASAN:
Setiap
hari, selama puluhan tahun, bahkan hingga seumur hidupnya mencandu “ritual
pengampunan dosa” sekalipun, tetap saja para umat agama samawi adalah kasta
paling hina dan paling rendah, yakni “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun
mereka korupsi, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
7
Vatthūpama Sutta:
Perumpamaan
Kain
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, misalkan sehelai kain yang kotor dan bernoda, dan
seorang pencelup mencelupnya ke dalam pewarna, apakah biru atau kuning atau
merah atau merah muda; kain itu akan terlihat dicelup dengan tidak baik dan
warnanya tidak murni. Mengapakah? Karena
ketidak-murnian kain tersebut. Demikian pula, ketika pikiran kotor, maka alam tujuan yang tidak
bahagialah yang dapat diharapkan. Para bhikkhu, misalkan sehelai kain yang
bersih dan cemerlang, dan seorang pencelup mencelupnya ke dalam pewarna, apakah
biru atau kuning atau merah atau merah muda; kain itu akan terlihat dicelup
dengan baik dan warnanya murni. Mengapakah? Karena
kemurnian kain tersebut. Demikian pula, ketika pikiran bersih, maka alam tujuan yang
bahagialah yang dapat diharapkan.
[Kitab Komentar : Alam tujuan kelahiran yang buruk (duggati)
adalah kelahiran kembali di tiga alam sengsara - neraka, alam binatang, dan
alam hantu. Alam tujuan kelahiran yang bahagia (sugati), yang disebutkan
persis di bawahnya, adalah kelahiran kembali di antara manusia, dan di
alam-alam surga.]
3. “Apakah, para bhikkhu, ketidak-sempurnaan
yang mengotori pikiran? Ketamakan dan keserakahan yang tidak benar adalah ketidak-sempurnaan
yang mengotori pikiran. Permusuhan … kemarahan … kekesalan … sikap meremehkan …
kecongkakan … iri hati … kekikiran … kecurangan …penipuan … sifat keras kepala
… persaingan … keangkuhan … kesombongan … kepongahan … [37] … kelalaian adalah
ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran.
[Kitab Komentar : Cittassa upakkilesā, ketidak-sempurnaan
yang mengotori pikiran. Kata upakkilesā kadang-kadang digunakan dalam
makna tanpa noda atau ketidak-sempurnaan konsentrasi meditatif, seperti pada
Majjhima Nikāya 128:27, 30; kadang-kadang dalam makna noda atau
ketidak-sempurnaan pandangan terang, seperti pada Vsm XX, 105; dan
kadang-kadang menyiratkan kekotoran minor yang muncul dari ketiga akar tidak
bermanfaat – keserakahan, kebencian, dan delusi – apakah sebagai modusnya
atau cabangnya. Di sini digunakan dalam makna ke tiga, tetapi mempertahankan
hubungan dengan kedua penggunaan pertama, diterjemahkan oleh frasa
“ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran.”
Kitab Komentar memberikan beberapa perbedaan
sementara antara ketamakan (abhijjhā) dan perbuatan tidak baik (visamalobha),
tetapi kemudian karena, dari sudut pandang latihan yang lebih tinggi, semua
keserakahan adalah tidak baik, maka kedua kata ini dapat dipahami sebagai hanya
perbedaan sebutan untuk faktor batin yang sama, keserakahan atau nafsu.
Di sini penerjemah menuliskan penjelasan MA atas
beberapa kekotoran batin lainnya: Kekesalan (upanāha) terbentuk setelah
kemarahan berulang-ulang menyelimuti pikiran. Meremehkan (makkha) adalah
penurunan manfaat atas seseorang oleh orang lain. Kecongkakan (paḷāsa) adalah dugaan (yugaggāha)
yang muncul ketika seseorang menempatkan dirinya setara dengan orang lain yang
memiliki kualitas lebih. Kecemburuan (issā) adalah kekesalan terhadap
penghormatan, dan lain-lain yang diterima orang lain.; kekikiran (macchariya)
adalah keengganan untuk membagi miliknya dengan orang lain. Sifat keras kepala
(thambha) adalah ketidak-lenturan, kekakuan, kesukaran, bagaikan pipa
pengembus yang penuh dengan angin. Persaingan (sārambha) adalah usaha
untuk mengalahkan orang lain, terdorong untuk melampaui pencapaian orang lain.]
4. “Mengetahui bahwa ketamakan dan keserakahan yang tidak baik adalah
ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran, maka seorang bhikkhu meninggalkannya. Mengetahui bahwa permusuhan … kelalaian adalah
ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran, maka seorang bhikkhu meninggalkannya.
[Kitab Komentar : “Meninggalkan” yang dibicarakan di
atas, harus dipahami sebagai “meninggalkan melalui pemberantasan” (samucchedappahāna),
yaitu, mencabut secara total melalui jalan lokuttara. Enam belas
kekotoran ditinggalkan oleh jalan mulia dalam urutan sebagai berikut:
1. Jalan memasuki-arus meninggalkan: meremehkan,
kepongahan, kecemburuan, kekikiran, penipuan, kecurangan
2. Jalan yang-tidak-kembali meninggalkan:
permusuhan, kemarahan, kekesalan, kelalaian.
3. Jalan Kearahantaan meninggalkan: ketamakan dan
keserakahan yang tidak baik, kekeras-kepalaan, persaingan, keangkuhan,
kesombongan, kebanggaan.
Kitab Komentar berpendapat, dengan referensi pada
sumber penafsiran kuno, bahwa paragraf ini menjelaskan jalan
yang-tidak-kembali. Oleh karena itu kita harus memahami bahwa
kekotoran-kekotoran yang harus ditinggalkan sepenuhnya melalui jalan
Kearahantaan pada titik ini hanya ditinggalkan sebagian, melalui manifestasinya
yang lebih kasar.]
5. “Ketika seorang bhikkhu telah mengetahui bahwa ketamakan dan
keserakahan yang tidak baik adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran
dan telah meninggalkannya; Ketika seorang bhikkhu telah mengetahui bahwa
permusuhan … kelalaian adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori pikiran dan
telah meninggalkannya, ia memperoleh keyakinan sempurna dalam Sang Buddha
sebagai berikut: ‘Sang Buddha adalah sempurna, telah mencapai penerangan
sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, maha mulia, pengenal
seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus
dijinakkan, guru para dewa dan manusia, yang tercerahkan, yang suci.’
[Kitab Komentar : Keyakinan yang tidak tergoyahkan (aveccappasāda)
pada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha adalah atribut seorang siswa mulia pada
minimal seorang “pemasuk-arus”, yang keyakinannya sempurna karena ia telah
melihat kebenaran Dhamma itu oleh dirinya sendiri. Formula perenungan Sang
Buddha, Dhamma, dan Sangha dijelaskan secara lengkap dalam Vsm VII.]
6. “Ia memperoleh keyakinan dalam Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah
dinyatakan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini,
efektif segera, mengundang untuk diselidiki, mengarah pada tujuan, untuk
dialami oleh para bijaksana untuk diri mereka sendiri.’
7. “Ia memperoleh keyakinan dalam Sangha sebagai berikut: ‘Sangha para
siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang
lurus, mempraktikkan jalan sejati, mempraktikkan jalan yang benar, yaitu, empat
pasang makhluk, delapan jenis individu; Sangha para siswa Sang Bhagavā ini
layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan,
layak menerima penghormatan, ladang jasa yang tiada bandingnya di dunia.’
8. “Ketika ia telah menghentikan, mengusir, membuang, meninggalkan, dan
melepaskan [ketidak-sempurnaan pikiran] secara sebagian,90 ia mempertimbangkan:
‘Aku memiliki keyakinan tak-tergoyahkan pada Sang Buddha,’ dan ia memperoleh
inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh
kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira, sukacita muncul
dalam dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang;
seorang yang jasmaninya tenang akan merasakan kenikmatan; dalam diri seorang
yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.92
[Kitab Komentar : Meninggalkan sebagian kekotoran
melalui tiga jalan pertama, berlawanan dengan total (anodhi) kekotoran
yang harus ditinggalkan oleh jalan ke empat atau terakhir. Penerjmah lain
menerjemahkan: “Dan apapun [dari ketidak-sempurnaan itu] yang telah,
menurut batasan [yang ditetapkan tiga jalan pertama yang manapun yang telah ia
capai], dihentikan, dijatuhkan [selamanya], dibiarkan berlalu, ditinggalkan,
dilepaskan.”
Labhati atthavedaṁ labhati dhammavedaṁ, memperoleh
inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma. YM. Nyanaponika
menerjemahkan: “Ia memperoleh antusiasme pada tujuan, ia memperoleh antusiasme
pada Dhamma.” Veda dijelaskan sebagai bermakna kegembiraan dan
pengetahuan yang berhubungan dengan kegembiraan itu, dan mengatakan: “Atthaveda
adalah inspirasi yang muncul dalam diri seseorang yang merenungkan
ditinggalkannya kekotoran secara sebagian, penyebab keyakinan yang tidak
tergoyahkan.”
92. Padanan dalam Pali, dalam bentuk kata benda,
atas kata dalam rangkaian ini adalah: pāmojja, kegembiraan; piti,
sukacita; passaddhi, ketenangan; samādhi, konsentrasi.
Ketenangan, dengan melenyapkan gangguan-gangguan batin dan jasmani yang halus
yang berhubungan dengan kegembiraan dan sukacita, membawa kenikmatan tenang dan
mempersiapkan pikiran untuk konsentrasi yang semakin mendalam.]
9. “Ia mempertimbangkan: ‘Aku memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam
Dhamma,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam
Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia
gembira … pikirannya menjadi terkonsentrasi. [38]
10. “Ia mempertimbangkan: ‘Aku memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam
Sangha,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam
Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia
gembira … pikirannya menjadi terkonsentrasi.
11. “Ia mempertimbangkan: ‘[Ketidak-sempurnaan pikiran] telah sebagian
dihentikan, diusir, dibuang, ditinggalkan dan dilepaskan olehku,’ dan ia
memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh
kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira, sukacita muncul
dalam dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya menjadi tenang;
seorang yang jasmaninya tenang akan merasakan kenikmatan; dalam diri seorang
yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
12. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang memiliki moralitas demikian,
keadaan [konsentrasi] demikian, dan kebijaksanaan demikian memakan makanan yang
terdiri dari nasi pilihan bersama dengan berbagai saus dan kari, bahkan hal itu
tidak akan menjadi rintangan baginya. Bagaikan sehelai kain yang kotor dan
ternoda menjadi bersih dan cemerlang dengan bantuan air bersih, atau bagaikan
emas yang menjadi murni dan cemerlang dengan bantuan tungku pembakaran,
demikian pula, jika seorang bhikkhu yang memiliki moralitas demikian … memakan
makanan … hal itu tidak akan menjadi rintangan baginya.
[Kitab Komentar : “Memiliki moralitas demikian,
keadaan [konsentrasi] demikian, dan kebijaksanaan demikian”, data dalam Pali
adalah: evaṁsīlo evaṁdhammo evaṁpañño. Kata yang di tengah, dalam konteks ini, jelas merujuk pada tahap ke dua
dari tiga latihan, yaitu, konsentrasi, walupun cukup mengherankan mengapa kata samādhi
tidak digunakan. Komentar Majjhima Nikāya 123.2 mengemas sebuah ungkapan
paralel dengan samādhi-pakkha-dhammā, “kondisi-kondisi yang diperlukan
oleh konsentrasi.”
Pernyataan “hal itu tidak akan menjadi rintangan
baginya”, ini menggaris-bawahi pencapaian tingkat “yang-tidak-kembali”.
Karena yang-tidak-kembali telah melenyapkan keinginan indria, maka makanan
lezat tidak dapat merintanginya dalam perjalanannya menuju jalan dan buah
terakhir.]
13. “Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran cinta kasih,95
demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke
empat; demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan
kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan
melingkupi seluruh dunia dengan pikiran cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa
batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
[Kitab Komentar : Paragraf 13-16 menyajikan
formula-formula sutta standard mengenai empat “kediaman Brahma” (brahmavihāra).
Secara singkat, cinta kasih (mettā) adalah keinginan akan kesejahteraan
dan kebahagiaan makhluk-makhluk lain; belas kasih (karuṇā), empati kepada mereka
yang menderita; kegembiraan altruistik (muditā), bergembira atas
kebajikan dan keberhasilan mereka; dan keseimbangan (upekkha), sikap
tidak-membeda-bedakan yang bebas terhadap makhluk-makhluk (bukan
ketidak-pedulian atau ketidak-acuhan).]
14-16. “Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran belas kasih
… dengan pikiran kegembiraan altruistik … dengan pikiran seimbang, demikian
pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat;
demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan
kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan
melingkupi seluruh dunia dengan pikiran seimbang, berlimpah, luhur, tanpa
batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
17. “Ia memahami bahwa: ‘Ada ini, ada yang rendah, ada yang mulia, dan
di luar ini ada jalan membebaskan diri dari keseluruhan bidang persepsi ini.’
[Kitab Komentar : Bagian di atas menunjukkan praktik “meditasi pandangan terang” dari
“yang-tidak-kembali” yang ditujukan pada Kearahantaan dan bagian berikutnya
menunjukkan pencapaian Kearahantaannya. Frasa “Ada ini” menyiratkan kebenaran
penderitaan; “ada yang rendah,” asal-mula penderitaan; “ada yang mulia,”
kebenaran sang jalan; dan “ada jalan membebaskan diri dari keseluruhan bidang
persepsi ini” adalah Nibbāna, lenyapnya penderitaan.]
18. “Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan
dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan.
Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ [39] Para bhikkhu, bhikkhu ini disebut seorang
yang mandi dengan basuhan internal.”
[Kitab Komentar : Sang Buddha menggunakan frasa ini
untuk membangkitkan perhatian Brahmana Sundarika Bhāradvāja, yang berada dalam
kumpulan itu dan mempercayai pemurnian melalui ritual mandi. Sang Buddha
meramalkan bahwa brahmana itu akan terinspirasi dan menerima penahbisan di
bawah Beliau dan akan mencapai Kearahantaan.]
19. Pada saat itu Brahmana Sundarika Bhāradvāja sedang duduk tidak jauh
dari Sang Bhagavā. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Tetapi apakah Guru
Gotama pergi ke sungai Bāhukā untuk mandi?”
“Mengapa, brahmana, pergi ke sungai Bāhukā? Apa yang dapat dilakukan oleh
sungai Bāhukā?”
“Guru Gotama, sungai Bāhukā dianggap oleh banyak orang dapat memberikan
kebebasan, sungai itu dianggap oleh banyak orang dapat memberikan kebaikan, dan
banyak orang yang mencuci perbuatan jahat mereka di sungai Bāhukā.”
20. Kemudian Sang Bhagavā menjawab Brahmana Sundarika Bhāradvāja dalam
syair:
“Bāhukā dan Adhikakkā,
Gayā dan Sundarikā juga,
Payāga dan Sarassatī,
Dan arus Bahumatī,
[Kitab Komentar : Itu adalah sungai-sungai dan penyeberangan yang
dipercaya dapat memurnikan.]
Si
dungu boleh saja mandi selamanya di sana
Namun
tidak akan menyucikan perbuatan gelap mereka.
Apakah yang dapat dibersihkan oleh Sundarikā?
Dan Payāga? Dan Bāhukā?
Sungai-sungai
itu tidak dapat memurnikan pelaku-kejahatan
Seorang
yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan kasar.
Seseorang
yang murni dalam pikiran selamanya memiliki
Pesta
musim semi, Hari Suci,
[Kitab Komentar : Kata Pali adalah phaggu, satu hari untuk
pemurnian brahmana di bulan Phagguna (Februari-Maret), dan uposatha,
hari pelaksanaan religius yang diatur dalam penanggalan lunar. Bahuvedanīya
Sutta: Banyak Jenis Perasaan. Setelah memecahkan ketidak-sepakatan tentang
pembagian perasaan, Sang Buddha menguraikan jenis-jenis kenikmatan dan
kegembiraan yang berbeda yang dapat dialami oleh makhluk-makhluk.]
Seorang
yang baik dalam tindakan, seorang yang murni dalam pikiran
Mengarahkan
moralitasnya menuju kesempurnaan.
Adalah di sini, brahmana, engkau harus mandi,
Untuk menjadikan dirimu, sebuah perlindungan bagi semua makhluk.
Dan
jika engkau tidak mengucapkan kebohongan
Juga
tidak bekerja dengan mencelakai makhluk-makhluk hidup,
Juga
tidak mengambil apa yang tidak diberikan,
Dengan
keyakinan dan bebas dari kekikiran,
Mengapa
engkau perlu pergi ke Gayā?
Karena
sumur apapun akan menjadi Gayā bagimu.”
21. Ketika ini dikatakan, brahmana Sundarika Bhāradvāja berkata:
“Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan
pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian
di bawah Guru Gotama, aku memohon penahbisan penuh.”
[Kitab Komentar : Pelepasan keduniawian (pabbajja)
adalah penahbisan resmi untuk menjalani kehidupan tanpa rumah sebagai sāmaṇera;
penahbisan penuh (upasampadā) memberikan status bhikkhu, anggota penuh
dari Sangha.]
22. Dan Brahmana Sundarika Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di
bawah Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh. [40] Dan segera, tidak
lama setelah ia menerima penahbisan penuh, dengan berdiam sendirian,
mengasingkan diri, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang Mulia Bhāradvāja,
dengan menembus bagi dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini
dan saat ini memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci
yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi
penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Bhāradvāja menjadi satu di antara
para Arahant.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]