Nabi Rasul Allah Mabuk dan Kecanduan PENGAMPUNAN DOSA-DOSA, namun para Muslim Menyebut sang Nabi sebagai Manusia Paling Sempurna
Question: Itu para muslim yang setiap harinya kecanduan “pengampunan dosa”, motivasinya apa saat setiap harinya mereka ritual doa untuk memohon “pengampunan dosa”, apakah dilandasi oleh niat baik ataukah niat buruk?
Brief
Answer: Bila niatnya ialah “niat
baik”, maka para pendosa tersebut tidak perlu ritual ataupun pengharapan
“korup” semacam doa-doa permohonan “pengampunan dosa”, namun lebih sibuk
menggunakan sumber daya waktu yang terbatas sifatnya untuk sesuatu yang lebih
produktif, lebih konkret, dan lebih realistik bernama “BERTANGGUNG-JAWAB”
kepada para korban mereka yang telah pernah ataupun masih sedang mereka sakiti,
lukai, maupun rugikan. Bagaimana mungkin juga, menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana
dosa-dosa pun turut dikorupsi, disebut “niat baik”?
Para
“PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA” tersebut, telah salah alamat meminta
pemaafan, ke pihak korban, bukan kepada Allah yang tidak punya hak untuk
merampas hak korban atas keadilan maupun untuk fetakompli aspirasi korban untuk
meminta pertanggung-jawaban dari sang pelaku. Karena mereka merasa tidak butuh
pemaafan korban, maka tidak heran mereka kerap “lebih galak pelaku daripada
korbannya yang menegur”.
Mereka,
akibat dungu, bahkan tidak mampu memahami bahwa lawan kata dari “pengampunan /
penghapusan / penebusan dosa” ialah “SIAP BERANI BERTANGGUNG-JAWAB”, sehingga
para korbannya tidak perlu terpaksa mengemis-ngemis pertanggung-jawaban apapun
dari sang pelaku. Bagaimana mungkin pula, para pendosa tersebut berdelusi
dosa-dosa dihapuskan sementara luka-luka para korbannya belum juga mengering,
dan trauma para korbannya belum kunjung sirna? Itulah yang disebut, “too
good to be true”—dimana hanya orang bijaksana, bukan orang dungu, yang
memahami bahwa “truth always bitter”.
PEMBAHASAN:
“Sesempurna”
apakah (ataukah itu hanya “delusi”), nabi rasul Allah junjungan para muslim, dapat
kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya),
Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of
the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
47
Vīmaṁsaka Sutta: Penyelidik
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang penyelidik, yang tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang
lain, seharusnya menyelidiki Sang Tathāgata untuk mengetahui apakah Beliau
tercerahkan sempurna atau tidak.”
[Kitab Komentar : Bhikkhu yang tidak mengetahui
pikiran Sang Buddha melalui pengenalan langsung bahwa Beliau tercerahkan
sempurna harus sampai pada kesimpulan ini melalui kesimpulan yang ditarik dari
perilaku jasmani dan ucapan dan bukti-bukti lainnya yang dijelaskan oleh sutta.]
3. “Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavā, dituntun oleh
Sang Bhagavā, diputuskan oleh Sang Bhagavā. Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi
menjelaskan makna dari kata-kata ini. Setelah mendengarkan dari Sang Bhagavā,
para bhikkhu akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikanlah pada [318] apa yang
akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
4. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang penyelidik, yang
tidak mengetahui bagaimana mengukur pikiran orang lain, seharusnya menyelidiki
Sang Tathāgata sehubungan dengan dua kondisi, kondisi
yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga sebagai berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat
pada Sang Tathāgata, kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui
mata atau melalui telinga?’ Ketika
ia menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui
mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’
[Kitab Komentar : Perbuatan-perbuatan jasmani adalah
“kondisi-kondisi yang dikenali melalui mata.” Kata-kata adalah “kondisi-kondisi
yang dikenali melalui telinga.” Seperti halnya seseorang menyimpulkan adanya
ikan dari riakan dan gelembung air, demikian pula dari perbuatan atau ucapan
kotor seseorang menyimpulkan bahwa pikiran yang menjadi sumbernya juga kotor.]
5. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai
berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi campuran
apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Ketika ia
menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Tidak ada kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata
atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’
[Kitab Komentar : “Kondis-kondisi campuran” (vitimissā
dhammā) merujuk pada perilaku seseorang yang menjalani pemurnian perilaku
tetapi tidak mampu mempertahankannya secara konsisten. Kadang-kadang
perilakunya murni atau cerah, kadang-kadang tidak murni atau gelap.]
6. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai
berikut: ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi bersih
apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’ Ketika ia
menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Kondisi bersih yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga
terdapat pada Sang Tathāgata.’
7. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai
berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah mencapai kondisi bermanfaat ini sejak
waktu yang lama atau apakah ia baru saja mencapainya?’ Ketika ia
menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah mencapai kondisi bermanfaat ini sejak waktu yang
lama; Beliau bukan baru saja mencapainya.’
8. “Ketika ia mengetahui hal ini, ia menyelidiki
Beliau lebih lanjut sebagai
berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan mencapai
kemasyhuran, sehingga bahaya [yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran]
terdapat padanya?’ Karena, para bhikkhu, selama seorang bhikkhu belum memiliki
reputasi dan belum mencapai kemasyhuran, maka bahaya [yang berhubungan dengan
reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya; tetapi ketika ia telah
memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, maka bahaya-bahaya itu terdapat padanya.
Ketika ia
menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini telah memiliki reputasi dan mencapai kemasyhuran, tetapi bahaya
[yang berhubungan dengan reputasi dan kemasyhuran] tidak terdapat padanya.’
[Kitab Komentar : Bahayanya adalah keangkuhan,
kesombongan, dan sebagainya. Bagi beberapa bhikkhu, selama mereka belum menjadi
terkenal dan belum memiliki pengikut, maka bahaya ini tidak ada, dan mereka
sangat tenang dan hening; tetapi ketika mereka telah menjadi terkenal dan telah
memiliki pengikut, mereka bepergian dengan berperilaku tidak selayaknya,
menyerang para bhikkhu lain bagaikan seekor macan menerkam sekumpulan rusa.]
9. “Ketika ia mengetahui hal ini, [319] ia menyelidiki Beliau
lebih lanjut sebagai
berikut: ‘Apakah Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali
oleh ketakutan, dan apakah ia menghindari menikmati kenikmatan indria karena
Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu?’ Ketika ia
menyelidikinya, ia mengetahui: ‘Yang Mulia ini terkendali tanpa ketakutan, bukan terkendali oleh
ketakutan, dan ia menghindari perbuatan menikmati kenikmatan indria karena
Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.’
10 “Sekarang, para bhikkhu, jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu
sebagai berikut: ‘Apakah
alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga mengatakan: “Yang Mulia itu terkendali tanpa ketakutan, bukan
terkendali oleh ketakutan, dan ia menghindari perbuatan menikmati kenikmatan
indria karena Beliau adalah tanpa nafsu melalui hancurnya nafsu.”?’ – jika menjawab
dengan benar, bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Apakah Yang Mulia itu
bersama dengan Sangha atau sendirian, sementara terdapat beberapa orang yang
berperilaku baik dan beberapa orang berperilaku buruk dan beberapa orang mengajarkan
kepada suatu kelompok, sementara beberapa orang di sini mementingkan
benda-benda materi dan beberapa orang tidak ternoda oleh benda-benda materi,
namun Yang Mulia itu tidak merendahkan siapapun karena hal tersebut. Dan aku telah
mendengar dan mengetahui hal ini dari mulut Sang Bhagavā: ‘Aku terkendali tanpa
ketakutan, bukan terkendali oleh ketakutan, dan Aku menghindari perbuatan
menikmati kenikmatan indria karena Aku adalah tanpa nafsu melalui hancurnya
nafsu.’”
[Kitab Komentar : Paragraf ini menunjukkan sifat
Sang Buddha yang tidak-membeda-bedakan (tādibhāva) terhadap
makhluk-makhluk: Beliau tidak memuji seseorang dan menghina orang lain.]
11. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, harus
ditanya lebih jauh mengenai
hal ini sebagai berikut: ‘Apakah terdapat atau tidak terdapat pada Sang
Tathāgata kondisi apapun yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau
melalui telinga?’ Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi apapun
yang mengotori yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga terdapat
pada Sang Tathāgata.’
12. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata
kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’
Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi campuran apapun yang dapat
dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’
13. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata
kondisi bersih apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’
Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Kondisi bersih yang dapat dikenali melalui mata
atau melalui telinga terdapat pada Sang Tathāgata. Itu adalah jalanKu dan
wilayahKu, namun Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai itu.’
[Kitab Komentar : No ca tena tammayo. Penerjemah
lain mengemasnya sebagai : “Aku tidak mengidentifikasikan diri sebagai
moralitas murni tersebut, Aku adalah tanpa ketagihan terhadap itu.”]
14. “Para bhikkhu, seorang siswa seharusnya mendatangi Sang Guru yang
mengajarkan demikian untuk mendengarkan Dhamma. Sang Guru mengajarkan kepadanya
Dhamma dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dengan tingkat
yang lebih luhur dan lebih luhur lagi, dengan pasangan-pasangan gelap dan
cerahnya. Ketika Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada seorang bhikkhu dengan
cara ini, melalui pengetahuan langsung terhadap suatu ajaran tertentu di sini
dalam Dhamma itu, [320] bhikkhu itu sampai pada kesimpulan mengenai
ajaran-ajaran. Ia berkeyakinan pada Sang Guru sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā telah tercerahkan
sempurna, Dhamma telah
dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik.’
[Kitab Komentar : So tasmiṁ dhamme abhiññāya idh’ ekaccaṁ dhammaṁ dhammesu niṭṭhaṁ gacchati. Untuk menyampaikan makna yang dimaksudkan, penerjemah menerjemahkan
kata dhamma yang ke dua di sini sebagai “ajaran,” yaitu, doktrin tertentu yang
diajarkan kepadanya, bentuk jamak dhammesu sebagai “ajaran-ajaran,” dan tasmiṁ dhamme sebagai
“Dhamma itu,” dalam makna keseluruhan ajaran.
Penerjemah lain menjelaskan maknanya sebagai
berikut: Ketika Dhamma telah diajarkan oleh Sang Guru, dengan secara langsung
mengetahui Dhamma melalui penembusan sang jalan, buah, dan Nibbāna, bhikkhu itu
sampai pada kesimpulan tentang ajaran awal dari Dhamma tentang bantuan-bantuan
menuju pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā).]
15. “Sekarang jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu sebagai
berikut: ‘Apakah
alasan yang mulia dan apakah buktinya sehingga ia mengatakan: “Sang Bhagavā telah tercerahkan sempurna, Dhamma
telah dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan jalan yang baik”?’ – jika
menjawab dengan benar, bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Di sini,
teman, aku mendatangi Sang Bhagavā untuk mendengarkan Dhamma. Sang Bhagavā
mengajarkan kepadaku Dhamma dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi
lagi, dengan tingkat yang lebih luhur dan lebih luhur lagi, dengan
pasangan-pasangan gelap dan cerahnya. Ketika Sang Guru mengajarkan Dhamma
kepadaku dengan cara ini, melalui pengetahuan langsung terhadap suatu ajaran
tertentu di sini dalam Dhamma itu, aku sampai pada kesimpulan mengenai ajaran.
Aku berkeyakinan pada Sang Guru sebagai berikut: “Sang Bhagavā telah
tercerahkan sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan baik, Sangha mempraktikkan
jalan yang baik.”’
16. “Para bhikkhu, ketika keyakinan siapapun telah ditanam, berakar, dan
kokoh dalam Sang Tathāgata melalui alasan-alasan, kata-kata, dan frasa-frasa
ini, keyakinannya
dikatakan sebagai didukung oleh alasan-alasan, berakar dalam penglihatan, kokoh; tidak
terkalahkan oleh petapa atau brahmana manapun atau dewa atau Māra atau Brahmā
atau siapapun di dunia ini. Itulah, para bhikkhu, bagaimana terdapat suatu penyelidikan terhadap
Sang Tathāgata sesuai Dhamma, dan itulah bagaimana Sang Bhagavā diselidiki
dengan baik sesuai Dhamma.”
[Kitab Komentar : Ākāravati saddhā dassanamūlikā
daḷhā. Frasa ini merujuk pada
keyakinan seorang “pemasuk-arus” yang telah melihat Dhamma melalui jalan lokuttara
dan tidak akan pernah berpaling pada guru lain selain Sang Buddha.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Kini, berkebalikan dari ajaran Buddha, silahkan nilai sendiri watak
sejati kaum muslim pemeluk agama islam, apakah ada yang yang layak diberi gelar
sebagai “suci” ataupun “bersih” diantara mereka—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Berikut
inilah, yang disebut oleh para “ibu-ibu muslimah” saat pengajian yang
menyanjung sang nabi rasul Allah sebagai manusia paling baik dan paling
sempurna—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]