DOSA ASAL? Memangnya Kita Pernah Minta Diciptakan oleh Allah?

Tidak Ada “DOSA ASAL MANUSIA”, yang Ada ialah “DOSA ASAL ALLAH”

Mengapa Allah Bersikap seolah-olah Kita, Umat Manusia, Pernah Meminta untuk Dilahirkan maupun Diciptakan ke Dunia ini?

Question: Konsep “dosa asal” yang dikemukakan oleh agama nasrani, dilengkapi dengan ideologi korup semacam “penebusan dosa”, bukankah artinya “lengkap sudah”, vonisnya hidup dan mati sebagai “lahirnya berdosa sebagai pendosa” dan “matinya sebagai KORUPTOR DOSA” yang mana dosa-dosa pun dikorupsi lewat dogma “minta maaf terlebih dahulu, baru kemudian berbuat kejahatan dengan bebas” alias “bebas berbuat jahat”?

Brief Answer: Memangnya kita pernah, meminta dilahirkan dan diciptakan ke dunia ini oleh Allah? Jika boleh memilih, maka dapat dipastikan sebagian besar dari kita akan memilih tidak pernah tercipta ke dunia dan alam manapun. Bahkan, Pangeran Siddhatta Gotama, berjuang “melawan arus penciptaan” dengan memutus siklus tumimbal-lahir agar tidak terlahir kembali di alam manapun, karena “hidup adalah dukkha” (siklus tidak berkesudahan dari kelahiran kembali, sakit kembali, dan meninggal kembali, tanpa akhir), bukan seperti dogma agama samawi yang seolah-olah kita harus berterima-kasih kepada “sang pencipta” karena telah diciptakan ke dunia yang “serba dan penuh kenikmatan” ini—kenikmatan mana, menyerupai seekor korban berbisa, Anda ambil ekornya, kepalanya akan mematuk Anda.

Justru yang ada ialah sebaliknya, yakni “dosa asal Allah”, yakni menciptakan manusia dengan penuh kesenjangan alias ketiadaan kesetaraan, mulai dari warna kulit ada yang kulit hitam dan kulit putih, status sosial antara elit bangsawan dan buruh, status ekonomi si kaya dan si miskin, si tampan / cantik dan si buruk rupa, yang kuat dan yang lemah, yang sehat dan yang sakit-sakitan, dan lain sebagainya, yang pada muaranya ialah terjadi praktek diskriminasi dan segregasi yang saling berdikotomi memicu konflik ataupun kecemburuan sosial.

Jangan salahkan bunda yang mengandung, salahkan Allah yang menciptakan manusia apa adanya lengkap dengan segala cacat-mental dan kekurangan moral maupun karakternya. Itulah sebabnya, sering penulis menyebutkan bahwa “neraka merupakan MONUMEN KEGAGALAN TUHAN”—dimana dengan dungu-nya Allah justru merasa bangga dan berprestasi bisa mengumumkan kepada dunia betapa besar “monumen-monumen kegagalan-Nya” yang terpampang di alam neraka, alih-alih merasa malu dan gagal, justru kian sibuk dan rajin menjejali ciptaannya sendiri untuk dicampakkan ke neraka. Dimana letak “Maha Tahu” dan “Maha Kuasa”-nya Allah, bila ciptaannya banyak berakhir di “tong sampah raksasa” bernama “alam neraka” tersebut?

PEMBAHASAN:

Berkebalikan dari agama nasrani, Buddhisme lebih menekankan pada faktor perbuatan yang disadari dan dilandasi kehendak. Seseorang manusia, tidak dipuji ataupun dicela hanya karena kelahirannya sebagai manusia, ataupun karena terlahir di keluarga bangsawan ataupun buruh, sebagaimana dapat kita jumpai lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

5 (5) Dengan Tidak Hati-hati

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? (1) Ia menyusun pertanyaan dengan tidak hati-hati; (2) ia menjawab pertanyaan dengan tidak hati-hati; (3) ketika orang lain menjawab sebuah pertanyaan dengan hati-hati, dengan kata-kata dan frasa yang tersusun dengan baik dan masuk akal, ia tidak menyetujuinya. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? (1) Ia menyusun pertanyaan dengan hati-hati; (2) ia menjawab pertanyaan dengan hati-hati; (3) ketika orang lain menjawab sebuah pertanyaan dengan hati-hati, dengan kata-kata dan frasa yang tersusun dengan baik dan masuk akal, ia menyetujuinya. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

~0~

6 (6) Tidak Bermanfaat

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? [104] Perbuatan tidak bermanfaat melalui jasmani, perbuatan tidak bermanfaat melalui ucapan, perbuatan tidak bermanfaat melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Perbuatan bermanfaat melalui jasmani, perbuatan bermanfaat melalui ucapan, perbuatan bermanfaat melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

~0~

7 (7) Tercela

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? Perbuatan tercela melalui jasmani, perbuatan tercela melalui ucapan, perbuatan tercela melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Perbuatan tanpa cela melalui jasmani, perbuatan tanpa cela melalui ucapan, perbuatan tanpa cela melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

~0~

8 (8) Menyakitkan

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? Perbuatan yang menyakitkan melalui jasmani, perbuatan yang menyakitkan melalui ucapan, perbuatan yang menyakitkan melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Perbuatan yang tidak menyakitkan melalui jasmani, perbuatan yang tidak menyakitkan melalui ucapan, perbuatan yang tidak menyakitkan melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menghindari ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang dungu, dan kami akan menjalankan dan mempraktikkan ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang bijaksana.’ Demikianlah kalian harus berlatih.” [105]

~0~

9 (9) Celaka

“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga kualitas, si dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan. Apakah tiga ini? Perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran. Dengan memiliki ketiga kualitas ini, si dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak keburukan.

“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga kualitas, seorang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa. Apakah tiga ini? Perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran. Dengan memiliki ketiga kualitas ini, orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak-celaka dan tidak-terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”

~0~

10 (10) Noda-noda

“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga kualitas dan tanpa meninggalkan tiga noda, seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah tiga ini? (1) Seorang tidak bermoral dan tidak meninggalkan noda ketidak-bermoralan. (2) Seorang iri dan tidak meninggalkan noda ke-iri-an. (3) Seorang kikir dan tidak meninggalkan noda kekikiran. Dengan memiliki ketiga kualitas ini dan tanpa meninggalkan ketiga noda ini, seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana.

“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga kualitas dan telah meninggalkan tiga noda, seseorang ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah tiga ini? (1) Seorang bermoral dan telah meninggalkan noda ketidak-bermoralan. (2) Seorang tidak iri dan telah meninggalkan noda ke-iri-an. (3) Seorang tidak kikir dan telah meninggalkan noda kekikiran. Dengan memiliki keiga kualitas ini dan telah meninggalkan tiga noda ini, seseorang ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.” [106]