Apakah Ideologi merupakan “Benda Mati” yang Tidak dapat Menggerakkan, Memanipulasi, Memprovokasi, Mengeksploitasi, Membajak, Menghasut, serta Menginfeksi Pikiran Manusia?
Question: Ada tokoh yang mengakunya sebagai cendekiawan anthropologi yang menyebutkan, bahwa agama adalah benda mati, karenanya agama samawi bila sekalipun dogmanya mengajarkan penghapusan dosa bagi umat pemeluknya, tidak dapat mencelakai siapapun. Mengapa saya merasa ada yang salah dari paradigma dari sang tokoh tersebut? Benda mati, sifatnya “digerakkan” oleh yang menggunakan benda tersebut, bukan justru “menggerakkan” manusia yang memegangnya. Saya kira ada yang salah dari cara berpikir yang bersangkutan, namun sukar untuk saya sebutkan untuk mengungkapkannya.
Brief Answer: Agama samawi bukanlah “agama”, namun lebih
menyerupai “ideologi”. Agama, sifatnya personal internal diri seseorang dan
sentripetal, karenanya akan lebih sibuk mengatur serta membenahi dalam diri
seseorang itu sendiri. Ideologi, sebaliknya, sifatnya berorientasi ke faktor eksternal
diri seseorang, pergerakannya sentrifugal, karenanya kecenderungannya akan
lebih condong mengatur serta menghakimi pihak diluar dirinya, dan disaat
bersamaan abai-lalai mengatur dan mengawasi dirinya sendiri.
Baik ideologi, budaya, maupun agama, tampaknya terlampau naif bila
direduksi sebagai “benda mati” yang tidak dapat mencelakai siapapun juga tidak dapat
membawa faedah / manfaat bagi seseorang maupun pihak lainnya. Benda mati,
sifatnya netral. Sebagai contoh, ketika kita memakan dengan memakai alat bantu
seperti sumpit atau sendok, alat makan itu sendiri tidak merasakan apapun rasa
masakan tersebut, dan penilaian kita terpisah dari alat dapur tersebut. Berbeda
dengan ideologi yang tidak “bebas nilai”, ia membawa serta nilai-nilai tertentu,
gagasan, tendensi, bahkan “kekuatan”, baik secara intrinsik maupun secara
ekstrinsik, yang dapat menggerakkan seseorang yang terinfeksi oleh “sang
ideologi”, sehingga menyerupai sebuah “kacamata” yang memengaruhi pandangan
seseorang penganutnya.
Sebagai contoh, Sang Buddha menyatakan bahwa dengan mempraktikkan Dhamma,
artinya si pelaku praktek sedang menghormat kepada Sang Buddha sekalipun Beliau
telah mangkat. Ilustrasi lainnya, kita memberi hormat kepada bendera negara,
ketika perayaan kemerdekaan, bukan hormat kepada bendera yang terbuat dari
kain, namun simbol dibalik bendera itu sendiri, yakni penghormatan terhadap
jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Bendera, dapat menggerakkan
anak bangsa serta para pejuang untuk bersemangat melawan penjajahan dan mempertahankan
negara. Contoh lainnya ialah sebuah badan hukum yang dikategorikan sebagai “subjek
hukum” itu sendiri, sehingga dapat memiliki nomor rekening sendiri, aset
sendiri, maupun menggugat dan digugat.
PEMBAHASAN:
Singkatnya, apa yang dapat dengan cepat
menginfeksi pikiran seseorang, memengaruhinya, sebelum kemudian
menggerakkannya, baik ke arah negatif maupun ke arah positif, kita patut menaruh
kewaspadaan dan kehati-hatian sebagaimana kita berhati-hati terhadap sosok yang
mengaku dirinya adalah malaikat ataupun iblis penggoda (benda hidup). Benda mati
yang netral sifatnya, seperti pisau, setajam apapun pisau tersebut, pisau itu
sendiri tidak dapat memengaruhi ataupun mengontrol pikiran kita, namun kita
yang mengontrolnya ketika ada di genggaman tangan kita. Ia (pisau tersebut)
menjadi baik di tangan orang baik, dan menjadi jahat di tangan orang jahat.
Ketika suatu keyakinan, membuat kita lebih sibuk berbenah
ke dalam diri, maka itu layak disebut atau diklaim sebagai “agama” (faktor
keyakinan internal diri seseorang penganutnya). Namun, ketika yang terjadi
ialah “lebih dari itu” dan “tidak selesai sampai disitu”, akan tetapi menjelma
praktek seperti melarang umat agama lain yang tidak berpuasa ala agama islam
untuk tidak turut berpuasa ala islam alias pemaksaan ritual, melarang berjualan
daging babi, melarang rumah makan untuk beroperasi, itu adalah “ideologi”, pemaksaan
busana muslim (mengenakan jilbab), penerapan hukum syariat bagi umum sekalipun masyarakat-nya
majemuk, bukan lagi “agama” atau bahkan tidak layak menyandang gelar sebagai “agama”.
Yang murni layak disebut sebagai “agama”, membuat
umat pemeluknya memiliki “pandangan”, bukan “penghakiman” terhadap pihak
eksternal dirinya. Sang Buddha hanya sebatas menawarkan “sang jalan”, dimana orang-orang
yang tidak mau menempuh “sang jalan” maka itu adalah hak mereka untuk bebas
memilih “jalan lainnya”. Berbeda ketika seseorang mengutuk kaum lainnya (kaum
NON) “masuk neraka” karena misalnya, tidak menyembah yesus maupun mengakui muhammad
rasul Allah, juga karena tidak menggadaikan jiwa demi menjadi budak Allah—adanya
faktor “pemaksaan keyakinan” serta “penghakiman” (praktek “mengutuk”, mengkafir-kafirkan,
pemaksaan fisik, pengancaman dogmatis, dsb).
Itulah sebabnya, agama samawi kental nuansa “ideologi
KEBENCIAN dan PERMUSUHAN”, bertolak-belakang dengan khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
ii. Sub Bab Ke Dua
306 (1)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan
meningkat selain daripada pandangan salah. Bagi seorang yang berpandangan salah,
maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan
meningkat.”
~0~
307 (2)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat
selain daripada pandangan benar. [31] Bagi seorang yang berpandangan benar,
maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas
bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”
~0~
308 (3)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan
kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain
daripada pandangan salah. Bagi
seorang yang berpandangan salah, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum
muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul
menjadi berkurang.”
[Kitab Komentar : Ini adalah sebuah sebutan untuk
enam puluh dua pandangan salah; baca Dīgha Nikāya 1.1.29-3.31, I 12-39.
Walaupun tampaknya bahwa kata micchādiṭṭhi digunakan
dalam Nikāya-Nikāya hanya sehubungan dengan tiga pandangan; nihilistik moral,
doktrin tidak berbuat, dan doktrin tanpa penyebab (natthikavāda, akiriyavāda,
ahetukavāda).]
~0~
309 (4)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain
daripada pandangan benar. Bagi
seorang yang berpandangan benar, maka kualitasI kualitas tidak bermanfaat yang
belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang
telah muncul menjadi berkurang.”
[Kitab Komentar : Ini adalah sebuah sebutan untuk
lima jenis pandangan benar. [Pandangan-pandangan] kepemilikan kamma, jhāna, pandangan
terang, sang jalan, dan buah. Pengetahuan yang termasuk dalam kesadaran jhāna
adalah pandangan benar jhāna, sedangkan pengetahuan pandangan terang adalah
pandangan benar pandangan terang.]
~0~
310 (5)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
pandangan salah yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan salah yang telah
muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan tidak seksama. Bagi seorang yang
memiliki pengamatan tidak seksama, maka pandangan salah yang belum muncul
menjadi muncul dan pandangan salah yang telah muncul menjadi bertambah.”
~0~
311 (6)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
pandangan benar yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan benar yang telah
muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan seksama. Bagi seorang yang
memiliki pengamatan seksama, maka pandangan benar yang belum muncul menjadi
muncul dan pandangan benar yang telah muncul menjadi bertambah.”
~0~
312 (7)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya,
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka,
selain daripada pandangan salah. Dengan memiliki pandangan salah, maka
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”
~0~
313 (8)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [32] yang karenanya,
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga, selain daripada pandangan
benar. Dengan
memiliki pandangan benar, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam
surga.”
~0~
314 (9) 169
[Kitab Komentar : Aṅguttara Nikāya edisi Bahasa Sinhala (terbitan Buddha Jayanti Tripitaka Series),
menganggap sutta ini dan sutta berikutnya masing-masing terdiri dari tujuh
sutta: masing-masing satu untuk kamma jasmani, ucapan, dan pikiran, dan untuk
kehendak, kerinduan, aspirasi, dan aktivitas-aktivitas kehendak.]
“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan salah, kamma jasmani,
kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai
dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya,
dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang tidak diharapkan,
tidak diinginkan, dan tidak menyenangkan, pada bahaya dan penderitaan. Karena alasan apakah?
Karena pandangannya buruk.
“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih mimba, pare, atau labu pahit
ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari
tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa pahit, getir, dan tidak
menyenangkan. Karena
alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang buruk. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan
salah … semuanya mengarah pada apa yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan
tidak menyenangkan, pada bahaya dan penderitaan. Karena alasan apakah? Karena
pandangannya buruk.”
~0~
315 (10)
“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan benar, kamma jasmani,
kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai
dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya,
dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang diharapkan,
diinginkan, dan menyenangkan, pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena alasan apakah?
Karena pandangannya baik.
“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih tebu, beras gunung, atau anggur
ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari
tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa manis, menyenangkan, dan
lezat.
[Kitab Komentar : Asecanakatta. Lit., “tidak
menyebabkan kejenuhan.”]
Karena
alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang baik. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan
benar … semuanya mengarah pada apa yang diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan,
pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena alasan apakah? Karena pandangannya
baik.” [33]
Bila dalam “agama”, refleksinya ke dalam diri,
maka dalam “ideologi” pusat perhatiannya ialah di luar diri. Akibat “pandangan
keliru”, praktek “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” dipandang sebagai
“halal lifestyle”, mengakibatkan penganutnya berlomba-lomba memproduksi
segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam lautan dosa, dengan
menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lain di luar dirinya, lalu
menyikapi tumpukan gunungan dosa-dosa tersebut dengan cara ritual “PENGHAPUSAN
DOSA”.
Akibat “pandangan menyimpang ala orang buta”, mereka
memakan ideologi KORUP “PENGHAPUSAN DOSA” yang adiktif tersebut, namun
memandangnya sebagai “kembali ke fitri” alih-alih menyadari mereka menjelma “KORUPTOR
DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi. Mereka, para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA” tersebut, bahkan tidak memahami bahwa lawan kata dari “PENGHAPUSAN DOSA”
ialah “BERANI UNTUK BERTANGGUNG-JAWAB”. Mereka juga gagal memahami, bahwa
antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIAMPUNI” dan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”
ialah saling bundling, ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter
sifatnya.
Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi
KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru
diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira,
bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan
sesuatu apapun, maka dia masuk surga.”
Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.”
[Shahih Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN
lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat
agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur,
unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya
shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]