Perbedaan antara EGO dan Welas-Asih
Question: Bagaimanakah ciri-ciri orang yang memiliki belas-kasih atau welas-asih?
Brief
Answer: Ketika seseorang memiliki
pola-pikir seperti : “Kasihan bila konsumen memakan sayur yang belum dicuci
bersih, karena bisa sakit”, “Kasihan bila sampai ada yang tertipu, dimana
mereka mengumpulkan uang bertahun-tahun bekerja dan menabung”, “Kasihan bila
penumpang belum benar-benar duduk atau belum benar-benar turun, namun kendaraan
tetap melaju”, “Kasihan orang yang memercayai kita, namun dikecewakan”,
“Kasihan orang yang lemah daripada kita lalu diintimidasi”, “Kasihan rakyat
bila hak mereka dikorupsi”, “Kasihan korban bila pelaku kejahatannya dibiarkan
berkeliaran tanpa hukuman”, dsb, maka itulah yang disebut dengan ber-welas-asih.
Sebaliknya,
ketika seseorang bersikap egoistik dengan “bersenang-senang diatas penderitaan
korban”, atau mengambil keuntungan dengan mengorbankan pihak lain, semata
dilandasi oleh motif EGO pribadi, maka itulah yang disebut keserakahan dan
kekotoran-batin. Banyak orang, akibat “buta” atau “membutakan dirinya sendiri”,
tidak mampu membedakan antara “ego” dan “welas-asih”. “Ego”, dilandasi oleh
motif pribadi. Sementara itu “welas-asih” bertujuan untuk kebaikan diri sendiri
dan pihak lain.
PEMBAHASAN:
Telah ternyata, Sang Buddha bersedia merepotkan dirinya membabarkan
Dhamma, ialah demi kebahagiaan banyak makhluk agar terbebas dari dukkha—alias
“welas-asih” yang pada akhirnya menggerakkan Sang Budddha untuk mengajarkan
Dhamma kepada mereka yang layak diajarkan—sebagaimana khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan
Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai
berikut:
79 (9) Dasar (1)
“Para bhikkhu, ada sepuluh dasar bagi kekesalan ini. Apakah sepuluh ini?
(1) [Dengan berpikir:] ‘Mereka telah bertindak demi bahaya bagiku,’
seseorang memendam kekesalan.
(2) [Dengan berpikir:] ‘Mereka sedang bertindak demi bahaya bagiku,’ seseorang
memendam kekesalan.
(3) [Dengan berpikir:] ‘Mereka akan bertindak demi bahaya bagiku,’
seseorang memendam kekesalan.
(4) [Dengan berpikir:] ‘Mereka telah bertindak demi bahaya bagi orang
yang kusayangi dan kusukai,’ seseorang memendam kekesalan.
(5) [Dengan berpikir:] ‘Mereka sedang bertindak demi bahaya bagi orang
yang kusayangi dan kusukai,’ seseorang memendam kekesalan.
(6) [Dengan berpikir:] ‘Mereka akan bertindak demi bahaya bagi orang yang
kusayangi dan kusukai,’ seseorang memendam kekesalan.
(7) [Dengan berpikir:] ‘Mereka telah bertindak demi keuntungan bagi
orang yang tidak kusayangi dan tidak kusukai,’ seseorang memendam
kekesalan.
(8) [Dengan berpikir:] ‘Mereka sedang bertindak demi keuntungan bagi orang
yang tidak kusayangi dan tidak kusukai,’ seseorang memendam kekesalan.
(9) [Dengan berpikir:] ‘Mereka akan bertindak demi keuntungan bagi orang
yang tidak kusayangi dan tidak kusukai,’ seseorang memendam kekesalan.
(10) Dan seseorang menjadi marah tanpa alasan.
[Kitab Komentar : Aṭṭhane ca kuppati. Sehubungan
dengan suatu kejadian yang didorong oleh kehendak maka ada alasan [untuk
marah], seperti ketika seseorang bertindak demi bahaya bagiku, dan seterusnya. Tetapi
hal ini tidak berlaku pada kasus ketika seseorang melukai dirinya sendiri
karena menabrak tunggul pohon dan sebagainya. Oleh karena itu, kasus ini
disebut sebagai kekesalan yang tanpa alasan (aṭṭhāne āghāto).]
Ini, para bhikkhu, adalah kesepuluh dasar bagi kekesalan itu.”
95 (5) Uttiya
Pengembara Uttiya mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah-tamah ini, ia duduk di satu sisi
dan berkata kepada Sang Bhagavā:
(1) “Bagaimanakah ini, Guru Gotama, apakah dunia adalah abadi? Apakah
hanya ini yang benar dan yang lainnya salah?”
“Uttiya, Aku tidak menyatakan: ‘Dunia adalah abadi; hanya ini yang benar,
yang lainnya salah.’”
(2) “Kalau begitu, Guru Gotama, apakah dunia adalah tidak abadi? Apakah
hanya ini yang benar dan yang lainnya salah?”
“Uttiya, Aku juga tidak menyatakan: ‘Dunia adalah tidak abadi; hanya ini
yang benar, yang lainnya salah.’”
(3)-(4) “Kalau begitu, bagaimanakah, Guru Gotama, apakah dunia adalah
terbatas? … Apakah dunia adalah tidak terbatas? … (5)-(6) Apakah jiwa dan badan
adalah sama? … Apakah jiwa adalah satu hal, badan adalah hal lainnya? …
(7)-(10) Apakah Sang Tathāgata ada setelah kematian? … Apakah Sang Tathāgata
tidak ada setelah kematian? … Apakah Sang Tathāgata ada juga tidak ada setelah
kematian? Apakah Sang Tathāgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah
kematian? Apakah hanya ini yang benar dan yang lainnya salah?”
“Uttiya, Aku juga tidak menyatakan: ‘Sang Tathāgata bukan ada juga bukan
tidak ada setelah kematian; hanya ini yang benar, yang lainnya salah.’”
[Kitab Komentar : sutta ini mungkin dimasukkan ke
dalam Kelompok Sepuluh karena berhubungan dengan sepuluh pandangan spekulatif.]
“Ketika aku bertanya kepadaMu: ‘Bagaimanakah, Guru Gotama, apakah dunia
adalah abadi? Apakah hanya ini yang benar, yang lainnya salah?’ Engkau berkata:
‘Uttiya, Aku tidak menyatakan: “Dunia adalah abadi; hanya ini yang benar, yang
lainnya salah.”’ Tetapi ketika aku bertanya kepadaMu: ‘Kalau begitu, Guru
Gotama, apakah dunia adalah tidak abadi? Apakah hanya ini yang benar dan yang
lainnya salah?’ Engkau berkata: ‘Uttiya, Aku juga tidak menyatakan: “Dunia
adalah tidak abadi; hanya ini yang benar, yang lainnya salah.”’ Ketika aku
bertanya kepadaMu: ‘Kalau begitu, bagaimanakah, Guru Gotama, apakah dunia
adalah terbatas? … Apakah Sang Tathāgata bukan ada juga bukan tidak ada setelah
kematian? Apakah hanya ini yang benar dan yang lainnya salah?’ [194] Engkau
berkata: ‘Uttiya, Aku juga tidak menyatakan: “Sang Tathāgata bukan ada juga
bukan tidak ada setelah kematian; hanya ini yang benar, yang lainnya salah.”’
Kalau begitu, apakah yang dinyatakan oleh Guru Gotama?”
“Melalui pengetahuan langsung, Uttiya, Aku
mengajarkan Dhamma kepada para siswaKu demi pemurnian makhluk-makhluk, untuk
mengatasi dukacita dan ratapan, demi lenyapnya kesakitan dan kesedihan, demi
pencapaian metode, demi merealisasikan nibbana.”
“Tetapi ketika Guru Gotama, melalui pengetahuan langsung, mengajarkan
Dhamma kepada para siswaNya demi pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi
dukacita dan ratapan, demi lenyapnya kesakitan dan kesedihan, demi pencapaian
metode, demi merealisasikan nibbana, apakah karena hal itu seluruh dunia akan
terbebaskan, atau setengah dunia, atau seper tiga dunia?”
Ketika hal ini ditanyakan, Sang Bhagavā berdiam diri. Kemudian Yang Mulia
Ānanda berpikir: “Pengembara Uttiya lebih baik tidak memendam pandangan jahat:
‘Ketika aku menanyakan pertanyaan yang paling tinggi kepada Petapa Gotama,
Beliau gugup dan tidak menjawab. Pasti karena Beliau tidak mampu menjawab.’ Hal
ini akan mengarahkan Pengembara Uttiya pada bahaya dan penderitaan untuk waktu
yang lama.”
Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Pengembara Uttiya: “Baiklah,
teman Uttiya, aku akan memberikan perumpamaan. Beberapa orang cerdas di sini
memahami makna dari apa yang dikatakan melalui perumpamaan. Misalnya seorang raja
memiliki sebuah kota perbatasan dengan benteng, tembok, dan kubah yang kuat,
dan dengan gerbang tunggal. Penjaga gerbang yang ditempatkan di sana adalah
seorang yang bijaksana, kompeten, dan cerdas; seorang yang mencegah masuknya
orang-orang asing [195] dan mengizinkan orang-orang yang dikenal. Sewaktu ia
sedang berjalan di sepanjang jalan yang mengelilingi kota ia tidak melihat
sebuah celah atau bukaan di dinding yang cukup besar bahkan untuk seekor kucing
menyelinap masuk. Ia mungkin tidak mengetahui berapa banyak makhluk hidup yang masuk
atau keluar dari kota, tetapi ia dapat memastikan bahwa makhluk apa pun yang
cukup besar yang masuk atau keluar dari kota itu semuanya masuk dan keluar
melalui gerbang itu. Demikian pula, teman Uttiya, Sang Tathāgata tidak
peduli apakah seluruh dunia akan terbebaskan, atau setengah dunia, atau seper
tiga dunia. Tetapi Beliau dapat memastikan bahwa mereka semua yang telah
terbebaskan, atau yang sedang terbebaskan, atau yang akan terbebaskan dari
dunia pertama-tama meninggalkan lima rintangan, kekotoran pikiran yang
melemahkan kebijaksanaan, dan kemudian, dengan pikiran mereka yang ditegakkan
dengan baik dalam empat penegakan perhatian, mereka dengan benar mengembangkan tujuh
faktor pencerahan. Dengan cara inilah mereka telah terbebaskan, atau sedang
terbebaskan, atau akan terbebaskan dari dunia.
“Teman, Uttiya, engkau bertanya kepada Sang Bhagavā dari sudut pandang
yang berbeda dengan pertanyaan yang sama yang telah engkau tanyakan kepada
Beliau. Oleh karena itu Sang Bhagavā tidak menjawabmu.” [196]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, agama samawi justru
mengajarkan dan membiasakan para umatnya untuk bergembira diatas derita korban
alias mengorbankan orang lain agar dapat menikmati “pengampunan / penebusan
dosa”. “Kabar gembira” bagi pendosa yang dihapus dosa-dosanya, merupakan “kabar
duka” bagi kalangan korban yang dirampas haknya atas keadilan—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Sang
nabi junjungan umat agama samawi, bahkan merasa bangga dapat mengorbankan
banyak pihak dan lari dari tanggung-jawab dengan lebih sibuk berdelusi ritual “pengampunan
dosa”, mengingat Allah digambarkan sebagai lebih PRO terhadap “PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]