Pejabat / Petugas Manusia Agamais Vs. Petugas Robot AI, Pilih Dilayani oleh Siapa?

Empati Manusia, Penuh Kepalsuan. Empati AI (Mesin Kecerdasan Buatan) bisa Lebih Diandalkan sebagai “Teman untuk Sahabat Curhat”

Question: Ini fenomena apa ya, mengapa pemimpin negara kita mulai berpikir untuk menggantikan para “civil servant” alias aparatur sipil negara (ASN) ataupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan aplikasi, robot, maupun AI (kecerdasan buatan, artificial intelligence)? Bukankah di negeri kita ini tidak pernah kekurangan “agamais” maupun aparatur yang rajin beribadah dan mengaku ber-Tuhan? Menteri keuangan mulai berwacana agar petugas pada bea cukai digantikan oleh robot dan AI saja. Kepala POLRI lebih senang menerapkan ETLE (Elektronic Traffic Law Enforcement) ketimbang polisi lalu lintas dalam menilang pengendara. Di Kantor Pertanahan banyak layanan yang mulai digantikan dari semula pelayanan tatap-muka di loket-loket pelayanan dengan pelayanan berbasis aplikasi “online” nir-tatap-muka. Bahkan di luar negeri, sudah ada menteri dibidang urusan pengadaan barang dan jasa yang berupa sosok AI, alias bukan “menteri manusia”.

Brief Answer: Bila tubuh diibaratkan “hardware”, maka kualitas pikiran atau jiwa yang menggerakkannya ialah “software”-nya. Agama samawi, paling efektif untuk membajak, merusak, serta meracuni “software” tersebut, yang sekalinya terjangkit maka akan sukar sekali untuk dilakukan eradikasi.

PEMBAHASAN:

Ada yang memberi nasehat : Kalau kita sedang susah atau miskin, jangan ceritakan kondisi kita tersebut kepada orang lain, tapi usaha dalam “diam”. Kalau kita sedang senang atau kaya, juga jangan cerita kepada orang lain, tetapi dijaga dalam “diam”. Singkatnya, jangan pernah “curhat” kepada orang lain perihal suka dan duka hidup kita, sekalipun lawan bicara kita itu kita pandang sebagai seorang “sahabat atau “karib”. Isi hati manusia, siapa yang tahu. Dalamnya laut, dapat diselami. Kedalaman isi hati seseorang, sukar ditebak. Lawan bicara kita yang “manusia”, dinarasikan sebagai lawan bicara yang bisa berempati. Namun, realitanya berkata lain. Menceritakan rahasia ataupun kesukaran hidup kita kepada orang lain, bisa bermuara pada petaka atau bumerang bagi diri kita sendiri. Lebih baik Anda “curhat” kepada AI, sekalipun “empati” mesin bekecerdasan buatan tersebut adalah artifisial.

Dari sejak lama penulis merasa, orang datang berkunjung untuk melayat kenalan yang anggota keluarganya meninggal, bukan untuk turut bersedih dan berduka, namun untuk menikmati kesedihan yang keluarga sedang berkabung. Saat ada bencana, banyak yang tewas. Yang selamat, kemudian berkata : "Alhamdullilah (saya selamat, yang lain tewas).” Selengkapnya, bisa baca dalam buku berjudul “The SELFISH GENE” karya Richard Dawkins.

Umat-umat agama samawi, tidak pernah diajarkan tentang sifat penting pikiran serta kekuatan dibalik pikiran, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

V. Tangkai

41 (1)

“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau gandum yang arahnya terbalik ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah tidak mungkin bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah. Karena alasan apakah? Karena tangkai itu terbalik. Demikian pula, adalah tidak mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang salah arah dapat menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan merealisasi nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu salah arah.”

42 (2)

“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau gandum yang diarahkan dengan benar ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah mungkin bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah. Karena alasan apakah? Karena tangkai itu diarahkan dengan benar. Demikian pula, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang diarahkan dengan benar dapat menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan merealisasi nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu diarahkan dengan benar.”

43 (3)

“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran rusak, Aku memahami bahwa jika orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke neraka seolah-olah dibawa ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya rusak. Adalah karena kerusakan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”

[Kitab Komentar : Pikiran yang dirusak oleh kebencian (dosena paduṭṭhacitta).]

44 (4)

“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran tenang, Aku memahami bahwa jika [9] orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke surga seolah-olah dibawa ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya tenang. Adalah karena ketenangan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”

[Kitab Komentar : (Pikiran) yang tenang dengan keyakinan dan kepercayaan (saddhāpasādena pasanna).]

45 (5)

“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang kotor, keruh, dan berlumpur. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di tepinya tidak dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral, dan kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan apakah? Karena air itu kotor. Demikian pula, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran yang kotor dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, atau kebaikan keduanya, atau merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena pikirannya kotor.”

[Kitab Komentar : “Keruh (āvilena): diselimuti oleh kelima rintangan.” Pada sutta terpisah, air keruh secara khusus diidentifikasikan sebagai keragu-raguan dan air jernih sebagai kebebasan dari keragu-raguan.]

46 (6)

“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang bersih, tenang, dan jernih. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di tepinya dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral, dan kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan apakah? Karena air itu jernih. Demikian pula, adalah mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran yang jernih dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya, dan merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena pikirannya jernih.”

[Kitab Komentar : Manusia luar biasa: lebih unggul daripada moralitas manusia yang terdapat dalam sepuluh kamma bermanfaat. Sepuluh moralitas ini disebut ‘moralitas manusia’ karena dijalankan oleh orang-orang atas kehendak mereka sendiri – bahkan tanpa dorongan orang lain – setelah mereka tergerak di akhir ‘periode pedang’ (satthantarakappa).

Hal-hal yang lebih unggul dari ini adalah jhāna-jhāna, pandangan terang, jalan, dan buah. Keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia: keluhuran [keunggulan] yang terdapat dalam pengetahuan dan penglihatan yang sesuai bagi para mulia atau mampu menghasilkan kondisi mulia. Pengetahuan itu sendiri disebut ‘pengetahuan’ dalam hal bahwa pengetahuan itu mengetahui, dan disebut ‘penglihatan’ karena melihat. Ini adalah sebuah sebutan bagi pengetahuan mata dewa, pengetahuan pandangan terang, pengetahuan jalan, pengetahuan buah, dan pengetahuan peninjauan.]

47 (7)

“Para bhikkhu, seperti halnya kayu cendana dinyatakan sebagai yang terbaik di antara pepohonan sehubungan dengan kelunakan dan kelenturannya, demikian pula Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika dikembangkan dan dilatih, dapat menjadi begitu lunak dan lentur selain daripada pikiran. Pikiran yang terkembang dan terlatih adalah lunak dan lentur.” [10]

48 (8)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu cepat berubah selain daripada pikiran. Tidaklah mudah memberikan perumpamaan untuk menggambarkan betapa cepatnya pikiran berubah.”

[Kitab Komentar : Salah satu contohnya ialah seseorang dapat mendadak berubah pikiran, meninggalkan kehidupan selibat untuk menyerah pada pikatan perempuan.]

49 (9)

Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi dikotori oleh kekotoran dari luar.”

50 (10)

Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan terbebaskan dari kekotoran dari luar.”

[Komentar Bhikkhu Bodhi : Teks Pali hanya menyebutkan “pikiran ini bercahaya,” tanpa kualifikasi. Ini menyiratkan bahwa kecerahan itu adalah intrinsik pada pikiran itu sendiri, dan bukan pada jenis peristiwa pikiran itu. Interpretasi paling sederhana dari pernyataan ini, sejauh yang bisa saya lihat, adalah bahwa kecerahan itu adalah karakteristik bawaan dari pikiran, dilihat dalam kapasitasnya untuk menerangi bidang objektifnya. Kecerahan ini, walaupun menjadi sifatnya, secara fungsional terhalangi karena pikiran “dikotori oleh kekotoran-kekotoran yang datang dari luar” (āgantukehi upakkilesehi upakkiliṭṭha).

Kekotoran-kekotoran disebut “datang dari luar” karena, tidak seperti kecerahan, kekotoran-kekotoran itu tidak intrinsik pada pikiran itu sendiri. Tentu saja, seperti yang ditegaskan dalam 10:61 dan 10:62, tidak ada “titik awal” bagi ketidak-tahuan dan ketagihan (dan kekotoran-kekotoran lainnya). Tetapi kekotoran-kekotoran ini dapat dilenyapkan melalui latihan pikiran.

Dengan pelenyapannya, kecerahan intrinsik pikiran muncul – atau, lebih tepat lagi, menjadi terwujud. Pernyataan persis di bawah tentang siswa mulia yang memahami bahwa pikiran adalah bercahaya menyiratkan bahwa pandangan terang ke dalam kecerahan intrinsik pikiran berfungsi sebagai landasan bagi latihan pikiran lebih lanjut, yang membebaskan pikiran dari kekotoran-kekotoran. Dengan pelenyapan kekotoran sepenuhnya, maka kecerahan intrinsik pikiran bersinar tanpa terhalangi.

Pada 3:102, I 257,7 kata pabhassara digunakan untuk menggambarkan pikiran (citta) yang telah mencapai konsentrasi (samādhi). Dengan demikian tampaknya bahwa adalah di dalam samādhi mendalam maka kecerahan intrinsik pikiran itu muncul, setidaknya untuk sementara.

5:23, III 16,29 – 17,2 mengatakan secara eksplisit bahwa pikiran yang terbebas dari lima rintangan adalah bercahaya (pabhassara) dan terkonsentrasi dengan benar pada hancurnya noda-noda. Baca juga MN III 243,11-12, di mana adalah keseimbangan (upekkhā), yang diduga adalah jhāna ke empat, yang digambarkan sebagai bercahaya.]

Polisi yang diracuni oleh dogma-dogma agama samawi, menjelma “manusia hewan” yang bisa menjadi predator bagi sesamanya (homo homini lupus). Pejabat yang dibajak pikirannya oleh ajaran-ajaran agama samawi, pikirannya dari semula keruh menjelma kotor. Karenanya, semakin agamais kaum pemeluk agama samawi, maka semakin sifat-sifat predator-hewanis mereka mendominasi cara berpikir mereka—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]