Konsumsi “PENGHAPUSAN DOSA”, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi, disebut “HALAL LIFESTYLE”? Lifestyle-nya PENDOSA

Menjelma KORUPTOR DOSA alih-alih “Kembali ke Fitri” Berkat Kecanduan & Mabuk “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA”

Ada perbedaan mendasar antara konsumsi mata, konsumsi jiwa, dan konsumsi perut. Bila makanan untuk perut, dapat kita lihat pada jejeran produk di rak toko maupun apa yang dijajakan oleh penjual pangan di pasar, namun apa yang berdampak pada kesehatan tubuh kita ialah produk pangan apakah yang benar-benar masuk ke perut kita. Tubuh kita akan sehat dan kesehatannya akan terjaga, sepanjang kita selektif memilih produk-produk yang banyak beredar di pasaran, “as a smart buyer / customer”.

Akan tetapi berbeda dengan konsumsi mata, yang bisa begitu berbahaya. Sebagai contoh, menonton film horror, dapat memengaruhi pikiran Anda sehingga menjadi paranoid. Menyaksikan adegan “panas”, dapat merusak serta mengganggu pikiran Anda untuk jangka waktu yang lama, fokus pun terpecah, karir dan keluarga bisa terancam turut rusak. Karenanya, pilihan terbaik ialah sama sekali menghindari tontonan semacam itu. Lalu, bagaimana dengan konsumsi jiwa? Bila kita gagal untuk benar-benar selektif dalam memilih apa yang kita masukkan ke jiwa kita, maka itu bisa lebih berbahaya daripada konsumsi mata yang negatif.

Ibarat produk-produk yang dipajang di rak-rak toko, begitupula banyak tawaran dogma-dogma agama beredar di masyarakat, dimana mayoritas diantaranya sejatinya merupakan “Agama DOSA yang bersumber dari Kitab DOSA” namun dikemas dengan branding “Agama SUCI yang bersumber dari Kitab SUCI”. Anda harus cerdas, “be smart” dan kritis, agar tidak terkecoh oleh marketing pihak utusan agama samawi. Anda benar-benar dungu, bila membiarkan diri Anda diperdaya dan dibodohi.

Don’t judge the book, by the cover. PRA agama samawi lahir, orang baik otomatis masuk surga (agama optimistik). PASCA agama samawi lahir, surga justru dimonopoli para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” (agama pesimistik). Mereka, bahkan tidak mampu (lebih tepatnya “tidak berani”) menyebutkan lawan kata dari “PENGAMPUNAN DOSA”, yakni “BERANI MENGAMBIL TANGGUNG-JAWAB DAN MENGHADAPI KONSEKUENSI DIBALIKNYA”. Banyak manusia dungu, yang justru merayakan hari kelahiran agama samawi, dimana akses menuju surga bagi orang baik justru dirampas dan terampas.

Hanya orang dungu, yang memilih agamanya orang dungu. Ibarat air, yang secara alamiahnya mengalir ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Hanya dengan keberanian / tekad kuat untuk “melawan arus”, barulah kita dapat beranjak menjadi lebih bijaksana, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

I. Si Dungu

1 (1) Bahaya

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, bahaya apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Bencana apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Kemalangan apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Seperti halnya api yang memercik dalam sebuah rumah yang terbuat dari tanaman rambat atau rerumputan akan membakar bahkan sebuah rumah beratap lancip, yang diplester pada bagian dalam dan luarnya, tanpa lubang angin, dengan gerendel terkunci dan tirai tertutup; demikian pula, bahaya apa pun yang muncul … semuanya muncul karena si dungu, bukan karena orang bijaksana.

(1) Demikianlah, para bhikkhu, si dungu membawa bahaya, orang bijaksana tidak membawa bahaya; (2) si dungu membawa bencana, orang bijaksana tidak membawa bencana; (3) si dungu membawa kemalangan, orang bijaksana tidak membawa kemalangan. Tidak ada bahaya dari orang bijaksana; tidak ada bencana dari orang bijaksana; tidak ada kemalangan dari orang bijaksana.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menghindari ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang dungu, dan kami akan menjalankan dan mempraktikkan ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang bijaksana.’ Demikianlah kalian harus berlatih.” [102]

~0~

2 (2) Karakteristik

“Para bhikkhu, si dungu dikarakteristikkan oleh perbuatannya; orang bijaksana dikarakteristikkan oleh perbuatannya. Kebijaksanaan bersinar dalam manifestasinya.

[Kitab Komentar : “Maknanya adalah bahwa baik si dungu maupun si bijaksana masing-masing dikenali melalui perilakunya” (bālā ca paṇḍitā ca attano attano cariten’eva pākaā hontī ti attho).]

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? Perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

Seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menghindari ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang dungu, dan kami akan menjalankan dan mempraktikkan ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang bijaksana.’ Demikianlah kalian harus berlatih.”

~0~

4 (4) Pelanggaran

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? (1) Ia tidak melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran. (2) Ketika ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran, ia tidak memperbaikinya sesuai Dhamma. (3) Ketika orang lain mengakui suatu pelanggaran kepadanya, ia tidak menerimanya sesuai Dhamma. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? (1) Ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran. (2) Ketika ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran, ia memperbaikinya sesuai Dhamma. (3) Ketika orang lain mengakui suatu pelanggaran kepadanya, ia menerimanya sesuai Dhamma. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

Mengapa ideologi komun!sme dijadikan ideologi terlarang dan dilarang, sekalipun ideologi komun!sme tidak mengajarkan dogma-dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” bagi penganut / pengikutnya, juga tidak sampai diwajibkan mencium-cium foto sang pencetusnya? Tidak ada yang lebih beracun dan berbahaya, daripada ideologi KORUP demikian, namun telah ternyata dikampanyekan dan dipromosikan secara meluas, dimana terhadap dosa dan maksiat begitu kompromistik, akan tetapi terhadap kaum NON begitu intoleran. Babi disebut “haram”. Ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”, diklaim sebagai “halal lifesytle” dimana mereka konsumsi secara rakus, rutin, bahkan hingga taraf mabuk serta kecanduan penuh adiksi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan (justru) membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya. Dikurangi waktu yang tersita untuk menggauli belasan istrinya secara bergilir, adsakah waktu yang masih tersisa bagi sang “rasul allah” untuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap para korbannya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]