Agama yang Mengandalkan KEKERASAN FISIK, Apa Bedanya dengan Paham PREMANISME? Agama Islam, Lebih Cocok bagi Kalangan PREMAN yang Suka Menyelesaikan Masalah dengan KEKERASAN FISIK

Budaya Islam, ialah Budaya Penuh Kekerasan Fisik dan Pertumpahan Darah (AGAMA HAUS-DARAH, Agamanya Orang-orang Primitif yang Belum Beradab, Masih Biadab)

Question : Mengapa orang-orang muslim, paling suka menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik, dimana mereka selalu mengandalkan kekerasan fisik untuk menyelesaikan apapun masalahnya?

Puisi Sederhana Mengenai Seni Melawan Arus Ditengah Gelombang Arus Kehidupan

HERY SHIETRA, Puisi Sederhana Mengenai Seni Melawan Arus Ditengah Gelombang Arus Kehidupan

Semua orang dapat memiliki keinginan ataupun mampu menikahi banyak istri serta melahirkan banyak anak,

Tidak ada yang istimewa,

Yang karenanya tidak ada yang perlu dikagumi dari mereka.

Namun,

Tidak semua orang berani melawan arus,

Dengan hidup selibat,

Yang karenanya ia patut untuk dihormati.

Khotbah Sang Buddha mengenai Kemunafikan

Dogma PENGHAPUSAN DOSA adalah Sabotase terhadap Hak Korban yang Menuntut Keadilan

BIla Nabinya saja Tidak Bermoral (Kecanduan Dogma Penghapusan Dosa), maka Bagaimana dengan Moral Umat Pengikutnya? Mustahil Pengikut Lebih Bermoral daripada Tokoh Junjungan-Panutannya

Question : Bukankah sungguh mengherankan, nabinya orang islam setiap harinya kecanduan-berat ritual penghapusan dosa, akan tetapi para umat muslim terutama ibu-ibu pengajian, menyanjungnya setinggi langit sebagai manusia paling baik, paling sempurna, paling lurus, paling baik, paling mulia, paling jujur, paling benar, dan paling suci?

Mualaf artinya DOWNGRADE-Diri dari Semula Bukan PECANDU DOGMA PENGHAPUSAN DOSA Menjelma PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA

"Kami tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi; tetapi kami mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi." [Raja Pasenadi dari Kosala]

Question : Bukankah mengherankan orang-orang muslim yang merasa begitu bangga menjadi mualaf (semula nonmuslim yang kemudian memeluk agama islam). Semestinya mereka merasa malu, karena secara tidak langsung mereka seolah hendak berkata kepada dunia : “Dulunya saya bukanlah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’, sekarang saya adalah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’.” Orang yang waras dan berakal-sehat, akan merasa senang dan gembira bila terjadi “upgrade” dalam dirinya. Akan tetapi itu orang-orang yang mualaf, justru senang karena men-“downgrade” diri mereka dari semula bukan “pecandu ideologi KORUP” menjelma “mabuk-berat dogma PENGHAPUSAN DOSA”.

Tugas Seorang Bhikkhu / Biksu / Bhante ialah Latihan Pensucian Diri Agar dapat menjadi Ladang Menanam Jasa yang Subur bagi Umat Awam

Misi Misionaris Bhikkhu Monastik yang Terasing dan Mengasingkan-Diri dari Kenikmatan Indria

Question : Seringkali umat agama samawi melecehkan bhikkhu-monastik yang hidup selibat sebagai pemalas yang tahunya hanya mengemis-ngemis. Lalu saya jawab, “Daripada pemuka agama samawi, kerjanya membisniskan dan mengambil keuntungan materi dari agama dan umat mereka sendiri”. Apakah salah, menjadi profesional dibidang spiritual dengan menampak kehidupan monastik, terasing dari kehidupan duniawinya umat awam?

Pendosa Pecandu PENGHAPUSAN DOSA artinya Pecandu DOSA

Aggivessana, bagaimana mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria, menikmati kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran kenikmatan indria, ditelan oleh pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan indria, dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak mungkin.” [SANG BUDDHA]

Question : Apakah mungkin, seseorang pecandu dogma korup semacam “penghapusan dosa”, disaat bersamaan bukanlah seorang pecandu dosa?

Seseorang yang bahkan “Egois terhadap Diri Mereka Sendiri”, akan Cenderung “Egois terhadap Orang Lain”

Khotbah Sang Buddha Perihal Pilihan Hidup dan Konsekuensi Dibalik setiap Pilihan Hidup : JANGANLAH EGOIS TERHADAP DIRI KITA SENDIRI

Orang Dungu Senang Melakukan Kejahatan yang Akan Berbuah Buruk bagi Mereka Sendiri, sementara Orang Bijaksana Menahan Kesakitan Demi Menghindari Perbuatan Buruk agar Terhindar dari Buah Karma Buruk di Masa Mendatang

Kita perlu belajar serta penting bagi kita berlatih untuk mengenali dan memahami konsekuensi suatu rangkaian pilihan dalam hidup. Kita dapat saja mencari tahu dan belajar, manakah makanan ataupun aktivitas yang tidak sehat sekalipun rasanya enak, perbuatan yang membuahkan Karma Buruk sekalipun tampak menyenangkan dilakukan, akan tetapi telah ternyata tidak sedikit diantara kita yang membuat pilihan-pilihan yang cenderung destruktif bagi dirinya sendiri maupun membaca celaka bagi orang lain. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, yang tampak sangat relevan:

Hubungan antara KORUPTOR-DOSA dan KORUPTOR-UANG : Dosa Saja Dikorupsi, Apalagi Korupsi Uang

Indria-Indria Umat Agama Samawi Tidak seperti Indria-Indria Mereka yang Mengendalikan Pikirannya. Indria-Indria Mereka Tidak Sewajarnya

Question : Mengapa ada orang yang begitu tergila-gila pada uang, sampai menjual jiwanya demi uang, melakukan korupsi demi uang yang tidak akan habis dikonsumsi tujuh-keturunan, atau melakukan kejahatan lainnya demi memeroleh uang secara instan?

Jawablah dengan JUJUR, Anda Merasa Lebih Nyaman dan Aman Memilih Berurusan dengan Umat Buddhist, ataukah Berhadapan dengan Umat Agama Samawi?

Umat Agama Samawi Mencoreng Agamanya Sendiri, karena Agama Samawi Memang Mencoreng Dirinya Sendiri Lewat Iming-Iming KORUP Semacam Dogma PENGHAPUSAN DOSA bagi PENDOSAWAN

Umat Buddhist yang Berbuat Buruk dan Tercela, adalah Umat yang Menyimpang dari Dhamma karena Sang Buddha Tidak Menolerir Perbuatan Buruk Sekecil Apapun

Sebaliknya, Umat Agama Samawi yang Moderat juga Tidak Mabuk dan Tidak Kecanduan Ritual PENGHAPUSAN DOSA, adalah OKNUM. Nabi Rasul Allah Sendiri adalah Pecandu-Berat Ritual PENGHAPUSAN DOSA, dimana Taraf Kecanduannya Kelas-Berat

Pernah ada seorang klien, yang memercayakan penulis atas perkara bernilai puluhan miliar Rupiah, sekalipun sang klien belum pernah berjumpa tatap-muka dengan penulis. Besar kemungkinan karena sang klien mengetahui bahwa penulis adalah seorang Buddhist. Jika penulis menyalah-gunakan kepercayaan orang lain, atau bahkan menipu, maka itu sama artinya mencoreng nama sang guru agung yang menjadi junjungan / teladan bagi penulis, yakni Sang Buddha yang sama sekali tidak menolerir sekecil apapun perbuatan buruk yang dapat dicela oleh para bijaksanawan.

Mengagumkan dan Menakjubkannya Kelahiran dan Masa Hidup Buddha Gotama, Umat Buddhist Patut Merasa Bersyukur dan Bangga

Memprihatinkan dan Memalukannya Kelahiran maupun Kematian Yesus, Umat Nasrani Patut Merasa Malu dan Hina

Question : Bukankah mengherankan, bila ada seseorang yang mengaku dulunya umat Buddhis, lalu beralih atau pindah agama menjadi pemeluk agama samawi, entah karena faktor perkawinan atau pergaulan. Bila kita baca kisah kehidupan Buddha Gotama, Beliau bahkan tidak pernah merasa inferior sejak saat kelahirannya. Mengapa bisa ada umat Buddhis yang merasa rendah diri, lalu pindah ke agama lain?

Persaingan Usaha Tidak Sehat Agama Samawi : Berlomba-Lomba Mengumbar dan Obral HAPUS DOSA Demi Merekrut Umat (Pendosa-Penjahat) Sebanyak-Banyaknya

Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Bentukan Apapun sebagai KEKAL. Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Bentukan Apapun sebagai MENYENANGKAN. Tidak Ada Kemungkinan Seseorang yang Memiliki Pandangan Benar dapat Menganggap Apa Pun Sebagai DIRI

Adalah Mungkin bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Suatu Bentukan sebagai KEKAL. Adalah Mungkin Bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Suatu Bentukan sebagai MENYENANGKAN. Adalah Mungkin bahwa Seorang Biasa dapat Menganggap Sesuatu sebagai DIRI

Question : Setelah saya evalusi, agama-agama yang kini menjadi hegemoni yang mendominasi dunia, telah ternyata adalah agama samawi yang mengobral penghapusan dosa. Mulai dari nasrani yang menjadikan dogma “penebusan dosa” sebagai marketing-gimmick utamanya untuk membuat para pendosa berdelusi dapat masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya mengoleksi segudang dosa tanpa tanggung-jawab kepada korban-korban yang pernah mereka sakiti, lukai, maupun rugikan. Begitupula agama islam yang menjadikan “pengampunan dosa” sebagai jualan utamanya, dimana ada “demand” berupa pendosa yang berharap masuk surga sekalipun seumur hidupnya memproduksi segunung dosa, maka ada “supply” bernama iming-iming “pengampunan dosa” sehingga sang muslim bisa menyelam sembari minum air, yakni rajin dan sibuk berbuat dosa namun tidak perlu perlu bertanggung-jawab ataupun membayar konsekuensinya, terjamin masuk surga setelah ajal menjemputnya. Bukankah itu merupakan nyata-nyata praktek persaingan usaha tidak sehat, berupa obral penghapusan dosa dan mengumbarnya, mengeksploitasi sifat-sifat pengecut dan tamak manusia yang telah ataupun yang akan menjadi umat pemeluknya?

Memberantas Dosa, Nyambi Mencandu Dosa dan Maksiat, Itulah Wajah Bopeng Agama Samawi : Menyembah Tuhan, namun Disaat Bersamaan Bersekutu dengan Iblis

Berbuat Dosa dan Maksiat, artinya Bersekutu dengan IBLIS. Mana Mungkin Tuhan akan Menghapus Dosa-Dosa Manusia yang Kecanduan Dosa dan Maksiat alias Bersekutu dengan IBLIS

Question : Ada nabi di agama samawi, yang hendak menghakimi dan menggurui pendosa lainnya, sementara ia sendiri mabuk dan kecanduan-berat ritual doa “pengampunan dosa”. Bukankah antara “berbuat dosa-dosa” dan “ritual pengampunan dosa” sifatnya saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter tanpa dapat dipisahkan?

Kasta, Rasis, dan Fasisme yang Didebat oleh Sang Buddha

Kasta Suciwan yang Higienis dari Kejahatan, Kasta Ksatria yang Berani Bertanggung-Jawab, dan Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA. Anda yang Mana?

Question : Umat muslim sering buat klaim, bahwa umat nonmuslim adalah kaum yang “merugi”. Maksud mereka itu apa, berkata bahwa nonmuslim adalah kaum yang “merugi”?

Tawar-Menawar dengan Dosa, Menyerupai Tawar-Menawar dengan Kematian, Sekonyol Badut, “Agama Badut” Bernama Samawi

Mengapa Orang Indonesia Rata-Rata KORUP Meskipun AGAMAIS? Karena DOSA-DOSA PUN MEREKA KORUPSI, KORUPTOR-DOSA!

Agama DOSA yang Menyaru Memakai Merek / Nama “Agama SUCI”, Itulah Kemunafikan yang Paling Munafik

Question : Umat muslim sering mengatakan bahwa “Allah membenci orang munafik”. Memangnya, yang menciptakan orang munafik lengkap dengan sifat munafiknya, siapa jika bukan Tuhan Sang Pencipta itu sendiri? Bukankah itu mirip seperti menampar wajah sendiri telah ia gagal menciptakan produk yang sempurna? Menciptakan produk yang sengaja tidak sempurna, lalu produk ciptaannya berbuat keliru, siapa yang mau dipersalahkan? Kalau memang membencinya, mengapa diciptakan? Tengok sifat dan sikap korup sang “nabi rasul Allah” yang mabuk dan kecanduan berat “penghapusan dosa”, itu apa bukan munafik namanya, menghakimi dan menggurui orang lain namun dirinya sendiri gagal ia didik maupun kendalikan?

Makin Panjang Umur / Usia Kalangan Penjahat, Makin Pendek Usia Harapan Hidup Kalangan Korban

Spekulasi para Spekulan Bernama Umat Agama Samawi : Orang Jahat Lebih Beruntung dan Panjang Umur karena Diberi Kesempatan oleh Tuhan untuk Bertobat—Namun Tuhan Disaat Bersamaan, Kian Menyempitkan Ruang Nafas bagi Kalangan Korban

Kabar Gembira bagi Pendosa (Penjahat), Sama artinya Kabar Duka bagi Kalangan Korban

Question : Umat agama samawi paling gemar berspekulasi. Mereka membuat asumsi spekulatif, bahwa orang jahat lebih cenderung beruntung dan panjang usia hidupnya, karena Allah memberi kesempatan kepada si jahat untuk bertobat. Bukankah itu argumentasi yang lucu dan kekenakan, sebab itu sama artinya membuat para korban maupun calon korbannya menjadi “pendek umur” karena menjadi korban dari si jahat. Itu apa bedanya dengan merampas usia hidup dan kebahagiaan korban-korban, dengan memberikan panjang-usia maupun kemakmuran bagi si jahat yang justru kian merajela tanpa penjeraan apapun, dengan tetap “business as usual”, bahkan kejahatan dan sifat jahatnya kian berkembang lebih tidak terkontrol lagi alias menjadi-jadi?

Kenikmatan Indria adalah Umpan “Māra si Jahat”, yang Melekat dan Gagal Melihat Bahaya Dibalik Kenikmatan Indria maupun Keinginan Kenikmatan Indria akan Terjerat Jaring “Māra si Jahat”

Mengapa Meng-Haram-kan Kenikmatan Indria yang Allah Ciptakan dan Halal-kan? Para Umat Agama Samawi pun Terjebak dalam Kemelekatan dan menjadi Budak Kenikmatan Indria yang Semakin Haus Akan Kenikmatan Indria yang Menenggelamkan dan Menjerumuskan

Ada, Sukacita dan Kenikmatan yang Muncul dari “Keterasingan dari Kenikmatan Indria”

Truth, Always BITTER. Kebenaran, Selalu PAHIT

Question : Banyak umat agama samawi, terjebak oleh dogma agamanya sendiri, bahwa kenikmatan duniawi maupun kenikmatan indria adalah pemberian “nikmat” dari Allah, sehingga mengapa di-haram-kan? Jadilah mereka tidak pernah mampu melihat adanya bahaya dibalik kenikmatan indria, lalu melekat padanya, memiliki kerinduan terhadapnya, keinginan secara serakah ingin memiliki / menguasainya, demam terhadapnya, hingga taraf kecanduan, dimana bahkan racun-adiktif paling beracun berupa dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” dipandang sebagai “halal” serta dipromosikan sebagai “halal lifestyle”.

Seorang Bayi yang “Harmless” Masih Lebih Suci daripada Umat Muslim maupun Nabi Rasul Allah yang Mencandu-Berat PENGHAPUSAN DOSA

Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian, kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.” [SANG BUDDHA]

Question : Ketika ada seorang ayah kandung, memerkosa puteri kandungnya sendiri, maka sang ayah akan dipidana penjara dan dihukum sanksi sosial oleh masyarakat. Alasannya, karena nyawa dan hidup sang anak, bukanlah milik sang ayah. Namun, mengapa logika yang sama, seolah tidak belaku dalam kasus penyembelihan oleh Ibrahim terhadap putera kandungnya, Ismail. Atau sebaliknya, mengapa logika dibalik peristiwa penyembelihan oleh Ibarhim terhadap Ismail, tidak diterapkan dalam konstruksi peristiwa pemerkosaan oleh seorang ayah terhadap puteri kandungnya?

Kodratnya Pendosa, ya MASUK NERAKA. Agama DOSA dengan Dogma KORUP Iming-Iming “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSAWAN, tentunya), mencoba Menyimpangi Kodrat

Kodratnya KORUPTOR-DOSA—dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi—Jelas MASUK NERAKA

Kodratnya Korban para Pendosa tersebut, ialah Mendapatkan Keadilan dengan Hukuman bagi yang Berdosa

Question : Para muslim kerap sok agamais dan juga merasa paling superior, seolah “polisi moral” yang berhak menghakimi maupun menceramahi pihak lain perihal akhlak, moral, maupun larangan dosa. Misalnya mereka melarang fenomena sosial semacam homoseksual maupun lesbian. Itu melanggar kodrat manusia, kata mereka. Bahkan mereka seolah hendak berkata, bhikkhu monastik yang hidup selibat, adalah juga melanggar kodrat manusia. Pernah terjadi di Indonesia, ada anggota militer yang lewat putusan pengadilan, diizinkan berganti gender karena hasil uji penelitian genetiknya membuktikan bahwa yang yang bersangkutan adalah seorang dengan gender yang berbeda dari penampakan tubuh fisiknya.

OVERDOSIS CANDU PENGHAPUSAN DOSA, Umat Muslim dan Nabi Rasul Allah adalah PENDOSA-BERAT & PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA

Hanya PENDOSA-BERAT, yang KECANDUAN-BERAT DOGMA PENGHAPUSAN DOSA

Mabuk dan Kecanduan-Berat Dogma Korup “PENGHAPUSAN DOSA” karena Dosa-Dosanya telah Menggunung “Too Big to Fall

Question : Setiap harinya, umat muslim ritual doa penghapusan dosa. Setiap tahunnya, umat muslim puasa ramadhan dimana konsumsi meningkat drastis dan kerja malas-malasan namun berdelusi “dosa setahun dihapuskan”, liburan ke Mekkah (haji ataupun umroh) dengan harapan dosa-dosa sebelumnya terhapuskan, lalu saat meninggal dunia sanak-keluarga almarhum sang pendosawan tersebut berdoa memohon agar almarhum dihapuskan dosa-dosanya semasa hidup. Tidak pernah sekalipun mereka memikirkan kepentingan korban-korban mereka yang telah pernah mereka sakiti, lukai, maupun rugikan.

Melampaui Rasa Takut dan Tetap Bersikap Tenang, sebuah Puisi Inspiratif

HERY SHIETRA, Melampaui Rasa Takut dan Tetap Bersikap Tenang

Ada seseorang,

Orang biasa,

Ketika ditanya,

Kamu takut?

Ia menjawab,

Tidak.

Ia tetap bersikap tenang,

Dan menghadapi apa yang harus ia hadapi.