Tidak Ada Kemajuan dalam Perilaku maupun Moralitas dalam Agama Samawi, yang Ada hanyalah KEMEROSOTAN MORAL & PERILAKU
Ketika seseorang umat justru diajarkan untuk TIDAK melihat dengan takut bahkan pada pelanggaran yang terkecil, maka adalah delusif kita berharap agar mereka mampu menjaga pintu-pintu indria mereka, tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran yang lebih besar, mendisiplinkannya, menjadi bermoral, terkendali melalui pengendalian, terlebih sempurna dalam perilaku. Itulah yang terjadi pada umat agama samawi, berkat “dogma-dogma KORUP” agama samawi—babi, haram. Namun “PENGHAPUSAN DOSA”, halal lifestyle.
Menurut akal-sehat
serta hati-nurani Anda, apa jadinya bila warga binaan (narapidana) di lembaga
pemasyarakatan (penjara) justru diberi “pembinaan” berupa dogma-dogma “Agama
DOSA” berikut yang tanpa malu maupun tabu mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA”
(bagi KORUPTOR DOSA, dimana dosa-dosa pun dikorupsi) alih-alih mengkampanyekan
gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat?—kesemuanya dikutip dari Hadis
Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Berkebalikan dengan agama samawi, Buddhisme menekankan latihan berupa disiplin-diri
untuk mampu “melihat dengan takut bahkan pada pelanggaran yang terkecil”
sekalipun. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
~
SUTTA 107 ~
Gaṇakamoggallāna Sutta: Kepada
Gaṇaka Moggallāna
[1] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra. Kemudian Brahmana Gaṇaka Moggallāna mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada
Sang Bhagavā:
2. “Guru Gotama, di Istana Ibunya Migāra ini dapat terlihat latihan
bertahap, praktik bertahap, dan kemajuan bertahap, yaitu, hingga ke anak tangga
terakhir. Di antara para brahmana juga, dapat terlihat latihan bertahap,
praktik bertahap, dan kemajuan bertahap, yaitu, dalam hal belajar. Di antara
para pemanah juga, dapat terlihat latihan bertahap … yaitu, dalam hal memanah.
Dan juga di antara para akuntan seperti kami, yang berpenghidupan dari
akuntansi, dapat terlihat latihan bertahap … yaitu, dalam hal penghitungan.
Karena ketika kami menerima seorang murid pertama-tama kami mengajarinya
berhitung: satu satu, dua dua, tiga tiga, empat empat, lima lima, enam enam, tujuh
tujuh, delapan delapan, sembilan sembilan, sepuluh sepuluh; dan kami
mengajarinya menghitung seratus juga. Sekarang apakah mungkin, Guru Gotama,
untuk menjelaskan latihan bertahap, praktik bertahap, dan kemajuan bertahap
dalam Dhamma dan Disiplin ini?” [2]
[Kitab Komentar : Perihal frasa “hingga ke anak
tangga terakhir”, adalah tidak mungkin membangun istana bertingkat tujuh dalam
satu hari. Begitu lahan dibersihkan, sejak saat fondasi dibangun hingga
pekerjaan mengecat diselesaikan terdapat kemajuan bertahap.]
3. “Mungkin saja, Brahmana, untuk menjelaskan latihan bertahap, praktik
bertahap, dan kemajuan bertahap dalam Dhamma dan Disiplin ini. Seperti halnya,
Brahmana, ketika seorang pelatih kuda yang terampil mendapatkan seekor anak kuda
berketurunan murni yang baik, pertama-tama ia membiasakannya memakai kekang,
dan selanjutnya ia melatihnya lebih lanjut, demikianlah ketika Sang Tathāgata
mendapatkan seseorang untuk dijinakkan pertama-tama Beliau mendisiplinkannya
sebagai berikut: ‘Marilah, Bhikkhu, jadilah
bermoral, terkendali melalui pengendalian Pātimokkha, jadilah sempurna dalam
perilaku dan tempat yang dikunjungi, dan melihat dengan takut bahkan pada
pelanggaran yang terkecil, berlatih dengan menjalankan aturan-aturan latihan.’
[Kitab Komentar : Perihal “seekor anak kuda
berketurunan murni yang baik, pertama-tama ia membiasakannya memakai kekang,
dan selanjutnya ia melatihnya lebih lanjut”, dapat dibaca pada Majjhima Nikāya sutta
65 paragraf ke-33, yakni dengan kutipan sebagai berikut:
33. “Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang
cerdas memperoleh seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama
ia membuatnya terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu
dibiasakan mengenakan tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum
pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan
memberontak, namun
melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam
tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terbiasa mengenakan
perlengkapan kuda. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan perlengkapan
kuda, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia
memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui
pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam
tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam
tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terlatih dalam melangkah,
dalam berlari berputar, dalam mengangkat kedua kaki depannya, dalam menderap,
dalam menyerang, dalam kualitas-kualitas kerajaan, dalam budaya kerajaan, dalam
kecepatan tertinggi, dalam ketangkasan tertinggi, dalam kelembutan tertinggi. Sewaktu
kuda muda itu dibiasakan melakukan hal-hal ini, karena ia melakukan sesuatu
yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan,
menggeliat, dan memberontak, namun
melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika
kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan-tindakan itu, sang pelatih
kuda lebih jauh menghadiahinya dengan pijatan dan perawatan. Ketika seekor kuda
muda jantan dari keturunan murni memiliki sepuluh faktor ini, ia layak menjadi
milik raja, layak melayani raja, dan dianggap sebagai salah satu faktor seorang
raja.”]
4. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu menjadi bermoral … dan melihat dengan
takut bahkan pada pelanggaran yang terkecil, berlatih dengan menjalankan
aturan-aturan latihan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih
lanjut: ‘Marilah,
Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat suatu bentuk dengan mata,
jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan
indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa
ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya,
jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata. Ketika mendengar
suatu suara dengan telinga ... Ketika mencium suatu bau-bauan dengan hidung ...
Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh suatu
objek sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran,
jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan
indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa
ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya,
jagalah indria pikiran, jalankanlah pengendalian indria pikiran.’
5. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah menjaga pintu-pintu indrianya,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
makanlah secukupnya. Dengan merenungkan secara bijaksana, engkau harus memakan makanan
bukan demi kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi keindahan dan
kemenarikan fisik, melainkan hanya demi ketahanan dan kelangsungan tubuh ini,
untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, dan untuk membantu dalam kehidupan suci, dengan
merenungkan:”Demikianlah aku akan menghentikan perasaan lama tanpa
membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan aku
dapat hidup dalam kenyamanan.”’
6. “Ketika, [3] Brahmana, bhikkhu itu telah terkendali dalam hal makanan,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
tekunilah keawasan. Selama siang hari, selagi berjalan mondar-mandir dan duduk,
murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Selama jaga pertama malam hari, selagi berjalan
mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang
merintangi. Selama jaga pertengahan malam hari engkau harus berbaring di sisi
kanan dalam postur singa dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam pikiranmu waktu untuk terjaga.
Setelah terjaga, selama jaga ke tiga malam hari, selagi berjalan mondar-mandir
dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi.’
7. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah menekuni keawasan, kemudian
Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
milikilah perhatian penuh dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika
berjalan maju dan mundur; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika melihat
ke depan dan melihat ke belakang; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika
menekuk dan meregangkan bagian-bagian tubuhmu; bertindaklah dalam kewaspadaan
penuh ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu;
bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan dan
mengecap; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar dan buang
air kecil; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri,
duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.’
8. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah memiliki perhatian penuh dan
kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut:
‘Marilah, Bhikkhu, datangilah tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon,
gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang
terbuka, tumpukan jerami.’
9. “Ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan … tumpukan jerami.
Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia duduk
bersila, menegakkan tubuh, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan
akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan
pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia
berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih terhadap
kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan
dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan
pikiran yang bebas dari kelambanan dan ketumpulan, mempersepsikan cahaya, penuh
perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan.
Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa terganggu
dengan batin yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan
penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan,
tanpa kebingungan sehubungan dengan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan
pikirannya dari keragu-raguan. [4]
10. “Setelah
meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-sempurnaan pikiran yang melemahkan
kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari
kondisi kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama,
yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri
dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya sukacita,
ia berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih
merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga
yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang
memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan
kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya dari kegembiraan dan kesedihan, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan kesakitan juga
bukan kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.
11. “Ini adalah instruksiKu, Brahmana, kepada para bhikkhu yang berada
pada tahap latihan yang lebih tinggi, yang batinnya masih belum mencapai
tujuan, yang berdiam dengan bercita-cita untuk mencapai keamanan tertinggi dari
belenggu. Tetapi hal-hal ini berperan pada kediaman yang nyaman di sini dan
saat ini serta pada perhatian dan kewaspadaan penuh bagi para bhikkhu yang adalah
para Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani
kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan
beban, telah mencapai tujuan mereka, telah menghancurkan belenggu-belenggu
penjelmaan, dan telah terbebaskan sepenuhnya melalui pengetahuan akhir.”
[Kitab Komentar : Walaupun langkah-langkah praktik
sebelumnya adalah suatu hal yang diperlukan bagi para bhikkhu yang berlatih
untuk mencapai Kearahantaan, namun hal-hal itu juga bermanfaat bagi para
Arahant dalam hal peranannya dalam “kediaman yang nyaman di sini dan saat ini.”
Kitab Komentar mengidentifikasi “kediaman” ini
sebagai pencapaian buah Kearahantaan, dan menjelaskan bahwa beberapa Arahant
dapat memasuki buah dengan mudah pada setiap saat sementara yang lainnya harus
mengerahkan diri mereka dengan tekun untuk menjalani tahapan praktik untuk
memasuki buah.]
12. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna bertanya kepada Sang Bhagavā: “Ketika para siswa Guru Gotama
dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian, apakah mereka semuanya
mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, atau apakah beberapa di antara mereka tidak
mencapainya?”
“Ketika, Brahmana, mereka dinasihati demikian, diberikan instruksi
demikian, beberapa siswaKu mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa
lainnya tidak mencapainya.”
13. “Guru Gotama, karena Nibbāna ada dan jalan menuju Nibbāna ada dan
Guru Gotama juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika
para siswa Guru Gotama dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian oleh Beliau,
beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa
lainnya tidak mencapainya?”
14. “Sehubungan dengan hal itu, Brahmana, Aku akan mengajukan sebuah
pertanyaan kepadamu sebagai balasan. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu
benar. [5] Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah engkau mengenal baik jalan
menuju Rājagaha?”
“Benar, Guru Gotama, aku mengenal baik jalan menuju Rājagaha.”
“Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seseorang yang hendak pergi ke
Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha,
tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang,
Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat dan engkau akan
sampai di sebuah desa tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan
sampai di sebuah pemukiman tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau
akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan
kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi
demikian olehmu, ia mengambil jalan yang salah dan pergi menuju ke barat.
Kemudian orang ke dua yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan,
aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’
Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha.
Ikutilah selama beberapa saat … dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman,
hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati
dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia tiba dengan selamat di Rājagaha.
Sekarang, Brahmana, karena Rājagaha ada dan jalan menuju Rājagaha ada, dan
engkau juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika
orang-orang itu yang telah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu,
seorang mengambil jalan yang salah dan pergi ke barat dan seorang lainnya
sampai dengan selamat di Rājagaha?” [6]
“Apakah yang dapat kulakukan sehubungan dengan hal itu, Guru Gotama? Aku hanyalah seorang
yang menunjukkan jalan.”
“Demikian pula, Brahmana, Nibbāna ada, dan jalan menuju Nibbāna ada
dan Aku juga ada sebagai penuntun. Namun ketika para siswaKu telah dinasihati
dan diberikan instruksi demikian, beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna,
tujuan Tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya. Apakah yang dapat Kulakukan
sehubungan dengan hal itu, Brahmana? Sang
Tathāgata hanyalah seorang yang menunjukkan jalan.”
[Kitab Komentar : Maggakkhāyī Tathāgato, Sang
Tathāgata hanyalah seorang yang menunjukkan jalan. Bandingkan dengan Dhammapada
276: “Engkau sendiri
yang harus berusaha; Sang Tathāgata hanya menunjukkan jalan.”]
15. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna berkata kepada Sang Bhagavā: “Ada orang-orang yang
tidak berkeyakinan dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah bukan karena keyakinan melainkan untuk mencari
penghidupan, yang palsu, menipu,
curang, congkak, kosong, sombong, berkata-kasar, berbicara-lepas, dengan
organ-organ indria tidak terjaga, makan berlebihan, tidak menekuni keawasan,
tidak mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghargai latihan, hidup dalam kemewahan,
lengah, para pemimpin dalam kemunduran, mengabaikan keterasingan, malas, kurang
gigih, tidak penuh perhatian, tidak penuh kewaspadaan, tidak terkonsentrasi, dengan
pikiran berkeliaran, hampa dari kebijaksanaan, pembual. Guru Gotama tidak
berdiam bersama dengan orang-orang ini.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas, sama seperti dapat
kita jumpai dalam Majjhima Nikāya sutta 5 paragraf ke-32.]
“Tetapi ada anggota-anggota keluarga yang telah meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah karena
keyakinan yang tidak palsu, tidak menipu, tidak
curang, tidak congkak, tidak kosong, tidak sombong, tidak berkata-kasar, tidak
berbicara-lepas; yang dengan organ-organ indria terjaga, makan secukupnya,
menekuni keawasan, memperhatikan kehidupan pertapaan, menghargai latihan, tidak
hidup dalam kemewahan atau lengah, yang tekun menghindari kemunduran, para
pemimpin dalam keterasingan, bersemangat, bersungguh-sungguh, kokoh dalam
perhatian, penuh kewaspadaan, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, memiliki
kebijaksanaan, bukan pembual. Guru Gotama berdiam bersama dengan orang-orang
ini.
16. “Seperti halnya akar orris hitam diakui sebagai akar harum yang
terbaik dan cendana merah diakui sebagai kayu harum terbaik dan melati diakui
sebagai bunga harum terbaik, [7] demikian pula, nasihat Guru Gotama adalah yang
tertinggi di antara ajaran-ajaran masa kini.
[Kitab Komentar : Paramajjadhammesu, adalah yang
tertinggi di antara ajaran-ajaran masa kini. Doktrin dari Gotama adalah
yang terbaik, tertinggi, di antara ajaran-ajaran masa itu — ajaran-ajaran enam
guru lainnya. Namun, Dhamma yang ditemukan dan diutarakan oleh Buddha Gotama adalah
sama dengan Dhamma yang akan ditemukan dan dibabarkan oleh Buddha-Buddha di
masa lampau maupun di masa mendatang.]
17. “Mengagumkan,
Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma
dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan
apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan
pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat
bentuk-bentuk. Aku
berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai
seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” mengaku-ngaku sebagai “the messenger”
karena keyakinan ataukah melainkan untuk mencari penghidupan, yang palsu,
menipu, curang, congkak, kosong, sombong, berkata-kasar, berbicara-lepas,
dengan organ-organ indria tidak terjaga, makan berlebihan, tidak menekuni
keawasan, tidak mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghargai latihan,
hidup dalam kemewahan, lengah, para pemimpin dalam kemunduran, mengabaikan
keterasingan, malas, kurang gigih, tidak penuh perhatian, tidak penuh
kewaspadaan, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran berkeliaran, hampa dari
kebijaksanaan, pembual?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]