Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan meminum
air putih,
Tanpa perlu meminum alkohol,
Maupun minuman kimia bermerek
lainnya.
Ibarat seekor kelinci,
Yang sudah cukup bahagia dapat
memakan wortel yang banyak tumbuh di alam,
Tanpa perlu menjadi predator bagi kehidupan lainnya.
Sementara kaum karnivora,
Harus bersusah payah,
Hanya untuk bisa makan,
Dengan resiko tidak dapat makan
dan kelaparan,
Bila tidak berhasil menangkap
mangsa.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan hidup
seorang diri,
Tanpa perlu seorang pun istri,
Terlebih istri lebih dari satu.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan
berada di dalam rumah saya sendiri,
Tanpa perlu harus berlibur ke
tempat hiburan,
Maupun berkunjung ke luar
negeri.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan mengambil
apa yang memang sudah menjadi hak saya,
Tanpa perlu merampas hak-hak orang
lain,
Terlebih korupsi ataupun menipu.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan mengerti
diri saya sendiri,
Tanpa perlu menuntut diakui
ataupun dimengerti oleh orang lain,
Terlebih ditunjuk untuk menjadi
seorang presiden.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan kemampuan
finansial yang pas-pasan,
Tanpa dana berlebihan,
Maupun dana yang tidak habis
untuk tujuh keturunan.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan berjalan
seorang diri,
Tanpa pengikut maupun pelayan,
Maupun pengagum dan penggemar.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan makan
hanya satu atau dua kali dalam sehari,
Tanpa tiga kali makan dalam
sehari,
Maupun memakan makanan di restoran.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan pakaian
yang sederhana,
Tanpa dilengkapi berbagai
atribut,
Maupun gaya modis terbaru.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan paras
wajah yang biasa,
Tanpa perlu operasi wajah,
Maupun memasang “topeng” (persona)
di depan publik.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan bersikap
sabar,
Tanpa mampu membalas dendam,
Maupun untuk memerintahkan raja
neraka untuk menjebloskan mereka ke neraka.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan kekuatan
manusia biasa,
Tanpa terobsesi untuk menjadi
seorang pahlawan,
Maupun masuk museum.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan kecerdasan
yang rata-rata,
Tanpa perlu disebut sebagai
seorang jenius,
Maupun nama yang diabadikan
dalam sebuah monumen.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan mengandalkan
tangan sendiri,
Tanpa perlu memohon pada pihak
lain,
Maupun kepada Tuhan yang penuh
syarat.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan kehidupan
yang monoton,
Tanpa banyak sensasi,
Maupun drama.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan menjadi
orang baik,
Tanpa menjadi orang jahat,
Terlebih menjadi seorang
pendosa pecandu penghapusan dosa.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan akal
sehat,
Tanpa perlu bisikan-bisikan
makhluk yang tidak jelas,
Maupun ramalan.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan ketidakpastian
dalam hidup,
Tanpa jaminan yang benar akan
selalu menang,
Sekalipun terasa mengecewakan.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan menaklukkan
diri sendiri,
Tanpa perlu menaklukkan pasukan
kerajaan lain,
Maupun membuat tunduk pihak lain.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan memiliki
diri saya sendiri,
Tanpa perlu banyak pendukung,
Maupun pembela.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan berjumpa
orang-orang baik,
Tanpa perlu berjumpa dengan
dewa ataupun bidadari,
Maupun makhluk tidak jelas yang
mengaku-ngaku sebagai Tuhan.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan memberi,
Tanpa mengharap kembali,
Meskipun harus kembali
mengalami pahitnya dikhianati.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan tertawa
kecil,
Tanpa perlu berteriak kepada
dunia betapa berbahagianya diri saya,
Maupun mengumumkannya kepada publik.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan keinginan
yang sedikit,
Tanpa terbenam dan terjerat
dalam banyak keinginan,
Maupun keinginan yang tidak
realistis “too good to be true”.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan sedikit
gelar akademik,
Tanpa perlu mengoleksi sederatan
gelar akademik,
Maupun gelar profesor.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan menjadi
diri sendiri apa adanya,
Tanpa dibuat-buat,
Maupun dipaksa untuk memuaskan
orang lain dan semua orang.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan dua
tangan dan dua kaki,
Tanpa perlu menjadi seperti laba-laba
yang memiliki banyak kaki,
Terlebih memanipulasi orang
lain untuk dieksploitasi.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan memahami
hukum karma,
Tanpa mendapatkan keadilan di
dunia hukum buatan manusia,
Maupun di ruang pengadilan.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan melakukan
ibadah berupa berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan buruk,
Tanpa ritual apapun,
Maupun sembah-sujud kepada
Tuhan manapun.
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan satu
otak dan satu kepala yang jernih,
Tanpa membiarkan pikiran
menjadi keruh,
Terlebih membiarkan pikiran
menjadi kotor.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
