Seni Berbahagia dalam Kebahagiaan yang Membahagiakan

 HERY SHIETRA, Seni Berbahagia dalam Kebahagiaan yang Membahagiakan

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan meminum air putih,

Tanpa perlu meminum alkohol,

Maupun minuman kimia bermerek lainnya.

Ibarat seekor kelinci,

Yang sudah cukup bahagia dapat memakan wortel yang banyak tumbuh di alam,

Tanpa perlu menjadi predator bagi kehidupan lainnya.

Sementara kaum karnivora,

Harus bersusah payah,

Hanya untuk bisa makan,

Dengan resiko tidak dapat makan dan kelaparan,

Bila tidak berhasil menangkap mangsa.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan hidup seorang diri,

Tanpa perlu seorang pun istri,

Terlebih istri lebih dari satu.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan berada di dalam rumah saya sendiri,

Tanpa perlu harus berlibur ke tempat hiburan,

Maupun berkunjung ke luar negeri.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan mengambil apa yang memang sudah menjadi hak saya,

Tanpa perlu merampas hak-hak orang lain,

Terlebih korupsi ataupun menipu.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan mengerti diri saya sendiri,

Tanpa perlu menuntut diakui ataupun dimengerti oleh orang lain,

Terlebih ditunjuk untuk menjadi seorang presiden.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan kemampuan finansial yang pas-pasan,

Tanpa dana berlebihan,

Maupun dana yang tidak habis untuk tujuh keturunan.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan berjalan seorang diri,

Tanpa pengikut maupun pelayan,

Maupun pengagum dan penggemar.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan makan hanya satu atau dua kali dalam sehari,

Tanpa tiga kali makan dalam sehari,

Maupun memakan makanan di restoran.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan pakaian yang sederhana,

Tanpa dilengkapi berbagai atribut,

Maupun gaya modis terbaru.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan paras wajah yang biasa,

Tanpa perlu operasi wajah,

Maupun memasang “topeng” (persona) di depan publik.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan bersikap sabar,

Tanpa mampu membalas dendam,

Maupun untuk memerintahkan raja neraka untuk menjebloskan mereka ke neraka.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan kekuatan manusia biasa,

Tanpa terobsesi untuk menjadi seorang pahlawan,

Maupun masuk museum.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan kecerdasan yang rata-rata,

Tanpa perlu disebut sebagai seorang jenius,

Maupun nama yang diabadikan dalam sebuah monumen.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan mengandalkan tangan sendiri,

Tanpa perlu memohon pada pihak lain,

Maupun kepada Tuhan yang penuh syarat.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan kehidupan yang monoton,

Tanpa banyak sensasi,

Maupun drama.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan menjadi orang baik,

Tanpa menjadi orang jahat,

Terlebih menjadi seorang pendosa pecandu penghapusan dosa.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan akal sehat,

Tanpa perlu bisikan-bisikan makhluk yang tidak jelas,

Maupun ramalan.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan ketidakpastian dalam hidup,

Tanpa jaminan yang benar akan selalu menang,

Sekalipun terasa mengecewakan.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan menaklukkan diri sendiri,

Tanpa perlu menaklukkan pasukan kerajaan lain,

Maupun membuat tunduk pihak lain.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan memiliki diri saya sendiri,

Tanpa perlu banyak pendukung,

Maupun pembela.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan berjumpa orang-orang baik,

Tanpa perlu berjumpa dengan dewa ataupun bidadari,

Maupun makhluk tidak jelas yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan memberi,

Tanpa mengharap kembali,

Meskipun harus kembali mengalami pahitnya dikhianati.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan tertawa kecil,

Tanpa perlu berteriak kepada dunia betapa berbahagianya diri saya,

Maupun mengumumkannya kepada publik.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan keinginan yang sedikit,

Tanpa terbenam dan terjerat dalam banyak keinginan,

Maupun keinginan yang tidak realistis “too good to be true”.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan sedikit gelar akademik,

Tanpa perlu mengoleksi sederatan gelar akademik,

Maupun gelar profesor.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan menjadi diri sendiri apa adanya,

Tanpa dibuat-buat,

Maupun dipaksa untuk memuaskan orang lain dan semua orang.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan dua tangan dan dua kaki,

Tanpa perlu menjadi seperti laba-laba yang memiliki banyak kaki,

Terlebih memanipulasi orang lain untuk dieksploitasi.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan memahami hukum karma,

Tanpa mendapatkan keadilan di dunia hukum buatan manusia,

Maupun di ruang pengadilan.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan melakukan ibadah berupa berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan buruk,

Tanpa ritual apapun,

Maupun sembah-sujud kepada Tuhan manapun.

Sungguh saya berbahagia,

Dapat bahagia cukup dengan satu otak dan satu kepala yang jernih,

Tanpa membiarkan pikiran menjadi keruh,

Terlebih membiarkan pikiran menjadi kotor.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.