“Aggivessana, bagaimana mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria, menikmati kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran kenikmatan indria, ditelan oleh pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan indria, dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak mungkin.” [SANG BUDDHA]
Question : Apakah mungkin, seseorang pecandu dogma korup semacam “penghapusan dosa”, disaat bersamaan bukanlah seorang pecandu dosa?
Brief
Answer : Manakah yang lebih
dahulu, “berbuat dosa” ataukah “ritual doa penghapusan dosa”? Jelas bahwa tanpa
“berbuat dosa”, maka tiada lagi gunanya ritual “penghapusan dosa”. Mengkampanyekan
dogma korup semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, artinya tidak
mempromosikan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat. Sebaliknya, kaum
suciwan yang terlatih dan terampil dalam disiplin diri yang ketat bernama “self-control”
maupun kaum ksatria yang masih dapat berbuat keliru namun bersikap berani untuk
bertanggung-jawab terhadap korban yang telah pernah ia lukai, sakiti, maupun
rugikan, tidak pernah butuh iming-iming korup semacam demikian.
Babi, mereka
sebut sebagai “haram”. Akan tetapi mengapa terhadap dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN
DOSA”, disebut dan diklaim sebagai “HALAL LIFESTYLE”?! Sekujur tubuh
ditutup busana, “aurat berjalan”, kata mereka. Akan tetapi, mengapa terhadap “AURAT
TERBESAR” seperti berbuat dosa maupun maksiat, atau bahkan meng-korupsi dosa-dosa
dengan menjelma KORUPTOR-DOSA alias mencandu iming-iming KORUP semacam “PENGHAPUSAN
DOSA”, justru tanpa rasa malu ataupun tabu dikampanyekan ke publik secara
vulgar serta dipamerkan secara seronok lewat speaker pengeras suara?
PEMBAHASAN:
Yang layak disebut sebagai
sebagai “Agama SUCI”, ialah agama yang mengajarkan tiada kompromi bagi kejahatan-kejahatan
sekecil apapun. Sebaliknya, agama yang (justru) mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA”
alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat, lebih
patut dan lebih layak diberi merek sebagai “Agama DOSA”. Perhatikan apa yang telah
pernah disabdakan oleh Sang Buddha dalam Sutta Pitaka, Tipitaka, dengan kutipan
sebagai berikut:
“Kemudian Sang Tathāgata
mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, jadilah bermoral, terkendali
dengan pengendalian Pāṭimokkha, sempurna dalam perbuatan dan
tempat-tempat yang dikunjungi, dan melihat dengan takut pada pelanggaran
sekecil apapun, terlatih oleh peraturan-peraturan latihan.’
“Ketika, Aggivessana, siswa
mulia itu telah menjadi bermoral ... dan melihat dengan takut pada pelanggaran
sekecil apapun, terlatih dengan menjalankan peraturan-peraturan latihan,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, jagalah
pintu-pintu indriamu. Ketika melihat bentuk dengan mata, jangan menggenggam
gambaran dan ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria mata tanpa
terjaga, kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan
kesedihan dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendaliannya, jagalah indria
mata, jalankanlah pengendalian indria mata. Ketika mendengar suara dengan
telinga ... Ketika mencium bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap rasa
dengan lidah ... Ketika menyentuh objek-sentuhan dengan badan ... Ketika
mengenali objek-pikiran dengan pikiran, jangan menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria pikiran tanpa terjaga,
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendalian, jagalah indria pikiran,
jalankanlah pengendalian indria pikiran.’
“Setelah meninggalkan kelima
rintangan, ketidak-sempurnaan pikiran ini yang melemahkan kebijaksanaan, ia
berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan,
dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan
dengan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan ...
pikiran sebagai pikiran ... objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran,
tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan
ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.
“Kemudian Sang Tathāgata
mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, berdiamlah dengan merenungkan
jasmani sebagai jasmani, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan
indria. Berdiamlah dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tetapi jangan
memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan
pikiran sebagai pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan
indria. Berdiamlah dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek
pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria.’”
Khotbah lengkap Sang
Buddha dalam sutta tersebut, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 125 ~
Dantabhūmi
Sutta : Tingkatan Kejinakan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
2. Pada saat itu Samaṇera Aciravata sedang menetap di sebuah gubuk hutan.
Kemudian Pangeran Jayasena, sewaktu berjalan-jalan untuk berolah-raga,
mendatangi Samaṇera Aciravata dan saling bertukar sapa dengannya.
Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Samaṇera Aciravata: “Guru Aggivessana, aku telah mendengar bahwa seorang
bhikkhu yang
berdiam di sini yang rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai
keterpusatan pikiran.”
[Kitab Komentar mengidentifikasikan Pangeran
Jayasena sebagai seorang putera Raja Bimbisāra.]
“Demikianlah, Pangeran, demikianlah. Seorang bhikkhu yang berdiam di sini
yang rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai keterpusatan pikiran.”
3. “Baik sekali jika Guru Aggivessana dapat mengajarkan kepadaku Dhamma seperti
yang telah ia dengar dan kuasai.”
“Aku tidak dapat mengajarkan Dhamma kepadamu, Pangeran, seperti yang
kudengar dan kukuasai. Karena jika aku mengajarkan Dhamma kepadamu seperti yang
kudengar dan kukuasai, engkau tidak dapat memahami kata-kataku, dan hal itu
akan melelahkan dan merepotkan aku.” [129]
4. “Sudilah Guru Aggivessana mengajarkan kepadaku Dhamma seperti yang
telah ia dengar dan kuasai. Mungkin aku dapat memahami makna dari
kata-katanya.”
“Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu, Pangeran, seperti yang kudengar
dan kukuasai. Jika engkau dapat memahami makna dari kata-kataku, maka itu
bagus. Tetapi jika engkau tidak dapat memahami maknanya, maka biarkanlah
demikian dan jangan bertanya kepadaku lebih lanjut.”
“Sudilah Guru Aggivessana mengajarkan kepadaku Dhamma seperti yang telah
ia dengar dan kuasai. Jika aku dapat memahami makna dari kata-katanya, maka itu
bagus. Tetapi jika aku tidak dapat memahami maknanya, maka aku akan
membiarkannya demikian dan aku tidak akan bertanya kepadanya lebih lanjut.”
5. Kemudian Samaṇera Aciravata mengajarkan Dhamma kepada Pangeran
Jayasena seperti yang ia dengar dan ia kuasai. Setelah ia selesai berbicara,
Pangeran Jayasena berkata: “Mustahil, Guru Aggivessana, tidak mungkin terjadi
bahwa seorang bhikkhu yang
berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai keterpusatan
pikiran.”
Kemudian setelah menyatakan kepada Samaṇera Aciravata bahwa hal ini mustahil dan tidak mungkin terjadi, Pangeran
Jayasena bangkit dari duduknya dan pergi.
6. Segera setelah Pangeran Jayasena pergi, Samaṇera Aciravata menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Sang
Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan melaporkan kepada Sang Bhagavā tentang
keseluruhan percakapannya dengan Pangeran Jayasena. Ketika ia telah selesai,
Sang Bhagavā berkata kepadanya:
7. “Aggivessana,
bagaimana mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan
indria, menikmati kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran kenikmatan indria,
ditelan oleh pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan indria,
[130] dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui
pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui
pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak
mungkin.
8. “Misalkan,1175 Aggivessana, terdapat dua ekor gajah, kuda, atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah, kuda, atau
sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak disiplin. Bagaimana
menurutmu, Aggivessana? Apakah kedua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat
dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku yang
jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?” - “Benar, Yang
Mulia.” – “Tetapi
Apakah kedua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak
dan tidak disiplin, karena tidak jinak, dapat memiliki perilaku yang jinak,
apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak, seperti dua ekor gajah,
kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Aggivessana, adalah
tidak mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan
indria ... dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui
melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai
melalui pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian.
9. “Misalkan,
Aggivessana, terdapat sebuah gunung tinggi tidak jauh dari sebuah desa atau
pemukiman, dan dua sahabat meninggalkan desa atau pemukiman itu dan
bersama-sama pergi mendatangi gunung itu. Setelah sampai di sana, salah satu
sahabat tetap berada di kaki gunung sementara yang lainnya akan mendaki ke
puncak gunung. Kemudian sahabat yang berada di kaki gunung akan berkata kepada
sahabat yang berdiri di puncak gunung: ‘Sahabat, apakah yang engkau lihat,
dengan berdiri di puncak gunung?’ Dan yang lainnya menjawab: ‘Dengan berdiri di
puncak gunung, Sahabat, aku melihat taman-taman yang indah, semak belukar yang
indah, padang rumput-padang rumput yang indah, dan kolam-kolam yang indah.’
Kemudian sahabat pertama berkata: ‘Mustahil, [131] Sahabat, tidak mungkin
terjadi bahwa dengan berdiri di puncak gunung engkau dapat melihat taman-taman
yang indah, semak belukar yang indah, padang rumput-padang rumput yang indah,
dan kolam-kolam yang indah.’
“Kemudian
sahabat ke dua turun ke kaki gunung, menarik tangan sahabatnya, dan mendaki ke
puncak gunung. Setelah memberinya beberapa saat untuk menarik nafas, ia
bertanya: ‘Baiklah, Sahabat, dengan berdiri di puncak gunung, apakah yang
engkau lihat?’ Dan sahabatnya menjawab: ‘Dengan berdiri di puncak gunung,
Sahabat, aku melihat taman-taman yang indah, semak belukar yang indah, padang rumput-padang
rumput yang indah, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian yang lain berkata:
‘Sahabat, baru saja tadi kami mendengar engkau berkata: “Mustahil, Sahabat,
tidak mungkin terjadi bahwa dengan berdiri di puncak gunung engkau dapat
melihat taman-taman yang indah ... kolam-kolam yang indah.”’ Kemudian sahabat
pertama menjawab: ‘Karena aku terhalang oleh gunung tinggi ini, aku tidak
melihat apa yang terlihat di sana.’
10. “Demikian
pula, Aggivessana, Pangeran Jayasena dihalangi, dirintangi, diblokir, dan
diselimuti oleh kumpulan yang lebih besar daripada ini – kumpulan
ketidak-tahuan. Dengan demikian adalah tidak mungkin bahwa Pangeran Jayasena,
yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria ... dapat mengetahui, melihat,
atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat
melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus
melalui pelepasan keduniawian.
11. “Aggivessana, jika kedua perumpamaan ini telah terpikirkan olehmu
[sehubungan] dengan Pangeran jayasena, maka ia akan secara spontan berkeyakinan
padamu, dan karena berkeyakinan, maka ia akan memperlihatkan keyakinannya
kepadamu.”
“Yang Mulia, bagaimana mungkin kedua perumpamaan ini terpikirkan olehku
[sehubungan] dengan Pangeran Jayasena seperti terpikirkan oleh Sang Bhagavā,
karena kedua perumpamaan ini muncul secara spontan dan belum pernah terdengar
sebelumnya?”
[132] 12. “Misalkan, Aggivessana, seorang raja mulia yang sah berkata
kepada pemburu gajahnya sebagai berikut: ‘Pemburu gajah, tunggangilah gajah
raja, pergilah ke hutan gajah, dan ketika engkau melihat seekor gajah hutan,
ikatlah gajah itu di lehernya pada gajah raja.’ Setelah menjawab ‘Baik,
Baginda,’ pemburu gajah itu menunggangi gajah raja, pergi ke hutan gajah, dan
ketika ia melihat seekor gajah hutan, ia mengikat gajah itu di lehernya pada
gajah raja. Gajah raja menuntunnya menuju ruang terbuka. Dengan cara inilah
gajah hutan itu keluar ke ruang terbuka; karena gajah hutan itu melekat pada
hutan gajah.
“Kemudian pemburu gajah itu memberitahu raja: ‘Baginda, gajah hutan telah
keluar ke ruang terbuka.’ Raja memanggil penjinak gajah sebagai berikut:
‘Pergilah, Penjinak-gajah, jinakkan gajah hutan itu, tundukkanlah
kebiasaan-kebiasaan hutannya, taklukkanlah ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak
hutannya, hilangkanlah kesedihan, keletihan, dan demam karena meninggalkan
hutan. Buatlah agar gajah itu senang di kota, tanamkan padanya
kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia.’ Setelah menjawab ‘Baik, Baginda,’
penjinak gajah itu menanam sebuah tiang besar di tanah dan mengikat gajah hutan
itu pada tiang itu di lehernya untuk menundukkan kebiasaan-kebiasaan hutannya
... dan untuk menanamkan padanya kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia.
“Kemudian si penjinak gajah berkata kepada gajah itu dengan kata-kata
yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin,
sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Ketika gajah hutan
itu [133] mendengar kata-kata demikian, ia mendengarkan, menyimak dan
mengarahkan pikirannya untuk memahami. Si penjinak gajah selanjutnya memberinya
hadiah berupa makanan dan air. Ketika gajah hutan itu menerima makanan dan air darinya,
penjinak gajah itu mengetahui: ‘Sekarang gajah raja ini akan hidup!’
“Kemudian si penjinak gajah melatih gajah itu lebih jauh lagi sebagai
berikut: ‘Angkat, turunkan!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si
penjinaknya untuk mengangkat dan menurunkan dan melaksanakan instruksinya, si
penjinak gajah melatihnya lebih jauh sebagai berikut: ‘Maju, mundur!’ Ketika
gajah raja itu mematuhi perintah si penjinaknya untuk berjalan maju dan mundur
dan melaksanakan instruksinya, si penjinak gajah melatihnya lebih jauh sebagai
berikut: ‘Berdiri, duduk!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si
penjinaknya untuk berdiri dan duduk dan melaksanakan instruksinya, si penjinak
gajah melatihnya lebih jauh dalam tugas yang disebut ketanpa-gangguan. Ia mengikatkan sebilah papan besar pada
belalainya; seorang laki-laki dengan tombak di tangan duduk di lehernya;
orang-orang dengan tombak di tangan mengelilinginya di segala sisi; dan si
penjinak gajah berdiri di depannya dengan memegang tombak panjang. Ketika gajah
itu sedang dilatih dalam tugas ketanpa-gangguan, ia tidak menggerakkan kaki depan atau kaki
belakangnya; ia tidak menggerakkan bagian tubuh depan atau belakangnya; ia
tidak menggerakkan kepalanya, telinganya, gadingnya, ekornya, atau belalainya.
Gajah raja itu mampu menahankan serangan tombak, serangan pedang, serangan anak
panah, serangan dari makhluk lain, dan gelegar suara tambur, genderang dan terumpet.
Karena bebas dari segala cacat dan kekurangan, bersih dari kerusakan, ia layak
menjadi gajah raja, layak melayani raja, dianggap sebagai salah satu faktor
seorang raja. [134]
13-14. “Demikian pula Aggivessana, seorang
Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam
pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang
tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Beliau menyatakan dunia ini bersama para dewa, Māra,
dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran
dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan
pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal,
indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang
benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna
sepenuhnya.
“Seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga atau seorang yang terlahir
dari beberapa suku lainnya mendengarkan Dhamma itu. Ketika mendengarkan Dhamma
itu ia
memperoleh keyakinan dalam
Sang Tathāgata. Dengan
memiliki keyakinan itu, ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan
berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi
hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan
sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut
dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Kemudian pada kesempatan
lain, dengan
meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang
banyak atau sedikit, ia
mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Adalah dengan cara ini
seorang siswa mulia keluar ke ruang terbuka; karena para dewa dan manusia melekat
pada kelima utas kenikmatan indria.
15. “Kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
jadilah bermoral, terkendali dengan pengendalian Pāṭimokkha, sempurna dalam
perbuatan dan tempat-tempat yang dikunjungi, dan melihat dengan takut pada
pelanggaran sekecil apapun, terlatih oleh peraturan-peraturan latihan.’
16. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjadi bermoral ... dan
melihat dengan takut pada pelanggaran sekecil apapun, terlatih dengan menjalankan
peraturan-peraturan latihan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih
jauh: ‘Marilah,
Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat bentuk dengan mata,
jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan
indria mata tanpa terjaga, kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa
ketamakan dan kesedihan dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendaliannya,
jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata. Ketika mendengar suara
dengan telinga ... Ketika mencium bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap
rasa dengan lidah ... Ketika menyentuh objek-sentuhan dengan badan ... Ketika
mengenali objek-pikiran dengan pikiran, jangan menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria pikiran tanpa terjaga,
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendalian, jagalah indria pikiran,
jalankanlah pengendalian indria pikiran.’
17. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjaga pintu-pintu
indrianya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
makanlah secukupnya. Dengan merenungkan dengan bijaksana, seorang siswa mulia
memakan makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi
kecantikan dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan
tubuh ini, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, untuk menunjang kehidupan suci, dengan
mempertimbangkan: “Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama tanpa
membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan dapat
hidup dalam kenyamanan.”’
18. “Ketika, [135] Aggivessana, siswa mulia itu telah menjalani praktik
makan secukupnya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
tekunilah keawasan. Selama siang hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk,
murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertama malam
hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari
kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertengahan malam hari engkau harus
berbaring di sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki
lainnya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam
pikirannya waktu untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga ke tiga malam hari,
sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari
kondisi-kondisi yang merintangi.’
19. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menekuni keawasan,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
milikilah perhatian dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dengan penuh
kewaspadaan ketika berjalan maju dan mundur ... ketika melihat ke depan dan ke
belakang ... ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuh ... ketika
mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu ... ketika makan, minum,
mengunyah makanan, dan mengecap ... ketika buang air besar dan buang air kecil
... ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan
berdiam diri.’
20. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah memiliki perhatian dan
kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh:
‘Marilah, Bhikkhu, datangilah tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon,
gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang
terbuka, tumpukan jerami.’
21. “Ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan ... tumpukan
jerami. Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia
duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan
ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia
memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan
kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih
demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari
permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia
berdiam dengan bebas dari kelambanan dan ketumpulan, mempersepsikan cahaya,
penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari
kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia
berdiam dengan tanpa terganggu dengan pikiran yang damai; ia memurnikan
pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. [136] Dengan meninggalkan
keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, kebingungan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang bermanfaat; ia memurnikan pikirannya
dari keragu-raguan.
22. “Setelah
meninggalkan kelima rintangan, ketidak-sempurnaan pikiran ini yang melemahkan
kebijaksanaan, ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun,
penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan
kesedihan sehubungan dengan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan
sebagai perasaan ... pikiran sebagai pikiran ... objek-objek pikiran sebagai
objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah
menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.
[Kitab Komentar : Perumpamaan seperti pada Majjhima
Nikāya 90, Kaṇṇakatthala Sutta, dengan kutipan sebagai berikut:
11. “Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia,
para brahmana, para pedagang, [129] dan para pekerja. Sekarang jika mereka
memiliki kelima faktor usaha ini, apakah ada perbedaan di antara mereka?”
“Di sini, Baginda, Aku katakan bahwa perbedaan di
antara mereka terletak pada keberagaman usaha mereka. Misalkan terdapat dua
ekor gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
tidak jinak dan tidak disiplin. Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah kedua ekor
gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku
yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Dan apakah kedua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
tidak jinak dan tidak disiplin, karena tidak jinak, dapat memiliki perilaku
yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat jinak seperti kedua ekor
gajah atau kedua ekor kuda atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan
disiplin?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Demikian pula, Baginda, tidaklah mungkin bahwa
apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki keyakinan, yang bebas dari
penyakit, yang jujur dan tulus, yang bersemangat, dan yang bijaksana, dapat dicapai
oleh seseorang yang tidak memiliki keyakinan, yang memiliki penyakit, yang
curang dan penuh muslihat, yang malas, dan yang tidak bijaksana.”]
23. “Seperti halnya, Aggivessana, penjinak gajah yang menanam sebuah
tiang besar di tanah dan mengikatkan leher gajah hutan pada tiang itu untuk
menundukkan kebiasaan-kebiasaan hutannya ... dan untuk menanamkan padanya
kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia, demikian pula empat landasan
perhatian ini adalah pengikat pikiran siswa mulia itu untuk menundukkan
kebiasaan-kebiasaannya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, untuk
menaklukkan ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak yang berdasarkan pada
kehidupan rumah tangga, untuk menghilangkan kesedihan, keletihan, dan demam
yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, dan agar ia dapat mencapai jalan
sejati dan mencapai Nibbāna.
24. “Kemudian
Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, berdiamlah dengan
merenungkan jasmani sebagai jasmani, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran
keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan,
tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah dengan
merenungkan pikiran sebagai pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran
keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai
objek-objek pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan
indria.’
[Kitab Komentar : Perhatikan bahwa di sini empat
landasan perhatian dijelaskan di tempat yang biasanya ditempati oleh empat
jhāna.]
25. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya sukacita ... ia masuk dan
berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan
... ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat.
26. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan,
lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya
pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan
lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran,
lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran,
empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu
kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa
pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana
aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku
seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku
seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia
mengingat banyak kehidupan lampau.
27. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali
makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang
berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia,
keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan
mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi
buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi
makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar
dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan
mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan
perbuatan mereka.
28. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’;
ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami
sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya:
‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
29. “Ketika
ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan
muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
30. “Bhikkhu
itu mampu menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, dan kontak dengan lalat,
nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia mampu menahankan
ucapan-kasar, kata-kata yang tidak menyenangkan dan perasaan [137] jasmani yang
telah muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, tidak menyenangkan,
menyusahkan, dan mengancam kehidupan. Karena bebas dari segala nafsu,
kebencian, dan delusi, bersih dari kerusakan, ia menjadi layak menerima
pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima
penghormatan, suatu lahan jasa yang tiada taranya bagi dunia.
31. “Jika,
Aggivessana, gajah raja itu mati di usia tua dalam keadaan tidak jinak dan
tidak disiplin, maka ia dianggap sebagai seekor gajah tua yang mengalami
kematian yang tidak jinak. Jika gajah raja itu mati di usia pertengahan dalam
keadaan tidak jinak dan tidak disiplin, maka ia dianggap sebagai seekor gajah
usia pertengahan yang mengalami kematian yang tidak jinak. Jika gajah raja itu mati
di usia muda dalam keadaan tidak jinak dan tidak disiplin, maka ia dianggap
sebagai seekor gajah muda yang mengalami kematian yang tidak jinak. Demikian
pula, Aggivessana, jika seorang bhikkhu tua mati dengan noda-nodanya belum
dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu tua yang mengalami
kematian yang tidak jinak. Jika seorang bhikkhu berstatus menengah mati dengan
noda-nodanya belum dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu berstatus
menengah yang mengalami kematian yang tidak jinak. Jika seorang bhikkhu yang
baru ditahbiskan mati dengan noda-nodanya belum dihancurkan, maka ia dianggap
sebagai seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan yang mengalami kematian yang
tidak jinak.
32. “Jika,
Aggivessana, gajah raja itu mati di usia tua dalam keadaan jinak dan disiplin,
maka ia dianggap sebagai seekor gajah tua yang mengalami kematian yang jinak.
Jika gajah raja itu mati di usia pertengahan dalam keadaan jinak dan disiplin, maka
ia dianggap sebagai seekor gajah usia pertengahan yang mengalami kematian yang
jinak. Jika gajah raja itu mati di usia muda dalam keadaan jinak dan disiplin,
maka ia dianggap sebagai seekor gajah muda yang mengalami kematian yang jinak.
Demikian pula, Aggivessana, jika seorang bhikkhu tua mati dengan noda-nodanya
telah dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu tua yang mengalami
kematian yang jinak. Jika seorang bhikkhu berstatus menengah mati dengan
noda-nodanya telah dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu
berstatus menengah yang mengalami kematian yang jinak. Jika seorang bhikkhu
yang baru ditahbiskan mati dengan noda-nodanya telah dihancurkan, maka ia
dianggap sebagai seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan yang mengalami kematian
yang jinak.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Samaṇera Aciravata merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, apakah umat agama samawi diajarkan
untuk “jadi bermoral” serta “terkendali”? Apakah mereka diajarkan untuk “melihat
dengan takut pada pelanggaran sekecil apapun, terlatih oleh peraturan-peraturan
latihan”? Apakah mereka diajarkan untuk menjaga pintu-pintu indria ataukah
dibiasakan untuk membiarkan indria pikiran tanpa terjaga serta tanpa kendali,
sehingga kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan
kesedihan menyerang?—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan Anda nilai dengan pikiran jernih serta hati-nurani serta akal sehat Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” bebas dari segala nafsu, kebencian, dan
delusi, bersih dari kerusakan ataukah sebaliknya? Apakah juga sang “nabi rasul
Allah” telah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia,
ataukah sebaliknya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]