Petaka Ramadhan : DOSA-DOSA SETAHUN PARA MUSLIM DIHAPUSKAN, KORBAN HANYA BISA “GIGIT JARI”

Berani Berbuat, namun Tidak Berani Bertanggung-Jawab, alias Mencandu PENGAMPUNAN DOSA bagi Pengecut dan Pecundang Kehidupan

Kecanduan dan Mencandu Ideologi Korup semacam “PENGAMPUNAN DOSA”, adalah Kamma (Perbuatan) Buruk Itu Sendiri

Menghindari Perbuatan Buruk dan Berani Bertanggung-Jawab, adalah Kamma (Perbuatan) Baik itu Sendiri

Question: Bagi para pendosa, ramadhan adalah keajaiban, karena dosa-dosa para muslim selama setahun penuh akan dihapuskan oleh allah. Namun, bukankah itu artinya menjadi berita duka bagi kalangan korban yang selama ini disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim tersebut, karena keadilan dirampas dari mereka oleh allah yang katanya “maha adil”? Tapi mungkin yang paling korup ialah dogma agama nasrani, “penebusan dosa” yang menyerupai “minta maaf terlebih dahulu, sebelum kemudian bebas sebebas-bebasnya berbuat kejahatan”.

Brief Answer: Hanya orang dungu, yang semula adalah “PENDOSA” kemudian menjelma “KORUPTOR DOSA”—dimana dosa-dosa pun dikorupsi—disebut sebagai “keajaiban”. Yang benar-benar “ajaib” ialah, sama sekali tidak menyentuh ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, akan tetapi terlatih dalam disiplin-diri yang ketat bernama “self-control” atau yang berjiwa berani untuk bertanggung-jawab terhadap apa yang diperbuat sendiri oleh seseorang yang masih dapat berbuat keliru seperti menyakiti, merugikan, maupun melukai pihak-pihak lainnya. Karenanya, sang pelaku tidak perlu mengemis-ngemis “pengampunan dosa” dan para korbannya juga tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang pelaku.

PEMBAHASAN:

Adalah faktor KESERAKAHAN, yang menjadi landasan bagi candu “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, sebagaimana dapat kita simpulkan lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

39 (9) Asal-mula

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab ini bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? (1) Keserakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; (2) kebencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; (3) delusi adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

Bukanlah ketidak-serakahan yang berasal-mula dari keserakahan; melainkan, adalah keserakahan yang berasal-mula dari keserakahan. Bukanlah ketidak-bencian yang berasal-mula dari kebencian; melainkan, adalah kebencian yang berasal-mula dari kebencian. Bukanlah ketanpa-delusian yang berasal-mula dari delusi; melainkan, adalah delusi yang berasal-mula dari delusi.

Bukanlah [339] [alam] para deva dan manusia – atau alam tujuan yang baik lainnya – yang terlihat karena kamma yang dihasilkan dari keserakahan, kebencian, dan delusi; melainkan, adalah neraka, alam binatang, dan alam hantu menderita – serta alam tujuan yang buruk lainnya – yang terlihat karena kamma yang dihasilkan dari keserakahan, kebencian, dan delusi. Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.

“Ada, para bhikkhu, tiga penyebab [lainnya] ini bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? (4) Ketidak-serakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; (5) ketidak-bencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; (6) ketanpa-delusian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

Bukanlah keserakahan yang berasal-mula dari ketidak-serakahan; melainkan, adalah ketidak-serakahan yang berasal-mula dari ketidak-serakahan. Bukanlah kebencian yang berasal-mula dari ketidak-bencian; melainkan, adalah ketidak-bencian yang berasal-mula dari ketidak-bencian. Bukanlah delusi yang berasal-mula dari ketanpa-delusian; melainkan, adalah ketanpa-delusian yang berasal-mula dari ketanpa-delusian.

Bukanlah neraka, alam binatang, dan alam hantu menderita – serta alam tujuan yang buruk lainnya –yang terlihat karena kamma yang dihasilkan dari ketidak-serakahan, ketidak-bencian, dan ketanpa-delusian; melainkan, adalah [alam] para deva dan manusia – atau alam tujuan yang baik lainnya – yang terlihat karena kamma yang dihasilkan dari ketidak-serakahan, ketidak-bencian, dan ketanpa-delusian. Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.”

~0~

174 (4) Permusuhan

Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

“Perumah tangga, tanpa meninggalkan lima bahaya dan permusuhan, seseorang disebut tidak bermoral dan terlahir kembali di neraka. Apakah lima ini? Membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan [meminum] minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. [205] Tanpa meninggalkan kelima bahaya dan permusuhan ini, seseorang disebut tidak bermoral dan terlahir kembali di neraka.

“Perumah tangga, setelah meninggalkan lima bahaya dan permusuhan, seseorang disebut bermoral dan terlahir kembali di surga. Apakah lima ini? Membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan [meminum] minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Setelah meninggalkan kelima bahaya dan permusuhan ini, seseorang disebut bermoral dan terlahir kembali di surga.

(1) “Perumah tangga, seseorang yang membunuh karenanya menimbulkan bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, dan juga mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Seseorang yang menghindari membunuh tidak menimbulkan bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, dan juga tidak mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Bagi seseorang yang menghindari membunuh, maka bahaya dan permusuhan itu telah mereda.

(2) “Perumah tangga, seseorang yang mengambil apa yang tidak diberikan … (3) … melakukan hubungan seksual yang salah … (4) … berbohong … (5) … meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, karenanya menimbulkan bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, dan juga mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Seseorang yang menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, tidak menimbulkan bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, dan juga tidak mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Bagi seseorang yang menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, maka bahaya dan permusuhan itu telah mereda.”

Ada orang di dunia ini yang membunuh,

berbohong, dan mengambil apa yang tidak diberikan,

yang mengunjungi istri-istri orang lain,

dan meminum minuman keras dan anggur.

Memendam lima permusuhan dalam dirinya,

ia disebut tidak bermoral.

Dengan hancurnya jasmani,

orang yang tidak bijaksana itu terlahir kembali di neraka.

Tetapi ada orang di dunia

yang tidak membunuh,

tidak berbohong, tidak mengambil apa yang tidak diberikan,

tidak mengunjungi istri-istri orang lain, [206]

dan tidak meminum minuman keras dan anggur.

Setelah meninggalkan kelima permusuhan ini,

ia disebut bermoral,

Dengan hancurnya jasmani,

orang bijaksana itu terlahir kembali di surga.

Berkebalikan dari Buddhisme : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]