“Business as Usual” Umat Agama Samawi : PRODUKSI SEGUDANG DOSA & RITUAL PENGHAPUSAN DOSA
Question: Bila setiap harinya dan setiap hari raya keagamaannya, isi doa dan ritualnya ialah permohonan penghapusan dosa (dogma pengampunan maupun penebusan dosa), maka dimana letak “taubat”-nya, bukankah itu justru menjadi motivasi untuk “business as usual” yakni untuk terus produktif berlomba-lomba mencetak segudang dosa-dosa untuk kemudian dihapuskan, dan disaat bersamaan menjadi demotivasi untuk berhenti serta tidak lagi berbuat dosa maupun maksiat?
Brief
Answer: Yang dimaksud dengan
tobat dalam agama samawi, ialah tobat tidak mencandu ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN
/ PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins). Mereka “taubat”
menjadi manusia yang menghindari perbuatan buruk, mereka juga “taubat” menjadi
manusia yang penuh tanggung-jawab (melawan arus), dimana mereka memilih
menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi (mengikuti arus).
Allah, tidak butuh manusia yang “tobat” dari perbuatan buruk, karena itu sama
artinya iming-iming “umpan” Allah yang “too good to be true” demikian tidak
akan dimakan dan termakan oleh manusia-manusia dungu yang bernama “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” hingga terjerat untuk sepanjang hayatnya.
PEMBAHASAN:
Timbunan dosa-dosa para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut telah
menyerupai “too big to fall” yang tidak lagi tertolong, sebagaimana diungkap
lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
123 (3) Seorang Perawat (1)
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang pasien adalah
sulit dirawat. Apakah lima ini? (1) Ia
melakukan apa yang berbahaya. (2) Ia
tidak melakukan apa yang bermanfaat hingga batas secukupnya. (3) Ia
tidak meminum obatnya. (4) Ia
tidak secara tepat mengungkapkan gejalanya kepada perawatnya yang baik hati; ia
tidak melaporkan, sesuai situasinya bahwa kondisinya bertambah buruk, atau
bertambah baik, atau tidak berubah. (5) Ia
tidak dapat dengan sabar menahankan perasaan jasmani yang muncul yang
menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan,
melemahkan vitalitasnya. [144] Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang pasien adalah sulit
dirawat.
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang pasien
adalah mudah dirawat. Apakah lima ini? (1) Ia
melakukan apa yang bermanfaat. (2) Ia
melakukan apa yang bermanfaat hingga batas secukupnya. (3)
Ia meminum obatnya. (4) Ia secara tepat
mengungkapkan gejalanya kepada perawatnya yang baik hati; ia melaporkan, sesuai
situasinya bahwa kondisinya bertambah buruk, atau bertambah baik, atau tidak
berubah. (5) Ia dapat dengan sabar
menahankan perasaan jasmani yang muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam,
menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitasnya. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang
pasien adalah mudah dirawat.”
124 (4) Seorang Perawat (2)
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang perawat tidak memenuhi
syarat untuk merawat pasien. Apakah lima ini? (1) Ia tidak mampu
mempersiapkan obat. (2) Ia tidak mengetahui
apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, sehingga ia memberikan apa yang
berbahaya dan tidak memberikan apa yang bermanfaat. (3)
Ia merawat pasien demi mendapatkan hadiah materi, bukan dengan pikiran
cinta-kasih. (4) Ia merasa jijik ketika
harus membuang kotoran tinja, air kencing, muntahan, atau ludah. (5) Ia
tidak mampu dari waktu ke waktu mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan
menggembirakan pasien dengan khotbah Dhamma. Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang
perawat tidak memenuhi syarat untuk merawat pasien.
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas [lainnya], seorang perawat
memenuhi syarat untuk merawat pasien. Apakah lima ini? (1) Ia mampu mempersiapkan
obat. (2) Ia mengetahui apa yang
bermanfaat dan apa yang berbahaya, sehingga ia tidak memberikan apa yang
berbahaya dan memberikan apa yang bermanfaat. (3)
Ia merawat pasien dengan pikiran cinta-kasih, bukan demi mendapatkan hadiah
materi. (4) Ia tidak merasa jijik ketika
harus membuang kotoran tinja, air kencing, muntahan, atau ludah. (5) Ia
mampu dari waktu ke waktu mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan
menggembirakan pasien dengan khotbah Dhamma. [145] Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang
perawat memenuhi syarat untuk merawat pasien.”
125 (5) Vitalitas (1)
“Para bhikkhu, ada lima hal ini yang menurunkan vitalitas. Apakah lima
ini? Seseorang
melakukan apa yang berbahaya; ia tidak melakukan apa yang bermanfaat hingga
batas secukupnya; ia memiliki pencernaan yang buruk; ia berjalan [untuk
menerima dana makanan] pada waktu yang salah; ia tidak hidup selibat. Ini adalah kelima hal itu yang menurunkan
vitalitas.
[Kitab Komentar : Penerjemah lain menyiratkan bahwa akālacārī
merujuk pada tindakan berjalan menerima dana makanan pada waktu yang salah.]
“Para bhikkhu, ada lima hal ini yang meningkatkan vitalitas. Apakah
lima ini? Seseorang
melakukan apa yang bermanfaat; ia melakukan apa yang bermanfaat hingga batas
secukupnya; ia memiliki pencernaan yang baik; ia berjalan [untuk menerima dana makanan]
pada waktu yang benar; ia hidup selibat. Ini adalah kelima hal itu yang meningkatkan
vitalitas.”
126 (6) Vitalitas (2)
“Para bhikkhu, ada lima hal ini yang menurunkan vitalitas. Apakah lima
ini? Seseorang
melakukan apa yang berbahaya; ia tidak melakukan apa yang bermanfaat hingga
batas secukupnya; ia memiliki pencernaan yang buruk; ia tidak bermoral; ia
memiliki teman-teman yang jahat. Ini adalah kelima hal itu yang menurunkan vitalitas.
“Para bhikkhu, ada lima hal ini yang meningkatkan vitalitas. Apakah
lima ini? Seseorang
melakukan apa yang bermanfaat; ia melakukan apa yang bermanfaat hingga batas
secukupnya; ia memiliki pencernaan yang baik; ia bermoral; ia memiliki teman-teman
yang baik. Ini adalah
kelima hal itu yang meningkatkan vitalitas.”
Kontras dengan Buddhisme, dalam islam : Babi, disebut “haram”. Namun,
ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa
yang setiap harinya mabuk serta kecanduan pengampunan dosa, namun hendak
mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak
mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”,
sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal pertobatan,
hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan
bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN
DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]