Allah Merampas HAK KORBAN Atas Keadilan dengan Memasukkan ke Surga para Penjahat
Question: Ini dan itu, disebut haram. Ini dan itu, disebut dilarang. Namun, ujung-ujungnya justru pendosa dan penjahat yang dimasukkan ke surga oleh Allah. Terus, apa yang disisakan bagi korban, hanya bisa “gigit jari” dilecehkan oleh si penjahat-pendosa lalu masih juga dirampas haknya atas keadilan oleh Allah. Ini kok aneh, orang buat jahat secara sembunyi-sembunyi, tapi ini jadi “koruptor dosa” dengan terang-terangan mempertontonkan candu pengampunan dosa, bahkan mempromosikan ideologi korup semacam pengampunan dosa lewat pengeras suara ke publik secara vulgar dan rasa bangga, alih-alih merasa malu ataupun tabu?
Brief
Answer: Tengoklah yesus yang
memasukkan ke surga dua orang penjahat—salah satunya penyamum—yang turut
disalib bersama dengan yesus yang bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri sehingga
tewas dalam kondisi “hanya mengenakan celana dalam” di depan publik, disamping
fakta dirinya begitu hina karena terlahir di kandang ternak. Tengoklah juga Allah
yang lebih PRO terhadap pendosa dengan menghapus dosa-dosa para muslim,
sekalipun dosa-dosa tersebut sebesar isi bumi. Alhasil, percuma saja korban
mengadu atau melaporkan kejadian / kejahatan yang dialami olehnya kepada Allah,
karena nyata-nyata Allah lebih PRO terhadap para penjahat dengan menghapus dosa-dosa
para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut dan memasukkan mereka ke surga
alih-alih dicampakkan ke neraka-jahanam.
PEMBAHASAN:
Buddhisme tidak mengajarkan kita untuk menjadi budak sembah-sujud kepada Allah,
namun mengarahkan kita untuk mengingat perilaku bermoral kita sendiri yang
tidak rusak, tidak cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh
para bijaksana, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID III”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
10 (10) Mahānāma
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di antara para penduduk
Sakya di Kapilavatthu di Taman Pohon Banyan. Kemudian Mahānāma orang Sakya
mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan
berkata kepada Sang Bhagavā:
“Bhante, bagaimanakah seorang siswa mulia yang telah sampai pada buah dan
telah memahami ajaran sering kali berdiam?”
[Ariyasāvako āgataphalo viññātasāsano. Kitab
Komentar mengatakan bahwa Mahānāma bertanya tentang pendukung vital
pemasuk-arus (sotāpannassa nissayavihāraṃ).]
“Mahānāma, seorang siswa mulia [285] yang telah sampai pada buah dan
telah memahami ajaran sering kali berdiam dengan cara ini:
(1) “Di sini, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata
sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna,
sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan,
pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru
para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ketika seorang siswa mulia
mengingat Sang Tathāgata, maka pada saat itu pikirannya tidak dikuasai oleh
nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu pikirannya lurus, berdasarkan pada
Sang Tathāgata. Seorang siswa mulia yang pikirannya lurus memperoleh inspirasi
dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang
berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia bergembira, maka sukacita muncul. Pada
seseorang yang pikirannya bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang
yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan. Pada seseorang yang merasakan kenikmatan,
pikirannya menjadi terkonsentrasi. Ini disebut seorang siswa mulia yang berdiam
seimbang di tengah-tengah populasi yang tidak seimbang, yang berdiam tanpa
sengsara di tengah-tengah populasi yang sengsara. Sebagai seorang yang telah memasuki
arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan pada Sang Buddha.
[Visamagatāya pajāya samappatto. Kitab Komentar
menerjemahkannya sebagai “Di antara makhluk-makhluk yang telah menjadi tidak
seimbang (visamagatesu) melalui nafsu, kebencian, dan delusi, ia telah
mencapai kedamaian dan ketenangan (samaṃ upasamaṃ patto hutvā).”
Dua paralel teks Tipitaka Mandarin menuliskan : “Apakah
musuh-musuhnya atau sanak saudaranya, terhadap kedua jenis orang ini ia tidak
memiliki pikiran bermusuhan, melainkan pikirannya seimbang.” dan “Di
tengah-tengah makhluk-makhluk hidup yang tidak seimbang, ia memperoleh
keseimbangan; di antara makhluk-makhluk yang menderita ia berdiam tanpa
penderitaan.”]
(2) “Kemudian, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat Dhamma sebagai
berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat
langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat
diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’ Ketika seorang
siswa mulia mengingat Dhamma, maka pada saat itu pikirannya tidak dikuasai oleh
nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu pikirannya lurus, berdasarkan pada
Dhamma. Seorang siswa mulia yang pikirannya lurus memperoleh inspirasi dalam
makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan
dengan Dhamma. Ketika ia bergembira, maka sukacita muncul. Pada seseorang yang
pikirannya bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang jasmaninya
tenang merasakan kenikmatan. Pada seseorang yang merasakan kenikmatan,
pikirannya menjadi terkonsentrasi. Ini disebut seorang siswa mulia yang berdiam
seimbang di tengah-tengah populasi yang tidak seimbang, yang berdiam tanpa
sengsara di tengah-tengah populasi yang sengsara. [286] Sebagai seorang yang
telah memasuki arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan pada Dhamma.
(3) “Kemudian, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang
baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar,
mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis
individu - Saṅgha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima
pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima
penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ketika seorang siswa
mulia mengingat Saṅgha, maka pada saat itu pikirannya tidak dikuasai
oleh nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu pikirannya lurus, berdasarkan
pada Saṅgha. Seorang siswa mulia yang pikirannya lurus memperoleh inspirasi dalam
makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang
berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia bergembira, maka sukacita muncul. Pada
seseorang yang pikirannya bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang
yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan. Pada seseorang yang merasakan kenikmatan,
pikirannya menjadi terkonsentrasi. Ini disebut seorang siswa mulia yang berdiam
seimbang di tengah-tengah populasi yang tidak seimbang, yang berdiam tanpa
sengsara di tengah-tengah populasi yang sengsara. Sebagai seorang yang telah memasuki
arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan pada Saṅgha.
(4) “Kemudian, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat perilaku
bermoralnya sendiri yang tidak rusak, tidak cacat, tanpa noda, tanpa bercak,
membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak digenggam, mengarah pada
konsentrasi. Ketika
seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya, maka pada saat itu pikirannya
tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu pikirannya
lurus, berdasarkan pada perilaku bermoral. Seorang siswa mulia yang pikirannya
lurus memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma,
memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia bergembira,
maka sukacita muncul. Pada seseorang yang pikirannya bersukacita, maka
jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan.
Pada seseorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi. [287]
Ini disebut seorang siswa mulia yang berdiam seimbang di tengah-tengah populasi
yang tidak seimbang, yang berdiam tanpa sengsara di tengah-tengah populasi yang
sengsara. Sebagai seorang yang telah memasuki arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan
pada perilaku bermoral.
(5) “Kemudian, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat kedermawanannya
sendiri sebagai
berikut: ‘Sungguh ini adalah keberuntungan bagiku bahwa di dalam populasi
yang dikuasai oleh noda kekikiran, aku berdiam di rumah dengan pikiran yang
hampa dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, bertangan terbuka, bersenang
dalam pelepasan, menekuni derma, bersenang dalam memberi dan berbagi.’
Ketika seorang siswa mulia mengingat kedermawanannya, maka pada saat itu
pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu
pikirannya lurus, berdasarkan pada kedermawanan. Seorang siswa mulia yang pikirannya
lurus memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma,
memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia bergembira,
maka sukacita muncul. Pada seseorang yang pikirannya bersukacita, maka
jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan.
Pada seseorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
Ini disebut seorang siswa mulia yang berdiam seimbang di tengah-tengah populasi
yang tidak seimbang, yang berdiam tanpa sengsara di tengah-tengah populasi yang
sengsara. Sebagai seorang yang telah memasuki arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan pada kedermawanan.
(6) “Kemudian, Mahānāma, seorang siswa mulia mengingat para dewata sebagai berikut: ‘Ada para deva [yang dipimpin
oleh] empat raja deva, para deva Tāvatiṃsa, para deva Yāma, para deva Tusita, para deva yang bersenang-senang
dalam penciptaan, para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para
deva lain, para deva pengikut Brahmā, dan para deva yang bahkan lebih tinggi daripada
deva-deva ini. Keyakinan demikian juga ada padaku seperti yang dimiliki oleh
para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia dari sini, mereka
terlahir kembali di sana; perilaku bermoral demikian juga ada padaku …
pembelajaran demikian … kedermawanan demikian … kebijaksanaan demikian juga ada
padaku seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka
meninggal dunia dari sini, mereka terlahir kembali di sana.’ Ketika [288] seorang siswa mulia mengingat keyakinan,
perilaku bermoral, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam dirinya
dan dalam diri para dewata itu, maka pada saat itu pikirannya tidak dikuasai
oleh nafsu, kebencian, atau delusi; pada saat itu pikirannya lurus, berdasarkan
pada para dewata. Seorang siswa mulia yang pikirannya lurus memperoleh inspirasi
dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang
berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia bergembira, maka sukacita muncul. Pada
seseorang yang pikirannya bersukacita, maka jasmaninya menjadi tenang. Seorang yang
jasmaninya tenang merasakan kenikmatan. Pada seseorang yang merasakan
kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi. Ini disebut seorang siswa mulia
yang berdiam seimbang di tengah-tengah populasi yang tidak seimbang, yang
berdiam tanpa sengsara di tengah-tengah populasi yang sengsara. Sebagai seorang
yang telah memasuki arus Dhamma, ia mengembangkan pengingatan pada para
dewata.
[Kitab Komentar : Enam pertama adalah para dewata di
enam alam surga indriawi. Para deva pengikut Brahmā (brahmakāyikā deva)
adalah para dewata di alam brahmā. “Para deva yang bahkan lebih tinggi daripada
deva-deva ini” adalah para deva yang lebih tinggi di alam berbentuk dan alam
tanpa bentuk.]
“Mahānāma, seorang siswa mulia yang telah sampai pada buah dan telah
memahami ajaran sering kali berdiam dengan cara ini.”
Kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”.
Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]