Dogma Agama Samawi Ibarat Bensin yang Menyulut Api Nafsu yang Kian Menguasai dan Menjerat
Question: Jika kita melihat orang-orang yang dikuasai oleh nafsu sehingga melakukan praktek poligami, atau bahkan melakukan kejahatan pemerkosaan, “jajan wanita” ke tempat hiburan malam, dikendalikan keserakahan yang tidak kenal kata “puas”, kesetanan sehingga tega merampok, gila kuasa, mabuk otoritas, terbudaki oleh kekayaan materi dengan terus mengejar uang tanpa akhir atau bahkan merampas nasi dari piring milik orang yang lebih miskin, maka bukankah itu adalah “neraka dunia”? Bila “state of mind” yang menyerupai terbakar oleh api neraka yang bernama nafsu, gagal untuk dikontrol, bahkan dikontrol oleh keserakahan diri sendiri, maka atas dasar apakah mereka berdelusi akan masuk ke alam surgawi setelah kematian?
Brief
Answer: Tengoklah dogma berikut
yang telah banyak menjerumuskan umat manusia ke dalam “neraka dunia” : “Dan
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang
yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (Q.S. an-Nisa` [4]: 3). Bila satu
istri tidak puas, maka jaminan darimanakah memiliki belasan istri disaat
bersamaan, akan memuaskan? Terlebih, dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, mengakibatkan keserakahan batin para umatnya
tidak terbendung untuk berlomba-lomba memproduksi segudang dosa alih-alih menghindari
perbuatan buruk.
Terbebas dari
keinginan, adalah “surga dunia”, bukan bebas untuk memiliki keinginan yang
tidak berbatas. Ada atau tidaknya alam surgawi dan neraka setelah kematian,
yang jelas kondisi seperti “surga dunia” maupun “neraka dunia” dapat kita
jumpai relevansinya selagi kita masih hidup sebagai manusia, sebagai contohnya
ialah lewat sabda Sang Buddha berikut:
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas,
seseorang ditempatkan di
neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima
ini?
(1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
memuji seorang yang layak dicela.
(2) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia
mencela seorang yang layak dipuji.
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang
bhikkhu tuan rumah ditempatkan di
surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima
ini?
(1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia
mencela seorang yang layak dicela.
(2) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang
layak dipuji.
PEMBAHASAN:
Kemelekatan dan ketidak-puasan, adalah sumber derita, sebagaimana diurai
lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
170 (10) Bhaddaji
Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di Kosambī di Taman
Ghosita. Kemudian Yang Mulia Bhaddaji mendatangi Yang Mulia Ānanda dan saling
bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk
di satu sisi. Yang Mulia Ānanda berkata kepadanya:
“Teman Bhaddaji, apakah yang terunggul di antara penglihatan-penglihatan?
Apakah jenis pendengaran terunggul? Apakah kebahagiaan yang terunggul? Apakah
persepsi terunggul? Apakah yang terunggul di antara penjelmaan-penjelmaan?”
“(1) Ada, teman, Brahmā, sang penakluk, yang tidak terkalahkan, yang maha
melihat, maha kuasa. Dapat melihat Brahmā adalah penglihatan terunggul. (2) Ada
para deva dengan cahaya gemerlap yang diliputi dan dibanjiri dengan
kebahagiaan. Kadang-kadang mereka mengucapkan ucapan inspiratif: ‘Oh, sungguh
bahagia! Oh, sungguh bahagia!’ Dapat mendengar suara itu adalah jenis
pendengaran terunggul. (3) Ada para deva dengan keagungan gemilang. Karena
bahagia, mereka mengalami kebahagiaan yang sangat damai: ini adalah kebahagiaan
terunggul. (4) Ada para deva dari landasan kekosongan: ini adalah persepsi
terunggul. (5) Ada para deva dari landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi: ini adalah penjelmaan terunggul.”
“Apakah Yang Mulia Bhaddaji setuju dengan semua ini?”
“Yang Mulia Ānanda adalah seorang terpelajar, maka biarlah ia sendiri
yang menjelaskan hal ini.”
“Maka dengarkanlah, teman Bhaddaji, dan perhatikanlah. Aku akan
berbicara.”
“Baik, teman,” Yang Mulia Bhaddaji menjawab. Yang Mulia Ānanda berkata
sebagai berikut:
“(1) Dalam cara bagaimana pun, teman, seseorang melihat sesuatu segera
setelah hancurnya noda-noda terjadi: ini adalah penglihatan terunggul.
(2) Dalam cara bagaimana pun, seseorang mendengar sesuatu segera
setelah hancurnya noda-noda terjadi: ini adalah jenis pendengaran terunggul.
(3) Dalam cara bagaimana pun, seseorang berbahagia segera setelah
hancurnya noda-noda terjadi: ini adalah kebahagiaan
terunggul.
(4) Dalam cara bagaimana pun, seseorang mempersepsikan sesuatu segera
setelah hancurnya noda-noda terjadi: ini adalah persepsi terunggul.
(5) Dalam cara bagaimana pun, seseorang menjelma segera setelah hancurnya
noda-noda terjadi: ini adalah penjelmaan
terunggul.” [203]
~0~
113 (7) Ketidakpuasan
“Para bhikkhu, ada tiga hal ini. Apakah tiga ini? (1) Ketidakpuasan, (2)
sikap membahayakan, dan (3) perilaku yang berlawanan dengan Dhamma. Ini adalah
ketiga hal itu. Tiga hal [lainnya] harus dikembangkan untuk meninggalkan ketiga
hal ini. Apakah tiga ini? (4) Kegembiraan
altruistik harus dikembangkan untuk meninggalkan ketidakpuasan. (5) Sikap
tidak membahayakan harus dikembangkan untuk meninggalkan sikap membahayakan. (6) Perilaku
yang sesuai dengan Dhamma harus dikembangkan untuk meninggalkan perilaku yang
berlawanan dengan Dhamma. Ketiga hal ini harus dikembangkan untuk meninggalkan ketiga hal sebelumnya.”
~0~
114 (8) Kepuasan
“Para bhikkhu, ada tiga hal ini. Apakah tiga ini? (1) Ketidak-puasan, (2)
ketiadaan pemahaman jernih, dan (3) keinginan kuat. Ini adalah ketiga hal itu.
Tiga hal [lainnya] harus dikembangkan untuk meninggalkan ketiga hal ini. Apakah
tiga ini? (4) Kepuasan
harus dikembangkan untuk meninggalkan ketidak-puasan. (5) Pemahaman
jernih harus dikembangkan untuk meninggalkan ketiadaan pemahaman jernih. (6) Keinginan
yang sedikit harus dikembangkan untuk meninggalkan keinginan kuat. Ketiga hal ini harus dikembangkan untuk
meninggalkan ketiga hal sebelumnya.”