Ketika Masih Minoritas, para Muslim Menuntut serta Menikmati Toleransi Berkeyakinan. Namun, ketika Islam Menjelma Mayoritas, para Muslim Hendak Menghapus Praktek Toleransi yang Dahulu Mereka Nikmati
STANDAR BERGANDA, Tipikal Khas Kaum Muslim
Question: Apakah kita sebaiknya, tidak memberi toleransi apapun terhadap kaum muslim, agar mereka tidak “besar kepala” dan lebih sibuk menghakimi keyakinan orang lain daripada mengurusi keyakinan mereka sendiri? DI Inggris, dewasa ini, para muslim membangun komunitas “polisi syariah” yang gaib-nya justru menghakimi kaum nonmuslim di ruang-ruang publik yang notabene warga asli lokal Inggris yang nonmuslim. Para muslim di Inggris, yang rata-rata imigran, diberi toleransi, namun kemudian para muslim tersebut nyata-nyata secara berjemaah dan masif berupaya menghakimi kehidupan masyarakat lokal di Inggris lewat razia “polisi syariah” seperti melarang warga memakan babi, atau bahkan memaksa mereka untuk ikut berpuasa ramadhan, dimana kini mereka juga membangun pengadilan khusus penegakan dan penindakan “hukum syariah” sehingga menyerupai “negara di dalam negara”. Apakah negara-negara tersebut, tidak belajar dari kejadian di Nusantara sebagaimana tertuang di Kitab Jawa DHARMO GHANDUL?
Brief
Answer: Negara-negara yang
“toleran” terhadap kaum muslim, tidak menyadari bahaya dibalik ideologi islam.
Islam bukanlah agama, islam adalah ideologi sehingga sifatnya lebih sibuk
menghakimi keyakinan pihak eksternal diri mereka ketimbang mengurusi keyakinan
dan praktek gaya hidup diri mereka sendiri alias tidak subjektif-personal.
Bukankah lucu serta absurd, babi disebut “haram” dan dilarang untuk dimakan
maupun dijual. Namun, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” justru dipromosikan
lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”? Para muslim tersebut
tidak bercermin-diri, bahwa diri mereka sejatinya hanyalah “PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA” alias pengecut dan pecundang kehidupan, alih-alih merasa malu
justru merasa bangga dan paling superior.
PEMBAHASAN:
Sebelum menegur, sang penegur hendaknya menegur terlebih dahulu dirinya
sendiri, ataupun fenomena “lebih galak yang ditegur daripada yang memberi
teguran” serta kecenderungan “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan
fisik” sekalipun masyarakat di Indonesia tidak pernah kekurangan kaum “agamais”,
sebagaimana diuraikan lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID III”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
167 (7) Menegur
Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Teman-teman,
seorang bhikkhu yang
ingin menegur orang lain pertama-tama harus menegakkan lima hal dalam dirinya. Apakah lima ini? (1) [Ia harus mempertimbangkan:]
‘Aku akan berbicara pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat;
(2) aku akan berbicara dengan jujur, bukan dengan berbohong; (3) aku akan
berbicara secara halus, bukan secara kasar; (4) aku akan berbicara dalam
cara yang bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya; (5) aku akan
berbicara dengan pikiran cinta-kasih, bukan selagi memendam kebencian.’
Seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain pertama-tama harus menegakkan
kelima hal ini dalam dirinya.
“Di sini, teman-teman, aku melihat beberapa
orang ditegur pada waktu yang tidak tepat, bukan diganggu pada waktu yang
tepat; ditegur secara bohong, bukan diganggu secara jujur; ditegur secara kasar,
bukan diganggu secara halus; ditegur dalam cara yang berbahaya, bukan diganggu
dalam cara yang bermanfaat; ditegur oleh seseorang yang memendam kebencian,
bukan diganggu oleh seseorang dengan pikiran cinta kasih.
“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang bertentangan
dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam
lima cara: (1) ‘Teman, engkau ditegur pada waktu yang tidak tepat, bukan [197] pada waktu
yang tepat; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (2) Engkau ditegur
secara bohong, bukan secara jujur; itu cukup bagimu untuk tidak merasa
menyesal. (3) Engkau ditegur secara kasar, bukan secara halus; itu cukup bagimu
untuk tidak merasa menyesal. (4) Engkau ditegur dalam cara yang berbahaya, bukan
dalam cara yang bermanfaat; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (5)
Engkau ditegur oleh seseorang yang memendam kebencian, bukan oleh seseorang
dengan pikiran cinta-kasih; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal.’
Ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang bertentangan dengan Dhamma, maka
ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini.
“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang bertentangan
dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara:
(1) ‘Teman, engkau menegurnya pada waktu yang tidak tepat, bukan pada waktu yang tepat;
itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (2) Engkau menegurnya secara bohong,
bukan secara jujur; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (3) Engkau
menegurnya secara kasar, bukan secara halus; itu cukup bagimu untuk merasa
menyesal. (4) Engkau menegurnya dalam cara yang berbahaya, bukan dalam cara
yang bermanfaat; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (5) Engkau menegurnya
selagi memendam kebencian, bukan dengan pikiran cinta-kasih; itu cukup bagimu
untuk merasa menyesal.’ Ketika seorang bhikkhu menegur dalam cara yang bertentangan
dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima
cara ini. Karena alasan apakah? Agar
bhikkhu lain tidak berpikir untuk menegur secara keliru.
“Di sini, teman-teman, aku melihat beberapa orang ditegur pada waktu yang tepat, bukan diganggu pada waktu
yang tidak tepat; ditegur secara jujur, bukan diganggu secara bohong; ditegur
secara halus, bukan diganggu secara kasar; ditegur dalam cara yang bermanfaat,
bukan diganggu dalam cara yang berbahaya; ditegur oleh seseorang dengan pikiran
cinta kasih, bukan diganggu oleh seseorang yang memendam kebencian.
“Teman-teman, ketika seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang sesuai
dengan Dhamma, maka penyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima
cara: (1) ‘Teman, engkau
ditegur pada waktu
yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; itu cukup bagimu untuk merasa
menyesal. (2) Engkau ditegur secara jujur, bukan secara bohong; itu cukup
bagimu untuk merasa menyesal. (3) Engkau ditegur secara halus, bukan secara
kasar; itu cukup bagimu untuk merasa menyesal. (4) Engkau ditegur dalam cara yang
bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya; itu cukup bagimu untuk merasa
menyesal. (5) Engkau ditegur oleh seseorang dengan pikiran cinta-kasih, bukan
oleh seseorang yang memendam kebencian; itu cukup bagimu untuk merasa
menyesal.’ [198] Ketika
seorang bhikkhu ditegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka penyesalan
harus dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini.
“Teman-teman, ketika
seorang bhikkhu menegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka
ketidak-menyesalan harus dimunculkan pada dirinya dalam lima cara: (1) ‘Teman, engkau menegurnya
pada waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; itu cukup bagimu
untuk tidak merasa menyesal. (2) Engkau menegurnya secara jujur, bukan
secara bohong; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal. (3) Engkau
menegurnya secara halus, bukan secara kasar; itu cukup bagimu untuk tidak
merasa menyesal. (4) Engkau menegurnya dalam cara yang bermanfaat, bukan
dalam cara yang berbahaya; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal.
(5) Engkau menegurnya dengan pikiran cinta kasih, bukan selagi memendam
kebencian; itu cukup bagimu untuk tidak merasa menyesal.’ Ketika seorang
bhikkhu menegur dalam cara yang sesuai dengan Dhamma, maka ketidak-menyesalan harus
dimunculkan pada dirinya dalam kelima cara ini. Karena alasan apakah? Agar bhikkhu lain
berpikir untuk menegur secara benar.
“Teman-teman, seseorang
yang ditegur harus kokoh dalam dua hal: dalam kebenaran dan ketidak-marahan.
Jika orang lain menegurku – apakah pada waktu yang tepat atau pun pada waktu yang
tidak tepat; apakah tentang apa yang benar atau pun tentang apa yang tidak
benar; apakah secara halus atau pun secara kasar; apakah dalam cara yang
bermanfaat atau pun dalam cara yang berbahaya; apakah dengan pikiran
cinta-kasih atau pun selagi memendam kebencian – aku harus tetap kokoh dalam
dua hal: dalam kebenaran dan ketidak-marahan.
“Jika
aku mengetahui: ‘Ada kualitas demikian padaku,’ maka aku memberitahunya: ‘Hal
ini ada. Kualitas ini ada padaku.’ Jika aku mengetahui: ‘Tidak ada kualitas
demikian padaku,’ maka aku memberitahunya: ‘Hal ini tidak ada. Kualitas ini
tidak ada padaku.’
[Sang Bhagavā berkata:] “Sāriputta, bahkan ketika engkau sedang
berbicara kepada mereka seperti demikian, beberapa orang dungu di sini tidak
dengan hormat menerima apa yang engkau katakan.”
“Ada, Bhante, orang-orang yang hampa dari keyakinan yang telah
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, bukan [199] karena keyakinan melainkan menghendaki pencarian
penghidupan; mereka
licik, munafik, penipu, gelisah, pongah, tinggi hati, banyak berbicara, mengoceh
tanpa arah dalam pembicaraan mereka, tidak menjaga pintu-pintu indria mereka, makan berlebihan, tidak
menekuni keawasan, tidak mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghormati
latihan, hidup mewah dan mengendur, para pelopor dalam kemerosotan,
mengabaikan tugas keterasingan, malas, hampa dari kegigihan, berpikiran kacau, tidak
memiliki pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara,
tidak bijaksana, bodoh. Ketika aku berbicara kepada mereka
seperti demikian, mereka tidak dengan hormat menerima apa yang aku katakan.
“Tetapi, Bhante, ada orang-orang yang telah meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dengan penuh keyakinan,
yang tidak licik, tidak munafik, bukan penipu, tidak gelisah, tidak pongah,
tidak tinggi hati, tidak banyak berbicara, dan tidak mengoceh tanpa arah
dalam pembicaraan mereka; yang menjaga pintu-pintu indria mereka; yang makan
secukupnya, menekuni keawasan, menekuni kehidupan pertapaan, sangat menghormati
latihan; tidak hidup mewah dan tidak mengendur; yang membuang kebiasaan-kebiasaan
lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; yang bersemangat, teguh, penuh
perhatian, memahami dengan jernih, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat,
bijaksana, cerdas. Ketika aku berbicara kepada mereka seperti demikian,
mereka dengan hormat menerima apa yang aku katakan.”
“Sāriputta, biarkan saja orang-orang itu yang hampa dari keyakinan
dan yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah, bukan karena keyakinan melainkan menghendaki pencarian
penghidupan; yang licik … tidak bijaksana, bodoh. Tetapi, Sāriputta, engkau harus
berbicara kepada anggota-anggota keluarga itu yang telah meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dengan
penuh keyakinan yang tidak licik … yang bijaksana, cerdas. [200]
Nasihatilah teman-temanmu para bhikkhu, Sāriputta! Ajarilah teman-temanmu para
bhikkhu, Sāriputta, [dengan berpikir:] ‘Aku akan membuat teman-temanku para
bhikkhu keluar dari apa yang bertentangan dengan Dhamma sejati dan akan
mengokohkan mereka dalam Dhamma sejati.’ Demikianlah, Sāriputta, engkau harus
berlatih.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]