KRITIK, Demi Kepentingan Siapakah?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bangsa yang ANTIKRITIK, Pendosa yang Berdelusi sebagai Suciwan

Question: Mengapa rata-rata orang Indonesia begitu anti terhadap kritik maupun teguran, bahkan terhadap protes dari korban mereka?

Apakah Rekayasa Genetika Melanggar Etika dan Kode Etik Ilmuan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Apakah Mungkin, Sesuatu dapat Terjadi Tanpa Seizin, Kuasa, maupun Rencana Tuhan? Jika ADA, artinya Tuhan TIDAK Maha Kuasa

Question: Semisal ada peneliti yang buat penemuan ataupun teknologi biomolekuler canggih, yang dapat merancang seseorang calon bayi untuk memeiliki genetik tertentu dan tidak memiliki genetik tertentu lainnya, termasuk isu perihal “cloning”, maka apakah sebenarnya itu melanggar kode etik atau semacam etika manusia? Bukakah itu sama artinya melawan kehendak Tuhan? Bukankah itu sama artinya mencoba mendahului kekuasaan Tuhan sang pencipta?

Nilai 100 apakah Hanya Milik Tuhan? Apakah Salah, Manusia Berjuang mencapai Kesempurnaan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Yang Buruk / Tidak Sempurna, mengapa Dipertahankan dan Dilestarikan, bahkan Dibanggakan, alih-alih Ditabukan?

Apakah Kesempurnaan hanya Monopoli Tuhan? JIka Manusia Tidak Bisa dan Tidak Boleh Sempurna, artinya Manusia Tidak Mungkin Ciptaan Tuhan dan Tidak dapat Bersatu dengan Tuhan

Question: Guru di sekolah maupun dosen di kampus, sering berkata, nilai ujian 100 itu hanya boleh untuk Tuhan, hanya Tuhan yang sempurna. Kalau begitu, untuk apa kita belajar moralitas agar memiliki watak yang luhur, dan kini kita cukupkan saja berbangga diri pada cacat-cela karakter kita sebagai alibi ketika berbuat salah ataupun sebagai alasan pembenar maupun alasan pemaaf untuk berkelit dari tanggung-jawab? Lantas, apa bedanya kita dengan hewan, yang hanya bisa menyerah pasrah pada keadaan dirinya tanpa daya dan tanpa akal budi, tidak boleh dan tidak dapat berjuang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesempurnaan?

SALAH ALAMAT Jika Korban Mempertanyakan Nasibnya kepada Tuhan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Mengapa banyak orang bilang bahwa dunia ini tidak adil? Rasanya sudah letih juga bosan, mengeluhkan ketidakadilan dunia ini kepada Tuhan saat berdoa, sama sekali tidak ada perubahan ke arah perbaikan.

MENJERIT adalah HAK ASASI KORBAN

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Terkadang lucu, ketika kita disakiti oleh seseorang, masyarakat kita justru cenderung turut menghakimi kita (korban) ketika berteriak dan menjerit protes penuh kesakitan, sebagai “tidak sopan”, “sudah gila”, “tidak waras”, dan kata-kata menyudutkan lainnya seolah-olah belum cukup luka jiwa yang diderita korban. Memangnya ada orang yang kesakitan karena disakiti, lalu menjerit dengan cara yang sopan dan santun? Memangnya yang menyakiti kita, perilakunya itu sudah “sopan”?

Jika mendapatkan atau menghadapi kejadian yang sangat melukai rasa keadilan dan nurani demikian, apa yang dapat kita lakukan, atau setidaknya dapat kita katakan sebagai tanggapan agar tidak terus-menerus di-diskredit secara tidak patut oleh masyarakat kita yang suka sembarangan menilai, berkomentar, maupun menghakimi?

Apakah Salah dan Egois, Memilih menjadi Bahagia dan Hidup Berbahagia?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bahagia dan Membangun Hidup yang Bahagia, adalah HAK ASASI MANUSIA

Kebahagiaan Bukanlah Sumber Kejahatan, Kurangnya Kebahagiaan justru menjadi Sumber Kejahatan

Question: Pernah ada yang bertanya kepada saya, apa keinginan terbesar saya? Saya jawab, saya ingin bahagia, happy, ingin punya hidup yang juga membahagiakan. Namun si penanya kemudian menghakimi saya, dengan tudingan sebagai seseorang yang egois. Apakah memilih untuk bahagia dan menjadi bahagia atau berjuang membangun hidup yang penuh kebahagiaan, adalah egois? Lantas, kita harus jawab apa ketika ditanya seperti itu, ingin hidup yang menderita, atau menderita tidak dan bahagia pun tidak? Jangan-jangan yang bertanya itu sendiri pun tidak tahu apa yang diinginkan olehnya. Jika begitu, mengapa juga masih menghakimi orang lain atas hidup milik saya sendiri dan saya sendiri pula yang paling berhak memutuskan hidup saya?

KODE ETIK MANUSIA, Hargai dan Hormati Profesi Orang lain jika Profesi Anda Sendiri ingin Dihargai dan Dihormati

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Ada yang namanya Kode Etik Jurnalistik bagi kalangan profesi pers, Kode Etik Tenaga Medik bagi tenaga kesehatan, maupun Kode Etik profesi-profesi lainnya. Menjadi mengherankan, ketika umur umat manusia sudah sama tuanya dengan usia Planet Bumi ini, namun belum juga ada semacam Kode Etik Manusia bagi kita yang mengaku sebagai seorang manusia ataupun sebagai seorang warga suatu bangsa.

Ataukah memang bangsa kita selama ini tidak merasa membutuhkan hal semacam Kode Etik untuk hidup berbangsa dan bernegara, sebagai sesama umat manusia? Jika deklarasi semacam Hak Asasi Manusia dicetuskan lembaga persatuan bangsa-bangsa dan diakui oleh seluruh dunia, maka mengapa deklarasi semacam Kode Etik Manusia seolah dinomorduakan atau bahkan dipandang sepele dan “sebelah mata”?

Kiat Cara Menghadapi Preman Pelaku Aksi Premanisme

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OTOT Tidak Memiliki OTAK untuk Berpikir ataupun untuk Diajak Berpikir, Itulah Preman

Question: Apakah ada tips, untuk bisa melindungi diri dari preman yang banyak berkeliaran di luar sana?

Bagaimana dan seperti apakah Ibadah dalam Buddhisme?

SENI JIWA

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OVADA PATIMOKkHA, Itulah Ibadah dalam Buddhisme

Question: Bila dalam Agama Buddha, Apa yang menjadi ritual maupun ibadah para umat Buddhis?

PRINSIP EMAS, Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan, dan Jangan Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita pun Tidak ingin Diperlakukan

Question: Seseorang merasa senang dan gembira ketika melakukan aktivitas yang menimbulkan suara berisik seperti mengemudikan kendaraan motor dengan knalpot bersuara keras, bermain petasan, memutar musik lewat sound system secara keras-keras, sekalipun tidak semua orang menyukainya atau malah terganggu. Begitupula kesenangan yang menimbulkan polusi udara, dan sebagainya. Ada pepatah bilang, perlakukan pihak lain seperti ketika kita ingin diperlakukan. Bukankah justru itu jadi masalah, karena selera atau preferensi setiap orang saling berbeda-beda satu sama lainnya?

Ketika Tuhan Menyelesaikan Setiap Masalah Kemanusiaan dengan KEKERASAN FISIK, maka bagaimana Sikap Umat-Nya?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

KULTUR BANGSA BELUM BERADAB, MASIH BIADAB : MENYELESAIKAN SEGALA MASALAH DENGAN KEKERASAN FISIK

Question: Mengapa orang Indonesia, menakutkan? Bahkan untuk sekadar menegur perilaku anggota masyarakat kita ketika mereka berbuat keliru kepada diri kita ataupun kepada orang lain, kita menjadi takut dan lebih takut? Mengapa pelakunya justru bisa lebih galak daripada korban mereka, ketika korban menyatakan keberatan diperlakukan tidak patut demikian?

Siapakah yang Lebih Bahagia, Singa ataukah seekor Kelinci?

SENI PIKIR & TULIS

Seni Hidup Bahagia, Minimalisir Keinginan Berlebihan dan Lepaskan Kemelekatan

Minim, Sederhana, dan Hening itu Indah, Simple is Beautiful! Keheningan adalah Suara yang Terindah, di Mata Orang-Orang yang Memiliki Kecukupan Hati!

Mari kita sedikit berfalsafah ria, meski tanpa perlu mengerutkan kening. Penulis buka dengan pertanyaan favorit penulis : Bila Anda dapat menerka dan menduga, manakah yang akan Anda pikir serta asumsikan sebagai hewan yang lebih bahagia dalam hidupnya, seekor harimau / singa sang karnivora ataukah seekor kelinci sang herbivora? Banyak orang, yang meremehkan pertanyaan falsafah demikian, bahkan menganggapnya sebagai pertanyaan “konyol”. Sejatinya, bila kita memahami betul makna dibaliknya, praktis kita akan memperoleh “insight” yang akan banyak menolong dan membantu dalam kehidupan kita yang penuh beban suka dan duka ini.

Hery Shietra, Ciri dan Watak Orang Jenius

Metode ilmu psikologi klasik yang mencoba mengukur nilai skor IQ (intellectual quotient, kecerdasan intelektual) seseorang berdasarkan “tes IQ”, merupakan teknik konvensional yang ketinggalan zaman serta belum tentu akurat adanya, bahkan patut diragukan. Terdapat metode lain untuk mengetahui seseorang sebagai “jenius” atau tidaknya, berdasarkan karakter atau watak hingga kebiasaan yang mereka tampilkan dikeseharian hidup mereka (traits). Dari berbagai literatur yang mencoba menguraikan ciri-ciri orang jenius, ada sebagian diantaranya yang akurat namun juga ada sebagian diantaranya yang hanya berupa mitos.

Ketika Agama Mempromosikan dan Mengkampanyekan Perceraian Kerukunan antar Umat Beragama, Dibiarkan dan Dilestarikan oleh Negara yang secara Sengaja Abai

SENI PIKIR & TULIS

Ketika masih Minoritas, PLAY INNOCENT yang Menuntut Diberi Toleransi dan Menikmati Kebebasan Beragama dan Beribadah. Namun, ketika Mereka telah menjadi Mayoritas, justru Membumi-Hanguskan Toleransi antar Umat Beragama yang Dahulu Mereka Nikmati dan Tuntut untuk Diberikan. Pola yang Sama Selalu Berulang, Peta Sejarah

Bahaya Dibalik STANDAR GANDA, Standar Berganda yang Sarat Konflik Kepentingan

Hukum tumpul ke mayoritas, dan hukum tajam ke minoritas, itulah cerminan budaya beragama di Indonesia serta dalam praktiknya yang kian hari kian mengkhawatirkan karena menampilkan wajah intoleran. Hampir setiap kali pemuka agama / penceramah agama Islam berceramah di Masjid, lengkap dengan pengeras suara eksternal sehingga “saksi telinga”-nya bukan hanya penulis seorang, bahkan juga suara pembacaan ayat-ayat kitab agama mereka menyeruak masuk ke dalam toilet kediaman rumah-rumah warga termasuk memenuhi tong sampah, selama bertahun-tahun lamanya, selalu saja mengumbar ujaran kebencian dan penuh permusuhan (hate speech) dengan menyebut-nyebut nama Yahudi dan Nasrani secara tidak hormat dan tidak patut. Gaibnya, tidak satupun dari mereka yang dipenjara sebagai pelaku penistaan agama, namun jangan tanya bila terjadi yang sebaliknya.

Sayangi Bumi ini, agar Alam Semesta Menyayangi Kita

SENI PIKIR & TULIS

Manusia adalah Makhluk PENYAMPAH Penghasil SAMPAH

Bila Tidak mau Melestarikan, Setidaknya Tidak Merusak Alam. Hanya Manusia Sampah yang hanya Mampu Menghasilkan Sampah

Kita hidup dari kebaikan hati planet bernama Bumi ini. Mulai dari air bersih, udara bersih, sumber pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, maupun protein hewani dan nabati. Sumber papan dan sandang kita pun, diperoleh dari alam. Pepatah suku India menyebutkan, kita bukan mewariskan alam ini kepada anak dan cucu (generasi penerus), namun kita saat kini sedang meminjamnya dari mereka. Kebaikan hati, seyogianya dibalas dengan kebaikan hati, bukan justru “membalas air susu dengan air tuba” semacam pengrusakan, eksploitasi yang tidak ramah lingkungan, pencemaran, hingga praktik “menyampah”. Planet tempat kita lahir dan tumbuh serta dibesarkan ini, ibarat orangtua kita, “Mother Earth”. Janganlah, menjadi “anak” yang “durhaka”, dengan sikap maupun sifat “tidak tahu balas budi”.

Antara Agama dan Prinsip EGALITER / MERITOKRASI

SENI PIKIR & TULIS

Agama yang Merendahkan Martabat Manusia dan Pujian yang (Sejatinya) Menista Tuhan yang Mereka Sembah Itu Sendiri

Penjajahan oleh Agama atas Manusia, Agama untuk Manusia ataukah Manusia untuk Agama?

Buddhisme bukanlah agama bagi para “peminta-minta”, sehingga tidak menjadikan para siswa Sang Buddha sebagai seorang pengemis yang mengemis-ngemis ataupun memohon-mohon—akan tetapi sebagai bak seorang penanam atau seorang petani, sehingga bila hendak atau menginginkan untuk memetik buah padi maka harus mau merepotkan diri serta menyingsingkan lengan baju berletih-letih banjir peluh turun ke sawah untuk menanam dan memupuk serta merawatnya dengan penuh kesabaran sebelum tiba masa panen. Itulah sebabnya, para siswa dari Sang Buddha adalah para pekerja keras serta bukanlah seorang pemalas yang merendahkan martabatnya sendiri dengan menjadi seorang “pengemis” (serta “penjilat” ala “lip services”).

Apakah EQ Identik dengan Banyak Teman?

SENI PIKIR & TULIS

EQ, Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient), Bermakna Kemampuan Berempati

EQ Tidak Ada Hubungan dengan Kecerdasan Bersosialisasi maupun Kecerdasan Berpolitik dan Beroganisasi

Apakah EQ artinya ialah “banyak teman”? Itulah pertanyaan klasik sekaligus simbolik yang mewakili fenomena kerapnya stigma secara keliru dialamatkan kepada sebagian diantara masyarakat kita yang tergolong sebagai kalangan atau kaum “introvert”, yang memang dasariahnya ialah mengarahkan energi mental secara sentripetal, bertolak-belakang dengan golongan kaum ekstrovert yang mengarahkan energi mental mereka secara sentrifugal, yakni kepada dunia di luar diri mereka.

Jangan Takut Hidup MENJOMBLO

SENI PIKIR & TULIS

Dari Keluarga menjelma Orang Asing, Fenomena Sosial yang Jamak dan Lumrah

Baru-baru ini penulis menjumpai sebuah pemandangan yang ironis namun cukup menggugah dan memberi inspirasi “insight” sebagaimana buahnya ialah berupa artikel menarik yang sedang para pembaca simak dalam kesempatan berharga ini. Pada suatu hari, tetangga pada kediaman penulis “dikunjungi” oleh anaknya yang telah menikah, anak mana dilahirkan dan diasuh, didik, hingga tumbuh besar selama puluhan tahun pada rumahnya tersebut, hingga akhirnya sang anak menikah dan membangun rumah-tangga sendiri di kediamannya sendiri bersama istri dan anaknya yang masih balita.

Cuci Uang Semudah Mendermakan Recehan

SENI PIKIR & TULIS

Cuci Uang dalam Rangka Cuci Dosa secara Berjemaah

Disebutkan, bahwa bunga dari suatu hubungan hukum pinjam-meminjam sejumlah dana, kredit, pembiayaan, atau apapun itu sebutannya, adalah “riba”, dimana “riba” merupakan “haram”, dan “haram” adalah terlarang untuk dimakan. Namun, dari realita di lapangan, kerap kita jumpai kaum Muslim yang justru bekerja di lembaga-lembaga keuangan perbankan non-syariah, yang artinya sumber gaji mereka ialah dana “haram” dari bunga yang harus dibayarkan oleh nasabah peminjam (debitor) perbankan tempat mereka bekerja dan mencari nafkah. Bagaimana dengan bank syariah, apakah lebih bersih dan humanis? Jusuf Hamka, tokoh Muslim nasional, menyebutkan bahwa “bank syariah lebih kejam daripada bank konvensional”.

Kiat Membangun Rumah Tangga yang Awet dan Langgeng

SENI PIKIR & TULIS

Kesiap-Sediaan Menikahi Calon Nenek-Nenek dan Kakek-Kakek

Tidak sedikit terjadi fenomena di tengah masyarakat, pada mulanya sepasang calon suami dan istri memutuskan untuk menikah dan membangun rumah-tangga. Ketika sang calon istri melihat postur tubuh calon suaminya tampak tampan dan bertubuh atletis bahkan juga produktif mencetak berbagai prestasi, maupun ketika sang calon suami melihat paras sang calon istri yang tampak cantik dan semampai, mereka pun saling menyatakan komitmen untuk membangun hubungan pernikahan sebagai suami-istri. Namun, perihal kecantikan wajah maupun bentuk tubuh, tidak akan berlangsung permanen.

Makna MANUSIA (yang) DUNGU

SENI PIKIR & TULIS

KEKELIRUTAHUAN, Keliru dalam Memahami, Tahu namun KELIRU, itulah Kekotoran Batin yang Menggelapkan Pandangan Mata Seseorang

RUGI dianggap sebagai UNTUNG, dan yang MENGUNTUNGKAN dipandang sebagai KERUGIAN, suatu KEKELIRUTAHUAN

Baru-baru ini saat ulasan ini penulis susun, penulis membeli barang-barang belanjaan di sebuah minimarket, dan terdapat produk yang penulis bawa pulang ternyata belum masuk dalam “struk belanjaan” akibat “gagal scan” oleh pihak kasir yang lalai. Penulis dapat saja pulang membawa serta “bonus” sebagai oleh-oleh dari minimarket, sebagaimana insting “hewani” hasil olah otak reptil yang bekerja di kepala penulis. Namun, penulis adalah seorang makhluk hidup bernama “manusia”, yang sudah semestinya berperilaku dengan mengedepankan akal-budi, tidak dapat menuruti semua kehendak hati dan impuls—mawas diri, artinya mengawasi perilaku dan pikiran diri sendiri secara awas atau penuh kesadaran.

Akar Penyebab Kejahatan dan Kriminalitas, Cara Berpikir IRASIONAL

LEGAL OPINION

Kedepankan AKAL SEHAT MILIK ORANG SEHAT, alih-alih AKAL SAKIT MILIK ORANG SAKIT

Question: Secara sosiologi maupun antropologi, sebenarnya apa yang menjadi akar penyebab kejahatan sehingga dapat dan kerap dilakukan oleh banyak manusia, sesama warga, sesama anak bangsa, bahkan oleh sesama anggota keluarga, dan sebagainya? Semisal, mengapa pergaulan dan pertemanan, cenderung ke arah negatif, pengaruh negatif, hingga merusak?

Contoh, pengedar obat-obatan terlarang dilarang mempromosikan produk narkot!k yang mereka produksi, edarkan, dan jual, karenanya ruang geraknya untuk berpromosi telah terminimalisir sedemikian rupa. Namun, mengapa prevalensi angka pemakai aktif zat adiktif terlarang tersebut tumbuh subur sepanjang tahun di Indonesia, tanpa tren menurun? Tentu, semua itu akibat faktor pengaruh lingkungan dan pergaulan. Akan tetapi, tetap belum menjawab pertanyaan utamanya, apa yang mendasari fenomena “anomali sosial” demikian?

Bangsa yang Gemar Merampas Hak Orang Lain

SENI PIKIR & TULIS

Kultur Egoistik & Tidak Takut Dosa, namun Agamais dan Mengaku ber-Tuhan

Bangga dapat Merapas Hak Warga Lain, alih-alih Merasa Malu dan Takut Dosa, namun Berbusana Agamais dan Rajin Beribadah

Salah seorang klien yang kini berdomisili dan menetap di luar negeri, pernah bercerita, sebuah kisah pengalaman pribadinya yang inspiratif dan cukup menarik untuk disimak, menuturkan bahwa dirinya pernah mengemudikan kendaraan bermotor roda empat di Jakarta, Indonesia, dikarenakan lalu-lintas padat, seorang polisi mengarahkan pengemudi untuk memasuki lajur yang selama ini hanya diperuntukkan khusus bagi bus (transportasi umum). Sang klien pun menuruti arahan polisi berseragam, yang berwenang mengatur serta mengarahkan di jalanan, dengan melajukan kendaraan yang dikemudi olehnya ke dalam lajur khusus bus.

Keberanian untuk Menjalankan Hidup Kita Sendiri. Lebih Baik Disakiti oleh Orang Lain, daripada Membiarkan Diri kita Menyakiti Diri Sendiri

SENI PIKIR & TULIS

Lebih Baik Disakiti oleh Orang Lain, daripada dengan Konyolnya Membiarkan Diri Kita Menderita Sakit maupun Terluka akibat Lalai terlebih Bersikap Bodoh Disebabkan Ketakutan atau ketika Mencoba Berkelit dari Rasa Takut terhadap Ancaman Orang Lain

Bila Kita Disakiti atau Dilukai oleh Orang Lain, Kita bisa Menuntut Tanggung-Jawab dari Mereka. Namun bila Kita Sakit ataupun Terluka akibat Sikap Abai dan Lalai Kita, terlebih Menjebloskan Diri akibat Dikuasai Rasa Takut, Kita bisa Menuntut Siapa untuk Dimintakan Tanggung-Jawab?

Jangan pernah membuat keputusan atas dasar ketakutan, karena itu pasti merugikan kepentingan dan kebaikan diri kita sendiri. Konon, masyarakat Indonesia disebut-sebut sebagai masyarakat yang gemar berdana dan pemurah (“murah hati” serta gemar mengulurkan tangan untuk menolong). Faktanya, untuk hal-hal yang sederhana yang ada di depan mata, seperti bersikap sabar terhadap warga maupun pengguna jalan lainnya, “sumbu” masyarakat kita di Indonesia sungguh pendek dan mudah tersulut—sedikit-sedikit “main kekerasan fisik”, seolah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan sengketa tanpa perlu bersengketa.

Waktu yang Tepat, Orang yang Tepat, dan Kata-Kata yang Tepat

SENI PIKIR & TULIS

Mengumbar Ajaran Suci kepada yang Tidak Mampu Menghargai Ajaran Suci, sama artinya menjadikan Sampah Ajaran Suci tersebut bak Sampah yang Berceceran di Jalan dan di Tong Sampah

Ajahn Mun (Acariya Man), seorang bhikkhu tradisi hutan di Thailand yang bersama Ajahn Sao menghidupkan kembali budaya bhikkhu yang hidup dan berlatih di dalam hutan rimba (duthangga), akan bungkam seribu bahasa ketika mendapati bahwa lawan bicaranya tidak menaruh sikap respek terhadap Dhamma. Sehingga, ketika orang tersebut sekalipun mengajukan pertanyaan perihal Dhamma, Ajahn Mun tidak akan menanggapi ataupun memberikan jawaban sepatah kata pun, bungkam seribu bahasa, karena Ajahn Mun mengetahui dan dapat membaca pikiran orang lain, bahwa pertanyaan diajukan namun yang bersangkutan tidak membuka kedua telinganya untuk mendengarkan jawaban, alias bertanya namun menutup telinga dari jawaban pihak yang ditanya, hanya akan membuat Dhamma dilecehkan.

Cara dan Kiat Memiliki Pelanggan Setia, Pahami PSIKOLOGI KONSUMEN

SENI PIKIR & TULIS

Investasi Jangka Panjang Pelaku Usaha, Rawat dan Jaga Pelanggan Anda lewat Pelayanan yang RAMAH dan SABAR

Terkadang, bukan soal produk barang atau jasa yang dijual oleh suatu pelaku usaha (penyedia barang maupun jasa) yang menjadi faktor penentu ada atau tidaknya minat masyarakat ataupun calon konsumen untuk memutuskan menjadi pelanggan atau tidaknya—namun pendekatan, cara menyajikan, serta pelayanan dan ketulusan dalam melayani semisal keramahan dan kesabaran. Ulasan ini disusun dari perspektif konsumen, dimana bila para pembaca merupakan seorang pelaku usaha penyedia barang ataupun jasa, bahasan dalam kesempatan ini menjadi sangat penting untuk disimak karena faedahnya aplikatif untuk diaplikasikan.

Resiko menjadi Pengguna Jasa / Barang Industri Syariah

SENI PIKIR & TULIS

Pilih Mana, menjadi Pengguna Barang / Jasa Konvensional ataukah Syariah?

Industri Syariah, Kawan ataukah Musuh dalam Selimut?

Bila yang seperti berikut ini, disebut sebagai “halal”, maka pertanyaan terbesar kita ialah bagaimana yang “haram”? Dikutip dari ajaran “Agama DOSA” yang bersumber dari sebuah “Kitab DOSA”, mengingat hanya seorang pendosa yang membutuhkan iming-iming korup yang tidak adil serta tidak bertanggung-jawab terhadap pihak korban, bernama “penghapusan / pengampunan dosa”:

Kiat Mengatasi Gangguan Makhluk Halus Jahat Tanpa Ilmu Mistik, Anda pun Bisa Berdaya secara Mandiri dan Swadaya Tanpa Paranormal, Bantu Diri Anda Sendiri

SENI PIKIR & TULIS

Manusia Lebih Tinggi Derajatnya daripada Jin maupun Setan, Itulah Fakta Paling Utama yang Perlu Kita Ketahui dan Sadari

Jangan Takut, Jadilah Lebih Kuat serta Lebih Berani daripada Segala Kekuatan Makhluk yang Lebih Rendah Derajatnya daripada Manusia

Indonesia, ialah negeri dimana jumlah setan dan jin berkeliaran begitu masifnya dan merajalela, dimana para manusia yang bersekutu dengan para setan dan jin tersebut (ironisnya) tidak kalah masifnya—disamping fakta bahwa, manusia yang menjadi korban gangguan maupun praktik tumbal (semacam pesug!han) dari manusia-manusia jahat-serakah tersebut ialah sama masifnya. Bangsa Indonesia mengaku dan berpenampilan (berbusana) serta berkegiatan bak “agamais” (rajin ritual religius keagamaan) dimana ayat-ayat berkumandang dan bersahut-sahutan, namun disaat bersamaan kerap bersekutu dengan bangsa jin dan setan secara di balik layar.

Masih Belum Matang, dan Masih Bisa Berbuat Keliru, merupakan Kesadaran Awal yang cukup Baik dalam Rangka Perbaikan Diri

SENI PIKIR & TULIS

Kesalahan untuk Diakui, Bukan untuk Dipungkiri, namun Jangan pula secara FatalistiK Dijadikan sebagai Akhir dari Riwayat Kita

Jujur pada Diri Sendiri bahwa Kita Masih bisa Berbuat Keliru, Bukanlah Akhir dari Segalanya, namun Awal dari Segalanya

Tidak sedikit pihak-pihak dari beragam kalangan latar belakang, yang telah membaca berbagai publikasi karya tulis penulis dibidang ilmu hukum dan sosial, menyatakan bahwa penulis merupakan pribadi yang tergolong memiliki kecerdasan “diatas rata-rata”. Faktanya, penulis tidak pernah memandang diri penulis secerdas itu, bahkan jauh dari itu. Orang-orang yang tergolong “jenius”, menurut sejumlah sumber, disebutkan bahwa tidak ada orang-orang yang diklasifikasi sebagai pemilik IQ “jenius” memandang bahwa dirinya adalah seorang “jenius”. Faktanya pula, penulis kerap melakukan kesalahan-kesalahan “konyol” yang seringkali penulis sesalkan sendiri dikemudian hari.

Semua Agama adalah Sama, Kata Siapa? Jangan Samakan Buddhisme dengan Mereka (Agama DOSA)

SENI PIKIR & TULIS

Antara Agama SUCI, Agama KSATRIA, versus Agama DOSA, Pilih yang Mana?

Sembah Patung Dilarang dan Diberhalakan, Sembah Batu dan Peluk DOSA justru Dipromosikan?

Ada yang mengatakan, demi kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama yang perlu dibina, dipupuk, dan dilestarikan dalam untaian kebhinekaan, maka semua agama perlu dipandang sama, sama baiknya. Terdapat kalangan agama tertentu yang sudah dikenal atas sikap beringas, mengandalkan kekerasan fisik (begitu mudahnya mengumbar kekerasan fisik untuk menyelesaikan setiap masalah), dan radikalismenya, menolak paham demikian, dan menyatakan bahwa agamanya-lah yang paling benar sendiri, paling superior, dan yang paling luhur. Pertanyaan dari penulis ialah, bagaimana mungkin seorang pendosa penyembah “Agama DOSA”, hendak berceramah perihal hidup suci dan mulia?

Sayangi Dirimu dan Cintai Hidupmu, itulah Opsi Alternatif yang dapat Kita Pilih, Ambil, dan Tempuh

SENI PIKIR & TULIS

Daripada Menyesali Kegelapan dan Rasa Tidak Berdaya, Hidupkan saja Pelita yang Menerangi Hidup Kita

Ketika Orang-Orang Jahat Tidak Terhentikan dan Terus saja Menyakiti ataupun Merugikan (Menjahati) Diri Kita, seperti Apapun Kita Berupaya Menolak Disakiti dan Menjaga Diri, Setidaknya Kita Tidak Perlu ikut-Ikutan (secara Latah) Turut Menyakiti Diri Kita Sendiri

Orang Jahat adalah Orang Jahat, Sebanyak Apapun Kita Menyatakan Menolak untuk Disakiti ataupun Dirugikan. Setidaknya, Kita Tidak menjadi Salah Satu Orang Jahat demikian terhadap Orang Lain maupun terhadap Diri Kita Sendiri

Ketika menghadapi kejahatan orang-orang jahat yang kerap menyalah-gunakan kekuatan fisik, kekuatan uang, kekuatan politik, kekuatan kekuasaan, kekuatan kedudukan, maupun penyalah-gunaan sumber daya lainnya, kita cenderung jatuh dalam kondisi tertekan, tanpa daya, putus asa, khawatir, cemas, tidak berdaya, depresi, murung, bersedih, cemas, marah pada para pelakunya yang jahat, serta marah kepada diri kita sendiri yang tidak berdaya menghadapi keadaan, benci pada kondisi diri yang tidak berdaya, kecewa pada hidup yang mengecewakan, yang mana bila kita melakukan aksi pembalasan maka dapat dipastikan kita akan kembali terjatuh kalah dan menderita luka fisik disamping luka batin semata karena lebih lemah dari segi ekonomi, fisik, jumlah orang, maupun kekuasaan, dsb.

Makna Paradigma BE REALISTIC dalam Berupaya dan Berusaha

SENI PIKIR & TULIS

Realistis artinya Tidak Melekat pada Optimisme, Pesimisme, juga tidak Membuta pada Pikiran Positif, maupun Pikiran Negatif, namun Situasional dan Kondisional

Bersikap realistis dan sikap realistik artinya tahu kapan harus bersikap optimis, dan kapan harus bersikap pesimistis; serta tahu kapan harus berpikiran positif (positive thinking) dan tahu kapan harus berpikiran negatif (negative thinking). Dasar dibalik paradigma realistik, ialah rasio sebagai basis pendekatan terhadap setiap peristiwa konkret yang sangat kasuistik. Tidak ada kalangan pengusaha, atlet, maupun pimpinan organisasi ataupun bahkan seorang pekerja, yang bersikap optimistis dan berpikiran positif sepanjang waktunya, karena sikap membuta semacam itu artinya kurang arif disamping tidak bijaksana—kecuali di mata seorang “pemimpi”.

Masih Belum Matang, dan Masih Bisa Berbuat Keliru, merupakan Kesadaran Awal yang cukup Baik

SENI PIKIR & TULIS

Kesalahan untuk Diakui, Bukan untuk Dipungkiri, namun Jangan pula Dijadikan sebagai Akhir dari Riwayat Kita

Jujur pada Diri Sendiri bahwa Kita Masih bisa Berbuat Keliru, Bukanlah Akhir dari Segalanya, namun Awal dari Segalanya

Tidak sedikit pihak-pihak dari beragam kalangan latar belakang, yang telah membaca berbagai publikasi karya tulis penulis dibidang ilmu hukum dan sosial, menyatakan bahwa penulis merupakan pribadi yang tergolong memiliki kecerdasan “diatas rata-rata”. Faktanya, penulis tidak pernah memandang diri penulis secerdas itu. Orang-orang yang tergolong “jenius”, menurut sejumlah sumber, disebutkan bahwa tidak ada orang-orang yang diklasifikasi sebagai pemilik IQ “jenius” memandang bahwa dirinya adalah seorang “jenius”. Faktanya pula, penulis kerap melakukan kesalahan-kesalahan “konyol” yang seringkali penulis sesalkan sendiri dikemudian hari.

KABAR BAIK bagi Penjahat (PENDOSA), sama artinya KABAR BURUK bagi Orang Baik (KORBAN)

SENI PIKIR & TULIS

Bila Korupsi sama dengan Mencuri, dan Pencuri bisa Masuk Surga bila Menyembah Tuhan (Ritual Sembah Sujud), maka Koruptor pun Yakin Seyakin-Yakinnya akan Masuk Surga serta Berhak Diampuni Dosa-Dosanya

Agama Korup bagi Orang Korup yang Korupsi, Berbuat Dosa pun masih Mengharap Masuk Surga. Lantas, bagaimana dengan Nasib Korban?

Terdapat sebuah “Agama DOSA” yang bersumber dari sebuah “Kitab DOSA”, mengiming-imingi umatnya yang berbosa, bahkan mempromosikan dosa dan perbuatan dosa untuk dilakukan serta dikoleksi serta ditimbun hingga berkubang bahkan pula berlumuran dosa: [NOTE : Artikel ini tidak menyebutkan nama satu agama tertentu, sehingga bila ada yang merasa tersinggung karenanya, itu menjadi urusan pribadi yang bersangkutan]

Ini adalah Indonesia (Sumpah Pemuda), Bukan Arab

ARTIKEL HUKUM

Yang Melanggar dan Menista Pancasila, ialah Orang Indonesia sendiri yang Mengaku-ngaku “Agamais”

Yang Melanggar dan Menafikan Sumpah Pemuda, ialah Orang Indonesia sendiri yang Mengaku-ngaku Warga Negara Indonesia

Tiada yang lebih tidak nasionalis, ketimbang mereka yang justru memiliki haluan radikal hendak meniadakan dan menggulingkan Pancasila dari jabatannya selaku ideologi negara Republik Indonesia, sebagaimana pondasi dan pilar paling mendasar yang dibangun dan diwariskan oleh segenap “founding fathers”. Tiada yang lebih patut disebut sebagai pengkhianat, ketimbang mereka yang justru kerap melanggar sumpah bangsa mereka sendiri—dalam hal ini ialah “Sumpah Pemuda” yang salah satunya memiliki ikrar “Berbahasa satu, yakni Bahasa Indonesia!

Yang Menista Agama ialah Umat Bersangkutan Itu Sendiri, telaah Ritual dengan Menimbulkan Polusi Suara

SENI PIKIR & TULIS

Ketika masih Minoritas, Cinta Damai sembari Menikmati Toleransi. Ketika telah menjadi Mayoritas, Mendadak Menjelma Radikal dan Mematikan Toleransi

Disebut-sebut dan mengaku-ngaku sebagai agama damai, cinta perdamaian, toleran, baik, mulia, namun bila sikap rata-rata umatnya (secara berjemaah) justru beringas, radikal, intoleran, haus darah, mudah tersinggung, mudah naik pitam, mudah “kesetanan”, suka bermain kekerasan fisik, sedikit-sedikit menganiaya dan membakar bahkan tidak segan membunuh dengan mengatas-namakan agama, maka pembuktian yang sebenarnya terjadi ialah lewat teladan serta sikap nyata, bukan sekadar klaim atau jargon semata.

Saya Manusia yang BEBAS dan MERDEKA, Bukan Individu Jajahan yang Terjajah, kecuali Anda Mengaku sebagai Penjajah

SENI PIKIR & TULIS

Ini adalah Negara Merdeka, Bukan Negara Jajahan yang Terjajah. Karenanya Berhentilah Memiliki Mental Bangsa Jajahan ataupun Mental Pribadi Terjajah dengan Bersikap Seolah-olah Tidak Punya Hak dan Pilihan Bebas maupun Pikiran untuk Menilai dan Memutuskan Sendiri dalam Menjalani Hidup Kita Pribadi

Jangan Bersikap Seolah-olah Kita Bukan Pribadi / Individu yang BEBAS dan MERDEKA

Ketakutan diejek atau diolok-olok (verbal bullying), sekalipun kita tidak pernah menyakiti ataupun melukai terlebih merugikan mereka ataupun orang lainnya, merupakan ketakutan yang tergolong irasional—karena memang seringkali keliru adanya, alias delusif. Kita perlu mulai belajar menanamkan mindset pada mental dan cara berpikir kita, bahwa biarkanlah orang lain mengejek, mencibir, menjelek-jelekkan, menghina, mencaci, memaki, memfitnah, ataupun mengolok-olok kita, namun kita tetap punya hak untuk “tidak memperdulikan” (tidak mengacuhkan), alias hak untuk mengabaikan.

Setiap Orang adalah Unik, Pendekatan yang Personal

SENI PIKIR & TULIS

Yang Kita Sukai, Belum Tentu juga Disukai oleh Orang Lain

Memahami dan Saling Memahami, Bukan Minta Dipahami, Dihargai, dan Dihormati

Sering kita dengar atau saksikan, seseorang yang kelakuannya “sekehendak hati” alias berkelakuan “seenaknya”, semata menggunakan pendekatan sebagaimana kebiasaan dirinya sendiri, melepaskan diri dari fakta bahwa orang lain memiliki pendekatan serta kebiasaan ataupun gaya karakter, kecondongan, kesukaan serta ketidaksukaan, dan kepribadian yang berbeda, justru senantiasa menuntut agar dimengerti namun disaat bersamaan selalu gagal untuk mau memahami dan menghargai kehendak, aspirasi, harapan maupun kepribadian orang lain.

Mengapa Orang Baik dan Jujur, Tidak Disukai dan Dibenci? Ini Alasannya

SENI PIKIR & TULIS

Karena Ada Perbedaan, maka Ada Perbandingan. Karena Ada Perbandingan, maka Ada Kontras

Ketika suatu komunitas yang berisi orang-orang baik dan jujur, maka adanya satu orang yang tidak baik ataupun yang tidak jujur, dipandang sebagai sebuah ancaman dan “penyakit” oleh warga komunitas tersebut. Sebaliknya berlaku prinsip serupa, dalam suatu masyarakat yang mayoritasnya berisi penduduk yang kurang baik dan tidak jujur, maka adanya satu orang yang baik dan jujur, akan dinilai secara sentimentil seolah eksistensinya membawa suatu ancaman setidaknya sebuah “tamparan” bagi wajah-wajah yang selama ini bermukim serta menghuni komunitas bersangkutan—mereka menyebutnya sebagai “pembawa aib”. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Rezeki sudah Ada yang Atur?! Kata Siapa?

SENI PIKIR & TULIS

Kaitan antara “Rezeki sudah Ada yang Atur!” dan “Tangan-Tangan Tidak Terlihat”, terdapat Benang Merah Korelasi yang Sangat Erat diantara Keduanya

Siapa Sangka, Indonesia Memeluk Paham LIBERAL!SME

Bangsa Indonesia pada era demokrasi ini mengklaim sebagai bangsa yang anti terhadap ideologi komun!sme—namun disaat bersamaan tidak mengutuk ataupun meng-anti-anti-kan paham sebaliknya, liberal!sme. Kita pun patut bertanya, ada apa dengan Bangsa Indonesia? Dalam bahasan kesempatan ini, fokus wacana kita ialah perihal sistem ekonomi ketatanegaraan, terkait ideologi bentuk pemerintahan dalam menyusun model ekonomi negaranya, tanpa perlu melebar dalam bidang politik maupun budaya. Ulasan ini akan mengungkap secara ringkas, betapa mengejutkannya wajah sejati praktik sistem ekonomi yang pada era modernisasi ini terjadi di Indonesia.