(DROP DOWN MENU)

Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA untuk Seumur Hidupnya, sebagai Pertanda Tidak Pernah Taubat

Umat Agama Samawi Berjalan di Tempat, Sebanyak Apapun Ritual Ibadah Mereka, Divonis Hidup dan Mati sebagai PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA alias Menjelma KORUPTOR DOSA

Dogma PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA membuat umat Agama Samawi Tidak Merasa Perlu untuk Tobat

Question: Yang paling tidak saya mengerti dari jalan pikiran umat agama samawi, ini dan itu disebut “dilarang Allah”, ini dan itu dosa, ini dan itu haram, ini dan itu najis. Mengharam-halal-kan segala sesuatunya, seolah-olah sebagai kaum paling superior alias “polisi moral” yang berhak menghakimi kaum lainnya. Mereka menyuruh orang lain untuk bertobat, bicara tentang apa itu akhlak dan moral, namun disaat bersamaan mereka sendiri setiap harinya melakukan ritual doa permohonan pengampunan dosa secara vulgar lewat pengeras suara alias mempertontonkan “aurat terbesar” ke publik berupa berbuat dosa sebelum kemudian memohon pengampunan terhadap dosa-dosa tersebut. Bila ritual ibadah mereka untuk seumur hidupnya, telah ternyata ialah doa-doa pengharapan pengampunan dosa, lalu dimana letak “tobat”-nya karena kembali mengulangi dosa-dosa yang sama maupun dosa-dosa bari lainnya untuk kemudian dimohonkan pengampunan atau penghapusan?

Brief Answer: Agama samawi tidak pernah mengeliminir satupun kejahatan paling primitif yang dikenal sejak peradaban nenek-moyang umat manusia. Justru sebaliknya, agama samawi dibalik dogma-dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins bagi KORUPTOR DOSA, tentunya), bersifat melestarikan dan memperparah tingkat keparahan “SELFISH GENE” yang bersarang dan telah dibiarkan menguasai jiwa serta pikiran umat-umat agama samawi.

Pertobatan sejati, ialah berupa penyesalan telah melakukan perbuatan yang dapat dicela oleh para bijaksanawan dengan cara bertanggung-jawab terhadap kerugian, luka, maupun sakit yang diderita oleh korban, selanjutnya bertekad dan berkomitmen untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran serupa. Sebaliknya, sikap “anti tobat” merujuk pada fenomena aksi berlomba-lomba memproduksi segunung dosa dan mengoleksi segudang dosa, yang kemudian disikapi dengan ritual “PENGHAPUSAN DOSA”.

Antara “MENCETAK DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA”, sifatnya saling bundling ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter. Itu namanya bukan “tobat”, namun mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, alias menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi (kejahatan berpangkat dua) karena merampas hak korban atas keadilan. Tidak ada yang lebih adiktif dan beracun, daripada iming-iming “too good to be true” semacam ideologi KORUP demikian.

Karenanya, para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut tidak merasa perlu untuk ber-tobat, justru termotivasi untuk berlomba-lomba berbuat “dosa untuk dihapuskan”, alih-alih merasa malu ataupun tabu terhadap gagasan picik-kerdil-dangkal-tercela demikian. Babi, disebut “haram”. Ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim sebagai “halal lifestyle”. Terhadap dosa dan maksiat, demikian komromistik. Disaat bersamaan, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran.

Berangkat dari fakta empirik dan dogmatik demikian, tidak mengherankan ketika para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut menyebut kaum NON sebagai kaum yang “merugi”, cerminan nyata bahwa mereka tidak pernah benar-benar ber-tobat. Pendosa yang mabuk serta kecanduan dogma adiktif bernama “PENGHAPUSAN DOSA”, namun berbicara perihal tobat dan menasehati orang lain untuk ber-tobat? Itu ibarat orang BUTA yang hendak menuntun dan membimbing kaum BUTAWAN lainnya, neraka pun disebut sebagai surga, dan sebaliknya.

PEMBAHASAN:

Sang Buddha pernah bersabda, apa yang dipandang sebagai kesenangan oleh orang-orang yang masih tebal kekotoran batin yang menutupi pandangan mereka, adalah duka di mata seorang Buddha. Simak juga khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

406 (13) – 409 (16)

“… (406) membangkitkan keinginan untuk tidak memunculkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya …

(407) membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya …

(408) membangkitkan keinginan untuk memunculkan kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya …

(409) membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul, demi ketidak-mundurannya, untuk meningkatkannya; untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya … “

~0~

26 (6)

“Para bhikkhu, bagi seorang dengan perbuatan-perbuatan yang disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka atau alam binatang.

[Kitab Komentar : Penerjemah lain dari Bahasa Pali menginterpretasikan “perbuatan yang disembunyikan” (paicchannakamma) hanya sebagai perbuatan buruk, menjelaskan bahwa bahkan jika suatu perbuatan buruk tidak disembunyikan, maka itu tetap disebut perbuatan yang disembunyikan. Akan tetapi, tampaknya pengakuan atas perbuatan buruk seseorang dan memperbaikinya dapat mengurangi kekuatan negatifnya.]

“Bagi seorang dengan perbuatan-perbuatan yang tidak disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam deva atau alam manusia.”

27 (7) 245

“Para bhikkhu, bagi seorang yang menganut pandangan salah maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka atau alam binatang.”

28 (8)

“Para bhikkhu, bagi seorang yang menganut pandangan benar maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam deva atau alam manusia.”

29 (9)

“Para bhikkhu, bagi seorang yang tidak bermoral maka ada dua penampung: neraka atau alam binatang. Bagi seorang yang bermoral, maka ada dua penampung: alam deva atau alam manusia.”

Hanya seorang PENDOSA, yang butuh PENGHAPUSAN DOSA; merujuk Khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

III. Uruvelā

21 (1) Uruvelā (1)

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian, sewaktu Aku sedang sendirian dalam keterasingan, suatu pemikiran muncul dalam pikiranku sebagai berikut: ‘Sungguh menyakitkan berdiam tanpa penghormatan dan penghargaan. Sekarang petapa atau brahmana manakah yang dapat Kuhormati, Kuhargai, dan berdiam dengan bergantung padanya?’

“Kemudian Aku berpikir:

(1) ‘Jika kelompok perilaku bermoralKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal perilaku bermoral daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

(2) “‘Jika kelompok konsentrasiKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal konsentrasi daripada diriKu sendiri …

(3) “‘Jika kelompok kebijaksanaanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebijaksanaan daripada diriKu sendiri …

(4) “‘Jika kelompok kebebasanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebebasan daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

“Aku berpikir: ‘Biarlah Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada Dhamma ini yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna.’

“Kemudian Brahmā Sahampati, [21] setelah dengan pikirannya mengetahui refleksi dalam pikiranKu, lenyap dari alam Brahmā dan muncul kembali di hadapanKu seperti halnya seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang. Ia merapikan jubahnya di satu bahunya, membungkuk dengan lutut kanannya di tanah, memberi hormat kepadaKu, dan berkata: ‘Begitulah, Bhagavā! Begitulah, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan! Bhante, mereka yang telah menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau – para Bhagavā itu, juga, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Mereka yang akan menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan – para Bhagavā itu, juga, akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Biarlah Sang Bhagavā, juga, yang sekarang ini menjadi seorang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Setelah mengatakan ini, ia berkata lebih lanjut sebagai berikut:

“‘Para Buddha yang sempurna di masa lampau, Para Buddha di masa depan dan Sang Buddha di masa sekarang Yang melenyapkan dukacita banyak makhluk:

Mereka semua telah berdiam, sekarang berdiam,

dan [di masa depan] akan berdiam

dengan menghormati Dhamma sejati.

Ini adalah ciri para Buddha.

“‘Oleh karena itu seseorang yang menginginkan kebaikan,

bercita-cita untuk mencapai kebesaran,

harus menghormati Dhamma sejati,

mengingat ajaran para Buddha.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Kemudian ia memberi hormat kepadaKu, dan dengan Aku tetap berada di sisi kanannya, ia lenyap dari sana. Kemudian, setelah menerima permohonan Brahmā dan apa yang sesuai bagi diriKu sendiri, maka Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna. Dan sekarang bahwa Sagha telah mencapai kebesaran, maka Aku juga menghormati Sagha.” [22]

~0~

22 (2) Uruvelā (2)

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian sejumlah para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir, mendatangiKu dan saling bertukar sapa denganKu. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepadaKu:

“‘Kami telah mendengar, Guru Gotama: “Petapa Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.” Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama.’

[Kitab Komentar : Penempatan sutta ini pada periode persis setelah pencerahan Sang Buddha agak aneh. Kata-kata para brahmana yang menyiratkan agar Sang Buddha, dari posisi otoritas, terlibat dalam diskusi rutin dengan para brahmana; namun Beliau pasti tidak melakukannya sebelum Beliau memulai karirnya sebagai seorang guru. Pada sutta yang terpisah, seorang brahmana melakukan tuduhan yang sama terhadap Sang Buddha belakangan setelah Beliau menjadi seorang guru yang berhasil.]

“Kemudian Aku berpikir: Para mulia ini tidak mengetahui apa itu sepuh dan kualitas-kualitas apa yang membuat seseorang menjadi sepuh. Walaupun seseorang berusia tua – delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun sejak lahir – jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, berbohong, mengatakan apa yang tidak bermanfaat, mengatakan apa yang berlawanan dengan Dhamma dan disiplin, jika pada waktu yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, berbicara tanpa tujuan, dan tidak bermanfaat, maka ia dianggap sebagai seorang sepuh yang dungu [yang kekanak-kanakan].

“Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut hitam, memiliki berkah kemudaan, pada masa utama kehidupannya, jika ia berbicara pada waktu yang tepat, jujur, mengatakan apa yang bermanfaat, mengatakan apa yang sesuai dengan Dhamma dan disiplin, dan jika pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, ringkas, dan bermanfaat, maka ia dianggap sebagai sesepuh bijaksana.

“Ada, para bhikkhu, keempat kualitas ini yang membuat seseorang menjadi sesepuh. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya.

(2) “Ia telah banyak belajar, [23] mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, diulangi secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan.

(3) “Ia adalah seorang yang memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan merupakan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini.

(4) “Dengan hancurnya noda-noda, ia telah mencapai untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.

“Ini adalah keempat kualitas yang membuat seseorang menjadi sesepuh.”

Si dungu dengan pikiran resah

yang banyak membicarakan ucapan-ucapan tanpa tujuan,

pikirannya kacau,

bersenang dalam ajaran yang buruk,

menganut pandangan sesat, tidak sopan,

adalah jauh dari status seorang sesepuh.

Tetapi seorang yang sempurna dalam moralitas,

terpelajar dan melihat,

terkendali oleh diri sendiri dalam faktor-faktor kekokohan,

yang dengan jelas melihat makna dengan kebijaksanaan;

yang melampaui segala fenomena,

tidak mandul, melihat;

[Kitab Komentar : Penerjemah lain dari Bahasa Pali, saññato thiradhammesu, menerjemahkannya sebagai “terkendali oleh diri sendiri dan kokoh di antara fenomena-fenomena.” Klausa ini bersesuaian dengan jhāna-jhāna, “faktor-faktor kekokohan” merujuk pada samādhi. Penerjemah lain mengemas “yang dengan jelas melihat makna kebijaksanaan” (paññāyattha vipassati) sebagai melihat makna keempat kebenaran mulia dengan kebijaksanaan sang jalan bersama dengan pandangan terang. Penerjemah lain menjelaskan “telah melampaui segala fenomena” (pāragū sabbadhammāna) sebagai “telah melampaui semua fenomena seperti kelima kelompok unsur kehidupan” dan “mendatangi kesempurnaan dari semua kualitas [baik]” melalui enam melampaui (chabbidhena pāragamanena): sehubungan dengan pengetahuan langsung, pemahaman penuh, meninggalkan, mengembangkan, realisasi, dan pencapaian-pencapaian meditatif. Penerjemah tersebut tidak menjelaskan pengulangan paibhānavā (“melihat”) dalam syair, yang tampaknya khas.]

Yang telah meninggalkan kelahiran dan kematian,

[Komentar Penyunting : Itulah yang membuat Sang Buddha dapat disebut sebagai “melawan arus”, “melawan Tuhan sang pencipta”.]

sempurna dalam kehidupan spiritual,

padanya tidak ada noda-noda

ia adalah seorang yang Kusebut sesepuh.

Dengan hancurnya noda-noda

seorang bhikkhu disebut sesepuh.

Agama samawi, membuat umatnya berakhir dalam vonis sebagai “seorang sepuh yang dungu yang kekanak-kanakan, yang gagal untuk melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil maupun pelanggaran-pelanggaran besar, penuh noda-noda, si dungu dengan pikiran resah yang banyak membicarakan ucapan-ucapan tanpa tujuan, pikirannya kacau, bersenang dalam ajaran yang buruk, menganut pandangan sesat, tidak sopan, adalah jauh dari status seorang sesepuh—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuknya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]