KAFIR Teriak KAFIR, Maling Teriak Maling, Itulah Ciri Khas Muslim Tipikal Islam
Question: Sering orang-orang muslim menghardik kaum nonmuslim sebagai kafir alias mengkafir-kafirkan. Memangnya apa yang dimaksud dengan kafir?
Brief Answer: Kafir, merujuk pada Surah Maryam ayat 83 : “Tidakkah
engkau memperhatikan bahwa Kami telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir
untuk benar-benar menggoda mereka (berbuat maksiat)?”. Merujuk pada petunjuk dalam sumber
otentik dogma islam di atas, al-quran, telah ternyata mereka yang menikmati dan
mencandu dosa-dosa maupun maksiat, adalah “kafir”. Petunjuk lainnya ialah
mereka yang merupakan “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tidak terkecuali
adalah “kafir” itu sendiir. Atas dasar apakah? Antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK
DIHAPUSKAN” dan “ritual doa PENGHAPUSAN DOSA” adalah saling bundling satu sama
lainnya, ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling berkomplomenter tanpa
dapat dipisahkan.
PEMBAHASAN:
Tengoklah seorang “nabi kafir” bernama Ibrahim /
Abraham, “kafir” junjungan para muslim, demi bisa bersetubuh dengan puluhan
bidadari berdada montok di kerajaan Allah dan demi bisa bersenang-senang di
alam surga (EGO / SELFISH MOTIVE), anak kandung sendiri tega untuk disembelih
dimana sang Bapak telah memiliki tekad bulat serta melakukan permulaan
perbuatan untuk merampas hak hidup anak kandungnya sendiri, Ishaq / Ismail. Ayah
yang baik, akan memilih untuk masuk neraka demi menebus hidup dan kebahagiaan
anak kandung terkasih. Namun, Ibrahim / Abraham telah ternyata tunduk dan patuh
pada bisikan setan serta godaan iblis. At that time, Ibrahim was not a father,
but an EXECUTOR!
Hanya seorang PENDOSA dan “KORUPTOR DOSA” yang butuh
iming-iming KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”,
sehingga mudah dibisiki, dihasut, serta digoda oleh setan-setan utusan Allah—yang
diutus agar umat manusia menjadi objek budak sembah-sujud dan sapi-perahan
peliharaan Allah. Alhasil, yang paling dibenci, ditakuti, dan tidak disukai
oleh setan-setan utusan Allah maupun Allah itu sendiri, ialah Buddha. Orang suci
(gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat) dan kaum ksatria (kaum yang
berani tampil untuk mempertanggung-jawabkan dan membayar konsekuensi dari
perbuatan buruknya sendiri) manakah yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”?
Lawan kata dari “PENGHAPUSAN DOSA”, ialah sikap
penuh tanggung-jawab dan mawas diri (self-control), sebagaimana khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
16 (6) Tidak keliru
“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga kualitas,
seorang bhikkhu mempraktikkan jalan yang tidak keliru dan telah mendirikan landasan
bagi hancurnya noda-noda. Apakah tiga ini? Di sini, seorang bhikkhu menjaga
pintu-pintu indria, menjalankan praktek makan secukupnya, dan menekuni keawasan.
[Kitab Komentar : Terhadap frasa
Pali “apaṇṇakapaṭipadaṃ”, penerjemah lainnya memberikan
serangkaian sinonim: “jalan yang tidak keliru, jalan pasti, jalan yang
membebaskan, jalan penyebab, jalan penting, jalan yang indah, jalan yang tidak berlawanan,
jalan yang kondusif, jalan yang sesuai Dhamma” (aviraddhapaṭipadaṃ ekaṃsapaṭipadaṃ niyyānikapaṭipadaṃ kāraṇapaṭipadaṃ sārapaṭipadaṃ maṇḍapaṭipadaṃ apaccaṇīkapaṭipadaṃ anulomapaṭipadaṃ dhammānudhammapaṭipadaṃ).
Pada sutta lainnya, juga disebutkan
bahwa melalui ketiga praktik ini “seseorang telah mendirikan landasan bagi
hancurnya noda-noda.”]
(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu
menjaga pintu-pintu indria? Di sini, setelah melihat
suatu bentuk dengan mata, seorang bhikkhu tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan
dapat menyerangnya, maka ia mempraktikkan pengendaliannya terhadapnya; ia menjaga indria mata, ia
menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengar suatu suara
dengan telinga … Setelah mencium suatu bau-bauan dengan hidung … Setelah
mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan suatu objek
sentuhan dengan badan …
Setelah mengetahui suatu fenomena pikiran dengan
pikiran, seorang bhikkhu tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan
indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, maka ia
mempraktikkan pengendaliannya terhadapnya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan
pengendalian indria pikiran. Demikianlah seorang bhikkhu menjaga
pintu-pintu indria. [114]
(2) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjalankan praktek
makan secukupnya? Di sini, dengan merefleksikan secara seksama,
seorang bhikkhu memakan makanannya bukan demi kesenangan juga bukan demi
kemabukan juga bukan demi kecantikan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya
untuk mendukung dan memelihara tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk
membantu kehidupan suci, dengan pertimbangan: ‘Demikianlah aku akan mengakhiri
perasaan lama dan tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat
dan tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Demikianlah seorang bhikkhu
menjalankan praktik makan secukupnya.
(3) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menekuni
keawasan? Di sini, selama siang hari, ketika berjalan mondar-mandir dan duduk,
seorang bhikkhu memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang
menghalangi. Pada jaga pertama malam hari, ketika berjalan mondar-mandir dan duduk,
ia memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang menghalangi. Pada jaga
pertengahan malam hari, ia berbaring pada sisi kanan dalam postur singa dengan
satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih,
setelah mencatat dalam pikirannya gagasan untuk terjaga. Setelah terjaga,
pada jaga terakhir malam hari, ketika berjalan mondar-mandir dan duduk, seorang
bhikkhu memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang menghalangi.
Demikianlah seorang bhikkhu menekuni keawasan.
“Seorang bhikkhu yang memiliki ketiga kualitas ini mempraktikkan
jalan yang tidak keliru dan telah mendirikan landasan bagi hancurnya
noda-noda.”
~0~
17 (7) Diri Sendiri
“Para bhikkhu, tiga kualitas ini mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
Apakah tiga ini? Perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan,
dan perbuatan buruk melalui pikiran. Ketiga kualitas ini mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
“Tiga kualitas [lainnya] ini tidak mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
Apakah tiga ini? Perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan,
dan perbuatan baik melalui pikiran. Ketiga kualitas ini tidak mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.” [115]
~0~
18 (8) Deva
“Para bhikkhu, jika para pengembara sekte lain
bertanya kepada kalian sebagai berikut: ‘Sahabat-sahabat, apakah kalian
menjalani kehidupan spiritual di bawah Petapa Gotama demi kelahiran kembali di
alam deva?’ tidakkah kalian merasa muak, malu, dan jijik?”
“Benar, Bhante.”
“Demikianlah, para bhikkhu, karena
kalian merasa muak, malu, dan jijik dengan umur kehidupan surgawi, keindahan
surgawi, kebahagiaan surgawi, keagungan surgawi, dan kekuasaan surgawi, maka
terlebih lagi kalian harus merasa lebih muak, malu, dan jijik lagi sehubungan
dengan perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan
perbuatan buruk melalui pikiran.”
Anda mungkin pernah bertanya-tanya,
mengapa kejahatan-kejahatan paling primitif seperti merampok, membunuh,
mencuri, menipu, berkata dusta, ingkar janji, berzina, begal, persekusi, justru
kian lestari sejak agama samawi dilahirkan ke dunia ini? Terhadap dosa dan
maksiat, begitu kompromistik. Namun terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka
begitu intoleran. Dogma-dogma yang membuat umat manusia tunduk dan pasrah
kepada dosa-dosa dan maksiat, menjadi budak dari dosa dan maksiat, sebelum
kemudian menjadi pemabuk yang mencandu serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins), jelas-jelas “mangsa empuk” objek hasutan demikian paling disukai
oleh para setan-setan utusan Allah untuk dihasut, alias para “kafir” berikut—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuknya jiwa yang telah dikuasai
sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih”
menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari
Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Tidak ada murid
siswa Sang Buddha yang berdelusi akan masuk surga setelah melakukan kejahatan. Berbeda
dengan nabi agama samawi, yang berhalusinasi akan masuk surga setelah melakukan
berbagai kejahatan sepanjang hidupnya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]