(DROP DOWN MENU)

Dilahirkan ke Dunia oleh “Tuhan yang PRO terhadap PENDOSA”, ialah Dukkha

Kelahiran Kembali adalah Dukkha dan Tidak Terlahir Kembali adalah Kebahagiaan, Atas Alasan apakah?

Bila Anda Benar-Benar Mencintai Putera dan Puteri Anda, maka Jangan Pernah Lahirkan Seorang pun dari Mereka, Calon Anak-Anak Anda

Question: Bila setiap hari, setiap tahunnya, bahkan sampai akhir hayatnya, isi doanya ialah minta dihapus dosa-dosanya, maka bukankah itu adalah sebuah pola (pattern), yakni pola pertanda tidak jera dan tidak pernah kapok kembali melakukan dosa-dosa serupa sejak dahulu kala hingga seterusnya?

Brief Answer: Yang menjadi “business as usual” umat “Agama DOSA”—disebut demikian karena mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat—ialah memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa-dosa, dan disaat bersamaan mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”. Antara dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN DOSA” dan “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” ialah saling bundling satu sama lainnya, ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter tanpa terpisahkan.

Alhasil, satu-satunya “taubat” dalam kamus “Agama DOSA” ialah “tobat menjadi orang baik yang penuh tanggung-jawab”, karena pola-pikir yang terpatri dalam benak mereka ialah “merugi jadi orang baik yang penuh tanggung-jawab”. Mereka bahkan tidak memahami, bahwa lawan kata dari “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” ialah “BERTANGGUNG-JAWAB”. Mulutnya mengucap kata “taubat”, namun perilakunya justru bergerak sebaliknya secara kontradiktif dari apa yang mereka ucapkan sendiri, alias kaum “hipokrit”.

Singkatnya, mereka adalah kasta rendah dan hina, yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Terlahir di tengah-tengah masyarakat penganut “Agama DOSA”, adalah dukkha itu sendiri.

PEMBAHASAN:

Dengan menyadari bahwa Allah yang disembah banyak umat manusia justru ialah “SATAN yang PRO terhada PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, maka kita menyadari bahwa hidup adalah dukkha, dan terlahir kembali ialah dukkha. Bila Anda benar-benar mencintai (calon) putera-puteri Anda, maka yang opsi terbaik yang dapat kita lakukan ialah tidak pernah melahirkan seorang anakpun, sebagaimana dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

65 (5) Kebahagiaan (1)

Pada suatu ketika Yang Mulia Sāriputta sedang menetap di antara penduduk Magadha di Nālakagāmaka. Kemudian Pengembara Sāmaṇḍakāni [121] mendatangi Yang Mulia Sāriputta dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Sāriputta:

“Teman Sāriputta, apakah kebahagiaan? Apakah penderitaan?”

Kelahiran kembali, teman, adalah penderitaan. Tidak terlahir kembali adalah kebahagiaan. Ketika ada kelahiran kembali, maka penderitaan ini menanti: dingin, panas, lapar, haus, buang air besar, dan buang air kecil; didera oleh api, tongkat pemukul, atau pisau; dan sanak saudara dan teman-teman berkumpul dan memarahi seseorang. Ketika ada kelahiran kembali, maka penderitaan ini menanti.

Ketika tidak ada kelahiran kembali, maka kebahagiaan ini menanti: tidak ada dingin, tidak ada panas, tidak ada lapar, tidak ada haus, tidak ada buang air besar, dan tidak ada buang air kecil; tidak didera oleh api, tongkat pemukul, atau pisau; dan sanak saudara dan teman-teman tidak berkumpul dan tidak memarahi seseorang. Ketika tidak ada kelahiran kembali, maka kebahagiaan ini menanti.”

66 (6) Kebahagiaan (2)

Pada suatu ketika Yang Mulia Sāriputta sedang menetap di tengah-tengah penduduk Magadha di Nālakagāmaka. Kemudian Pengembara Sāmaṇḍakāni mendatangi Yang Mulia Sāriputta dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika mereka telah mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi [122] dan berkata kepada Yang Mulia Sāriputta:

“Teman Sāriputta, apakah kebahagiaan dalam Dhamma dan disiplin ini, dan apakah penderitaan?”

Ketidak-puasan, teman, adalah penderitaan dalam Dhamma dan disiplin ini. Kenikmatan adalah kebahagiaan. Ketika ada ketidak-puasan, maka penderitaan ini menanti. (1) Ketika berjalan, seseorang tidak menemukan kebahagiaan atau kenyamanan. (2) Ketika berdiri diam … (3) Ketika duduk … (4) Ketika berbaring … (5) Ketika berada di sebuah desa … (6) Ketika berada di dalam hutan … (7) Ketika berada di bawah sebatang pohon … (8) Ketika berada di dalam sebuah gubuk kosong … (9) Ketika berada di ruang terbuka … (10) Ketika berada di tengah-tengah para bhikkhu, ia tidak menemukan kebahagiaan atau kenyamanan. Ketika ada ketidak-puasan, maka penderitaan ini menanti.

Ketika ada kenikmatan, maka kebahagiaan ini menanti. (1) Ketika berjalan, seseorang menemukan kebahagiaan dan kenyamanan. (2) Ketika berdiri diam … (3) Ketika duduk … (4) Ketika berbaring … (5) Ketika berada di sebuah desa … (6) Ketika berada di dalam hutan … (7) Ketika berada di bawah sebatang pohon … (8) Ketika berada di dalam sebuah gubuk kosong … (9) Ketika berada di ruang terbuka … (10) Ketika berada di tengah- tengah para bhikkhu, ia menemukan kebahagiaan atau kenyamanan. Ketika ada kenikmatan, maka kebahagiaan ini menanti.”

67 (7) Naakapāna (1)

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara dalam suatu perjalanan di tengah-tengah penduduk Kosala bersama dengan sejumlah besar Sagha para bhikkhu ketika Beliau tiba di pemukiman Kosala bernama Naakapāna. Di sana di Naakapāna Sang Bhagavā menetap di hutan pohon Judas.

Pada saat itu, pada hari uposatha, Sang Bhagavā sedang duduk dikelilingi oleh Sagha para bhikkhu. Setelah mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan Sagha para bhikkhu dengan khotbah Dhamma pada sebagian besar malam itu, dan setelah mengamati Sagha para bhikkhu yang sama sekali hening, Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Sagha para bhikkhu bebas dari ketumpulan dan kantuk, Sāriputta. Babarkanlah [123] khotbah Dhamma kepada para bhikkhu. punggungKu sakit, Aku akan meregangkannya.”

“Baik, Bhante,” Yang Mulia Sāriputta menjawab.

Kemudian Sang Bhagavā melipat empat jubah luarNya dan berbaring pada sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kakinya menindih kaki lainnya, dengan penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikirannya gagasan untuk terjaga. Kemudian Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”

“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, pada seseorang yang tidak memiliki keyakinan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, yang tidak memiliki rasa malu dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat yang tidak memiliki rasa takut dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat yang tidak memiliki kegigihan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, yang tidak memiliki kebijaksanaan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, apakah siang atau malam menjelang, hanya kemerosotan dan bukan kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat yang menantinya. Seperti halnya, selama dwi-mingguan gelap, apakah siang atau malam menjelang, rembulan hanya merosot dalam hal keindahan, kebulatan, dan kecerahan, dalam hal diameter dan kelilingnya, demikian pula, pada seseorang yang tidak memiliki keyakinan … kebijaksanaan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, apakah siang atau malam menjelang, hanya kemerosotan dan bukan kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat yang menantinya.

(1) “‘Seorang yang tanpa keyakinan,’ teman-teman: ini adalah sebuah kasus kemunduran. (2) ‘Seorang yang secara moral tidak tahu malu’ … (3) ‘Seorang yang sembrono secara moral’ … (4) ‘Seorang yang malas’ … (5) ‘Seorang yang tidak bijaksana’ … (6) ‘Seorang yang marah’ … (7) ‘Seorang yang bersikap bermusuhan’ … (8) ‘Seorang yang berkeinginan jahat’ … (9) ‘Seorang yang memiliki teman-teman yang jahat’ … (10) ‘Seorang yang menganut pandangan salah’: ini adalah sebuah kasus kemunduran.

“Teman-teman, pada seseorang yang memiliki keyakinan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, pada seorang yang memiliki rasa malu … pada seorang yang memiliki rasa takut … pada seorang yang memiliki kegigihan … [124] pada seorang yang memiliki kebijaksanaan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, apakah siang atau malam menjelang, hanya kemajuan dan bukan kemerosotan dalam kualitas-kualitas bermanfaat yang menantinya. Seperti halnya, selama dwi-mingguan terang, apakah siang atau malam menjelang, rembulan hanya meningkat dalam hal keindahan, kebulatan, dan kecerahan, dalam hal diameter dan kelilingnya, demikian pula, pada seseorang yang memiliki keyakinan … kebijaksanaan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat, apakah siang atau malam menjelang, hanya kemajuan dan bukan kemerosotan dalam kualitas-kualitas bermanfaat yang menantinya.

(1) “‘Seorang dengan keyakinan,’ teman-teman: ini adalah sebuah kasus ketidak-munduran. (2) ‘Seorang yang memiliki rasa malu … (3) ‘Seorang yang memiliki rasa takut … (4) ‘Seorang yang bersemangat’ … (5) ‘Seorang yang bijaksana’ … (6) ‘Seorang yang tanpa kemarahan’ … (7) ‘Seorang yang tanpa-permusuhan’ … (8) ‘Seorang yang tanpa keinginan jahat’ … (9) ‘Seorang yang memiliki teman-teman yang baik’ … (10) ‘Seorang yang menganut pandangan benar’: ini adalah sebuah kasus ketidak-munduran.”

Kemudian Sang Bhagavā bangkit dan berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Bagus, bagus, Sāriputta! Sāriputta, pada seorang yang tidak memiliki keyakinan dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat … [di sini Sang Buddha mengulangi keseluruhan khotbah dari Sāriputta:] [125] … (10) ‘Seorang yang menganut pandangan benar’: ini adalah sebuah kasus ketidak-munduran.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]