Bukti bahwa Umat Muslim BUTA AKSARA
Question: Apa betul ada ayat di alquran, kitab agamanya orang islam, yang berisi wahyu allah bahwa allah mengutus setan-setan untuk menggoda manusia kafir? Jika betul demikian, maka mengapa justru umat islam itu sendiri yang selama ini doanya ialah memohon pengampunan dosa (“O Allah, ampunilah dosa-dosa kami!”)? Bukankah antara “berbuat dosa-dosa akibat digoda dan tergoda oleh setan” dan “pengampunan dosa”, sifatnya saling bundling satu sama lainnya ibarat pasta gigi dan sikat gigi? Bukankah itu artinya umat islam adalah kafir itu sendiri, alias kafir teriak kafir?
Brief
Answer: Batul bahwa ada ayat yang
bernama Surah Maryam ayat 83, berbunyi : “Tidakkah engkau memperhatikan
bahwa Kami
telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir untuk benar-benar menggoda mereka (berbuat
maksiat)?” Hanya terdapat dua
penafsiran terhadap ayat di atas, yakni : 1.) umat muslim maupun nabi agama islam
adalah “kafir sejati”, namun justru “mengkafir-kafirkan” kaum NON, ibarat “maling
teriak maling”. 2.) kaum NON yang berbuat maksiat akibat godaan setan utusan Allah,
namun kaum muslim yang berbuat maksiat atas dasar kehendak sendiri alias “setan
itu sendiri”.
PEMBAHASAN:
Hanya seorang pendosa, yang takut mati dan terhadap alam nereka. Hanya seorang
pendosa, yang karenanya butuh “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”.
Hanya seorang pendosa yang takut pada Allah, sebagaimana khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
57 (6)
“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.
Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan
seekor gajah berdarah murni. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan
halilintar.”
[Kitab Komentar : Arahant tidak ketakutan karena ia telah meninggalkan pandangan
ke-ada-an personal (sakkāyadiṭṭhiyā pahīnattā); gajah berdarah murni, karena pandangan ke-ada-an
personalnya sangat kuat (sakkādiṭṭhiyā balavattā).]
58 (7)
“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.
Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan
seekor kuda berdarah murni. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan
halilintar.”
59 (8)
“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.
Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan
seekor raja binatang buas. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan
halilintar.”
~0~
VIII. Dengan Suatu Landasan
77 (1)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
dengan suatu landasan, bukan tanpa landasan. Dengan
meninggalkan landasan ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.”
[Kitab Komentar : ‘Dengan suatu landasan’ berarti ‘dengan suatu alasan.’
Metode yang sama berlaku pada sutta-sutta berikutnya. Karena kata-kata ‘sumber,’
‘penyebab,’ ‘aktivitas penyebab,’ ‘kondisi,’ dan ‘bentuk’ semuanya adalah
sinonim untuk ‘alasan’” (Sanimittā ti sakāraṇā … Nidānaṃ hetu saṅkhāro paccayo rūpan ti sabbāni pi hi etāni kāraṇavevacanān’eva).]
78 (2)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
melalui suatu sumber, bukan tanpa sumber. Dengan
meninggalkan sumber ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini
tidak muncul.”
79 (3)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
melalui suatu penyebab, bukan tanpa penyebab. Dengan
meninggalkan penyebab ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.”
80 (4)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
melalui aktivitas-aktivitas penyebab, bukan tanpa aktivitas-aktivitas penyebab.
Dengan meninggalkan
aktivitas-aktivitas penyebab ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang
buruk ini tidak muncul.”
81 (5)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
dengan suatu kondisi, bukan tanpa kondisi. Dengan
meninggalkan kondisi ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.” [83]
82 (6)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
bersama dengan bentuk, bukan tanpa bentuk. Dengan
meninggalkan bentuk ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini
tidak muncul.”
83 (7)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
bersama dengan perasaan, bukan tanpa perasaan. Dengan
meninggalkan perasaan ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.”
84 (8)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
bersama dengan persepsi, bukan tanpa persepsi. Dengan
meninggalkan persepsi ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.”
85 (9)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
bersama dengan kesadaran, bukan tanpa kesadaran. Dengan meninggalkan kesadaran ini, maka
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”
86 (10)
“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul
dengan berdasarkan pada apa yang terkondisi, bukan tanpa landasan pada apa yang
terkondisi. Dengan
meninggalkan apa yang terkondisi, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk
ini tidak muncul.”
Alih-alih meninggalkan candu bernama “PENGHAPUSAN DOSA bagi KORUPTOR DOSA”
yang adiktif dan “toxic”, umat agama samawi justru melekatinya dan
memandangnya bagaikan harta terbesar yang mereka genggam erat dan rela mati
untuk dibela. Bahkan para pendosawan ini mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”, mempromosikannya dengan speaker pengeras suara tanpa rasa malu ataupun
tabu (mempertontonkan “AURAT TERBRSAR” secara vulgar, bernama “langganan dosa
dan maksiat untuk dihapuskan”), alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis
dari dosa maupun maksiat. Babi, disebut “haram”. Namun terhadap ideologi KORUP
semacam “PENGAMPUNAN DOSA”, justru diklaim sebagai “halal lifestyle”—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun
berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka
sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition
of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu kepada
publik, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan
serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang
“bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina,
pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin
justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun
takut. Ayat-ayat berikut mengungkap “pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi
rasul Allah” yang telah ternyata langganan dihasut setan ataupun menghasut
(sebagai setannya itu sendiri)—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]