Hanya orang dungu, yang memakan dan termakan ajaran islam. Banyak kalangan muslim, yang akibat dungu, bahkan masih juga berdelusi bahwa islam adalah “Agama SUCI”. Faktanya, cukup dengan “pikiran jernih” dan “akal sehat milik orang sehat”, kita akan tahu bahwa islam adalah “Agama DOSA”.
Website untuk Mengenal Ajaran Otentik SANG BUDDHA bagi Kaum Ateis, Umat Agama Samawi, maupun bagi Sahabat Buddhist. Tes SQ dan Temukan Kejutan Dibalik Kekuatan Pikiran
Tidak Ada Iming-Iming TO GOOD TO BE TRUE dalam Buddhisme, TRUTH ALWAYS BITTER
DEWA TIDAKLAH KEKAL, Dewa Tetap akan Meninggal dan Berpotensi Jatuh Lahir Kembali ke Alam NERAKA
Question: Tujuan akhir dari umat agama samawi seperti islam dan nasrani, ialah surga. Bagaimana dengan tujuan akhir dari agama Buddha?
Fenomena Memprihatinkan Kelahiran Yesus Vs. Fenomena Menakjubkan Kelahiran Buddha, Bagai Neraka dan Surga
Yesus Lahir di Kandang Ternak, Mati di Kayu Salib Bersama Kedua Penjahat dengan Hanya Memakai Secarik Celana Dalam, Namun Hendak Menolong Umat Manusia?
Yesus Sungguh Malang dan Patut Dikasihani, Hendak
menjadi “Pahlawan Kesiangan” namun Bahkan Gagal Menolong Dirinya Sendiri
Question: Yesus lahir di kandang tempat tinggal hewan ternak. Bagaimana dengan Buddha, apakah setragis nasib Yesus?
STANDAR GANDA Umat Muslim, Semua Halal Bila Diberi Merek Islam, Sekalipun Cium-Cium Batu HItam
Mari kita bermain “permainan logika” berikut, yang telah kami rancang khusus untuk menguji tingkat SQ sekaligus IQ Anda, agar Anda bisa mengetahui kaitan erat antara IQ dan tingkat SQ seseorang.
Ada
agama yang bernama Agama Malsi, ajarannya seperti ini:
- “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘TIDAK ADA TUHAN SELAIN HALLA DAN BAHWA DAMMAHUM RASUL HALLA, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan talahs dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”
Alkohol, Haram. MABUK PENGHAPUSAN DOSA, HALAL. Kecanduan DOSA Bundling PENGHAPUSAN DOSA, Agama DOSA
Minum alkohol, dibilang haram.
Tapi,
mabuk serta kecanduan PENGHAPUSAN DOSA, dibilang halal.
Itu
“Agama SUCI” ataukah “Agama DOSA”?
Jujur, saya heran, dimana letak “SUCI”-nya dari Kitab yang justru mempromosikan PENGHAPUSAN DOSA bagi PENDOSA berikut—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
HUKUM MATI KORUPTOR Bernama Umat Agama SAMAWI Pendosa Pecandu PENGHAPUSAN DOSA, Dogma Ideologi KORUP bagi yang KORUP
Ada seorang muslim yang selalu berteriak-teriak “HUKUM MATI KORUPTOR! POTONG TANGAN PENCURI!”
Si
dungu itu tidak sadar, bahwa dirinya sendiri adalah KORUPTOR itu sendiri yang
setiap harinya MABUK dan MENCANDU ideologi KORUP bernama iming-iming
“PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”.
Bung, hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA” ataupun istilah korup sejenis lainnya (abolition of sins).
Penyebab Puluhan Nabi GAGAL TOTAL Menghapus Satupun Maksiat/Dosa, Allah Butuh PENDOSA PENJILAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA
Konon, menurut agama-agama samawi, puluhan nabi telah pernah diutus oleh Allah, namun telah ternyata GAGAL TOTAL menghapus satupun maksiat paling primitif yang dikenal dalam sejarah umat manusia.
Mulai
dari berjudi, berkata kasar, memfitnah, berbohong, menipu, memerkosa,
menganiaya, membunuh, selingkuh, berzina, mencuri, merampok, mabuk, dan lain
sebagainya—kejahatan-kejahatan mana sudah sejak ada sejak peradaban manusia
dimulai.
Pernahkah Anda bertanya : Apa penyebabnya?
Kolom AGAMA dalam KTP : Agama SUCI, Agama KSATRIA, atau Agama DOSA. Anda Umat Agama yang Mana?
Sungguh picik serta naif—bila tidak dapat disebut sebagai negarawan yang “kerdil” perspektif berpikirnya—ketika masyarakat dipaksa untuk mencantumkan suatu agama tertentu dalam kolom “AGAMA” sebuah KTP (Kartu Tanda Penduduk) seorang warga.
Mungkin penyusun kebijakan maupun hakim Mahkamah Konstitusi berdelusi, bahwa agama yang mereka peluk adalah agama paling superior, karenanya nama agamanya perlu dicantumkan dalam KTP.
Umat AGAMA DOSA namun Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior, PENDOSA PENCADU PENGHAPUSAN DOSA
Apa jadinya, seekor “CACING” berdelusi bahwa dirinya adalah “NAGA YANG PERKASA”? Itulah, kaum yang merasa dirinya sebagai paling “superior”, namun “DELUSIF”.
Umat
agama samawi alias para PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, sejatinya merupakan kasta
paling rendah, hina, busuk, buruk, dangkal, kotor, dan tercela—namun berdelusi
sebagai kaum paling superior.
Menurut Anda, apa jadinya bila kaum dari kasta budak, meledek kaum dari kasta bangsawan sebagai “miskin”? Yang “konyol” disini, siapakah?
Allah KALAH SAKTI Dibanding Buddha, Tuhan MAHA KERDIL Agama Samawi Vs. Kekuatan Buddha dalam Alam Semesta
Dimana letak “maha kuasa”-nya, bila Tuhan butuh perantara “lidah” bernama nabi, yang dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai “the messenger”?
Disini,
kita akan memandangnya dari dua sisi. Pertama, untuk berkomunikasi dengan umat
manusia, Tuhan butuh Nabi—alias sang nabi memonopoli lidah Tuhan.
Kedua, untuk berkomunikasi dengan Tuhan, umat agama samawi butuh seorang Nabi. Sehingga, doa-doa para umat agama samawi selama ini, tidak ada satupun yang tersampaikan kepada Tuhan.
OMONG KOSONG Umat Kristiani, Hanya Pandai BERSPEKULASI dan MENCANDU PENEBUSAN DOSA
Ada
umat kristen yang membuat komentar dalam channel youtube kami:
ini
channel sakit hati atau apa ya??...kenapa terkesan menyerang keyakinan umat
Kristen ,bukan umat Hindu, budha, konghuchu??..atau Islam??..ada apa dengan
anda pemilik channel??
Oke
sekarang saya cuma mau tanya begini?..
1.Apakah
anda penganut Buddhist?
2.
Apakah dalam budhist ada ajaran bahwa manusia terlahir sudah berdosa?...
3.
Bagaimana ajaran Budhist apakah ada penghakiman di hari kiamat?
4. Bagaimana orang budha yang berdosa dapat
menghapuskan dosa dosanya? bagaimana atau apa yang dilakukan
5
Apa tujuan hidup dari manusia dalam budhist..
6.Apakah
budha mengajarkan anda untuk membenci atau mengkritik ajaran umat agama lain??
7 Siapa manusia pertama yg diciptakan menurut
Budha?
8.
Apakah Budha berfikir bahwa dirinya dapat menyelamatkan dirinya dari neraka
dengan hanya berbuat baik terhadap orang lain?
Mohon
dijelaskan. satu persatu sesuai pertanyaan saya
Terima kasih atas perhatiannya.
KRIMINAL PSIKOPAT EGOISTIK yang Disembah dan Ditiru oleh para Umat Agama Samawi, IBRAHIM / ISMAIL Menyembelih Anak
Di mata kawanan orang jahat, rekan / kawan jahatnya yang berhasil berbuat kejahatan besar, akan dipuji dan dikatakan sebagai hebat, dan memberinya penghormatan karena telah membuat “prestasi” besar.
Orang
jahat, menurut Sang Buddha, ibarat “orang buta”, yang tidak mampu membedakan
mana yang buruk dan mana yang baik, mana yang terpuji dan mana yang tercela.
Anda
tahu, bagaimana sejarah cikal-bakal praktik jahat semacam PESUGIHAN?
PESUGIHAN, bukanlah WHITE MAGIC, namun BLACK MAGIC. Atas dasar apakah?
Keajaiban Dibalik Memahami bahwa “Hidup adalah DUKKHA”, Mengakuinya Bisa Meneduhkan dan Menyejukkan Batin
Tidak banyak orang yang menyangka, bahwa dengan mengakui bahwa “hidup adalah DUKKHA”, mampu membuat hidup kita setidaknya lebih damai, sejuk, teduh, dan tenteram—tanpa lagi dikuasai oleh kegelisahan tanpa ujung pangkal.
Dogma
sebaliknya, yang diajarkan oleh agama samawi, bahwa “hidup adalah NIKMAT”,
justru ibarat “menyiram bensin ke dalam bara api yang sedang menyala” atau
ibarat “meminum air laut untuk melepaskan dahaga”.
Untuk mencari obat “pelipur lara”, bukan dengan memungkiri kenyataan dan realita yang mengikat seluruh makhluk yang masih terkondisikan, yakni hukum mengenai segalanya ialah : selalu berubah, dukkha, dan tiada inti diri.
Agama yang OPTIMISTIK Vs. Agama yang PESIMISTIK, Peluk yang Mana? Orang Cerdas Pilih Agama OPTIMISTIK
Agama yang OPTIMISTIK mengajarkan,
setiap orang yang baik dapat masuk surga, tanpa terkecuali, sekalipun Ateis.
Sebaliknya, agama yang PESIMISTIK
mengajarkan, hanya seorang “PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” dan yang “menggadaikan
otaknya demi iman setebal tembok beton yang tidak tembus oleh cahaya ilahi
manapun”, yang memonopoli surga.
Mengapa ada orang yang justru memilih memeluk agama yang PESIMISTIK?
That is What is Called MENTAL POWER. Inilah yang Disebut sebagai KEKUATAN MENTAL
Even though we find disappointment in life,
But we do not escape into intoxicating liquor.
That is what is called mental power.
Even though we are treated badly by others,
But we do not participate in treating ourselves badly.
That is what is called mental power.
Bahagia dalam Keindahan “KAFIR LIFESTYLE”. KAFIR Vs. PENDOSA PECANDU “PENGHAPUSAN DOSA” Bernama Muslim
Memuliakan Tuhan, adalah dengan cara menjadi manusia yang mulia—bukan dengan menjadi seorang “pendosa penjilat penuh dosa” yang mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”.
Bung, hanya seorang
PENDOSA, yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”.
Jadilah umat “Agama
SUCI” ataupun “Agama KSATRIA”, jangan menjadi umat pemeluk “Agama DOSA” yang
mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSA, tentunya) alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa.
Menjadi Kafir, adalah “berkah / anugerah terbesar”. Atas alasan apakah?
Makna HIDAYAH : Dari Semula Toleran menjadi INTOLERAN, HAUS DARAH, dan MENCANDU PENGHAPUSAN DOSA (bagi PENDOSA, Tentunya)
Apa yang dimaksud dengan “hidayah”?
Mengapa kaum muslim, begitu delusif
dengan merasa dirinya merupakan kaum paling superior, yang berhak menghakimi
kaum lain seakan “polisi moral” yang sudah “bermoral”?
Faktanya, mereka merupakan PECANDU “PENGHAPUSAN DOSA”—sekalipun, hanya seorang PENDOSA yang butuh PENGHAPUSAN DOSA—yang terlampau pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik dan disaat bersamaan terlampau pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, alias kasta paling rendah, hina, kotor, tercela, buruk, busuk, ternoda, dan dangkal.
Seni Bergerak Melampaui Belenggu Warisan Genetik Leluhur / Orangtua
Cara Merdeka dari Kutukan Warisan Genetik Buruk Orangtua / Leluhur
Kita tidak bisa memilih, terlahir di keluarga yang seperti apa kualitas genetiknya. Penelitian terhadap Genom, menemukan adanya salah satu kromosom yang bertanggung-jawab atas sifat kriminil seseorang—yang konon, sifatnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itu, menyerupai kutukan yang bisa jadi kita wariskan sejak dari nenek moyang kita.
Akar Penyebab Maraknya Pecandu Judol dan Kiat SELF-HEALING dari Jebakan Judol
Mencuri dan Berzina Saja Masuk Surga (Kabar Gembira bagi Pendosa), maka Apalagi Sekadar Mencandu Judol, Jud! Online?
Tidak Ada yang Lebih Berbahaya dan Meracuni Cara
Berpikir daripada Kencanduan dan Mencandu Ideologi Korup Bernama Iming-Iming
PENGHAPUSAN DOSA
Question: Katanya Bangsa Indonesia merupakan bangsa “agamais”, bangsa paling superior yang merasa berhak menjadi “polisi moral” dan menghakimi bangsa lain, memiliki SQ paling tinggi di dunia, rajin beribadah, ini dan itu serba di-haram-halal-kan, namun mengapa kini bisa terjadi fenomena sosial dimana hampir sepuluh juta penduduk Indonesia menjadi pemain aktif “judol” (jud! online)? Menjadi terlihat vulgar, betapa “munafikun”-nya bangsa “agamais” bernama Indonesia ini. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Sependek dan Sedangkal apakah IQ, EQ, maupun SQ Umat Muslim?
BURUK WAJAH, JANGAN CERMIN DIBELAH
Superioritas yang Dibangun Diatas Pilar Rapuh Bernama
DELUSI DIRI
Question: Selama ini umat muslim bersikap seolah-olah kaum mereka paling superior, memiliki SQ setinggi langit, menjadi “polisi moral” yang berhak menghakimi pihak lainnya, merendahkan martabat maupun harkat kaum lain, meng-haram dan meng-kafir-kan golongan lain, ini itu disebut “haram” ataupun “halal”, berbicara besar perihal surga, neraka, Tuhan, dan ayat-ayat Kitab. Namun benarkah demikian, ataukah kesemua itu justru mencerminkan hal sebaliknya?
Apakah Kuliah dan Gelar Sarjana, Masih Membawa Jaminan Kemakmuran Hidup ataukah hanya Menawarkan Delusi-Ilusi yang Rapuh tentang Kesejahteraan?
Terobsesi Meraih Gelar Akademik, maka Sejatinya Anda hanya Memperkaya Pelaku Usaha Industri Pendidikan TInggi
Question: Sebenarnya saat kini, di era kontemporer dimana persaingan dan kompetisi diantara sarjana sudah begitu jenuh, sementara lapangan pekerjaan kian sempit akibat faktor kecanggihan teknologi maupun robotik dan kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence) yang sedikit banyaknya telah menggantikan fungsi “tenaga kerja manusia”, padat modal alih-alih padat karya, apakah masih relevan belajar pengetahuan ataupun keterampilan di bangku pendidikan formal berupa sekolah maupun perguruan tinggi? Itu semua ibarat “membeli” izasah, namun telah ternyata izasah tidak menjamin kita akan menemukan hidup makmur.
Perbedaan antara Agama Buddha dan Agama Islam, Sejauh Surga dan Neraka
DEMI KESEDERHANAAN Versus DEMI KESENANGAN INDERAWI YANG TIDAK TERPUASKAN
Agama SUCI Vs. Agama DOSA
Question: Memangnya sejauh apakah, perbedaan antara agama Buddha dan agama Islam?
Adzan Berkumandang, para Pencandu Ideologi Korup “PENGHAPUSAN DOSA” Berbondong-Bondong Datang Berkumpul
Apakah Betul Setan Membenci Suara Adzan?
Question: Kalangan muslim selalu melecehkan kaum NON yang merasa terganggu oleh suara speaker eskternal masjid yang super berisik, sebagai setan, dengan alasan “setan dan jin takut dan membenci suara adzan”. Apakah memang betul begitu adanya?
HIDAYAH seorang Pendosawan : Rajin Buat Dosa dan Rajin Ritual Penghapusan Dosa
Makna HIDAYAH Menurut AGAMA DOSA : DOWNGRADE dari Orang yang Takut Buat Dosa menjadi Tidak Takut Buat Dosa (Ada Penghapusan Dosa) dan Tetap Yakin Masuk Surga
Question: Sering kita mendengar umat agama tertentu menyebut-nyebut soal hidayah. Sebenarnya apa itu hidayah?
Jangan Nilai Seseorang dari Jubahnya, Don’t Judge the Person by the Cover
Tidak Semua Bhikkhu merupakan Ladang Menanam Jasa yang Baik
Question: Apakah semua orang yang memakai jubah bhikkhu, merupakan ladang menanam jasa baik?
KHILAF merupakan Akibat, Bukan Sebab. Sebabnya ialah Minimnya Latihan SELF-CONTROL
Akar Penyebab Kriminalisasi Bukanlah KHILAF, namun Miskin Latihan SELF-CONTROL
Apa jadinya, Anda baru mulai belajar berenang, ketika Anda terhanyut di sebuah sungai dan hampir tenggelam? Sedia payung, sebelum hujan, bukan setelah Anda kehujanan dan basah-kuyub. Jangan pernah remehkan terlebih menyepelekan kekotoran batin yang bersarang dalam diri kita, atau kita akan dipastikan kalah telak dan babar-belur akibatnya (don’t look down on our defilements), begitu orang bijak berpesan. Bersikaplah rasional, bila Anda tidak terlatih dalam disiplin diri yang ketat dalam praktik mawas diri (self-control), maka menantang dan meremehkan kekotoran batin Anda sama artinya Anda sedang mencelakai diri Anda sendiri, ibarat “kelas bulu” menantang “kelas berat”. Sebaliknya, ketika Anda telah terlatih, bolehlah Anda seperti seorang Bruce Lee, yang menantang belasan karateka untuk bertarung dengan Anda disaat yang bersamaan.
Membongkar Cara Dukun Menjual Jasa PESUGIHAN bagi Orangtua yang Hendak Menumbalkan Anak Kandung Sendiri
Agama Samawi Melestarikan Dukun-Dukun Jahat Berkembang-Biak dan Berkeliaran Mencari Mangsa
Question: Mengapa bisa sampai ada orangtua yang menumbalkan anak kandung sendiri, memangnya seperti apa dukun-dukun jahat itu meyakinkan orangtua tersebut sehingga menjadi segila itu, mengorbankan anak kandung sendiri demi kepentingan atau ego pribadi sang orangtua?
Hanya dalam Buddhisme, Kita dapat Berlatih dan Berjuang menjadi Manusia yang SEMPURNA
Umat Agama Samawi mencari Justifikasi Kekotoran Batin yang Mereka Pelihara Lewat Jargon Klise : TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA
Kata Siapa Tidak Ada Manusia yang Sempurna? Cobalah
Anda Cari Setitik Noda Cacat pada Ajaran maupun Perilaku Kehidupan Sang Buddha
Adalah agama yang pesimistik, yang mengajarkan bahwa manusia tidak perlu berlatih dan berjuang dalam disiplin diri dan kontrol-diri yang ketat, semata karena umat manusia telah “dikunci” lewat dogma “tiada manusia yang sempurna”, sekalipun agama samawi menyebutkan bahwa manusia dilahirkan seputih kertas putih tanpa noda. Itu sekaligus menjelaskan, bahwa tiada ada tokoh yang suci dalam agama samawi, tidak terkecuali rasul / nabi yang mereka junjung. Lalu, pertanyaan terbesarnya ialah, mengapa manusia kemudian tumbuh dewasa menjadi penuh noda karakter dan cela perilaku? Paradigma dogmatis agama-agama samawi berkebalikan dari Buddhisme, yang mengemukakan bahwa kelahiran adalah akibat manifestasi kekotoran batin yang tersisa dari kehidupan lampau (past life defilements), dimana hanya lewat praktik disiplin diri, barulah kekotoran batin dapat dikikis secara gradual hingga habis tanpa sisa menuju kesempurnaan—kekebasan sempurna dari kekotoran batin, sehingga memutus belenggu rantai karma (break the chain of kamma), karenanya tiada lagi kelahiran kembali.
Kemenangan dalam Buddhisme Bertolak-Belakang dengan Kemenangan dalam Islam
Semoga Orang Sanggup menjadi “PENDOSA PENJILAT PENUH DOSA”, Apa Hebatnya?
Namun, Tidak Semua Orang Mampu Berjiwa Ksatria yang
Berani Bertanggung-Jawab Atas Dosa-Dosanya maupun menjadi Seorang Suci yang
Higienis dari Dosa
HANYA SEORANG PENDOSA, YANG BUTUH PENGHAPUSAN DOSA
Question: Umat muslim, sehabis berpuasa selama sebulan, berupa “konsumsi makanan justru lebih meningkat daripada bulan-bulan diluar ramadhan” disamping umbar minta dihormati, pesta-pora penghapusan dosa. Puasa cukup sebulan, dosa-dosa selama setahun dihapuskan. Kabar gembira bagi pendosa, sama artinya kabar buruk bagi kalangan para korban yang telah pernah dilukai, disakiti, maupun dirugikan oleh para pendosawan tersebut. Lalu, mereka menyebutnya sebagai “bulan kemenangan penuh berkah”. Menjadi pecandu iming-iming “penghapusan dosa” (too good to be true) yang menjual jiwanya menjadi pendosa yang hanya pandai menjilat, bukankah sama artinya kekalahan besar, mengingat semua orang sanggup menjadi seorang pendosa dan penjilat, sementara itu tidak semua orang sanggup menjalani gaya hidup higienis dari dosa?
Siapa Bilang Tidak Ada Manusia yang Sempurna?
Ketika Meminta Maaf Saja Sama Sekali Belum Cukup Memadai
Bukan Soal Meminta Maaf, namun PERTANGGUNG-JAWABAN
Negeri Kita Tidak Kekurangan Agamais, namun Selalu Kekurangan
Orang-Orang Berjiwa Ksatria yang Bersedia dan Berani Bertanggung-Jawab
Mengakui telah / pernah melakukan kekeliruan sehingga kemudian memohon maaf, adalah terpuji, namun apakah logikanya selalu linear sesederhana demikian? Ada yang namanya “mengaku bersalah dan meminta maaf” secara tulus, dan ada yang sifatnya hanya basa-basi diplomatis alias politis semata. Pertanyaan yang relevan untuk kita ajukan ialah, meminta maaf kepada siapa, dan meminta maaf dalam rangka apakah? Kita tidak butuh permintaan maaf dari orang lain, yang kita butuhkan ialah pertanggung-jawaban, dan itulah yang miskin dari pola watak masyarakat kita di Indonesia. Dapat Anda bayangkan, para “agamais” di republik ini ketika berbuat jahat yang membuat kita menderita sakit, luka, ataupun kerugian materiil ataupun psikis, justru memohon ampun kepada Tuhan—alih-alih meminta maaf kepada kalangan korban yang sudah mereka rugikan, lukai, maupun sakiti.
Agama yang PALING INKONSISTEN di Jagat Raya : Ini Itu Disebut Dosa / Haram, namun Ideologi Korup bernama Penghapusan Dosa (justru) Di-halal-kan
Sekalipun, hanya seorang Pendosa yang Butuh Penghapusan Dosa
Setiap Harinya Menikmati Dosa / Maksiat, dan Setiap
Harinya pula Mencandu Iming-Iming Penghapusan Dosa
Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Terhadap dosa dan maksiat, diharamkan. Namun terhadap ideologi korup bernama “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa” (abolition of sins), justru dihalalkan. Sekalipun, nyata-nyata dan jelas-jelas bahwa hanya kalangan pendosawan yang butuh serta mencandu ideologi kotor dan busuk-tercela bernama “penghapusan dosa” atau apapun itu istilahnya.
Puisi tentang Bangsa Pemimpi yang Berdelusi
Sekalipun tidak
bertanggung-jawab terhadap korban-korban yang telah pernah ia sakiti, lukai,
maupun rugikan,
Tetap saja si tukang mimpi tersebut
berdelusi akan masuk surga.
Sekalipun sudah banyak
menipu,
Tetap saja si pemimpi ini yakin akan masuk alam surgawi setelah kematiannya.
Tips Sukses dalam Meditasi oleh SANG BUDDHA
Meditasi (Meditate), adalah KATA KERJA, bukan KATA SIFAT
Bermeditasi secara CERDAS, alih-alih Bermeditasi
secara KERAS
Ber-meditasi, adalah “verba” (verb) alias kata kerja. Karena itulah, meditasi bukanlah kegiatan yang mudah, perlu dilatih agar “practice makes perfect”. Kesabaran, kegigihan, dan daya tahan serta komitmen, menjadi syarat mutlak disamping metoda yang tepat dan objek meditasi yang cocok dengan karakteristik dasariah kita. Bagi mereka yang meremehkan meditasi, dapat dipastikan akan babak-belur ketika mencoba bermeditasi. Sementara bagi yang sudah pernah atau sedang berlatih meditasi, dan menemukan dirinya tidak ada kemajuan sekalipun telah bertahun-tahun bermeditasi dan selama puluhan tahun keluar-masuk pusat ret-ret meditasi, dapat dipastikan belum pernah mendengar atau mengetahui kiat-kiat sukses bermeditasi berikut yang disampaikan langsung oleh Sang Buddha, guru bagi para dewa dan para manusia.
Sebuah Puisi Mengenai Bangsa Penjilat
Sekalipun dunia ini tidak
sempurna dan penuh cacat,
Tetap saja Tuhan dipuja-puji
setinggi langit.
Sekalipun Planet Bumi penuh
bopeng dan bencana alam,
Tetap saja Tuhan dipuja-puji
setinggi langit.
Sekalipun alam semesta tidak sempurna
dimana lebih banyak planet yang mati,
Tetap saja Tuhan dipuja-puji setinggi langit.
Berbuat Baik secara Cerdas, Bukan secara Bodoh dan Buta
Mara Berjubah Merah, Waspadalah, Don’t Judge the Person by the “Jubah”
Lihat BIBIT, BEBET, dan BOBOT=nya
Question: Apakah semua pemberian yang bagus kepada orang lain, pasti akan berbuah manis?
Apakah Mungkin Ada Orang Suci ataupun Umatnya yang Suci di Agama Samawi?
Dosa dan Maksiat, merupakan AURAT TERTINGGI. Dogma atau Iming-Iming Penghapusan Dosa, merupakan AURAT PALING TERTINGGI. Alih-Alih Ditabukan, namun Justru Dipromosikan, Dikampanyekan dengan Pengeras Suara, Diumbar, dan Dipertontonkan secara Vulgar oleh Umat Pemeluk AGAMA DOSA
Agama DOSA, Umatnya ialah Kalangan Pendosa dimana
Para Pendosa menjadi Umat Pemeluknya
Question: Apakah ada orang suci di agama-agama samawi?
Tes SQ : Puluhan Nabi yang Diturunkan Tuhan ke Bumi, Gagal Membuat Punah Satupun Maksiat Paling Primitif, Mengapa?
Dogma yang Mengkampanyekan dan Mengkompromikan Penghapusan / Pengampunan / Penabusan DOSA justru Melestarikan Dosa dan Maksiat, Alih-Alih Melenyapkannya dari Muka Bumi
Hanya seorang PENDOSA, yang Butuh PENGHAPUSAN DOSA (Abolition of Sins)
Dosa dan Maksiat begitu Membuat Kecanduan para
Pemeluk Ideologi Penghapusan Dosa (Pecandu Dosa & Maksiat = Pecandu
Penghapusan Dosa)
Ketika Tuhan Butuh Melestarikan Dosa dan Maksiat agar
Agama Samawi Banyak Peminat, Pemeluk, dan Pecandunya
Question: Konon, menurut agama kristiani, sudah banyak, setidaknya enam nabi yang pernah diutus Tuhan ke dunia manusia. Bahkan, menurut agama islam, sudah dua puluh empat nabi yang dikirimkan Tuhan ke dunia. Namun mengapa dosa dan maksiat yang paling primitif sekalipun, macam mencuri dan berzina ataupun berjudi, masih ada sampai sekarang dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kepunahan maksiat-maksiat tersebut, justru kian menjadi-jadi tidak terbendung?
AGAMAIS “Agama DOSA”, Semakin Agamais maka Semakin Menjelma Malapetaka Bagi Dunia
Indonesia adalah Negara Agamais, namun Penjaranya Selalu PENUH, Overcapacity
Question: Indonesia adalah negara agamais, namun mengapa penjaranya selalu penuh sesak oleh kriminil? Apakah negara kita di Indonesia tercinta ini, kekurangan agamais? Negeri kita tidak pernah kekurangan agamais maupun para kriminil. Sebulan berpuasa, konsumsi meningkat drastis saat bulan ramadhan, ajang narsis minta dihormati, kerja malas-malasan dengan alasan berpuasa, menuntut diberikan tunjangan hari raya, lalu mengharap dosa-dosa selama satu tahun dihapuskan. Kalau begitu, untuk apa kita menghormati orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan? Kabar gembira bagi pendosa, sama artinya kabar buruk bagi kalangan korban-korban para pendosa teserbut. Bukankah hanya seorang pendosa, yang butuh penghapusan dosa?
Contoh Nyata Manusia Bisa Gemar Menyakiti dan Mencelakai Dirinya Sendiri
Bila Memang Ada yang Disebut “AKU”, Maka Bukanlah Karakter “AKU” untuk Menyakiti dan Mencelakai Diri-“NYA” Sendiri
Pada awal tahun 2024, pemerintah menerapkan cukai terhadap minuman berpemanis dalam kemasan. Ketika masyarakat berperilaku irasional yang cenderung menyakiti dan merusak dirinya sendiri akibat gempuran produk-produk tidak sehat maupun iklan dan budaya yang kurang sehat, maka negara harus hadir. Pada tahun 2023, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan survei terhadap kebiasaan konsumen Minuman Berpemanis Dalam Kemasan, dimana pihak Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menerangkan bahwa survei dilatar-belakangi oleh fenomena konsumsi minuman dalam kemasan yang kian mengkhawatirkan.
Pandangan yang Lebih Objektif Konflik Abadi (yang Dipelihara) HAMAS-PALESTINA Vs. ISRAEL
Isu Konflik Berdarah yang Dipelihara, sebagai Justifikasi untuk Mengobarkan Ideologi Kebencian dan Propaganda Penuh Semangat Permusuhan
Dikeruhkan oleh Sentimen Keagamaan, Manusia menjadi
Budak dari Ideologi Bernama Agama
Pernahkah Anda merasa atau setidaknya mengamati, bahwa bangsa kita, Bangsa Indonesia, merupakan bangsa yang tergolong munafik? Justru karena penulis lahir dan tumbuh besar hampir separuh abad lamanya di Indonesia, penulis memahami serta bersentuhan langsung dalam keseharian dengan tabiat, karakter, maupun kebiasaan masyarakat Indonesia, sehingga otokritik ini disusun secara “as it is”. Masyarakat kita di Indonesia, “mendadak humanis” ketika dihadapkan pada isu konflik bersenjata antara Hamas (Palestina) Vs. Israel, dimana dari berbagai pemberitaan yang selama bertahun-tahun ini dapat kita cermati, konflik berdarah selalu terlebih dahulu dipicu oleh provokasi pihak Hamas yang melontarkan roket ke pemukiman warga Israel. Apapun atau siapapun yang menyulut dan menabuh genderang peperangan, selalu saja Israel yang dikritik dan dicela.


