Please, Jangan Pernah Katakan “God bless you” kepada Saya!

Jenis Hiburan yang Dungu bagi Orang Dungu : Dogma PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bagi PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bernama Umat Agama Samawi

Biarlah Saya Terasing dari Allah yang Lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA, dan Biarkanlah Saya Memurnikan Diri dengan “Melawan Arus”, Melawan “Kehendak Allah”

Untuk Apa juga Kita Bangga dan Mau Dirahmati atau Diberkahi oleh “Tuhan yang Lebih PRO terhadap PENJAHAT / PENDOSA”?

Question: Apakah tidak ada yang mempertanyakan atau setidaknya merasa heran dan janggal, kita sadar bahwa hidup adalah duka (pain atau suffer). Namun mengapa mereka selalu dengan percaya diri merasa bahwa orang lain akan merasa senang ketika mereka berkata “God bless you”, seolah-olah kita akan memilih untuk pernah dilahirkan ke dunia ini bila boleh memilih?

Brief Answer: Itulah juga sebabnya, sekalipun ada “dogma sesat” semacam “banyak anak, maka banyak rezeki” atau semacam “menikah membuka pintu rezeki”, penulis lebih memilih untuk tidak melahirkan keturunan karena menyadari bahwa “hidup adalah dukkha”, sehingga tidak mau melahirkan manusia yang akan merasakan “hidup adalah dukkha”, yang mana bila penulis dapat memilih maka penulis akan memilih untuk sama sekali tidak pernah terlahirkan di alam manapun, karenanya penulis pun meyakini bahwa “sang anak” bila boleh memilih juga akan memilih pilihan serupa : tidak pernah terlahirkan ke alam / dunia manapun, atau lebih tepatnya “Tolong, jangan pernah lahirkan saya ke dunia manapun!”.

PEMBAHASAN:

Untuk mengikis “kekotoran batin” maupun delusi yang bersarang di dalam diri kita, maka kita harus melawan segala bentuk tendensi untuk tunduk pada “arus kebodohan”. Dengan demikian kita memiliki kekuatan serta kuasa untuk “memurnikan diri”. Dahsyatnya khotbah Sang Buddha—seorang Arahant, yang tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci—dapat kita temukan salah satunya dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

99 (9) Upāli

Yang Mulia Upāli mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, [202] dan berkata: “Bhante, aku ingin pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.”

“Tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara adalah sulit untuk ditahankan, Upāli. Kesendirian adalah sulit dijalani dan sulit untuk disenangi. Ketika ia sedang sendirian, hutan akan merampas pikiran seorang bhikkhu yang tidak memperoleh konsentrasi. Dapat diharapkan bahwa seseorang yang berkata ‘Aku tidak memperoleh konsentrasi, namun aku akan pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara’ akan tenggelam atau hanyut.

[Kitab Komentar : Ia akan tenggelam (sasīdissatī) karena pemikiran-pemikiran indriawi, atau hanyut (uplavissati) karena pemikiran berniat buruk dan pemikiran mencelakai.]

“Misalkan, Upāli, ada sebuah danau besar, dan seekor gajah jantan besar berukuran tujuh atau delapan hasta datang. Ia mungkin berpikir: ‘Biarlah aku memasuki danau ini dan menyiram telinga dan punggungku. Aku akan mandi dan minum, keluar, dan pergi ke mana pun yang kuinginkan.’ Kemudian ia masuk ke danau dan menyiram telinga dan punggungnya. Ia mandi dan minum, keluar, dan pergi ke mana pun yang ia inginkan. Bagaimana bisa demikian? Karena tubuh besarnya menemukan pijakan kaki di kedalaman danau itu.

“Kemudian seekor kelinci atau kucing datang. Ia mungkin berpikir: ‘Bagaimana seekor gajah besar bisa berbeda dariku? Aku akan memasuki danau ini dan menyiram telinga dan punggungku. [203] Aku akan mandi dan minum, keluar, dan pergi ke mana pun yang kuinginkan.’ Kemudian, tanpa merefleksikan, ia tergopoh-gopoh memasuki kedalaman danau. Dapat diharapkan bahwa ia akan tenggelam atau hanyut. Mengapa demikian? Karena tubuh kecilnya tidak menemukan pijakan kaki di kedalaman danau itu. Demikian pula, dapat diharapkan bahwa seseorang yang berkata ‘Aku tidak memperoleh konsentrasi, namun aku akan pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara’ akan tenggelam atau hanyut.

“Misalkan, Upāli, seorang bayi yang berbaring di punggungnya, akan bermain-main dengan air kencing dan tinjanya sendiri. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu adalah jenis hiburan yang sepenuhnya dungu?”

“Benar, Bhante.”

“Beberapa waktu kemudian, ketika anak itu tumbuh besar dan indria-indrianya matang, ia akan bermain permainan-permainan khas anak-anak – permainan dengan bajak mainan, permainan dengan tongkat kayu, berjungkir balik, permainan dengan kincir mainan, permainan dengan pengukuran dari dedaunan, permainan dengan kereta mainan, permainan dengan busur mainan. Bagaimana menurutmu, tidakkah hiburan ini lebih baik dan menarik daripada jenis sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Beberapa waktu kemudian lagi, ketika anak itu terus tumbuh dan indria-indrianya menjadi lebih matang lagi, ia memiliki dan menikmati lima objek kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, disukai, disenangi, terhubung dengan kenikmatan indria, menggoda; dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga … dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … dengan objek sentuhan yang dikenali oleh badan [204] yang diharapkan, diinginkan, disukai, disenangi, terhubung dengan kenikmatan indria, menggoda. Bagaimana menurutmu, tidakkah hiburan ini lebih baik dan menarik daripada jenis sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Di sini, Upāli, Sang Tathāgata muncul di dunia, seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci. Setelah dengan pengetahuan langsungNya sendiri merealisasikan dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, populasi ini dengan para petapa dan brahmana, dengan para deva dan manusia, Beliau mengenalkannya kepada orang lain. Beliau mengajarkan Dhamma yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna.

“Seorang perumah tangga atau putra perumah tangga atau seorang yang terlahir dalam suatu suku lainnya mendengar Dhamma ini. Ia kemudian memperoleh keyakinan pada Sang Tathāgata dan mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga adalah ramai dan berdebu; kehidupan meninggalkan keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup di rumah, menjalani kehidupan spiritual yang sepenuhnya sempurna dan murni bagaikan kulit kerang yang dipoles. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Beberapa waktu kemudian, setelah meninggalkan kekayaan yang sedikit atau banyak, setelah meninggalkan lingkaran sanak keluarga yang kecil atau besar, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

“Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup para bhikkhu, setelah meninggalkan pembunuhan, ia menghindari pembunuhan; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih pada semua makhluk hidup. Setelah meninggalkan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; ia mengambil hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan berdiam dengan jujur tanpa pikiran mencuri. Setelah meninggalkan aktivitas seksual, ia menjalani kehidupan selibat, [205] hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa.

“Setelah meninggalkan ucapan bohong, ia menghindari ucapan bohong; ia mengucapkan kebenaran, setia pada kebenaran; ia dapat dipercaya, bukan penipu dunia. Setelah meninggalkan ucapan memecah-belah, ia meninggalkan ucapan memecah-belah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga ia tidak mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia adalah seorang yang menyatukan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persatuan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, seorang pembicara yang menganjurkan kerukunan. Setelah meninggalkan ucapan kasar; ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, memikat, kata-kata yang masuk ke dalam hati, kata-kata yang sopan yang disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Setelah meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sesuai fakta, mengatakan apa yang bermanfaat, berbicara tentang Dhamma dan disiplin; pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, logis, singkat, dan bermanfaat.

“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia makan sekali sehari, menghindari makan pada malam hari dan di luar waktu yang selayaknya. Ia menghindari tarian, nyanyian, dan musik instrumental, dan pertunjukan-pertunjukan yang tidak selayaknya. Ia menghindari menghias dan mempercantik dirinya sendiri dengan mengenakan kalung bunga dan mengoleskan wangi-wangian dan salep. Ia menghindari tempat tidur yang tinggi dan besar. Ia menghindari menerima emas dan perak, beras mentah, daging mentah, perempuan-perempuan dan gadis-gadis, budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda, dan keledai, lahan dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh dan penyampai pesan; menghindari membeli dan menjual; menghindari menipu dengan timbangan, logam, dan takaran; [206] menghindari menerima suap, menipu, curang, dan memperdaya. Ia menghindari melukai, membunuh, mengikat, merampok, merampas, dan kekerasan.

“Ia puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan untuk memelihara perutnya, dan kemana pun ia pergi, ia pergi hanya membawa ini bersamanya. Bagaikan seekor burung, kemana pun ia pergi, ia terbang hanya dengan kedua sayapnya sebagai beban satu-satunya, demikian pula, seorang bhikkhu puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan untuk memelihara perutnya, dan kemana pun ia pergi, ia pergi hanya membawa ini bersamanya. Dengan memiliki kelompok perilaku bermoral yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan tanpa cela dalam dirinya.

Setelah melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengarkan suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian indria yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan yang tanpa cacat dalam dirinya.

Ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan pergi dan kembali; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika melihat ke depan dan berpaling; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuhnya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkuknya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika makan, minum, mengkonsumsi makanan, dan mengecap; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika buang air besar dan buang air kecil; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.

Dengan memiliki kelompok perilaku bermoral yang mulia ini, dan pengendalian [207] indria yang mulia ini, dan perhatian dan pemahaman jernih yang mulia ini, ia mendatangi tempat tinggal yang sunyi: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng bukit, tanah pekuburan, hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.

“Setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Setelah meninggalkan kerinduan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari kerinduan; ia memurnikan pikirannya dari kerinduan. Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran bebas dari niat buruk, berbelas kasih demi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian. Setelah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, ia berdiam bebas dari ketumpulan dan kantuk, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih; ia memurnikan pikirannya dari ketumpulan dan kantuk. Setelah meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa gejolak, dengan pikiran damai di dalam; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Setelah meninggalkan keragu-raguan ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tidak bimbang sehubungan dengan kualitas-kualitas bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

(1) “Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, kekotoran-kekotoran pikiran, kualitas-kualitas yang melemahkan kebijaksanaan, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

[Kitab Komentar : No ca kho tāva anuppattasadatthā viharanti. Adapun Arahant digambarkan sebagai seorang yang “telah mencapai tujuannya sendiri” (anuppattasaddho). Sadattha diidentifikasi sebagai Kearahattaan.

(2) “Kemudian, Upāli, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka [208] maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(3) “Kemudian, Upāli, dengan memudarnya sukacita … ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga … Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(4) “Kemudian, Upāli, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat … Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(5) “Kemudian, Upāli, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk-bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, [dengan menyadari] ‘ruang adalah tanpa batas,’ bhikkhu itu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(6) “Kemudian, Upāli, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [dengan menyadari] ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(7) “Kemudian, Upāli, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [dengan menyadari] ‘tidak ada apa-apa,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(8) “Kemudian, Upāli, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, [dengan mempersepsikan] ‘ini damai, ini luhur,’ [209] ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.

(9) “Kemudian, Upāli, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. (10) Dan setelah melihatnya dengan kebijaksanaan, noda-nodanya sepenuhnya dihancurkan. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?

“Benar, Bhante.”

“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Dan mereka berdiam setelah mencapai tujuan mereka.

“Marilah, Upāli, berdiamlah di dalam Sagha. Sewaktu engkau berdiam di dalam Sagha, engkau akan merasa nyaman.”

[Kitab Komentar : Saghe te viharato phāso bhavissati. Lit., “Dengan engkau berdiam di dalam Sagha, maka akan ada ketenangan [atau kenyamanan].” [Sang Buddha] memintanya untuk menetap di tengah-tengah Sagha dan tidak mengizinkannya menetap di hutan. Mengapa?

[Beliau berpikir:] “Jika ia menetap di hutan, maka ia hanya akan memenuhi tugas praktik, bukan tugas pembelajaran. Tetapi jika ia menetap di tengah-tengah Sagha, maka ia akan memenuhi kedua tugas itu, mencapai Kearahattaan, dan menjadi seorang ahli yang terunggul dalam hal Vinaya Piaka. Kemudian, Aku akan menjelaskan aspirasi dan tekad masa lampaunya dan menunjuknya sebagai bhikkhu yang terunggul di antara para ahli vinaya.” Melihat manfaat ini, Sang Guru tidak mengizinkan Upāli untuk menetap di hutan.]

Penulis justru alergi dan menentang “Tuhan” semacam berikut di bawah ini, yang telah merampas hak-hak korban atas keadilan, dimana penulis telah banyak dan kerapkali menjadi korban dari para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA”, dimana nyata-nyata “Tuhan” lebih PRO / memihak kepada para “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun mereka korupsi. Betapa dangkal dan rendah, selera kesenangan penuh cela para umat agama samawi, “jenis hiburan yang dungu” sebagaimana dicela oleh Sang Buddha—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Untuk apa juga kita bersedia diberkati oleh “Tuhan” yang justru memelihara makhluk biadab yang mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN DOSA” berikut, dimana telah ternyata sang rasul dihantui serta dikuasai ketakutan karena “BERSIMBAH DOSA-DOSA” (namun tidak menyesalinya karena masih ketagihan / tergila-gila berbuat dosa dan maksiat dimasa mendatang)—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]