Jenis Hiburan yang Dungu bagi Orang Dungu : Dogma PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bagi PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bernama Umat Agama Samawi
Biarlah Saya Terasing dari Allah yang Lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU
PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA, dan Biarkanlah Saya Memurnikan Diri
dengan “Melawan Arus”, Melawan “Kehendak Allah”
Untuk Apa juga Kita Bangga dan Mau Dirahmati atau Diberkahi oleh “Tuhan
yang Lebih PRO terhadap PENJAHAT / PENDOSA”?
Question: Apakah tidak ada yang mempertanyakan atau setidaknya merasa heran dan janggal, kita sadar bahwa hidup adalah duka (pain atau suffer). Namun mengapa mereka selalu dengan percaya diri merasa bahwa orang lain akan merasa senang ketika mereka berkata “God bless you”, seolah-olah kita akan memilih untuk pernah dilahirkan ke dunia ini bila boleh memilih?
Brief
Answer: Itulah juga sebabnya,
sekalipun ada “dogma sesat” semacam “banyak anak, maka banyak rezeki” atau
semacam “menikah membuka pintu rezeki”, penulis lebih memilih untuk tidak
melahirkan keturunan karena menyadari bahwa “hidup adalah dukkha”, sehingga
tidak mau melahirkan manusia yang akan merasakan “hidup adalah dukkha”,
yang mana bila penulis dapat memilih maka penulis akan memilih untuk sama
sekali tidak pernah terlahirkan di alam manapun, karenanya penulis pun meyakini
bahwa “sang anak” bila boleh memilih juga akan memilih pilihan serupa : tidak
pernah terlahirkan ke alam / dunia manapun, atau lebih tepatnya “Tolong,
jangan pernah lahirkan saya ke dunia manapun!”.
PEMBAHASAN:
Untuk mengikis “kekotoran batin” maupun delusi yang bersarang di dalam
diri kita, maka kita harus melawan segala bentuk tendensi untuk tunduk pada “arus
kebodohan”. Dengan demikian kita memiliki kekuatan serta kuasa untuk “memurnikan
diri”. Dahsyatnya khotbah Sang Buddha—seorang Arahant, yang tercerahkan
sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, pengenal dunia,
pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan
manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci—dapat kita temukan salah satunya dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
99 (9) Upāli
Yang Mulia Upāli mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk
di satu sisi, [202] dan berkata: “Bhante, aku ingin pergi ke tempat tinggal
terpencil di dalam hutan dan belantara.”
“Tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara adalah sulit untuk
ditahankan, Upāli. Kesendirian adalah sulit dijalani dan sulit untuk disenangi.
Ketika ia sedang sendirian, hutan akan merampas pikiran seorang bhikkhu yang
tidak memperoleh konsentrasi. Dapat diharapkan bahwa seseorang yang berkata
‘Aku tidak memperoleh konsentrasi, namun aku akan pergi ke tempat tinggal
terpencil di dalam hutan dan belantara’ akan tenggelam atau hanyut.
[Kitab Komentar : Ia akan tenggelam (saṃsīdissatī) karena
pemikiran-pemikiran indriawi, atau hanyut (uplavissati) karena pemikiran
berniat buruk dan pemikiran mencelakai.]
“Misalkan, Upāli, ada sebuah danau besar, dan seekor gajah jantan besar
berukuran tujuh atau delapan hasta datang. Ia mungkin berpikir: ‘Biarlah aku
memasuki danau ini dan menyiram telinga dan punggungku. Aku akan mandi dan
minum, keluar, dan pergi ke mana pun yang kuinginkan.’ Kemudian ia masuk ke
danau dan menyiram telinga dan punggungnya. Ia mandi dan minum, keluar, dan
pergi ke mana pun yang ia inginkan. Bagaimana bisa demikian? Karena tubuh
besarnya menemukan pijakan kaki di kedalaman danau itu.
“Kemudian seekor kelinci atau kucing datang. Ia mungkin berpikir:
‘Bagaimana seekor gajah besar bisa berbeda dariku? Aku akan memasuki danau ini
dan menyiram telinga dan punggungku. [203] Aku akan mandi dan minum, keluar,
dan pergi ke mana pun yang kuinginkan.’ Kemudian, tanpa merefleksikan,
ia tergopoh-gopoh memasuki kedalaman danau. Dapat diharapkan bahwa ia akan
tenggelam atau hanyut. Mengapa demikian? Karena tubuh kecilnya tidak
menemukan pijakan kaki di kedalaman danau itu. Demikian pula, dapat
diharapkan bahwa seseorang yang berkata ‘Aku tidak memperoleh konsentrasi,
namun aku akan pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara’
akan tenggelam atau hanyut.
“Misalkan, Upāli, seorang bayi yang berbaring di punggungnya, akan
bermain-main dengan air kencing dan tinjanya sendiri. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu adalah jenis
hiburan yang sepenuhnya dungu?”
“Benar, Bhante.”
“Beberapa waktu kemudian, ketika anak itu tumbuh besar dan indria-indrianya
matang, ia akan bermain permainan-permainan khas anak-anak – permainan dengan
bajak mainan, permainan dengan tongkat kayu, berjungkir balik, permainan dengan
kincir mainan, permainan dengan pengukuran dari dedaunan, permainan dengan
kereta mainan, permainan dengan busur mainan. Bagaimana menurutmu, tidakkah
hiburan ini lebih baik dan menarik daripada jenis sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Beberapa waktu kemudian lagi, ketika anak itu terus tumbuh dan
indria-indrianya menjadi lebih matang lagi, ia memiliki dan menikmati lima objek
kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang
diharapkan, diinginkan, disukai, disenangi, terhubung dengan kenikmatan
indria, menggoda; dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga …
dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung … dengan rasa kecapan yang dikenali
oleh lidah … dengan objek sentuhan yang dikenali oleh badan [204] yang
diharapkan, diinginkan, disukai, disenangi, terhubung dengan kenikmatan indria,
menggoda. Bagaimana menurutmu, tidakkah hiburan ini lebih baik dan menarik
daripada jenis sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Di sini, Upāli, Sang Tathāgata muncul di dunia, seorang Arahant,
tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna
menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang
harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.
Setelah dengan pengetahuan langsungNya sendiri merealisasikan dunia ini dengan
para deva, Māra, dan Brahmā, populasi ini dengan para petapa dan brahmana,
dengan para deva dan manusia, Beliau mengenalkannya kepada orang lain. Beliau mengajarkan
Dhamma yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan
makna yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan
murni sempurna.
“Seorang perumah tangga atau putra perumah tangga atau seorang yang
terlahir dalam suatu suku lainnya mendengar Dhamma ini. Ia kemudian memperoleh
keyakinan pada Sang Tathāgata dan mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah
tangga adalah ramai dan berdebu; kehidupan meninggalkan keduniawian terbuka
lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup di rumah, menjalani kehidupan spiritual
yang sepenuhnya sempurna dan murni bagaikan kulit kerang yang dipoles.
Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Beberapa
waktu kemudian, setelah meninggalkan kekayaan yang sedikit atau banyak, setelah
meninggalkan lingkaran sanak keluarga yang kecil atau besar, ia mencukur rambut
dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
“Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya
hidup para bhikkhu, setelah meninggalkan pembunuhan, ia menghindari pembunuhan;
dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati dan baik hati, ia
berdiam dengan berbelas kasih pada semua makhluk hidup. Setelah
meninggalkan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari mengambil apa
yang tidak diberikan; ia mengambil hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya
apa yang diberikan, dan berdiam dengan jujur tanpa pikiran mencuri.
Setelah meninggalkan aktivitas seksual, ia menjalani kehidupan selibat, [205]
hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa.
“Setelah meninggalkan ucapan bohong, ia menghindari ucapan bohong; ia
mengucapkan kebenaran, setia pada kebenaran; ia dapat dipercaya, bukan
penipu dunia. Setelah meninggalkan ucapan memecah-belah, ia meninggalkan
ucapan memecah-belah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia
dengar di sini untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga
ia tidak mengulangi kepada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat
lain untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia
adalah seorang yang menyatukan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur
persatuan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam
kerukunan, seorang pembicara yang menganjurkan kerukunan. Setelah
meninggalkan ucapan kasar; ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan
kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, memikat, kata-kata yang
masuk ke dalam hati, kata-kata yang sopan yang disukai banyak orang dan menyenangkan
banyak orang. Setelah meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara
pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sesuai fakta, mengatakan apa yang
bermanfaat, berbicara tentang Dhamma dan disiplin; pada waktu yang tepat
ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, logis, singkat, dan bermanfaat.
“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia makan sekali sehari,
menghindari makan pada malam hari dan di luar waktu yang selayaknya. Ia
menghindari tarian, nyanyian, dan musik instrumental, dan
pertunjukan-pertunjukan yang tidak selayaknya. Ia menghindari menghias dan
mempercantik dirinya sendiri dengan mengenakan kalung bunga dan mengoleskan
wangi-wangian dan salep. Ia menghindari tempat tidur yang tinggi dan besar. Ia menghindari
menerima emas dan perak, beras mentah, daging mentah, perempuan-perempuan dan
gadis-gadis, budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi,
gajah, sapi, kuda, dan keledai, lahan dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh
dan penyampai pesan; menghindari membeli dan menjual; menghindari menipu
dengan timbangan, logam, dan takaran; [206] menghindari menerima suap, menipu,
curang, dan memperdaya. Ia menghindari melukai, membunuh, mengikat, merampok, merampas,
dan kekerasan.
“Ia puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan untuk
memelihara perutnya, dan kemana pun ia pergi, ia pergi hanya membawa ini
bersamanya. Bagaikan
seekor burung, kemana pun ia pergi, ia terbang hanya dengan kedua sayapnya sebagai
beban satu-satunya,
demikian pula, seorang bhikkhu puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan
makanan untuk memelihara perutnya, dan kemana pun ia pergi, ia pergi hanya membawa
ini bersamanya. Dengan
memiliki kelompok perilaku bermoral yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan
tanpa cela dalam dirinya.
“Setelah
melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat
menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia
menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengarkan suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan
hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek
sentuhan dengan badan … Setelah
mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat
menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia
menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian indria
yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan yang tanpa cacat dalam dirinya.
“Ia
bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan pergi dan kembali; ia
bertindak dengan pemahaman jernih ketika melihat ke depan dan berpaling; ia
bertindak dengan pemahaman jernih ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian
tubuhnya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika mengenakan jubah dan membawa
jubah luar dan mangkuknya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika makan,
minum, mengkonsumsi makanan, dan mengecap; ia bertindak dengan pemahaman jernih
ketika buang air besar dan buang air kecil; ia bertindak dengan pemahaman
jernih ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan
berdiam diri.
“Dengan memiliki kelompok perilaku bermoral yang mulia ini, dan
pengendalian [207] indria yang mulia ini, dan perhatian dan pemahaman jernih
yang mulia ini, ia mendatangi tempat tinggal yang sunyi: hutan, bawah
pohon, gunung, jurang, gua di lereng bukit, tanah pekuburan, hutan belantara,
ruang terbuka, tumpukan jerami.
“Setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, ia duduk
bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Setelah meninggalkan
kerinduan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari kerinduan; ia memurnikan
pikirannya dari kerinduan. Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia
berdiam dengan pikiran bebas dari niat buruk, berbelas kasih demi kesejahteraan
semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian. Setelah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, ia
berdiam bebas dari ketumpulan dan kantuk, mempersepsikan cahaya, penuh
perhatian dan memahami dengan jernih; ia memurnikan pikirannya dari ketumpulan
dan kantuk. Setelah meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam
tanpa gejolak, dengan pikiran damai di dalam; ia memurnikan pikirannya dari
kegelisahan dan penyesalan. Setelah meninggalkan keragu-raguan ia berdiam
setelah melampaui keragu-raguan, tidak bimbang sehubungan dengan
kualitas-kualitas bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.
(1) “Setelah
meninggalkan kelima rintangan ini, kekotoran-kekotoran pikiran,
kualitas-kualitas yang melemahkan kebijaksanaan, dengan terasing dari
kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat,
ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang
muncul dari keterasingan, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan.
Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada
yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
[Kitab Komentar : No ca kho tāva
anuppattasadatthā viharanti. Adapun Arahant digambarkan sebagai seorang
yang “telah mencapai tujuannya sendiri” (anuppattasaddho). Sadattha
diidentifikasi sebagai Kearahattaan.
(2) “Kemudian, Upāli, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia
masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Bagaimana menurutmu, tidakkah
keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka [208]
maka para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan
belantara. Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(3) “Kemudian, Upāli, dengan memudarnya sukacita … ia masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga … Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik
dan menarik daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(4) “Kemudian, Upāli, dengan
meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke
empat … Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik
daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(5) “Kemudian, Upāli, dengan
sepenuhnya melampaui persepsi bentuk-bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak
indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, [dengan menyadari] ‘ruang
adalah tanpa batas,’ bhikkhu itu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa
batas. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik
daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(6) “Kemudian, Upāli, dengan
sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [dengan menyadari] ‘kesadaran
adalah tanpa batas,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas.
Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada
yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(7) “Kemudian, Upāli, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [dengan menyadari] ‘tidak
ada apa-apa,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Bagaimana menurutmu,
tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(8) “Kemudian, Upāli, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, [dengan mempersepsikan] ‘ini damai,
ini luhur,’ [209] ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi. Bagaimana menurutmu, tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan
menarik daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara.
Tetapi mereka masih belum mencapai tujuan mereka.
(9) “Kemudian, Upāli, dengan
sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia
masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. (10) Dan setelah melihatnya
dengan kebijaksanaan, noda-nodanya sepenuhnya dihancurkan. Bagaimana menurutmu,
tidakkah keberdiaman ini lebih baik dan menarik daripada yang sebelumnya?”
“Benar, Bhante.”
“Adalah ketika mereka melihat kualitas ini juga, dalam diri mereka maka
para siswaKu pergi ke tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Dan
mereka berdiam setelah mencapai tujuan mereka.
“Marilah, Upāli, berdiamlah di dalam Saṅgha. Sewaktu engkau berdiam di dalam Saṅgha, engkau akan merasa nyaman.”
[Kitab Komentar : Saṅghe te viharato phāso bhavissati. Lit., “Dengan engkau berdiam di dalam Saṅgha, maka akan ada ketenangan [atau kenyamanan].” [Sang
Buddha] memintanya untuk menetap di tengah-tengah Saṅgha dan
tidak mengizinkannya menetap di hutan. Mengapa?
[Beliau berpikir:] “Jika ia menetap di hutan, maka
ia hanya akan memenuhi tugas praktik, bukan tugas pembelajaran. Tetapi jika ia menetap
di tengah-tengah Saṅgha, maka ia akan memenuhi kedua tugas itu, mencapai
Kearahattaan, dan menjadi seorang ahli yang terunggul dalam hal Vinaya Piṭaka.
Kemudian, Aku akan menjelaskan aspirasi dan tekad masa lampaunya dan
menunjuknya sebagai bhikkhu yang terunggul di antara para ahli vinaya.”
Melihat manfaat ini, Sang Guru tidak mengizinkan Upāli untuk menetap di hutan.]
Penulis justru alergi dan menentang “Tuhan” semacam berikut di bawah ini,
yang telah merampas hak-hak korban atas keadilan, dimana penulis telah banyak
dan kerapkali menjadi korban dari para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA”, dimana
nyata-nyata “Tuhan” lebih PRO / memihak kepada para “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa
pun mereka korupsi. Betapa dangkal dan rendah, selera kesenangan penuh cela
para umat agama samawi, “jenis
hiburan yang dungu” sebagaimana
dicela oleh Sang Buddha—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Untuk
apa juga kita bersedia diberkati oleh “Tuhan” yang justru memelihara makhluk
biadab yang mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN DOSA” berikut, dimana telah
ternyata sang rasul dihantui serta dikuasai ketakutan karena “BERSIMBAH DOSA-DOSA”
(namun tidak menyesalinya karena masih ketagihan / tergila-gila berbuat dosa
dan maksiat dimasa mendatang)—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]