Bila Sudah Tahu dan Sadar bahwa Hidup adalah Dukkha, mengapa Masih juga Melahirkan Anak ke Dunia ini untuk Turut Menderita?
Question: Yang membuat saya heran selama ini, apakah ada orang yang tidak menyadari dan mengetahui bahwa hidup atau kehidupan ini sejatinya adalah duka, dimana setiap makhluk yang berkondisi terikat oleh siklus sakit—tua—meninggal dunia? Segalanya berubah, tidak ada yang bisa digenggam erat, bahkan seseorang cenderung untuk menyakiti dirinya sendiri, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, apakah belum cukup membuktikan bahwa hidup ini adalah duka? Pertanyaannya, jika sudah tahu bahwa hidup ini adalah duka, mengapa juga mereka masih menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengalami duka di dunia ini?
Brief Answer: Tampaknya penjelasan yang paling relevan terkait
fenomena menikah dan melahirkan anak-anak, ialah karena faktor keegoisan sang
ayah (selfish motive). Betapa tidak, dogma-dogma agama samawi meracuni
umat manusia lewat jargon “menikah adalah ibadah”, “menikah pintu rezeki”,
“banyak anak (maka) banyak rezeki”. Sehingga, motif utama bagi sang bapak maupun
ibunya untuk menikah dan melahirkan anak sebanyak-banyaknya yang dapat kita
lihat fenomenanya pada kalangan kelas bawah dan miskin, ialah delusi agar bisa
dapat banyak rezeki alias dalam rangka mempertebal isi kantung saku sang bapak
dan ibu dari sang anak.
Tidak ada yang lebih konyol daripada “agama” yang
mengajarkan agar manusia menikah sebagai ibadah dan untuk berkembang biak
sebagai perintah Tuhan. Hewan, sekalipun tanpa disuruh ataupun diperintah, akan
kawin dan beranak-pinak. Justru karena penulis telah menyadari dan memahami
betul bahwa hidup adalah dukkha, maka penulis membuat keputusan pribadi untuk
tidak menikah maupun melahirkan anak. Menjadi tidak konsisten, ketika seseorang
mengklaim telah mendapatkan “insight” bahwa hidup adalah dukkha, namun
masih juga gemar menikah dan melahirkan anak, karena itu sama artinya
menjerumuskan anak agar mengalami derita di dunia ini. Dalam banyak kasus,
musuh di kehidupan sebelumnya akan terlahir kembali sebagai anak dalam
kehidupan berikutnya, itulah sebabnya tidak jarang diberitakan adanya fenomena
ketidak-cocokan antara anak dan orangtuanya yang bahkan dapat saling
bunuh-membunuh satu sama lainnya.
PEMBAHASAN:
Bila bisa memilih, penulis akan
memilih untuk tidak pernah tercipta maupun diciptakan dan dilahirkan ke alam /
dunia manapun. Konsistensi sikap penulis tersebut, dikonkretkan untuk tidak
melahirkan keturunan. Melahirkan anak, sejatinya merupakan EGO orangtua.
Seperti yang telah disebutkan di muka, “banyak anak (maka) banyak rezeki”.
Berangkat dari dogma keliru-menyesatkan demikian, banyak kalangan terjerumus,
sebelum kemudian menikah pada usia dini dan melahirkan banyak anak.
Sama seperti kisah Abraham /
Ibrahim yang memiliki niat jahat untuk menyembelih / merampas nyawa hidup anak
kandungnya sendiri, Ismail / Ishaq, ialah semata demi EGO pribadi sang bapak
yang hendak menggauli puluhan bidadari “berdada montok” di kerajaan Allah dan
bersenang-senang di alam surgawi. Ayah yang benar-benar mengasihi putranya,
akan memilih untuk dilempar ke neraka daripada merampas kehidupan dan masa
depan sang anak.
Sang Buddha dalam Sutta Pitaka
menyebutkan, sisa tulang-belulang kita pada kehidupan-kehidupan kita
sebelumnya, bila ditumpuk di satu tempat, maka tingginya akan melampaui gunung
tertinggi dunia. Air mata yang pernah kita teteskan di kehidupan-kehidupan
sebelumnya, bila dikumpulkan menjadi satu, maka jumlah kumpulannya akan
melebihi jumlah volume air dari berbagai samudera yang disatukan. Dukkha yang
paling utama dari kehidupan, ialah siklus tumimbal-lahir yang tidak
berkesudahan alias “NEVER ENDING STORIES” yang menjemukan dan meletihkan,
bahkan tidak jarang musuh bebuyutan di kehidupan lampau akan terlahir sebagai anak
kandung dikehidupan berikutnya. Tumbimbal-lahir, karenanya, merupakan drama
yang berisi serangkaian episode penuh kekonyolan dramatis yang tidak mengenal kata
“ending”, alias “NEVER ENDING STORIES” yang selalu “to be
continue...”.
Itulah mengapa, ajaran
Buddhisme bersifat melawan arus, dalam artian “memutus belenggu rantai karma” (break
the chain / shackle of karmic law) yang secara sendirinya akan memutus
proses penciptaan maupun kelahiran kembali. Itulah sebabnya, setelah mencapai
penerangan sempurna, Sang Buddha Gotama hidup dalam selibat, tanpa menikah dan
tanpa memiliki keturunan—karena Beliau telah menyadari bahwa melahirkan seorang
anak, sama artinya tercipta satu kehidupan yang akan mengalami tumimbal-lahir
tanpa henti.
Berkebalikan dari ajaran Sang
Buddha, agama samawi justru mengajarkan para umatnya untuk mengikuti arus
“kehewanan” (hewanis dan predatoris), alih-alih “humanis”, bagaikan hewan yang
hanya mengikuti naluri atau insting kehewanannya, dapat tercermin dari sabda Sang
Buddha berikut:
“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di
dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus;
orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di
seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di
sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti
arus.
(2) Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang
tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air
mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut
orang yang melawan arus.”
Terkadang atau bahkan
seringkali, kita perlu melawan tendensi atau kecenderungan yang muncul dalam
diri kita, mengendalikan (mengambil-alih kendali alias “under control”),
dan mengarahkannya ke tujuan yang lebih produktif, sebagaimana khotbah
Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”,
Judul Asli : “The Numerical Discourses of
the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi
oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun
2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
80 (10) Dasar-Dasar Bagi Kemalasan dan Pembangkitan
Kegigihan
“Para bhikkhu, ada delapan dasar bagi kemalasan ini.
Apakah delapan ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu harus melakukan suatu
pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu pekerjaan. Sewaktu aku sedang
bekerja, tubuhku akan menjadi lelah. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia
tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk
memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum
direalisasikan. Ini adalah dasar pertama bagi kemalasan.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu telah menyelesaikan
suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku telah menyelesaikan suatu pekerjaan. Karena
pekerjaan itu, tubuhku menjadi lelah. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia
tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang belum
direalisasikan. Ini adalah dasar ke dua bagi kemalasan.
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu harus melakukan suatu
perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu perjalanan. Sewaktu sedang
melakukan perjalanan, tubuhku akan menjadi lelah. Biarlah aku berbaring.’ Ia
berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang
belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke tiga bagi kemalasan.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu telah melakukan suatu
perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku telah melakukan suatu perjalanan. Sewaktu sedang
melakukan perjalanan, tubuhku telah menjadi lelah. Biarlah aku berbaring.’ Ia
berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang
belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke empat bagi kemalasan.
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu telah berjalan untuk
menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun tidak mendapatkan
sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia berpikir: [333] ‘Aku
telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun
tidak mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau baik. Tubuhku
telah menjadi lelah dan susah digerakkan. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring.
Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan.
Ini adalah dasar ke lima bagi kemalasan.
(6) “Kemudian, seorang bhikkhu telah berjalan untuk
menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan telah mendapatkan
sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia berpikir: ‘Aku telah
berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan telah
mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau baik. Tubuhku telah
menjadi berat dan susah digerakkan bagaikan tumpukan biji-bijian basah. Biarlah
aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan
apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke enam bagi kemalasan.
(7) “Kemudian, seorang bhikkhu merasa kurang sehat.
Ia berpikir: ‘Aku merasa kurang sehat. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia
tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang belum
direalisasikan. Ini adalah dasar ke tujuh bagi kemalasan.
(8) “Kemudian, seorang bhikkhu telah sembuh dari
sakitnya. Segera setelah ia sembuh, ia berpikir: ‘Aku telah sembuh dari sakit; aku
baru saja sembuh dari sakit. Tubuhku masih lemah dan susah digerakkan. Biarlah
aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai
apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan
apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke delapan bagi kemalasan.
“Ini adalah kedelapan dasar bagi kemalasan itu.
[334]
“Para bhikkhu, ada delapan dasar ini untuk
membangkitkan kegigihan. Apakah delapan ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu harus melakukan suatu
pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu pekerjaan. Sewaktu sedang bekerja,
tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran para Buddha. Biarlah aku terlebih
dulu membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk
memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan.’
Ia membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk
memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum
direalisasikan. Ini adalah dasar pertama untuk membangkitkan kegigihan.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu telah menyelesaikan
suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku telah menyelesaikan suatu pekerjaan. Sewaktu
sedang bekerja, tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran para Buddha.
Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke dua untuk
membangkitkan kegigihan.
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu harus melakukan suatu
perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu perjalanan. Sewaktu sedang
melakukan perjalanan, tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran para Buddha.
Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke tiga
untuk membangkitkan kegigihan.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu telah melakukan suatu
perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku telah melakukan suatu perjalanan. Sewaktu sedang
melakukan perjalanan, tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran para Buddha.
Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke empat untuk
membangkitkan kegigihan. [335]
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu telah berjalan untuk
menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun tidak mendapatkan
sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia berpikir: ‘Aku telah
berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun tidak
mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau baik. Tubuhku telah menjadi
ringan dan mudah digerakkan. Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah
dasar ke lima untuk membangkitkan kegigihan.
(6) “Kemudian, seorang bhikkhu telah berjalan untuk
menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan telah mendapatkan
sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia berpikir: ‘Aku telah
berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan telah
mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau baik. Tubuhku telah
menjadi kuat dan mudah digerakkan. Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini
adalah dasar ke enam untuk membangkitkan kegigihan.
(7) “Kemudian, seorang bhikkhu merasa kurang sehat.
Ia berpikir: ‘Aku merasa kurang sehat. Adalah mungkin bahwa penyakitku akan
bertambah parah. Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan …’ Ini
adalah dasar ke tujuh untuk membangkitkan kegigihan.
(8) “Kemudian, seorang bhikkhu telah sembuh dari
sakitnya. Segera setelah ia sembuh, ia berpikir: ‘Aku telah sembuh dari sakit; baru
saja sembuh dari sakit. Adalah mungkin bahwa penyakitku akan kambuh. Biarlah
aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang belum
dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa
yang belum direalisasikan.’ Ia membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa yang
belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan
apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke delapan untuk membangkitkan
kegigihan. “Ini adalah kedelapan dasar untuk membangkitkan kegigihan itu.”
[336]
Agama samawi, justru memotivasi
para umat pengikutnya untuk memelihara dan memberi makan kebodohan serta
kekotoran batinnya, dengan memelihara ritual doa-doa permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
untuk seumur hidup dan sepanjang hidupnya hingga akhir hayatnya. Tobat, bukan
disimbolkan dari perkataan “ampunilah aku”, namun “aku menyesal, mengakui
perbuatanku, dan bersedia bertanggung-jawab serta menerima resiko konsekuensinya”.
Aksi “cuci tangan” dengan berkelit dari konsekuensi dari perbuatan buruknya sendiri,
tidak pernah dapat dimaknai sebagai “kembali ke fitri”, namun menjelma “KORUPTOR
DOSA”. Para pendosa-pengecut ini hanya bersedia menggadaikan jiwanya dan
melakukan “lip service” untuk aksi “cuci dosa”, alih-alih “membayar
harga” lewat pertanggung-jawaban atas perbuatan buruknya—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
PENDOSA, namun hendak berceramah perihal akhlak, moral,
hidup suci, luhur, adil, jujur, mulia, agung, lurus, bertanggung-jawab, berjiwa
ksatria, dan bersih? Itu menyerupai ORANG BUTA yang hendak membimbing para
BUTAWAN lainnya, berbondong-bondong secara deras menuju jurang-lembah nista,
dimana neraka pun diyakini sebagai surga. Alhasil, sang nabi rasul Allah dalam
keseharian lebih sibuk mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSA
maupun KORUPTOR DOSA, tentunya), alih-alih introspeksi diri, mengenali serta
mengakui perbuatan buruknya, meminta maaf kepada korban-korbannya, terlebih
menggunakan waktu yang ada untuk bertanggung-jawab kepada mereka, lebih sibuk
lari dari tanggung-jawab ketimbang sibuk untuk mempertanggung-jawabkan
perbuatannya sendiri. Tergila-gila memohon “PENGHAPUSAN DOSA”, artinya
sepanjang hidupnya kecanduan “mencetak dosa-dosa yang serupa ataupun dosa-dosa
baru lainnya” tanpa pernah jera ataupun bertobat—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]