SENI PIKIR & TULIS
Akibat Cara Berpikir yang Irasional, Kita Memandang
yang Tidak Penting sebagai Penting, dan yang Berharga sebagai Tidak Berharga
Kita Tidak Terlahir dalam Kondisi Rasional, Namun
Irasional
Masih jelas dalam ingatan
penulis, ketika penulis masih seorang bocah kecil yang bodoh, banyak sekali
barang-barang yang penulis “bocah” lekati label sebagai “barang milik aku”,
lalu melekat erat terhadapnya sedemikian rupa hingga menyerupai “posesif” yang
agresif sifatnya. Ketika barang “milik aku” itu rusak karena suatu hal terutama
kerusakan mana diakibatkan oleh perbuatan orang lain, penulis “bocah” menjadi
ngambek, marah, hingga mengamuk, seolah-olah ada anggota tubuh penulis yang
telah dilukai dan disakiti. Memiliki barang, ibarat membuat diri kita menjadi
ringkih dan riskan, ketika barang tersebut rusak atau dirusak oleh orang lain,
kita merasa seperti ada anggota tubuh kita yang terluka sehingga kita merasakan
sakit dan menderita. Orang-orang yang memiliki banyak kepemilikan tanah
tersebar di berbagai kota dan daerah, ketika terdapat satu saja objek tanah
miliknya diserobot oleh pihak lain, maka ia akan merasa seolah ada bagian dari
tubuhnya yang telah diamputasi, dicuri darinya, dan terluka berdarah.