When others treat us unfairly,
Then we also need to treat them unfairly.
It’s not because we want to be bad like them, those bad people,
But we become mirrors that simply reflect what other people have done to us.
Website untuk Mengenal Ajaran Otentik SANG BUDDHA bagi Kaum Ateis, Umat Agama Samawi, maupun bagi Sahabat Buddhist. Tes SQ dan Temukan Kejutan Dibalik Kekuatan Pikiran
When others treat us unfairly,
Then we also need to treat them unfairly.
It’s not because we want to be bad like them, those bad people,
But we become mirrors that simply reflect what other people have done to us.
Agama yang Menjual dan Mengumbar Iming-Iming Bukanlah Agama yang Positif-Optimis, namun DELUSIF bagi para Pemimpi
TRUTH ALWAYS
BITTER, sementara Itu
Iming-Iming Selalu MANIS. Namun, yang Manis Jangan Langsung Ditelan, dan yang
Pahit Jangan Langsung Dibuang
Mengobral Penghapusan / Pengampunan / Penebusan Dosa
bagi para Delusif Penuh Kecurangan serta bagi para Pesimis yang Merasa menjadi
Orang Baik Bukanlah Penentu Masuk Surga
Question: Banyak yang mencibir ajaran Buddhist, seolah-olah yang ada hanya kekelaman serta penderitaan, bahwa hidup ini adalah duka. Sebenarnya apa kriteria, sehingga seseorang dapat mengatakan bahwa suatu agama adalah mengajarkan dogma-dogma yang bersifat optimis ataukah sebaliknya, pesimistik?
Manakah yang Anda Peluk, Yakini, dan Jalankan : Agama Versi Realita Vs. Agama Versi Fantasi?
4 Jenis Tingkat Karakteristik Kedunguan Manusia
Question: Sebenarnya yang dimaksud dengan “misi misionaris”, apa dan seperti apakah?
HARI BERDUKA UMAT MANUSIA YANG DIRAYAKAN DENGAN MERIAH DAN KECERIAAN BAGI MEREKA YANG DUNGU, UNTUK SETIAP TAHUNNYA
Akibat kebodohan batin serta kekotoran batin, si dungu memandang apa yang sebetulnya “petaka”, dianggap sebagai “berkah” dan kemudian mereka peringati serta rayakan sebagai Hari Raya yang dimeriahkan oleh semarak pesta dan segala puji-syukur setiap tahunnya.
“Adalah tidak mungkin dan tidak terbayangkan bahwa seorang yang jahat dapat mengenali seorang yang jahat. Juga adalah tidak mungkin dan tidak terbayangkan bahwa seorang yang jahat dapat mengenali seorang yang baik. Adalah mungkin bahwa seorang yang baik dapat mengenali seorang yang baik. Juga adalah mungkin bahwa seorang yang baik dapat mengenali seorang yang jahat.” [Sang Buddha]
Orang Baik Tidak Dihargai karena Orang Jahat Tidak
Mampu Melihat Kebaikan akibat Buta Hati
Question: Mengapa ya, orang baik (justru) “sama sekali tidak dihargai”, bukan lagi sekadar “kurang dihargai” oleh orang lain?
Instead of us choosing to work hard,
Would be ideal,
In many circumstances,
If we choose to work smartly.
AGAMA IMING-IMING, Agama yang Mengumbar dan Berjualan Delusi bagi para Pendosa Penuh Khayalan Korup Bernama Penghapusan Dosa bagi Para Pendosa Penuh Dosa
AGAMA SOK TAHU, Khusus bagi para Spekulan yang Merasa
Dirinya Paling Tahu Isi Pikiran Tuhan
Question: Negeri ini, Indonesia, tidak pernah kekurangan para “agamais”. Namun mengapa masih banyak juga bencana alam terjadi sepanjang tahun serta setiap tahunnya, silih-berganti seolah tidak kenal henti-hentinya menimpa dengan korban jiwa?
PENGORBANAN DENGAN KEKEJAMAN Vs. PENGORBANAN DIRI SENDIRI BEBAS DARI KEKEJAMAN
Question: Mengapa bisa sampai terjadi, pejabat korupsi mengorupsi hak-hak rakyat jelata, ibarat merampok nasi dari piring milik orang-orang yang bahkan lebih miskin daripada sang pejabat-pejabat korup tersebut?
Untuk Apa Belajar Sains ke Kitab Agama, itu Salah
Alamat. Belajarlah Sains ke Buku-Buku Sains, bukan justru ke Kitab Agama
Yang Manis (Kenikmatan Duniawi) Jangan Langsung Ditelan, dan yang Pahit (Dukkha Kehidupan) Jangan Langsung Dibuang
Ada orang-orang yang hanya karena membaca ataupun terdapat satu ataupun dua ayat yang tampak seperti ajaran kebaikan pada kitab suatu agama, lantas secara prematur menilai bahwa agama tersebut adalah baik dan layak untuk dipeluk adanya—sekalipun ajaran yang baik tersebut sifatnya umum saja karena juga terdapat di agama-agama lainnya, bahkan norma sosial pun telah mengenalnya sebagai kearifan budaya Timur ataupun semacam hak asasi manusia yang universal sifatnya, dimana disaat bersamaan secara membias para pemeluknya menutup mata dari ajaran-ajaran buruk dan jahat penuh cela moril dalam agama dimaksud.
Prinsip Saling Menghargai antar Umat Beragama secara Bertimbal-Balik, Tidak Toleran secara Bertepuk Sebelah Tangan
Seri Artikel Sosiologi—Anthropologi
Question: Di negara-negara dimana agama Islam adalah
mayoritas, para muslim melarang serta memberangus pluralisme ataupun
kemajemukan umat beragama. Jangankan jauh-jauh, di Indonesia sendiri, ada
banyak kota atau daerah yang melarang pendirian rumah ibadah bagi umat beragama
nonmuslim, belum lagi jika kita bicara mengenai berbagai Peraturan Daerah yang
bersifat intoleran seperti pemaksaan penutupan rumah makan saat bulan Ramadhan,
kewajiban penggunaan kerudung bagi kaum wanita, hingga pemaksaan anak sekolah
peserta didik nonmuslim untuk memakai jilbab di Sekolah Negeri.
Kita pun menjadi bertanya-tanya, ini negara hukum, ataukah negara agama? Artinya, negara-negara mayoritas muslim bersikap intoleran dan tidak terbuka bagi kemajemukan umat beragama. Lantas, mengapa justru mereka yang paling keras berteriak perihal Uighur, Rohingya, dan sebagainya, dengan maksud menuntut diberi keistimewaan berupa toleransi untuk beribadah dan mengekspresikan agamanya, bahkan diberi kebebasan untuk menjadi separatis di negara-negara nonMuslim?
Beribadah secara HENING, Hening itu Indah, Damai, Sakral, Penuh Makna, dan Mendalam
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Mengapa bisa ada agama, yang mana para umatnya
ketika beribadah begitu norak dan narsis, sampai-sampai mengganggu ketenangan
hidup umat beragama lain, seolah-olah umat agama lain tidak butuh beribadah
sesuai keyakinannya masing-masing secara tenang dan bebas dari segala gangguan,
tidak terkecuali gangguan yang bersumber dari “polusi suara” (kebisingan atau
suara yang keras akibat speaker pengeras suara eksternal tempat ibadah) maupun
“polusi sosial” (parkir liar, menutup jalan milik umum, tebaran sampah yang
dibuang sembarangan, dsb, yang mengatasnamakan agama) praktik-praktik ritual
keagamaan demikian?
Ada sebuah femomena cukup unik yang biasa kita jumpai. Semua orang dari negara asing yang baru kali pertamanya mengunjungi dan menjejakkan kakinya di Indonesia, bukan dibuat kagum oleh ritual serba “berisik” tersebut, namun justru mengundang ekspresi jijik dan heran disamping senyum sinis ketika kita terangkan bahwa itu adalah praktik ibadah kaum agama tertentu, yang akan terjadi sepanjang harinya mulai dari siang hari, sore, bahkan hingga subuh. Ekspresi mereka seolah hendak berkata, bahwa bangsa kita di Indonesia belum dapat disebut beradab adanya.
Agama SUCI, Agama KSATRIA, Vs. Agama DOSA
“Agama DOSA” namun Dilabel Kemasan sebagai “Agama SUCI”
Question: Ada suatu agama tertentu, yang selalu membuat jargon klaim, bahwa adalah “merugi” yang tidak menjadi pemeluk agamanya tersebut. Maksudnya apa itu, kata “merugi” yang selalu mereka dengung-dengungkan kepada publik sebagai alat marketing mereka untuk menghimpun umat?
Mengapa Polisi Lebih Jahat daripada Preman? Preman Tidak Disumpah Jabatan untuk Menegakkan Hukum, namun Polisi Disumpah Jabatan untuk Menegakkan Hukum dan Keadilan serta Diberi Gaji dari Pajak yang Dibayar Masyarakat maupun Memonopoli Penegakan / Akses Pidana
Polisinya Saja Jahat, bagaimana Penjahatnya?
Question: Polisi ada di sumpah jabatan untuk melindungi dan
mengayomi masyarakat, mengenmban amanat sebagai aparatur penegak hukum. Namun,
mengapa justru polisi itu sendiri yang kerap melanggar hukum? Lihat saja
berbagai “sarang” para polisi berkantor dan bermarkas, semisal Kantor Polisi,
tempat pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi) ataupun STNK (Surat Tanda Nomor
Kendaraan), banyak terjadi pungutan liar, penyalahgunaan kekuasaan, maupun
ajang pamer kekuasaan dan arogansi kalangan kepolisian. Bila di “sarang” polisi
saja banyak kejahatan, terjadi secara masif dan terang-terangan, apa yang dapat
kita harapkan dari keberadaan polisi di negeri ini?
Sekarang ini bahkan ada tragedi
kemanusiaan, dimana Kepala Divisi Propam POLRI yang menjadi penegak etik, panutan,
serta menjadi suri teladan tertinggi kalangan profesi polisi, justru
memerintahkan anak buahnya yang juga anggota polisi, bahkan para petinggi
kepolisian, untuk melakukan pembunuhan berencana terhadap warganegara lainnya.
Anehnya, yang tidak masuk diakal ialah, mengapa polisi yang punya kewajiban dan
tanggung jawab untuk menegakkan hukum, bahkan memonopolinya, justru “main hakim
sendiri” dan melanggar hukum? Bagaimana masyarakat mau diharapkan untuk patuh
terhadap hukum, bila polisinya sendiri saja melanggar hukum?
Keganjilan berikutnya yang tidak dapat diterima oleh nurani masyarakat luas ialah, bagaimana mungkin para polisi maupun perwira polisi yang menjadi bawahan sang atasan, menurut saja dan patuh ketika diperintahkan untuk membunuh alias merampas nyawa dan hidup warga lainnya, entah itu korbannya ialah warga sipil ataupun sesama anggota kepolisian? Jangan-jangan disuruh untuk lompat ke jurang dan ke neraka pun, mereka menurut dan patuh saja secara membuta. Kultur patuh dan menghamba pada iblis yang memberikan perintah jahat, bahkan melanggar tugas dan kewenangannya, menyalahgunakan kekuasaannya, “yes man” ABS—asal Bapak senang, sebenarnya apa akar penyebabnya?
Karena Ada KEMATIAN, maka Ada KELAHIRAN
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Banyak sekali kejahatan dan pelaku kejahatan di republik ini, sementara itu polisi tidak bisa diandalkan, lebih sering mengabaikan dan menelantarkan aduan ataupun laporan korban dan masyarakat. Apakah dimungkinkan menurut hukum tumimbal lahir, untuk bertekad agar saya dikehidupan berikutnya, saat meninggal dunia dan terlahirkan kembali, diri saya ini bisa rebirt atau reborn sebagai seorang penegak hukum yang benar-benar dapat diandalkan oleh masyarakat untuk memberantas kejahatan?
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Tidak mudah menjadi seorang pejalan kaki di negeri
ini (Indonesia), kondisi jalan umumnya tidak layak dan tidak manusiawi (tidak
pejalan kaki “friendly”). Ketika
mendapati kondisi berat jalanan seperti adanya lubang ataupun ranting-ranting
terjuntai di pinggir jalan ataupun atap-atap rumah di sisi kiri jalan yang
pendek tingginya sehingga berpotensi melukai mata kami sebagai pejalan kaki
yang berpostur tubuh tinggi, yang terpaksa dalam beberapa kesempatan karenanya harus
bergeser ke bahu jalan agak ke tengah, pengendara kendaraan bermotor roda dua
maupun roda empat seketika mengklakson saya, bahkan tidak jarang memaki atau
menatap ganas kepada saya selaku pejalan kaki.
Mereka bersikap seolah pejalan
kaki menghalangi jalan mereka dan menjadi kasta paling rendah yang tidak berhak
atas jalan (milik) umum. Namun tidak lama kemudian, tidak jauh dari ruas jalan yang
sama, saya berjalan persis di sisi kiri bahu jalan, akan tetapi masih juga
diklakson oleh pengedara dari arah belakang. Pejalan kaki sungguh-sungguh
menjadi kalangan minoritas di republik (Indonesia) ini, mungkin karena trauma
menjadi pejalan kaki yang selalu lemah jika menghadapi kuda atau banteng besi.
Jika pejalan kaki hendak memaki
atau meneriaki mereka, pejalan kaki yang dipandang “tidak waras”, sementara itu
mereka seenaknya dapat mengklaksoni seorang pejalan kaki dengan begitu kerasnya
tanpa rasa malu ataupun bersalah, untuk mengintimidasi ataupun meminta
didahulukan oleh pejalan kaki. Semestinya mereka merasa malu, namun dasarnya
bangsa yang memang tidak punya rasa malu, bahkan justru meminta didahulukan
oleh pejalan kaki.
Semestinya memberi jalan, bukan justru merampas hak pejalan kaki. Bagaimana kata-kata yang tepat dapat seorang pejalan kaki utarakan kepada mereka, bila mereka masih juga menuding pejalan kaki sebagai pengganggu ataupun penghalang jalan mereka? Karena jalan (milik) umum (selama ini) didominasi pengendara kendaraan bermotor, maka mereka berdelusi bahwa jalan umum adalah jalan milik mereka, para pengendara, bukan jalan milik pejalan kaki. Bukankan itu tidak logis serta tidak etis? Mengapa bangsa yang katanya tekun dan rajin beribadah ini, bahkan tidak tahu apa itu “etika berkendara”? Jangankan bersikap Tuhanis kepada Tuhan, bersikap humanis kepada sesama manusia pun mereka gagal.
Having wise close people,
And sincerely love us,
It is a valuable condition,
We should be grateful and appreciate,
And maintain such positive relationships,
So that it doesn’t become extinct.
SEBELUM MEMINTA DIMAKLUMI, MAKLUMI DAHULU ORANG LAIN
Pada suatu pagi menjelang siang, saat hendak memasuki rumah untuk mengambil air, di depan gerbang kediaman penulis, melintas seorang bapak yang memikul tikar jualannya yang ia jajakan sepanjang jalan dengan berjalan kaki—“kerja keras”, alih-alih “kerja cerdas”, dimana yang bersangkutan bisa saja meminjam modal usaha untuk membeli sepeda dalam rangka berjualan tikar tanpa harus memikul tikar dagangannya.
For whose benefit and good,
Those freedom,
Responsibility,
And self-control?
When freedom,
Tend to lead us astray,
So we need to learn about self-control.
Gado-Gado Carina Menjual RACUN untuk Dimakan Konsumennya yang Bayar Mahal!
Gado-Gado Carina JUAL MAHAL NAMUN JUSTRU MERUSAK DAN MENCELAKAI KESEHATAN DAN KESELAMATAN KONSUMENNYA, DURHAKA, PENDOSA, JAHAT!
SENI
SOSIAL
Berfokus pada Kelebihan dan Keunggulan Diri alih-alih Berjibaku pada Kekurangan dan Kelemahan
Prestasi-Prestasi yang Dimiliki Orang-Orang Besar,
mampu Menutupi Berbagai Kekurangan Dirinya. Karenanya, Optimalkanlah Berbagai
Keunggulan, Bakat, dan Potensi Diri Kita—alih-alih Bergelut dan Berjibaku pada
Kelemahan Diri Kita
Question: Sebagai angkatan kerja yang tergolong masih sangat muda, mengapa saya merasa adanya ketidak-cocokan dengan berbagai pemilik perusahaan tempat saya mengajukan lamaran kerja? Mereka lebih banyak mencoba menggali kelemahan-kelemahan dan kekurangan saya ketimbang lebih ingin mengetahui maupun mengeksplorasi apa yang menjadi keunggulan dan kelebihan-kelebihan saya. Apa hanya saya sendiri saja yang “aneh” dengan perasaan semacam ini, atau memang lazim adanya dijumpai orang-orang seusia saya?
SENI SOSIAL
Agama Islam Mengenal dan Melestarikan Sistem KASTA,
Kasta Pendosa-Penjilat, Kasta Kafir, dan Kasta Budak Seksuil
Question: Apakah ada agama lain diluar Agama Hindu, yang juga mengenal pembagian kelompok strata sosial masyarakatnya ke dalam segregasi semacam sistem kasta seperti pengotak-kotakan kaum di India yang masih berlangsung hingga dewasa ini?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi
Johnsen Tannato, Gembel Sinting PENIPU yang Tidak Mau
Bayar SEPESER PUN namun Mengklaim Dirinya sebagai Konsumen yang Merasa Berhak
Meminta Dilayani oleh Profesi Konsultan yang ia PERKOSA dan PERBUDAK
Question: Ketika menghadapi orang-orang “irasional” dan “arogan” (orang-orang yang “sukar”) yang suka memaksakan kehendaknya sendiri dan tidak bersikap profesional, tidak mampu menghormati ataupun menghargai profesi orang lain maupun tuan rumah ketika bertandang, sebaiknya apa yang perlu kita utarakan agar sikap irasional mereka tidak semakin menjadi-jadi dan merongrong serta meresahkan pemilik rumah ataupun pemilik usaha?
SENI
SOSIAL
Ada Beda antara Godaan Setan dan Cobaan Tuhan, namun Sama-Sama Berupa Bisikan Gaib
Menyembelih dan Mengorbankan Anak, Bukanlah Cinta,
namun EGO
Question: Mengapa orangtua bisa begitu egoisnya kepada anak kandung sendiri? Apakah hanya anak, yang bisa durhaka?
SENI PIKIR & TULIS
Akibat Cara Berpikir yang Irasional, Kita Memandang
yang Tidak Penting sebagai Penting, dan yang Berharga sebagai Tidak Berharga
Kita Tidak Terlahir dalam Kondisi Rasional, Namun
Irasional
Masih jelas dalam ingatan penulis, ketika penulis masih seorang bocah kecil yang bodoh, banyak sekali barang-barang yang penulis “bocah” lekati label sebagai “barang milik aku”, lalu melekat erat terhadapnya sedemikian rupa hingga menyerupai “posesif” yang agresif sifatnya. Ketika barang “milik aku” itu rusak karena suatu hal terutama kerusakan mana diakibatkan oleh perbuatan orang lain, penulis “bocah” menjadi ngambek, marah, hingga mengamuk, seolah-olah ada anggota tubuh penulis yang telah dilukai dan disakiti. Memiliki barang, ibarat membuat diri kita menjadi ringkih dan riskan, ketika barang tersebut rusak atau dirusak oleh orang lain, kita merasa seperti ada anggota tubuh kita yang terluka sehingga kita merasakan sakit dan menderita. Orang-orang yang memiliki banyak kepemilikan tanah tersebar di berbagai kota dan daerah, ketika terdapat satu saja objek tanah miliknya diserobot oleh pihak lain, maka ia akan merasa seolah ada bagian dari tubuhnya yang telah diamputasi, dicuri darinya, dan terluka berdarah.
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi
Question: Mengapa ada orang, yang mengakunya orang baik, tapi kok suka marah-marah?
SENI PIKIR & TULIS
Seni Berdiri di atas Kaki dan Pikiran Sendiri
Dunia ini Tidak Pernah Kekurangan para Penipu dan Penjahat
Manipulasi pikiran, kerap kita jumpai dalam keseharian, masif sifatnya, intrusif, terselubung ataupun yang eksplisit modusnya, kita sadari maupun tidak kita sadari telah menjadi sasaran manipulasi, serta kasat mata maupun tidak kasat mata. Manipulasi pikiran yang terselubung, penetrasinya berupa memberikan umpan berupa iming-iming agar lawan bicara termakan harapan semu. Sementara itu manipulasi pikiran yang eksplisit biasanya dilakukan dengan membuat lawan bicara merasa ketakutan lewat bentuk-bentuk ancaman, intimidasi, atau sejenisnya.
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Plonco Siswa / Mahasiswa, Tidak Berfaedah, mengapa masih Dibudayakan pada Lingkungan Akademik seperti Sekolahan maupun Kampus?
Question: Sebetulnya hal semacam per-plonco-an terhadap siswa maupun mahasiswa di sekolah dan di kampus, apakah ada manfaatnya dan hal positifnya, sehingga dari dulu hingga kini masih saja ada praktik plonco baik di sekolah maupun di kampus yang mana para siswa senior menjadikan plonco sebagai ajang balas-dendam serta pamer kekuasaan akibat relasi yang timpang antara senior dan junior? Mengapa juga pihak sekolah atau kampus, membiarkan praktik primitif kurang beradap semacam itu terus berlangsung?
SENI PIKIR & TULIS
Manusia adalah Makhluk (yang) IRASIONAL, Tidak Logis dan Pintar-Pintar (namun) Bodoh
Umat Manusia Tidak Seindah yang Kita Bayangkan maupun
Harapkan. Ini Dunia Nyata, bukan Dunia Dongeng yang Manis dan Ideal
Pepatah pernah berpesan, “tidak mengenal, maka tidak sayang”. Anekdot klise tersebut ada benarnya, namun sayangnya tidak betul-betul lengkap, mengingat terdapat ekor kalimat yang selengkapnya berbunyi, “..., namun semakin kita mengenal manusia, semakin kita merasa ‘ngeri’!” Mengapa kita patut merasa sebentuk “kengerian” ketika kita semakin mengenal hati dan isi atau cara berpikir seorang manusia? Semata karena kita semakin tahu “wajah asli” seseorang yang selama ini hidup berdampingan dengan kita, semakin kita tahu mengenai kekotoran batin yang dapat dimiliki dan dilekati oleh umat manusia, dan betapa manusia adalah “makhluk yang irasional” disamping penuh dengan “persona” (topeng)—manusia adalah “makhluk irasional”.
SENI JIWA
Pertanyaan bagi para Muslim, Mohon Klarifikasi dan
Dijawab
Jika sedang Ibadah saja, seperti Itu Sikap para Muslim terhadap Orang Lain, (maka) bagaimana ketika Mereka Tidak sedang Beribadah?
Sering penulis bertanya kepada para kalangan Muslim, yang beribadah dengan praktik penggunaan speaker pengeras suara eksternal yang mereka pasang di Masjid, menyerupai “polusi suara” yang merampas ketenangan hidup maupun istirahat umat agama lain yang juga punya hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing tanpa saling mengganggu, maka bagaimana ketika mereka tidak sedang beribadah dan tidak sedang berbusana “agamais”, perampasan semacam apa yang akan mereka lakukan? Ketika para Muslim mengatas-namakan Agama Islam untuk berbuat apapun semau mereka, sebagai legitimasi atau justifikasi perbuatan apapun yang mereka perbuat, maka bagaimana dengan gaya hidup para Muslim tersebut ketika tidak sedang ber-“agamais”?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab
Jangan Paksakan Diri maupun Keadaan, dan Jangan Bersikap
Seolah-Olah Tiada Orang yang Lebih Layak dan Lebih Tepat untuk menjadi Pilihan
Kita
Question: Yang disebut dengan relasi atau hubungan antar manusia yang sehat, positif, dan berfaedah, seperti apa bentuk dan contohnya?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra
Menjawab
Masing-Masing Peran dan status Memiliki Tanggung-Jawabnya Sendiri
Question: Apakah hanya anak yang “memonopoli” kata “durhaka”? Bagaimana dengan banyak orangtua di luar sana, yang justru mengabaikan dan menelantarkan anak, atau bahkan membuat anak tersiksa hidupnya dan terjerumuskan oleh teladan buruk orangtuanya? Itu ibarat dua pasal “maut” untuk anak, berikut : Pasal Pertama, orangtua selalu benar dan anak selalu salah. Pasal Kedua, jika orangtua salah atau keliru, (maka) rujuk aturan dalam Pasal Pertama. Jadilah, orangtua lebih cenderung bersikap arogan (sewenang-wenang atau cenderung bersikap seenaknya) terhadap anak kandungnya sendiri sekalipun.
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra
Menjawab
Orang Suci pun Sesekali Perlu Menunjukkan TARING TAJAM-nya agar Tidak Dijadikan Objek BULLYING Tangan-Tangan Nakal
Hanya seorang Pengecut, yang Menjadikan Orang-Orang
Baik sebagai MANGSA EMPUK
Question: Jika Agama Buddha memang adalah agama yang baik dan suci, mengapa para umatnya masih bisa marah dan galak kepada orang lain?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab
Neraka sebagai Tugu / Monumen KEGAGALAN Proses Penciptaan
Umat Manusia oleh Tuhan
Question: Disebutkan bahwa Tuhan dengan rencananya sedang mencobai manusia lewat segala kuasanya, seperti bencana alam ataupun segala derita lainnya, agar manusia manjadi kuat ditempa cobaan dan demi memuliakan manusia. Apakah memang logis, segala derita maupun kenikmatan hidup ini adalah pemberian maupun cobaan dari Tuhan?
SENI PIKIR & TULIS
Pertanyaan bagi para Muslim, Ujian bagi Iman sang
umat ataukah Iman para Umat tersebut yang sedang Mencobai Tuhan?
Bukankah Tuhan semestinya Tuhanis, dan Tuhanis lebih Luhur daripada Sekadar Humanis?
Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengajukan pertanyaan mendasar kepada para Muslim, dan menunggu jawabannya. Seorang ustad, pada ceramahnya baik di Masjid maupun pada media massa seperti radio, televisi, dsb, menyampaikan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia (yang dikultuskan dan menjadi saingan terberat bagi Tuhan yang disembah para Muslim), sebagai “rasul Tuhan” juga sekaligus orang yang baik, suci, mulia, luhur, dan menjadi suri tauladan para Muslim, bahkan oleh ibu-ibu pengajian disebut sebagai “kekasih Tuhan”.
Banyak diantara kita,
Yang terlena dan berlarut-larut
dalam kegembiraan maupun kesenangan yang ditawarkan oleh hidup,
Sekalipun mereka tahu dan
menyadari bahwa itu hanya temporer saja sifatnya,
Sebelum kemudian menjerat
kita dalam kemelekatan,
Tetap saja mereka senang dibodohi oleh kehidupan,
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra
Menjawab
Agama DOSA Vs. Agama SUCI dan Agama KSATRIA
Question: Ada yang menyebut-nyebut istilah agama langit dan agama bumi, memang apa maksudnya dan bila ada bedanya maka seperti apa contohnya?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra
Menjawab
Bangsa yang ANTIKRITIK, Pendosa yang Berdelusi sebagai Suciwan
Question: Mengapa rata-rata orang Indonesia begitu anti terhadap kritik maupun teguran, bahkan terhadap protes dari korban mereka?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab
Apakah Mungkin, Sesuatu dapat Terjadi Tanpa Seizin, Kuasa,
maupun Rencana Tuhan? Jika ADA, artinya Tuhan TIDAK Maha Kuasa
Question: Semisal ada peneliti yang buat penemuan ataupun teknologi biomolekuler canggih, yang dapat merancang seseorang calon bayi untuk memeiliki genetik tertentu dan tidak memiliki genetik tertentu lainnya, termasuk isu perihal “cloning”, maka apakah sebenarnya itu melanggar kode etik atau semacam etika manusia? Bukakah itu sama artinya melawan kehendak Tuhan? Bukankah itu sama artinya mencoba mendahului kekuasaan Tuhan sang pencipta?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab
Yang Buruk / Tidak Sempurna, mengapa Dipertahankan
dan Dilestarikan, bahkan Dibanggakan, alih-alih Ditabukan?
Apakah Kesempurnaan hanya Monopoli Tuhan? JIka
Manusia Tidak Bisa dan Tidak Boleh Sempurna, artinya Manusia Tidak Mungkin Ciptaan
Tuhan dan Tidak dapat Bersatu dengan Tuhan
Question: Guru di sekolah maupun dosen di kampus, sering berkata, nilai ujian 100 itu hanya boleh untuk Tuhan, hanya Tuhan yang sempurna. Kalau begitu, untuk apa kita belajar moralitas agar memiliki watak yang luhur, dan kini kita cukupkan saja berbangga diri pada cacat-cela karakter kita sebagai alibi ketika berbuat salah ataupun sebagai alasan pembenar maupun alasan pemaaf untuk berkelit dari tanggung-jawab? Lantas, apa bedanya kita dengan hewan, yang hanya bisa menyerah pasrah pada keadaan dirinya tanpa daya dan tanpa akal budi, tidak boleh dan tidak dapat berjuang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesempurnaan?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab
Question: Mengapa banyak orang bilang bahwa dunia ini tidak adil? Rasanya sudah letih juga bosan, mengeluhkan ketidakadilan dunia ini kepada Tuhan saat berdoa, sama sekali tidak ada perubahan ke arah perbaikan.