Kasta Nabi dan Kasta Umat dalam Agama Samawi Bersifat DILAHIRKAN, Bukan
Dicapai Lewat Usaha Meritokrasi Egaliter
Diskriminasi yang Dilahirkan Bukan Lagi Sekadar Melahirkan Diskriminasi,
Ketidakadilan Agama Samawi
Seseorang menjadi Mulia, karena Perbuatan dan Perjuangannya, bukan karena Kelahiran, Itulah Ajaran Sang Buddha
Question : Alasan mengapa saya tidak cocok, bahkan alergi, terhadap agama samawi, karena ada yang dilahirkan sebagai nabi dan ada yang dilahirkan sebagai umat-pengikut atau orang biasa. Itu adalah diskriminasi yang dilahirkan. Itu sama seperti mereka hendak berkata bahwa bila ada seserang diberi kasta sebagai kasta budak, maka budak dilahirkan ataupun melahirkan budak, tanpa bisa dibebaskan dari perbudakan generasi demi generasi. Bila ada kasta bangsawan, maka bisa jadi ia memang bangsawan sejak dilahirkan dan karena dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, namun apakah ia selamanya stagnan, tidak bisa merosot-menurun ataupun menapak ke tingkat derajat yang lebih tinggi? Sama seperti orang miskin, mungkin ia terlahir miskin, namun apakah artinya ia akan miskin selamanya? Itu menegasikan peran perjuangan. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah Buddha juga dilahirkan sifatnya?

