Puisi Sederhana Mengenai Seni Melawan Arus Ditengah Gelombang Arus Kehidupan

HERY SHIETRA, Puisi Sederhana Mengenai Seni Melawan Arus Ditengah Gelombang Arus Kehidupan

Semua orang dapat memiliki keinginan ataupun mampu menikahi banyak istri serta melahirkan banyak anak,

Tidak ada yang istimewa,

Yang karenanya tidak ada yang perlu dikagumi dari mereka.

Namun,

Tidak semua orang berani melawan arus,

Dengan hidup selibat,

Yang karenanya ia patut untuk dihormati.

Khotbah Sang Buddha mengenai Kemunafikan

Dogma PENGHAPUSAN DOSA adalah Sabotase terhadap Hak Korban yang Menuntut Keadilan

BIla Nabinya saja Tidak Bermoral (Kecanduan Dogma Penghapusan Dosa), maka Bagaimana dengan Moral Umat Pengikutnya? Mustahil Pengikut Lebih Bermoral daripada Tokoh Junjungan-Panutannya

Question : Bukankah sungguh mengherankan, nabinya orang islam setiap harinya kecanduan-berat ritual penghapusan dosa, akan tetapi para umat muslim terutama ibu-ibu pengajian, menyanjungnya setinggi langit sebagai manusia paling baik, paling sempurna, paling lurus, paling baik, paling mulia, paling jujur, paling benar, dan paling suci?

Mualaf artinya DOWNGRADE-Diri dari Semula Bukan PECANDU DOGMA PENGHAPUSAN DOSA Menjelma PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA

"Kami tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi; tetapi kami mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi." [Raja Pasenadi dari Kosala]

Question : Bukankah mengherankan orang-orang muslim yang merasa begitu bangga menjadi mualaf (semula nonmuslim yang kemudian memeluk agama islam). Semestinya mereka merasa malu, karena secara tidak langsung mereka seolah hendak berkata kepada dunia : “Dulunya saya bukanlah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’, sekarang saya adalah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’.” Orang yang waras dan berakal-sehat, akan merasa senang dan gembira bila terjadi “upgrade” dalam dirinya. Akan tetapi itu orang-orang yang mualaf, justru senang karena men-“downgrade” diri mereka dari semula bukan “pecandu ideologi KORUP” menjelma “mabuk-berat dogma PENGHAPUSAN DOSA”.

Tugas Seorang Bhikkhu / Biksu / Bhante ialah Latihan Pensucian Diri Agar dapat menjadi Ladang Menanam Jasa yang Subur bagi Umat Awam

Misi Misionaris Bhikkhu Monastik yang Terasing dan Mengasingkan-Diri dari Kenikmatan Indria

Question : Seringkali umat agama samawi melecehkan bhikkhu-monastik yang hidup selibat sebagai pemalas yang tahunya hanya mengemis-ngemis. Lalu saya jawab, “Daripada pemuka agama samawi, kerjanya membisniskan dan mengambil keuntungan materi dari agama dan umat mereka sendiri”. Apakah salah, menjadi profesional dibidang spiritual dengan menampak kehidupan monastik, terasing dari kehidupan duniawinya umat awam?

Pendosa Pecandu PENGHAPUSAN DOSA artinya Pecandu DOSA

Aggivessana, bagaimana mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria, menikmati kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran kenikmatan indria, ditelan oleh pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan indria, dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak mungkin.” [SANG BUDDHA]

Question : Apakah mungkin, seseorang pecandu dogma korup semacam “penghapusan dosa”, disaat bersamaan bukanlah seorang pecandu dosa?

Seseorang yang bahkan “Egois terhadap Diri Mereka Sendiri”, akan Cenderung “Egois terhadap Orang Lain”

Khotbah Sang Buddha Perihal Pilihan Hidup dan Konsekuensi Dibalik setiap Pilihan Hidup : JANGANLAH EGOIS TERHADAP DIRI KITA SENDIRI

Orang Dungu Senang Melakukan Kejahatan yang Akan Berbuah Buruk bagi Mereka Sendiri, sementara Orang Bijaksana Menahan Kesakitan Demi Menghindari Perbuatan Buruk agar Terhindar dari Buah Karma Buruk di Masa Mendatang

Kita perlu belajar serta penting bagi kita berlatih untuk mengenali dan memahami konsekuensi suatu rangkaian pilihan dalam hidup. Kita dapat saja mencari tahu dan belajar, manakah makanan ataupun aktivitas yang tidak sehat sekalipun rasanya enak, perbuatan yang membuahkan Karma Buruk sekalipun tampak menyenangkan dilakukan, akan tetapi telah ternyata tidak sedikit diantara kita yang membuat pilihan-pilihan yang cenderung destruktif bagi dirinya sendiri maupun membaca celaka bagi orang lain. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, yang tampak sangat relevan:

Hubungan antara KORUPTOR-DOSA dan KORUPTOR-UANG : Dosa Saja Dikorupsi, Apalagi Korupsi Uang

Indria-Indria Umat Agama Samawi Tidak seperti Indria-Indria Mereka yang Mengendalikan Pikirannya. Indria-Indria Mereka Tidak Sewajarnya

Question : Mengapa ada orang yang begitu tergila-gila pada uang, sampai menjual jiwanya demi uang, melakukan korupsi demi uang yang tidak akan habis dikonsumsi tujuh-keturunan, atau melakukan kejahatan lainnya demi memeroleh uang secara instan?

Jawablah dengan JUJUR, Anda Merasa Lebih Nyaman dan Aman Memilih Berurusan dengan Umat Buddhist, ataukah Berhadapan dengan Umat Agama Samawi?

Umat Agama Samawi Mencoreng Agamanya Sendiri, karena Agama Samawi Memang Mencoreng Dirinya Sendiri Lewat Iming-Iming KORUP Semacam Dogma PENGHAPUSAN DOSA bagi PENDOSAWAN

Umat Buddhist yang Berbuat Buruk dan Tercela, adalah Umat yang Menyimpang dari Dhamma karena Sang Buddha Tidak Menolerir Perbuatan Buruk Sekecil Apapun

Sebaliknya, Umat Agama Samawi yang Moderat juga Tidak Mabuk dan Tidak Kecanduan Ritual PENGHAPUSAN DOSA, adalah OKNUM. Nabi Rasul Allah Sendiri adalah Pecandu-Berat Ritual PENGHAPUSAN DOSA, dimana Taraf Kecanduannya Kelas-Berat

Pernah ada seorang klien, yang memercayakan penulis atas perkara bernilai puluhan miliar Rupiah, sekalipun sang klien belum pernah berjumpa tatap-muka dengan penulis. Besar kemungkinan karena sang klien mengetahui bahwa penulis adalah seorang Buddhist. Jika penulis menyalah-gunakan kepercayaan orang lain, atau bahkan menipu, maka itu sama artinya mencoreng nama sang guru agung yang menjadi junjungan / teladan bagi penulis, yakni Sang Buddha yang sama sekali tidak menolerir sekecil apapun perbuatan buruk yang dapat dicela oleh para bijaksanawan.