Kenikmatan Indria adalah Umpan “Māra si Jahat”, yang Melekat dan Gagal Melihat Bahaya Dibalik Kenikmatan Indria maupun Keinginan Kenikmatan Indria akan Terjerat Jaring “Māra si Jahat”

Mengapa Meng-Haram-kan Kenikmatan Indria yang Allah Ciptakan dan Halal-kan? Para Umat Agama Samawi pun Terjebak dalam Kemelekatan dan menjadi Budak Kenikmatan Indria yang Semakin Haus Akan Kenikmatan Indria yang Menenggelamkan dan Menjerumuskan

Ada, Sukacita dan Kenikmatan yang Muncul dari “Keterasingan dari Kenikmatan Indria”

Truth, Always BITTER. Kebenaran, Selalu PAHIT

Question : Banyak umat agama samawi, terjebak oleh dogma agamanya sendiri, bahwa kenikmatan duniawi maupun kenikmatan indria adalah pemberian “nikmat” dari Allah, sehingga mengapa di-haram-kan? Jadilah mereka tidak pernah mampu melihat adanya bahaya dibalik kenikmatan indria, lalu melekat padanya, memiliki kerinduan terhadapnya, keinginan secara serakah ingin memiliki / menguasainya, demam terhadapnya, hingga taraf kecanduan, dimana bahkan racun-adiktif paling beracun berupa dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” dipandang sebagai “halal” serta dipromosikan sebagai “halal lifestyle”.

Seorang Bayi yang “Harmless” Masih Lebih Suci daripada Umat Muslim maupun Nabi Rasul Allah yang Mencandu-Berat PENGHAPUSAN DOSA

Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian, kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.” [SANG BUDDHA]

Question : Ketika ada seorang ayah kandung, memerkosa puteri kandungnya sendiri, maka sang ayah akan dipidana penjara dan dihukum sanksi sosial oleh masyarakat. Alasannya, karena nyawa dan hidup sang anak, bukanlah milik sang ayah. Namun, mengapa logika yang sama, seolah tidak belaku dalam kasus penyembelihan oleh Ibrahim terhadap putera kandungnya, Ismail. Atau sebaliknya, mengapa logika dibalik peristiwa penyembelihan oleh Ibarhim terhadap Ismail, tidak diterapkan dalam konstruksi peristiwa pemerkosaan oleh seorang ayah terhadap puteri kandungnya?

Kodratnya Pendosa, ya MASUK NERAKA. Agama DOSA dengan Dogma KORUP Iming-Iming “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSAWAN, tentunya), mencoba Menyimpangi Kodrat

Kodratnya KORUPTOR-DOSA—dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi—Jelas MASUK NERAKA

Kodratnya Korban para Pendosa tersebut, ialah Mendapatkan Keadilan dengan Hukuman bagi yang Berdosa

Question : Para muslim kerap sok agamais dan juga merasa paling superior, seolah “polisi moral” yang berhak menghakimi maupun menceramahi pihak lain perihal akhlak, moral, maupun larangan dosa. Misalnya mereka melarang fenomena sosial semacam homoseksual maupun lesbian. Itu melanggar kodrat manusia, kata mereka. Bahkan mereka seolah hendak berkata, bhikkhu monastik yang hidup selibat, adalah juga melanggar kodrat manusia. Pernah terjadi di Indonesia, ada anggota militer yang lewat putusan pengadilan, diizinkan berganti gender karena hasil uji penelitian genetiknya membuktikan bahwa yang yang bersangkutan adalah seorang dengan gender yang berbeda dari penampakan tubuh fisiknya.